1
PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK ANORGANIK
TANPA DIIMBANGI PUPUK ORGANIK DAN PUPUK
HAYATI BAGI KESEHATAN TANAH DAN TANAMAN
Siti Nisrina Hasna
150510120024
Priyanka
150510120026
Oka Violani150510120031
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Dalam sejarah peradaban manusia, petani bekerja mengembangkan budaya tanam dengan memanfaatkan potensi alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Petani merupakan komunitas mandiri, tetapi dengan pertanian konvensional, petani justru tidak mandiri. Petani menjadi tergantung terhadap ketersediaan pupuk kimia, pestisida dan benih serta sarana pertanian lain. Kondisi tersebut terlihat nyata dalam masa swasembada pangan saat orde baru. Penggunaan bahan sintetis dengan tujuan meningkatkan produktivitas dalam jangka waktu yang pendek, berdampak besar khususnya terhadap kondisi kesuburan tanah saat ini. Dampak nyata saat ini adalah degradasi kesuburan dan fisik tanah yang merupakan akumulasi residu bahan sintetis hasil pertanian konvensional.
Pupuk anorganik sebagai salah satu input terbesar pertanian Indonesia hingga saat ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Peran pupuk anorganik salah satunya dalamhal menyediakan unsur hara yang dapat diserap tanaman. Namun, kandungan pupuk anorganik serta proses yang terjadi di dalam tanah memiiki efek yang buruk terhadap lingkungan. Efek sisa residu yang ditimbulkan dapat mencemari tanah dan akan bertahan dalam waktu yang lama jika tidak diberi perlakuan. Pemberian pupuk anorganik di atas dosis yang dianjurkan
1.2
TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk anorganik jika tanpa diimbangi pupuk organik dan pupuk hayati bagi kesehatan tanah.
2. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk anorganik jika tanpa diimbangi pupuk organik dan pupuk hayati bagi kesehatan tanaman.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
P
ENGARUH
P
ENGGUNAAN
P
UPUK
A
NORGANIK
T
ANPA
D
IIMBANGI
P
UPUK
O
RGANIK DAN
P
UPUK
H
AYATI
B
AGI
K
ESEHATAN
T
ANAH
Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa diimbangi oleh pupuk organik dapat menyebabkan kesuburan tanah semakin rendah. Kesuburan tanah yang rendah menyebabkan tanah menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air dan menurunkan pH tanah. Lingga dan Marsono (2001) menyatakan bahwa pemberian pupuk anorganik tanpa diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dapat menurunkan sifat fisik seperti halnya struktur tanah, kimia seperti menurunnya Kapasitas Tukar Kation (KTK) , dan biologi tanah seperti menurunnya aktivitas mikroorganisme tanah.
4 phosphor (P), dan kalium (K) yang rendah, tetapi mengandung hara mikro yang berlimpah serta diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Anonemus, 2004.
Pupuk organik memiliki keunggulan yaitu mengandung unsur hara yang lebih lengkap dibandingkan dengan pupuk anorganik meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit. Secara umum pupuk organik dapat berperan sebagai penyedia hara tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Suwahyono, 2011). Pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman karena mampu berperan dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, meningkatkan aktivitas biologi tanah, serta sebagai sumber nutrisi tanaman lengkap.
2.2
P
ENGARUH
P
ENGGUNAAN
P
UPUK
A
NORGANIK
T
ANPA
D
IIMBANGI
P
UPUK
O
RGANIK DAN
P
UPUK
H
AYATI
B
AGI
K
ESEHATAN
T
ANAMAN
Pemakaian pupuk kimia seperti urea dan ZA secara terus menerus membuat kondisi tanah semakin masam. Penggunaan pupuk N-sintetik secara berlebihan juga menurunkan efisiensi P dan K serta memberikan dampak negatif seperti gangguan hama dan penyakit (Musnamar, 2003). Departemen Pertanian (2004) mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini petani mulai mengeluh bahwa pemberian pupuk jenis dan dosis tertentu tidak lagi berpengaruh nyata terhadap produksi. Hal ini dikarenakan mikroorganisme tanah sudah menurun jumlahnya. Kecenderungannya, dosis penggunaan pupuk semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, pada tahun 1970-an petani hanya membutuhkan 150 kg urea per ha namun sekarang mencapai 500 kg urea per ha.
