• Tidak ada hasil yang ditemukan

FUTUROLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FUTUROLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

FUTUROLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Suatu Rekayasa Kebudayaan Pendidikan Islam) Prolog Pendidikan Islam mendapatkan tantangan-tantangan (challenges) yang kompleks. Kompleksifitas yang holistik (menyeluruh), dari sisi ontologis, epistemologis hingga aksiologis. Oleh karenanya, Syed Muh. Naquib al-Attas dan beberapa pemikir pendidikan Islam lainnya, gelisah, bimbang dan resah. Mereka menginginkan pendidikan Islam dikembalikan pada tradisi-kebudayaan Islam murni, bukan mengimplementasikan sistem pendidikan ala Barat, yang secara sistem kebudayaan punya konstruksi filosofis berbeda dari Islam. Bagi pemikir Barat, agama (religion) dianggap sebagai salah indikator kemunduran masyarakat Barat, bahkan filosof Barat, berkeyakinan bahwa agama tidak memiliki aspek karakter kemanusiaan, teokratis-dominan. Sedangkan, bagi Muslim, Islam adalah landasan berfikir, bertindak dan bersosialisasi dengan masyarakat. Islam masuk keseluruh aspek kehidupan masyarakat. Islam menjadi way of life, stand point, dan solver dari problematika yang dihadapi masyarakat muslim. Dari kegelisahan di atas, mereka mengkampanyekan slogan “Islamisasi” sebagai anti-thesa dari “westernisasi”, “modernisasi”, “sekularisasi” dan lain sebagainya. Islamisasi yang mereka maksudkan adalah usaha mentransformasikan khazanah keilmuan Islam berlandaskan pada pemikiran-pemikiran Islam sendiri, yang pastinya bermuara dari dua warisan umat Islam, yakni al-Qur’an dan Hadits. Bagi para pengusung

Islamisasi, al-Qur’an dan hadits adalah sumber ilmu pengetahuan murni. Al-Qur’an dan Hadits sudah mengajarkan tentang Tuhan, realitas Manusia dan alam. Al-Qur’an dan Hadist juga menghargai adanya rasionalitas manusia, sebagai potensi yang given dari Tuhan. Konsep islamisasi mayoritas dilaksanakan di negara-negara yang sistem politiknya berpedoman pada kebudayaan Islam, misalnya Pakistan, Iran dan beberapa Negara lainnya. A.K Brohi dalam tulisannya berjudul “education in

ideological state” mengungkapkan bahwa Islam sebagai suatu sistem yang paripurna wajib diinternalisasi sebagai sistem budaya, tindakan bahkan habitus masyarakat . Jalaludin Rahmat memiliki pandangan sama tentang kecendrungan kebudayaan Barat. Menurutnya, kekuatan rasionalisme abad modern di Barat, mempunyai implikasi negatif terhadap Islam, maklum karena kebudayaan Islam tidak hanya dibangun melalui satu jalur rasionalisme, melainkan nilai-nilai

transendentalisme, dan spritualisme . Islam memahami realitas kehidupan ada tidak selalu dimulai dari kerangkan berfikir belaka, tanpa berfikirpun, realitas kehidupan akan selalu ada dan terus berkembang . Bagaimanakah dengan Indonesia yang plural, dan berideologi pancasila bukan Islam ?. Akankah sistem pendidikan Islamnya mengikuti beberapa Negara Islam atau menanggalkan Islam kemudian beralih pada sistem Barat? Atau akankah tetap mendiamkan pendidikan Islam menjadi bagian diskursus dikotomis yang tak kunjung usai?. Robert Hefner

(2)

yang berkembang di beberapa Negara. Dan kemudian mencarikan konsep masa depan dengan pendidikan Islam di Indonesia, melalui sebuah kerangka rekayasa sosial -budaya pendidikan . Sebuah formulasi yang tidak hanya berlandaskan pada satu atau dua pandangan saja, melainkan berawal dari kesejarahan sosial -budaya pendidikan Islam, kemudian menganalisa kebudayan Indonesia, sehingga terdapat integrasi holistic-multidimensinal dari pandangan banyak tokoh. Dimensi sosial-budaya pendidikan Islam : perspektif antropologi Diskursus tentang pendidikan Islam tidak akan pernah terlepas dari dinamika politik dan kebudayaan suatu masyarakat. Untuk menganlisasi idea besar (grand idea), simbol kebudayan dan sistem sosial yang ada di dunia Islam. Maka dari itu, menurut penulis, antropologi adalah salah satu pendekatan (approach) yang cocok memahami pergeseran sosial-budaya pendidikan Islam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh HAR. Tilaar,

