• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN PUPUK BIO DAN PUPUK ALAM UNT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN PUPUK BIO DAN PUPUK ALAM UNT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN PUPUK BIO DAN PUPUK ALAM UNTUK

MENDUKUNG BUDIDAYA ORGANIK PADA TANAMAN

LADA DAN PANILI

Agus Ruhnayat

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Bakteri penambat nitrogen seperti bak-teri Azotobacter dan mikroba pelarut fosfat seperti Bacillus subtilis merupakan pupuk bio sudah banyak diteliti dan dimanfaatkan diba-nyak negara namun masih terbatas untuk me-ningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Penelitian pemanfaatan pupuk bio dan pupuk alam serta kegiatan penunjangnya pada tanaman rempah baru dimulai pada tahun 90-an. Hasil penelitian pada tanaman lada dan panili menunjukkan hasil yang positif. Pem-berian bakteri Azotobacter yang dengan pem-berian bahan organik seperti serasah daun glirisidia dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lada perdu dan panili. Pupuk lainnya yang berasal dari alam seperti fosfat alam, guano kelelawar, bahan organik (serasah daun bambu) yang banyak tersedia di Indonesia juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman lada dan panili. Pupuk bio dan pupuk alam tersebut dapat digunakan untuk menggantikan pupuk buatan apabila lada dan panili akan dibudi-dayakan secara organik.

Kata kunci : Pupuk bio, pupuk alam, budidaya organik, lada, panili

PENDAHULUAN

Sampai saat ini masalah kerusak-an lingkungkerusak-an akibat pembkerusak-angunkerusak-an ekonomi selalu menjadi bahan perde-batan. Sebagian masyarakat berpen-dapat bahwa makin meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka ling-kungan hidup cenderung semakin rusak. Hal tersebut terjadi karena eksploitasi terhadap sumber daya alam

yang tidak terkendali dan buangan limbah yang meningkat. Untuk meng-antisipasi hal tersebut maka pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Isi dari PP tersebut pada pokoknya mengatur bah-wa kegiatan pembangunan ekonomi yang berisiko menimbulkan kerusakan

lingkungan diharuskan membuat

laporan AMDAL.

(2)

yang dikonsumsi oleh masyarakat ne-gara maju. Keadaan ini dapat meng-akibatkan negara berkembang, seperti Indonesia akan sulit untuk menjual produk yang tidak ramah lingkungan di pasar internasional. Indonesia merupa-kan salah satu negara pengekspor hasil-hasil pertanian diantaranya adalah komoditas lada dan panili. Mengacu kepada perubahan perilaku konsumen di negara maju yang sebagian besar menjadi tujuan ekspor komoditas per-tanian Indonesia, maka perlu segera diupayakan alternatif pengembangan kedua komoditas tersebut sebagai pe-lengkap pengembangan yang telah ada. Salah satu altenatif tersebut adalah dengan cara budidaya organik. Kompo-nen teknologi untuk mendukung upaya tersebut sebagian telah diperoleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aro-matik (dahulu Balai Penelitian Tanam-an Rempah dTanam-an Obat) Tanam-antara lain adalah pemanfaatan pupuk bio (biofertilizer) dan pupuk alam untuk meningkatkan produktivitas tanaman serta agensia hayati untuk pengen-daliaan penyakit.

BUDIDAYA ORGANIK

Sejak dicetuskannya konsepsi tentang pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) pada tahun 1987 oleh World Commision on Envi-ronment and Development (WCED) mendorong sektor pertanian untuk melaksanakan sistem pertanian yang ramah lingkungan hal tersebut ditandai dengan berkembangnya sistem pertani-an orgpertani-anik. Definisi pertpertani-anipertani-an/budidaya organik secara umum adalah cara

budidaya yang hanya menggunakan masukan organik, bahan kimia sintetik seperti pestisida, pupuk kimia sintetik dan bahan kimia lainnya yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia tidak boleh digunakan (Jones dan Doolan, 1998). Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama ba-han pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat seperti itu telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jami-nan bahwa produk pertanian harus ber-atribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah ling-kungan (eco-labelling attributes). Ada-nya preferensi konsumen inilah yang menyebabkan perdagangan produk per-tanian organik di dunia mencapai pang-sa 20 % dengan permintaan terus me-ningkat sebesar 20 % per tahun. Oleh karena itu trend pada abad 21 adalah penyediaan pangan yang diproduksi dengan menghindari penggunaan pes-tisida dan pupuk kimia sintetis, ter-masuk zat pengatur tumbuh.

