• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISKUSI HASIL PENELITIAN 1. Pengaruh Strategi Pembelajaran

Dalam dokumen INDIKATOR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM (Halaman 51-55)

TO THINK CRITICALLY

DISKUSI HASIL PENELITIAN 1. Pengaruh Strategi Pembelajaran

c

Dari hasil uji LSD pengaruh strategi pembelajaran, terungkap adanya perbedaan rata-rata skor kemampuan berpikir siswa pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Rata-rata skor terkoreksi kemampu-an berpikir siswa ykemampu-ang tertinggi terlihat pada kelompok perlakuan dengan strategi RTM, berbeda nyata dengan rata-rata skor terko-reksi kemampuan berpikir siswa pada ke-lompok strategi pembelajaran konvensional. Secara persentase dapat diurutkan bahwa rata-rata skor terkoreksi kemampuan ber-pikir siswa pada kelompok strategi RTM sebesar 76,581 lebih tinggi 19,87% dari rata-rata kemampuan berpikir siswa pada strategi pembelajaran yang belajar dengan strategi konvensional yaitu 63,883. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa terdapat per-bedaan rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa akademik tinggi dan siswa akademik rendah. Rata-rata skor kemampuan berpikir yang paling tinggi terlihat pada siswa berkemampuan akademik tinggi yaitu 76,134 dan lebih tinggi 12,34% dari rata-rata skor terkoreksi kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik rendah yaitu 67,766.

Berdasarkan Tabel 3 skor rata-rata kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik tinggi yang belajar dengan strategi pembelajaran RTM, lebih tinggi 17,44% dari rata-rata kemampuan berpikir siswa berke-mampuan akademik rendah yang belajar dengan strategi pembelajaran RTM, dan 26,33% lebih tinggi dari rata-rata kemam-puan berpikir siswa berkemamkemam-puan akade-mik tinggi yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik rendah yang belajar dengan strategi pembe-lajaran RTM, lebih tinggi 7,56% dari rata-rata kemampuan berpikir siswa berkemam-puan akademik tinggi yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensial, dan lebih

tinggi 13,09% dari rata-rata kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik rendah yang belajar dengan strategi konven-sional.

Diketahui juga bahwa terdapat perbe-daan peningkatan kemampuan berpikir siswa setelah pembelajaran, terlihat pada kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik tinggi yang belajar dengan strategi pembelajaran RTM, yang meningkat lebih tinggi yaitu 687,528%, dibandingkan dengan skor rata-rata siswa berkemampuan akade-mik rendah yang belajar dengan strategi RTM yang meningkat 584,286%. Dalam hal ini rata-rata skor kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik tinggi meningkat lebih tinggi dari kemampuan awal diban-dingkan dengan rata-rata skor kemampuan berpikir siswa berkemampuan akademik rendah yang belajar dengan strategi RTM.

DISKUSI HASIL PENELITIAN 1. Pengaruh Strategi Pembelajaran

terhadap Kemampuan Berpikir Siswa

Berdasarkan hasil analisis data dike-tahui bahwa mean skor kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan strategi RTM lebih tinggi dibandingkan dengan mean skor kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa, sintaks pembelajaran yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Warouw (2008) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif apabila berlangsung sesuai tujuan pembelajaran dan sintak kegiatan pembe-lajaran yang telah direncanakan oleh guru.

Persentase mean skor kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan strategi RTM lebih tinggi 16,58% dari mean skor keterampilan berpikir kritis siswa pada kelompok strategi pembelajaran konvensional (kelas kontrol). Tingginya skor

rata-rata kemampuan berpikir siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran RTM merupakan implikasi dari sintaks pembela-jaran yang telah dikembangkan sebelumnya. Hasil analisis data juga memperlihatkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada akhir pembelajaran dibandingkan dengan awal pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Brown (1993) yang juga membuktikan bahwa strategi reciprocal teaching dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keaktifan siswa. Temuan penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Ninuk (2007), Zubaidah (2007), dan Iyan (2008). Penelitian-pene-litian yang dilakukan sebelumnya ini telah membuktikan bahwa penerapan strategi pembelajaran RT terbukti dapat meningkat-kan pemahaman siswa maupun kemampuan berpikir kritis siswa. Keunggulan strategi RT + metakognitif adalah penekanannya pada aktivitas membaca dan menemukan informasi-informasi penting yang terdapat di dalam teks.