antropologi merupakan disiplin ilmu yang mampu mengkategorikan shifting paradigm akibat anomali-anomali yang terjadi di dalam sebuah kemasyarakatan . Senada dengan Tilaar, Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa antropologi pada awalnya merupakan disiplin ilmu untuk menalisa kebudayaan primitive (primitive culture) yang berubah diakibatkan oleh pendidikan dan pemahaman baru. Namun, setelah pergeseran kebudayaan yang begitu cepat, antropologi mengalami

perkembangan yang juga signifikan, dan masuk dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik sosial , ekonomi, budaya bahkan pendidikan. Masdar Hilmy dan Akh. Muzakki juga mengungkapkan bahwa : “ concern antropologi dalam kajian agama adalah Islam yang mengejewantah dan masyarakat yang mengambil Islam sebagai agama, yakni sebagai dasar bagi ekspresi keseharian mereka. Ekspresi keagamaan ini kemudian menyatu dalam kebudayaan secata keseluruhan…Jadi, antropologi membahas kenyataan yang ada dan berlaku dalam masyarakat suatu agama (what is), dan bukan bagaimana seharusnya agama itu berperilaku (what ought to be) ”. Sebuah kebudayaan masyarakat bisa dilihat dengan melalui antropologi. Rosalind I. J. Hacklett menyebutkan bahwa : Anthropology enjoys an ongoing dialectical tension between its scientific and humanistic sides. This is well characterized by James Peacock in his valuable introductory text on the anthropological enterprise:

‘Emphasis on culture and recognition of the subjective aspect of interpretation link anthropology to the humanities, yet its striving for sistem atization, generalization, and precise observation reflects the inspiration of the sciences’… French sociologist Émile Durkheim saw religious beliefs and concepts as the product of particular sosial conditions, rather than in intellectualist terms . Kutipan ini menyebutkan bahwa melalui antropologi kita akan mengetahui delektika ilmu pengetahuan da sisi kemanusian. Antropologi menekakan kepada kebudayaan dan kesadaran subjektif seseorang yang berkaitan dengan sikap kemanusiaan. Oleh karenanya, antropologi pendidikan Islam semestinya menjadi disiplin ilmu penyatuan

kebudayaan-kebudayaan yang secara kesejarahan berbeda-beda. Antropologi pendidikan Islam akan menyajikan beberapa pandangan-pandangan manusia tentang konsep

pendidikan Islam dari segi beberapa aspeknya. Antropologi pendidikan juga menghadirkan apa yang terjadi dan tidak memaksakan apapun. Dengan

(3)

berbentuk wujud real, dengan artian bahwa memasukkan Islam menjadi core subject bahasan, tindakan dan pelajaran, atau bisa pula berbentuk spirit dan subtansi untuk membudayakan umat Islam, sedangkan sistem dan landasannya berasal dari kebudayaan local dan global. Bukti bahwa pendidikan Islam terkait dengan konteks sosial-budaya yang dominan, adalah adanya variasi sistem yang terjadi di negara-negara Islam. Di Iran, setelah kemenangan kelompok revesioner Islam, sistem politik mereka menganut sistem politik Islam, nama negara mereka disebut dengan Republik Islam Iran. Dengan sistem politik yang demikian, Menurut Hadi Sharifi, seorang professor-sosiologi pendidikan Universitas Tehran,

menyebutkan tradisi kebudayaan pendidikan Islam merupakan bagian berbeda dan berlawanan dengan filosofi pendidikan Modern ala Barat. Menurutnya, filsafat pendidikan modern sangat terbatas, mudah dikritik dan diganti dengan sesuatu yang baru, karena filsafat pendidikan modern berawal dari nilai-nilai spekulatif manusia, tidak memiliki kebenaran yang absolute laiknya pengetahuan yang

diberikan al-Qur’an dan al-Hadits . Saat ini, potret pendidikan Islam di Iran disokong penuh oleh peranan politik pemeritah republik Islam Iran. Meski demikian, perlu diakui, Iran menjadi satu-satunya negara Islam yang masih stabil dibandingkan negara Pakistan, Afghanistan dan lain-lainnya. Dalam konteks kesejarahan muslim India, ada dua peristiwa sejarah yang biasa disebut. Pertama kehancuran imperium Mughal. Kedua pendudukan pemerintah inggris di India . Pada pemerintahan

