• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDIKATOR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INDIKATOR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

INDIKATOR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Tri Hapsari Utami1), Jurusan Matematika, FMIPA UM

Jl.Semarang 5 Malang E-mail : [email protected]

Abstrak

Sejalan dengan perubahan paradigma pembelajaran, ada beberapa perubahan format dan istilah dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam format RPP terdapat istilah Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, dan Tujuan pembelajaran. Menurut Standar Proses PERMEN no.41 tahun 2007, indikator kompetensi adalah perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang dapat diukur untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar dan menjadi acuan penilaian. Adapun tujuan pembelajaran adalah menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik.

Dalam pelaksanaan di lapangan terdapat beberapa pendapat, pertama: indikator dan tujuan pembelajaran adalah hal yang sama, kedua: ada yang membedakannya dengan hanya menambahkan kata siswa dapat, ketiga: ada yang menunjukkan proses belajarnya dengan menuliskan model/strategi pembelajaran yang digunakan. Jika indikator dan tujuan pembelajaran sama, mengapa harus ada istilah yang berbeda? Jika hanya ditambah kata siswa dapat, apakah sudah cukup membuat perbedaan makna indikator dan tujuan? Jika proses belajar diartikan dengan model/strategi pembelajaran, mengapa ada metode dalam format RPP? Tulisan ini mencoba mendiskusikan ketiga pendapat tersebut, untuk sekiranya dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap perbedaan pendapat terkait istilah indikator dan tujuan pembelajaran.

Keywords: : indikator, tujuan pembelajaran

1. PENDAHULUAN

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menggunakan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagai acuan utamanya selain itu juga berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dalam panduan yang dikeluarkan BSNP, salah satu komponen KTSP adalah silabus, dan selanjutnya silabus digunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada silabus terdapat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, indikator

pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Adapun RPP terdiri dari 11 komponen, 2 diantaranya adalah Indikator dan Tujuan Pembelajaran.

Guru sebagai pendidik profesional diwajibkan menyusun RPP sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dalam upaya membelajarkan siswa untuk mencapai kompetensi. Dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP) tahun 2006, ada perubahan

komponen Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP). Berdasarkan

pengalaman mendampingi guru dalam

kegiatan Lesson Study maupun

Pelatihan/workshop sering ditemukan pertanyaan terkait dengan Indikator dan Tujuan Pembelajaran sebagai salah satu

komponen Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran.

Pertanyaannya adalah apakah

perbedaan antara indikator dan tujuan pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran? Mengapa pada

pelaksanaannya sering dibuat sama?

2. PEMBAHASAN

Kurikulum Tingkat Satuan

(2)

secara tepat dalam berbagai tingkatan pembelajaran. Untuk memperkirakan hasil pembelajaran diterapkan sistem penetapan indikator.(http://www.cpass.umontreal.ca/do cuments/pdf/mesure/reference/11.Competen cy-Based_Learning_Models.pdf.

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk berpikir, berbuat, dan bersikap secara

konsisten. Seluruh pengetahuan,

ketrampilan, dan sikap yang dipelajari harus berwujud dalam bentuk pikiran, perbuatan, dan perilaku yang relatif bertahan lama. Ada dua ciri kompetensi yaitu keteramatan dan kebertahanan (Sukandi, 2005). Kompetensi berkaitan dengan apa yang seseorang bisa lakukan, dan bukan hanya apa yang telah mereka ketahui. Implikasinya adalah kompetensi terkait dengan apa yang

dilakukan harus memiliki konteks,

kompetensi adalah suatu hasil yang menjelaskan apa yang dapat dilakukan oleh seseorang, mengukur kompetensi harus jelas kinerja yang diukur dan ada standarisasi, dan pengukuran terhadap apa yang bisa dilakukan seseorang dapat dilakukan dalam suatu waktu tertentu. Teramati berarti dapat diukur, kebertahanan berarti kompetensi relatif tetap untuk suatu jangka waktu tertentu. Misalnya siswa dikatakan telah mempunyai kompetensi dasar menentukan komposisi dua fungsi. Tidak cukup bagi seseorang untuk tahu komposisi fungsi tapi juga harus dapat menggunakan komposisi fungsi untuk menyelesaikan suatu masalah. Sejauh mana siswa dapat menggunakan? Perlu ditetapkan kriteria tertentu yang dapat diamati untuk menentukan kompetensi yang telah dipunyai.

Menurut PERMENDIKNAS no.41 tahun 2007 tentang Standar Proses, disebutkan bahwa Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal

peserta didik yang menggambarkan

penguasaan pengetahuan, sikap, dan

keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan minimum yang harus dikuasai peserta didik•untuk standar kompetensi tertentu dan digunakan sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang

menjadi acuan penilaian mata pelajaran, dirumuskan dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, mencakup pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.

Adapun Tujuan pembelajaran

menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Kamus Compact Oxford English

menyatakan aim, objective, dan goal adalah istilah yang sering digunakan dalam dunia pendidikan. Objective adalah perilaku terukur yang diukur kurang dari satu hari, Goal adalah hasil serangkaian utuh dari beberapa objective yang diukur dalam beberapa hari. Sedangkan Aim adalah tujuan jangka panjang dan biasanya untuk satu tahun atau lebih. Perbedaan antara objective, goal, dan aim ditunjukkan dari sisi waktu. Perbedaan lainnya adalah goal lebih luas, umum, abstrak, tak terukur adapun objective lebih sempit, kongkrit, dan terukur. (http://edweb.sdsu.edu/courses/edtec540/obj ectives/difference.html)

Kata kunci dalam tujuan pembelajaran (objective) adalah very specific, outcome based, measurable, describe student behavior. Tujuan adalah alat untuk

menggambarkan hasil siswa, tujuan

mengarahkan pembelajaran agar efektif. Selain itu, tujuan pembelajaran berfungsi sebagai panduan siswa untuk mengetahui apa yang diharapkan dari belajar siswa. Juga digunakan untuk dasar pemilihan media pembelajaran dan dasar bagaimana cara

membelajarkan. Tujuan dapat

diklasifikasikan menurut hasil

pembelajarannya dimana hasil pembelajaran biasanya digolongkan menjadi kognitif,

psikomotor, dan afektif.

(http://itc.utk.edu/~bobannon/objectives.htm l)

Dengan membandingkan pendapat bahwa tujuan pembelajaran (objective) adalah sesuatu untuk menggambarkan hasil belajar siswa, dengan memperhatikan aspek pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, kita

dapat melihat persamaannya dengan

indikator kompetensi pada standar proses.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan

(3)

’standar proses’ perlu untuk membedakannya?

Untuk melihat ketercapaian

kompetensi dasar perlu ditetapkan indikator-indikator yang lebih spesifik yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk penilaian. Kriteria untuk menetapkan seseorang sudah mempunyai kompetensi atau tidak adalah dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM). Jika belum tuntas maka perlu diadakan pembelajaran remidial. Siapa yang akan diberi pembelajaran remidial? Tentu saja siswa yang yang belum mencapai

KKM. Oleh karena itu kita dapat

menyimpulkan bahwa penetapan indikator

ketercapaian adalah untuk melihat

ketercapaian kompetensi secara individu . Merujuk pengertian Goal adalah hasil serangkaian utuh dari beberapa objective yang diukur dalam beberapa hari, lebih luas, umum, abstrak, dan tak terukur. Kita bandingkan dengan tujuan pembelajaran sebagai gambaran dari proses dan hasil belajar yang akan diperoleh selama pembelajarannya. Jika proses kita pandang sebagai sesuatu yang abstrak dan tak terukur, kita dapat menganggap tujuan pembelajaran yang dimaksudkan adalah goal. Karena tujuan pembelajaran terdapat dalam RPP yang berarti ada dalam sebuah

perencanaan, berarti proses yang

dimaksudkan adalah proses yang terencana.

Dapat disimpulkan dalam tujuan

pembelajaran tersebut, guru merencanakan proses belajar seperti apa yang diinginkan agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Proses belajar ini ditetapkan untuk seluruh siswa dalam kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa tujuan pembelajaran merupakan target pencapaian siswa secara kolektif.

Menurut (Suwono,2007) tujuan

pembelajaran dapat dirumuskan dalam dua bentuk, yaitu bentuk apa yang akan dilakukan guru dan apa yang akan dikuasai siswa. Misalnya: menjelaskan konsep komposisi fungsi melalui menelaah syarat-syarat terjadinya fungsi komposisi (sisi guru) dan menentukan komposisi fungsi dari

dua fungsi (sisi siswa). Dengan

memperhatikan hal tersebut, kita dapat memandang bahwa tujuan pembelajaran

menggambarkan proses belajar yang

direncanakan guru untuk membelajarkan

siswa dan hasil belajar siswa yang diharapkan.

