Tax Incentives di Indonesia
Income Tax Incentives
VAT Incentives
Custom Incentives
Indonesian Tax Reforms
Tahun
Perubahan
1983
• Official assessment -> self assessment• Kantor Inspeksi Pajak -> Kantor Pelayanan Pajak
• Pajak Penjualan (PPn) -> Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
• Penyederhanaan strukur, penurunan tarif 45% -> 35%, tax holiday
1994
• Kesataraan WP dan petugas pajak ( sanksi dan pengembalian pajak), perluasan daluarsa pajak 5 thn -> 10 thn• Kewenangan penghentian penyidikan
• Perluasan PPh Final, penurunan tarif 35% -> 30%
• Perluasan PPN (obyek, saat & tempat terutang, keg membangun sendiri, penyerahan barang yg tujuan semula tdk diperjualbelikan)
• Ketentuan PPN tidak dipungut, dibebeskann dan restitusi PPN
• Diperkenalkan NJOPTKP dan diperjelasnya aturan banding.
1997
• Majelis Pertimbangan Pajak -> Badan Penyelesaian Sengketa Pajak• UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
• UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
• UU Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
2000
• Ekstensifikasi WP OP & Badan, cakupanPengusaha Kena Pajak, penerapan
e-registration,
e-filling, e-payment
• Penyesuaian PTKP, pemberian insentif untuk investasi
• UU Pengadilan Pajak
2008
• Penyederhanaan struktur tarif PPh OP dan Badan, penyesuaian PTKP• Ekstensifikasi PPN
• Pendaerahan PBB perkotaan dan pedesaan
• Insentif PPh bagi pengusaha retail dan UMKM
Tax Incentives in Indonesia
1. Industri pionir dan investasi di daerah
tertentu ( Ind. Timur)
(bernilai tambah tinggi, menggunakan teknologi baru) Industi base metal, oil refinery dan/atau bahan dasar
industri kimia, energi terbarukan, perakitan mesin dan telekomunikasi
Industri prioritas yang diberikan insentif
Tax holiday; konsesi bagi industri baru
(130/PMK.011/2011), pengecualian PPh Badan untuk 5-10 thn pertama serta tambahan pengurangan 50% PPh Badan untuk 2 thn berikutnya.
Tax exemption, (PP No. 52/2011)
Investment allowance/investment deduction (PP
No. 52/2011), pengurangan penghasilan neto 30% dari jumlah penanaman modal selama 6 thn (5%/tahun)
Extention of tax loss carry forward (PP No.
52/2011) hingga 10 thn sesuai dengan ketentuan (spt. mempekerjakan > 500 penduduk Indonesia dlm 5 thn, membangun infrastruktur baru, biaya R&D hingga 5% dari dana investasi dalam 5 thn)
Accelerated depreciation (PP No. 52/2011),
penyusutan dipercepat di awal masa penggunaan aset
Jenis aktiva Umur ekonom
is
Tarif penyusutan Straight
line decliningDouble
Aset non bangunan
Kelompok I 2 tahun 50% 100%
Kelompok II 4 tahun 25% 50%
Kelompok III 8 tahun 12.5% 25%
Kelompok IV 10 tahun 10% 20%
Aset bangunan
Permanen 10%
Bukan Permanen 20%
2. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (omset
hingga Rp. 50 milyar)
Pengecualian obyek PPh atas keuntungan
pembebasan utang debitur kecil, utang usaha < Rp. 350 juta( PP No. 130/2000).
Pengecualian PPh atas pengalihan hak atas tanah dan /atau bangunan melalui hibah termasuk kepada koperasi atau OP yang menjalankan usaha mikro dan kecil ( Per 30/PJ/2009, SE-48/PJ/2009)
Pengurangan tarif 50% dari tarif WP badan dalam
negeri atas penghasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto sampai Rp. 4,8 Milyar
3. Mendorong green economy dan koservasi
energi
UU No. 25 /2007 tentang Penanaman Modal
Pengurangan penghasilan neto dengan syarat tertentu,
penyususutan/amortisasi dipercepat
Pembebasan/keringanan bea masuk dan PPN impor
barang modal, mesin, keperluan produksi yang belum tersedia di dalam negeri serta pembebasan bea masuk atas bahan baku dan bahan penolong untuk jangka
waktu tertentu.
