ubungan Tingkat Demensia dengan Tingkat Kemampuan
Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-hari pada Lansia di
Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin
Pariaman
Sefrianita Kamal
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Amanah Padang
bstract
Demensia constitutes a sea of troubles and serious one faced by forward states, and have become emerging health problem at effloresce states as Indonesian s. t Panti Tresna Werdha Sabai Nan luih's Social is known that there are many lansia what does experience demensia as handicap do knockabout activity, lansia there are many that aided for hygiene thyself (bath, ketolit) and clears house. Meanwhile passes through interview some bodies lansia what does experience demensia, 4 person amongst those say is so easy forget by whit thing so knockabout basic activity the disrupted. This research intent to see demensia's zoom relationship by increases ability to perform basic activity everyday on lansia t Panti Tresna Werdha Sabai Nan luih's Social Moorland.
This research utilize research design descriptive analytic with approaching cross sectional study one that performed on month of February s / d. year July 2012 at Panti Tresna Werdha Sabai Nan luih's Social Sicincin Regency Padang Pariaman. Total population 110 lansia with sample 52 respondents, sample take done by ala Simple Random is Sampling, data collecting did by interview tech utilize interview guidance. nd analysed by univariat's ala and bivariate with computer utilizes to test statistic chi square.
Observational result to be gotten 59,6% respondent experiences demensia be, 63,5% dependable respondents be . There is relationship which wherewith among demensia's zoom by increases ability to perform basic activity everyday on lansia.
To chairman of panti tresna werdha sabai nan aluih's social is expected more notices lansia who experience dependency be and also heavy in perform basic activity everyday so basic the need lansia is accomplished. For education institution ought to gets to be made by source and adds STIKes's college student science manah Padang. For research further gets to do research about factor which can prevent or regards demensia.
I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Panti Sosial Tresna Werda (PSTW) Sabai Nan Aluih Sicincin merupakan pelayanan sosial milik pemerintah bertujuan untuk menampung lansia yang tidak mampu dan kurang diperhatikan oleh keluarganya yaitu sebanyak 110 lansia 47 orang perempuan dan 63 orang laki-laki yang terdapat di 14 wisma.
Berdasarkan survey awal peneliti yang dilakukan pada tanggal 29 februari 2012 diketahui bahwa ada lansia yang mengalami Demensia. Melalui hasil wawancara dengan pemilik panti tersebut, maka diketahui bahwa banyak lansia yang mengalami demensia seperti kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, lansia banyak yang dibantu untuk kebersihan diri sendiri ( mandi, ketolit ) dan membersihkan rumah. Sedangkan melalui wawancara beberapa orang lansia yang mengalami demensia, 4 orang diantaranya mengatakan sangat mudah lupa dengan hal-hal yang kecil sehingga aktivitas dasar sehari-harinya terganggu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012.
1.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin tahun 2012. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan tingkat demensia pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin tahun 2012
b. Mengetahui hubungan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin tahun 2012.
c. Mengetahui hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin tahun 2012
II. Tinjauan Pustaka 2.1 Lansia
Lanjut usia ( lansia ) adalah seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan ( potensial ) maupun kerena sesuatu hal tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam pembangunan (Depkes RI, 2004)
2.2 ipotesis
a : Ada hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lanjut usia.
o : Tidak ada hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktiitas sehari-hari pada lanjut usia.
III. Metode Penelitian 3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan desain
Cross sectional Studi, dimana variabel independen dan dependen dikumpulkan dalam waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2005).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Sabai Nan Aluih Sicincin pada bulan Februari s/d Juli 2012.
