• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN RASIO KESEHATAN BANK TERHADAP KINERJA PERBANKAN. Oleh : Merida, S.E., M.Ak. ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN RASIO KESEHATAN BANK TERHADAP KINERJA PERBANKAN. Oleh : Merida, S.E., M.Ak. ABSTRAK"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1296 PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN RASIO

KESEHATAN BANK TERHADAP KINERJA PERBANKAN

Oleh : Merida, S.E., M.Ak.

ABSTRAK

This study aimed to examine the effect of good corporate governance and the ratio of bank health on bank performance. corporate governance is proxied by the number of board size, board size, percentage of independent directors and external auditors. For the ratio of the Bank is proxied by the ROA and LDR. Banking Performance is measured by Return On Assets.This study uses a quantitative research design and secondary data originating from banking companies listed in Indonesia Stock Exchange. By using purposive sampling in year observation period 2011-2014, obtained 104 observations. Data were analyzed using multiple linear regression model.The regression results indicate that ROA has a significant negative effect on bank performance. While the number of board size, director size, percentage of independent directors, the external auditors and LDR do not have a significant effect on bank performance. These results indicatethatsome of themechanisms ofcorporate governancein thecompany, especiallythe banking sectorin Indonesia not been effective according to its function.

Latar Belakang Penelitian

Perekonomian dunia dari tahun ke tahun telah mengalami keadaan yang pasang surut. Keadaan tersebut disebabkan karena adanya persaingan ketat di

era globalisasi dan pasar bebas di kancah internasional. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya krisis ekonomi pada tahun 1997 dan kondisi keuangan global yang belum membaik seiring krisis utang di Amerika tahun 2008 yang memberikan dampak negatif cukup besar terhadap hampir semua industri, khususnya sector perbankan. Pengalaman dari krisis keuangan global tersebut mendorong perlunya peningkatan efektivitas kinerja perbankan (Hutapea, 2013).

(2)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1297 Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjalankan peningkatan efektivitas kinerja perbankan. Salah satunya adalah penerapan tata kelola yang baik dalam perusahaan. Permasalahan selanjutnya adalah apakah tata kelola perusahaan (good corporate governance) masih menjadi masalah dalam bisnis yang terjadi di Asia baru-baru ini?, Ini merupakan suatu pertanyaan yang menarik bahwa ekonom dan para pembisnis sangat konsern terhadapnya, meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun krisis di Asia terjadi. Menurut sebuah kajian yang diselenggarakan oleh Bank Dunia, lemahnya implementasi sistem tata kelola perusahaan atau yang biasa dikenal dengan istilah Corporate Governance merupakan salah satu faktor penentu parahnya krisis yang terjadi di Asia Tenggara (The World Bank, 1998, dalam Dewayanto, 2010).

Kelemahan tersebut antara lain terlihat dari minimnya pelaporan kinerja keuangan, kurangnya pengawasan atas aktivitas manajemen oleh Dewan Komisaris dan Auditor, serta kurangnya intensif eksternal untuk mendorong terciptanya efisiensi di perusahaan melalui persaingan yang fair. Lemahnya penerapan corporate governance inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya berbagai skandal keuangan pada bisnis perusahaan. Banyak pihak yang mulai berpikir bahwa penerapan corporate governance menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis sebagai barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan (Dewayanto,2010).

Sebagai sebuah konsep, Good Corporate Governance ternyata memiliki banyak definisi. Menurut Komite Cadbury, Good Corporate Governance adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholder khususnya, dan stakeholder pada umumnya. Hal ini dimaksudkan mengenai pengaturan kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu (Purno, 2013).

Menurut Bank Indonesia keadaan perbankan di Indonesia mengalami pasang surut. Bank Indonesia menilai kasus kejahatan perbankan yang terjadi di Indonesia karena lemahnya penerapan GCG di bank tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan lemahnya pengawasan internal bank dan pengawasan dari manajemen tertinggi (top management) bank (media indonesia.com). Kelemahan tersebut antara lain terlihat

(3)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1298 dari minimnya pelaporan kinerja keuangan, kurangnya pengawasan atas aktivitas manajemen oleh dewan komisaris dan auditor, serta kurangnya intensif eksternal untuk mendorong terciptanya efisiensi di perusahaan melalui persaingan yang fair. Lemahnya penerapan corporate governance inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya berbagai skandal keuangan pada bisnis perusahaan (Purno, 2013).

Penerapan good corporate governance juga menjadi permasalahan yang penting dalam dunia perbankan. Semenjak krisis keuangan yang melanda Indonesia tahun 1997 telah menghancurkan berbagai sendi perekonomian, salah satunya perbankan yang mengakibatkan krisis perbankan terparah dalam sejarah perbankan nasional yang menyebabkan penurunan kinerja perbankan nasional. Dalam seminar restrukturisasi perbankan di Jakarta pada tahun1998 disimpulkan beberapa penyebab menurunnya kinerja perbankan, antara lain semakin meningkatnya kredit bermasalah perbankan, yang menyebabkan bank harus menyediakan cadangan penghapusan hutang yang cukup besar sehingga mengakibatkan kemampuan bank memberikan kredit menjadi terbatas; dampak likuiditas bank yang mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan pemerintah, sehingga memicu penarikandana yang secara besar-besaran; semakin turunnya permodalan bank-bank, banyak bank yangtidak mampu melunasi kewajibannya karena menurunnya nilai tukar rupiah; manajemen bankyang tidak professional (Dewayanto, 2010).

Melihat kondisi bermasalah tersebut, pemerintah menjalankan kebijakan reformasi perbankan pada Maret 1999 dengan melakukan penutupan bank, pengambilalihan 7 bank, rekapitulasi 9 bank, dan menginstruksikan 73 bank untuk mempertahankan operasinya tanpa melakukan rekapitulasi sehingga pada tahun 2001 jumlah bank yang tersisa sebanyak 151 bank. Selain melaksanakan ebijakan reformasi perbankan, pada tahun 2004 pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) melakukan pembenahan fundamental terhadap perbankan nasional yaitu dengan dikeluarkannya API (Arsitektur Perbankan Indonesia). Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arahan,bentuk, dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Di dalamnya terdapat enam pilar utama yang merupakan sasaran yang ingin dicapai, salah satunya adalah

(4)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1299 menciptakan corporate governance untuk memperkuat kondisi internal perbankan nasional. Tidak hanya berhenti sampai disitu, untuk menunjukan keseriusannya terhadap isu CG, pada tanggal 30Januari 2006 Bank Indonesia (BI) mengeluarkan paket kebijakan perbankan yanglebih dikenal dengan istilah Pakjan 2006, yang isinya mengenai peraturan baru tentang pelaksanaan good corporate governance, bagi bank umum berupa Peraturan Perbankan Indonesia (PBI) Nomor 8/4/PBI/2006

yang kemudian diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006 (Dewayanto, 2010).