Mughal, Islam menjadi dominan dan sangat kuat di India. Pendidikan Islam langsung dikontrol dari kerajaan mughal dari pusat. Pastinya, sistem pendidikan Islam pada masa itu, mengacu pada norma-norma Islam. Namun, setelah imperium Mughal mengalami kemunduran, imperium inggris mulai masuk dan menjajah India. Inggris kemudian mengganti sistem politik yang ada di India. Pendidikan Islam, bagi umat Islam, menghadi situasi yang dilematis. Kemiskinan, buta huruf (illetary) dan minim keterampilan (skill) menjadi ciri khas umat Islam. Kekuasan politik mereka dirampas juga oleh kekuatan Inggris . Melihat keberadaan sosial yang demikian, umat Islam tidak berdiam diri. Menurut Ira M. Lapidus di India, pada saat imprealisme Inggris, terdapat tiga polarisasi gerakan sosial keislaman. Pertama, gerakan sosial radikal, yang menfatwakan untuk berjihad melawan kerajaan Inggris. Kedua, kelompok yang tidak menerima kebudayaan Inggris namun mereka berdiam diri (silent community). Ketiga, adalah gerakan Aligarh (Aligarh movement) , sebuah gerakan yang dimotori oleh Syed Ahmad Khan dan kemudian dilanjutkan oleh para pengikutnya. Dalam konteks pendidikan Islam, gerakan Aligarh dianggap gerakan pembaharuan. Pasalnya, sistem pendidikan yang mereka kembangkan mengelaborasikan antara kurikulum Universitas Oxford Inggris dan kemampuan kebahasaan Arab. Sisa kesejarahan yang masih eksis dari tradisi pembaharuan pendidikan di India hingga saat ini, adalah Universitas Islam Aligarh, yang menyediakan dua aspek peradaban ilmu pengetahuan, yakni Arab dan Barat. Mesir, sebagai epicentrum peradaban Islam, mengalami permasalahan yang sama. Meski secara geografis, semestinya memiliki tradisi keislaman lebih kuat, tapi Mesir tetap negara yang berada di bawah kekuatan kebudayaan dunia. Abdur Rauf mengungkapkan kegelisahannya dikala Universitas Al-Azhar akan dilakukan modernisasi. Dia mulai mengingatkan para pemegang kekuasaan politik di Mesir agar berhati-hati dengan terma “reformasi”. Alasan kekhawatirannya, karena Universitas Al-Azhar merupakan warisan,

(4)

Al-Azhar juga menjadi Universitas Islam tertua yang memiliki kebudayaan dan tradisi special . Di lain pihak, sebelum kegelisahan Rauf diungkapkan, Abduh (1849-1905) dan Rasyid Rihdha sudah melakukan perubahan (reformasi) dalam

pendidikan Islam di Al-Azhar, mereka mengungkapkan bahwa kebutuhan reformasi adalah untuk menginterpretasi kembali nilai-nilai kebudayaan Islam sehingga mampu bersaing dengan peradaban Barat . Di Turki, pendidikan Islam di mulai dengan kekuatan para sistem politik kesultanan. Sultan Mahmud II, rupanya tidak menyukai tradisionalisme yang diwariskan dalam bingkai kenegaraan Islam. Sultan Mahmud II menjadi tokoh pembaharuan pertama di Turki . Selanjutnya, yang lebih ekstrim adalah pada masa Al-Tatruk, sosok modernis yang menskulariasi

masyarakat Islam di Turki. Argumentasinya adalah karena jika Turki mempertahankan Tradisi keislaman tradisional, mereka akan mengalami

keterbelakangan dibandingkan negara-negera Eropa lainnya . Di lain pihak, masih banyak umat islam yang menginginkan Turki sebagai representasi Negara yang berbasiskan Islam tidak mencontoh Barat. Pendidikan Islam menjadi solusi