3.3 Populasi dan Sampel Populasi
Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang tinggal di PSTW sabai nan Aluih sicincin sebanyak 110 orang dari bulan Februari s/d Juli tahun 2012.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel menggunakan rumus (Notoatmodjo, 2005). Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula yang sederhana lagi seperti berikut :
n =
Keterangan : N : Besar Populasi n : Besar sampel
d : Tingkat Kepercayaan /ketetapan yang diinginkan
n =
n =
n = n = 52,38 n = 52
Kriteria Sampel : 1. Kriteria inklusi:
b. Bersedia menjadi responden dalam penelitian c. Lansia yang tidak mengalami gangguan fisik d. Dapat mendengar dengan baik
e. Berada di tempat saat penelitian 2. Kriteri ekslusi:
Lansia dalam keadaan sakit/tidak mampu beraktifitas mandiri
3.4 Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan menggunakan computer. Disajikan dalam bentuk distribusi frekwensi, analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat.
1. Analisis univarat
Analisa data dilakukan dengan cara univariat untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel. Data yang disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis.
Untuk mengetahui persentase masing-masing variabel digunakan rumus :
P = x 100 %
Keterangan : P = Persentase
F = Frekuensi jawaban responden untuk setiap alternative jawaban N = Jumlah responden
2. Analisis bivariat
Analisis bivariat untuk melihat hubungan antara dua variable yaitu variable independen dengan variable. Untuk melihat ada tidaknya hubungan kedua variabel tersebut, digunakan uji chi-square, uji ini digunakan karena merupakan variabel kategorik, nilai yang digunakan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan variabel adalah nilai a = 0.05 apabila p < 0.05 maka adanya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Apabila p > 0.05 maka tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
IV. asil Dan Pembahasan 4.1 asil
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di PSTW Sabai Nan Aluih Sicincin Pariaman tahun 2012
No Jenis Kelamin f
1 Laki-laki 63
2 Perempuan 47
A. Analisa Univariat
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden dimana laki-laki berjumlah 63 orang dan perempuan berjumlah 47 pada umumnya lansia yang tinggal di Panti Sosial Tersna Werdha Sabai Nan Aluih banyak yang tidak sekolah dan ada juga yang sekolah tapi hanya sampai SMA, dengan hasil sebagai berikut:
B. Tingkat Demensia
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Demensia Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012
Tingkat Demensia F %
Ringan 18 34,6
Sedang 31 59,6
Berat 3 5,8
Total 52 100
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 52 responden terdapat tingkat demensia sedang sebanyak (59,6%).
C. Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-hari pada Lansia
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden BerdasarkanTingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-hari Pada Lansia Di Panti Sosial
Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012
Tingkat Kemampuan F %
Mandiri 15 28,8
Ketergantungan Sedang 33 63,5
Ketergantungan Berat 4 7,7
Total 52 100
D. Analisa Bivariat
ubungan Tingkat Demensia dengan Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-hari pada Lansia
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan ubungan Tingkat Demensia Dengan Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Pada Lansia Di
Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012
Tingkat melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari lebih tinggi pada ketergantungan sedang (63,5%) pada lansia tingkat demensia sedang (58,1 %) dibandingkan dengan tingkat demensia ringan dan tingkat demensia berat. asil uji statistik (chi square) diperoleh p value = 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia.
4.2 Pembahasan A. Analisa Univariat
1. Tingkat Demensia Pada Lansia
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 52 responden terdapat tingkat demensia sedang sebanyak (59,6%). Pada tingkat ini responden sangat mudah lupa, terutama untuk peristiwa yang baru.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Aminah (2010) tentang hubungan dukungan keluarga tentang tingkat demensia pada lansia di Kelurahan Ngijo Gunung Pati Semarang, yang menunjukkan hasil bahwa kurang dari separoh (57,6%) tingkat demensia pada lansia di Kelurahan Ngijo Gunung Pati Semarang adalah demensia sedang.
mudah lupa (terutama untuk peristiwa yang baru dan nama orang), tidak dapat mengelola kehidupan sendiri tanpa timbul masalah, tidak dapat memasak, membersihkan rumah, ataupun berbelanja, sangat bergantung pada orang lain, semakin sulit berbicara, membutuhkan bantuan untuk kebersihan diri ( ke toilet, mandi, dan berpakaian ), senang mengembara / “ ngeluyur “ tanpa tujuan, terjadi perubahan prilaku, adanya gangguan kepribadian, sering tersesat (walaupun jalan tersebut telah dikenal ( tersesat di rumah sendiri ). dapat juga menunjukkan adanya halusinasi.