Dengan memperhatikan persamaan dan perbedaan antar indikator ketercapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran, berikut ini contoh implikasinya dalam penyusunan RPP.

Kompetensi Dasar: Menentukan komposisi dari dua fungsi

Indikator Pencapaian:

1. Menentukan aturan fungsi komposisi dari dua fungsi

2. Menyelesaikan masalah dengan

menggunakan konsep fungsi komposisi

Tujuan Pembelajaran:

1. Menemukan syarat terjadinya fungsi komposisi dari dua fungsi

2. Menentukan aturan fungsi komposisi dari dua fungsi

3. Menemukan sifat-sifat fungsi

komposisi

4. Menyelesaikan masalah dengan

menggunakan konsep fungsi komposisi

Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa 2 item dalam indikator muncul dalam tujuan pembelajaran. Pada tujuan pembelajaran, 2 item yang lainnya menunjukkan proses pembelajaran yang direncanakan guru.

3. KESIMPULAN

Persamaan antara indikator kompetensi dan tujuan pembelajaran adalah menunjukkan hasil belajar yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran. Hasil belajar yang diharapkan berlaku untuk semua siswa. Tetapi penetapan seseorang telah mempunyai kompetensi sangat ditentukan secara individual. Perbedaannya adalah adanya gambaran proses pembelajaran yang sengaja direncanakan oleh guru pada tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran berlaku untuk semua siswa secara klasikal. Karena tujuan pembelajaran mencakup proses dan

hasil belajar, seyogjanya tujuan

pembelajaran ’lebih luas’ dibandingkan indikator ketercapaian kompetensi.

4. DAFTAR PUSTAKA

(4)

Suwono, Hadi. Apa Perbedaan Tujuan Pembelajaran dengan Indikator (http://hadisuwono.blogspot.com) (akses 5-10-2010)

Sukandi, Ujang. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Matematika). Makalah disajikan pada Konferensi Nasional Pendidikan Matematika. 9-11 April 2005. SBI Madania dan Himpunan Matematika Indonesia.

(http://edweb.sdsu.edu/courses/edtec540/objectiv es/difference.html (diakses 7/10/2010)

(http://itc.utk.edu/~bobannon/objectives.html

(diakses 6/10/2010)

(http://www.cpass.umontreal.ca/documents/pdf/

(5)

SIKLUS

LESSON STUDY

DALAM PROGRAM PPL PADA

PELAJARAN MATEMATIKA DI SMPN II MALANG

Indriati Nurul Hidayah

Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

Abstrak: Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Pada awal 2008 mulai dimunculkan gagasan untuk mencoba mengadopsi lesson study sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan efektifitas PPL dalam rangka menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru. Di SMPN II Malang, pada semester ganjil, 2010/2011, mahasiswa PPL jurusan Pendidikan Matematika melaksanakan kegiatan lesson study sebanyak 4 kali. Pada saat refleksi, kekurangan pada pembelajaran sebelumnya diperbaiki pada pembelajaran berikutnya dan kelebihan pada pembelajaran sebelumnya dipertahankan pada pembelajaran berikutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari tiga kali kegiatan lesson study tersebut, sudah terjadi daur kaji pembelajaran (siklus).

Kata kunci:LessonStudy , siklus, PPL

Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk

membangun learning community

(Ibrahim,2009). Harapannya, melalui kegiatan lesson Study akan terjadi

peningkatan kemampuan guru dalam

menyiapkan pembelajaran di kelas, dalam proses belajar mengajar dan penguasaan kelas, dalam menciptakan pembelajaran-pembelajaran yang inovatif dan sebagainya. Menurut Saito (dalam Ibrahim, 2009), ada 3 tahapan dalam Lesson Study yaitu Plan, Do dan See. Ketiga tahap tersebut dilakukan secara berulang dan terus-menerus (dalam bentuk siklus). Serangkaian tahapan dilaksanakan secara kolaboratif. Hal ini mempunyai dampak positif. Kolegalitas antara pendidik dapat terbina dengan baik tanpa ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain.

Menurut Katalog FMIPA UM(2010), salah satu tujuan program studi Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan menghasilkan sarjana Pendidikan Matematika yang berkualitas serta menghasilkan karya akademik yang

berbobot dalam bidang Pendidikan

Matematika.

Dalam Pedoman Pendidikan UM

(2009), matakuliah PPL adalah matakuliah di jurusan pendidikan Matematika yang bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis di lapangan melalui kegiatan magang agar mahasiswa memiiki kompetensi yang memadai dalam melaksanakan tugas dan siap menjadi tenaga profesional sesuai

dengan bidang keahliannya. Dengan

dilakukannya kegiatan lesson study dalam program PPL diharapkan akan memberikan pengalaman langsung bagi calon guru untuk menyiapkan pembelajaran di kelas, dalam proses belajar mengajar dan penguasaan

kelas, menciptakan

pembelajaran-pembelajaran yang inovatif, menganalisis kesulitan-kesulitan siswa dan sebagainya.

LESSSON STUDY SEBAGAI SUATU

SIKLUS

Lewis (dalam Santyasa, 2009)

(6)

hakikatnya merupakan aktivitas siklikal berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam pendidikan. Siklus lesson study dapat disajikan sebagai berikut:

Gambar 1

Siklus

Lesson Study

Masing-masing tahapan dalam

lesson study mempunyai tujuan yang

berujung pada membangun learning

community. Dalam Ibrahim (2009), plan

bertujuan untuk menghasilkan rancangan

pembelajaran yang diyakini mampu

membelajarkan peserta didik secara efektif

serta membangkitkan partisipasi aktif

peserta didik dalam pembelajaran.

Tahap do dimaksudkan untuk

menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahapan plan. Guru model akan menjalankan rancangan yang dibuat bersama-sama, sementara guru yang lain berperan sebagai pengamat. Data yang sudah dikumpulkan oleh guru dalam tahap do, dianalisis bersama pada tahap see (refleksi).

Tahapan See bertujuan untuk

menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Hasil diskusi pada tahap refleksi dapat digunakan dan dipertimbangkan sebagai bahan untuk merevisi materi, pendekatan maupun instrumen yang digunakan (Ibrahim, 2009). Ketiga tahapan ini dapat dilakukan secara terus menerus, dalam arti bahwa kelebihan

dan kekurangan dalam pelaksanaan

pembelajaran yang sudah didiskusikan

dalam tahapan see menjadi bahan

pertimbangan untuk merancang

pembelajaran selanjutnya. Ibrahim (2009)

me- n yebutnya sebagai Daur Lesson Study yang Terorientasi pada Praktek. Daur tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2

Daur Lesson Study yang Terorientasi

pada Praktek

PROGRAM PPL DI UNIVERSITAS

NEGERI MALANG

Salah satu tujuan Universitas Negeri Malang adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Tugas pokok Universitas Negeri Malang adalah

menyelenggarakan pendidikan dan

pengajaran di jenjang pendidikan tinggi,

menyelenggarakan penelitian dan

pengembangan ilmu, dan menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat di beragai bidang sesuai kebutuhan pembangunan dengan meletakkan bidang kependidikan sebagai bidang utama (Pedoman Pendidikan UM, 2009).

Dalam Katalog FMIPA UM (2010), jurusan Matematika di Universitas Negeri Malang mempunyai dua program studi yaitu program studi Matematika dan program studi Pendidikan Matematika. Salah satu

tujuan program studi Pendidikan

Matematika adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan menghasilkan sarjana Pendidikan Matematika yang berkualitas serta menghasilkan karya akademik yang berbobot dalam bidang Pendidikan Matematika.

Salah satu matakuliah dalam

(7)

memadai dalam melaksanakan tugas dan siap menjadi tenaga profesional sesuai dengan bidang keahliannya.

Matakuliah PPL terdiri dari 2 tahap yaitu PPL I yang dilaksanakan selama 4 minggu di kampus dengan materi berupa pemahaman administrasi dan pengelolaan sekolah, tugas dan fungsi guru di sekolah, penguasaan standar isi kurikulum bidang

studi, program-program pengajaran,

keterampilan dasar mengajar, bimbingan siswa dan evaluasi belajar siswa. PPL II dilaksanakan dalam 12 minggu di sekolah latihan dengan kegiatan mengobservasi,

membuat perencanaan mengajar,

melaksanakan

praktek mengajar, membuat laporan pengelolaan sekolah dan layanan bimbingan siswa (Pedoman Pendidikan UM, 2009).

Dalam satu sekolah latihan, kelompok

mahasiswa didampingi satu dosen

pembimbing dan 1 atau 2 guru pamong.

