• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN DIJK DALAM TEKS BERITA ONLINE: FENOMENA LGBT DI INDONESIA

Disusun guna memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Kajian Wacana

Dosen pengampu Prof. Dr. Drs. Suhardi, M. Pd

OLEH NURUL AINI NIM. 16706251033

PROGRAM STUDI LINGUISTIK TERAPAN

PROGRAM PASCASARJANA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk saling berinteraksi satu sama lain. Melalui bahasa manusia dapat menyampaikan ide, gagasan, pendapat dan lain sebagainya kepada orang lain. definisi bahasa dewasa ini juga telah berkembang sesuai fungsinya yakni bukan hanya sebagai alat komunikasi namun bahasa juga menjadi media perantara dalam memberikan pengaruh terhadap orang lain. Dengan demikian bahasa menjadi penting dalam kehidupan manusia baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai proses untuk mempengaruhi pikiran dan tingkah laku orang lain.

Dalam pandangan linguistik struktural bahasa mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Berdasarkan tingkatannya wacana merupakan hierarki tertinggi dan terlengkap dalam bahasa. Menurut Halliday (1978: 2), bahasa bukan hanya terdiri atas kalimat, melainkan juga terdiri atas teks dan wacana yang di dalamnya terdapat tukar menukar maksud dalam konteks interpersonal antara satu dengan yang lain. konteks yang dimaksud sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya masyarakat. Sejalan dengan pendapat Halliday, Guy Cook (dalam Sobur, 2009:56) mengatakan bahwa wacana meliputi teks dan konteks. Teks merupakan semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di atas kertas, melainkan juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks merupakan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan lain sebagainya. Berdasarkan konsep yang dikemukakan wacana dapat dibentuk berdasarkan konteks tertentu. Wacana dapat berada pada situasi dan kondisi tertentu.

(3)

Pandangan terhadap linguistik kritis didasari oleh beberapa tokoh diantaranya adalah Fowler, Fairclough, Van Dijk dan Wodak (Fauzan, 2014: 2). Lebih lanjut dijelaskan bahwa mereka menjelaskan keterkaitan antara komunikasi dan interaksi nyata yang diwarnai oleh ketidateraturan, kesenjangan, ketidakadilan dalam gender, media, politik, ras, kekuasaan, dan komunikasi lintas budaya. Dengan demikian menganalisis linguistik baik kata, frasa, kalimat hingga teks yang diutarakan ataupun dituliskan oleh seorang tokoh dapat mengungkap berbagai persoalan yang terjadi. Linguistik kritis sangat relevan untuk menganalisis fenomena-fenomena yang terjadi. Analisis wacana kritis melihat bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimapangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Pemanfaatan bahasa yang saat ini mendominasi media adalah penggunaan bahasa dalam wacana politik dan isu-isu yang dengan cepat mendapat reaksi masyarakat. Salah satunya adalah pemberitaan terkait bentuk penyimpangan seksual yang terjadi di masyarakat yaitu kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transjender). Kasus zina dan LGBT bukanlah kasus baru. Meski demikian kasus-kasus terkait perzinahan dan LGBT selalu hangat di Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia dan tindakan zina merupakan tindakan yang jelas-jelas dilarang oleh Islam.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan untuk uji materi terhadap pasal terkait kejahatan kesusilaan menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat dari pakar hukum tata negara, pakar kesehatan, pemuka agama, dan organisasi-organisasi lain turut andil memberikan komentar terkait fenomena LGBT. Pemberitaan yang mencuat dan ramai di media sosial adalah Putusan MK melegalkan tindakan zina dan LGBT. Pemberitaan tersebut pada akhirnya baik secara langsung dan tidak langsung membawa pengaruh besar kepada masyarakat sehingga masyarakat dengan mudahnya melabeli MK pro terhadap LGBT.

Media yang turut serta melakukan pemberitaan terkait wacana putusan MK adalah www.republika.co.id dan www.kompas.com. Dalam situs Pemberitaan putusan MK memberikan dampak terhadap kelompok-kelompok LGBT dan juga berdampak terhadap konsumen wacana tersebut.

(4)

sosial mempelajari konstruksi wacana yang berkembang dalam masyarakat terhadap suatu isu tertentu.

Oleh karena itu, pemberitaan putusan MK baik yang pro MK maupun yang kontra menarik untuk dikaji secara kritis melihat efek pasca putusan MK membentuk berbagai macam persepsi.

B.Rumusan masalah

Dari uraian latar belakang di atas rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana penerapan analisis wacana kritis Van Dijk pada berita online berjudul tema “tolak uji materi pasal kesusilaan, Sodik: MK tak pancasilais” dan “MK: Kami tidak melegalkan LGBT”!?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model analisis wacana kritis Van Dijk pada berita online berjudul tema “tolak uji materi pasal kesusilaan, Sodik: MK tak pancasilais dan “MK: Kami tidak melegalkan LGBT”!”

D. Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan terkait bagaimana menerapkan model analisis wacana kritis Van Dijk yang dikenal dengan model kognisi sosial Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya dan memperluas tema penelitian dalam bidang bahasa, khususnya analisis wacana kritis. Melalui analisis wacana kritis pula diharapkan penelitian-penelitian mengenai bahasa dapat lebih apli-katif dan ramah terhadap situasi dan peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat sehingga dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada di masyarakat.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Kajian Teoritis

1. Analisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk

Seperti telah dijabarkan dalam latar belakang di atas, analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk dikenal sebagai model kognisi sosial (Socio-Cognitive Approach/SCA). Van Dijk adalah seorang sarjana di bidang linguistik, analisis wacana dan analisis wacana kritis. Teun A. van Dijk adalah seorang profesor studi wacana di Universitas Amsterdam dari tahun 1968 hingga 2004, dan sejak tahun 1999 ia telah mengajar di Pompeu Fabra University, Barcelona.

Maqdum (2011) dalam tulisannya mengatakan Model van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial”. Nama pendekatan ini tidak dapat dilepaskan Dijk. Menurut Dijk penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanyalah hasil dari suatu praktek produksi yang harus juga diamati. Dalam hal ini harus dilihat bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bisa semacam itu. Proses produksi teks melibatkan proses yang disebut kognisi sosial yang diadopsi dalam ilmu psikologi sosial.

Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dijk menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut ke dalam suatu kesatuan analisis.

Dimensi pertama adalah teks di mana teks diteliti untuk menentukan tema tertentu dan bagaimana struktur teks dapat menegaskan hal tersebut. pada dimensi pertama struktur wacana terdiri atas tiga bangunan struktur yang membentuk satu kesatuan (Fauzan, 2014: 11) yaitu:

a. Struktur makro yakni yang menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat.

b. Super struktur yakni menunjuk pada kerangka wacana atau skematika

(6)

serta pemilihan sejumlah kata ganti. Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. Aspek retorika suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan. Apabila

digambarkan lebih ringkas menjadi sebagaimana yang dituliskan Eriyanto (2001, 228-229) seperti berikut:

Dengan demikian analisis wacana kritis model Van Dijk dirasa cukup praktis untuk mengkaji penggunaan bahasa melalui media.

2. Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transjender (LGBT)

(7)

Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender.

Istilah LGBT banyak digunakan untuk penunjukan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya.

Tiga terminologi menyangkut seksualitas manusia yaitu identitas seksual, orientasi seksual, dan perilaku seksual (Boelstroff, 2005: 282). Identitas seksual adalah pengakuan individu atau diri sendiri atas penentuan peran diri. Identitas seksual seseorang terbagi menjadi tiga golongan yaitu homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Perilaku seksual adalah segala perilaku yang dilakukan karena adanya dorongan seksual. Perilaku seksual berhubugan dengan fungsi organ reproduksi. Orientasi seksual adalah pola ketertarikan seksual emosional, romantik, dan atau seksual terhadap lelaki, perempuan, keduanya, tidak satupun, atau jenis kelamin lainnya.

LGBT tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan maupun agama. Fenomena LGBT selalu ramai diperbincangkan dan selalu menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan kaum LGBT dianggap sebagai minoritas yang memiliki penyimpangan orientasi seksual yang bertentangan dengan budaya dan agama di Indonesia.

Semakin ramai diperbincangkan orang-orang yang terhimpun di dalam LGBT pun semakin berusaha untuk menunjukkan eksistensi dan identitasnya di tengah masyarakat. Kaum LGBT menyerukan bahwa mereka memiliki hak yang sama seperti individu lainnya hanya saja mereka berbeda dalam pilihan orientasi seksual dan pilihan tersebut bukan sebuah kejahatan seksual.

3. Mahkamah Konstitusi (MK)

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (disingkat MKRI) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Agung.

(8)

Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Dengan demikian, Mahkamah Konstitusi adalah suatu lembaga peradilan, sebagai cabang kekuasaan yudikatif, yang mengadili perkara-perkara tertentu yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan UUD 1945.

4. Sumber Data

Data dalam penelitian ini merupakan data yang berjenis teks berita dengan dua topik yaitu: “tolak uji materi pasal kesusilaan, Sodik: MK tak pancasilais” yang merupakan opini yang dikemukakan oleh wakil ketua komisi VIII DPR, Sodik Mudjahid yang terdapat dalam Harian www.republika.co.id yang diterbitkan pada hari jumat 15

Desember 2017 pukul 04.00 WIB dan topik kedua adalah “MK: Kami tidak melegalkan LGBT!” yang dilansir dalam www.kompas.com yang terbit pada tanggal 18 Desember 2017 . Pemberitaan dalam media elektronik dipilih karena sebagai teks tertulis yang sangat mudah dikonsumsi masyarakat dari berbagai kalangan sehingga dinilai layak untuk menjadi sumber data.

