PRAKTIK BAIK SISTEM PENJAMINAN
MUTU INTERNAL DI PERGURUAN TINGGI
Strategi Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Perguruan Tinggi
STRATEGI TEMPUR PEJUANG MUTU UNIVERSITAS
PADJADJARAN
NURUL HIKMAYATY SAEFULLAH *
*UNIVERSITAS PADJADJARAN, KEPALA UNIT PENJAMINAN MUTU FAKULTAS ILMU BUDAYA
Abstract
STRATEGI TEMPUR PEJUANG MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN
NURUL HIKMAYATY SAEFULLAH[1]
Pendahuluan
Penjaminan mutu merupakan suatu proses sistematis dan berkelanjutan yang bertujuan menghasilkan, meningkatkan, dan mempertahankan mutu suatu institusi sehingga kualitasnya terjamin dan diakui masyarakat. Penjaminan mutu di Perguruan Tinggi dilakukan untuk mengukur seberapa efektif kebijakan akademik yang diterapkan dan seberapa tinggi mutu lulusan yang dihasilkannya, selain untuk meningkatkan daya saing di antara Perguruan Tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk menjawab permasalahan-permasalahan dasar tersebut, keberadaan sistem yang mengatur segala upaya Penjaminan mutu di Perguruan Tinggi sangatlah penting. Sistem penjaminan mutu di Perguruan Tinggi telah diatur di dalam Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pada Pasal 53, dinyatakan bahwa Sistem penjaminan mutu Pendidikan Tinggi terdiri atas: a. sistem penjaminan mutu internal yang dikembangkan oleh Perguruan Tinggi; dan b. sistem penjaminan mutu eksternal yang dilakukan melalui akreditasi.
Sistem Penjaminan Mutu Internal di Universitas Padjadjaran dan Strategi Penerapannya
Secara organisasional, Satuan Penjaminan Mutu (SPM) di tingkat universitas dapat dikatakan sebagai induk dari segala kegiatan penjaminan mutu internal di Universitas Padjadjaran. Unit Penjaminan Mutu (UPM) merupakan perpanjangan tangan SPM di tingkat fakultas yang, selain berkoordiasi dengan SPM, juga berkoordinasi dengan pimpinan fakultas dalam tugas-tugas penjaminan mutu. Gugus Kendali Mutu (GKM) adalah lembaga yang keberadaannya tidak secara eksplisit dimunculkan di dalam Organisasi dan Tata Kerja Pengelola Universitas Padjadjaran sehingga kegiatan penjaminan mutu melekat pada fungsi ketua program studi dan sekretaris program studi.
Sistem Penjaminan Mutu Internal di Universitas Padjadjaran mengacu pada sistem yang berlaku di Indonesia dan mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden Republik Indonesia, dan Peraturan Menteri tentang Pendidikan Tinggi dan Penjaminan Mutu. Peraturan-peraturan tersebut kemudian dikembangkan oleh universitas (dalam hal ini SPM dibantu oleh tim
Ad-hoc) dengan melakukan penyesuaian dan perincian sehingga cakupannya bersifat lokal namun tentunya masih mempertahankan aturan-aturan dasar yang bersifat wajib dan pokok. Upaya pengembangan tersebut dilakukan demi efektifnya pelaksanaan SPMI di Universitas Padjadjaran.
Salah satu strategi yang dilakukan oleh SPM Universitas Padjadjaran adalah menyusun Standar Mutu yang akan diberlakukan di Universitas Padjadjaran. Standar Mutu tersebut dapat dikatakan sebagai pengembangan dari Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi tahun 2010, yang dapat dirinci sebagai berikut: 1. Standar Pembelajaran; 2. Standar Sistem Penjamian Mutu; 3. Standar tata Pemong; 4. Standar Visi, Misi, dan Tujuan; 5. Standar Kerja Sama; 6. Standar Sistem Informasi; 7. Standar Suasana Akademik; 8. Standar Sarana dan Prasarana; 9. Standar Kemahasiswaan; 10. Standar Keuangan; 11. Standar Penelitian; 12. Standar Pengabdian kepada Masyarakat; 13. Standar Kesejahteraan; dan 14. Standar Pengelolaan Usaha. Standar Mutu tersebut disertai dengan
Kebijakan dan Manual Mutu yang kemudian dapat langsung diterapkan di Universitas Padjadjaran sebagai acuan dalam pelaksanaan sistem penjaminan mutu, baik di tingkat universitas, fakultas, maupun program studi.
Selain penyusunan Standar Mutu, efektifitas sistem penjaminan mutu di Universitas Padjadjaran juga dapat dilihat dari lengkapnya dokumen Standard Operating Procedure (SOP). Pada tahun 2016 ini, telah terkumpul lebih dari 60 (enam puluh) SOP mengenai penjaminan mutu yang digunakan di lingkungan Universitas Padjadjaran. Keberadaan SOP tersebut menunjukkan tingkat keseriusan Universitas Padjadjaran dalam upaya pelaksanaan sistem penjaminan mutu sehingga segala jenis pelayanan dapat berjalan sesuai prosedur yang berlaku dan efektif. Salah satu contoh SOP yang diberlakukan adalah SOP Pelaksanaan Layanan Pendampingan Penyusunan Borang Akreditasi Program Studi. Mengingat Universitas Padjadjaran membuat menuntut nilai Akreditasi A pada 80% program studi di tahun 2016/2017, lembaga penjaminan mutu di lingkungan universitas terlibat secara aktif untuk menjawab tantangan tersebut. SOP yang memuat prosedur rinci yang harus ditempuh oleh program studi, pihak dekanat, Kepala dan Wakil Kepala SPM, dan para staf SPM memudahkan proses pelayanan.
Pendampingan ini bersifat intensif hingga borang program studi dinyatakan layak untuk dicetak. Proses selanjutnya dikembalikan ke UPM fakultas yang dengan timnya menyunting draft borang program studi dan mencetaknya, lalu mengirimkan ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Tugas Pejuang Mutu tersebut tidak selesai sampai di sini. Kepala UPM juga berkewajiban mendampingi program studi melengkapi dokumen-dokumen yang harus disiapkan pada saat visitasi, kemudian mendampingi program studi ketika asesor eksternal BAN-PT hadir untuk visitasi. Proses tersebut tidak mudah dan membutuhkan koordinasi yang baik dari pihak program studi, fakultas, dan universitas.
Saat ini, Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di Universitas Padjadjaran dan strategi
penerapannya sangat terasa pada hal yang berkaitan dengan peningkatan dan pemertahanan nilai akreditasi program studi.
Penutup
Masih banyak strategi lainnya yang dijalankan di Universitas Padjadjaran sebagai proses penerapan SPMI. Beberapa hambatan dan kendala pun sering dirasakan sehingga efektifitas pelaksanaannya tidak selamanya berjalan sesuai dengan harapan. Meskipun tidak semua strategi tersebut belum berjalan efektif, namun upaya penyempurnaannya selalu dilakukan demi tercapainya mutu akademik yang berdaya saing tinggi. Penjaminan mutu bukanlah hal yang mudah dilakukan dan memerlukan keterlibatan sumber daya manusia di semua lini, terutama para Pejuang Mutu, agar sistem ini dapat terlaksana dengan baik.