Menurut Reijintjes, et al (1992), penggunaan input luar (pupuk dan pestisida sintetis) telah menyebabkan terganggunya kehidupan keseimbangan tanah, meningkatkan dekomposisi bahan organik, yang kemudian menyebabkan degradasi struktur tanah, kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekeringan dan keefektifan yang lebih rendah dalam menghasilkan panenan. Aplikasi yang tidak seimbang dari pupuk mineral nitrogen yang menyebabkan bisa juga menurunkan pH tanah dan ketersediaan fosfor bagi tanaman.
Penggunaan pupuk buatan NPK yang terus menerus juga menyebabkan penipisan unsur-unsur mikro seperti seng, besi, tembaga, mangan, magnesium, molybdenum, boron, yang bisa mempengaruhi tanaman, hewan, dan kesehatan manusia. Apabila unsur mikro ini tidak diganti oleh pupuk buatan NPK, produksi lambat laun akan menurun dan serangan hama dan penyakit meningkat (Sharma, 1985; Tandon, 1990)
5 metabolik jasad mikro di tanah serta memperbaiki penampilan tanaman. Dengan pertumbuhan tanaman yang baik, daya tahan tanaman atas penyakit akan meningkat. Kualitas dan kuantitas hasil produksi pun akan meningkat.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mikroba tanah melakukan immobilisasi berbagai unsur hara sehingga dapat mengurangi hilangnya unsur hara melalui pencucian. Unsur hara yang dimobilisasi diubah sebagai massa sel mikroba dan akan kembali lagi tersedia untuk tanaman setelah terjadi mineralisasi yaitu apabila mikroba mati. Di lain sisi, mikroba tanah juga menghasilkan metabolit yang mempunyai efek sebagai zat pengatur tumbuh. Bakteri Azotobacter selain dapat menambat N juga menghasilkan thiamin, riboflavin, nicotin indol acetic acid dan giberelin yang dapat mempercepat perkecambahan bila diaplikasikan pada benih dan merangsang regenerasi bulu-bulu akar sehingga penyerapan unsur hara melalui akar menjadi optimal.
Fungsi pupuk hayati sebagai bioprotektan
Induksi ketahanan sistemik oleh Rhizobakteria (ISR)
Untuk melindungi dirinya dari penyakit, tanaman membentuk suatu mekanisme pertukaran dimana signal molekul asam salisilat (SA), asam jasmonik (JA), dan ethylene (ET) sangat berperan dalam pembentukannya. Kemampuan tanaman untuk membentuk suatu Sistemic Acquired Resistance
(SAR) setelah infeksi primer oleh pathogen yang mengakibatkan nekrosis telah banyak diketahui dan jalur pengiriman signalnya secara ekstensif telah dipelajari. Pada tanaman dimana pada akarnya terdapat populasi non-patogenik fluorescent Pseudomonas sp. secara fenotipik membentuk suatu mekanisme pertahanan yang sama seperti SAR dikenal dengan induksi resistensi sistemik oleh rhizobakteria (ISR). Perbedaannya terletak pada pengatur signal molekulnya dimana untuk SAR sangat ditentukan oleh SA dan untuk ISR oleh rhizobakteria ditentukan oleh JA dan ET (Pieterse, 2002)
6
2.3
P
ENTINGNYA
K
OMBINASI
P
UPUK
A
NORGANIK
,
P
UPUK
O
RGANIK
,
DAN
P
UPUK
H
AYATI
DALAM
S
ISTEM
P
ERTANIAN
B
ERKELANJUTAN
Kesuburan tanah dan kualitas tanah merupakan salah satu faktor utama dalam usaha tani atau budidaya tanaman. Faktor kebutuhan hara dalam tanah melatarbelakangi dibutuhkannya kegiatan pemupukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan memberikan bahan yang dimaksudkan dapat menyediakan hara bagi tanaman. Dengan mengandalkan unsur hara yang tersedia dalam tanah asli saja tanpa dilakukan penambahan hara, hasil usaha tani akan semakin merosot dikarenakan ketimpangan antara pasokan hara dalam tanah dengan kebutuhan tanaman.
