• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Pendidikan Karakter Kejujuran di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel Pendidikan Karakter Kejujuran di"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENTINGNYA PENGUATAN KEJUJURAN MELALUI PENDIDIKAN

KARAKTER UNTUK MENGHINDARI KASUS KECURANGAN DI

SEKOLAH

Penyusun:

Rihanum Mihda Rosyidah Habe

15010684064

2015-B

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

(2)

Abstract

The rise of cheating cases in school motivated by the low level of honesty in students, teachers and school authorities. It needs a solution that can solve the fraud problem. Honesty is one of the pillars of character that should be owned by everyone. The lack of honesty makes the character ingrained cases of fraud covered in the corners of life in this country. Character education is present as a solution to the problem of morality and the bad character. This discussion focuses on character education bracing honesty to avoid cases of cheating in school. Honesty is the main discussion following steps and how to strengthen the character of honesty in school. One way to be honest is to avoid behaviors that will produce remorse. Therefore, the school plays an important role to give character education, especially the strengthening the character of honesty as the solution of cases of fraud occurring. Hopefully, by the strengthening of honesty in the school can eliminate the cases of fraud that have emergency cases and will avoid any cases of fraud in the future.

Keywords: education, character, honesty, cheating.

Abstrak

Maraknya kasus kecurangan di sekolah dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat kejujuran baik dalam diri murid, guru, dan pihak sekolah. Perlu adanya solusi yang dapat mengatasi permasalahan kecurangan tersebut. Kejujuran merupakan salah satu pilar karakter yang harus dimiliki oleh setiap orang. Minimnya karakter kejujuran menjadikan kasus kecurangan sudah mendarah daging secara terselubung di sudut-sudut kehidupan di negeri ini. Pendidikan karakter hadir sebagai solusi dari permasalahan moralitas dan karakter tersebut. Pembahasan ini memfokuskan pendidikan karakter dalam menguatkan kejujuran untuk menghindari kasus kecurangan di sekolah. Kejujuran menjadi pembahasan utama berikut langkah dan cara menguatkan karakter kejujuran di sekolah. Salah satu cara untuk berlaku jujur adalah dengan menghindari perilaku yang nantinya akan membuahkan penyesalan. Oleh karena itu, sekolah berperan penting dalam adanya pendidikan karakter khususnya penguatan karakter kejujuran sebagai solusi dari kasus kecurangan yang terjadi. Diharapkan dengan adanya penguatan kejujuran di sekolah dapat menghilangkan kasus-kasus kecurangan yang telah banyak muncul dan menghindari akan terjadinya kasus kecurangan di masa yang akan datang.

Kata kunci: pendidikan, karakter, kejujuran, kecurangan.

Pendahuluan

(3)

kehidupan di negeri ini. Itu sebabnya, penyelesaian untuk mendidik manusia jujur memerlukan strategi dari segala arah. Intinya adalah sekolah memang menjadi salah satu jalan untuk mengubah perilaku dengan kerangka akademik. Kerangka ini dirancang dalam bentuk materi pelajaran yang disajikan dalam kurikulum. Kemudian, materi-materi itulah yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk materi ajar.

Pendidikan karakter hadir sebagai solusi dari problem moralitas dan karakter tersebut. Meski bukan sebagai sesuatu yang baru, pendidikan karakter cukup menjadi semacam angin segar bagi dunia pendidikan pada khususnya untuk membenahi moralitas generasi muda. Berbagai alternatif guna mengatasi krisis karakter, memang sudah dilakukan dan penerapan hukum yang lebih kuat. Altenatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah melalui pendidikan karakter.

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Apa pengertian karakter?; (2) Apa contoh kasus tentang ketidakjujuran dalam pembelaajaran di sekolah?; (3) Bagaimana implementasi kejujuran dalam pembelajaran anak usia dini?.

Dari rumusan masalah di atas dapat diketahui tujuan penulisan sebagai berikut: (1) Mengetahui dan memahami pengerian karakter; (2) Mengetahui contoh kasus tentang kejujuran pada pembelajaran anak usia dini; (3) Untuk mengetahui dan dapat menerapkan kejujuan pada anak usia dini.

1. Pengertian karakter

Menurut Philips dalam Mu’in (2011:160) karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Jadi, karakter memiliki ciri-ciri antara lain sebagi berikut: (1) Karakter adalah siapa dan apakah kamu pada saat orang lain sedang melihat kamu; (2) Karakter merupakan hasil nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan; (3) Karakter adalah sebuah kebiasaan yang menjadi sifat alamiah kedua; (4) Karakter bukanlah reputasi atau apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadapmu; (5) Karakter bukanlah seberapa baik kamu daripada orang lain; (6) Karakter tidak relatif.

(4)

menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi dapat diimpulkan bahwa karakter adalah kerangka kepribadian seseorang yang mewujudkan ciri-ciri kepribadian diri seseorang.