internalisasi nilai-nilai demokratisasi dan modernisasi. Kebijakan pendidikan Islam yang dilakukan oleh pemerintahan Turki seiring sejalan dengan pendidikan Modern yang ada di Barat. Dialektika sosial -kebudayaan umat Islam dan pendidikan Islam merupakan sifat natural manusia secara antropologis. Dimensi kebutuhan manusia terhadap sebuah pengetahuan baru merupakan spirit lahiriah, bukan merupakan paksaan dari keinginan sosial . Kontjaraningrat mengungkapkan bahwa kebudayaan manusia modern sangat berbeda dengan dulu. Akses informasi yang cepat, sarana pendidikan yang variatif, dan komunikasi sosial yang berbeda dengan zaman primitif . Asimilasi kebudayaan tidak lagi memakan kurun waktu bertahun-tahun, bahkan hanya dengan hitungan hari paradigma seseorang akan berubah dalam pola pandangnya. Melihat nilai kesejarahan kebudayaan Islam dalam aspek pendidikan Islam di atas, terdapat dua karakter umum dalam mindset landasan pendidikan Islam global. Kelompok pertama adalah mereka yang ingin menjaga kebudayaan Islam dari asimilasi kebudayaan Barat. Bagi kelompok ini, kebudayaan islam sebagai suatu entitas dan identitas yang utuh, tidak bisa digabung-gabungkan dengan kebudayaan lain. Islam sudah lengkap, dan mampu bisa berdiri sendiri tanpa bersandar pada peradaban Barat. Kelompok kedua adalah kelompok pembaharuan. Pola pembaharuan pendidikan islam berorientasi; kepada pola pendidikan modern di Eropa. Kemudian, berorientasi dan bertujuan untuk

pemurnian kembali ajaran islam. Terakhir, Berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat Nasionalisme. Robert Hefner mengasumsikan bahwa pendidikan Islam di pelbagai negara berada di bawah pusaran egocentris Barat dan Timur . Hefner rupanya mengakui pendapat Samuel Huntington, tentang clash of civilization (pertempuran kebudayaan).Pertempuran dua kutub yang terkadang sulit dan terkadang mudah dipertemukan. Sulit, karena peradaban Barat dianggap penghancur kebudayaan masyarakat Timur. Mudah, karena seluruh sistem kebudayaan manusia mempunyai ciri khas yang sama, yakni kesamaan Hak Asasi Manusia dan kebebasan untuk berekspresi. Menilai

(5)

khususnya, pengajian al-Qur’an berkembang di Masjid surau, dan langgar, baik berbentuk TPQ atau hanya dialog antara murid dan Guru ngaji. Kedua, pondok pesantren. Pada konteks ini sistem pendidikannya melalui peng-asramaan peseta didik dalam satu lokasi tertentu. Pesantren merupakan salah satu pendidikan Islam tertua yang ada di Indonesia, yang sampai pada saat ini menjadi alternative untuk terus menjaga heritage kebudayaan Islam. Ketiga. Madrasah, yakni sekolah yang disponsori oleh pemerintah, dalam mempelajarkan pendidikan Islam . Pengajian di langgar merupakan bentuk pendidikan Islam tahap awal yang sangat sederhana. Yang mana proses pembelajarannya anak-anak berkumpul membentu khalaqah (lingkaran). Pelajaran atau materi yang dipelajari terbatas pada pembacaan al-Qur'an secara bergiliran saja. Dalam sistem ini, tidak ada tujuan pengajaran

(pendidikan), merode, dan kurikulum yang dirancang. Pengajaran dalam sistem ini dinyatakan berhasil apabila para muridnya sudah mahir melafalkan ayat-ayar al-Qur'an yang sudah diajarkannya secara fasih dan lancar. Dalam sistem ini juga tidak ada batasan usia murid dan lamanya proses pendidikan, selain itu tempat belajar tidak menetap dan bisa berpindah-pindah. Selanjutnya adalah pesantren .