Berbagai jenis pupuk dapat diberikan demi menyediakan unsur hara untuk tanaman, pupuk anorganik, pupuk organik, dan pupuk hayati. Namun, pemupukan dengan menggunakan salah satu jenis pupuk saja akan memberikan efek atau pengaruh yang kurang baik terhadap tanaman ataupun tanah. Penggunaan pupuk anorganik saja secara terus menerus dan dalam jangka waktu panjang dapat berpengaruh terhadap unsur tanah sehingga mengurangi kesuburan serta produksi tanaman. Selain itu, pengaruh yang timbul adalah terkurasnya unsur mikro dan menurunnya produktivitas tanaman, tanah akan menjadi jenuh pupuk kimia sehingga keseimbangan ekosistem (jasad renik) menjadi terganggu dan aktivitas mikroba dalam tanah khususnya yang dapat menyediakan unsur hara tanah menjadi terganggu.
Pemberian pupuk organik saja tidak akan menghasilkan produksi tanaman yang optimal. Pupuk organik memang memiliki kandungan hara yang lengkap, namun tidak ada pupuk organik yang memiliki kandungan hara tinggi atau setara pupuk kimia/anorganik. Pemberian pupuk organik saja membuat produktivitas tanaman tidak setinggi sistem pertanian input rendah atau LEISA (Low External Input Sustainabel Agriculture). Sedangkan, pemberian pupuk hayati saja tidak bisa menggantikan pupuk organik karena hanya dapat menyediakan hara sekitar 1%, kecuali jika ditambah dengan produk tertentu seperti asam amino, enzim, vitamin, dll akan meningkatkan persentase pengadaan unsur hara dalam tanah karena meningkatnya aktivitas mikroba dalam tanah, namun tetap saja tidak dapat menyamai ketersediaan unsure hara oleh pupuk anorganik atau pupuk kimia.
Untuk mencapai hasil usaha tani yang maksimal, pemupukan yang perlu dilakukan adalah pemupukan kombinasi antara pupuk organik, pupuk anorganik serta pupuk hayati dalam sistem
7 menghasilkan hasil usaha tani yang maksimal, meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan intensif menurun produktivitasnya serta mengalamai degradasi lahan terutama rendahnya kandungan C-Organik yang juga dikarenakan oleh penggunaan pupuk anorganik atau pupuk sintetis secara terus menerus sehingga tanah jenuh dan berpengaruh terhadap struktur tanah. Pupuk organik dapat meningkatkan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan serta meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Pupuk organik juga dapat mencegah degradasi lahan jika digunakan secara terus menerus, selain itu berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butiran sekunder tanah sehingga terbentuk agregat yang mantap, selain itu juga berpengaruh terhadap porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi dan suhu tanah karena pupuk organik menyediakan senyawa carbon yang memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah.. Pengaruh pupuk organik tersebut, dapat melengkapi penggunaan pupuk anorganik yang penyediaan unsur hara nya tinggi namun berpengaruh terhadap agregat tanah dan degradasi lahan. Dengan penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik, maka ketersediaan unsur hara dapat optimal dan degradasi lahan atau tanah dapat diminimilisir dan dicegah demi keberlanjutan pertanian karena keunggulan pupuk organik disbanding anorganik adalah dapat memperbaiki struktur tanah dan aktivitas mikrobiologi tanah.
Selain itu, pengkayaan pupuk organik seperti kompos dapat dilakukan secara mikrobiologis dengan menambahkan pupuk hayati sebagai salah satu sumber alternative penyediaan hara tanaman yang ramah lingkungan. Kombinasi pupuk organik dengan pupuk hayati dapat meningkatkan kualitas pupuk organik dengan meningkatkan ketersediaan hara pupuk organik, kesuburan tanah, efisiensi pemupukan dan keberlanjutan produktivitas tanah. Pupuk organik juga memiliki senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman seperti asma humik, asam fulvat, dan senyawa organik lain walaupun kandungannya rendah. Kompos merupakan tempat tumbuh yang cocok bagi mikroba. Tabel hasil penelitian dibawah ini menunjukan bahwa pemberian mikroba pada kompos dapat meningkatkan keberagaman mikroba yang dikandungnya.
Tabel 2.3.1 populasi mikroba kompos granul (cfu g-1 bahan pembawa) setelah inokulasi pada 0 HIS.
Perlakuan Formulasi Bakteri Penambat 2
8 Keterangan : Inokulan 1) bakteri penambat N hidup bebas 5.8 x 10 3, 2)konsorsia pelarut P 1 x 107 cfu/ml (g bahan pembawa)
Pemupukan dengan cara mengkombinasika pupuk organi, pupuk hayati dan pupuk anorganik memberikan banyak keuntungan, yaitu :
- Menambah kandungan unsur hara yang tersedia dan siap diserap tanaman selama periode tumbuh tanaman.