Temuan penelitian ini juga meng-ungkapkan bahwa strategi pembelajaran RTM, efektif dan memiliki potensi member-dayakan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor kemampuan ber-pikir kritis pada siswa berkemampuan aka-demik tinggi dan akaaka-demik rendah. Rata-rata skor terkoreksi kemampuan berpikir kritis siswa berkemampuan akademik tinggi lebih tinggi 12,34% dari rata-rata skor terkoreksi kemampuan berpikir kritis siswa berkemampuan rendah. Kemampuan ber-pikir kritis awal pada siswa berkemampuan akademik tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan berpikir kritis awal pada siswa berkemampuan akademik rendah.

Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa kemampuan akademik mempenga-ruhi kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian lain yang sejalan dengan temuan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Winarni (2006), Tindangen (2006), yang melalui hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa siswa berkemampuan akademik berbeda jika diberikan perlakuan dengan strategi pembelajaran yang sama akan menunjukkan hasil belajar yang berbeda pula. Lebih lanjut dijelaskan oleh Susantini (2004), bahwa kemampuan ber-pikir pada siswa berkemampuan akademik

tinggi lebih tinggi (atas) dibandingkan dengan pada siswa berkemampuan akade-mik rendah (bawah). Sejalan dengan itu Presseisen dalam Costa, dkk (1985) menya-takan bahwa berpikir dasar yang dimiliki siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mengembangkan kemampuan ber-pikir kritisnya. Dengan demikian dapat di-simpulkan siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi juga memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi pula.

Pengajaran timbal balik (reciprocal teaching) adalah strategi yang dapat membantu siswa dalam berpikir dan memahami tentang sebelum, pada saat dan setelah membaca teks (Doolittle, dkk., 2006).

2. Keunggulan dan Keefektifan Strategi Pembelajaran RTM sebagai Temuan Penelitian

Pengembangan strategi pembelajaran dilakukan dengan menginfusi strategi meta-kognitif ke dalam strategi pembelajaran Reciprocal teaching. Brown (1992) mem-buktikan bahwa strategi reciprocal teaching dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keaktifan siswa. Atas dasar itu, maka sudah semestinya dikembangkan stra-tegi pembelajaran yang efektif meningkat-kan kemampuan berpikir kritis siswa. Infusi strategi metakognitif ke dalam strategi pem-belajaran yang berorientasi pengembangan kognitif, diyakini dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Self assessing sebagai bagian dari strategi metakognitif, dilakukan dengan prinsip siswa dilatih untuk melakukan eva-luasi terhadap konsep-konsep yang telah diketahui, yang belum diketahui selama pembelajaran, dan bagaimana mengembang-kan pengetahuan yang telah diketahui. Kegiatan ini dilaksanakan pada bagian akhir pembelajaran, dan siswa diwajibkan menu-liskan self assessing pada LKS yang disedia-kan guru. Dengan strategi self assessing, siswa dilatih untuk mengontrol proses kognitifnya secara berkesinambungan dan permanen sehingga menjadikan dirinya sebagai pebelajar yang mandiri, karena siswa dilatih untuk mengontrol proses-proses berpikir selama pembelajaran.

Keunggulan strategi RTM adalah pe-nekanannya pada aktivitas membaca dan menemukan informasi-informasi penting

yang terdapat di dalam teks. Pengembangan strategi RT + metakognitif merupakan upaya mengintegrasikan strategi pembelajaran me-takognitif secara sengaja dalam strategi pembelajaran untuk memberdayakan ke-mampuan berpikir kritis siswa. Langkah-langkah pembelajaran RTM menunjukkan bahwa kegiatan awal siswa pada strategi ini adalah membaca bahan bacaan yang diberikan oleh guru dan memikirkan rencana pertanyaan berdasarkan materi pembelajar-an. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan siswa lainnya dan mengklarifikasi jawaban-jawaban yang belum jelas dengan menjadi tutor sebaya bagi siswa yang belum memahami materi pembelajaran. Setelah itu, siswa merangkum hasil dikusi secara individu serta mempre-diksi materi yang akan dipelajari berikutnya. Palincsar dan Klenk (1991) menjelaskan melalui aktivitas memprediksi ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis dalam meng-ambil keputusan, dimana pengetahuan siswa akan menjadi sangat bermakna bila penge-tahuan yang telah dibentuk diaplikasikan pada berbagai situasi yang dihadapinya. Sementara itu, setelah memprediksi siswa dapat memantau strategi dan waktu yang telah digunakan untuk menyusun pertanyaan dan jawaban serta melakukan evaluasi apakah strategi dan waktu yang digunakan untuk menyusun pertanyaan dan jawaban telah sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Langkah pembelajaran ini merupakan

bagian dari kegiatan siswa dalam melakukan klarifikasi. Orlick, dkk., (1998) menjelaskan bahwa kegiatan mengklarifikasi jawaban atau mereview dapat memberikan informasi tentang kinerja dan kemampuan berpikir kritis siswa, apabila dari hasil prediksi menunjukkan jawaban siswa hanya sebagian saja yang benar, maka siswa akan mencoba merevisi kembali pemahamannya dengan berbagai cara, seperti berdiskusi dan membaca sumber-sumber yang relevan. Untuk memperoleh jawaban melalui diskusi maka siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan topik yang terdapat dalam bahan bacaan. Melalui kegiatan ini siswa akan saling bertukar informasi terkait dengan hasil eksplorasi bahan bacaan.

Pengintegrasian strategi metakognitif pada strategi pembelajaran RT dapat memberikan tambahan aktivitas yang dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sintaks pembelajaran RTM yang telah dijelaskan di atas, terlihat bahwa langkah-langkah pembelajaran yang harus diikuti oleh siswa dan guru dalam pembelajaran merupakan langkah-langkah yang dapat memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini sesuai dengan Marzano (1988) yang menjelaskan bahwa komponen berpikir kritis yang perlu dilatih adalah: 1) melakukan induksi, 2) memberi-kan argumen, 3) melakumemberi-kan evaluasi, dan 4) memutuskan dan melaksanakan. Faisal

(1997, dalam Marzuki, 2005) juga

menjelaskan bahwa kegiatan menyusun atau mengajukan pertanyaan merupakan salah satu proses berpikir kritis siswa untuk menemukan dan menggali informasi, karena siswa mempunyai rasa ingin tahu yang besar dalam memperoleh berbagai informasi. Kemampuan berpikir kritis siswa akan mengalami peningkatan seiring dengan strategi pembelajaran yang digunakan, oleh

karena itu pembelajaran harus

memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa (Ibrahim, dan Nur, 2000).

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Strategi RTM berpengaruh meningkat-kan kemampuan berpikir siswa berke-mampuan akademik tinggi maupun aka-demik rendah.

2) Strategi pembelajaran RTM dapat dite-rapkan dalam pembelajaran Sains Biologi untuk mengembangkan kemam-puan berpikir siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Corebima, A.D. 2005. Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) pada Pembelajaran Bagi Para Guru dan Mahasiswa Sains Biologi dalam Rangka RUKK VA. 25 Juni.

Brown, A. L., & Walton, M.I. 1993. Problem Posing:Reflection and Aplication. New Jersey: Lwarences Elbow Association Ltd.

Costa, L.A, 1985 Developing Minds, A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD).

Depdiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas.

Doolittle, P. E., Hicks. D., Triplett, C. F., Nichols, W. D., Young, C. A. 2006. Reciprocal Teaching for Reading Comprehension in Higher Education: A Strategy for Fostering the Deeper Understanding of Texts. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, Volume 17, Number 2, 106-118 ISSN 1812-9129. http://www.isetl.org/ijtlhe/pdf/IJTLHE1. Diakses 5-4-2008

Geremek, B. 1996. Education For the Twenty-First Century. Paris Inter-Conference on Education, Science, Culture and Commucation on the Eve of the 21st Century (Report 1) 21 May 1996.

