• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENETAPAN HARGA PERSENTASE KRITIS PENAMB (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENETAPAN HARGA PERSENTASE KRITIS PENAMB (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ILMIAH

PENETAPAN HARGA PERSENTASE KRITIS PENAMBAHAN ALKOHOL 70% TERHADAP SEDIAAN KRIM AIR DALAM MINYAK (w/o)

Oleh :

WAHYU KUSUMANING WARDHANI 061311133175

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

CRITICAL PERCENTAGES BY ADDING ALCOHOL 70% TOWARD WATER IN OIL CREAM

Wahyu Kusumaning Wardhani1), Moch. Lazuardi2), Boedi Setiawan3)

1)Mahasiswa, 2)Departemen Kedokteran Dasar Veteriner, 3)Departemen Klinik Veteriner

Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

ABSTRACT

This study was conducted to determine the smallest volume of alcohol 70% which can cause water in oil cream unstable. Water in oil cream formulated by dissolving the water phase consisted of distilled water and natrii biboras into the oil phase consisted of parafinnum liquidum and cera alba with temperature 75ºC on water bath. Water in oirl cream divided into tree treatment group, group A with addition of alcohol 70% 0.030 ml, group B with addition of alcohol 70% 0.040 ml and group C with addition of alcohol 70% 0.050 ml. Probit regression analysis obtained 0.034 ml is the smallest volume of alcohol 70% which can cause water in oil cream unstable. Based on organoleptic observations obtained most stable formulation are group A with characteristic homogeneous white, no rancidity and cracking also soft and oily testure. pH of group A is 8. Based on microscopic observations water phase and oil phase of group A strongly bound.

(3)

CRITICAL PERCENTAGES BY ADDING ALCOHOL 70% TOWARD WATER IN OIL CREAM

Wahyu Kusumaning Wardhani1), Moch. Lazuardi2), Boedi Setiawan3)

1)Mahasiswa, 2)Departemen Kedokteran Dasar Veteriner, 3)Departemen Klinik Veteriner

Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume terkecil alkohol 70% yang dapat menyebabkan krim air dalam minyak tidak stabil. Formulasi sediaan krim air dalam minyak dengan menlarutkan fase air yang terdiri dari akuades dan natrii biboras ke dalam fase minyak yang terdiri dari paraffinnum liquidum dan

cera alba dengan temperature 75ºC diatas tangas air. Sediaan krim air dalam minyak dibagi atas tiga kelompok

perlakuan , kelompok A dengan penambahan alkohol 70% 0.030 ml, kelompok B dengan penambahan alkohol 70% 0.040 ml dan kelompok C dengan penambahan alkohol 70% 0.050 ml. Analisis regresi probit menunjukkan bahwa volume terkecil alkohol 70% yang dapat menyebabkan sediaan krim air dalam minyak tidak stabil adalah 0.034 ml. Analisis organoleptis menunjukkan bahwa kelompok A paling stabil dengan karakteristik homogen berwarna putih, tidak ada penurunan pH, sediaan tidak pecah dengan tekstur lembut dan berminyak. pH sediaan kelompok A ialah 8. Sediaan kelompok A secara mikroskopis tampak sangat terikat kuat.

Kata kunci: Krim air dalam minyak, instabilitas krim, alkohol 70%

Pendahuluan

Penyakit kulit banyak terjadi baik pada hewan besar (ruminansia, kuda, babi) maupun pada hewan

kesayangan seperti anjing dan kucing. Penyakit kulit tidak bisa dianggap ringan, karena kulit merupakan

pelindung organ-organ yang lebih dalam, mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit, mengatur suhu

tubuh, sebagai organ sensoris, serta menjaga estetika atau penampilan atas hewan (Triakoso, 2016).

