• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar Simpanan Amilum Dalam Daun Monokotil Dan Dikotil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kadar Simpanan Amilum Dalam Daun Monokotil Dan Dikotil"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ACARA 2 METABOLISME

Kadar Simpanan Amilum dalam Daun Monokotil dan Dikotil I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pati atau amilum, polisakarida simpanan pada tumbuhan, adalah suatu polimer yang secara keseluruhan terdiri atas monomer-monomer glukosa. Tumbuhan menumpuk pati sebagai granul atau butiran di dalam struktur seluler yang disebut plastid, termasuk kloroplas. Dengan cara mensintesis pati, tumbuhan dapat menimbun kelebihan glukosa (Reece et al, 2014).

Untuk membuktikannya kadar amilum di dalam daun kita dapat melakukan percobaan dengan menutup bagian daun dengan kertas timah. Dari situ, dapat dilihat perbedaan antara bagian daun yang ditutup dengan kertas timah dan daun yang masih terbuka atau terkena cahaya matahari.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk :

1. Mengamati perbedaan antara daun yang ditutup kertas timah dengan daun yang masih terkena cahaya matahari.

2. Mengetahui pengaruh cahaya matahari terhadap eksistensi amilum di dalam daun.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Amilum merupakan karbohidrat yang mempunyai molekul rantai panjang dan biasanya berbentuk butiran. Dalam pewarnaan dengan larutan JKJ, amilum akan menampakkan warna biru kehitam-hitaman. Butir-butir amilum ini pertama kali dibentuk di dalam kloroplas. Amilum dipecah dan diubah menjadi gula untuk disimpan di dalam jaringan yang nantinya dapat disintesis kembali di dalam amiloplas. (Mulyani, 2006)

Kebenaran bahwa fotosintesis menghasilkan amilum dibuktikan oleh seorang kimiawan Jerman bernama Julius Sachs (1832-1897). Ia menemukan bahwa zat asam arang yang diserap tanaman digabungkan dengan hidrogen dari molekul air akan membentuk glukosa. Energi untuk reaksi ini berasal dari cahaya matahari yang menimpa tanaman. Sebagian glukosa hasil fotosintesis ini diubah menjadi zat tepung atau amilum sebagai bentuk simpanan energi. Kemudian oksigen yang terpisah dari air akan dilepas oleh tanaman ke atmosfer. (Challoner, 2000)

Pada reaksi fiksasi karbon, ATP dan NADPH yang dihasilkan pada reaksi terang digunakan sebagai energi untuk mengubah CO2 menjadi karbohidrat. Reaksi ini dimulai

(2)

dalam stroma kloroplas dan diteruskan dalam sitoplasma yang menghasilkan sukrosa dalam daun tanaman. Sukrosa dalam daun dipindah ke bagian lain tanaman dan digunakan sebagai bahan dalam pembentukan molekul organik dan energi bagi pertumbuhan tanaman. (Akin, 2006)

Fiksasi karbon tidak membutuhkan cahaya, oleh karena itu biasa disebut sebagai reaksi gelap. Namun, Fiksasi karbon tidak pula terjadi saat gelap, nyatanya banyak enzim yang terlibat di reaksi fiksasi karbon lebih aktif ketika ada cahaya dari pada ketika gelap. Kemudian, reaksi fiksasi karbon ini juga bergantung pada produk dari reaksi terang (Solomon et al, 2011).

Siklus Calvin merupakan jalur metabolisme yang serupa dengan siklus Krebs dalam arti bahwa materi awal diregenerasi setelah molekul memasuki dan meninggalkan siklus ini. Karbon memasuki siklus Calvin dalam bentuk CO2 dan keluar dalam bentuk gula.

Siklus ini menggunakan ATP sebagai sumber energi dan mengkonsumsi NADPH sebagai tenaga produksi untuk penambahan electron berenergi-tinggi untuk membuat gula (Reece et al, 2014).

III. ALAT DAN BAHAN

Untuk melakukan praktikum ini, bahan utama yang harus disiapkan adalah daun dikotil dan monokotil yang telah dibungkus dengan kertas timah pada hari sebelumnya. Kemudian alkohol 95% , larutan JKJ, cawan patri, kompor listrik, gelas piala dan penjepit. Alkohol 95% berfungsi untuk melarutkan klorofil dari daun. Larutan J-KJ berfungsi untuk mewarnai amilum dalam daun. Cawan patri, gelas piala dan kompor listrik berfungsi untuk memanaskan air dan alkohol yang digunakan untuk merebus daun. Sedangkan penjepit digunakan untuk mengambil daun dalam rebusan air dan alkohol.

IV. METODE

Hal pertama yang harus disiapkan sebelum melakukan praktikum ini adalah membungkus sebagian daun dengan kertas timah pada hari sebelumnya. Pembungkusan dengan kertas timah ini bertujuan untuk menghalangi cahaya matahari agar tidak diserap oleh daun, sehingga pada bagian daun yang ditutup tidak dapat melakukan fotosintesis. Kemudian setelah daun yang telah ditutup terkena cahaya matahari selama beberapa jam, daun dipotong dan balutan kertas timah dibuka. Setelah itu, daun dimasukkan ke dalam air panas selama beberapa menit untuk memecah dinding sel.