5. Metode

Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian deskriptif

merupakan sebuah penelitian untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan menurut keadaan pada saat penelitian dilakukan (Arikunto, 2006: 54). Jadi, tujuan penelitian deskriptif adalah membuat penjelasan secara sistematis,

faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Metode yang digunakan untuk menganalisis wacana dalam teks berita adalah metode analisis wacana kritis model Van Dijk yang dikenal dengan kognisi sosial.

6. Hasil dan Pembahasan a. Dimensi Teks

(9)

1) Struktur makro

Teks wacana pertama yang dilansir dalam situs www.republika.co.id

mengangkat topik “Tolak Uji Materi Pasal Kesusilaan, Sodik: Mk tak Pancasilais”. Topik ini diangkat berkaitan dengan hasil putusan MK yang menolak uji materi pasal kejahatan kesusilaan. Putusan tersebut menuai reaksi dari berbagai kalangan masyarakat seperti akademisi, pakar kesehatan, agamawan, politisi dan lain sebagainya. Salah satu yang berargumen terkait putusan MK adalah anggota DPR dari fraksi Gerindra, Sodik Mudjahid. Topik tersebut merupakan opininya terkait putusan MK yang menolak permohonan perluasan norma hukum pada pasal 284, pasal 285, dan pasal 292 KUHP. Ketiga pasal ini merupakan pasal yang mengatur delik kesusilaan. Pemohon memohon agar memperjelas delik kesusilaan yang diatur dalam ketiga pasal ini. Setelah melalui proses yang panjang permohonan pemohon ditolak dengan komposisi 5 berbanding 4. Menurutnya tindakan MK menolak permohonan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal ini dinyatakan dalam paragraf berikut:

“Menurut Sodik, perluasan aturan ruang lingkup perzinahan memang berbasis agama, namun diakomodasi dan mengacu oleh Pancasila. "Karenanya (permohonan) harusnya diakomodasi oleh MK. (Karena putusan tersebut) MK tidak pancasilais tapi sekuler," ujar Sodik kepada wartawan melalui pesan singkatnya pada Kamis (14/12) malam.”

Kalimat di atas merupakan pernyataan yang dinyatakan Wakil Ketua Komisi VIII, Sodik Mudjahid. Dia berpendapat bahwa hukum yang ada di Indonesia bersumber dari agama. Namun agama bukan merupakan sumber hukum satu-satunya.

Selanjutnya wacana kedua merupakan jawaban dari berbagai anggapan negatif terhadap putusan MK yang disampaikan melalui siaran pers pada hari senin, 18 Desember 2017 sebagaimana berikut:

“Mahkamah Konstitusi menampik seluruh rumor yang menyatakan lembaganya melegalkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).”

(10)

melegalkannya," demikian lansir juru bicara MK dalam siaran pers yang diterima wartawan, Senin (18/12/2017).

Dari kedua tema wacana dapat diketahui bahwa wacana pertama merupakan wacana yang dibangun oleh orang-orang atau kelompok yang anti LGBT sedangkan wacana kedua adalah klarifikasi MK atas tuduhan dari berbagai kelompok yang anti LGBT. Ketika masyarakat yang membaca wacana pertama merupakan kelompok masyarakat yang fanatik dalam beragama wacana pertama dapat memberikan pengaruh. Label tak pancasilais yang disematkan merupakan label yang dapat membuat masyarakat beranggapan bahwa MK tidak mengindahkan nilai-nilai pancasila.

Namun dijelaskan dalam wacana kedua bahwa langkah yang ditempuh oleh MK sudah berdasarkan konstitusi dan aturan yang ada sebagaimana dijelaskan berikut

"Sesungguhnya seluruh hakim konstitusi mempunyai concern yang sama terhadap fenomena yang dipaparkan pemohon. Hanya saja, lima hakim berpendapat substansi permohonan yang dimaksud sudah menyangkut perumusan delik atau tindak pidana baru yang mengubah secara mendasar," ujarnya.

Yang mendasar itu adalah subjek yang dapat dipidana, perbuatan yang dapat dipidana, sifat melawan hukum perbuatan tersebut, sanksi dan ancaman pidana.

Dari wacana tersebut masyarakat bisa menilai bahwa MK bukan tidak tidak sepakat terhadap permohonan pemohon namun ada aturan yang tidak boleh dilanggar ketika MK melanggar maka sebenarnya MK menciderai hukum yang ada. Wacana ini diharapkan dapat membuka perspektif baru bagi para pembaca berita yang telah memandang buruk MK.