Keringanan PBB terutama untuk bidang usaha tertentu
pada wilayah tertentu ( mis. Indonesia bag. Timur)
UU No. 70/2009 tentang Konservasi Energi
Bagi pengguna (hemat energi utk periode tertentu);
fasilitas pajak dan bea masuk untuk peralatan hemat energi, pengurangan/keringanan/pembebasan pajak daerah dan audit energi dibiayai pemerintah
Bagi produsen; fasilitas pajak & bea masuk utk
3. Industri di kawasan ekonomi khusus (KEK)
PP No. 2/2011 jo. PP 29/2012, tambahan fasilitas PPh
sesuai karakteristik Zona, PPh impor tidak dipungut atas impor
4. Perseroan terbuka di Bursa Efek Indonesia
UU PPh Psl 17, penurunan tarif 5% lebih rendah dari
tarif tertinggi bagi perusahaan yang min. 40% saham disetor dan diperdagangkan di BEI. Saham dimiliki min. 300 pihak dan masing-masing kepemilikan < 5% total
5. Dana Pensiun
KMK-51/KMK.04/2001, PER-01/PJ/2013,
pengecualian dari obyek PPh penghasilan tertentu; (i)
bunga, diskonto, imbalan dari deposito, sertifikat deposito dan tabungan pada bank di Indonesia, (ii) imbalan dari
surat-surat berharga (iii) dividen dari saham pada PT yang tercatat di bursa efek Indonesia
Tax Incentives in Indonesia
Konseptual teoritis insentif PPN selama 25 Skenario kebijakan/ tahun di Indonesia Insentif PPN (VAT)
• Exemption,
dibebaskan/dikecualikan karena tidak memenuhi syarat BKP/JKP . VAT
input tidak dapat
dikreditkan, konsumen menanggung beban pajak, adanya ruang bagi disallowed VAT
• Zero Rate, VAT output
dianggap 0, dianggap ada kelebihan
pembayaran pajak, cost of taxation saat VAT
refund dan harus terintegrasi dgn
kebijakan administrasi perpajakan
1. PPN
dibebaskan 2. PPN tidak
dipungut
3. PPN ditunda 4. PPN
ditangguhkan 5. PPN
ditanggung pemerintah 6. PPN dibayar
pemerintah Lowes t Cost of Taxati on?
PERHITUNGAN PPN
DISTORSI PEMBEBANAN PPN
Beli Jual PPN Beban pajak KN
Impor 1000 100 100 100
Pabrik I 1000 2000 200 200-100 100 Pabrik II 2000 2500 250 250-200 50
Pabrik III 2500 3000 300 300-250 50
Konsumen 3000 300
Beli Jual PPN Beban pajak KN
Impor 1000 100 100 100
Pabrik I 1000 2000 100
bebas -
-Pabrik II 2100 2600 260 260-0 260
Pabrik III 2600 3100 310 310-260 50
Cost of Taxation
1.
compliance costs
2.
administrative
costs,
3.
deadweight
efficiency loss
from taxation,
4.
the excess
burden of tax
evasion, dan
5.
avoidance costsn
Indikator Compliance Cost 1. Fiscal/direct Money Costs
Besaran uang yang harus ditanggung oleh Pengusaha Kena Pajak berkaitan dengan proses pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan.
2. Time Costs
biaya berupa waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan hak dan
kewajiban perpajakan.
3. Phycological Costs
biaya psikologis – spt stress,ketidaktenangan, kegamangan, kegelisahan,
ketidakpastian yang terjadi dalam proses pelaksanaan hak dan
perpajakan, misalnya stress yang terjadi saat pemeriksaan pajak, saat pengajuan keberatan dan atau
banding
Indikator Cost of Taxation
1. Industri Maritim (jasa kepelabuhanan,
industri perkapalan, logistik dan industri
penunjang lainnya)
PP No. 28/1998 , pengecualian PPN atas jasa angkutan
laut dan darat.
SE-17/PJ.5.1/1990, pengecualian pengenaan PPN atas
seluruh jasa pelabuhan oleh perusahaan pelayaran yang melayari jalur internasional.
Keppres No. 204, PPN ditanggung pemerintah atas
jasa perusahaan pelayaran niaga ( persewaan dan perawatan kapal, kepelabuhanan; tunda, tambat, pandu, labuh).
SE-08/PJ.532/1999, (i) pengecualian PPN atas jasa
pelabuhan bagi pelayaran internasional, (ii) PPN ditanggung pemerintah atas jasa kepelabuhanan tertentu .