Penyakit kulit dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu nutrisi, viral, bakterial, fungal, parasitik,

imunologis, dan neoplatik (Triakoso, 2016). Infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan kapang

dermatofit seperti Trichophyton mentagrophytes pada manusia dan hewan masih sangat sering terjadi

(Kusumaningtyas, 2008). Terapi penyakit kulit dapat dilakukan secara topikal atau sistemik. Obat topikal kulit

dapat berupa krim, salep, pasta dan obat cair. Pemilihan bentuk obat topikal dipengaruhi jenis kerusakan kulit,

daya kerja yang dikehendaki, kondisi penderita, dan daerah kulit yang diobati.Obat kulit digunakan untuk

mengatasi gangguan fungsi dan struktur kulit (Triakoso, 2016).Menurut Farmakope Indonesia III, krim adalah

(4)

Krim merupakan salah satu sediaan setengah padat yang dipakai untuk mengobati penyakit kulit,

karena memberikan efek dingin, nyaman, dan tidak mengiritasi kulit pengguna (Anief, 2012). Pembuatan

sediaan krim didasarkan pada prinsip saponifikasi, dari suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa dan

dikerjakan dalam suasana panas yaitu temperatur 70ºC - 80ºC (Dirjen POM, 1995). Kestabilan krim

bergantung pada komposisi kedua fase serta proses saponifikasi. Kestabilan krim dapat dinilai melalui teori

Oriented Wedengane yang menjelaskan tentang bahan pengikat antar fase air dan fase minyak yang

membentuk suatu keseimbangan yang disebut dengan Hidrofilik Lipofilik Balance System (Ansel, 2008).

Sediaan krim yang baik dapat dilihat dari berhasilnya bahan aktif sediaan krim tersebut masuk ke dalam

lapisan kulit. Masuknya bahan aktif ke dalam lapisan kulit bergantung pada pelarut (Anief, 2012).

Alkohol sering digunakan sebagai pelarut baik metanol, etanol maupun isopropanol.Alkohol memiliki

karakteristik tidak berwarna, volatil, dan dapat bercampur dengan air (Rowe et al., 2009). Alkohol yang

digunakan untuk pelarut obat-obatan, kosmetik, antiseptik ialah etanol (John et al, 2011).

Sediaan krim yang stabil merupakan suatu hal yang harus diperhatikan, mengingat pembuatan krim

bertujuan untuk pengobatan luar yang harus memperhatikan kenyamanan pasien. Formulasi yang tidak stabil

dapat dideteksi dengan pengamatan pada perubahan penampilan fisik, warna, bau, dan tekstur dari formulasi

tersebut, sedangkan perubahan kimia yang terjadi dapat dipastikan melalui analisis kimia (Ansel, 2008). Selain

itu, uji kestabilan sediaan krim dapat dilihat dari homogenitas fisik, nilai pH, viskositas, kapasitas sebar, tipe

krim (Colipa, 2004).

Diketahui bahwa salah satu ketidakstabilan sediaan krim ialah akibat penambahan alkohol, sementara

hingga saat ini belum diketahui batas instabilitas krim dengan jumlah penambahan alkohol tertentu. Demikian

pula jenis derivat alkohol yang dipakai, termasuk tingginya ikatan metil OH. Apabila mampu diketahui batas

rusak sediaan krim terhadap penambahan alkohol, maka dapat diketahui pula volume yang dapat digunakan

untuk melarutkan bahan aktif tersebut (Lazuardi, 2016).

Berkaitan dengan latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian nilai kritis jumlah alkohol

yang menyebabkan ketidakstabilan krim, agar dapat diketahui kondisi dimana kestabilan sediaan krim secara

(5)

Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember – Januari 2017 di Laboratorium Farmasi Veteriner

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Pemeriksaan Spektrofotometer infra merah di

Laboratorium Analisis Farmasi Universitas Airlangga.

Bahan penelitian menggunakan bahan dasar basis krim meliputi white beeswax pellet, paraffin

liquidum, natrii biborax, aquadest, serta alkohol 70%.

Alat yang digunakan selama penelitian adalah glove, masker, kertas pH, gelas ukur 100 ml, beaker

glass 100 ml, gelas pengaduk, kaca arloji 6 cm, cawan uap 50 ml, mortir 10 cm, pipet ukur 10 ml, cover glass,

object glass cekung, pipet ukur 5 ml, timbangan analitik (neraca O’Hauss), pot krim, sudip, mikroskop,

inkubator, waterbath.