2) Super struktur

(11)

“Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruhnya permohonan uji materi terkait perluasan pasal perzinahan, perkosaan dan pencabulan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ia menilai MK tidak Pancasilais”

Paragraf pembuka dalam wacana telah menyatakan kekecewaan Sodik terkait putusan MK yang menolak perluasan uji materi terkait pasal kesusilaan. Pada paragraf ini Sodik melabeli MK sebagai lembaga yang tidak pancasilais.

Analisis super struktur terhadap isi. Bagian isi dalam teks ini berupa pernyataan berikut:

“Sodik menilai perlu ada aturan untuk mengatur hubungan seksual di luar pernikahan, hal ini karena Indonesia berdasarkan Pancasila. "Perlu ada aturannya kerena salah satu missi dan semangat dasar Pancasila adalah antara mempertahankan dan membina keetuhan keluarga Indonesia," kata Sodik.

Anggota DPR dari Fraksi Gerindra itu juga menyesalkan MK yang juga menolak uji materi tentang hubungan homoseksual. Dengan demikin juga MK menilai hubungan tersebut legal. Hal ini pun kata Sodik, bertentangan dengan nilai dasar Pancasila dan UUD 1945.”

Inti dari teks berita ini telah tersurat dalam dua paragraf di atas, yakni; pertama, menurutnya ada hukum yang dapat mengatur tindak kejahatan kesusilaan dan lebih jauh lagi bisa digunakan untuk mengabulkan permohonan pemohon namun realita di lapangan MK menolak hal tersebut sehingga terlihat jelas bentuk

kekecewaan Sodik Mudjahid dan menyimpulkan bagaimana MK menilai isu LGBT dan dalam mengambil putusan terhadap kasus LGBT. Sodik menitikberatkan pada nilai-nilai pancasila yang dapat digunakan untuk mengatur hubungan zina dan LGBT. Perbedaan suara diantara hakim MK bukan persoalan sudut pandang terhadap LGBTnya namun lebih pada perbedaan substansi perumusan perluasan norma.

Namun pada wacana kedua pihak MK memiliki argumentasi terkait perumusan perluasan pasal kesusilaan yakni:

(12)

Lebih lanjut substansi permohonan tersebut dijelaskan pada kalimat selanjutnya

Yang mendasar itu adalah subjek yang dapat dipidana, perbuatan yang dapat dipidana, sifat melawan hukum perbuatan tersebut, sanksi dan ancaman pidana.

"Sehingga hal itu sesungguhnya wilayah ciminal policy yang kewenangannya ada pada pembentuk UU (DPR dan presiden)," MK menegaskan.

Dari sini dapat dilihat MK membantah bahwa MK pro atau bahkan melegalkan LGBT di Indonesia. Alasan penolakan telah disampaikan secara jelas bahwa

perluasan tersebut diluar kewenangan MK. Dengan membaca kedua wacana di atas masyarakat dapat membandingkan sebelum mengambil sikap untuk pro LGBT atau anti LGBT.

Bagian penutup dari analisis super struktur merupakan jumlah hakim yang menolak dan menerima permohonan perluasan delik kesusilaan. Perbedaan suara dengan komposisi 5 banding 4 tentunya sangat disayangkan oleh kalangan yang kontra terhadap adanya LGBT di Indonesia khususnya.

Adapun dalam menghasilkan putusan MK tersebut terjadi 'dissenting opinion' atau perbedaan diantara hakim dengan komposisi 5 berbanding 4. Lima hakim berpendapat bahwa wewenang untuk memperluas delik

kesusilaan bukan berada pada wilayah MK. Hal ini dijelaskan dalam kalimat berikut Hanya saja, lima hakim berpendapat substansi permohonan yang dimaksud sudah menyangkut perumusan delik atau tindak pidana baru yang mengubah secara mendasar," ujarnya.

Yang mendasar itu adalah subjek yang dapat dipidana, perbuatan yang dapat dipidana, sifat melawan hukum perbuatan tersebut, sanksi dan ancaman pidana.

"Sehingga hal itu sesungguhnya wilayah ciminal policy yang kewenangannya ada pada pembentuk UU (DPR dan presiden)," MK menegaskan.

(13)

"Kami concern terhadap fenomena sosial yang dikemukakan oleh pemohon. Dalam putusan itu pun Mahkamah sudah menegaskan agar langkah perbaikan perlu dibawa ke pembentuk undang-undang untuk melengkapi pasal-pasal yang mengatur tentang delik kesusilaan tersebut," pungkasnya.