(3)

Eropah, Amerika dan Jepang (Jones dan Doolan, 1998). Harga produk organik ini bisa mencapai 2 - 8 kali lipat harga produk non organik seperti lada hitam organik di pasar inter-nasional pada saat ini dijual dengan harga US $. 15,1 per kg (www. healthybuyersclub.com, 2007) dan panili organik US $ 63,25 - 70,00 per pound, (www.amadeusvanillabeans. com/store/organic, 2007). Keunggulan lain produk organik ini adalah dapat masuk juga ke pasar non organik. Walaupun produk organik dari bebe-rapa jenis komoditas rempah di pasar internasional telah ada namun saingan-nya belum begitu basaingan-nyak. Hal tersebut merupakan peluang untuk Indonesia untuk mengisi pangsa pasar tersebut. Hal tersebut didukung pula telah mulai bermunculan eksportir-ekportir di da-lam negeri yang khusus menampung produk organik.

Selain lada dan panili, komoditas dari kelompok tanaman rempah yang mempunyai prospek untuk dibudida-yakan secara organik antara lain adalah kapolaga, kayumanis dan pala, dari ke-lompok tanaman industri antara lain melinjo, makadamia dan jambu mete, sedangkan dari kelompok tanaman obat adalah jahe dan kunyit.

KEBUTUHAN HARA TANAMAN LADA DAN PANILI

Secara umum ada 16 unsur hara yang diakui sebagai unsur hara, se-dangkan dari segi pemupukan paling tidak terdapat 12 unsur hara yang penting bagi tanaman. Ke-12 unsur hara tersebut terbagi kedalam dua

ke-lompok yaitu unsur hara makro yang berjumlah enam unsur hara dan unsur hara mikro yang berjumlah tujuh unsur hara. Pada dasarnya unsur-unsur hara tersebut di dalam tanah terdapat dalam bentuk tersedia dan tidak tersedia bagi tanaman. Jika unsur hara tidak tersedia bagi tanaman maka pemupukan perlu dilakukan. Dosis pupuk yang harus diberikan tergantung kepada faktor tanah dan tanamannya. Oleh karena itu kebutuhan unsur hara untuk setiap jenis atau varietas tanaman akan berbeda. Dibawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai kebutuhan hara tanaman lada dan panili.

Lada

Secara umum tanaman lada un-tuk tumbuh dan berproduksi secara baik membutuhkan unsur hara relatif banyak. de Waard (1969) bahkan me-ngatakan bahwa lada merupakan ta0-naman yang rakus unsur hara. Untuk menghasilkan 1 kg buah lada hitam dibutuhkan 32 g N, 5 g P2O5, 28 g K2O, 8 g CaO dan 3 g MgO (de Waard, 1964). Pada tanaman lada varietas Ku-ching yang pertumbuhannya dan pro-duktivitasnya baik kandungan hara di-daunnya adalah 3,10 – 3,40 % N, 0,16

(4)

diusahakan yang produktivitasnya se-latif sedikit. Tegakan yang digunakan sebaiknya dari pohon hidup jenis le-guminosa yang dapat menyuburkan tanah seperti lamtoro dan glirisidia. Hal ini akan membantu mengurangi upaya pemupukan terutama hara N.

Panili

Seperti halnya tanaman lainnya panili untuk tumbuh dan berproduksi secara baik memerlukan unsur hara. Pemupukan pada tanaman panili saat ini masih terbatas pada pemakaian pu-puk organik seperti pupu-puk kandang. Pemberian pupuk kandang sebanyak 30 kg/pohon/tahun dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi panili (Yufdy, 1995). Ditingkat petani pem-berian pupuk jumlah besar seperti urea, TSP dan KCl jarang sekali dilakukan karena dianggap kebutuhan hara ta-naman panili hanya sedikit.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa ta-naman panili cukup tanggap terhadap pemberian pupuk NPK yang diberikan secara merata (Ruhnayat dan Rosman, 1993). Untuk memperoleh pertumbuh-an tpertumbuh-anampertumbuh-an ppertumbuh-anili ypertumbuh-ang baik dibutuh-kan unsur-unsur hara rata-rata sebesar 272,3 mg NO3/l, 50,3 mg PO4/l, sedangkan kebutuhan unsur hara K belum diketahui karena hubungannya masih linier (Ruhnayat, 2007a). Jumlah unsur hara yang terserap dalam 100 g bahan kering panili terlihat pada Tabel 1.

