SINOPSIS FILM “THE PATRIOT” (2000)
diajukan guna melengkapi tugas Sejarah Sejarah Indonesia dan Dunia
Oleh
Arief Muhammad Ramdhani 160220303001
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN IPS JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER
REVIEW FILM “THE PATRIOT”
Berkisah seorang mantan pasukan perang Inggris yang memilih tinggal di Amerika yaitu kapten Benjamin Martin. Benjamin Martin hidup di sebuah desa kecil bersama tujuh orang anaknya yang terdiri dari lima orang laki laki dan dua orang perempuan, yang tertua bernama Gabriel, dan selanjutnya bernama Thomas. Gabriel dan Thomas dilatih oleh bernjamin cara menembak, menunggagi kuda, dan juga tentunya bertani, karena mereka hidup dengan cara bertani.
Pada suatu ketika, Benjamin mendapatkan surat dari pemimpin Charles Town yang berisi undangan untuk jajak pendapat tentang masa depan negara koloni Amerika yang pada waktu masih berada dalam jajahan Inggris. Sesampainya di Charles Town, diadakanlah jajak pendapat di pengadilan dengan sebagian besar warga di sana, banyak yang menginginkan untuk berperang termasuk juga Gabriel anak dari Benjamin. Namun Benjamin sendiri tidak menghendakinya, karena alasan dia tidak mau terjadi pertumpahan darah dan dia lebih memilih untuk melakukan perundingan, namun usulannya tetap di tolak, dan akhirnya warga Amerika tetap memutuskan untuk melakukan perang. Jajak pendapat selesai dan Benjamin bersama anak-anaknya pulang kembali ke desa, kecuali Gabriel yang memutuskan untuk ikut pasukan reguler kontinental untuk berperang melawan Inggris.
Gabriel, sayangnya Thomas mendapatkan tembakan dari Tavington, dan dia tewas seketika.
Melihat Thomas dibunuh dan Gabriel yang dibawa untuk dihukum gantung, Benjamin memutuskan untuk melawan pasukan Inggris. Benjamin mengambil senjata dan mengajak dua orang anak laki-laki lainnya yang masih kecil untuk membantunya membunuh para pasukan Inggris yang membawa Gabriel. Dengan keahlian perangnya, dia berhasil melumpuhkan sekitar 20 orang prajurit Inggris dan berhasil membawa Gabriel kembali. Rumah Benjamin telah dibakar, dan dia terpaksa mengungsikan anak-anaknya kepada bibinya yang bernama Charlote. Benjamin dan Gabriel memutuskan untuk berperang bersama melawan para pasukan Inggris.
Benjamin dan Gabriel menyaksikan secara langsung perang antara pasukan Inggris dan pasukan Kontinental. Benjamin mengatakan bahwa strategi perang di medan terbuka sangatlah bodoh, karena jelas pasukan kontinental kalah jumlah dan kalah dalam persenjataan. Sementara itu, di Amerika bagian utara, Washington mampu mengendalikan jalannya perang, sedang di selatan masih selalu kalah dalam perang. Benjamin dan pasukan kontinental sebenarnya menunggu bantuan dari pasukan Prancis yang telah berjanji mengirimkan bantuan pasukannya, namun hingga saat itu masih belum muncul.
Benjamin meminta memisahkan diri dari pasukan reguler kontinental dan meminta membuat pasukannya sendiri, Gabriel pun diajaknya dalam mencari pasukan itu. Gabriel pergi ke South Carolina dan berhasil merekrut 12 orang sipil yang mau berjuang bersama. Begitpun juga dengan Benjamin, dia berhasil merekrut cukup banyak orang yang sangat membenci Inggris karena anak dan istri mereka banyak yang dibunuh oleh Tavington. Dibawah pimpinan Benjamin, pasukan non reguler kontinental melakukan strategi perang secara sembunyi-sembunyi, dan strategi itu ampuh sekali dalam menaklukkan sebagian besar prajurtit Inggris.
Benjamin, memilih tinggal di tengah hutan agar keberadaan mereka tetap tidak di ketahui.