Diakui ataupun tidak, penerapan GCG di Indonesia merupakan hal yang sangat penting, karena dapat membantu perusahaan keluar dari krisis ekonomi dan bermanfaat bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang harus menghadapi arus

globalisasi, mengikuti perkembangan e konomi global dan pasar dunia yang kompetitif. Penerapan GCG diduga dapat

memperbaiki citra perbankan yang sempat buruk, melindungi kepentingan

stakeholder s

serta meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan etika-etika umum pada industri perbankan dalam rangka memberikan pencitraan sistem perbankan yang sehat. Selain itu penerapan GCG di dalam perbankan diharapkan dapat berpengaruh terhadap kinerja perbankan, dikarenakan penerapan GCG ini dapat meningkatkan kinerja keuangan, mengurangi resiko akibat tindakan pengelolaan yang cenderung menguntungkan diri sendiri. Pada dasarnya isu tentang corporate governance dilatarbelakangi oleh agency theory

yang menyatakan munculnya masalah agency dikarenakan pengelolaan suatu perusahaan yang terpisah dari kepemilikannya. Pemilik sebagai pemilik modal perusahaan mendelegasikan wewenangnya atas pengelolaan perusahaan kepada manager. Akibatnya, kewenangan untuk menggunakan sumber daya yang dimliki perusahaan sepenuhnya berada di tangan dewan direksi. Hal itu menimbulkan kemungkinan terjadinya moral hazard dimana manajemen tidak bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemilik karena adanya perbedaan kepentingan (Purno, 2013).

(5)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1300 Berkaitan dengan masalah agency, corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada agency theory, corporate governance diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana membuat para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa manajer tidak akan mencuri atau menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak mengutungkan berkaitan dengan dana yang telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengkontrol para manajer (Shleifer dan Vishny, 1997, dalam Widati, 2012).

Selain penilaian tentang pelaksanaan good corporate governance sebagi faktor penentu kinerja perbankan. Banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti kinerja perbankan dengan menggunakan rasio kesehatan bank. Rasio kesehatan bank dinilai dapat menggambarkan kinerja perbankan secara keseluruhan sehingga sering digunakan untuk mengukur kinerja perbankan di Indonesia.

Kajian Pustaka

Teori Keagenan ( Agency Theory)

Agency theory pertama kali dikembangkan oleh Jensen&Meckling pada tahun 1976. Dalam teori keagenan, hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut. Artinya, hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Konflik kepentingan antara pemilik dan agen terjadi karena kemungkinan agent tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan

principal, sehingga memicu biaya keagenan (agencycost). Menurut Brigham (2005), para manajer diberikan kekuasaan oleh pemilik perusahaan, yaitu pemegang saham untuk membuat keputusan, dimana hal ini menyebabkan potensi konflik kepentingan yang dikenal sebagai teori keagenan (agency theory).

Investor termotivasi untuk mensejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Manajer termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologinya, antara lain dalam hal memperoleh investasi. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak dapat

(6)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1301 mengawasi aktivitas agent sehari-hari. Manajemen perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keuntungan yang besar dengan biaya pihak lain. Perilaku ini disebut sebagai keterbatasan rasional (boundedrelasionality) dan manajer cenderung tidak menyukai risiko (risk averse). Problem agensi akan terjadi apabila proporsi kepemilikan atas saham perusahaan kurang dari 100% sehingga manajer cenderung bertindak untuk kepentingan pribadinya dan sudah tidak berdasar memaksimalisasi nilai dalam pengambilan keputusan pendanaan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pemisahan fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan.

Corporate governance sebagai efektivitas mekanisme yang bertujuan meminimalisasi konflik keagenan, dengan penekanan khusus pada mekanisme legal yang mencegah dilakukannya eksproriarsi atas pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas. Corporate governance merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang sahamdan

stakeholderslainnya. Corporate governance juga memberikan suatu strukturyang memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagaisarana untuk menentukan teknik monitoring kinerja (Deni, Khomsiyah dan Rika,2004 dalam Oktapiyani, 2009).

Kinerja Perbankan

Kinerja keuangan pada dasarnya diperlukan sebagai alat untuk mengukur kesehatan (financial health) perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan digunakan sebagai media pengukuran subyektif yang menggambarkan efektivitas penggunaan aset oleh sebuah perusahaan dalam mengoperasikan bisnis dan meningkatkan laba. Kinerja keuangan yang maksimal dapat diperoleh dengan adanya fungsi yang benar dalam pengelolaan perusahaan. Oleh karena itu, corporate governance berperan penting dalam optimalisasi kinerja keuangan.

Menurut Febryani dan Zulfadin (2003) dalam Hutapea (2013) , kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan dimana pun karena kinerja perusahaan adalah cerminan perusahaan dalam mengelola aset dan sumber dayanya. Selain itu, tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam

(7)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1302 mencapai target organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan hasil yang diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana yang dituangkan dalam anggaran.

Return on Assets (ROA)

Informasi tentang kinerja keuangan pada lembaga keuangan (dalamhal ini perbankan) dalam periode tertentu, dapat diketahui dengan menganalisis rasio-rasio keuangan. Menurut Seiford (1999) dalam Respati (2014), menyatakan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan bank untuk mendapatkan revenue atau profit

pada jangka waktu tertentu dengan menggunakan tenaga kerja, asset dan modal. Kemudian Muljono (1999) dalam Respati (2014) berpendapat bahwa profitabilitas atau rentabilitas dapat dukur dengan gross profitmargin, net profit margin, return on equity capital, return on asset, danreturn on specific asset. Profitabilitas juga dapat diukur denganmenggunakan interest margin, net margin, asset utilization, return onasset , leverage multiplier, dan return on capital.

Rasioprofitabilitas dimaksudkan untuk mengukur profitabilitas pengguna aktiva perusahaan.Analisis profitabilitas dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan yang dalam hal ini pasti berorientasi pada profit motif ataukeuntungan yang diraih oleh perusahaan tersebut. Menurut Shapiro (1992), Profitability analysis

yang diimplementasikan dengan profitability ratio,disebut juga operating ratio.

Dalam operating ratio tersebut, terdapat duatipe rasio yaitu margin on sale dan return on asset. Profit margin,digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk mengendalikanpengeluaran yang berhubungan dengan penjualan, yaitu meliputi grossprofit margin, operating profit margin, dan net profit margin. Hubungan antara return on asset dan share holder equity ada dua ukuran, yakni

Return On Asset (ROA) yang biasanya juga disebut Return On Investment(ROI) dan

Return On Equity (ROE). Return On Asset (ROA) dalam hal inilebih memfokuskan kemampuan perusahaan dalam memperoleh earning dalam operasi perusahaan, sementara Return On Equity (ROE) hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalambisnis tersebut (Respati, 2014).

Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan-perusahaan multinasional khususnya jika dilihat dari sudut pandang profitabilitas

(8)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1303 dan kesempataninvestasi. Return On Asset bank juga digunakan untuk mengetahuihubungan antara organisasi dan kinerja keuangan bank-bank retail,sehingga strategi organisasi dalam rangka menghadapi persaingan yangsemakin ketat dapat diformulasikan. MenurutBank Indonesia Return On Asset

(ROA) merupakan perbandingan antaralaba sebelum pajak dengan rata-rata total asset dalam satu periode (SE.Intern BI, 2004).

Dalam penelitian ini Return on Asset (ROA) dipilih sebagai indicator pengukur kinerja keuangan perbankan adalah karena Return on Assetdigunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Return onAsset merupakan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total asset.

Semakin besar Return on Asset menunjukkan kinerja keuangan yangsemakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar. ApabilaReturn on Asset

meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham.

Good Corporate Governance

Setiap perusahaan memiliki corporate governance (Steger dan Amann,2008). Minat akademik mengenai isu-isu corporate governance muncul setelah penerbitan buku tentang pemisahan kontrol dan kepemilikan dalam perusahaan,yang ditulis oleh Berle dan Means pada tahun 1932, sekaligus sebagai penulispertama tentang teori

corporate governance (Obradovich dan Gill, 2013).Istilah corporate governance

menjadi kian populer karena disebabkan olehdua hal, Pertama, corporate governance merupakan salah satu kunci suksesperusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligusmenang dalam persaingan bisnis global. Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asiadan Amerika diyakini muncul karena kegagalan penerapan corporate governance,diantaranya praktik perbankan yang lemah, sistem hukum yang buruk, pengawasan yang lemah, dan hak-hak pemegang saham minoritas yang kurang diperhatikan.

Prinsip-prinsip dasar corporate governance yang disusun oleh TheOrganization for Economic Corporation and Development (OECD) terdiri darilima aspek, yaitu: 1. Transparency (Keterbukaan)

(9)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1304 Keterbukaan kepada stakeholdersdalam melaksanakan prosespengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan dengan lima krakteristik, yaitukomprehensif, relevan,

friendly, reliable, dan comparable. Informasi mengenai laporan keuangan, kinerja keuangan, kepemilikian, dan pengelolaan perusahaan harus diungkapkan secara tepat dan akurat agarpemegang saham dan orang lain dapat mengetahui keadaan perusahaan.

2. Accountability (Akuntabilitas)

Kejelasan fungsi, struktur, sistem pengendalian, dan pertanggungjawabanorgan perusahaan sehingga pengelolaan dan keseimbangan kekuasaan diantara stakeholders terlaksana secara efektif. Para komisaris, direksi, dan jajarannya wajib memiliki integritas untuk menjalankan usaha sesuaiaturan dan ketentuan yang berlaku.

3. Responsibility (Pertanggungjawaban)

Kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasiyang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Prinsip ini menuntut seluruh jajaran perusahaan untuk melakukan tugasnya dengan bertanggungjawab dan mematuhi hukum yang ditetapkan.

4. Independency (Kemandirian)

Suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku danprinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5. Fairness (Keadilan)

Perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yangberlaku. Setiap keputusan yang diambil senantiasa memperhatikan kepentingan dan memberikan perlindungan kepada pemegang sahamminoritas. Melindungi semua pemegang saham, baik mayoritas maupun minoritas dari rekayasa dan transaksi yang bertentangan dengan peraturan yang berlaku.

(10)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1305 Prinsip-prinsip tersebut kemudian dijabarkan kembali oleh OECD kedalam enam aspek sebagai pedoman pengembangan kerangka kerja legal,institusional, dan regulator untuk corporate governance. Keenam aspek tersebut,yaitu:

1. Memastikan adanya basis efektif untuk kerangka kerja corporate governance mendukung terciptanya pasar yang transparan dan efisien sejalan

dengan ketentuan perundangan dan mengartikulasikan dengan jelas pembagian tanggung jawab diantara para pihak.

2. Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan bahwa hak-hak pemegang saham harus dilindungi dan difasilitasi.

3. Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham, seluruh pemegang saham mayoritas maupun minoritas.

4. Peran stakeholders dalam corporate governance harus diakui sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan kontrak kerja sama aktif antara perusahaan-perusahaan dan para stakeholders harus dikembangkan dalamupaya kelangsungan perusahaan.

5. Disclosure dan transparansi yang tepat waktu dan akurat mengenai segala aspek material perusahaan, termasuk situasi keuangan, kinerja,kepemilikan, dan

governance perusahaan.

6. Tanggung jawab pengurus perusahaan (Corporate Boards):

Pengawasandewan komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh direksi harusberjalan efektif disertai adanya tuntutan strategik terhadap manajemen,serta

akuntabilitas dan loyalitas direksi dan dewan komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

Ukuran Dewan Direksi

Dalam rangka pemantauan terhadap pengendalian internal bank, direksimempunyai

tanggung jawab menetapkan kebijakan, strategi serta prosedur pengendalian intern; melaksanakan kebijakan dan strategi yang telah

disetujui oleh dewan komisaris; memelihara suatu struktur organisasi; memastikan bahwa pendelegasian wewenang berjalan secara efektif yang didukung oleh penerapan akuntabilitas yang konsisten dan memantau kecukupan dan efektivitas dari system pengendalian intern. Peningkatan ukuran dan diversitas dari dewan

(11)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1306 direksi berpengaruh terhadap kinerja bank karena akan memberikan manfaat bagi perusahaan karena terciptanya network dengan pihak luar perusahaan dan menjamin ketersediaan sumber daya (Pfefer, 1973; Pearce & Zahra, 1992 dalam Widati, 2012)

Ukuran Dewan Komisaris

Secara hukum dewan komisaris bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada direksi. Dalam melakukan pemantauan terhadap direksi, dewan komisaris memastikan bahwa direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari satuan kerja audit intern Bank (SKAI), auditor eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritaslain. Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya harus mampu mengawasi dipenuhinya kepentingan semua stakeholders berdasarkan azas kesetaraan, serta mengarahkan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan strategisBank.