- Menyediakan semua unsur hara dalam jumlah yang seimbang sehingga persentase penyerapan unsur hara oleh tanaman meningkat
- Mencegah kehilangan hara karena bahan organik mempunya kapastitas tukar ion yang tinggi. - Membantu mempertahankan kandungan bahan organik tanah pada aras tertentu sehingga
berpengaruh baik terhadap fisik dan status kesuburan tanah.
- Residu bahan organik akan berpengaruh baik pada pertanaman berikutnya maupun dalam mempertahankan produktivitas tanah.
- Lebih ekonomis karena tiap unit volume banyak yang mengandung N, fosfat dan K serta kandungan hara tanaman yang lebih banyak
- Membantu dalam mempertahankan keseimbangan ekologi tanah sehingga kesehatan tanah dan tanaman dapat lebih baik.
Dalam kombinasi pemupukan, sebuah penelitian membuktikan bahwa pemupukan terpadu dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik namun jumlah pupuk organik yang diberikan haruslah cukup dan pupuk anorganik yang diberikan haruslah dalam jumlah yang tidak menekan pertumbuhan mikroba pupuk hayati.
9 KCl/ha+Biophos+2.5 t ha-1 seresah jagung-pupuk
kandang
(tanpa dikompos)
10
BAB III
PENUTUP
3.1
S
IMPULAN
a. Pemberian pupuk anorganik tanpa diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dapat menurunkan sifat fisik seperti halnya struktur tanah, kimia seperti menurunnya Kapasitas Tukar Kation (KTK) , dan biologi tanah seperti menurunnya aktivitas mikroorganisme tanah. b. Pemakaian pupuk kimia seperti urea dan ZA secara terus menerus membuat kondisi tanah
semakin masam. Penggunaan pupuk N-sintetik secara berlebihan juga menurunkan efisiensi P dan K serta memberikan dampak negative seperti gangguan hama dan penyakit
11
DAFTAR PUSTAKA
Hardaningsih et al, 2008. Pemanfaatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria dalam Pupuk Organik untuk Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Produksi Kedelai. Diakses melalui pada
http://www.litbang.pertanian.go.id/ks/one/75/file/pemanfaatan-plant-growth.pdf 10
Maret 2015
Hartatik, Wiwik dan Diah Setyorini. Pemanfaatan Pupuk Organik untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Kualitas Tanaman. Balai Penelitian Tanah. Bogor (
http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/lainnya/52%20-%20Wiwik
%20Hartatik%20dan%20Diah%20Setyorini%20-%20Pemanfaatan%20Pupuk%20O
rganik%20untuk%20Meningkatkan%20Kesuburan%20Tanah.pdf
Diunduh padatanggal 12-03-2015)
Kustantini, Diana. 2014. Pentingnya Penggunaan Pupuk Organik Dalam Peningkatan Produksi Benih Kakao (Theobroma Cacao L.) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya
(
http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/tinymcpuk/gambar/file/Pentingnya
%20penggunaan%20pupuk%20organik%20dalam%20peningkatan%20produksi%20
benih%20kakao%20oke.pdf
Diunduh pada tanggal 12-03-2015)Nasaruddin. 2012. RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO TERHADAP INOKULASI AZOTOBACTER DAN MIKORIZA. J. Agrivigor 11(2): 300-315. ISSN 1412-2286 300. Diakses melalui etd.ugm.ac.id/index.php?...pdf pada 10 Maret 2015
Saraswati, Rasti. 2012. Teknologi Pupuk Hayati untuk Efisiensi Pemupukan dan Keberlanjutan Sistem Produksi Pertanian. Bogor : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Simanungkalit, R.D.M. 2006. Prospek Pupuk Organik dan Pupuk Hayati di Indonesia. Bogor : Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sumarno. 2013. Dasar-dasar Kesuburan Tanah dan Pengelolaannya dalam marno.lecture.ub.ac.id (15
Maret 2015)
Suriadikarta, Didi dan R.D.M Simanungkalit 2006. Pendahuluan dalam Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor : Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta : Kanisius.
Zulkifli dan Herman.2012. Respon Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Stut ) Terhadap Dosis Dan Jenis
Pupuk Organik . Fakultas Pertanian UIR