Komandan Tavington mempunyai strategi untuk memancing pasukan Benjamin keluar, strategi itu akhirnya berhasil dan sebagian besar pasukan dari benjamin tewas dan berhasil ditangkap. Mereka yang berhasil ditangkapa akan dihukum mati dengan cara digantung di depan kantor pemerintahan Inggris. Melihat hal itu, Benjamin datang ke kediaman Cornwalis dengan membawa bendera putih, tanda menyerah, sehingga dia tidak ditembak oleh pasukan Inggris. Benjamin meminta untuk berunding dengan Cornwalis. Dengan kecerdikannya, Benjamin meminta pertukaran antara anak buahnya yang ditawan itu dengan para perwira dari pasukan Inggris yang dia bilang juga di tawan oleh pasukan kontinental. Pertukaran itu berhasil, dan ternyata Benjamin telah menipu Cornwalis dengan membuat boneka jerami yang diberikan seragam pasukan Inggris.
Hal itu membuat Cornwalis marah besar, dan secara pribadi menyuruh Tavington untuk menangkap Benjamin. Tavington meminta kepada Cornwalis agar dia dibebaskan untuk melakukan strategi sesuai dengan caranya. Memang Tavigton merupakan Jenderal yang sangat kejam yang suka membunuh anak-anak dan perempuan. Karena marahnya Cornwalis, dari yang awalnya sempat mengecam tindakan Tavington yang kejam itu, akhirnya membolehkannya untuk melakukan penangkapan Benjamin sesuai dengan caranya.
dari Gabriel di dalam Gereja. Mereka lalu di kunci di dalam gereja dan gereja itu dibakar oleh Tavington.
Mengetahui hal itu, Benjamin, Gabriel dan pasukannya tidak kuasa menahan emosi. Gabriel mengejar Tavington dan pasukannya dengan membawa sebagian pasukan. Gabriel berhasil melumpuhkan pasukan Tavington, namun naas dia tidak bisa membunuh Tavington, malah dia sendirilah yang terbunuh. Melihat Gabriel terbunuh, Benjamin semakin marah dan memutuskan untuk mengajak semua pasukannya untuk bergabung dalam perang besar terakhir di medan terbuka melawan pasukan Inggris.
Keesokan harinya, perang terbuka pun di mulai. Pasukan kontinental jauh kalah jumlah dengan pasukan Inggris. Pasukan Inggris berhasil memukul mundur pasukan Kontinental, namun dengan strategi dari Benjamin, yang terus mengobarkan semangat dari pasukan kontinental, akhirnya pasukan kontinental berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan peperangan itu. Benjaminpun berhasil membalaskan dendam kedua anaknya dengan berhasil membunuh Tavington. Kemengan pasukan kontinental pada perang itu menjadi dasar Revolusi Amerika, yang membuat Amerika akhirnya terbebas dari jajahan Inggris.
TAMAT
Analisis Film The Patriot
1. Perlindungan terhadap orang yang terluka :
Di awal film Benjamin Martin bersikap netral dalam menyikapi perang revolusi Amerika. Dia bersama beberapa tetangga dekatnya mau merawat setiap orang yang terluka di dalam pertempuran tanpa memperdulikan apakah dia dari pihak Inggris atau pihak Amerika. Sikap Benjamin Martin ini sangat benar karena pada dasarnya Konvensi Jenewa memberikan perlindungan bagi orang-orang yang terluka dalam sengketa bersenjata baik bersifat internasional maupun tidak. Adapun tentang perlindungan bagi orang yang terluka dalam sengketa bersenjata diatur dalam ketentuan dibawah ini:
internasional, tiap pihak dalam sengketa harus memperlakukan dengan perikemanusiaan bagi yang sakit dan luka, tanpa pembedaan merugikan apapun yang didasarkan atas ras, warna kulit, agama atau kepercayaan, kelamin, keturunan, atau kekayaan atau setiap kriteria lain yang serupa. Karena itu, dilarang tindakan kekerasan atas jiwa dan raga, termasuk pengudungan. Yang luka dan sakit, sebagaimana disebutkan dalam ayat (2), harus dikumpulkan dan dirawat.
b) Pasal 7 Konvensi I menyebutkan bahwa yang luka dan sakit, begitu pula petugas dinas kesehatan serta rohaniawan sekali-kali tidak boleh menolak sebagian atau seluruhnya hak-hak yang diberikan kepada mereka oleh Konvensi ini, serta oleh persetujuan-persetujuan khusus seperti tersebut dalam pasal terdahulu apabila ada.