Pesantren selain sebagai lembaga pembelajaran Islam, pesantren juga berfungsi sebagai motor penggerak pemberontakan kolonialisme belanda. Ajaran pesantren di masa belanda, berbeda sekarang. Demi meningkatkan sense of belonging terhadap Islam dan Indonesia, kiai-kiai pesantren menfatwakan haram menggunakan celana, sepatu dan atribut-atribut kolonial lainnya. Politik haramnya tasyabbuh (menyerupai Belanda) menjadi kerangka sistemik dalam pendidikan pesantren masa itu,

tujuannya untuk mendeferensiasi dari sistem sekolah (schooling) yang dibentuk Belanda. Memang, dalam sejarah kebudayaan Indonesia, belanda juga

melaksanakan sistem pendidikannya menganut sistem secular. Tujuannya adalah mereduksi kekuatan pesantren melalui kiai-kiainya. Madarsah di Indonesia sebagai nama dari sebuah lembaga pendidikan Islam baru populer setelah awal abad kedua puluh. Lembaga pendidikan Islam yang populer dikala itu adalah lembaga

pendidikan yang bersifat indegenius, yaitu pesantren, rangkang, dayah, dan surau. Dengan masuknya ide-ide pembaruan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia menginpirasi para pembaru untuk mengadopsi nama madrasah sebagai nama sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah disemangati oleh semangat baru. Madrasah membawa semangat pembaruan. Hal ini dapat dilihat dari madrasah sebagai gabungan dari dua sistem pendidikan yang telah muncul sebelumnya, yaitu pesantren dan sekolah, jadi madrasah adalah hasil perpaduan dari dua sistem sebelumnya. Adapun unsure yang diambi dari pesantren adalah ilmu-ilmu

keagamaan dan roh (semangat) keberagaman, sedangkan unsur yang diambil dari sekolah adalah ilmu-ilmu pengetahuan umum serta sistem dan manajemen sekolah. Perkembangan kebudayaan pendidikan Islam di Indonesia terus berkembang. Dari madrasah, para intelektual muslim menginginkan adanya lembaga Tinggi Islam. Tujuannya untuk mentradisikan ilmu-ilmu keislaman yang berkelanjutan. Perguruan Tinggi Islam, berupa banyak bentuk kelembagaan. Dari IAI, STAI, dan yang paling terakhir adalah Universitas Islam. Terbentuknya idea-idea tersebut merupakan dialektika pemikiran manusia dan kebutuhan umat Islam. Inilah yang disebut

(6)

Pasalnya, pendidikan di surau tidak ada berkaitan dengan dunia politik nasional atau global. Langgar tetap menjadi sarana pengajian bagi anak muda Islam. Berbeda dengan Pesantren, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Tiga lembaga pendidikan Islam terlihat mengalami distorsi kelembagaan ataupun kebudayaan. Pesantren, yang dulunya, dijadikan lembaga perlawanan terhadap kolonialisme belanda. Saat ini, ada beberapa pesantren “baru” yang menjadi lahan penanaman ideologi-ideologi garis keras. Meski, tidak terjadi di mayoritas pesantren bersejarah seperti Gontor, Sidogiri, Tebuireng Jombang, embrio pesantren garis keras menjadi problematika tersendiri yang dihadapi pendidikan Islam di Indonesia. Salah satunya, yang sudah menjadi common sense, adalah Pondok Pesantren Ngruki Jawa Tengah, yang diasuh oleh Abu Bakar Ba’asyir. Pesantren baru ini, terkenal setelah terjadinya bom Bali Pada bulan oktober 2002. KH. Hasyim Muzadi, menganggap bahwa

pesantren di Indonesia dewasa ini dipengaruhi oleh trans-nasionalisme. Trans-nasionalisme yang dimaksud adalah pendidikan Islam yang di-suply konten ajaran dan pendanaannya dari luar negeri. Berbeda dengan pesantren yang didirikan oleh NU atau Muhammadiyah, keduanya menurutnya tidak akan pernah merubah

paradigmanya untuk mendukung pancasila sebagai kekuatan bersama di bawah naungan NKRI . Selain itu, problem yang dihadapi pesantren juga lebih kompleks, dibalik tumbuhnya tekhnologi dan kondisi masyarakat yang sangat pragmatis. Pesantren dituntut tidak hanya memproduksi kiai belaka, melainkan juga para profesional-profesional muda, yang sesuai dengan tuntutan pasar. Dua

permasalahan simple ini bisa menunjukkan bahwa globalisasi membuat pesantren dituntut untuk beradaptasi. Sebenarnya ada isu-isu kebudayaan kontemporer lain, yang dapat mempengaruhi sistem pendidikan pesantren, seperti halnya, politik-pragmatis elite, femenisme, gender, pluralisme, multikulturalisme, dan kapitalisme. Jadi, pesantren di abad ke-20, tidak mungkin menggunakan sistem pendidikan klasik yang sudah turun temurun diwariskan para pendahulunya. Selanjutnya adalah Madrasah dan Perguruan Tinggi, sebagai lembaga formal pendidikan Islam, juga problematik. Menurut Nur Hamim, ada tujuh problem yang dihadapi lembaga formal pendidikan Islam di Indonesia: 1) Problem filosofis pendidikan Islam. 2) problem pengembangan kurikulum. 3) problem kualitas out-put pendidikan Islam. 4) isue-isue kontemporer pendidikan dan pengaruhnya terhadap pendidikan Islam. 5) problem kebijakan pendidikan Islam. 6) problem SDM Pendidikan Islam. 7) prospektif pendidikan Islam di Indonesia . Dari tujuh problem pendidikan Islam rupanya tak satupun bisa diselesaikan dengan seksama. Sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan, namun jauh dari memuaskan. Adi Husaini mengatakan bahwa problem pendidikan (baik Islam atau Umum) adalah problem kebudayaan bangsa. Budaya Indonesia akhir-akhir ini sulit digali nilai-nilai baiknya. Dia menambahkan, dengan mengutip ungkapan budayawan Mukhtar Lubis, bahwa budaya indonesia adalah hipokratis alias munafik, selanjutnya adalah segan dan enggan untuk bertanggung jawab. Ketiga adalah jiwa feodal. Keempat adalah masih adanya kepercayaan terhadap tahayyul. Kelima, watak yang lemah. Terakhir, kecendrungan masyarakat adalah sifat boros . Tampaknya, apa yang diungkapkan oleh di atas, benar-benar menjadi realitas seutuhnya dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Misalnya, korupsi berjemaah yang dilakukan kalangan birokrat, sifat amnesia disaat

(7)

pedagogik. Oleh sebab itu, pedogogisme telah menciptakan masyarakat alien (terasing), baik bagi dirinya atau masyarakat . Impasnya, tidak mengherankan pendidikan seakan-akan menjadi jurang yang dalam, dan sulit dilalui oleh para peserta didik. Faktanya, mungkin, memang demikian. Proses schooling

(penyekolahan formal) yang memagari iklim lingkungan pendidikan dan kehidupan luar, mengakibatkan peserta didik hanya memahami individunya sebagai wujud identitas tunggal, yakni sebegai seorang pendidikan, bukan agent kebudayaan. Prof. Hamka memberikan gambaran sosok pribadi (peserta didik) yang jauh dari

komunitas masyarakatnya, dengan menyebutkan banyak guru, hakim, dokter, yang mempunyai banyak karya dan gelar, tapi “mati” didalam masyarakat, hidupnya seakan-akan hanya untuk kehidupan pribadi, cita-cita dan profesinya sendiri. Masyarakat pendidikan di Indonesia lebih banyak “takut” keluar dari lingkungan pendidikannya, dibandingkan keberaniannya hadir di pilahan masyarakat Istilah “takut” yang diungkapkan oleh Hamka di atas, pasti, dapat dirasakan oleh komunitas pendidikan di Indonesia, lebih-lebih Pendidikan Formal Islam (baca : Madrasah dan PTAI). Pasalnya, pendidikan Islam masih teo-centris, dan jauh dari kebutuhan masyarakat (sosial needs) dari aspek kapitalisme pasar. Inilah sejarah sosial-budaya pendidikan Islam di Indonesia. Ada dua produk sosial-kebudayaan pendidikan Islam di Indonesia yang murni dimiliki Indonesia, yakni langgar atau surau dan pesantren. Sedangkan pendidikan Islam formal seperti madrasah ataupun perguruan tinggi Islam, merupakan produk dialektika antara kebutuhan masyarakat Islam dan kepentingan Global. Tidak mengherankan, di lembaga ini, terdapat perdebatan filosofis, problematika sistem yang harus dianut, problematika kualitas output yang diinginkan. Dengan demikian, sebuah keniscayaan, pendidikan formal Islam mengintegrasikan nilai-nilai warisan cakrawala Islam dan tidak

menutup internalisasi yang dimiliki oleh ilmuan Barat. Futurologi pendidikan Islam; multi-integrasi nilai-nilai kebudayaan Pendidikan Islam masa depan. Itulah yang akan menjadi content pembahasan tulisan ini. Sebenarnya, sudah ada banyak tawaran format pendidikan Islam masa depan. Terminologinya pun berbeda-beda. Salah satunya adalah pendidikan integratif. Pendidikan Intergratif adalah langkah kedepan untuk menghilangkan dikotomi Pendidikan Islam. Sebagai produk