2. Pengertian Kejujuran

Menurut Mahmud Muhammad dalam Shobroh, kejujuran merupakan kualitas manusiawi melalui mana manusia mengomunikasikan diri dan bertindak secara benar (truthfully). Karena itu, kejujuran sesungguhnya berkaitan erat dengan nilai kebenaran, termasuk di dalamnya kemampuan mendengarkan, sebagaimana kemampuan berbicara, serta setiap perilaku yang bisa muncul dari tindakan manusia.

Menurut Arifin dalam Shobroh, Kejujuran dalam proses belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat penting. Karena kejujuran mendasari semua aktivitas dalam belajar mengajar. Ada lima implikasi kejujuran terhadap proses belajar mengajar yaitu; tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan, dan lingkungan sekitar. Menurut jamal ma’mur dalam Shobroh, Kejujuran merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. Hal ini diwujudkan pada perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri sendiri maupun pada pihak lain.

Analisis

(5)

Berikut ini contoh kasus ketidakjujuran dalam pembelajaran yang diambil dari Kompasiana.com 2015 berjudul “Murid Ketahuan Mencontek, Malah Dibela Kepala Sekolah”

Ironis, itulah kata yang bisa saya tuliskan di awal kalimat artikel ini. Hari ini dalam pertemuan dengan beberapa rekan kerja di bilangan Gajah Mada, saya mendengar sebuah cerita yang menyedihkan tentang proses ujian nasional yang tidak jujur di tingkat sekolah menengah di Pontianak. Rekan saya yang mempunyai pacar di Pontianak dan berprofesi sebagai guru ditugaskan untuk menjadi pengawas di salah satu sekolah negri yang ada di Pontianak. Dia bertugas bersama seorang rekan yang berasal dari sekolah lain. Jadi mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Dalam pengawasan itu, seorang murid tertangkap tangan membawa contekan jawaban untuk soal ujian. Pacar rekan saya ini kemudian menyita contekan jawabannya dan memberikan peringatan untuk tidak melakukan kecurangan dalam melakukan ujian akhir. Kemudian dia meminta murid itu mengerjakan lagi soal ujian. Rekan yang bertugas mengawasi sebenarnya tahu bahwa murid ini sudah melakukan kecurangan namun dia diam saja.

Singkat cerita, ketika waktu tinggal 10 menit ada bunyi bel yang menandakan supaya murid-murid mengecek ulang dan bila selesai bisa meninggalkan ruangan. Nah murid yang ketahuan menyontek ini kalang kabut karena dia hanya mengisi beberapa soal saja. Kemudian dia meminta jawaban kepada teman lain yang kode soalnya sama. Pacar rekan saya ini yang melihat hal tersebut meminta murid tersebut untuk tidak meminta jawaban kepada temannya. Murid yang ditegur ini bukannya tahu diri dan menuruti permintaan guru pengawas malah semakin menjadi-jadi meminta jawaban dari temannya. Lucunya rekan pengawas yang menjaga justru meminta pacar rekan saya ini untuk membiarkan hal itu terjadi dengan mengatakan kasihan kalau murid ini sampai tidak lulus ujian. Kacau!!! Akhirnya guru jujur ini mengambil inisiatif untuk menulis kejadian yang terjadi dalam berita acara dengan tidak menyebut nama murid yang menyontek. Ketika berita acara ini diserahkan kepada kepala sekolah bersangkutan, guru ini menceritakan kronologis yang terjadi kepada pimpinan sekolah tersebut.

(6)

kandung dari kepala sekolah tersebut! Kacau memang pelaksanaan ujian nasional seperti ini. Jelas-jelas ada yang ketahuan menyontek justru minta ditutupi dan tidak usah dipublikasikan. Kacaunya lagi rekan-rekan dari murid yang menyontek ini masih berani berkicau dalam media sosial dan menyudutkan guru yang berani untuk menyatakan kebenaran. Mereka mengatakan guru tersebut sok jujur dan sok idealis.

Seorang pendidik memiliki peran vital dalam pengembangan dan pendidikan karakter baik di sekolah maupun di luar sekolah. Karena pendidik yang baik memilik karakter yang baik tidak hanya ketika di sekolah saja, ketika di luar sekolahpun karakter baik tersebut harus tetap ada sebagai cerminan dari kepribadian yang baik seorang pendidik. Pendidik dalam dunia ssekolah disebut juga ebagai guru yang dalam bahasa Jawa adalah digugu lan ditiru

berarti orang yang sering diikuti dan dicontoh. Dari kalimat tersebut dengan jelas dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang ada dalam diri seorang guru merupakan hal yang akan ditiru oleh masyarakat didiknya. Guru sebagai role model utama dalam kehidupan sekolah. Seorang guru yang memahami dengan baik dan menerapkan pendidikan karakter dalam dirinya tentu akan menjadi guru yang baik untuk anak didiknya. Ketika pendidikan karakter yang dipahami oleh guru dilaksanakan dalam kehidupannya dapat dilihat dari apa yang guru bicarakan dan bagaimana seorang guru memaknai sesuatu. Guru dengan karakter yang baik akan disegani dan dicontoh oleh anak didiknya.

(7)

Pendidikan karakter memiliki banyak manfaat bagi diri sendiri baik dalam kehidupan sosial maupun sebagai calon pendidik. Pada intinya, pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik bial hanya berupa teori tanpa praktek yang nyata dalam keseharian seseorang. Oleh karena itu, pendidikan karakter dapat dibentuk dengan sedikit demi sedikit mempraktikkan perilaku yang baik, berkarakter, bermoral, beretika, patuh pada nilai dan norma sehingga karakter yang baik akan tertanam kuat dalam diri kita semua dan mencerminkan perilaku yang baik tanpa harus banyak berkata namun nihil aksinya.

Kejujuran juga merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, sesuai pendapat para ahli diatas bisa disimpulkan bahwa pembentukan kejujuran adalah proses atau perbuatan untuk membentuk seseorang bertindak secara benar sehingga menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Dengan membentuk diri sebagai manusia yang jujur bisa diterapkan kapanpun, dimanapun, dan dari berbagai aspek.

Ada beberapa hal yang dapat mendorong terbentuknya sifat jujur, antara lain: (1) Membiasakan berbicara sesuai dengan perbuatan; (2) Mengakui kebenaran orang lain dan mengakui pula kesalahan diri sendiri jika memang bersalah; (3) Selalu mengingat bahwa semua perbuatan manusia dilihat oleh Allah SWT (4) Meyakini bahwa kejujuran mengantarkan manusia kejenjang derajat yang terhormat; (5) Berlaku bijaksana sesuai dengan aturan hukum; (6) Meyakini bahwa dengan jujur, berarti menjaga diri dari hitamnya wajah diakhirat kelak.

Cara terbaik memulai bersikap jujur adalah dengan cara tidak berbuat sesuatu yang memalukan atau tidak etis sehingga memaksa kita untuk berbohong di kemudian hari. Proses perkembangan jujur harus dimulai dari hal yang terkecil, mulailah dengan kejujuran dalam berbicara dan berbuat. Dengan membiasakan hal yang kecil dengan kejujuran maka akan terbiasa pada hal-hal yang besar pun akan melakukannya dengan jujur.

Kesimpulan

(8)

Dengan kejujuran akan menjadikan karakter pendidikan di Indonesia menjdi lebih baik. Sistem pendidikan memerlukan penjilmaan dalam materi nyata berupa sikap jujur dan pengetahuan materi pembelajaran sebagai penguatan karakter bagi peserta didik.

Rekomendasi

Kejujuran hendaknya diterapkan di setiap sekolah dan di lingkungan anak usia dini. Sebagai seorang guru, hendaknya lebih memberikan contoh yang baik kepada peserta didik karena guru dipandang sebagai role model.

Karya tulis ini perlu banyak kritikan dan saran dari pembaca agar pada penulisan berikutnya mampu menjadi lebih baik.

Sumber Rujukan

Kurniawan, Syamsul. 2014. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz media.

Mu’in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik & Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Referensi

Dokumen terkait

Subjek penelitian adalah pasien perempuan sehat yang menderita AV pada berbagai derajat keparahan yang berusia antara 13-30 tahun, dan bersedia menjadi subjek penelitian

Anda tidak akan Saya tolak mentah-mentah. Dua contoh pada orang yang sama. Tapi hanya apa yang Anda katakan dan apa yang Anda lakukan, itu membuat apakah Saya menjadi

Gapura Angkasa dalam melakukan pengukuran kinerja menggunakan sistem balance score card.Balanced Scorecard merupakan suatu sistem manajemen (dan bukan sekedar sistem

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi TLD Badge dengan menentukan besarnya nilai faktor kalibrasi, mengetahui besarnya faktor hamburan balik (

Hasil dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji penerapan alternatif penyelesaian sengketa di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen untuk mewujudkan

Dengan demikian antara minyak bumi pada Antiklin Gabus dan Antiklin Kawengan memiliki kekerabatan karena sama-sama berasal dari material tumbuhan tingkat tinggi

Program Ijazah Sarjana Muda Perguruan Institut Pendidikan Guru – Kementerian Pelajaran Malaysia, Kohort V ambilan Januari 2011. Kumpulan Pelajar :

Pada bagian ini disampaikan metode numerik untuk menyelesaikan persamaan differensial biasa orde 1 dan 2. Dua masalah yang akan persamaan differensial biasa orde 1