Ukuran dewan komisaris menentukan tingkat keefektifan pemantauan kinerja bank. Menurut Chtourou et al (2001) dalam Dewayanto (2010) menyatakan dalam penelitiannya bahwa dengan jumlah dewan yang semakin besar maka mekanisme monitoring manajemen perusahaan akan semakin baik. Dalam komposisi ukuran dewan komisaris didalamnya terdapat komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris lainnya, direksidan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan lain yang dapatmempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.

Komisaris Independen

Di Indonesia saat ini, keberadaan komisaris independen sudah diatur dalam Code of Good Corporate Governance (KNKCG). Komisaris menurut Code tersebut, bertanggung jawab dan mempunyai kewenangan untuk mengawasikebijakan dan kegiatan yang dilakukan direksi dan memberikan nasihat bilamana diperlukan.Tugas utama komisaris independen adalah memperjuangkankepentingan pemegang saham minoritas.

Kriteria yang harus dimiliki oleh komisaris independen menurut SuratEdaran BI No.9/12/DPNP adalah sebagai berikut :

(12)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1307 1. Tidak memiliki hubungan keuangan, yakni apabila memperoleh penghasilan, bantuan keuangan atau pinjaman dari anggota Dewan Komisaris lainnya dan/atau direksi (pengurus) Bank, dari perusahaan yangPSP nya pengurus Bank, dan dari Pemegang Saham Pengendali (PSP)Bank

2. Tidak memiliki hubungan kepengurusan, yakni apabila menjadi pengurus pada perusahaan dimana Dewan Komisaris Bank lainnya menjadi pengurus, menjadi pengurus pada perusahaan yang PSP nya pengurus Bank, dan menjadi pengurus atau Pejabat Eksekutif pad perusahaan PSP Bank

3. Tidak memiliki hubungan kepemilikan saham yakni apabila menjadi pemegang saham pada perusahaan yang PSP nya adalah pengurus dan/atau PSP Bank, dan/atau menjadi pemegang saham pada perusahaan PSP Bank

4. Tidak memiliki hubungan dengan Bank apabila: a) memiliki saham Bank lebih dari 5% dari modal disetor bank

b) menerima/memberi penghasilan, bantuan keuangan atau pinjaman dari/kepada Bank yang menyebabkan pihak yang memberi bantuan, seperti pihak terafiliasi dan/atau pihak yang melakukan transaksikeuangan dengan bank (debitor inti dan deposan inti).Aktivitas monitoring oleh pihak independen sangat diperlukan. Jensen dan Meckling (1976) mengungkapkan bahwa semakin banyak jumlah pemonitor maka kemungkinan terjadi konflik semakin rendah dan akhirnya akan menurunkan

agency cost. Hal ini dapat menumbuhkan tingkat kepercayaan investor, pihakketiga terhadap perusahaan (Bathala, et al. 1994 dalam Oktapiyani, 2009). Pihak independen ini dapat berperan sebagai agen pengawas yang efektif untuk mengurangi masalah keagenan, karena mereka dapat mengendalikan perilaku oportunistik manajer.

Ukuran Eksternal Auditor Big 4

Tujuan utama fungsi eksternal audit adalah memberikan opini terhadaplaporan keuangan annual bank serta efektivitas sistem pengendalian internal bank melalui prosedur audit mereka. Seorang auditor menilai prinsip akuntansi dan kebijakan yang dibuat oleh manajemen serta mengevaluasi secara keseluruhan kinerja perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan.

(13)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1308 Dalam menegakkan prinsip GCG keterlibatan akuntan eksternal yang menjalankan fungsi sebagai auditor memainkan peranan yang penting (crucial)karena auditor bertugas memverifikasi kewajaran berbagai informasi yang disajikan dalam laporan keuangan (Arifin, 2005). Seorang auditor memainkan peran penting sebagai pengawas bank untuk memastikan pengendalian laporankeuangan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Ada beberapa perusahaan perbankan yang mempercayakan eksternal auditor berstandarisasi internasional untuk mengungkapkan kualitas audit mereka untuk meyakinkan kepercayaan investor/ pemegang saham. Saat ini ada empat eksternal auditor yang berstandarisasi internasional Keempat eksternal auditor dikenal dengan istilah“Big 4” diantaranya

Pricewater House Coopers, Deloitte Touche Tohmatsu, Ernst& Young, dan KPMG.

Rasio Kesehatan Bank Efisiensi Operasi (BOPO)

Efisiensi adalah kemampuan menggunakan sumber daya yang tidak perlu. Efisiensi akan lebih jelas jika dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input.Output merupakan hasil suatu organisasi, dan input merupakan sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dalam kasus perusahaan yang bergerak dibidang perbankan, efisiensi operasi dilakukan untuk mengetahui apakah bank dalam operasinya yang berhubungan usahapokok bank, dilakukan dengan benar dalam arti sesuai yang diharapkan manajemen dan pemegang saham. Efisiensi operasi juga berpengaruhterhadap kinerja bank, yaitu untuk menunjukkan apakah bank telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna.

Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasi diukur dengan membandingkan total biaya operasi dengan total pendapatan operasi atauyang sering disebut BOPO. Rasio BOPO ini bertujuan untuk mengukur kemampuan pendapatan operasional dalam menutup biaya operasional,Rasio yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurangefisien dalam mengelola usahanya(SE. Intern BI, 2004). Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90%, karenajika rasio

(14)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1309 BOPO melebihi 90% hingga mendekati angka 100% maka banktersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya.

Loan to Deposit Ratio (LDR)

Peraturan Bank Indonesia menyatakan bahwa kemampuan likuiditas bank dapat diproksikan dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) yaitu perbandingan antara kredit dengan Dana Pihak Ketiga (DPK). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga.Menurut Muljono, (1999), Loan to Deposit Ratio

menunjukkan perbandingan antara volume kredit dibandingkan volume deposit yangdimiliki oleh bank. Hal ini berarti menunjukkan tingkat

likuiditas semakinkecil dan sebaliknya karena sumber dananya (deposit) yang dimiliki telah habis digunakan untuk membiayai financing portofolio kreditnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar. Kredit yang diberikan tidak termasuk kredit kepada bank lain sedangkan untuk dana pihak ketiga adalah giro,tabungan, simpanan berjangka, sertifikat deposito. Standar yang digunakan Bank Indonesia untuk rasio LDR adalah 80% hingga 110%. Jika angkarasio LDR suatu bank berada pada angka dibawah 80% (misalkan 60%),maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut hanya dapat menyalurkan sebesar 60% dari seluruh dana yang berhasil dihimpun. Karena fungsi utama dari bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasioLDR 60% berarti 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa bank tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Kemudian jika rasioLDR bank mencapai lebih dari 110%, berarti total kredit yang diberikanbank tersebut melebihi dana yang dihimpun. Oleh karena dana yangdihimpun dari masyarakat sedikit, maka bank dalam hal ini juga dapat dikatakan tidak menjalankan fungsinya sebagai pihak intermediasi perantara) dengan baik. Semakin tinggi LDR menunjukkan semakin riskan kondisi likuiditas bank, sebaliknya semakin rendah LDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan kredit. Jikarasio LDR bank berada pada standar yang ditetapkan

(15)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1310 oleh Bank Indonesia, maka laba yang diperoleh oleh bank tersebut akan meningkat (denganasumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan efektif). Dengan meningkatnya laba, maka return on asset (ROA) juga akan meningkat, karena laba merupakan komponen yang membentuk return onasset (ROA).

Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Return on Assets, dan variabel independennya adalah Ukuran Dewan Direksi, Ukuran Dewan Komisaris, Komisaris Independen, Eksternal Auditor, Bopo dan LDR.

Definisi dan Operasionalisasi Variabel Kinerja Perbankan

Kinerja Perbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA) adalah rasio pendapatan sebelum bunga dan pajak(EBIT) atau net pendapatan dibagi dengan nilai buku aset di awal tahun fiscal. Return on Asset mengukur pendapatan perusahaan dalam hubungannya dengan semua sumber daya itu pada bagian disposal (modal emegang saham ditambah dana jangka pendek dan panjang yang dipinjam). ROA memberikan ide mengenai bagaimana manajemen yang efisien menggunakan aset-asetnya untuk menghasilkan penghasilan. Dihitung dengan membagi penghasilan tahunan perusahaan dari total aset, ROA ditampilkan sebagai persentase. Kadang-kadang ini disebut sebagai"laba atas investasi ".

Berikut ini adalah perhitungan rasio ROA:

Good Corporate Governance (GCG) Ukuran Dewan Direksi

(16)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1311 Ukuran dewan direksi diukur dengan jumlah anggota dewan direksi yangada dalam perusahaan (Faisal, 2005). Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance, jumlah anggotaDireksi paling kurang 3 (tiga) orang.

Ukuran Dewan Komisaris

Yaitu jumlah anggota dewan komisaris yang bertanggung jawabmengawasi perusahaan baik yang berasal dari internal maupun eksternalperusahaan (Beiner et al, 2003 dalam Hutapea, 2013). Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance, jumlah anggotadewan Komisaris pada perusahaan perbankan paling kurang 3 (tiga) orang danpaling banyak sama dengan jumlah anggota Direksi. Dewan Komisaris terdiri dariKomisaris dan Komisaris Independen.

Komisaris Independen

Komisaris independen merupakan rasio prosentase antara jumlahkomisaris yang berasal dari luar perusahaan (komisaris independen) terhadap totaljumlah anggota dewan komisaris perusahaan. Menurut peraturan Bursa EfekIndonesia (BEI), sedikitnya sepertiga dari anggota komisaris pada perusahaanpublik yang terdaftar di BEI merupakan komisaris independen.

Eksternal Auditor Big 4

The Big Four adalah perusahaan jasa akuntansi internasional terbesar danprofesional yang menangani sebagian besar audit bagi perusahaan publik maupunperusahaan swasta, menciptakan oligopoli dalam audit perusahaan besar. Menurut Prinsip-prinsip OECD dan penelitian (Dewayanto, 2010), seorang auditor memainkan peran penting sebagai pengawas bank untuk memastikan pengendalian laporan keuangan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Auditor eksternal Big 4 diantaranya Pricewater House Coopers, Deloitte ToucheTohmatsu, Ernst & Young, dan KPMG.

(17)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1312 Variabel Auditor eksternal Big 4 merupakan variabel dummy, jika perusahaan sampel diaudit oleh Auditor eksternal Big 4 maka dinilai 1, sedangkan jika sebaliknya maka nilainya 0

Rasio Kesehatan bank yang diukur dengan

Beban Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)

Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya.Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bungadan total pendapatan operasional lainnya.

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 6/73/INTERNDPNP tgl 24 Desember 2004):

Loan to Deposit Ratio

Rasio likuiditas diproksikan dengan LDR, yang merupakan rasio kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga (Giro, Tabungan,Sertifikat Deposito, dan Deposito). LDR ini dimaksudkan untukmengukur kemampuan bank dalam memenuhi pembayaran kembalideposito yang telah jatuh

tempo kepada deposannya serta dapat memenuhipermohonan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan.Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 3/30DPNP tgl 14Desember 2001):

(18)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1313 HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Uji Normalitas Data

Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui alat uji analisis yang digunakan untuk melakukan uji coba (parametric atau non parametric) disebut uji One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Pengujian ini memiliki tujuan untuk menguji suatu model regresi apakah dalam model tersebut variabel dependen dan independen telah memiliki distribusi normal. Uji normalitas tersebut ditunjukan pada tabel berikut.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual

N 104

α 5%

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,200

Sumber : Olahan Data Penelitian

Dari tabel 5.2 dapat dilihat besarnya nilai statistik Kolmogorov-Smirnov untuk variabel ROA adalah p = 0,200. Jika digunakan tingkat signifikansi α = 5% atau 0,05; ternyata nilai p untuk variabel ROA yaitu (0,200) adalah lebih besar dari α (0,05); sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ROA memiliki distribusi normal.

Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas merupakan uji yang dilakukan dengan tujuan menguji apakah model regresi terdapat korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2011). Berdasarkan hasil analisis regresi dengan program SPSS diperoleh nilai Tolerance dan VIF untuk masing-masing variabel bebas sebagai berikut.

(19)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1314

Tolerance VIF

DIR 0,367 2,721 Tidak Terjadi Multikolinieritas

KOM 0,489 2,047 Tidak Terjadi Multikolinieritas

KOM_IND 0,919 1,088 Tidak Terjadi Multikolinieritas

EKS_AUD 0,710 1,408 Tidak Terjadi Multikolinieritas

BOPO 0,680 1,470 Tidak Terjadi Multikolinieritas

LDR 0,867 1,153 Tidak Terjadi Multikolinieritas

Collinearity Statistics

Model Penjelasan

Sumber : Olahan Data Penelitian

Melalui tabel uji multikolinieritas (Tabel 5.3) dapat dilihat bahwa, variabel Dewan Direksi (DIR) memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,367 > 0,10 dan VIF variabel bebas 2,721 < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel DIR tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Variabel Dewan Komisaris (KOM) memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,489 > 0,10 dan VIF variabel bebas 2,047 < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel KOM tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Variabel Komisaris Independen (KOM_IND) memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,919 > 0,10 dan VIF variabel bebas 1,088 < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel KOM_IND tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Variabel Eksternal Auditor (EKS_AUD) memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,710> 0,10 dan VIF variabel bebas 1,408 < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel EKS_AUD tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Variabel BOPO memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,680> 0,10 dan VIF variabel bebas 1,470< 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Variabel LDR memiliki nilai Tolerance variabel bebas 0,867> 0,10 dan VIF variabel bebas 1,153< 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel LDR tidak saling berkorelasi secara signifikan.

Hasil pengujian variabel bebas ini menunjukkan bahwa, data yang dianalisis memenuhi asumsi multikolinearitas.

Uji Autokolerasi

Ghozali (2011) menjelaskan bahwa tujuan uji autokorelasi adalah untuk mengetahui apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya), jika terjadi

(20)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1315 korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Hasil uji autokorelasi terhadap model regresi, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Uji Autokolerasi

Model dL dU

Durbin-Watson 4-dU

1 1,58126 1,78226 1,877 2,21774

Sumber : Olahan Data Penelitian

Tabel uji 5.4 menunjukkan besarnya nilai Durbin-Watson hasil uji autokorelasi untuk variabel ROA adalah (1.877). Menggunakan enam proksi variabel independen dan sampel berjumlah 104, jika digunakan tingkat signifikansi α = 5%maka berdasarkan tabel durbin watson dengan tingkat signifikasi tersebut didapatkan nilai dL = 1.58126 dan nilai dU = 1.78226. Nilai dw yang berada pada daerah dU < dw < 4-dU dapat disimpulkan model regresi terbebas dari problem autokorelasi dan layak digunakan. Dalam penelitian ini, nilai Durbin- Watson harus berada diantara 1,78226 (dU) dan 2,21774 (4-dU), agar tidak mengalami masalah autokorelasi. Hasil analisis menunjukkan nilai Durbin-Watson untuk variabel dependen ROA telah berada diantara 1,78226 (dU) dan 2,21774 (4-dU), sehingga dapat disimpulkan model regresi terbebas dari problem autokorelasi dan layak digunakan.

Uji Heteroskedastisitas

Model regresi dikatakan baik jika heteroskedastisitas yaitu varian residual satu pengamatan ke pengamatan lain jumlahnya tetap (Ghozali, 2011). Asumsi ini diuji menggunakan grafik Scatterplot. Grafik Scatterplot menunjukkan tidak ada pola yang jelas dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas.

(21)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1316 Gambar 5.1

Uji Heteroskedastisitas

Gambar 5.1 memperlihatkan grafik-grafik scatterplot dari variabel dependen yaitu ROA. Dari grafik scatterplot tersebut dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini berarti bahwa model penelitian ini telah terbebas dari heteroskedastisitas.

Uji heteroskedastisitas bisa menjadi fatal bila hanya berpatok pada pengamatan gambar saja. Maka untuk melakukan uji heteroskedastisitas dilakukan uji Glejser.

Uji Glejser

Model t Sig. Penjelasan

DIR - 1,119 0,266 Tidak terdapat heteroskedastisitas

KOM 0,190 0,850 Tidak terdapat heteroskedastisitas

KOM_IND 1,828 0,071 Tidak terdapat heteroskedastisitas

EKS_AUD - 1,034 0,304 Tidak terdapat heteroskedastisitas

BOPO - 2,803 0,060 Tidak terdapat heteroskedastisitas

(22)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1317 Sumber : Olahan Data Penelitian

Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser diperoleh hasil nilai Sig pada variabel DIR 0,266> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan. Variabel KOM diperoleh nilai Sig 0,850> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan. Variabel KOM_IND diperoleh nilai Sig 0,071> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan.

Variabel EKS_AUD diperoleh nilai Sig 0,304> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan.

Variabel BOPO diperoleh nilai Sig 0,060> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan. Variabel LDR diperoleh nilai Sig 0,372> 0,05. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas dan hasil uji dapat dilanjutkan.

Pengujian Hipotesis

Metode Regresi Linear Berganda

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik regresi. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel berikut:

(23)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1318 Uns tandardized Coefficients B (Cons tant) 0,035 6,296 0 DIR 0,001 1,665 0,099 KOM 0,001 1,276 0,205 KOM_IND 0 0,059 0,953 EKS_AUD -0,003 -1,395 0,166 BOPO -0,046 -7,132 0,000 LDR 3,45E-05 0,081 0,935 Model t Sig.

Sumber : Olahan Data Penelitian

Dengan melihat Tabel di atas, dapat disusun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :

Y = 0.035 + 0.001X1 + 0.001X2 + 0.000X3 - 0.003X4 – 0.046X5 + 0.0000345X6 Dimana, Y = Return On Assets

X1 = Dewan Direksi X2 = Dewan Komisaris X3 = Komisaris Independen X4 = Ekternal Auditor X5 = BOPO X6 = LDR

Berdasarkan persamaan regresi linear berganda diatas maka koefisien yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Konstanta sebesar 0,035 menujukkan apabila nilai variabel X1, X2, X3, X4, X5, dan X6 adalah 0 maka nilai Return on Assets sama dengan 0.035

X1 memiliki koefisien bertanda positif sebesar 0.001, artinya setiap kenaikan Dewan Direksi sebesar 1 kali diprediksi akan menaikkan return on assets sebesar 0.001 dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah.

X2 memiliki koefisien bertanda positif sebesar 0.001, artinya setiap kenaikan Dewan Komisaris sebesar 1 kali diprediksi akan menaikkan return on assets sebesar

0.001 dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah.

X3 memiliki koefisien bertanda positif sebesar .000, artinya setiap kenaikan Komisaris Independen sebesar 1 kali diprediksi akan menaikkanreturn on assets

sebesar 000 dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah. X4 memiliki koefisien bertanda negative sebesar -0.003, artinya setiap kenaikan

(24)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1319 Eksternal Auditor sebesar 1 kali diprediksi akan menurunkan return on assets

sebesar 0.003 dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah. X5 memiliki koefisien bertanda negative sebesar -0.046, artinya setiap kenaikan BOPO sebesar 1 kali diprediksi akan menurunkan return on assets sebesar 0.046

dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah.

X6 memiliki koefisien bertanda positive sebesar .0000345, artinya setiap kenaikan LDR sebesar 1 kali diprediksi akan menaikkan return on assets sebesar 0000345 dengan asumsi semua variable bebas tidak berubah.

Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)

Untuk mengukur besarnya prosentase sumbangan variabel-variabel independen terhadap naik turunnya variabel dependen digunakan nilai koefisien Adjusted R2. Dari hasil uji menggunakan SPSS yang diperlihatkan oleh tabel dibawah ini, dapat dilihat besarnya nilai Adjusted R2 adalah 0.507 hal ini berarti variabel-variabel independen dapat menjelaskan variasi variabel ROA sebesar 51%. Sisanya sebesar 49% dijelaskan oleh variabel-variabel yang lain di luar modelregresi.