Adapun mereka-mereka yang berhak untuk mendapatkan perlindungan diatur dalam pasal 13 Konvensi I sebagai berikut: Pasal 13 Konvensi I memberikan definisi orang-orang terluka dan sakit yang mendapatkan perlindungan, yaitu:
1) Anggota-anggota angkatan perang dari suatu pihak dalam sengketa termasuk anggota milisi dan sukarelawan,
2) Anggota-anggota gerakan perlawanan yang terorganisir yang tergolong pada suatu Pihak dalam sengketa,
3) Anggota-anggota angkatan perang reguler tunduk pada suatu pemerintahan atau kekuasaan yang tidak diakui Negara Penahan,
4) Orang-orang yang menyertai angkatan perang tanpa dengan sebenarnya menjadi anggota angkatan perang itu namun mendapat pengesahan dari angkatan perang yang mereka sertai,
5) Anggota awak kapal pelayaran niaga dari pihak dalam sengketa,
6) Penduduk wilayah yang diduduki yang atas kemauan sendiri mengangkat senjata untuk melawan pasukan-pasukan yang menyerbu.
a) Pasal 15 Konvensi I menyebutkan setiap waktu dan terutama sesudah pertempuran, pihak-pihak dalam sengketa, tanpa suatu penundaan, harus mengambil semua tindakan untuk mencari dan mengumpulkan yang luka dan sakit, untuk melindungi mereka terhadap perampokan dan perlakuan buruk, untuk menjamin perawatan yang cukup dan untuk mencari yang mati serta mencegah perampasan atas diri mereka. Bilamana keadaan mengijinkan, gencatan senjata diusahakan untuk memungkinkan pengambilan, penukaran dan pengangkutan yang luka dan sakit di medan pertempuran.
b) Pasal 10 Protokol I menyebutkan bahwa semua yang luka, sakit dan korban karam harus diperlakukan secara manusiawi dan harus memperoleh perawatan kesehatan dengan sesedikit mungkin penundaan. Tidak boleh ada pembedaan berdasarkan alasan apapun selain daripada keadaan kesehatan mereka.
2. Perlindungan terhadap tawanan perang
Dalam film ini mengisahkan bahwa salah satu jenderalnya yang benama Tavington selalu membunuh tawaban perangnya. Perbuatan yang dilakukan sekawanan pasukan Inggris yang menyiksa dan membunuh tawanan perang yang tidak berdaya lagi tersebut bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dibawah ini :
a) Pasal 3 ketentuan bersama Konvensi Jenewa.
b) Pasal 4 Konvensi III tentang definisi tawanan perang yang dilindungi yaitu orang-orang yang telah jatuh ke tangan musuh sebagaimana penggolongan terdahulu.
c) Pasal 7 Konvensi III bahwa mereka yang dilindungi tidak boleh menolak sebagian atau seluruhnya hak-hak yang diberikan dalam konvensi ini.
kesehatan tawanan perang adalah dilarang dan harus dianggap sebagai pelanggaran berat. Tawanan perang tidak boleh dijadikan obyek pengudungan jasmani, percobaan-percobaan kedokteran atau ilmiah dalam bentuk apapun juga yang tidak dibenarkan oleh pengobatan kedokteran, kedokteran gigi atau kesehatan dari tawanan bersangkutan dan dilakukan demi kepentingannya.
e) Pasal 14 Konvensi III menyebutkan bahwa tawanan perang dalam segala bentuk berhak akan penghormatan terhadap pribadi dan martabatnya. Wanita harus diperlakukan dengan segala kehormatan yang patut diberikan mengingat jenis kelamin mereka, dan dalam segala hal harus mendapat perlakuan sebaik dengan yang diberikan kepada pria.
