Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi
di Lingkungan Sekolah Tinggi Sandi Negara
Berdasarkan
National Institute of Standard and Technology
(NIST)
1
Jumiati,
2Santi Indarjani,
3Dwi Destrya Sofiana
1
Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Sekolah Tinggi Sandi Negara
2
Jurusan Teknik Persandian
Sekolah Tinggi Sandi Negara
3
Direktorat Pembinaan Persandian
Lembaga Sandi Negara
1
[email protected],
2[email protected],
3[email protected]
Abstraksi
Informasi merupakan salah satu aset organisasi yang sangat mendukung dalam proses pengambilan keputusan pimpinan. Pengamanan informasi sangat dibutuhkan agar kerahasiaan (confidentiality), keutuhan (integrity) dan ketersediaan (availability) informasi dapat terjaga dari segala ancaman yang akan mengganggu keberlangsungan kinerja organisasi. Perkembangan teknologi dan lingkungan bisnis yang semakin terbuka dalam interkoneksi jaringan global, telah menghasilkan kerawanan yang tinggi serta ancaman yang semakin kreatif, sehingga keamanan informasi menjadi satu hal penting yang tidak bisa diabaikan. Dalam hal keamanan informasi, unsur manusia merupakan unsur paling utama dan harus diperhatikan agar pengamanan informasi dapat berlangsung efektif.
Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang persandian dalam kerangka pengamanan informasi perlu melakukan pembinaan kesadaran keamana n informasi di lingkungan kampus. Hal ini dilakukan agar keamanan informasi menjadi framework pendidikan di STSN. Kesadaran keamanan informasi perlu ditanamkan di lingkungan STSN secara lebih efektif dan berkesinambungan.
Makalah ini membahas mekanisme pembinaan kesadaran keamanan informasi di lingkungan STSN dikaitkan dengan standar- standar SP800-100 National Institute of Standard and Technology (NIST) sebagai alternatif standar penerapan keamanan informasi yang banyak diterapkan secara internasional.
Kata Kunci
:
Informasi, Ancaman, Keamanan Informasi, Kesadaran Keamananan Informasi, NIST1. PENDAHULUAN
Salah satu aset penting organisasi adalah informasi yang perlu dikelola dengan sebaik-baiknya karena berperan dalam pengambilan keputusan pimpinan organisasi. Mengingat peran informasi dalam organisasi, ancaman dan kerawanan terhadap informasi semakin meningkat seiring munculnya persaingan antar organisasi. Pengamanan informasi sangat dibutuhkan agar kerahasiaan (confidentiality), keutuhan (integrity) dan ketersediaan (availability) informasi [1] dapat terjaga sehingga tidak mengganggu kinerja dan operasional organisasi.
Seberapa pentingkah diterapkannya sistem keamanan informasi di suatu organisasi atau perusahaan? Dan faktor apa saja yang menjadi tujuan dari sistem keamanan
informasi? InfoSecurity Europe telah mengklasifikasikan 10 faktor pemicu pentingnya diterapkan sistem keamanan informasi. Dan berdasarkan laporan teknis survey pelanggaran keamanan informasi tahun 2010 terhadap 539 perusahaan (besar dan kecil) yang dilakukan oleh InfoSecurity Europe, diperoleh diagram komposisi tingkat urgensi dari ke-10 faktor tersebut seperti yang tertera di Gambar 1. [2]
Gambar 1. Diagram Komposisi Faktor Pemicu Pentingnya Keamanan Informasi
Kegagalan proses pengamanan informasi akan berefek langsung terhadap kepercayaan pelanggan atau masyarakat yang dampaknya dapat mengganggu hingga membawa bencana bagi institusi bahkan keamanan nasional. Disisi lain perkembangan teknologi telah merubah lingkungan bisnis menjadi lebih terbuka dalam jaringan interkoneksi global (e-World), yang sangat rawan terhadap ancaman. Pertukaran informasi dalam jaringan global telah menjadi target potensial bagi para penyerang baik secara pasif maupun aktif. Hasil survey dari InfoSecurity Europe pada Information Security Breaches Survey 2010 terhadap tipe-tipe pelanggaran keamanan infromasi dapat dilihat pada Gambar 2. [2]
Gambar 2. Diagram Prosentase Tipe Pelanggaran terhadap Keamanan Informasi
Serangan terhadap keamanan informasi dapat berasal dari dalam (insider attacks) dan dari luar (outsider attacks). Dan dari data pelanggaran diatas, terlihat bahwa penyebab mayoritas pelanggaran adalah manusia baik secara individu maupun berkelompok. Bahkan terdeteksi bahwa pelanggaran paling besar justru dilakukan oleh staf, baik karena faktor kelalaian hingga faktor kriminal (white collar criminal).