Uji R2

Model R

Adjusted R Square

1 ,732a ,507

Sumber : Olahan Data Penelitian

Uji Koefisien Regresi Simultan (Uji F)

Dari uji koefisien regresi simultan (uji F), dapat dilihat pada tabel Di bawah ini bahwa didapatkan nilai F sebesar 18,654 dengan tingkat probabilitas 0,000 (signifikansi). Nilai p-value lebih kecil dari tingkat signifikansi α = 5%, artinya bahwa variabel-variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Uji F

ANOVAa

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

(25)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1320

Residual ,005 97 ,000

Total ,010 103

Sumber : Olahan Data Penelitian

Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

Uji ini dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Uji t

Tabel diatas menunjukkan bahwa variabel Dewan Direksi (DIR)mempunyai t hitung 1.665 dengan nilai sig 0.099 > 0.05, hal ini menunjukkan bahwa Dewan Direksi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 1.a ditolak

Ukuran dewan komisaris mempunyai t hitung 0.205 dengan nilai sig 0.205 > 0.05, hal ini menunjukkan bahwa Dewan Komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 1.b ditolak.

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,035 ,006 6,296 ,000 DIR ,001 ,000 ,190 1,665 ,099 KOM ,001 ,001 ,126 1,276 ,205 KOM_IND ,000 ,005 ,004 ,059 ,953 EKS_AUD -,003 ,002 -,115 -1,395 ,166 BOPO -,046 ,007 -,598 -7,132 ,000 LDR 3,449E-5 ,000 -,006 ,081 ,935

a. Dependent Variable: ROA Sumber : Olahan data Penelitian

(26)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1321 Ukuran komisaris independen mempunyai t hitung 0.059 dengan nilai sig 0.953 > 0.05, hal ini menunjukkan bahwa dewan komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 1.c ditolak.

Ukuran Eksternal Auditor mempunyai t hitung -1.395 dengan nilai sig 0.166 > 0.05, hal ini menunjukkan bahwa ekternal auditor big 4 tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 1.4 ditolak.

Ukuran BOPOmempunyai t hitung -7.132 dengan nilai sig 0.000 < 0.05 ini menunjukkan bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 2.a diterima.

Ukuran LDRmempunyai t hitung 0.081 dengan nilai sig 0.935 > 0.05, hal ini menunjukkan bahwa LDR tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan (ROA) sehingga hipotesis 2.b ditolak.

Pembahasan

Temuan penelitian ini adalah bahwa variabel Dewan Direksi (DIR) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA dengan nilai sig 0.099. Hasil Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewayanto (2010) yang tidak menemukan pengaruh Dewan Direksi terhadap Kinerja Perusahaan. Jumlah dewan direksi yang banyak ataupun sedikit tidak meningkatkan kinerja perbankan secara signifikan. Pelaksanaan tugas dengan baik lebih dirasakan bermanfaat ketimbang jumlah dewan direksi di dalam perusahaan.

Hasil temuan menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan dengan nilai sig 0.205. Berdasarkan statistik deskriptif, nilai rata-rata ukuran dewan komisaris cukup banyak. Namun rata-rata jumlah dewan komisaris masih dibawah jumlah dewan direksi. Ukuran anggota dewan komisaris yang masih dibawah jumlah dewan direksi membuat tugas pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris terhadap manajemen perusahaan lebih sulit yang nantinya berdampak pula pada kinerja perusahaan. Selain itu beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan proses pemilihan dewan komisaris yang kurang demokratis dimana kandidat dewan komisaris sering dipilih oleh manajemen sehingga setelah terpilih tidak berani memberi kritik terhadap manajemen. Hal itu mengakibatkan pengawasan yang dilakukan dewan komisaris tidak obyektif dalam melakukan pengawasan terhadap manajemen. Sebaiknya

(27)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1322 ukuran dewan komisaris ditambah sebanyak jumlah dewan direksi harus sama agar pengawasan menjadi lebih efektif. Hal ini dikarenakan fungsi utama dewan komisaris adalah mengawasi kinerja dewan direksi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purno & Hafid (2013) yang juga tidak menemukan pengaruh dewan komisaris terhadap kinerja perbankan.

Hasil temuan menunjukkan komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Purno & Khafid (2013) yang menyatakan komisaris independen tidak berpegaruh terhadap kinerja perbankan. Berdasarkan statistik deskriptif, jumlah komisaris independen cukup banyak. Komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan disebabkan karena tugas komisaris independen sama dengan dewan komisaris lainnya yaitu untuk mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perseroan dan memberikan nasihat-nasihat kepada direksi dalam menjalankan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam prakteknya tugas tersebut lalai dilaksanakan dikarenakan kurangnya informasi yang diperoleh komisaris termasuk komisaris independen. Alasan lain dikemukakan Veronica dan Utama (2005) yaitu dikarenakan pengangkatan komisaris independen mungkin hanya dilakukan untuk pemenuhan regulasi saja dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan good corporate governance dalam perusahaan. Tetapi jika pengangkatannya belum dilandasi kebutuhan perusahaan tapi hanya sebatas pemenuhan regulasi,

Hasil temuan menunjukan Eksternal Auditor tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewayanto (2010) yang menemukan bahwa eksternal auditor berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Didalam penelitiannya menemukan bahwa sesuai dengan Prinsip-prinsip dasar Corporate Governance yang disusun oleh OECD yang terdiri dari 5 aspek yaitu Transparency,Accountability, Responsibility, Independency and Fairnessdan penelitian seorang auditor memainkan peran penting sebagai pengawas bank untuk memastikan pengendalian laporan keuangan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Namun hal tersebut tidak dapat ditemukan pengaruhnya terhadap kinerja perbankan dalam penelitian ini. Ekternal Auditor yang berasal dari Big Four tidak dapat mempengaruhi kinerja perbankan. Karena

(28)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1323 Eksternal Auditor hanya berwenang dalam pengawasan bank, pengendalian bank dipegang oleh dewan direksi yang memegang kendali perbankan.

Hasil temuan menunjukan BOPO berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan dengan nilai sig 0.000. Nilai negative yang ditunjukkan BOPO menunjukkan bahwa semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktifitas usahanya, BOPO yang kecil menunjukkan bahwa biaya operasional bank lebih kecil dari pendapatan operasionalnya sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa manajemen bank sangat efisien dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Sesuai dengan temuan Sabir, Ali & Habbe (2012) yang juga menemukan pengaruh negatif BOPO terhadap Kinerja Perbankan.