Penelitian ini terdiri dari tiga kelompok perlakuan dengan enam ulangan pada setiap perlakuan yaitu

kelompok A dengan penambahan alkohol 70% 0.030 ml, kelompok B dengan penambahan alkohol 70% 0.040

ml serta kelompok C dengan penambahan alkohol 70% 0.050 ml.

Pembuatan basis krim

Pembuatan basis krim diawali dengan pemisahan bahan fase minyak (Cera alba, paraffin liquidum)

dengan bahan fase air (aquadest, natrii biborax). Bahan dengan fase minyak yang terdiri paraffin liquid dan

cera alba diletakkan pada cawan uap dan dipanaskan di atas water bath hingga tercampur rata atau homogen,

kemudian untuk bahan fase air natrii biboras dicampurkan ke dalam beaker yang berisi air aquades yang sudah

mendidih di atas water bath dan aduk hingga rata, selanjutnya fase minyak dan fase air dicampurkan dengan

menuangkan larutan fase air yang ada di dalam beaker glass secara perlahan ke dalam cawan uap yang berisi

larutan fase minyak dilakukan diatas waterbath sehingga pada saat pencampuran dilakukan akan terjadi proses

penyabunan (saponifikasi), ketika proses penyabunan berlangsung sediaan krim tetap diaduk sampai homogen.

Krim yang telah diaduk homogen pada cawan uap diatas waterbath dimasukkan kedalam mortir dan

digerus sampai krim homogen dan mengental, kemudian sediaan basis krim dimasukkan pada setiap wadah

sama banyak (satu gram) dan dilakukan uji organoleptis, uji pH, dan Spektrofotometer InfraRed (IR).

Setelah pembuatan basis krim dilakukan uji pada suhu ruang dengan menyimpan sediaan basis krim

(6)

pemeriksaan homogenitas, nilai pH, dan pemeriksaan organoleptis yang terdiri dari pemeriksaan warna, bau,

dan tekstur krim.

Pemberian Alkohol 70% terhadap Krim (w/o)

Alkohol 70% diteteskan terhadap sediaan krim w/o menggunakan mikro pipet. Berikut volume

alkohol 70% yang ditambahkan pada sediaan krim w/o :

Tabel 3.1 Tabel Jumlah Alkohol yang ditambahkan Sediaan Krim

(Satu sampel memiliki massa satu mg)

Volume Alkohol 70%

Uji stabilitas dengan uji di percepat

Sampel sediaan krim dengan tambahan alkohol 70% disimpan pada suhu 48ºC dan 8ºC secara

bergantian selama siklus (1 siklus 12 jam pada suhu 48ºC dan 12 jam pada suhu 8ºC dalam inkubator). Setiap

satu siklus dilakukan observasi dengan pemeriksaan organoleptis (warna, bau, tekstur) , pemeriksaan

homogenitas menggunakan mikroskop, pemeriksaan pH, dan pemeriksaan dengan Spektrofotometer infrared

pada siklus terakhir (Mollet & Grubenmann., 2001).

Hasil dan Pembahasan

Hasil dari pengamatan sediaan krim pada tahap inkubasi pada suhu ruang dan uji dipercepat dilakukan

dengan melakukan penilaian atau scoring dengan melihat lima kriteria krim yang dikatakan baik (Colipa,

2004) yaitu warna sediaan putih, bau khas cacao, tekstur berminyak dan lembut, homogen atau tidak terjadi

pemisahan masing-masing fase dan nilai pH 4,5-8 yang diubah dalam bentuk skoring .

Pengamatan secara organoleptis dilakukan untuk mengetahui tampilan fisik sediaan krim w/o yang

dibuat. Secara organoleptis sediaan krim air dalam minyak (w/o) dinyatakan baik dengan melihat lima aspek

sebagai berikut :

a. Warna : putih

b. Aroma : tidak beraroma dan tidak tengik

(7)

d. Bentuk : setengah padat, lunak dan berminyak

e. Homogenitas : tidak pecah atau tidak kriming

Penilaian terhadap hasil pengamatan secara organoleptis sediaan krim air dalam minyak (w/o)

dilakukan dengan skoring, dimana sediaan krim air dalam minyak (w/o) yang baik memiliki nilai lima (5) yang

berarti sediaan tersebut memiliki semua aspek sesuai kriteria yang dimana setiap kriteria bernilai satu (1), jika

sediaan krim air dalam minyak (w/o) tidak memiliki salah satu atau beberapa aspek dari kriteria yang

ditentukan maka nilai sediaan krim air dalam minyak akan berkurang sesuai jumlah aspek yang tidak dimiliki.