Berdasarkan hal tersebut diatas, manusia memegang peranan kunci dalam penerapan sistem keamanan informasi. Mitnick dan Simon menyatakan manusia merupakan faktor utama dan penting dalam pengamanan informasi selain teknologi, karena manusia merupakan rantai terlemah dalam rantai keamanan. Oleh sebab itu, dimensi manusia perlu selalu dibina dengan baik agar segala bentuk ancaman dapat dihindari. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keamanan informasi [3].
Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) merupakan pendidikan tinggi kedinasan di bidang persandian yang menjadikan pengamanan informasi sebagai framework pendidikan melalui pembinaan kesadaran keamanan informasi di lingkungan kampus. Agar pembinaan kesadaran keamanan informasi dapat berjalan efektif dan berkesinambungan, STSN perlu menerapkan kesadaran keamanan informasi sesuai dengan standar yang ada. Salah satu standar yang dapat digunakan dalam pembinaan keamanan informasi adalah National Institute of Standard and Technology (NIST) SP800-100, Information Security Handbook: A Guide for Managers.
2. KAJIAN 2.1.Informasi
Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan [4]. Atau informasi dapat dikatakan sebagai keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik maupun non elektronik[5].
2
.
2.Keamanan InformasiSetiap individu dalam organisasi memiliki peran yang berbeda-beda terhadap informasi. Merupakan hal yang penting bagi seluruh anggota organisasi untuk memahami bagaimana peran dan tanggung jawab mereka terhadap informasi. Unsur utama yang menjadi subyek dari informasi adalah peran pengguna, pemilik, atau custodian terhadap informasi [1].
1) Owner/Pemilik
Pemilik bertanggung jawab atas informasi yang harus dilindungi. Pemilik informasi memiliki tanggung jawab terakhir untuk perlindungan data, dan sesuai dengan konsep kehati-hatian, pemilik dapat bertanggung jawab atas kelalaian atau kegagalannya untuk melindungi informasi yang sensitif. Namun fungsi perlindungan data sehari-harinya ditugaskan kepada custodian. Salah satu tugas penting dari pemilik adalah menentukan tingkat klasifikasi informasi yang diperlukan yang didasarkan pada kebutuhan organisasi untuk melindungi data serta memastikan bahwa setiap tingkat klasifikasi informasi memperoleh kontrol pengamanan yang tepat.
2) Custodian
Custodian adalah pihak yang bertanggung jawab untuk melindungi informasi yang diberikan oleh pemiliknya. Custodian bertanggung jawab untuk menjaga tiga aspek dasar informasi, yaitu kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability) informasi. Dalam aplikasinya, custodian harus mampu menentukan teknologi pengamanan yang tepat sesuai dengan klasifikasi informasi yang diamankan, baik secara fisik (firewall, access control) dan lojik (enkripsi, otentikasi). Dan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas keamanan, custodian harus mampu merumuskan prosedur operasi standar sesuai dengan kebijakan dan aturan yang ditentukan oleh pemilik. 3) User/Pengguna
Pengguna adalah pihak yang dianggap secara rutin menggunakan informasi sebagai bagian dari pekerjaannya. Pengguna juga dapat dianggap konsumen data, yang sehari-harinya membutuhkan akses ke informasi untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Pengguna harus mengikuti prosedur operasi yang ditetapkan dalam kebijakan keamanan organisasi, dan mereka harus mematuhi prosedur yang telah dipublikasikan. Selain itu, pengguna harus benar-benar peduli untuk mengamankan informasi yang sensitif sesuai dengan kebijakan keamanan informasi dan penggunaannya.
2.3.Kesadaran Keamanan Informasi
Kesadaran merupakan poin atau titik awal untuk seluruh pegawai suatu organisasi dalam mengejar atau memahami pengetahuan mengenai keamanan teknologi informasi. Dengan adanya kesadaran pengamanan, seorang pegawai dapat memfokuskan perhatiannya pada
sebuah atau sejumlah permasalahan atau ancaman-ancaman yang mungkin terjadi [7].