Dengan demikian dari analisis super struktur pada bagian pendahuluan, isi, dan penutup wacana pertama melalui apa yang dituturkan oleh Sodik bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat untuk semakin anti terhadap LGBT dan memiliki penilaian negatif terhadap MK. Masyarakat dapat menyimpulkan bahwa MK bekerja tidak sesuai dengan nilai pancasila sebagai dasar negara sehingga MK patut

dicurigai berpihak pada LGBT yang sejak lama menginginkan pengakuan hukum di Indonesia. Lebih jauh lagi MK yang merupakan lembaga yang memiliki kewajiban untuk menegakkan hukum ketika MK sebagai lembaga hukum memihak kepada kelompok-kelompok yang bersebrangan dengan budaya Indonesia maka hukum di Indonesia patut dipertanyakan oleh masrayakat Indonesia.

Disisi lain menghadapi berbagai macam kecaman dari masyarakat akhirnya MK mengambil tindakan untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan. Oleh karena itu MK mengambil langkah untuk melakukan siaran pers yang dimuat dalam

www.kompas.com. Melalui klarifikasi MK masyarakat memiliki pemahaman baru bahwa dalam memutuskan suatu bentuk hukum terdapat aturan yang mrngikat MK.

3) Analisis struktur mikro

Analisis struktur mikro dalam skema analisis wacana kritis Van Dijk merujuk pada makna lokal. Analisis ini dapat dilakukan melalui aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.

Aspek semantik

“Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruhnya permohonan uji materi terkait perluasan pasal perzinahan, perkosaan dan pencabulan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ia menilai MK tidak Pancasilais”

(14)

paragraf ini Sodik langsung memberikan penilaian pribadinya kepada MK dimana menurutnya MK tidak menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.

"Penolakan MK ini akan semakin memperkuat semangat kelompok LGBT untuk meluaskan perilaku dan misinya di Bumi Pancasila Indonesia," kata Sodik.

Pernyataan di atas dapat berdampak bagi para pembaca wacana, yakni wacana tersebut dapat menimbulkan efek ketakutan bagi masyarakat Indonesia. Makna yang dapat ditangkap oleh pembaca yakni LGBT sangat membahayakan karena membawa misi tertentu di Indonesia yang dapat menghancurkan bangsa Indonesia. Kalimat di atas memiliki makna bahwa tindakan MK yang menolak permohonan perluasan delik kesusilaan merupakan tindakan yang keliru yang membuat LGBT merasa di atas angin sehingga kelompok-kelompok ini dianggap akan bertindak secara leluasa dan terorganisir di Indonesia. Padahal menurutnya hukum tersebut masih dapat meminimalisir gerakan LGBT di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari pernyataan berikut

"Perlu ada aturannya kerena salah satu missi dan semangat dasar Pancasila adalah antara mempertahankan dan membina keetuhan keluarga Indonesia," kata Sodik.

Dari pernyataan di atas tentunya pembaca semakin membenarkan bahwa aturan yang dikeluarkan MK dapat menjerat LGBT dan menyelamatkan Indonesia sayangnya hal itu tidak dilakukan oleh MK.

Menyikapi hal di atas MK berpendapat bahwa isu LGBT bukan hanya menjadi sorotan masyarakat melainkan juga pihak MK. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataan berikut

"Kami concern terhadap fenomena sosial yang dikemukakan oleh pemohon.

Pernyataan tersebut dilanjutkan dengan bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan untuk menanggapi fenomena tersebut sebagaimana dipaparkan berikut ini

Dalam putusan itu pun Mahkamah sudah menegaskan agar langkah perbaikan perlu dibawa ke pembentuk undang-undang untuk melengkapi pasal-pasal yang mengatur tentang delik kesusilaan tersebut," pungkasnya.

(15)

bertujuan untuk menegaskan bahwa MK tidak memiliki kewenangan untuk memperluas hukum dan masyarakat diminta untuk tidak segera menyimpulkan sebelum mengetahui secara jelas permasalahan yang ada.

a) Aspek sintaksis

Analisis sintaksis adalah analisis yang berkaitan dengan susunan dan penataan kalimat penutur. Susunan dan

penataan kalimat ini diramu sebaik mungkin dengan harapan tujuan dan sasaran yang diinginkan dapat dicapai. Berikut akan disajikan analisis dalam lingkup sintaksis pada kedua wacana

Anggota DPR dari Fraksi Gerindra itu juga menyesalkan MK yang juga menolak uji materi tentang hubungan homoseksual

“Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruhnya permohonan uji materi terkait perluasan pasal perzinahan, perkosaan dan pencabulan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ia menilai MK tidak Pancasilais”

Kekecawaan anggota DPR ini tercermin melalui kata “menyesalkan” dan ditegaskan dengan kata “menyayangkan” pada kalimat lainnya. Dari sini Sodik ingin menegaskan bahwa dia tidak sepakat dengan putusan MK yang dinilai pro terhadap LGBT. Ketidaksepakatannya kembali ditekankan kembali melalui kata “harusnya” pada paragraf di bawah ini.