Tabel 4.1 akan menunjukkan hasil pengamatan terhadap sediaan krim air dalam minyak (w/o)

selama tiga siklus (1 siklus = 12 jam pada 48ºC dan 12 jam pada 8ºC) :

Tabel 4.1 Rata-Rata dan Simpangan Baku Nilai Organoleptis Sediaan Krim Air dalam Minyak

(w/o) Kelompok Perlakuan

ᵃᵇͨ Superskrip berbeda pada kolom yang sama, menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (p<0.05)

Uji statistik dengan menggunakan friedman menunjukkan kelompok perlakuan A pada siklus I tampak

berbeda nyata dengan siklus III sebesar 0.046 (p < 0.05) tetapi tidak berbeda nyata dengan siklus II sebesar

0.157 (p > 0.05). Kelompok perlakuan B pada siklus I tampak berbeda nyata dengan siklus III sebesar 0.024 (p

< 0.05) tetapi tidak berbeda nyata dengan siklus II sebesar 0.063 (p > 0.05). Kelompok C menunjukkan

perbedaan yang nyata pada setiapsiklus (p < 0.05).

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa kerusakan atau ketidakstabilan krim air dalam minyak (w/o)

dikarenakan suhu ekstrim yang digunakan pada uji dipercepat selama tiga siklus (1 siklus = 12 jam pada 48ºC

dan 12 jam pada 8ºC) yang mempengaruhi pecahnya fase air dengan fase minyak sehingga sediaan krim air

dalam minyak (w/o) tidak homogen.

pH normal untuk kulit menurut SNI 16-4399-1996 yaitu 4.5 – 8. Perubahan pH sediaan selama

(8)

produk selama penyimpanan atau penggunaan. Perubahan bilai pH akan terpengaruh oleh media yang

terdekomposisi oleh suhu hingga saat pembuatan atau penyumpanan yang menghasilkan asam atau basa, asam

atau basa ini yang mempengaruhi pH (Young et al., 2002).

Sediaan krim air dalam minyak (w/o) yang tampak tidak homogen atau mengalami pecah disebabkan

oleh fase air dan fase minyak dalam sediaan sudah terpisah atau dengan kata lain tidak terikat kuat. Fase air

dan fase minyak yang terpisah diakibatkan korpuskel krim tidak seimbang sehingga tidak terjadinya proses

penyabunan (saponifikasi) pada sediaan krim (Lazuardi, 2016).

Uji spektrofotometri infra merah (IR) dilakukan untuk sediaan krim w/o tanpa perlakuan (Kelompok

Kontrol), penambahan alkohol 70% 0.030 ml (Kelompok A), penambahan alkohol 70% 0.040 ml (Kelompok

B), serta penambahan alkohol 70% 0.050 ml (Kelompok C).

Hasil uji spektrofotometri menunjukkan bahwa gugus fungsi yang terkandung dalam sediaan krim air

dalam minyak (w/o) pada kelompok kontrol, kelompok A, kelompok B serta kelompok C tidak memiliki

perbedaan. Perbedaan yang dapat dilihat adalah luas kurva gugus O-H pada bilangan gelombang 3000 cmˉ¹ -

4000 cmˉ¹ yang dimana kelompok kontrol memiliki luas sebesar 2.09 cm², kelompok A memiliki luas sebesar

1.30 cm², kelompok B memiliki luas sebesar 1.10 cm² dan kelompok C memiliki luas sebesar 0.6 cm², hal

tersebut menunjukkan bahwa semakin meningkat volume alkohol 70% yang diberikan maka luas daerah gugus

O-H semakin kecil.