Tujuan kesadaran keamanan informasi adalah untuk meningkatkan keamanan dengan melakukan hal berikut:[1]
1) Pemilik, pengguna maupun custodian dari informasi paham akan tanggung jawab mereka terhadap sistem keamanan informasi dan mengajar mereka bagaimana bentuk pengamanan yang tepat, sehingga membantu untuk mengubah perilaku mereka menjadi lebih sadar akan keamanan;
2) Mengembangkan kemampuan dan pengetahuan sehingga pemilik, pengguna maupun custodian informasi dapat melakukan pekerjaan mereka dengan lebih aman;
3) Membangun pemahaman akan pengetahuan yang diperlukan, untuk merancang, mengimplementasikan, atau mengoperasikan program pembinaan kesadaran keamanan informasi untuk organisasi.
2.4.NIST SP800-50 dan SP800-16
NIST SP 800-50 dan SP 800-16 merupakan penjelasan terhadap implementasi NIST SP 100. NIST SP 800-50 bekerja pada level atau tingkat strategis yang lebih tinggi, membahas bagaimana cara membangun suatu pembinaan kesadaran keamanan informasi. Sedangkan NIST SP 800-16 bekerja pada level atau tingkat taktis yang lebih rendah, menggambarkan suatu pendekatan bagi pelatihan keamanan yang berbasis peran atau tanggung jawab pegawai organisasi.
NIST SP 800-50 mengidentifikasikan empat langkah penting dalam siklus kehidupan pembinaan kesadaran keamanan informasi:
1) Perancangan pembinaan kesadaran keamanan informasi
Pada langkah ini, ditekankan bahwa setiap organisasi perlu melakukan penilaian kebutuhan dan strategi pelatihan yang sesuai dan dapat diaplikasikan di organisasinya.
2) Pembangunan pembinaan kesadaran keamanan informasi
Langkah ini berfokus pada sumber-sumber pelatihan yang tersedia, ruang lingkup, isi, dan pengembangan materi pelatihan, termasuk permohonan bantuan kerja sama kepada pihak ketiga jika diperlukan. 3) Pelaksanaan pembinaan kesadaran keamanan
informasi
Langkah ini menjelaskan bagaimana komunikasi yang efektif dan metode yang tepat untuk digunakan pada pembinaan kesadaran keamanan informasi. 4) Pasca – Pelaksanaan pembinaan kesadaran keamanan
informasi
Langkah ini memberikan petunjuk agar jalannya program dan proses monitoring atau evaluasi dapat berjalan dengan efektif.
komponen utama, yaitu kesadaran (a wareness), pelatihan (awareness and role based training) dan pendidikan (education). Proses pembelajaran dimulai dengan adanya suatu kesadaran, yang dilanjutkan dengan suatu pelatihan, dan berkembang menjadi pendidikan. Ketiga model ini satu sama lainnya memiliki keterkaitan. sehingga proses pembelajaran keamanan informasi setiap individu menjadi semakin lebih komprehensif dan detail. Proses pembelajaran keamanan informasi ini dapat dikatakan sebagai sebuah model pembinaan kesadaraan keamanan informasi seperti terlihat pada Gambar 3.[7]
Gambar 3. Proses Pembelajaran Keamanan Informasi
2.5.Model Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi di STSN
STSN membentuk kerangka pendidikan keamanan informasi dalam suatu penyelenggaraan proses belajar mengajar yang lulusannya diharapkan mempunyai kompetensi di bidang keamanan informasi, khususnya persandian serta memiliki karakter dengan tingkat sensifitas dan kepedulian tinggi terhadap ancaman yang muncul dalam pelaksanaan tugas. Model pembinaan kesadaran keamanan informasi dilakukan untuk menumbuhkan, memantapkan dan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang sesuai dengan tuntutan tugas bidang keamanan informasi. Proses pembelajaran kesadaran keamanan informasi dilakukan secara bertahap dan melalui metode yang bervariasi, baik yang dilakukan secara akademik dalam kurikulum maupun non akademik dalam kegiatan ko-kurikuler, kuliah umum dan pengasuhan. Konsep ini diterapkan mengingat STSN adalah pendidikan berasrama.
Untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan STSN, proses pembinaan kesadaran di STSN tidak hanya fokus kepada mahasiswa, tetapi juga pada tenaga pendidik (dosen) dan tenaga kependidikan yang sangat berperan penting dalam penanaman kesadaran keamanan informasi di lingkungan STSN. Secara global framework pembinaan kesadaran keamanan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Model Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi di STSN
Dari model diatas, domain pembinaan kesadaran keamanan informasi mencakup tiga subyek yaitu : tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan mahasiswa. Dua subyek pertama yaitu tenaga pendidik dan kependidikan merupakan driven keberhasilan penerapan pembinaan kesadaran keamanan informasi pada mahasiswa, baik melalui jalur akademik (proses belajar-mengajar berdasarkan kurikulum) maupun jalur non akademik (kuliah umum, pembekalan dan pengasuhan). Pada proses belajar-mengajar (PBM) tenaga pendidik dalam hal ini dosen juga dituntut untuk memberikan motivasi dan doktrin tentang keamanan (softskill). Sementara kegiatan ko-kurikuler ditujukan untuk pengkayaan materi yang mendukung implementasi pembinaan kesadaran keamanan informasi diluar materi kuliah yang diberikan.
2.5.1.Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi terhadap Tenaga Pendidik
Pembinaan kesadaran keamanan informasi kepada tenaga pendidik dilakukan secara bertahap dan ditujukan kepada dua kelompok tenaga pendidik, yaitu dosen tetap dan dosen tidak tetap (dosen dari luar STSN).
1) Implementasi kesadaran (awareness)
Tahap awal pembinaan yang dilakukan terhadap dosen tetap yaitu dengan memberikan kesadaran (awareness) melalui latihan dasar intelijen pengamanan dan kursus kesadaran pengamanan yang memberikan gambaran mengenai ancaman dan resiko dalam pelaksanaan tugas serta bagaimana antisipasi menghadapi hal tersebut. Serta diberikan juga sosialisasi keamanan dalam bentuk ceramah, HS: Hard Skill
kuliah umum, diskusi kelompok keilmuan dan sosialisasi dalam rapat-rapat dosen. Sedangkan untuk dosen tidak tetap, pemberian kesadaran hanya dilakukan melalui sosialisasi keamanan dalam bentuk ceramah, diskusi kelompok keilmuan dan sosialisasi dalam rapat- rapat dosen. Hal ini dilakukan untuk memberikan pemahaman yang sama terhadap seluruh dosen mengenai konsep keamanan informasi sebagai kerangka pendidikan STSN.
2) Implementasi pelatihan (training)
Pelatihan terkait keamanan informasi untuk dosen tetap diberikan dalam bentuk diklat Sandiman atau diklat-diklat teknis yang terkait pengamanan persandian sehingga dapat membentuk profil insan sandi yang memiliki jiwa pengamanan serta juga diberikan dalam bentuk kursus-kursus sertifikasi seperti CISSP, CISA, PMP, CCNA, ISO implementer, dan CEH sehingga dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang keamanan informasi. Sedangkan untuk dosen tidak tetap, pelatihan diberikan dalam bentuk diklat-diklat teknis yang terkait pengamanan persandian.
3) Implementasi pendidikan (education)
Pembinaan kesadaran keamanan informasi melalui pendidikan diberikan dalam bentuk kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi (S2 atau S3) dengan bidang studi yang terkait keamanan informasi dan atau persandian. Pembinaan melalui pendidikan ini diberikan kepada seluruh dosen STSN (tetap dan tidak tetap) dalam bentuk beasiswa/biaya dinas.
2.5.2.Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi terhadap Tenaga Kependidikan
1) Implementasi kesadaran (awareness)
Pembinaan kesadaran keamanan kepada tenaga kependidikan dilakukan dalam bentuk kursus kesadaran pengamanan yang memberikan gambaran terkait ancaman dan resiko dalam bidang tugas persandian serta bagaimana langkah-langkah pengamanannya. Selain itu diberikan dalam bentuk pengarahan pimpinan STSN pada acara coffee morning atau gathering yang membahas mengenai pentingnya kepedulian atau kesadarang di lingkungan STSN. Serta diberikan juga sosialisasi keamanan dalam bentuk ceramah dan kuliah umum.