LESSON STUDY DALAM PROGRAM

PPL DI UNIVERSITAS NEGERI

MALANG

Dengan melihat penjelasan

sebelumnya, dimunculkanlah gagasan untuk mencoba mengadopsi lesson study sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan efektifitas PPL dalam rangka menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru. Menurut Ibrahim (2009), adopsi lesson study sebagai salah satu pola kegiatan PPL telah dikembangkan di Universitas Pendidikan

Indonesia dan Universitas Negeri

Yogyakarta.

Masih menurut Ibrahim (2009) bentuk kegiatan PPL dengan pola lesson study dapat dirancang sebagai berikut:

a. Calon Dosen Pembimbing PPL (DPL), Guru Pamong dan mahasiswa peserta PPL diberi pelatihan lesson study. b. Dalam pelaksanaan PPL, mahasiswa

yang sebidang studi diharuskan menyusun skenario pembelajaran dan perangkatnya secara kolaboratif dengan didampingi guru pamong dan dosen pembimbing.

c. Selanjutnya masing-masing akan mendapatkan giliran untuk

melaksanakan pembelajaran di kelas riil yang diobservasi oleh teman-teman peserta PPL, Guru Pamong dan Dosen Pembimbing.

d. Selesai pelaksanaan KBM dan observasi pembelajaran sedapat mungkin langsung dilanjutkan dengan diskusi refleksi di tempat yang terpisah. Jika tidak memungkinkan dapat dilakukan siang hari setelah jam sekolah usai.

e. Dalam kegiatan refleksi peserta PPL lebih banyak menyampaikan komentar tentang aktivitas belajar siswa dari awal pelajaran sampai penutupan. Sementara guru pamong dan dosen pembimbing selain memberikan komentar tentang aktivitas belajar siswa juga harus mereview alur pelaksanaan pembelajaran dan memberikan saran untuk perbaikan RPP dan perangkat serta untuk perbaikan pembelajaran berikutnya dan langkah pembelajaran yang dilakukan mahsiswa sebagai ”guru model”.

f. Semua kejadian penting dan pelajaran berharga mulai dari kegiatan perencanaan pembelajaran sampai diskusi refleksi harus dicatat oleh peserta sebagai ”lesson learned” dan sekaligus sebagai bahan untuk menyusun laporan pelaksanaan PPL.

Dengan pola kegiatan PPL di atas diharapkan akan dapat meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan PPL.

PELAKSANAAN LESSON STUDY

DALAM PROGRAM PPL DI SMPN II

MALANG

(8)

dosen tersebut akan menggabungkan kelompoknya dengan kelompok lain.

Dalam praktek kegiatan lesson study tersebut, mahasiswa belajar melaksanakan plan, do dan see. Pada saat plan mereka merancang kegiatan pembelajaran secara bersama-sama, kemudian menunjuk salah satu mahasiswa untuk bertindak sebagai guru model, mahasiswa yang lain sebagai siswa dan mahasiswa yang lain lagi sebagai

observer. Setelah pembelajaran

dilaksanakan, pada tahap see, dosen pembimbing berperan sebagai moderator dan pendamping, mahasiswa yang berperan sebagai siswa bertindak sebagai observer. Ketika bertindak sebagai moderator, dosen pembimbing memberikan contoh bagaimana berlaku sebagai moderator dalam lesson study.

Ketika dosen pembimbing meminta tanggapan mahasiswa tentang praktek kegiatan lesson study tersebut, mahasiswa merasa lebih paham bagaimana pelaksanaan lesson study yang sebenarnya dan merasa lebih percaya diri untuk melaksanakan lesson study di sekolah latihan masing-masing.

Di SMPN II Malang kegiatan lesson study dalam program PPL tahap do dan see dilaksanakan sebanyak empat kali yaitu tanggal 30 September 2010, 9, dan 11 Oktober 2010. Pada tanggal 11 Oktober 2010, lesson study tahap do diadakan sebanyak dua kali yaitu jam ke 3-4 dan 7-8. Kegiatan refleksi diadakan setelah jam ke 3-4 dan setelah jam ke 7-8. Lesson study yang diaksanakan pada tanggal 9 dan 11 Oktober 2010 didampingi oleh dosen pendamping dan guru pamong. Oleh karena itu pada tulisan ini hanya dibahas lesson study yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 11 Oktober 2010.

1. Kegiatan Lesson Study I Kegiatan lesson study I tahap do dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2010

dengan materi: menentukan hasil

penjumlahan bentuk aljabar, menentukan hasil pengurangan bentuk aljabar dan menentukan hasil perkalian bentuk aljabar. Metode yang diterapkan adalah tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi dengan memanfaatkan media interaktif, kemudian meminta para siswa untuk berdiskusi secara

berpasangan dengan teman sebangku untuk mengerjakan soal yang ada pada bahan diskusi. Setelah berdiskusi, beberapa kelompok mempresentasikan jawaban hasil diskusi di depan kelas.

Setelah tahapan do, dilanjutkan tahapan refleksi. Pada tahapan refleksi, dosen pembimbing bertindak sebagai moderator. Permasalahan/kendala yang didiskusikan adalah:

a. Observer mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi siswa. Hal ini disebabkan guru model tidak mempersiapkan kartu identitas siswa dan tidak ada pembagian seorang observer harus mengamati kelompok mana.

b. Siswa tidak memahami materi yang disampaikan walaupun sebenarnya mereka tertarik pada media yang disediakan guru (LCD). Hal ini disebabkan tampilan media yang kurang jelas (tulisan di layar terlalu kecil dan warna latar belakang layar yang tidak jelas). Penyebab yang lain, media yang sudah didesain interaktif ternyata tidak dibuat interaktif oleh guru model. Selain itu ruangan kelas memanjang ke belakang sehingga siswa yang duduk di belakang tidak bisa melihat layar dengan jelas.

c. Beberapa siswa terlihat tidak dapat mengikuti penjelasan guru secara maksimal. Mereka masih berusaha memahami suatu materi namun guru sudah melanjutkan ke materi berikutnya. Hal ini dikarenakan materi pelajaran yang direncanakan terlalu banyak dan guru mengejar target RPP sehingga guru menjelaskan dengan tergesa-gesa.

2. Kegiatan Lesson Study II

Dari hasil refleksi pada kegiatan lesson study I, rancangan pembelajaran pada kegiatan lesson study II dibuat sebagai berikut:

(9)

sehingga pengamatan terhadap siswa dapat lebih terarah.

b. Karena untuk mengatasi kondisi ruangan yang memanjang ke belakang perlu persiapan lebih, maka untuk mengatasi penggunaan media yang kurang efektif, dibuatlah media (LCD) dengan tulisan yang agak besar dan latar belakang layar dengan warna putih.

c. Karena pada lesson study I materi yang disampaikan terlalu banyak, maka pada lesson study II materi yang direncanakan adalah pengertian bentuk aljabar, contoh bentuk aljabar, menentukan variabel, konstanta, suku, koefisien, suku sejenis dan tak sejenis dari suatu bentuk aljabar. Diharapkan materi ini tidak terlalu banyak sehingga siswa mempunyai waktu untuk menyerap materi dengan baik.

Kegiatan lesson study II tahap do dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2010 jam ke 3-4. Metode yang diterapkan adalah tanya jawab dan pemberian tugas. Pada kegiatan inti, guru meminta siswa membaca dan memperhatikan media. Kemudian guru meminta siswa untuk mengerjakan soal dan secara acak meminta dua siswa maju untuk mengerjakan soal sesuai contoh.

Setelah tahapan do, dilanjutkan tahapan refleksi. Permasalahan/kendala yang didiskusikan adalah:

a. Beberapa siswa mengalami kesulitan pada saat menentukan suku dan koefisien dari suatu bentuk aljabar. Setelah didiskusikan, diperoleh bahwa penyebabnya adalah kesalahan penanaman konsep baik yang ada di tayangan media maupun di penjelasan guru. Pada saat guru menanamkan konsep suku dari bentuk aljabar, guru memberikan contoh bentuk aljabar berikut, terdiri dari dua suku yaitu dan . Guru menjelaskan dengan menampilkan tayangan berikut.

+

Namun guru juga memberikan contoh bentuk aljabar berikut terdiri dari dua suku dengan menampilkan tayangan

Dari hasil diskusi diperoleh kesimpulan

bahwa jika dalam pembelajarannya

menggunakan media, maka sebaiknya penggunaannya melibatkan siswa.

b. Beberapa siswa terlihat bermalas-malasan atau ramai. Sebenarnya pembelajaran sudah didesain kooperatif, namun tugas yang disiapkan ternyata tidak ’memaksa’ siswa untuk bekerja sama walaupun dengan teman sebangku.