(8)

sekolah-sekolah umum lainnya. Pendidikan Islam tidak humanis karena memaksakan hafalan, melegalkan pemukulan, dan pendisiplinan yang dipaksakan. Contoh dari tindakan ini, banyak terlihat di pondok pesantren atau madrasah di pondok pesantren, dimana santri harus menghafalkan nadzam, tahlil, dan lainnya. Di sisi lain, sekolah umum yang lebih longgor mempunyai kelemahan sikap keagamaan (relegiuisitas). Moralitas mereka jauh dari baik dan shaleh layaknya pondok pesantren. Oleh karenanya pendidikan humanis-religius ditawarkan. Tawaran hampir mirip dengan ini adalah pendidikan yang mengintegrasikan sikap rasionalitas dan spritualitas. Sebagaimana yang ditawarkan oleh Abdurrahman Mas’ud . Itulah beberapa bentuk tawaran ilmiah yang dapat dilaksanakan sebagai konsep pendidikan Islam masa depan. Namun, menurut penulis, diskursus (wacana) tetap saja berwujud diskursus, tidak akan berfungsi apa-apa. Berbeda kalau

seandainya semua diskursus tersebut diakui sebagai karya kebudayaan secara luas. Seyogyanya, yang perlu diintegrasikan adalah integrasi nilai-nilai kebudayan

(cultural integrated). Pasalnya, kebudayaan adalah keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Kontjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan, bagi

seorang antropolog, adalah “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar” . Dari sebuah gagasan tersebut kemudian menjadi sistem sosial, sistem ekonomi, termasuk sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Menurut Tilaar menyatakan ada tujuh kandungan modal kebudayaan dengan arti yang luas : Pertama Modal alam atau lingkungan yang akan dioleh oleh manusia sebagai pemiliknya, Kedua, Modal keuangan suatu negara. Ketiga Modal fisik yang dimiliki oleh manusia. Keempat Modal kelembagaan seperti pemerintahan Kelima Modal pengetahuan seperti halnya lembaga pendidikan Keenam, Modal manusia yang memiliki wawasan. Ketujuh, Modal dalam bidang bahasa . Tawaran integrasi tidak hanya satu sisi nilai integrasi individu (rasionalitas-spritual, humanitas-releguisitas dan lain sebagainya). Integrasi yang mesti dilakukan harus multi-dimensi

(9)

sebagai sebuah diskursus, dan tidak akan menampilkan tindakan-tindakan dalam wujud sistem sosial. Bahkan terkadang antara kerangka gagasan dengan

realistanya tidak dapat ditemukan. Integrasi pendidikan Islam melalui sistem

“tindakan pembudayaan” bisa dilaksanakan tanpa mereduksi keyakinan masyarakat terhadap suatu kebenaran. Salah satu contohnya adalah dengan mendidik agen kebudayaan (agent of culture) dengan sikap modal moralitas yang baik, tanpa menyalahkan sistem keyakinan yang mereka miliki. KH. Hasyim Muzadi menyatakan bahwa kenapa mesti ide-ide keilmuan yang mesti diislamkan, bukannya lebih

mudah dan realistis kalau seandainya orangnya yang diislamkan. Dengan artian, para ilmuan didik melalui etika-etika, dan tanggung jawab berdasarkan keislaman. Beliau medirikan Pondok Pesantren di dekat UI, tujuannya untuk membudayakan tindakan Islam sesuai dengan kebudayan Islam Indonesia, bukan mengislamkan gagasan-gagasan ilmu pengetahuan yang mereka miliki di Universitasnya. Terakhir adalah integrasi “produk kebudayaan pendidikan Islam Indonesia”. Pesantren adalah produk kebudayaan Indoensia asli. Sistem kebudayaan Pesantren adalah pemondokan (college). Dan inilah yang seyogyanya diintegralkan di dalam madrasah, dan perguruan tinggi. Alasanya, melalui sistem yang demikian, pendidikan akan masuk menjadi sistem kebudayaan, pembiasaan mereka akan merangi kehidupan dibawah sadar mereka. Produk dari sistem pendidikan ini