"Karenanya (permohonan) harusnya diakomodasi oleh MK. (Karena putusan tersebut) MK tidak pancasilais tapi sekuler," ujar Sodik kepada wartawan melalui pesan singkatnya pada Kamis (14/12) malam.”

Kekecewaan tersebut bukan tanpa alasan. Pada kalimat lainnya dia menjelaskan kembali bahwa putusan MK akan berdampak negatif bagi mayoritas masyarakat Indonesia dan memberikan angin segar bagi kaum LGBT. Hal itu ditunjukkan dengan kata “memperkuat” seperti di bawah ini.

(16)

Dari keempat pilihan kata yakni “menyesalkan” , ”menyayangkan” , ”harusnya” , dan “memperkuat” mengindikasikan bahwa kata tersebut dipilih untuk membangun persepsi pembaca wacana. Keempat kalimat tersebut dinilai mampu mempengaruhi pemahaman pembaca sehingga pembaca terpengaruh dan menyepakati apa yang dipaparkan.

Terakhir dalam analisis aspek sintaksis sebagai penutup, apa yang menjadi pikiran anggota DPR tersebut ditandai dengan penilaiannya terhadap MK ditandai dengan konjungsi sebagaimana berikut

Dengan demikian juga MK menilai hubungan tersebut legal. Hal ini pun kata Sodik, bertentangan dengan nilai dasar Pancasila dan UUD 1945.”

Pernyataan di atas dibantah dengan menggunakan kata “menampik” dalam wacana kedua sebagaimana berikut

Mahkamah Konstitusi menampik seluruh rumor yang menyatakan lembaganya melegalkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Pada wacana ini masyarakat mendapat konfirmasi langsung dari pihak MK bahwa apa yang diberitakan terkait LGBT dan putusan MK adalah tidak benar. Anggapan MK melegalkan LGBT juga dibantah dan ditegaskan dalam pernyataan di bawah ini

"Tidak ada satu kata pun dalam amar putusan dan pertimbangan Mahkamah yang menyebut istilah LGBT, apalagi dikatakan

melegalkannya,"

MK yang dinilai melegalkan LGBT menekankan kembali bahwa MK tidak melegalkan diwakilkan oleh kata “sesungguhnya” dalam dua kalimat berikut ini

"Sesungguhnya seluruh hakim konstitusi mempunyai concern yang sama terhadap fenomena yang dipaparkan pemohon.”

"Sehingga hal itu sesungguhnya wilayah ciminal policy yang kewenangannya ada pada pembentuk UU (DPR dan presiden)," MK menegaskan.

b) Aspek stilistik

(17)

menyampaikan pesan, maksud, dan ideologinya. Pilihan kata dalam bertutur sangat mempengaruhi penerimaan pesan oleh lawan tutur atau pembaca wacana. Kasar, halus, lemah, dan lembut dalam berbahasa tidak hanya dipengaruhi oleh

intonasi tuturan, tetapi juga pilihan kata. Pilihan kata dalam kedua wacana tersebut tergolong kata baku. Masing-masing wacana menyampaikan maksud agar pembaca mengetahui bahwa ada pihak yang anti LGBT dan tidak sepaham dengan MK dan demi lurusnya sebuah pemahaman masyarakat maka wacana kedua hadir sebagai bentuk klarifikasi. Dengan

dimuatnya wacana kedua pembaca memiliki pembanding dalam menyimpulkan persoalan LGBT.

c) Analisis retorika

Kajian retorika dalam analisis wacana kritis Van Dijk menganalisis hal terkait grafis, metafora, dan ekspresi. Dalam penelitian ini hal yang dikaji dari ketiga poin tersebut adalah ekspresi sebagaimana berikut:

“Menurut Sodik, perluasan aturan ruang lingkup perzinahan memang berbasis agama, namun diakomodasi dan mengacu oleh Pancasila. "Karenanya (permohonan) harusnya diakomodasi oleh MK. (Karena putusan tersebut) MK tidak pancasilais tapi sekuler.”

Dengan demikin juga MK menilai hubungan tersebut legal. Hal ini pun kata Sodik, bertentangan dengan nilai dasar Pancasila dan UUD 1945. "Penolakan MK ini akan semakin memperkuat semangat kelompok LGBT untuk meluaskan perilaku dan misinya di Bumi Pancasila Indonesia," kata Sodik.