Bilangan gelombang 4000 cmˉ¹ – 3000 cmˉ¹ adalah daerah komposisi air (H – O –H) dengan

rekonstruksi ikatan HOˉ – H+ stretching, artinya pada saat radiasi elektromagnetik sampai ke bagian matriks

krim komponen ion OH tarik menarik dengan H+ sehingga menghasilkan persen transmitan berbeda – beda

tergantung dari volume air (Winarno, 2010).

Tabel 4.2 terlihat jelas perbedaan luas area gugus O-H pada setiap perlakuan, dapat dilihat bahwa

semakin meningkat volume alkohol 70% yang ditambahkan pada sediaan krim air dalam minyak (w/o)

semakin kecil luas area kurva gugus O-H. Hal ini dikarenakan peningkatan volume alkohol 70% terhadap

sediaan krim air dalam minyak (w/o) mempengaruhi ikatan atau stretchingpada gugus O-H, sehingga terjadi

(9)

air dengan minyak menyebabkan proses saponifikasi pada sediaan krim air dalam minyak (w/o) terhenti,

berhentinya proses saponifikasi inilah yang menghasilkan sediaan krim tidak stabil atau rusak.

Tabel 4.3 Analisis Regresi Probit terhadap Jumlah Sampel Sediaan Krim Air dalam Minyak (w/o) yang Rusak pada Kelompok Perlakuan

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa penambahan alkohol 70% sebanyak 0.030 ml (kelompok A), 0.040 ml

(kelompok B), 0.050 ml (kelompok C) pada siklus I belum merusak sediaan. Penambahan alkohol 70%

sebanyak 0.030 ml (kelompok A) pada siklus II belum merusak setengah dari banyaknya pengulangan atau

sebesar dua sampel, namun pada siklus III sampel yang rusak melebihi setengah dari banyaknya pengulangan

atau sebesar empat sampel. Penambahan alkohol 70% sebanyak 0.040 ml (kelompok B) pada siklus II sampel

yang rusak melebihi setengah dari banyaknya pengulangan atau sebesar empat sampel, sedangkan pada siklus

III semua sampel rusak atau sebesar enam sampel. Penambahan alkohol 70% sebanyak 0.050 ml (kelompok C)

pada siklus II semua sampel rusak atau sebesar enam sampel. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan krim air

dalam minyak (w/o) tetap stabil apabila ditambahkan alkohol 70% sebanyak 0.030 ml (kelompok A) dan

penambahan alkohol 70% sebanyak 0.040 ml (kelompok B) serta 0.050 ml (kelompok C) menyebabkan

sediaan krim tidak stabil.

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa semakin meningkat volume alkohol yang ditambahkan pada sediaan

krim air dalam minyak (w/o) dan semakin lama siklus pada uji dipercepat maka semakin banyak jumlah

sediaan krim air dalam minyak (w/o) yang rusak atau tudak stabil serta semakin menurunnya kualitas sediaan

krim air dalam minyak (w/o).

Rusaknya sediaan krim air dalam minyak (w/o) dapat dikarenakan suhu ekstrim pada uji dipercepat

yang dapat menyebabkan fase air dalam sediaankrim air dalam minyak (w/o) menguap, namun pada penelitian

ini wadah untuk sediaan krim menggunakan pot yang bertutup sehingga komponen air tidak menguap dan

(10)

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sediaan krim air dalam

minyak (w/o) yang baik berwarna putih, tidak beraroma tengik, memiliki pH 8, berbentuk setengah padat,

bertekstur lunak dan berminyak dengan volume terkecil alkohol 70% yang dapat menyebabkan 50% sedian

krim air dalam minyak (w/o) rusak atau tidak stabil ialah 0.034 ml.

Daftar Pustaka

Agral, O. 2013.Formulasi dan Uji Kelayakan Sediaan Krim Anti Inflamasi Getah Tanaman Patah Tulang (Euphorbia tricucalli L.). Jurnal Ilmiah Farmasi Universitas Samratulangi.

Allen, L. V. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixt Edition.Rowe R., C., Shekey, P. J., Queen, M. E., (Editor). London. Pharmaceutical Press and American Pharmacists Assosiation. 17 – 19.

Anief, M. 2012, Farmasetika.Yogyakarta.Gajah Mada University Press.

Ansel, H. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta. Universitas Indonesia Press.