3. Kegiatan Lesson Study III

Dari hasil refleksi pada kegiatan lesson study II, rancangan pembelajaran dibuat sebagai berikut:

a. Media pembelajaran yang dipakai adalah media manipulatif dari kertas warna

untuk menjelaskan bentuk-bentuk

aljabar (ubin aljabar). Beberapa contoh media adalah

Media pembelajaran ini sangat

melibatkan siswa karena masing-masing kelompok memperoleh ubin aljabar. Tugas yang diberikan guru juga ’memaksa’ siswa untuk menggunakan (memegang) media tersebut.

a. Pembelajaran didesain kooperatif secara heterogen agar terjadi kerjasama yang baik antar anggota kelompok. Tugas yang harus

dikerjakan oleh kelompokpun

memungkinkan terjadinya kerjasama antar anggotanya. Contoh tugas sebagai berikut:

Gambarkan bentuk aljabar

dengan menggunakan ubin aljabar.

Kegiatan lesson study III tahap do dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2010 jam ke 7-8. Materinya adalah pengertian bentuk aljabar, contoh bentuk aljabar, menentukan variabel, konstanta, suku, koefisien, suku sejenis dan tak sejenis dari

(10)

suatu bentuk aljabar. Metode yang diterapkan adalah kelompok, tanya jawab dan pemberian tugas.

Pada kegiatan inti, guru meminta siswa untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 6 siswa dan masing-masing kelompok duduk melingkar. Untuk mengantisipasi agar tidak bekerja secara individual, maka posisi duduk dibuat selang-seling laki-laki perempuan. Kemudian guru memberikan pada masing-masing kelompok beberapa ubin aljabar. Setelah guru menjelaskan penggunaan dan makna media tersebut, guru menanyakan berapa luas masing-masing ubin aljabar (untuk yang merah). Guru juga menjelaskan bahwa ubin yang putih merupakan lawan dari ubin merah sehingga jika dijumlahkan maka akan netral atau

menghasilkan 0. Kemudian guru

memberikan tugas untuk dikerjakan secara

berkelompok dan selanjutnya

dipresentasikan.

Setelah tahapan do, dilanjutkan tahapan refleksi. Permasalahan/kendala yang didiskusikan adalah:

a. Beberapa siswa masih bergerombol atau tidak bergabung secara merata dengan teman lain dalam satu kelompok. Hal ini disebabkan pengaturan tempat duduk yang tidak efektif.

b. Beberapa siswa masih menggunakan

media sebagai mainan. Ini

disebabkan beberapa kelompok

sudah selesai mengerjakan tugas sementara kelompok yang lain belum selesai, sehingga waktu luang digunakan siswa untuk

bermain-main. Penyebab yang lain

pengelolaan kelas oleh guru kurang maksimal.

Dari pelaksanaan tiga kali lesson study dalam program PPL di SMPN II Malang sudah nampak bahwa terjadi siklus di sana. Jadi kelemahan atau permasalahan yang ditemukan pada saat refleksi di suatu lesson study berusaha diperbaiki pada perancangan pembelajaran di lesson study berikutnya. Demikian dilakukan oleh para mahasiswa PPL secara terus menerus secara kolaboratif. Setiap kali merancang pembelajaran berikutnya dengan mengingat permasalahan sebelumnya, mereka selalu punya harapan agar memperoleh hasil yang lebih baik. Jika

hal ini dilakukan terus menerus dengan belajar dari pengalaman maka bukan tidak mungkin pembelajaran matematika akan lebih menyenangkan dan mendapatkan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrohim, 2009. Apa, Mengapa dan Bagaimana Lesson Study. Makalah disampaikan dalam Workshop Pembimbingan PPL Pola Lesson Study di FMIPA UM tanggal 19-20 Januari 2009.

Katalog FMIPA Universitas Negeri Malang, Jurusan Matematika.2010.Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.

Pedoman Pendidikan Universitas Negeri Malang. 2009. Malang: Biro Administrasi Akademik,

Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Sistem Informasi Uiversitas Negeri Malang.

Santyasa, 2009. Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam Seminar Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran bagi Guru-Guru TK, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Nusa Penida, tanggal 24 Januari 2009. (diakses tanggal 1 November 2010).

Sriningsih dkk, 2010. Laporan Pelaksanaan Lesson Study dalam Rangka PPL Semester Genap 2010/2011 di SMPN II Malang.

Susilo, Herawati, 2009. Lesson Study sebagai Pilihan Sarana Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan

(11)

PEMBERDAYAAN MAHASISWA PESERTA SBMK-RSBI DALAM

MELAKUKAN

MICROTEACHING

MENGGUNAKAN METODE

VISUALISASI DAN MODALITAS BELAJAR

(Sebuah Gagasan)

Srini M. Iskandar Jl. Semarang 5 Malang 65145

Telp. (0341) 551-312 (psw. 251)/574-388, Telp./Fax. (0341) 562180 (langsung) Website: http://www..um.ac.id

E-mail: [email protected]

Abstrak

Penyiapan calon guru Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)/Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) berbeda dalam sejumlah aspek dari sekolah-sekolah reguler, antara lain: kurikulum yang digunakan adalah KTSP plus; bahan ajar mencakup peningkatan bahan ajar dari sekolah nasional karena mengadopsi dari kurikulum negara-negara maju; pendekatan pembelajaran berpusat pada pembelajar; bahasa yang digunakan bahasa inggris atau dwi bahasa; dan evaluasi mengacu pada kriteria.

Dari analisis angket yang didistribusikan pada mahasiswa peserta SBMK-RSBI didapatkan kendala yang mereka hadapi adalah menyiapkan RPP dalam bahasa Inggris, karena minimnya kosakata Inggris yang mereka kuasai dalam menghadapi microteaching kendala yang mereka hadapi adalah pengucapan bahasa inggris, dan penguasaan materi ajar yaitu topik-topik kimia. Kiat-kiat yang mereka lakukan adalah mengambil les bahasa Inggris, berlatih bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Mereka mengharapkan dosen pembina untuk sabar dan telaten mengajar mereka. Gagasan untuk memberdaya-kan mahasiswa SBMK-RSBI adalah metode visualisasi dan penerapan modalitas belajar.

Kata kunci: SBMK-RSBI, microteaching, metode visualisasi, modalitas belajar

PENDAHULUAN

Mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Kimia dengan sandi KIP 445 disajikan pada semester 5 bagi mahasiswa Pendidikan Kimia. Beban matakuliah ini adalah 3 sks 4 js. Diharapkan setelah mengikuti kuliah ini para mahasiswa mampu memilih dan mengimplementasikan pendekatan mengajar yang sesuai dengan hakekat pembelajaran kimia di sekolah (SMP, SMA dan SMK) sehingga memiliki kompetensi dasar dalam berkarya di bidang pendidikan (katalog FMIPA UM Jurusan Kimia, edisi 2010).

Untuk menjawab tantangan zaman, FMIPA juga menyiapkan calon guru-guru SBI/RSBI. Dalam hal ini, termasuk Jurusan Kimia FMIPA UM. Penyiapan calon guru-guru SBI/RSBI berbeda dengan penyiapan calon guru reguler, karena SBI/RSBI memang berbeda dari sekolah-sekolah reguler, antara lain: (1) kurikulum yang digunakan adalah KTSP plus; (2) bahan ajar yang dicakup di dalam kurikulumnya diadopsi dari kurikulum negara-negara maju misalnya Cambridge, IBO dsb; (3)

pende-katan pembelajaran dapat dipastikan ber-pusat pada pembelajar; (4) bahasa yang dipakai 100% English atau biligual; (5) asesmen yang digunakan adalah asesmen yang berorientasi pada kriteria (Ibnu, 2010).

Kendala yang Dihadapi Mahasiswa SBMK-RSBI

Bagi mahasiswa Pendidikan Kimia angkatan tahun 2008 offering AA, per-kuliahan SBMK-RSBI bukanlah matakuliah wajib, melainkan matakuliah pilihan. Di awal perkuliahan sudah diinformasikan bahwa mereka dipersilahkan memprogram SBMK reguler bila mereka merasa tidak mampu, namun mereka bertahan untuk tetap

memprogram matakuliah SBMK-RSBI.

Setelah bertatap muka lebih dari setengah semester, penulis sebagai pengampu mata-kuliah ini mendapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa menghadapi kesulitan. Penulis menyebarkan angket untuk mengeta-hui permasalahan yang mereka hadapi.

(12)

SBMK-RSBI. 55% dari peserta menjawab bahwa mereka ingin mengajar di SBI/RSBI, 27% menjawab bahwa di masa datang guru harus berkualitas dan yang hanya ikut-ikutan sebanyak 18%.