SE-05/PJ.53/2003, penyerahan jasa tenaga kerja dan
jasa penyedia tenaga kerja kegiatan bongkar muat tidak dikenakan PPN
2. Industri di bidang Pengembangan Energi
Terbarukan dan Konservasi Energi
KepMen ESDM No.02/2004 tentang Pengembangan Energi dan Koservasi Energi
penangguhan, keringanan, pembebasan PPN dan bea
masuk
penghapusan PPnBM atas peralatan energi terbarukan &
konservasi
PP No. 70/2009 tentang Konservasi Energi pembebasan pajak daerah dan bea masuk atas
pembelian peralatan hemat energi.
pengurangan, keringanan, pembebasan pajak daerah
dan bea masuk untuk komponen/suku cadang dan bahan baku untuk memproduksi peralatan hemat energi
3. Industri di bidang Ekplorasi dan Pengolahan
Minyak, Gas dan Panas Bumi
Keppres No. 22/1989, penundaan pembayaran PPN
atas penyerahan jasa pencarian sumber dan
pengeboran minyak, gas dan panas bumi bagi kontraktor yang belum berproduksi.
88/PMK.011/2011, PPN ditanggung pemerintah atas
impor barang untuk kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak, gas dan panas bumi.
SS-26/PJ.53/2000, Penundaan pembayaran PPN atas
jasa pencarian dan pengeboran sumber minyak, gas dan panas bumi bagi Contractor Production Sharing
4. Fasilitas PPN
Penyerahan BKP/JKP ke atau dari kawasan berikat (101/PMK.03/2005), Fasilitas kepada
Pengusaha di Kawasan Berikat (PDKB) (i) PPN/PPnBM tidak dipungut (ii) dibebaskan dari pengenaan PPN atas pemberian barang modal sept mesin dan peralatan
pabrik.
Penyerahan atau impor BKP tertentu yang
bersifat strategis (PP No.7/2007) Pembebasan PPN atas penyerahan barang hasil pertanian melalui impor maupun di dalam daerah pabean.
Penyerahan BKP/JKP dari/ke/di kawasan bebas (45/PMK.03/2009) (i) pembebasan PPN atas
pemanfaatan BKP/JKP berwujud/tidak berwujud (ii) PPN tidak dipungut atas BKP tidak berwujud, JKP dari tempat lain di daerah pabean atau dari tempat peminbunan
berikat melalui pelabuhan atau bandar udara.© Maria R.U.D. Tambunan - Tax Centre
5.
Lainn
ya
38/PMK.03/2014, Pengkreditan PPN input atas perolehan dan/atau impor barang modal bagi PKP yang belum
berproduksi
38/PMK.011/2013, penentuan DPP lain pemungutan PPN atas BKP/JKP
pemakaian sendiri -> harga jual/penggantian setelah
dikurangi laba kotor
pemberian cuma-Cuma -> harga jual/penggantian
setelah dikurangi laba kotor
rekaman suara/gambar -> perkiraan harga jual rata-rata film cerita -> perkiraan hasil rata-rata perjudul film
produk hasil tembakau -> harga jual eceran
persediaan/aktiva yang tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan -> harga pasar wajar
penyerahan BKP pusat-cabang atau sebaliknya dan
antar cabang -> harga pokok penjualan/ harga perolehan
penyerahan BKP melalui pedangan perantara -> harga
kesepakatan pejual dan pembeli
penyerahan BKP melalui juru lelang -> harga lelang
penyerahan jasa pengiriman paket -> 10% dari jumlah
ditangih
penyerahan jasa biro perjalanan/pariwisata -> 10%
dari jumlah ditagih
penyerahan jasa pengurusan transportasi (freight
forwarding) -> 10% dari jumlah ditagih
Cont.
.
Tax Incentives in Indonesia
1. Fasilitas atas penyerahan barang strategis
176/PMK.011/2009 jo. 76/PMK.011/2012, PER-21/BC/2012 , pembebasan bea masuk atas impor mesin, barang dan bahan untuk
pembangunan/pengembangan industri dalam rangka penanaman modal
154/PMK.011/2008 jo 154/PMK.011/2012,
pembebasan bea masuk atas impor barang modal untuk pembangunan/pengembangan pembangkit tenaga
listrik.
105/PMK.04/2007, pembebasan bea masuk atas impor
bibit dan benih untuk pembangunan/pengembangan industri pertanian, peternakan dan perikanan.
177/PMK.011/2007, pembebasan bea masuk dan
pajak atas impor barang untuk kegiatan industri hulu minyak, gas dan panas bumi© Maria R.U.D. Tambunan - Tax Centre
PMK 254/PMK.04/2011, pembebasan bea masuk atas
impor barang untuk tujuan ekspor
PMK 147/PMK.04/2011 2011 jo. 44/PMK.04/2012 ,
penangguhan bea masuk di kawasan berikat, yaitu kawasan berikat industri dan gudang berikat.
37/PMK.04/2013, penangguhan bea masuk,
membebasan cukai dan/atau tidak dipungut PDRI atas toko bebas bea, entreport tujuan industri pameran (ETP)