Hart, D. 1994. Authentic Assessment A Handbook for Educators. New York: Addison-Wesley Publishing Company.

Ibrahim, M., Rachmadiarti, F., Nur, M, dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif, edisi 1. Surabaya: Unesa University Press.

Iyan, H. 2008. Meningkatkan Membaca Pemahaman Siswa Melalui Strategi Pengajaran Timbal Balik Pada Siswa Tahun Kedua MTs Negeri Pasir Sukarayat Rangkasbitung. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Program Pascasarjana. Tesis Tidak diterbitkan Malang: PPs Universitas Negeri Malang.

Kemp, J.E., Morrison, G.R., dan Ross, S.M. 1994. Designing Effective Instruction. New York: MacMilan College Publishing Company. Livingston, J.A. 1997. Metacognition: An Overview State Univ. Of New York at Buffalo, (Online),

http://www.gse.buffalo.edu/fas/shuell/cep564/me tacog.htm. Diakses 18 Desember 2007

Marzano, R. J., Brandt, R. S., & Ges, C. S. 1988. Dimension of Thinking A Framework For Currículo and Instruction. Alexandra, Virginia: Assosiation For Supervisoons and Curriculum Development (ASCD).

Marzuki M. R. E. 2005. Implementation of Reciprocal Teaching Strategy in Jigsaw Model in order to Improve Competence and Response of Students on the Learning of Concept of Human Reproduction System in Grade II of SMAN 10 Malang. Thesis. Not Publicized. Post Graduate Program. Malang State University.

Ninuk I. 2005. The Implementation of Reciprocal Teaching Method for The Teaching of ESP at the Biology Departement of the State University of Malang. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Tesis. Tidak Diterbitkan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Orlich, D.C., Harder, R.J., Callahan, R.C., Gibson, H.W. 1998. Teaching Strategies.: A

Guide to Better Instruction. New York: Houghton Mifflin Company.

Palincsar, A. S., & Klenk, L. 1991. Dialogues Promoting Reading Comprehension. In B. Means, C. Chelemer, & M. S. Knapp (Eds), Teaching Advanced Skill to At-Risk Students (pp.112-140) San Francisco: Jossey-Bass. Proulx, G. 2004. , Integrating Scientific Method & Critical Thinking in Classroom Debates On Environmental Issues. The American Biology Teacher, Volume 66 No 1.

Slavin, S.E. 2000.Educational Psychology, Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon Publishers.

Suriasumantri, J. S. 2005. Filsafat ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar harapan.

Susantini, 2004. Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran Genetika di SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 12(1):62-73. Tim Broad Based Education (BBE). 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) Melalui Pendekatan Broad Based Education (BBE). Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Tindangen, M. 2006. Implementasi Pembelajaran Kontektual Peta Konsep Biologi SMP pada Siswa Berkemampuan Awal Berbeda di Kota Malang dan Pengaruhnya terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dan Hasil Belajar kognitif. Disertasi Tidak di Terbitkan. Malang: Program Pascasarjana UM.Warouw, Z.W.M. 2008a. Sintaks, Strategi Metakognitif dengan Reciprocal Teaching pada Pembelajaran Biologi. Bioedukasi: Jurnal Biologi dan Pembelajaran 6 (2): 179-185.

Warouw, Z.W.M. 2008. Sintaks, Strategi Metakognitif dengan Reciprocal Teaching pada Pembelajaran Biologi. Bioedukasi: Jurnal Biologi dan Pembelajaran 6 (2): 179-185. Wiersma, W. 1995. Reseach Methods In Education. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Winarni, E. W. 2006. Pengaruh Strategi Pembelajaran Terhadap Pemahaman Konsep IPA-Biologi, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Sikap Ilmiah Siswa Kelas V SD dengan Tingkat Kemampuan Akademik Berbeda di Kota Bengkulu. Disertasi Tidak Dipublikasikan. Malang: PPs Universitas Negeri Malang.

Dalam dokumen INDIKATOR DAN TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM (Halaman 51-55)

Dokumen terkait