2) Implementasi pelatihan (training)
Pelatihan terkait keamanan informasi untuk tenaga kependidikan diberikan dalam bentuk diklat Sandiman atau diklat-diklat teknis yang terkait pengamanan persandian. Selain itu juga
diberikan dalam bentuk kursus-kursus sertifikasi seperti CISSP, CISA, PMP, CCNA, ISO implementer, dan CEH untuk lebih meningkatkan kompetensinya dalam pelaksanaan tugas.
3) Implementasi pendidikan (education)
Implementasi pembinaan kesadaran keamanan informasi dalam bentuk pendidikan, berupa beasiswa melalui biaya dinas untuk melanjutkan jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi (S2 atau S3) dengan bidang studi yang terkait keamanan informasi dan atau persandian. Pembinaan melalui pendidikan ini diberikan sesuai dengan tuntutan bidang tugas dan jabatan serta adanya skala prioritas kebutuhan.
2.5.3.Pembinaan Kesadaran Keamanan Informasi terhadap Mahasiswa STSN
Implementasi pembinaan kesadaran keamanan informasi terhadap mahasiswa STSN adalah sebagai berikut :
1) Implementasi kesadaran (awareness)
Kesadaran merupakan pembinaan tahap awal berupa pengenalan dan pemotivasian seseorang tentang lingkungan dan ancaman atau resiko yang dapat timbul dalam pelaksanaan tugas. Upaya kesadaran keamanan dirancang untuk mengubah perilaku atau menguatkan praktek-praktek keamanan yang akan dilakukan di masa mendatang. Kegiatan yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran keamanan antara lain : kegiatan Program Penerimaan Mahasiswa Baru yang memberikan gambaran mengenai pentingnya belajar keamanan informasi dan salah satu tehnik dalam keamanan informasi yaitu kriptografi , kegiatan Latihan Dasar Intelijen Pengamanan yang memberikan dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan di bidang pengamanan sehingga dapat mengantisipasi resiko atau ancaman dalam pelaksanaan tugas, kegiatan bidang pengasuhan yang membentuk sikap mahasiswa melalui nilai-nilai patriotisme, dapat dipercaya, dapat menjaga rahasia, dapat diandalkan, berdedikasi, disiplin, bertanggungjawab, memiliki jiwa kebersamaan, dan mandiri. Penanaman nilai-nilai ini dilakukan dengan mekanisme Reward and Punishment untuk kegiatan yang dilakukan mahasiswa.
2) Implementasi pelatihan (training)
informasi. Kegiatan yang dilakukan dalam pelatihan ini meliputi : kegiatan kokurikuler yaitu pemberian pengetahuan dan ketrampilan yang mendukung materi kuliah seperti implementasi ISO, pembuatan dan pengamanan database, pembuatan standar kriptografi, tehnik kriptanalisis dan lain sebagainya; kegiatan workshop yang dilakukan diluar jam kuliah dengan materi tehnik-tehnik hacking dan pengamanannya, tehnik pengamanan jaringan; kegiatan kuliah umum dengan materi keamanan informasi dan TIK yang dilakukan tiga kali dalam setahun.
3) Implementasi pendidikan (education)
Pendidikan keamanan informasi sifatnya lebih mendalam dibandingkan pelatihan keamanan informasi, dan ditujukan kepada para profesional keamanan yang dalam pekerjaannya memerlukan keahlian dalam proses pengamanan. Pendidikan merupakan proses mengintegrasikan semua keterampilan keamanan dan kompetensi dari berbagai spesialisasi menjadi pengetahuan umum dan berusaha untuk menghasilkan spesialis keamanan informasi dan profesional yang mampu berpikir visioner dan pro-aktif terhadap respon. Pendidikan terkait keamanan informasi diberikan selama delapan semester dalam bentuk mata kuliah-mata kuliah tertentu. Adapun mata kuliah-mata kuliah tersebut diberikan sejak semester pertama hingga semester terakhir, baik dalam suatu kurikulum nyata ataupun hidden curriculum. Adapun mata kuliah-mata kuliah yang terkait keamanan informasi antara lain :
Semester I :
Kriptoanalisis Transposisi Alphabetik, Pengantar Persandian.