Kendala yang mereka hadapi menurut hasil angket yaitu 91% dari peserta menyata-kan terkendala oleh bahasa Inggris dan hanya 9% menyatakan tidak mengalami ke-sulitan bahasa. Adapun keke-sulitan berbahasa Inggris disebabkan oleh miskinnya kosakata (vocabulary), rendahnya penguasaan tata ba-hasa (grammar), serta kebiasaan menter-jemahkan kata demi kata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Hal-hal ini meng-akibatkan penulisan Lesson Plan memerlu-kan waktu yang relatif lama. 23% dari pe-serta menyatakan kurang menguasai materi kimia.

Kiat-Kiat yang Dilakukan Mahasiswa untuk “survive” dalam SBMK-RSBI

Dalam angket yang diberikan kepada mahasiswa untuk kiat-kiat dalam mencapai prestasi yang baik, mereka boleh memilih lebih dari satu jawaban. Berikut ini disajikan hasil pengisian angket mengenai kiat-kiat mereka untuk meraih prestasi yang baik pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase kiat-kiat mahasiswa untuk mencapai prestasi yang baik

No

Kiat-kiat mahasiswa untuk mencapai prestasi yang

baik

Persentase (%)

1. Berlatih bahasa Inggris 67 2. Belajar bersama 36 3. Rajin membuka kamus 32

4. Belajar sendiri 9

5. Bertanya pada dosen 23 6. Mengambil kursus bahasa

Inggris 9

Gagasan Pemberdayaan Mahasiswa SBMK-RSBI

Para peserta SBMK-RSBI menyatakan berharap agar dosen pengampu sabar dan telaten dalam mengajar mereka. Mengingat bahwa kompetensi yang diharapkan dari peserta SBMK baik yang RSBI maupun yang reguler adalah mampu mengimplemen-tasikan pendekatan pembelajaran maka

di-perlukan langkah konkrit dan inovatif untuk memberdayakan para peserta SBMK-RSBI.

Langkah konkrit adalah menganjurkan agar para mahasiswa meningkatkan kiat-kiat yang sudah mereka lakukan. Sedangkan langkah inovatif yang bisa diimplementasi-kan adalah mengadopsi dari metode visuali-sasi dan modalitas belajar untuk berlatih melakukan microteaching.

Asesmen yang digunakan dalam

SBMK-RSBI adalah asesmen untuk rencana pembelajaran dan asesmen kinerja/asesmen pelaksanaan pembelajaran. Adapun RPP me-liputi komponen utama: kompetensi, materi pokok, strategi pembelajaran dan asesmen. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran meli-puti unsur-unsur keterampilan dasar meng-ajar dan unsur-unsur strategi pembelmeng-ajaran.

Dalam penyusunan RPP, selain sintaks atau langkah-langkah pembelajaran, para mahasiswa diminta untuk menulis skenario pembelajaran yaitu sintaks yang disertai rincian kalimat yang akan diucapkan oleh calon guru. Tujuan penulisan skenario mela-tih calon guru memikirkan pertanyaan atau kalimat yang akan diucapkannya (seperti layaknya seorang artis yang akan meme-rankan suatu lakon harus menghafal dahulu “script”). Langkah selanjutnya adalah pene-rapan metode pembelajaran yang disebut visualisasi.

Apakah metode visualisasi itu? Berikut ini adalah ilustrasi yang dikutip dari dunia olahraga mengenai metode visualisasi (Kok, Erni Julia, 2010: 94-96):

Rebbecca Owen adalah seorang pese-nam yang mulai berlatih sepese-nam ketika ber-usia tujuh tahun. Ia berlatih lima setengah jam setiap hari, enam hari seminggu selama 10 tahun berturut-turut. Hasil jerih payah itu memang akhirnya mengantarkan remaja Inggris yang murah senyum ini untuk

men-dapatkan medali perak dalam

Commonwealth Games tahun 2002. Prestasi itu belum memuaskannya sebab ambisinya adalah medali Olimpiade. Untuk mendapat-kan kesempatan masuk ke dalam tim Olimpiade, Rebbecca harus belajar dan menguasai gerakan baru yang amat sulit yang disebut “Ginga Salto”, yaitu “terbang” lepas dari atas bar, lalu melakukan jungkir balik sambil memutar balik tubuhnya sebelum menangkap bar lagi.

(13)

jungkir balik dan perputaran, hingga akhir-nya ia melakukan pendekatan radikal, meng-gunakan metode pembelajaran yang disebut visualisasi! Berjam-jam ia duduk di bawah bar dan membayangkan dirinya melakukan gerakan Ginga Salto berkali-kali, setiap kali habis melakukan jungkir balik, memutar tubuhnya ia menangkap bar dengan tepat. Setelah berkali-kali mengulang gerakan-gerakan itu dalam pikirannya, Rebbecca kembali melakukan gerakan sulit tersebut dan ia berhasil.

Apa yang terjadi dalam otak seseorang ketika ia melakukan visualisasi? Menurut para ilmuwan, pikiran tidak dapat membeda-kan antara fantasi dan realitas, jika sese-orang berpikir bahwa dirinya sedang mela-kukan sesuatu, padahal pada kenyataannya tubuhnya sedang diam, otak menerimanya sebagai realitas. Begitu pula halnya jika ia benar-benar melakukan hal tersebut, pikiran pun akan memperlakukannya sebagai reali-tas. Pada dasarnya, fantasi dan realitas ter-letak pada bagian yang sama dalam sistem otak kita. Oleh sebab itu, bila kita terus-menerus mengulang suatu perilaku dalam pikiran kita, jalan-jalan yang menghubung-kan sel-sel otak amenghubung-kan terbangun. Mengguna-kan prinsip ini, kita dapat meningkatMengguna-kan kemampuan berbicara di depan publik, mengendarai mobil atau motor, bahkan membakar lemak-lemak tubuh.

Metode pembelajaran ini tidak hanya bermanfaat bagi para olahragawan atau atlet, tetapi juga siapapun untuk melakukan ham-pir semua aktivitas yang melibatkan otoma-tisasi otot-otot dan saraf tubuh. Bahkan, dapat digunakan juga oleh seseorang untuk mengembangkan otot-otot tubuh tanpa perlu fitness, yang disebut latihan virtual.

Sedangkan modalitas belajar adalah cara-cara pembelajar/mahasiswa mengolah informasi. Ada empat golongan yaitu visual, auditorial, kinestetik dan auditory digital.

Adapun karakteristik masing-masing golongan dalam DePorter (2000 dan 2003), Kok, E. J. (2009), Fitriyah, L. A. (2010) dan Widayanti, F. D. (2010) yang dipaparkan sebagai berikut:

Visual, dengan karakteristik:

 posisi kepala terangkat ke atas ke arah orang yang sedang berbicara

 eye accessing melihat ke atas

 nafas pada dada bagian atas, tipis

 posisi leher lurus dan tegak

 penampilan rapi, warna serasi, teratur

 mengingat dengan gambar

 lebih suka membaca dari pada dibacakan

 membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh

 menangkap detail

 mengingat apa yang dilihat

 selalu mengadakan kontak mata

 berbicara cepat, hampir tanpa titik koma

 menjaga jarak dengan orang lain supaya dapat melihat lebih jelas

 berpikir selalu “gambar besarnya”

Cara belajar yang disarankan untuk golongan visual yaitu dengan menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.

Auditorial, dengan karakteristik:

 posisi kepala menoleh ke arah orang yang sedang berbicara

eye accessing ke arah dan sejajar dengan telinga

 nafas merata di seluruh permukaan dada

 memandang jauh

 menghindari kontak mata

 perhatiannya mudah terpecah

 berbicara dengan pola berirama

 selalu mengulang apa yang baru mereka dengar

 belajar dengan cara mendengarkan dan menggerakkan bibir/bersuara saat mem-baca

 berdialog secara internal dan eksternal

 sikap tubuh lemah lembut dan mengalir

 berdiri dekat dengan orang lain supaya dapat mendengar jelas

 gampang terganggu oleh kebersihan

 cara berpikir kronologi

(14)

infor-masi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengar-kan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Kinestetik, dengan karakteristik:

 posisi kepala dan dahi agak menunduk

eye accessing menunduk atau menunduk ke arah kanan

 nafas dalam, di daerah diafragma

 jarang mengadakan kontak mata

 suara nada rendah, tempo lambat

 sering berjeda ketika berbicara

 berdiri berdekatan

 banyak bergerak

 suka sentuhan, merasakan informasi

 belajar dengan melakukan

 cenderung asosiasi dengan pengalaman mereka sendiri

 menunjuk tulisan saat membaca

 menanggapi secara fisik

 mudah terganggu oleh emosi sendiri Cara belajar yang disarankan untuk go-longan kinestetik yaitu dengan belajar ber-dasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Belajar dengan cara menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucap-kannya atau memahami fakta. Penggunaan komputer, karena dengan komputer bisa terlibat aktif dalam melakukan sentuhan, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.