Hasil temuan menunjukan LDR tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Widati (2012) dan Sabir, Ali & Habbe (2012) yang menemukan bahwa LDR berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Didalam penelitian mereka menemukan bahwa Pihak bank harus menilai calon debitur yang mempunyai karakter kuat, kemampuan mengembalikan uang, jaminan yang berharga, modal yang kuat, dan kondisi perekonomian yang aman sehingga aktivitas bank bisa berjalan dengan baik. Besarnya nilai LDR menunjukkan bahwa jumlah kredit yang disalurkan lebih besar dari dana pihak ketiga. Perbankan diharapkan menjaga besaran variabel LDR antara 80% - 110% sesuai dengan standar yang digunakan oleh Bank Indonesia.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Tidak terdapat pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Perbankan yang diproksikan dengan beberapa variabel :

a. Ukuran Dewan Direksi tidak terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan, ini berarti menunjukkan bahwa kinerja suatu perbankan tidak ditentukan dengan banyak atau sedikitnya jumlah dewan direksi, tapi kualitas dari kinerja dewan direksi tersebut dirasakan lebih berpengaruh terhadap kinerja suatu perbankan.

(29)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1324 b. Dewan Komisaris tidak terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan, ini berartimeningkat atau tidaknya kinerja suatu perbankan tidak bisa diukur dengan banyak atau sedikitnya dewan komisaris, melainkan pengawasan yang baik dan obyektif yang dilakukan oleh dewan komiasris lebih berpengaruh terhadap kinerja suatu perbankan.

c. Dewan Komisaris Independen tidak terbukti berpengaruh positf terhadap kinerja suatu perbankan, dengan jumlah dewan komsairasi independen yang cukup tidak berarti berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja suatu banksama seperti dewan komisaris yang lain, melainkan dengan menjalankan fungsinya dengan benar akan lebih berpengaruh terhadap kinerja suatu bank.

d. External Auditor Big4 terbukti tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan, ini berarti jika suatu bank diaudit dengan jasa audit big 4 tidak menjamin kinerja suatu bank akan meningkat, karena auditor pada dasarnya hanya berwenang sebagai pengawas bank, tetapi pengendalian suatu bank tetap dipegang oleh pihak manajemen yang memegang kendali perbankan.

2. Untuk pengaruh Rasio Kesehatan Bank yang diproksikan dengan variabel antara lain :

a. BOPO terbukti berpengaruh negatif terhadap Kinerja Perbankan, ini menunjukkan bahwa biaya opersional bank lebih kecil dari pendapatan operasionalnya sehingga hal ini menunjukkan bahwa manajemen bank sangat efisien dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Dengan kata lain semakin kecil BOPO menujukkan semakin efisien suatu bank dalam menjalankan aktifitas usahanya.

b. Loan To Deposit ratio (LDR) terbukti tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Ini berarti bahwa kemampuan perusahaan dalam menyalurkan kredit dengan dana pihak ketiga tidak bisa dijadikan ukuran kinerja suatu bank akan meningkat atau tidak, tapi lebih kepada bagaimana pihak bank bisa menilai calon debitur yang memenuhi kriteria sehingga aktivitas bank bisa berjalan dengan baik.

(30)

InoVasi Volume 15 ; April 2017 Page 1325 DAFTAR PUSTAKA

Brigham. Ehrhardt. (2005). Financial management : Theory And Practice, Eleventh Edition, Thomson South-Western Ohio, United States Of America.

Dewayanto, T. (2010). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perbankan Nasional. Fokus Ekonomi Vol. 5 No. 2 Desember 2010 : 104 – 123

Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hutapea, A. (2013). Analisis Pengaruh Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Sektor Perbankan‖. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro.

Klapper, L&F. Love, I. (2002). Corporate Governance, Investor Protection and Performance in Emerging Markets. Journal of Corporate Finance. Vol. 195

Oktapiyani, D. (2009). Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Likuiditas Perbankan Nasional. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

Purno, B &Khafid, M. (2013). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance terhadap Kinerja Perbankan. Simposium Nasional Akuntansi XVI. 2014, Manado. Respati, N &Yusniar, M. (2014). Penyusunan Indeks Tata Kelola Perbankan Dan

Pengaruhnya Terhadap Kinerja Perbankan Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi XVII. 24-27 September 2014, Lombok.

Sabir, M. Ali, M &Habbe, A. (2012). Pengaruh Rasio Kesehatan Bank Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah Dan Bank Konvensional Di Indonesia.

Jurnal Analisis, Vol.1 No.1 pp. 79 – 86

Widati, L. (2012). Analisis Pengaruh CAMEL Terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Go Public. Dinamika Akuntansi, Keuangan dan Perbankan, Nopember 2012, Hal: 105 - 119

Gambar

Tabel  uji  5.4  menunjukkan  besarnya  nilai  Durbin-Watson  hasil  uji  autokorelasi  untuk variabel ROA adalah (1.877)
Gambar  5.1  memperlihatkan  grafik-grafik  scatterplot  dari  variabel  dependen  yaitu  ROA
Tabel  diatas  menunjukkan    bahwa  variabel  Dewan  Direksi  (DIR)mempunyai  t  hitung  1.665  dengan  nilai  sig  0.099  &gt;  0.05,  hal  ini  menunjukkan    bahwa  Dewan  Direksi  tidak  berpengaruh  signifikan  terhadap  kinerja  perbankan  (ROA)  se

Referensi

Dokumen terkait

Faktor dominan yang diakibatkan dari beban kerja yang tinggi pada operator 1 adalah faktor kekuatan fisik, dimana dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa salah

Tujuan observasi adalah untuk mengetahui hal-hal yang tidak diungkapkan responden ketika wawancara. Selama pengujian berlangsung, evaluator akan mencatat respons atau

Jadi tuturan dengan kode (H5) tersebut merupakan basa-basi selamat, karena penutur bermaksud memulai pembicaraan dan mengucapkan selamat kepada mitra tutur dengan

◦ Buah kopi yang dipetik selektif pada saat masak optimal, maka mutu fisik dan citarasanya lebih baik dibanding dengan buah kopi yang dipetik racutan.  Cara penanganan

Dalam kaitannya dengan colinearity lengkap seperti antara gen dan polipeptida, dikatakan bahwa konsep colinearity kaku antara gen dan polipeptida, itu adalah konsep yang kaku

• Rongga glenoid pada skapula adalah tempat dimana kepala humerus (tulang lengan atas) berada, oleh karena itu memungkinkan anda memutar lengan anda pada bahu. • Prosesus

Satu rangkap berkas (poin a sampai j) dimasukkan ke dalam map (warna biru untuk S1 / D.IV dan warna merah untuk D.III) sesuai urutan di atas dengan menuliskan nama