POTENSI BEBERAPA PUPUK BIO DAN PUPUK ALAM SEBAGAI SUMBER HARA

TANAMAN

Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa kebutuhan unsur hara tanaman lada dan panili relatif cukup besar. Un-tuk tujuan budidaya organik perlu di-cari sumber pupuk yang ramah ling-kungan namun tanaman tetap dapat berproduksi secara optimal diantaranya

Tabel 1. Kadar hara pada 100 g bahan kering tanaman panili

(5)

adalah pupuk bio dan pupuk alam. Pupuk bio yang dimaksud adalah mikroba-mikroba yang dapat menyu-burkan tanah. Sedangkan yang di-maksud dengan pupuk alam adalah pupuk yang langsung didapat dari alam.

Sudah sejak lama pupuk bio dan pupuk alam digunakan untuk mining-katkan produktivitas tanaman. Namun karena unsur hara yang dapat dise-diakan relatif sedikit, maka sejak tahun enam puluhan penggunaannya mulai dikurangi bahkan ditinggalkan dan perannya digantikan dengan pupuk buatan (anorganik) yang mampu me-nyediakan unsur hara dalam jumlah dan jenis yang lebih banyak. Masa ter-sebut dikenal dengan Revolusi Hijau (green revolution). Pada masa revolusi hijau produksi pertanian dapat diting-katkan (terutama produksi pangan di negara ketiga) secara mencolok (Brush, 1987; Greenland, 1987). Peningkatan produksi akibat revolusi hijau ternyata tidak dapat berlangsung lama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanpa pupuk alam terutama bahan organik sistem pertanian akan bersifat rapuh (fragile), mudah terguncang hanya de-ngan perubahan lingkude-ngan yang kecil saja (Bergeret, 1987). Selain itu pema-kaian pupuk buatan memerlukan energi yang relatif besar dan dapat menimbul-kan dampak negatif terhadap lingkung-an, antara lain meningkatnya kandung-an hara diperairkandung-an (eutrofikasi) dan air tanah. Pemakaian pupuk N yang ber-lebih selain menaikan kandungan nitrat dalam air tanah juga dapat meningkat-kan efek rumah kaca di atmosfir dan

merusak lapisan azon di stratosfir seba-gai akibat meningkatnya konsentrasi gas NO2 di atmosfir. Gas NO2 merupa-kan produk sampingan dari proses denitrifikasi (kehilangan N dalam ben-tuk gas) (Condrad, 1990; Simarmata et al., 1993).

Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah Indonesia yaitu pertanian yang berwawasan lingkungan, efisiensi penggunaan energi dan isue Back To Nature (kembali ke alam) serta go organic 2010, maka pemanfaatan bio-teknologi tanah (pemanfaatan jasa mik-roba tanah dan teknologi pupuk alam) untuk meningkatkan produksi tanaman rempah umumnya dan khususnya ta-naman lada dan panili serta memper-tahankan produktivitas lahan merupa-kan suatu alternatif yang perlu diteliti dan dikaji secara seksama.

Indonesia sebagai negara tropis kaya akan sumber-sumber pupuk alam dan jenis mikroba tanah yang berman-faat. Beberapa mikroba tanah yang ber-manfaat antara lain adalah dari kelom-pok penfiksasi (penambat) N yaitu Rhizobium, Azotobacter dan seba-gainya, dari kelompok penyedia unsur hara P secara tidak langsung yaitu Mikoriza, pelarut P dan lainnya. Se-dangkan sumber pupuk alam yang cukup potensial antara lain adalah sisa-sisa tanaman, hewan dan pupuk P alam (rock phosphate).

(6)

ter-utama disebabkan oleh kegiatan mik-roorganisme tanah yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan nitro-gen bebas dari udara dalam proses pembentukan sel-sel jaringan tubuhnya. Hal tersebut disebabkan karena jenis mikroba ini mempunyai enzim nitro-genase yang berfungsi untuk mengikat N2 dari udara, baik secara simbiotik maupun non simbiotik. Fiksasi nitrogen secara simbiotik dilakukan oleh mik-roba-mikroba yang umumnya hidup pada perakaran tanaman kacang-ka-cangan (leguminosa), sedangkan secara non simbiotik dilakukan oleh mikroba-mikroba yang hidup bebas di dalam tanah, salah satu yang terpenting adalah bakteri Azotobacter sp. Mikroba dari jenis non simbiotik adalah yang paling sesuai dimanfaatkan pada lada dan panili karena bukan merupakan jenis leguminosa.

Bakteri Azotobacter pertama kali ditemukan oleh Beijerinck tahun 1901, merupakan genus dari famili Azotobac-tericeae, tersebar luas di alam, bersifat aerobik heterotrof (memerlukan O2 dan

karbohidat) dan ditemukan pada pH tanah 4,5 – 9,0. Beberapa species yang banyak dikenal adalah Azotobacter chroococum, A. beijerinckii, A. vine-landii dan A. paspali. A. chroococum lebih tersebar luas diberbagai jenis tanah dibandingkan dengan species lainnya. Para ahli sependapat bahwa sumbangan mikroorganisme fikasai N non simbiotik masih rendah apabila di-bandingkan dengan yang non simbi-otik. Hal tersebut antara lain disebab-kan oleh beberapa faktor yaitu : a). populasi mikroba ini di dalam tanah

umumnya sedikit (103 - 104 per g ta-nah), b). efisiensi fiksasi rendah, c). sumber karbon dan energi di dalam tanah sedikit, dan d). adanya mikroba tanah lainnya sebagai saingan. Menurut Mengel dan Kirby (1982) rata-rata N yang dapat difiksasi sekitar 5 – 10 kg N/ha, untuk daerah tropis jauh lebih besar yaitu sekitar 60 – 90 kg N/ha. Sedangkan menurut Sarief (1983) rata-rata fiksasi N oleh bakteri Azotobacter sebesar 28,8 kg N/ha atau setara de-ngan perombakan N sebanyak 45,46 kg yang berasal dari amonium sulfat. Se-cara umum kemampuan Azotobacter untuk menfiksasi N (efisiensi fiksasi) sekitar 10 – 20 mg N/karbohidrat (Arief, 1980). Kemampuan menfiksasi N oleh Azotobacter ini dapat ditingkat-kan antara lain dengan cara mengopti-malkan lingkungan tumbuhnya (Shaev et al., 1991; Kennedy dan Tchan, 1982; Bohlool et al., 1992). Populasi Azoto-bacter di dalam tanah umumnya se-dikit. Menurut Rao (1982) populasi A. chroococum di dalam tanah jarang yang melampaui 105 sel per g tanah. Pada tanah latosol populasi A. chrooco-cum ini berkisar antara 101– 102 per g tanah (Ruhnayat, 1987). Sedangkan menurut Ayanaba (1977) untuk men-fiksasi 2,5 g N/ha dibutuhkan Azoto-bacter sebanyak 107 sel/g tanah. Upaya inokulasi mikroba ini kedalam tanah dan optimalisasi lingkungan tumbuh-nya sangat diperlukan untuk mening-katkan populasinya.

(7)

po-pulasi Azotobacter di dalam tanah. Sedangkan hasil-hasil penelitian di manca negara pada berbagai tanaman menunjukkan bahwa inokulasi Azoto-bacter kedalam tanah dapat mening-katkan hasil sekitar 15 – 60 % (Hamdi, 1982; Rao, 1982) dan dapat mengu-rangi pupuk buatan sampai 30 % (Ayanaba, 1977). Inokulasi Azotobac-ter akan lebih meningkatkan hasil ta-naman apabila dibarengi dengan pem-berian bahan organik seperti terlihat pada Tabel 2 (Mishustin, 1970). Selain dapat menyediakan hara N mikroba ini mampu menghasilkan zat tumbuh se-perti GA dan IAA sehingga dapat me-ningkatkan germinasi tanaman (Rao, 1982). Sedangkan hasil penelitian Laksmikumari (1972) dalam Rao (1982) dan Singh (1977) dalam Rao (1982) menunjukkan bahwa Azoto-bacter dapat pula menekan beberapa patogen tanah, karena dapat menghasil-kan eter yang dapat melarutmenghasil-kan mik-roba yang bersifat fungisitik.

Dengan demikian diharapkan de-ngan penggunaan Azotobacter selain dapat menyediakan unsur hara ter-utama N dan juga dapat menghindari penggunaan pestisida kimiawi yang merupakan syarat mutlak pada budi-daya organik.

Di dalam tanah terdapat pula mikroba lainnya yang secara tidak langsung dapat menyuburkan tanah di-antaranya adalah mikroba pelarut P. Mikroba pelarut P ini di dalam tanah ada dua kelompok yaitu dari kelompok bakteri dan jamur. Pelarut P dari ke-lompok bakteri antara lain adalah Pseu-domonas dan Bacillus, sedangkan dari kelompok fungi adalah Aspergillus dan Penicilium (Alexander, 1977). Mikro-ba-mikrba tersebut dapat tumbuh pada fosfat tak larut (insoluble phosphate) seperti tricalcium, ferric, aluminium, magnesium phosphate dan dapat meru-bah P-alam dan tepung tulang menjadi bentuk yang dapat larut.

Tabel 2. Pengaruh inokulasi Azotobacter dan pupuk kandang terhadap hasil beberapa tanaman

Tanaman Jenis pupuk Hasil tanaman

tanpa inokulasi (ton/ha)

Peningkatan hasil dengan inokulasi

(%) Jagung

Kentang

Kubis

Tomat

Pupuk kandang Pupuk mineral

Pupuk kandang Pupuk mineral

Pupuk kandang

Pupuk kandang

5,47 5,50

17,00 10,90

23,93

15,80

33,40 12,70

25,30 12,80

19,00

(8)

Peranan mikroba pelarut P telah lama diteliti (Geretsen, 1948; Sen dan Paul, 1957). Hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa inokulasi mikroba pelarut P (Bacillus cereus) dapat meningkatkan serapan P dan bo-bot kering tanaman Lolium multiflorum masing-masing sebesar 40 % dan 50 % (Fernandez et al., 1985). Untuk keper-luan budidaya organik pemilihan sum-ber P alam yang tidak mencemari ling-kungan sangat diperlukan.

Sumber hara lainnya yang ber-asal dari alam yang cukup potensial adalah bahan organik sisa-sisa jaringan tanaman seperti hasil pangkasan pohon panjat/penaung dan penutup dan sisa hasil panen. Komposisi kimia hasil pangkasan pohon panjat/penaung se-perti lamtoro dan glirisidia cukup leng-kap (Smith dan Houter, 1987 dalam Mathius, 1992). Hasil penelitian Wong dan Paulus (1993) menunjukkan bahwa unsur hara yang terkandung dalam ba-han kering glirisidia adalah 2,27 % N, 0,182 % P, 1,79 % K, 1,46 % Ca, 0,33 % Mg dan pada lamtoro adalah 2,60 % N, 0,184 % P, 1,82 % K, 1,42 % Ca dan 0,29 % Mg. Selain kandungan ha-ranya relatif cukup tinggi daun gliri-sidia dan lamtoro ini bisa langsung di-berikan kedalam tanah tanpa melalui pengomposan terlebih dahulu karena C/N rationya kurang dari 15 (Pujianto, 1994). Sumber hara lainya yang cukup potensial terutama sebagai sumber hara K adalah abu sekam padi, abu janjang kelapa sawit, abu sabut kelapa, ampas nilam, limbah kulit biji atau buah me-linjo, lada, pala dan jambu mete (Ruhnayat, 1995).

HASIL PENELITIAN PEMANFAATAN PUPUK BIO

DAN PUPUK ALAM PADA TANAMAN LADA DAN PANILI

Penelitian pemanfaatan pupuk bio dan pupuk alam serta kegiatan penunjangnya pada tanaman lada dan panili baru dimulai pada tahun 90-an itupun masih terbatas pada parameter pertumbuhan. Beberepa hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

Lada perdu

Hasil penelitian di rumah atap paranet menunjukkan bahwa terjadi interaksi yang nyata antara bakteri A. chroococcum, guano kelawar dan kom-pos daun glirisidia terhadap peningkat-an tinggi tpeningkat-anampeningkat-an, jumlah cabpeningkat-ang dpeningkat-an jumlah daun lada perdu (Ruhnayat, 2007b). Pemberian perlakuan A. chroococcum sebanyak 20 ml/tanaman ditambah dengan guano kelelawar sebanyak 15 g/tanaman dan kompos daun gamal sebanyak 0,5 kg/tanaman dapat meningkatkan tinggi tanaman sebesar 70,83 %, jumlah cabang sebesar 153,20 % dan jumlah daun 92,26 % dibandingkan dengan kontrol. Pemberian Azotobacter, guano kele-lawar dan kompos daun glirisidia dapat digunakan sebagai pengganti pupuk anorganik untuk meningkatkan pertum-buhan tanaman lada perdu yang akan dibudidayakan secara organik.

(9)

perdu terbaik dan tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan pemberian pupuk buatan NPKMg (12:12:17:2) sebanyak 150 g (Ruhnayat, 1999a). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberi-an mikroba bakteri Azotobacter, pelarut P dan fosfat alam dapat dijadikan sumber hara N dan P pada budidaya organik lada perdu.

Panili

Pemberian pupuk bio Azoto-bacter sebanyak 100 ml/tanaman (ke-padatan 1.5 x 1011 sel azotobacter/ml) dan 200 g bahan organik berupa daun glirisidia kering dapat meningkatkan panjang sulur dan jumlah daun panili umur 1 tahun masing-masing sebesar 148,2 % dan 105,7 % (Ruhnayat, 1999b). Bahan organik disamping se-bagai sumber nutrisi dan memperbaik sifat fisik tanah dapat pula berfungsi sebagai salah satu komponen penting dalam pengendali patogen tanah secara terpadu untuk memperbaik kesehatan tanaman (Singh, l971). Bahan organik dapat meningkatkan aktivitas mikroba antagonis, menghasilkan toksin selama proses dekomposisi yang dapat menye-babkan terjadi lisis pada patogen (Lin-derman dan Gilbert, 1975; Ueda et al., l990). Dengan demikian diharapkan pemberian bahan organik akan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia pada budidaya organik. Bahan organik lain yang cukup potensial untuk digunakan sebagai sumber pupuk pada tanaman panili adalah serasah daun bambu yang pada umumnya cukup banyak tersedia di sentra-sentra pengembangan panili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian

sera-sah daun bambu sebanyak 250 g/pohon + 5 ml/l air BIO-TRIBA dapat mening-katkan pertumbuhan tanaman panili (Ruhnayat, 2006). Hasil penelitian ter-sebut juga menunjukkan bahwa peng-aruh serasah daun bambu sama baiknya dengan pupuk kandang terhadap perumbuhan tanaman panili. Dengan demikian serasah daun bambu dapat digunakan sebagai pengganti pupuk kandang yang relatif mahal.

Pemberian mikroba lainnya se-perti mikoriza (membantu penyerapan hara P) juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman panili (Trisila-wati dan Zaubin, 2002: Trisila(Trisila-wati dan Firman, 2004). Selain itu telah diper-oleh pula pupuk organik cair dari tum-buhan dan hewan (guano kelelawar dan tepung ikan), dengan kandungan unsur hara yang cukup tinggi dan lengkap (Ruhnayat et al., 2002). Pupuk organik cair tersebut dapat diaplikasikan pada tanaman panili dalam bentuk pupuk daun. Pemberian pupuk pada tanaman panili akan lebih efektif apabila selain diberikan melalui tanah juga melalui daun (Azmi dan Ruhnayat, 2000; Ruhnayat, 2001).

KESIMPULAN DAN SARAN

Pupuk bio seperti dari kelompok penambat N (bakteri Azotobacter) dan dari kelompok pelarut P (Bacillus) serta pupuk alam (daun gilisidia, serasah daun bambu dan guano kelelawar) da-pat digunakan sebagai pupuk alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan lada dan panili organik

(10)

bio dan pupuk alam terhadap produksi lada dan panili.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M., 1977. Introduction to soil microbiology. John Wiley and Sons Inc. New York. 467 p.

Arief, D.H., 1980. Sumbangan mikro-organisme non simbiotik terhadap pertanian. Bahan seminar Bagian Produksi Tanaman Fak. Pertanian Unpad Bandung. 12 hal.

Ayanaba, A., 1977. Biological nitrogen fixation in farming systems of tropic. John Wiley & Sons. New York.

Bergeret, A., 1987. Sistem produksi menurut pendekatan ekologis. P. 44

– 84. In; J Metzner and N. Dal-djoeni (Eds.) Ekofarming, Bertani Selaras Alam, Yayasan Obar Indo-nesia, Jakarta.