Kalimat di atas merupakan bentuk ekspresi Sodik yang menyayangkan putusan MK hingga mengklaim MK melegalkan LGBT. Menanggapi hal ini MK menyatakan:

"Tidak ada satu kata pun dalam amar putusan dan pertimbangan Mahkamah yang menyebut istilah LGBT, apalagi dikatakan melegalkannya,"

(18)

sehingga seluruh klaim dan tuduhan MK dari pembaca wacana yang anti LGBT terbantahkan.

Wacana pertama dinilai berbahaya ketika pembaca wacana hanya membaca wacana pertama. Pemahaman yang ingin dibangun oleh Sodik kepada para konsumen wacana adalah pemahaman di mana lembaga MK salah dalam mengambil keputusan. Pernyataan Sodik dapat memperkeruh situasi Indonesia saat ini karena dengan pernyataan demikian banyak orang yang akan menuding dan menyalahkan MK.

b). Dimensi Kognisi Sosial

Menganalisis dimensi kognisi sosial berarti kita harus mengetahui bagaimana pemahaman dan pengetahuan (background of knowledge) wakil ketua komisi VIII DPR, Sodik Mudjahid terkait isu LGBT yang berkembang di Indonesia serta

kepentingan yang ada dibalik sikapnya tersebut, mengingat bagaimanapun juga Sodik merupakan salah satu politisi dari fraksi Gerindra. Berasal dari keluarga ulama dan pendidik, Sodik adalah aktivis pendidikan dan pembinaan masyarakat. Sodik adalah Ketua dari Yayasan Darul Hikam yang mengelola TK-SD-SMP-SMA Darul Hikam International School dan Direktur dari Pusat Data dan Dinamika Ummat di Bandung. Melihat latar belakang dan prefosi Sodik sebagai ulama maka wajar dia sangat

menentang LGBT karena LGBT bertentangan dengan agama khususnya Islam. Di sisi lain melihat pilihan politik yang dipilih oleh Sodik yakni Gerindra tentu wacana-wacana yang dibangun membawa kepentingan Gerindra.

c). Dimensi Konteks Sosial

Melihat Indonesia yang menganut budaya timur, eksistensi LGBT tentu sulit diterima di wilayah Indonesia. Ditambah Indonesia sebagai negara dengan mayoritas masyarakat beragama Islam di mana hukum Islam melarang hubungan sesama jenis. Hal ini dikisahkan dalam peristiwa yang menimpa kaum nabi Luth AS. Kedua latar belakang ini menjadi dasar penolakan tumbuh dan berkembangnya kelompok LGBT di Indonesia belum lagi jika ditinjau dari segi kesehatan sehingga banyak kalangan yang menjadi anti terhadap LGBT.

(19)

LGBT. Setelah melalui proses panjang akhirnya MK memutuskan untuk menolak permohonan tersebut dengan suara 5 banding 4. Keputusan inilah yang membuat MK dikecam berbagai pihak. Wacana MK melegalkan LGBT oleh pihak yang anti LGBT tidak dapat dihindari. Dengan banyaknya berita yang menyatakan MK melegalkan LGBT masyarakat memandang Indonesia cenderung membiarkan LGBT berkembang di Indonesia melalui MK yang tidak memperluas hukum yang ada. Oleh karena itu MK mengklarifikasi tuduhan tersebut dengan memaparkan aturan hukum yang berlaku dan mengikat MK.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

(20)

B. Saran

Hasil analsis wacana teks berita di atas tentu hasilnya sangat kurang komprehensif dikarenakan keterbatasan peneliti. Untuk itu, perlu dilanjutkan dengan analisis yang lebih lengkap dan mendetail, yakni pada konteks kekuasaan dan budaya sehingga dapat dilihat bagaimana keberpihakan pemberi wacana.

Daftar Pustaka

Alex Sobur. (2009). Analisis teks media. Bandung: Remaja Rosdakarya Arikunto, Suharsimi. (2006). Manajemen penelitian. Jakarta: Rhineka Cipta.

Boelstroff, Tom. (2005). The gay archipelago: Sexuality and nation in Indonesia. Priceton & Oxford: Princeton University Press

Eriyanto. (2001). Analisis Wacana (Pengantar Analisis Teks Media). Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang

Fauzan, Umar. (2014). Analisis wacana kritis dari model Fairclough hingga Mills. Jurnal Pendidik. Vol. 6 No. 1

Halliday M. A. K. (1978). Language as s social semiotic. London: University Park Press

(21)

https://id.wikipedia.org/wiki/LGBT. Diakses pada tanggal 26 Desember 2017

https://id.wikipedia.org/wiki/Mahkamah_Konstitusi_Republik_Indonesia. Diakses pada tanggal 26 Desember 2017

https://id.wikipedia.org/wiki/Sodik_Mudjahid. Di akses pada tanggal 31 Desember 2017

Lampiran Wacana 1

Tolak Uji Materi Pasal Kesusilaan, Sodik: MK tak Pancasilais Jumat, 15 Desember 2017, 04:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruhnya permohonan uji materi terkait perluasan pasal perzinahan, perkosaan dan pencabulan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ia menilai MK tidak Pancasilais

(22)

tersebut) MK tidak pancasilais tapi sekuler," ujar Sodik kepada wartawan melalui pesan singkatnya pada Kamis (14/12) malam.

Sodik menilai perlu ada aturan untuk mengatur hubungan seksual di luar pernikahan, hal ini karena Indonesia berdasarkan Pancasila. "Perlu ada aturannya kerena salah satu missi dan semangat dasar Pancasila adalah antara mempertahankan dan membina keetuhan

keluarga Indonesia," kata Sodik.

Anggota DPR dari Fraksi Gerindra itu juga menyesalkan MK yang juga menolak uji materi tentang hubungan homoseksual. Dengan demikin juga MK menilai hubungan tersebut legal. Hal ini pun kata Sodik, bertentangan dengan nilai dasar Pancasila dan UUD 1945. "Penolakan MK ini akan semakin memperkuat semangat kelompok LGBT untuk meluaskan perilaku dan misinya di Bumi Pancasila Indonesia," kata Sodik.

Adapun dalam menghasilkan putusan MK tersebut terjadi 'dissenting opinion' atau perbedaan diantara hakim dengan komposisi 5 berbanding 4.

Sumber:http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/15/p0yya7354-tolak-uji-materi-pasal-kesusilaan-sodik-mk-tak-pancasilais. Diakses pada tanggal 23 Desember 2017

Wacana 2

MK: Kami Tidak Melegalkan LGBT! Rivki - detikNews

Jakarta - Mahkamah Konstitusi menampik seluruh rumor yang menyatakan

lembaganya melegalkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). MK menegaskan seluruh hakim konstitusi mempunyai concern yang sama terhadap fenomena yang dipaparkan pemohon.

"Tidak ada satu kata pun dalam amar putusan dan pertimbangan Mahkamah yang menyebut istilah LGBT, apalagi dikatakan melegalkannya," demikian lansir juru bicara MK dalam siaran pers yang diterima wartawan, Senin (18/12/2017).

Putusan yang dimaksud adalah berkenaan dengan permohonan perluasan delik

kesusilaan yang diatur dalam Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 KUHP. Pemohon meminta MK memperjelas rumusan delik kesusilaan yang diatur dalam pasal-pasal tersebut.

(23)

permohonan yang dimaksud sudah menyangkut perumusan delik atau tindak pidana baru yang mengubah secara mendasar," ujarnya.

Yang mendasar itu adalah subjek yang dapat dipidana, perbuatan yang dapat dipidana, sifat melawan hukum perbuatan tersebut, sanksi dan ancaman pidana.

"Sehingga hal itu sesungguhnya wilayah ciminal policy yang kewenangannya ada pada pembentuk UU (DPR dan presiden)," MK menegaskan.

"Kami concern terhadap fenomena sosial yang dikemukakan oleh pemohon. Dalam putusan itu pun Mahkamah sudah menegaskan agar langkah perbaikan perlu dibawa ke pembentuk undang-undang untuk melengkapi pasal-pasal yang mengatur tentang delik kesusilaan tersebut," pungkasnya. (rvk/asp)

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel di atas kita bisa melihat bagaiamana motif diri menjadi faktor yang penting dalam mengembangkan kegiatan khithabah di kalangan mahasiswa.. Motif diri ini juga

SPSS yang telah dilakukan di atas, diperoleh nilai sig 0.001, nilai tersebut < 0.050, maka dapat disimpulkan bahwa Produk berpengaruh signifikan terhadap

Abstrak: Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan. Salah satunya ialah home industry/ rumah usaha produk barang atau juga perusahaan

Pada penggunaan bahan pengemulsi dinatrium hidrofosfat, keju yang dibuat dengan koagulan renin sapi lebih keras daripada keju yang dibuat dengan renin M.. Hal

Sepeda Motor adalah jenis Kendaraan yang dikenal memiliki mobilitas yang tinggi untuk bergerak, serta mampu memanfaatkan ruang yang relatif sempit untuk dapat

Pola pertumbuhan jumlah daun tanaman vetiver selama 10 MSP menunjukkan peningkatan jumlah, terutama pada perlakuan yang memiliki jumlah bibit 2 per lubang (Gambar

Dengan adanya program wonderfull Indonesia yang merupakan produk pemerintah untuk memasarkan pariwisata Indonesia di mata dunia, pemerintah Kabupaten Banyumas

Dengan permasalahan yang muncul di kawasan Dukuh Atas diperlukan sebuah studi mengenai yang dapat menjawab berbagai permasalahan disintegrasi, konflik sirkulasi, dan