Semester II :
Kriptoanalisis Substitusi Alphabetik Semester III :
Intelijen, Pengantar Mesin Sandi Semester IV :
Block Cipher/Tehnik Block Cipher, Stream Cipher/Tehnik Stream Cipher, Pengamanan Persandian, Manajemen Persandian
Semester V :
Otentikasi Sandi/Fungsi Hash/Tehnik Otentikasi, Pengantar Manajemen Kunci/Tehnik Manajemen Kunci/Manajemen Kunci, Public Key/Tehnik Public Key, Kriptoanalisis Lanjutan I, Manajemen Kegiatan Sandi, Jaringan Komputer dan Keamanan Jaringan. Semester VI :
Aplikasi Manajemen Kunci/Digital Signature, Key Establishment, Kriptoanalisis Lanjutan II, Kriptografi Jaringan, Keamanan Jaringan,
Protokol Kriptografi, Praktikum Keamanan dan Kriptografi Jaringan.
Semester VII :
Praktek Kerja Lapangan, Analisa Kebijakan Kripto/Rancang Bangun Modul Sandi.
Semester VIII : Filsafat Sandi
2.6.Hasil
Dari model pembinaan kesadaran keamanan informasi yang diterapkan di lingkungan STSN secara umum dapat diketahui hal-hal sebagai berikut :
1) STSN telah melakukan pembinaan kesadaran keamanan informasi terhadap tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan mahasiswa yang sesuai dengan standar NIST;
2) Terbentuknya kesadaran terhadap ancaman dalam konteks keamanan informasi harus diberikan sejak awal melalui implementasi kesadaran (awareness) dan diperkuat melalui implementasi pelatihan (training) dan pendidikan (education);
3) Pembinaan kesadaran keamanan informasi dalam implementasinya (kesadaran, pelatihan dan pendidikan) dapat dilakukan dengan berbagai cara/metode yang disesuaikan dengan kebutuhan STSN dengan tetap mengacu pada tujuan terbentuknya kesadaran keamanan informasi; 4) Kesadaran keamanan informasi harus dilakukan
secara bertahap agar perilaku dan sikap yang sadar akan ancaman dan resiko dan bagaimana mengantisipasinya dalam pelaksanaan tugas tetap terjaga.
5) Adapun pembinaan kesadaran keamanan informasi dalam kerangka pendidikan di STSN
a) Pemberian kesadaran keamanan informasi terhadap mahasiswa harus dilakukan sejak awal pendidikan;
b) Terbentuknya kompetensi dalam pengamanan informasi yang dapat mendukung pelaksanaan tugas melalui pemberian materi didalam dan diluar kelas;
c) Peningkatan kemampuan di bidang keamanan informasi yang dilakukan oleh pengguna lulusan melalui program sertifikasi bidang keamanan informasi (professional development) sebagai bentuk pengakuan terhadap kemampuan awal lulusan STSN;
d) Implementasi ini belum dilaksanakan menyeluruh dan berkesinambungan dengan pengembangan profesionalitasnya, contoh : program sertifikasi.
3. KESIMPULAN
Dari uraian-uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
3.2.Perlunya dilakukan professional development terkait sertifikasi di bidang keamanan informasi secara menyeluruh, baik kepada tenaga pendidik maupun mahasiswa.
3.3.Perlu penajaman kompetensi output dengan memfokuskan pada peran lulusan STSN sebagai owner, custodian dan user informasi sehingga keamanan informasi menjadi framework dalam pelaksanaan tugas di masa mendatang.
3.4.Perlu pemberian kesadaran keamanan informasi bagi tenaga kependidikan secara periodik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ronald L. Krutz and Russell Dean Vines, 2007, The CISSP and CAP Prep Guide: Platinum Edition, John Wiley & Sons;
[2] InfoSecurity Europe, 2010, Information Security Breaches Survey 2010 (ISBS-2010) : Technical Report,
www.infosec.co.uk/files/isbs_2010_technical_report_si ngle_pages.pdf, diakses terakhir tanggal 3 Mei 2011 jam 13.00. WIB.
[3] Kevin D. Mitnick and William L. Simon, 2002, The Art of Deception, Wiley Publishing, Inc.;
[4] Hal Tipton and Micki Krause, 2005, Handbook of Information Security Management, CRC Press LLC
[5] Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP)
[6] National Institute of Standards and Technology Special Publication (NIST SP) 800-59, Guideline for Identifying an Informastion System as a National Security System;