Bohlool, B.B., J.K. Ladha, D.D. Garrity and T. Goerge, 1992. Bio-logical nitrogen fixation for sustai-nable agriculture : A Perspective. In; Ladha, J.K., T. George and B.B. Bohlool (eds.). Biological nitrogen fixation for sustainable agriculture, p. 1 – 11. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht.

Brush, S.B., 1987. Usaha tani di lereng pegunungan Andes (Peru). P. 176 – 185. In; J Metzner and N. Dal-djoeni (Eds.) Ekofarming, Bertani Selaras Alam, Yayasan Obar Indonesia, Jakarta.

Condrad, R., 1990. Flux on NOx bet-ween soil and atmosphere: Impor-tance and soil microbial metabo-lism. In; Revsbech, N.P. and J. Sorensen (eds). Denitrification in soil and sediment, p. 105 – 128. Plenum Press, New York and London.

Deinum, H.K., 1949. Vanille dalam ; C.J.J van Hall en C. van de Koppel. De Landbouw in de Indische Archipel. IIB : 763 – 784.

de Waard, P.W.F., 1964. Pepper cultivation in Serawak. World Crops : 24 – 30.

de Waard, P.W.F., 1969. Foliar diagnosis and yield stability of black pepper (piper nigrum L.) in Serawak. Bull. Roy. Trop. Inst. Amsterdam. 77 pp.

Fernandez, M., C. Cadalia, A. Garate and R. M Esteban, 1985. The electroultrafiltrationmethod for controlling the effect of Bacillus cereus on phosphorus mobilization in calcaraeous soil. Biology and Fertility of Soils I : 97 – 102.

Greenland, D.J. (1987). Mengalihkan sifat tepat guna Revolusi Hijau kepada kaum peladang. P. 186 – 199. In; J Metzner and N. Daldjoeni (Eds.) Ekofarming, Bertani Selaras Alam, Yayasan Obar Indonesia, Jakarta.

(11)

Hamdi, J.A., 1982. Aplication of nitrogen fixing system in soil

management. FAO of UNO,

Rome.

Jones, P.T. and R. Doolan, 1998. The international market for organic food. Rural Industriy Business Servis. Departemen of Primary Industries, Queensland. 45 p.

Kennedy, I.R. and Y.T. Tchan. 1992. Biological fixation in non-leguminous field crops; Recent advences. In; Ladha. J.K. T. George and B.B. Bohlool (Eds.). Biological nitrogen fixation for sustainable agriculture, p. 93-118. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht.

Mathius, I.W., 1992. Penggunaan hijauan glirisidia sebagain pakan pengganti hijauan lamtoro untuk makanan ternak. Jurnal Litbang Pertanian Vol. XI No. 1 : 1 – 5.

Mengel, K. and A. Kirby, 1982. Principle of plant nutrition. International Potash Institute, Switzerland.

Mishustin, N.E., 1970. The importance of non symbiotic nitrogen fixing microorganisme in agriculture. Plant and Soil 32.

Pujianto, 1994. Nilai hara beberapa tanaman penaung pada perkebunan kopi dan kakao. Warata Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, 19. 28

– 31.

Ruhnayat, A., 1987. Pengaruh

pemberian pupuk kandang sapi dan inokulasi Azotobacter terhadap pH tanah, populasi Azotobacter, C-organik tanah, N-total tanah dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) Var. Berlian pada tanah latosol. Thesis S1 Fak. Pertanian Unpad Bandung.

Ruhnayat, A., 1991. Potensi bakteri Azotobacter sp. dan kemungkinan pemanfaatannya pada tanaman rempah dan obat. Media Komuni-kasi Penelitian dan Pengembangan

Tanaman Industri Nomor 8.

Pulitbangtri. 18 – 21.

Ruhnayat, A., 1995. Peranan unsur hara kalium dalam meningkatkan pertumbuhan, hasil dan daya tahan tanaman rempah dan obat. Jurnal Litbang Pertanian Vol. XIV, No. 1 : 10 – 15.

(12)

Ruhnayat, A., 1999b. Pemanfaatan mikroba perombak bahan organik dan Azotobacter pada tanaman panili. Laporan Teknis Penelitian Balittro Buku II. 157 – 164.

Ruhnayat, 2007a. Penentuan kebutuhan pokok unsur hara N, P, K untuk

pertumbuhan tanaman panili

(Vanilla planifolia). Buletin Penel. Tanaman Rempah dan Obat Vol. XVIII No. 1. 49-59.

Ruhnayat, 2007b. Effect of

Azotobacter, bat guano and glyricidia compost on the growth of bushy black pepper (Piper nigrum L.). Prosiding Seminar XIII Persada. Fak. Kedokteran Hewan IPB. 249-252.

Ruhnayat, A. dan R. Rosman, 1993. Respon stek panili terhadap pemberian pupuk N, P dan K. Bul. Penel. Tan. Rempah dan Obat. Vol. VIII No. 2 : 70 – 74.

Ruhnayat, A. dan R. Zaubin, 1999. Penentuan nilai kritis, optimal dan selang kecukupan unsur hara NPK tanaman lada perdu. Laporan Teknis Penelitian Balittro Buku II. 189 – 198.

Sarief, Saiffudin, 1983. Ilmu tanah pertanian. Bagian Ilmu Tanah fakultas Pertanian Unpad Bandung.

Shaev, V.P., V.Y. Smolin and V.I. Strekozova, 1991. The effect of Azosprollum brasilencese Sp7 and Azotobacter chroococcum on nitrogen balance in soil under cropping with oats (Avena sativa

L.) Biol. Fertil. Soils 10 : 290 – 292.

Simarmata, T., G. Benckiser and J.C.G. Ottow, 1993. Effect of increasing carbon-nitrate-N ratioon the reliabi-lity of acetylene to block the N2 O-reductase activity of denitrifying bactreria in soil. Biol. Fertil. Soils 15. 107 – 112.

Rao, Subba, N.S., 1982. Biofertilizer in agriculture. Oxford and IBH Publishing Co. New Delhi etc.

Saragih, Yan Pieter dan Yadi Haryadi, 1994. Mete. Penebar Swadaya. Jakarta. 33 hal.

Sen, A. and Paul, N.B., 1957. Solubilization of phosphates by some commond soil bacteria. Curr. Sei., 26(7) : 22.

Ueda, S., Yamashita, M., Nakajima, M., and Kuwabara, Y. l982. Inhibition of microorganisms by spice extracts and flavoring cmpounds. Nippon Shokuin Kogyo Gakkashi 29 (2):111 –116.

Wahid, P., 1984. Pengaruh naungan dan pemupukan terhadap pertum-buhan dan produksi tanaman lada . Fak. Pasca Sarjana, IPB. 201 hal.

(13)

Www.amadeusvanillabeans.com/store/ organic, 2007. Organic vanilla beans.

Www.healthybuyersclub.com., 2007. Organic spices.

Gambar

Tabel 1. Kadar hara pada 100 g bahan kering tanaman panili   Unsur hara
Tabel 2. Pengaruh inokulasi Azotobacter dan pupuk kandang terhadap hasil beberapa tanaman

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mengamati video animasi di link youtube yang dibagikan oleh guru mengenai gangguan organ peredaran darah pada manusia, siswa bersama teman yang dekat dengan rumahnya

Sejumlah pengukuran seperti kadar oksigen, lamanya pemakaian ventilasi, setting ventilasi, termasuk tekanan tahanan nafas, rasio frekuensi nafas dengan volume tidal (RSBI =

Apabila seseorang menulis (sejarah sebagai kisah), berdasarkan jejak-jejak masa lampau yang berupa sumber-sumber yang telah diseleksi secara ilmiah, maka sumber itu merupakan

kan perbaikan tata letak adalah metode CRAFT, dimana input dari metode ini ada- lah tata letak awal, luas departemen, data aliran, data biaya (ongkos penanganan

Pelaksanaan pengambilan contoh tanah yang akan dijadikan sampel diambil dengan menggunakan metode proporsional purposive random sampling dimana sampel diambil

Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa Islam lebih dahulu mengenal sistem akuntansi, karena Alquran telah diturunkan pada tahun 610 M, yakni 800 tahun

Rencana Kerja Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat sebagai bahan dalam penyusunan usulan rencana kegiatan fasilitas pembangunan yang bersumber dari anggaran APBD Tahun 2019

Secara ekologi, hewan dan makhluk hidup lainnya dalam tingkat komunitas (komunitas biotik) dapat ditelaah secara umum dari berbagai makhluk hidup sebagai kajian