bukanlah educated people melainkan civilized people. Pembudayaan membutuhkan waktu lama, sedangkan jam belajar di sekolah cukup sebentar. Inilah yang

dikembangkan oleh Thomas Jefferson dengan konsep “feodalisme intelektual”. Sang Bapak demokrasi modern ini menganggap bahwa setiap orang memiliki

kemampuan, keinginan dan bakat yang berbeda-beda. Semuanya akan teratasi apabila ada yang memimpin secara konfehensif. Feodalisme intelektual mempunyai makna bahwa orang-orang yang berbakatlah yang akan memimpin

kelompok-kelompok masyarakatnya menuju satu kesuksesan . Di pesantren, setiap kelompok-kelompok masyarakat pasti ada musyrif, ustadz dan minimalnya punya ketua kamar yang dihuni oleh orang yang lebih senior. “Manusia yang utuh adalah manusia yang bebudaya”. Oleh karena itu, manusia adalah aget dari dirinya sendiri yang mencipta kebudayaannya sendiri. Manusia harus memahami nilai-nilai kebudayaannya

sendiri, sebagai wujud dari kepribadiannya. Asimilasi kebudayaan Islam dan Barat, hanya bagian untuk menjadi manusia yang utuh. Beberapa budayaan sudah

memberikan penjelasan yang demikian rupa tentang kebudayaan asli Indonesia. Itulah yang seyogyanya menjaadi lapisan awal dari kebudayaan kita. Bukan orang lain, atau internalisasi informasi yang dapat menghilangkan eksistensi, identitas dan entitas kebudayaan Indonesia. Epilog Apa yang dibahas panjang dan lebar di atas, adalah hasil dari kerangka kebudayaan manusia. Karya, karsa dan cipta yang akan memberikan kesan berbeda-beda bagi pengkaji kebudayaan. Untuk mengubah nature menjadi kebudayaan pastinya melalui proses pendidikan. Para pemikir

pendidikan Islam yang concern untuk mepertahankan nilai-nilai Islam, kemudian menolak kebudayaan barat, dikarenakan pendidikan dan keyakinan mereka tentang sebuah sistem kebudayaan. Begitu halnya, dengan para filosof pendidikan yang adaptip dengan modernisme dan kemajuan zaman, seperti Syed Ahmad Khan, Azzumardy Azra dan lain, juga meciptakan produk-produk intelektualitas

(10)

keberagamaan dihasilkan oleh produk kebudayaan. Kenapa pendidikan Islam tidak bisa dianggap sebagai produk kebudayaan yang bisa bertentangan seperti yang bisa disebutkan oleh Samuel Huntington. Antropologi Pendidikan Islam mungkin sangat jarang ditemukan menjadi kajian tersendiri. Sejarah sosiologi pendidikan Islam include dalam sejarah peradaban Islam. Lagi-lagi, kajian antropologi pendidikan lebih terlihat di Barat. Sepeti halnya, yang banyak dikutip oleh Tilaar dalam buku-bukunya. Indonesia, dalam sistem pendidikan Islamnya, sudah

Referensi

Dokumen terkait

The photographs mostly show young women with her pretty face and wearing modern clothes, we see that the representation of healthy women is tend to be modern, eventhough

19680 25 1992031006 Demikian laporan ini kami sampaikan untuk dijadikan data seperlunya , dan atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Sersama ini kami sampaikan dengan

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan, metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner, dan studi dokumentas, analisis data menggunakan metode

Majunya industri pariwisata dalam suatu daerah sangat bergantung terhadap jumlah peningkatan dan pemanfaatan Daerah Tujuan Wisata (DTW), sehingga dengan banyaknya

Sementara itu, Tawaf dan Kuswaryan (2006) berpendapat bahwa peternak rakyat memiliki ciri produktivitas usaha rendah, skala usaha kecil, pola usaha tradisional,

Peneliti tertarik untuk meneliti di Desa Polo Lereng karena Desa Polo lereng ini merupakan salah satu yang banyak dijadikan daerah tujuan transmigrasi, salah

Selain pendapat Imam az-Zuhrī di atas, pendapat lain yang digunakan oleh MUI adalah pendapat mutaqaddimin dari ulama mazhab Hanafi, yang membolehkan wakaf uang dinar dan

Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan promosi kawasan karst Bantimurung-Bulusaraung sebagai destinasi andalan wisata alam Kabupaten Maros dan menganalisis faktor-faktor