Daun yang telah direbus di dalam air panas lalu diangkat dan dimasukkan ke dalam alkohol panas selama kurang lebih sepuluh menit. Namun, bila daun lebih tipis, perebusan tidak boleh terlalu lama agar tidak merusak sel. Perebusan dengan alkohol ini berfungsi untuk melarutkan klorofil dalam daun agar memudahkan pengamatan warna. Setelah dirasa cukup, daun diangkat dan dimasukkan ke dalam air dingin. Proses ini bertujuan untuk menghentikan pelarutan klorofil dalam daun. Kemudian, daun dimasukkan ke dalam larutan J-KJ untuk mewarnai amilum dan ditiriskan. Setelah itu, daun dapat diamati. Bercak biru tua pada daun yang tidak terbungkus kertas timah menandakan bahwa daun tersebut mengandung amilum.

(3)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Dari praktikum yang dilakukan, berikut tabel hasil pengamatan simpanan amilum pada daun monokotil dan dikotil.

(+) terdapat amilum (-) tidak terdapat amilum *Tidak dapat diamati B. Pembahasan

Hal yang diamati dalam praktikum ini adalah kandungan amilum di dalam daun. Untuk dapat melakukan pengamatan, kita harus membungkus daun dengan kertas timah pada saat daun belum terkena cahaya matahari selama 24 jam. Hal ini betujuan agar daun belum sempat melakukan proses fotosintesis, sehingga saat ditutup dengan kertas No Warna Daun ditutupWarna Biru pada DaunTidak ditutup

Monokotil 1 Pandan - + 2 Palem* - -3 Rumput gajah - + 4 Jagung* - -5 Alang-alang* - -Dikotil 1 Jambu Biji - + 2 Sawo - + 3 Sirsak - + 4 Mangga - + 5 Jambu Air - +

(4)

timah daun tidak melakukan fotosintesis. Jika daun tidak melakukan fotosintesis, maka daun tidak menghasilkan amilum karena amilum merupakan glukosa hasil fotosintesis yang disimpan sebagai cadangan energi. Dengan begitu, kita akan lebih mudah dalam melakukan pengamatan dan membandingkan bagian daun yang mengandung amilum dengan yang tidak terdapat amilum.

Dalam melakukan praktikum ini kita membutuhkan alkohol panas dan larutan J-KJ. Fungsi dari alkohol panas adalah untuk melarutkan klorofil pada daun sehingga memudahkan kita untuk melakukan pengamatan warna. Kemudian, larutan J-KJ berfungsi sebagai zat pewarna amilum yang jika terkena amilum akan bereaksi dengan menampakkan warna biru gelap pada daun. Dengan begitu, kita dapat lebih mudah mengamati bagian-bagian daun yang mengandung amilum.

Hasil percobaan di atas telah sesuai dengan teori bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Hal ini terbukti karena dari sepuluh sampel yang diamati 70% mengandung amilum pada bagian daun yang tidak ditutup dan dan tidak mengandung amilum pada daun yang ditutup kertas timah. Sedangkan 30% lainnya masuk kategori tidak dapat diamati karena tidak terlihat perbedaan warna pada daun, sehingga ditulis negatif. Hal ini bisa saja terjadi karena human error atau kesalahan perlakuan saat membungkus daun. Kemungkinan pertama, daun yang dibungkus dengan kertas timah tersebut tidak terbungkus secara sempurna sehingga masih dapat melakukan fotosintesis. Sedangkan kemungkinan kedua, daun tersebut berada di tempat yang teduh sehingga tidak terkena penyinaran secara langsung yang mengakibatkan daun tersebut tidak berfotosintesis dengan aktif.

VI. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara daun yang ditutup dengan kertas timah dengan daun yang tidak ditutup dengan kertas timah. Daun yang tidak ditutup kertas timah menampakkan bercak warna biru gelap ketika diberi larutan J-KJ yang menjadi penanda bahwa bagian tersebut mengandung amilum. Sedangkan daun yang ditutup dengan kertas timah tidak terpengaruh dengan larutan J-KJ dan tetap terlihat pucat karena tidak mengandung amilum. Dari situ dapat diketahui bahwa cahaya matahari mempengaruhi eksistensi simpanan amilum dalam daun. Hal ini dikarenakan cahaya matahari merupakan sumber energi utama untuk melakukan fotosintesis. Jika daun tidak terkena cahaya matahari, maka daun tersebut tidak mampu berfotosintesis sehingga tidak dapat memproduksi glukosa.

DAFTAR PUSTAKA

Akin, H. M. 2006. Virologi Tumbuhan. Kanisius, Yogyakarta. (hlm: 63-64)

Challoner, J. 2000. Jendela Iptek: Energi. Diterjemahkan oleh: Januarius Mujianto. Balai Pustaka, Jakarta. (hlm: 50)

Mulyani, S. 2006. Anatomi Tumbuhan. Kanisius, Yogyakarta. (hlm: 66-67)

Reece, Jane B et al. 2014. Campbell Biology Tenth Edition. Pearson Education, Inc., United States of America. (page: 70)

(5)

LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,