Auditory Digital, dengan karakteristik:  posisi kepala agak mendongak

 bahu rendah

eye accessing menunduk ke arah kirinya

 nafas tipis dan tertahan-tahan

 jarang mengadakan kontak mata

 kadang-kadang menerawang

 vokal tidak bervariasi, pendek-pendek, monoton

 menggerakkan bibir ketika tenggelam ke dalam pikiran

 sikap tubuh jarang bergerak, statis

 berdiri menjaga jarak untuk disasoisasi dan mengamati

 agak disasoisasi dengan pengalaman sen-diri

 kurang peka terhadap rangsangan dari luar

 penampilan rapi, fungsional/praktis, ren-dah hati

Cara belajar yang disarankan untuk go-longan auditory digital yaitu dengan mem-buat imajinasi dalam pikiran sebelum me-nuangkannya dalam sebuah tulisan maupun tindakan. Membuat sebuah ringkasan untuk memahami informasi yang diterima secara logis.

Pertanyaan-Pertanyaan yang Diajukan dalam Angket

1. Apa yang menyebabkan Anda mempro-gram SBMK-RSBI?

2. Sampai sejauh ini kendala apa yang Anda rasakan selama mengikuti perkuliahan? 3. Kiat-kiat apa yang Anda lakukan agar

mencapai prestasi yang baik?

4. Apa yang Anda harapkan dari dosen pembina untuk membantu Anda?

DAFTAR RUJUKAN

DePorter, B. dan Henarcki, M. 1992. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Terjemahan oleh Alwiyah Abdurrahman. 2003. Bandung: Kaifa.

DePorter, B., Reardon, M. & Singer-Nourie, S. 1999. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Terjemahan oleh Ari Nilandri. 2000. Bandung: Kaifa.

Ellerton, R. 2010. Modalities and Representational System. Renewal Technologies Inc. (Online), (www.renewal.ca, diakses 5 nopember 2010).

Fitriyah, L. A. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran dan Modalitas Belajar serta Kemampuan Berfikir Formal terhadap Hasil Belajar dan Higher Order Thinking Ability Siswa Kelas XI IPA MAN Sumenep. Tesis. Tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Ibnu, S. 2010. Mengembangkan Perangkat Pembelajaran RSBI. Makalah disajikan dalam Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran RSBI Jurusan Kimia FMIPA UM, tanggal 3 Nopember 2010.

Katalog FMIPA UM Jurusan Kimia, Edisi 2010. Malang: UM Press.

(15)

Kok, E. J. 2010. Mental Pemenang Mental Pecundang: Membentuk Mentalitas Pemenang dengan Pendekatan Outcome Thinking dari NLP. Jakarta: Gramedia.

(16)

PENDIDIKAN SAINS ADALAH PENDIDIKAN BERKARAKTER

Suhadi Ibnu

Universitas Negeri Malang (UM)

Abstrak:

Sebagai dampak dari globalisai, generasi muda masa kini terpapar dengan dahsyat terhadap berbagai bentuk perubahan di dalam kehidupan personal, sosial dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai sosial yang pada waktu lalu dapat dijaga dan dipertahankan dengan baik saat ini telah sangat berbeda wujudnya di dalam kehidupan sosial di masyarakat. Hasil positif yang seharusnya berkembang dari kemajuan IPTEK seolah tenggelam jika dibandingkan dengan dampak negatif yang tidak dapat dihindari. Dalam perkembangan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi misalnya, menjamurnya kanal-kanal komunikasi yang menghidangkan berbagai situs porno dan bermoral rendah adalah hasil ikutan yang tidak bisa dihindarkan dari perkembangan ilmu dan teknologi komunikasi itu sendiri. Menolak kehadiran dan pekembengan IPTEK termasuk teknologi informasi dan komunikasi adalah langkah yang tidak produktif. Tetapi menerima begitu saja adalah sikap yang tidak bijak. Untuk menghindari dampak negatiif dari perkembangan IPTEK diperlukan pendidikan yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan ketramplan tetapi juga meneguhkan moral dan karakter untuk menumbuhkan generasi muda yang berakhlak mulia, beretos kerja tinggi, cerdas dan trampil, demokratik dalam sikap, dan cinta bangsa dan tanah air. Sains dan pendidikan Sains yang dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik menjanjikan dilahirkannya generasi muda dengan karakter yang baik, seperti yang diharapkan di atas. Sains dan pendidikan Sains memiliki keluasan cakupan ontologi, ketertiban dan kejujuran epistemlogi dan norma etika aksiologi yang berpotensi mengembangkan keluasan pengetahuan kognitif, kemuliaan afektif dan ketrampilan psikomotorik pada diri peseta didik. Sikap ilmiah atau “scientific attitude´ yang merupakan bagian tak terpisahkan dari disiplin Sains dan pendidikan Sains jika dikembangkan secara konsisten dan terus menerus akan sangat membantu menghasilkan generasi muda yang memiliki karakter sosial yang kuat, professional dalam bekerja dan memiliki watak demokratik di dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Kata kunci: pendidikan Sains, pendidikan karakter, sikap ilmiah, pendidikan demokrasi

.

Dampak Pendidikan Tak Berkarakter

Berkembangnya masyarakat dunia tanpa batas, atau yang biasa dikenal dengan

fenomena globalisasi menghadirkan

berbagai kesempatan dan tantangan bagi bangsa Indonesia, khususnya generasi muda. Diversifikasi berbagai aspek kehidupan memberikan kesempatan luas bagi mereka yang tanggap, termotivasi, cerdas, trampil, inovatif dan memiliki wawasan yang luas dan ambisi yang kuat untuk maju. Munculnya berbagai bidang baru dalam kancah kehidupan manusia yang mungkin tidak pernah terfikirkan tiga

dekade yang lalu membuka lebar

kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi untuk menampilkan produk-produk baru baik yang bersifat fisik maupun non-fisik. Teknologi animasi misalnya, telah cukup banyak menarik dan melibatkan anak-anak muda di dalam business yang terkait dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) ini. Demikian pula

munculya produk-produk fisik dari

teknologi canggih ini dan yang lain telah pula menarik dan melibatkan banyak kaum muda termasuk pemuda Indonesia. Konon dalam salah satu film produksi Hollywood yang sangat terkenal dan laris, salah satu seniman atau teknolog animasinya adalah anak Indonesia. Selain itu perlu juga dicatat bahwa di dalam berbagai kontes Sains dan Matematika internasional cukup banyak pula prestasi yang telah diraih putra-putri Indonesia.

Berita baik seperti di atas tentu membanggakan karena ikut mengangkat derajat kehormatan bangsa. Akan tetapi berita yang mengabarkan hal-hal buruk yang terjadi di Indonesia yang secara langsung atau tidak juga merupakan dampak dari perkembangan IPTEK dan globalisasi yang melibatkan kaum muda

juga tidak sedikit jumlahnya.

Roesminingsih (2010) di dalam

(17)

Karakter Bangsa memaparkan realita yang sangat memprihatinkan. Mo limo (maling, madon, main, madat, minum) sudah menjadi ‘kontra budaya’ yang dengan mudah dapat dijumpai dengan terang-terangan: (1) korupsi di Indonesia sudah masuk kelas kakap dan menyentuh berbagai

lapisan masyarakat konon jumlah

kumulatifnya sudah mencapai Rp. 444 trilyun, (2) bisnis pelacuran Indonesia mencapai nilai 11 trilyun, HIV/AIDS menyentuh 2, juta orang, (3) peredaran narkoba/NAPZA beromzet Rp. 146 trilyun dan membunuh 57 000 orang per tahun, dan (4) Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang belum mempunyai UU Alkohol.