Asumsi peneliti terhadap penelitian ini adalah responden tingkat demensia sedang lebih tinggi (59,6%) pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan aluih Sicincin Tahun 2012. al terbukti bahwa 76,9 % responden tidak bisa melaksanakan perintah yaitu responden tidak mampu mengingat kembali nama-nama benda yang telah disebutkan sebelumnya, pada dasarnya lansia sangat mudah lupa terutama untuk peristiwa yang baru dibicarakan sebelumnya karena lansia sudah mengalami penurunan fungsi tubuh diantaranya fungsi sistem neurologis yaitu afasia (ketidakmampuan menggunakan kata-kata yang memiliki arti dan kehilangan kemampuan mengerti bahasa lisan, apragsia (ketidakmampuan menunjukkan suatu aktivitas yang dipelajari memiliki fungsi motorik yang diperlukan). Dan 73,1 % responden tidak bisa menjawab dimana mereka berada ( Negara, propinsi, kota, rumah sakit atau instansi, lantai kamar ).
2. Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Sehari – ari Pada Lansia Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 52 responden terdapat ketergantungan sedang sebanyak (63,5%). Pada tingkat ini lansia akan mengalami kesulitan dalam melakukan kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2009) Tingkat Kemampuan Sehari – hari Pada Lansia Dengan Penyakit Kronis di Kelurahan Gedung Johor Kecamatan Medan Johor Medan yang menunjukkan hasil bahwa tingkat kemampuan lansia dalam melakukan aktifitas sehari – hari tergolong kategori ketergantungan sedang (56,2%).
Tingkat kemampuan lansia dapat dinilai dari aktivitas kehidupan sehari – hari yang dilakukan oleh lansia tersebut. Sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Rustika (1997) bahwa Aktivitas dasar sehari-hari ( ADS ) yang dalam literature asing disebut activity of Daily Living ( ADL ) adalah aktivitas perawatan diri yang normalnya dilakukan setiap hari oleh individu untuk memenuhi kebutuhan dan tuntunan hidup sehari-hari. Dilanjutkan oleh ( Potter & Perry, 2005) bahwa aktivitas hidup sehari-hari meliputi BAB, BAK, membersihkan diri ( lap muka, sisir rambut, sikat gigi ), penggunaan toilet ( ke/dari WC, menyiram, menyeka, lepas/pakai celana ), makan, berpindah tempat dari kursi ketempat tidur, mobilisasi/berjalan, berpakaian, mandi dan naik turun tangga. Keadaan individu membutuhkan bantuan dalam memenuhi aktivitas tersebut bias akut, kronik, sementara waktu, menetap atau rehabilitative.
meliputi mengontrol BAB 50%, mengontrol BAK 50%. Lansia perlu bantuan orang lain untuk naik turun tangga 38%, dan untuk berjalan lansia ada yang menggunakan kursi roda atau tongkat 23%, untuk makan perlu pertolongan untuk memotong makanan 19%, hal ini disebabkan karena lansia tersebut sering mengalami sakit kaki terutama pada persendian dan adanya perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskletal seperti kepadatan tulang, kehilangan ukuran dan kekuatan otot serta degenerasi tulang rawan sendi.
B. Analisa Bivariat
ubungan Tingkat Demensia dengan Tingkat Kemampuan Melaksanakan Aktivitas Dasar Sehari-hari Pada Lansia
Dari Tabel 4.3 diatas diketahui bahwa tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari lebih tinggi pada ketergantungan sedang (63,5%) pada lansia tingkat demensia sedang dibandingkan dengan tingkat demensia ringan dan tingkat demensia berat. asil uji statistik (chi square) diperoleh nilai p value = 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Palestin (2005) tentang pengaruh umur, depresi dan status demensia terhadap disabilitas fungsional. Variabel demensia menyumbang variasi fungsional lansia tertinggi (p= 0,609) dibanding variabel umur dan variabel depresi.
al ini erat kaitannya karena adanya kerusakan fungsi kognitif sehingga akan mempengaruhi aktifitas sosial dan aktifitas kehidupan sehari – hari. Sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Mickey Stanley & Patricia Gauntlett (2006) bahwa demensia adalah kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan mempengaruhi aktivitas sosial dan okupsi yang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari ( AKS ). Ditambahkan oleh arsosno (2007 bahwa demensia adalah hilangnya fungsi kognitif secara multidimensional dan terus-menerus, disebabkan oleh kerusakan organik sistem saraf pusat, tidak disertai oleh penurunan kesadaran secara akut seperti halnya terjadi pada delirium dan teori lain yan disampaikan oleh Wahjudi Nugroho (2008) bahwa demensia adalah suatu sindrom klinis yang melputi hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari.
Maka asumsi peneliti terhadap penelitian dimana seorang lansia itu akan terjadi kerusakan kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan dapat mempengaruhi aktivitas sosial dan okupasi yang kurang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari, terkadang lansia lupa dengan hal-hal kecil yang baru dibicarakannya dan lansia juga perlu pertolongan orang lain seperti naik turun tangga, berjalan dengan menggunakan tongkat.
1. Lebih dari separuh tingkat demensia pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012 adalah sedang.
2. Lebih dari separuh tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012 adalah ketergantungan sedang.
3. Adanya hubungan antara tingkat demensia dengan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin Tahun 2012.
5.2 Saran
1. Pimpinan Panti Sosial Werdha Tresna Sabai Nan Aluih Sicincin
Disarankan agar dapat memperhatikan tingkat kebutuhan dan keadaan lansia yang mengalami ketergantungan sedang maupun berat dalam melaksanakan aktvitas dasar sehari-hari sehingga kebutuhan dasar lansia terpenuhi.
2. Institusi Pendidikan
Diharapkan melalui pimpinan agar dapat dijadikan sumber informasi, memberikan manfaat dan menambah pengetahuan mahasiswa Stikes Amanah Padang tentang hubungan tingkat kemampuan melaksanakan aktivitas dasar sehari-hari dan apa saja yang harus diperhatikan tentang kebutuhan lansia tersebut.
5.3 Penelitian selanjutnya
1. Melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang dapat mencegah atau mempengaruhi demensia.
2. Dapat disarankan pada lansia untuk dapat lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas dasar sehari-hari seperti meminta bantuan kepada penjaga panti untuk naik turun kursi roda, jika tidak mampu untuk berjalan lansia bisa menggunakan kursi roda/tongkat.
Daftar Pustaka
Aminah. 2010. Hubungan Dukungan Keluarga Tentang Tingkat Demensia Pada Lansia di Kelurahan Ngijo Gunung Pati Semarang
Bunga, Aisah. 2009. Kejadian Demensia di akses tanggal 10 Maret 2012, pukul 16.00 WIB, dari http://www.google.co.id/url
arsono,2007. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta. Gadjah Mada University ermana,2007. Lansia Masa Kini Dan Mendatang. Diakses tgal.12 Maret 2012,
pukul 08.30 WIB, dari http://www.depsos.go.id/modules.php Martono,adi.2009. Geriatri. Jakarta. FKUI. EGC
Maryam, R. Siti dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta. Salemba Medikal
Mubarak, Wahid Iqbal, dkk. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta. PERDOSSI
Palestin. 2005. Pengaruh Umur, Depresi dan Status Demensia Terhadap Disabilitas Fungsional
Potter, P. A & Perry, A. G. 2005. Buku jar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Alih Bahasa Yasmin. Jakarta : EGC
Rustika, 2001. Determinan Aktivitas Kehidupan Sehari – ari ( ADL ) Penduduk Usia Lanjut ( Analisa Data Susenas 1995. Badan Litbang Kesehatan, Di akses tanggal 12 Maret 2012, pukul 11.00 WIB dari http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php