f) Pasal 15 Konvensi III menyebutkan bahwa negara yang menahan wajib menjamin pemeliharaan mereka dan perawatan kesehatan yang dibutuhkan mereka dengan cuma-cuma.
g) Pasal 16 Konvensi III disebutkan bahwa perlakuan terhadap keadaan kesehatan, yang diberikan oleh Negara Penahan, harus tanpa perbedaan yang merugikan yang didasarkan atas suku, kebangsaan, kepercayaan, agama atau pandangan-pandangan politik, atau perbedaan lainnya.
h) Pasal 18 Konvensi III menyebutkan bahwa barang-barang untuk keperluan pribadi harus tetap dimiliki tawanan termasuk pakaian dan makanan.
i) Pasal 20 Konvensi III menyebutkan tentang evakuasi tawanan harus diselenggarakan dengan perikemanusiaan. Negara penahan harus memberi makanan dan air yang dapat diminum cukup, serta pakaian dan pemeliharaan kesehatan yang diperlukan serta segala tindakan pencegahan yang wajar untuk menjamin kesehatan selama evakuasi. j) Pasal 11 ayat (1) Protokol I menyebutkan bahwa kesehatan dan
dibawah suatu prosedur perawatan kesehatan yang tidak didasarkan pada kesehatan orang yang bersangkutan dan yang tidak sesuai dengan ukuran-ukuran perawatan kesehatan yang diakui secara umum. Terutama dilarang melaksanakan terhadap orang-orang tersebut diatas, sekalipun dengan persetujuan mereka: (a) pengudungan anggota tubuh, (b) percobaan-percobaan kesehatan ataupun ilmiah, dan (c) memindahkan jaringan syarat tubuh atau organ-organ tubuh untuk pencangkokan, kecuali apabila tindakan-tindakan itu dapat dibenarkan sesuai dengan keadaan sebagaimana diatur dalam ayat 1.
k) Pasal 11 ayat (3) Protokol I menyebutkan bahwa pengecualian-pengecualian hanya dalam hal pemberian sumbangan darah untuk transfusi atau sumbangan kulit untuk mengenten, asalkan saja diberikan secara sukarela dan tanpa suatu paksaan apapun atau tipu muslihat, dan hanya untuk tujuan pengobatan penyakit, sesuai dengan ukuran-ukuran pengobatan dan pengawasan kesehatan yang diakui secara umum, yang bertujuan bagi kemanfaatan pemberi sumbangan maupun penerima sumbangan.
3. Perlindungan terhadap penduduk sipil
Jenderal Tavington yang kejam itu juga membunuh para anak-anak dan wanita. Tindakan itu sangat bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Konvensi Jenewa terurama Konvensi IV. Disamping itu, Hukum Humaniter Internasional melindungi mereka yang tidak terlibat dalam peperangan (non-kombatan) seperti orang-orang sipil dan petugas medis serta agama, juga melindungi mereka yang tidak lagi terlibat dalam peperangan seperti orang-orang terluka atau korban kapal karam atau orang sakit, atau orang-orang yang ditawan.
Orang-orang yang dilindungi tersebut tidak boleh diserang. Mereka harus dihindarkan dari tindakan penyiksaan fisik atau tindakan yang tidak manusiawi lainnya. Orang terluka dan sakit harus dikumpulkan serta dirawat sebagaimana tertuang dalam ketentuan-ketentuan di bawah ini:
b) Pasal 4 Konvensi IV tentang definisi orang-orang yang dilindungi, yaitu mereka yang dalam suatu sengketa bersenjata ada dalam tangan suatu pihak dalam sengketa atau kekuasaan pendudukan, yang bukan negara mereka; warga negara suatu negara yang tidak terikat konvensi ini tidak dilindungi.
c) Pasal 8 Konvensi IV bahwa mereka yang dilindungi tidak boleh menolak sebagian atau seluruhnya hak-hak yang diberikan dalam konvensi ini. d) Pasal 125 ayat (2) Konvensi IV menyebutkan bahwa penduduk sipil