Di dalam bidang pendidikan, di luar prestasi-prestasi (kecil) di dalam berbagai kontes nasional amat akrab di telinga bahwa kualitas pendidikan Indonesia khusnya untuk Sains dan Matematika selalu jatuh di nomor buntut di ASEAN dan Asia. Apalagi di dunia. Inisiatip pengembangan yang selama ini sudah dilakukan seolah belum memberikan hasil yang signifikan. Itu baru dalam bidang kognitif. Kalau diperhatikan hal-hal yang bersifat ‘moral’ sangat jelas ketertinggalan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain. Disiplin dan ketertiban, kepedulian pada lingkungan fisik dan sosial, etos kerja, profesionalitas, commitment pada tugas, kreativitas dan interprnuership jelas jauh tertinggal. Soal disiplin dan ketertiban ini ada contoh yang unik dan sebenarnya juga memalukan. Di tempat-tempat tertentu yang memiliki wilayah yang dikelola perusahaan asing berlaku standar ganda. Di dalam wilayah perusahaan disiplin dan ketetiban tampak sekali diterapkan dengan baik, misalya dalam hal ketertiban berlalu lintas, semua mematuhi aturan yang diberlakukan di situ terkait kecepatan maksimal, standar

keselamatan, larangan merokok dan

sebagainya. Demikian juga dengan aturan keselamatan kerja. Semua patuh. Tetapi

begitu melewati batas territorial

perusahaan, semuanya berubah, kembali ke ‘standar’ Indonesia yang penuh dengan ketidak pastian dan membahayakan.

Keadaan di atas jelas merupakan wujut dari hasil pendidikan yang masih memprihatinkan mutunya. Prof. Zainuddin

Maliki, Ketua Dewan Pendidikan Propinsi

Jawa Timur periode 2008 -2011

mengingatkan bahwa keruntuhan moral yangtelah berkembang menjadi ‘kontra budaya’ tersebut tidak lain adalah akibat dari pendidikan yang, (1) hanya menyentuh permukaan dan tidak cukup substansial untuk mengejar nilai UNAS dan

meminggirkan pembelajaran yang

mengandung nilai mendidik, (3) miskin sumber belajar yang tersedia—misalnya sebatas buk-buku teks—yang seharusnya diperkaya dengan contoh-contoh nyata di masyarakat, dan (4) pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif, lebih-lebih secara mental. Padahal, pembelajaran

yang akan menghasilkan manusia

berkarakter adalah pembelajaran yang

dikemas sedemikian rupa sehingga

memberi kesempatan luas bagi pebelajar untuk terlibat secara fisik dan mental.

Pendidikan Sains Berpotensi Pendidikan Karakter

Semua cabang ilmu pengetahuan melancarkan ‘claim’ bertujuan mencari dan

menegakkan kebenaran, untuk

kemaslahatan umat manusia. Tetapi rujukan kebenaran yang digunakan tidak sama antara yang satu dengan yang lain.

Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang

perkembangannya sangat dipengaruhi

pemikiran subjektif pengembang dan pengikutny seperti ilmu-ilmu ekonomi dan sosial ukuran kebenaran yang digunakan juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran subjektif pengembang dan pengikutnya itu. Paham ekonomi kapitalis misalnya akan didukung secara kuat dan dinyatakan sebagai yang paling benar oleh para pendukungnya dengan menyodorkan bukti tingkat kesejahteraan materi yang dapat dicapai oleh warga masyarakat yang

menganutnya. ‘Pemerataan’ menjadi

kriteria yang diharamkan dalam mashab ekonomi kapitalis. Sebaliknya kaum

sosialis dan komunis akan lebih

membenarkan ekonomi sosialis atau

(18)

subjektivitas pengembangnya. Di ujung akhirnya Sains patuh secara objektif pada kriteria kebenaran mutlak yang disodorkan alam. Betapapun cangggihnya pengolahan data yang dilakukan dan tingginya pemikiran analitik para ahlinya hasil akhir baru dapat dikatakan benar apabila tidak bertentangan dengan realita yang terjadi di

alam. Kebenaran scientific adalah

kebenaran universal. Jika kebenaran alami-universal itu saat ini belum dapat ‘dilihat’ secara fisik tetap saja diyakini bahwa pada

saatnya alam akan memperlihatkan

‘kebenaran’ dirinya sendiri. Semua

pendukung perkembangan Sains

selanjutnya ‘harus tunduk’ pada realita ini, dan segala pemikiran deduktif-induktif

yang dkembangkan kemudian harus

mengacu kepada realita ini. Ini adalah modal dasar Sains sebagai acuan kebenaran yang tidak dapat ditawar atau direkayasa. Satu karakter Sains yang berbeda dari cabang-cabang cabang ilmu lain yang subjektivitasnya tinggi. ‘Kebenaran’ dalam Sains harus berkorespondensi secara harmonis dengan kebenaran alami.

Di dalam upaya membangun

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara haruslah ada acuan yang dapat dirujuk tanpa keraguan dan secara konsisten memberikan kriteria kebenaran yang jelas, sebagaimana halnya kebenaran dalam Sains. Hal lain yang juga harus ada, dan tidak boleh diabaikan dalam upaya membangun kehidupan bangsa ini adalah kesempatan bagi setiap warga negara, khususnya generasi mendatang, untuk belajar berkehidupan bangsa yang baik. Untuk itu generasi muda harus belajar berkehidupan yang berwatak demokratik dan memberikan kontribusi positif kepada kehidupan bangsa dan negara. Mempelajari dan mempraktikkan demokrasi dengan baik adalah suatu keharusan, keduanya adalah suatu kesatuan tak terpisahkan, karena hanya dengan belajar berdemokrasi

dengan baik seseorang akan dapat

mempraktikannya dengan baik pula dalam kehidupan yang sebenarnya. Untuk dapat belajar dan mempraktikkan demokrasi dengan baik harus memiliki kecerdasan, dan kecerdasan hanya dapat diperoleh lewat pendidikan. Terkait dengan pentingnya peran pendidikan di dalam pembangunan

demokrasi ini, Mangunwijaya (1999: 179-190) menyatakan:

“Demikianlah demokrasi mutlak

mengandalkan sistem

pendidikan yang memberikan prioritas pembelajaran para siswa untuk mencintai eksplorasi, kreativitas, daya pikir yang kritis; yang membina keyakinan-keyakinan pribadi yang mampu berelasi dengan fair play yang mendasar yang memberi kesempatan untuk berekspresi bebas. …… Dengan kata lain yang diperlukan adalah sistem pendidikan untuk berpikir cerdas, melihat dunia tidak naif, dalam suatu kerangka pandangan yang tidak hitam-putih fasis, dengan suatu penyelesaian soal yang sudah dipracetak untuk setiap soal. Demokrasi berarti emansipasi, yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Dengan demikian bakat-bakat pribadi dimekarkan,

dihargai

kepribadian-kepribadian kemanusiaan yang beragam warna.”

Belajar menjalankan kehidupan

berbangsa dan berlatih melaksanakannya di dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya dapat dilakukan atau dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam konteks apapun.

Akan tetapi untuk memungkinkan

terjadinya kegiatan dan proses belajar yang efektif menuntut suasana belajar yang kondusif dan secara inherit memungkinkan

dikembangkannya kaidah, strategi,

pendekatan, dan cara-cara belajar yang demokratik pula. Karena sifat-sifat bawaannya, visi dan misi yang diembannya serta sifat substansi ajarnya, pendidikan Sains memiliki potensi yang kuat untuk menjadi representasi dari sistem pendidikan demokratik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi, aksiologi dan sikap ilmiah yang akan berkembang sebagai nurturant effects dari pembelajaran Sains.

Pendidikan Sains dan

(19)

fisika dan lain-lain mengikuti suatu acuan umum yang diadopsi secara luas. Acuan umum tersebut adalah ‘pendidikan sains (harus) mencakup aspek proses dan isi atau materi ajar’ (Science Education Standard, 1986). Aspek proses bertujuan membelajarkan siswa untuk dapat berfungsi

dan menggunakan cara-cara seorang

ilmuwan (scientist) dalam upaya untuk menemukan kebenaran ilmiah. Sedangkan aspek pembelajaran isi atau bahan ajar bertujuan untuk memberikan wawasan yang luas dan pemahaman yang mendalam akan eksistensi alam semesta, sebagaimana dipahami oleh umat manusia, dengan hukum, tata-aturan dan konsistensi yang ada di dalamnya. Di dalam setiap kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), pada jenjang dan jenis pendidikan apapun di negeri ini, selalu tercantum tujuan untuk menghayati keberadaan alam semesta sebagai representasi dan upaya untuk menanamkan kesadaran pada diri anak didik akan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di dalam kedua aspek dari pendidikan Sains tersebut secara emplisit terkandung

nilai-nilai demokrasi yang oleh

Mangunwijaya (1999), sebagaimana

disebutkan di muka, harus dikembangkan pada diri peserta didik sejak masa kanak-kanak. Pendekatan ilmiah yang digunakan untuk menganalisis setiap fenomena alam agar manusia dapat sampai kepada suatu ‘kebenaran’ adalah pendekatan yang bersifat kritis, analitik, sistematik dan objektif. Kritis artinya setiap orang, termasuk siswa mempunyai hak untuk mempertanyakan atau bahkan meragukan apakah informasi yang diberikan kepadanya benar adanya, menurut kriteria kebenaran yang telah diakui. Dari keraguan ini diharapkan siswa akan mengembangkan suatu proses inkuiri untuk mencari sendiri kebenaran informasi yang terkait dengan