Asmara, A. 2012.Vehikulum dalam Dermatoterapi Topikal.MDVI.

Ayu, P. 2016. Identifikasi dan Prevalensi Kejadian Ringworm pada Sapi Bali. Jurnal Veteriner.

Bernatoniene, J., Masteikova, R., Davalgiene, J., Peciura, R., Gauryliene, R., Bernatoniene, R. 2011. Topical

Application of Calendula Officinalis (L); Formulation and Evaluation of Hydrophilic with Antioxidant Activity.Journal of Medical Plants Research.

Bhide, M. and Nitave, S. 2015.Formulation and Evaluation of Polyherbal Cosmetic Cream.World Journal of

Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.

Colipa Guidelines. 2004. Guidelines For The Stability Testing of Cosmetic Product. The European Cosmetics Association.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dipahayu, D. 2014. Formulasi Krim Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar Ungu (Ipoema batatas (L.) Lamk) Sebagai Anti Aging.Pharm Sci. 166- 179.

Dorland, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Gholib, D. 2010. Penyakit Kulit oleh Kapang Dermatofit (Ringworm) pada Kelinci. Balai Penelitian Veteriner.

Hana, H. 2013. Physical Stability and Activity of Cream W/O Etanolic Fruit Extract of Mahkota Dewa

(Phaleria macrocarpha (scheff.)Boerl) as A Sunscreen.Trad.Med J.

Irianto, K. 2006. Mikrobiologi. Bandung. CV. Yrama Widya.

(11)

Kusantati, H., dkk. 2008. Tata Kecantikan Kulit Jilid 3. Jakarta. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Lachman, L. et al. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta. Universitas Indonesia Press

Lazuardi, M. 2016. Bagian Umum Ilmu Farmasi Veteriner. Bogor. Ghalia Indonesia.

Mollet, H. and Grubermann, A. 2001.Formulation Thechnology : Emulsions, Suspensions, Solid Form, 261 – 262, Wiley – Vch, Toronto.

Puspa, A. 2013. Formulasi Krim Ekstrak Etanol Daun Lamun (Syringodium isoetifolium). Jurnal Ilmiah Farmasi Universitas Sam Ratulangi.

Syamsuni.2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Triakoso, N. 2016. Ilmu Penyakit Dalam Veteriner. Surabaya. PT. Revka Petra Media.

Wade, Ainley, and Paul J. Weller. 2000. Handbook of Pharmaceutical Recipients, sixth edition. Washington. American Pharmaceutical Association.

Gambar

Tabel 3.1 Tabel Jumlah Alkohol yang ditambahkan Sediaan Krim
Tabel 4.1 Rata-Rata dan Simpangan Baku Nilai Organoleptis Sediaan Krim Air dalam Minyak (w/o) Kelompok Perlakuan Siklus Kelompok Perlakuan
Tabel 4.3 Analisis Regresi Probit terhadap Jumlah Sampel Sediaan Krim Air dalam Minyak (w/o) yang Rusak pada Kelompok Perlakuan

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan media virtual interaktif, maka telah dilakukan penelitian tentang penggunaan

Metode yang digunakan dalam membangun sistem pendukung keputusan pemilihan makanan bayi 5 tahun adalah Multy Objective Optimitazion On The Basis Of Ratio Analysis

mobil otomatis antara lain : konveyor, hidrolik, alat pembersih, alat pengt&gt;ring, sensor.. tracing ketinggian permukaan mobil, dan sistem penyemprot

Peserta pengndaan yang keberatan atas penetapan pemenang dapat mengajukan sanggahan sffira tertulis kepada Panitia Pengadaan Barang/Jasa Konstruki tersebut diatas pada

 Bandingkan  hasilnya  dan  tuliskan  komentar

Sehingga perlunya suatu bentuk kegiatan pendampingan masyarakat untuk lebih memasyarakatkan tanaman obat keluraga (TOGA) ini sebagai suatu bentuk kemandirian

Terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan subjek mengenai bullying dan perilaku asertif setelah diberikan pelatihan dimana rata-rata pengetahuan subjek

Sastera Islam dan karya ini antara yang menunjukkan pengukuhan penerusan