fenomena yang dihadapinya. Hasil

pencarian siswa ini mungkin akan bermuara pada sikap mendukung atau menolak

kebenaran informasi yang telah

diperolehnya, atau mungkin juga akan tetap pada sikap meragukan kebenaran informasi yang diperolehnya sebelum proses inkuiri tersebut. Di dalam konteks ini adalah hak siswa untuk memilih secara bebas salah

satu sikap yang dirasanya paling tepat, dan untuk melanjutkan proses inkuirinya. Jadi tidak ada yang boleh dipaksakan kepada siswa tersebut agar dia ‘tunduk’ pada keputusan tentang kebenaran yang telah dibuat oleh orang lain. Kebebasan untuk menanyakan, menganalisis dan bahkan meragukan adalah salah satu esensi demokrasi, dan tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Tradisi berfikir secara demokratik

untuk sampai kepada kebenaran

sebagaimana diuraikan di atas akan menjadi bagian dari kepribadian atau karakter siswa jadi kepribadian bangsa atau karakter bangsa di masa depan dapat dikembangkan melalui pendidikan Sains yang dijalankan dengan benar dan sesuai dengan kaidah dasarnya. Sudah barang tentu proses inkuiri yang yang dipraktikkan tersebut pada

saatnya harus sampai pada suatu

kesimpulan yang berupa pengakuan atau penolakan atas kebenaran informasi yang diperolehnya, atau yang telah disampaikan kepadanya. Walaupun tetap perlu dicatat

bahwa kebenaran yang diakui atau

ditolaknya itu sementara sifatnya. Kebenaran ilmiah pada dasarnya tidak ada yang bersifat kekal. Kebenaran ilmiah bersifat ‘janggelan’, artinya kebenaran itu diakui sebagai kebenaran selama belum ada bukti lain yang membantah kebenaran tersebut. Kaidah ini sejalan dengan kaidah falsifikasi (falsificationism), yang menolak generalisasi tanpa batas apabila didapati data yang mengingkari geralisasi tersebut walaupun cacah data tersebut tidak banyak (Chalmers, 1979: 35). Jika dikaitkan dengan praktik demokrasi dalam kehidupan

kebangsaan kaidah-kaidah di atas

mengingatkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak sifatnya dan berlaku tanpa batas. Penerapan undang-undang, peraturan

dan kebijakan-kebijakan di dalam

kehidupan kebangsaan harus pula

memperhatikan rambu-rambu tersebut. Jika memang diperlukan, demi tercapainya kehidupan demokrasi yang lebih baik, undang-undang dasar sekalipun boleh diamandemen. Inkuiri, yang dalam praktik kehidupan identik dengan mengkritisi, harus dilakukan terus menerus. Karakter terbuka dan objektif seperti ini sangat

(20)

berbangsa dan bernagara. Tidak ada satu

pihakpun yang boleh memaksakan

kebenaran jika tidak dapat diterima oleh akal sehat.

Ontologi Sains: Mengembangkan Karakter Persaingan yang Kreatif, Objektif dan Senantiasa Berkembang

Cakupan materi pelajaran Sains sebagaimana juga dengan pelajaran yang lain berkembang sangat pesat sejalan

dengan perkembangan Sains dan

Teknologi. Hasil-hasil penelitian baru bertambah dengan kecepatan yang amat tinggi. Bahkan, begitu amat tingginya produktivitas perkembangan IPTEKS ini, John Horgan (1997) mengkhawatirkan terjadinya ‘kematian Sains’ karena ilmuwan hampir-hampir tidak tahu lagi kemana dia harus pergi setelah hampir semua ranah dan

medan Sains dan Teknologi sudah

dirambah manusia. Dalam kondisi seperti ini tidaklah mungkin lembaga pendidikan

mengajarkan semua kepada peserta

didiknya. Untuk mengatasi persoalan ini Duschl (1990) di dalam bukunya yang berjudul Reconstructing Science Education menyarankan agar bukan materi Sains secara rinci yang diajarkan langsung oleh guru dan lembaga pendidikan. Sebaiknya prinsip-prinsip dasarnya sajalah yang diberikan dengan maksud agar siswa dan mahasiswa mengembangkannya sendiri. Bahkan Duschl (1990) juga mengingatkan seharusnyalah dikembangkan kesadaran bahwa produk Sains yang ada sekarang bukanlah bentuk final, tetapi akan selalau berubah dan berkembang.

Dengan pola pikir seperti di atas,

pembelajaran Sains memberikan

kesempatan yang sebesar-besarnya bahkan menantang pebelajarnya untuk menggali sendiri khasanah ilmu pengetahuan yang menjadi minat atau focus perhatiannya dan

ini akan meningkatkan kemampuan

siswa/mahasiswa untuk menjadi scholar

yang andal. Kemampuan ini pada

gilirannya akan menjadikan pebelajar seorang warga masyarakat dan warga negara yang well-informed tentang banyak hal dan trampil berfikir dan bertindak objektif selaras dengan informasi yang

dimiliki, termasuk mengantisipasi

kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di

masa depan, sekaligus siap untuk

memberikan respons yang tepat atas kemungkinan-kemungkinan baru tersebut, dan ini adalah karakter anak bangsa yang diharapkan tumbuh dan berkembang untuk meningkatkan daya saing yang makin lama makin keras di antara bangsa-bangsa.

Epistemologi Sains: Kritis, Objektif, Analitik dan Sistematik

Metode pengembangan Sains, atau yang di dalam istilah keilmuan disebut epistemology Sains, menuntut setiap orang yang menekuni Sains, termasuk siswa dan mahasiswa, dapat bersikap dan bertindak layaknya seorang ilmuwan. Di dalam

bertindak seorang ilmuwan akan

mengedepankan sikap kritis yang artinya tidak begitu saja menerima sesuatu sebagai kebenaran sebelum melakukan assessment apakah yang dihadapi benar-benar sebuah kebenaran; tidak sekedar ‘anut grubyuk’, ikut-ikutan saja dengan apa yang dikerjakan orang banyak. Misalnya jika ada demo yang ditujukan kepada pemerintah atau lembaga tertentu, seseorang yang menggunakan cara berfikir dan betindak ilmiah tidak akan begitu saja ikut melakukan demo tanpa menkaji lebih dahulu apa tujuan demo tersebut dan siapa yang menjadi sasaran demo, dan sebagainya. Contoh aktual baru saja terjadi sekitar setahun yang lalu. Konon pada hari itu diramalkan bahwa Kota Malang dan sekitarnya akan dilanda gempa bumi berkekuatan 8 skala Richter yang akan terjadi antara pukul 11 sampai 15. Banyak orang percaya akan hal tersebut, bahkan panik mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelamatkan diri. Padahal menurut ahli dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Surabaya yang disiarkan sore harinya di televisi, tidaklah mungkin meramalkan akan terjadinya gempa bumi dengan akurasi yang demikian tinggi mengenai tempat, waktu dan kekuatannya. Nyatanya sampai

sekarang dan mudah-mudahan untuk

selanjutnya tidak terjadi bencana semacam itu. Sangat disayangkan bencana tsunami Mentawai yang baru saja terjadi sebenarnya

dapat dikurangi dampak negatifnya

Gambar

Gambar 2 Daur Lesson Study yang Terorientasi
Tabel 1. Persentase kiat-kiat mahasiswa untuk mencapai prestasi yang baik
Tabel 2. Pergeseran Rata-rata Skor
Tabel 1. Analisis Varians Dua Jalur.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitan ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisa semiotika terhadap kesenian Incling Krumpyung “Langen Bekso Wiromo” di Gunung Rego, Hargorejo, Kokap, Kabupaten

Kreativitas guru penjas di SD se-Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo memiliki kemampuan yang sedang untuk memecahkan masalah yang berhubungan Tingkat kreativitas

Pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPA Kelas I. SD Negeri 1 Jati Kulon Kecamatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan penguasaan kosakata bahasa Jerman peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo yang diajar

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan scientific kelas IV di SD Negeri Jlaban, Sentolo, Kulon Progo

Dalam bab ini dijelaskan mengenai gambaran dan kondisi umum kota, dari aspek lingkup kota, profil permukiman yang ada di perkotaan Kabupaten Kulon Progo pada khususnya,

Hasil wawancara yang dilakukan dengan guru pengajar IPA di SD Negeri Ajibarang Kulon, diungkapkan ada beberapa permasalahan yang menyebabkan belum tercapainya

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan pembelajaran siswa lamban belajar (slow learner) kelas II SD N Jlaban, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon