• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arsip Nasional Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Arsip Nasional Republik Indonesia"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAR PERSETUJUAN

Substansi Prosedur Tetap tentang Pengelolaan Barang Milik Negara di Lingkungan Arsip Nasional Republik Indonesia telah saya setujui.

Disetujui di Jakarta

pada tanggal Desember 2011

SEKRETARIS UTAMA,

GINA MASUDAH HUSNI

(2)

PROSEDUR TETAP NOMOR 31 TAHUN 2011

TENTANG

PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA

DI LINGKUNGAN ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN

A. Umum

Dalam rangka untuk menjamin terlaksananya tertib administrasi dan tertib pengelolaan barang milik negara dan terciptanya transparansi, profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan barang milik negara perlu dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas sebagai berikut:

1. Asas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah di bidang pengelolaan barang milik Negara/daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan gubernur/bupati/walikota sesuai fungsi, wewenang, dan tanggung jawab masingmasing;

2. Asas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik Negara/daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan;

3. Asas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik negara/daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar.

4. Asas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik negara/daerah diarahkan agar barang milik negara/daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal;

5. Asas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik negara/daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat;

6. Asas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik negara/daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik negara/daerah serta penyusunan Neraca Pemerintah.

(3)

Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Disamping berasal dari pembelian atau perolehan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah juga berasal dari perolehan lainnya yang sah. Barang milik negara/daerah yang berasal dari perolehan lainnya yang sah ini meliputi barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan/ sejenisnya, diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak, diperoleh berdasarkan ketentuan undangundang dan diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) adalah semua aktivitas/proses yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya material/aset/BMN yang dimiliki oleh Kementerian/Lembaga/ Satuan Kerja yang meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Untuk menjamin terlaksananya tertib administrasi dan tertib pengelolaan barang milik negara, transparansi, profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan barang milik negara maka perlu diatur dalam bentuk petunjuk teknis berupa Prosedur Tetap Pengelolaan BMN di lingkungan Arsip Nasional Republik Indonesia.

B. Maksud dan Tujuan

Penyusunan Prosedur Tetap Pengelolaan BMN dimaksudkan agar barang milik negara dapat dikelola dengan tertib baik tertib administrasi maupun tertib pengelolaannya sehingga memenuhi azas-azas pengelolaan BMN yaitu azas fungsional, azas kepastian hukum, azas, transparansi, azas efisiensi, azas akuntabilitas dan azas kepastian nilai. Disamping itu Prosedur Tetap Pengelolaan BMN ini dimaksudkan untuk memberi petunjuk kepada organisasi yang terkait dalam pengelolaan BMN agar setiap pihak yang terlibat memiliki persepsi yang sama sehingga tercapai keseragaman dalam pelaksanaan pengelolaan BMN.

Sedangkan tujuan penyusunan prosedur tetap pengelolaan BMN adalah :

1. Tertib administrasi BMN, adanya kontrol dan koordinasi dalam pelaksanaan pendataan, pencatatan, pembukuan, inventarisasi dan pelaporan BMN;

2. Tertib pengelolaan BMN, menjamin pengelolaan BMN dapat terkendali dan terkontrol sejak dari perencanaan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

3. Menjamin kepastian status penguasaan BMN; 4. Menjamin kelengkapan bukti kepemilikan BMN;

(4)

5. Sebagai Pedoman pelaksanaan kegiatan bagi organisasi yang terkait dalam pelaksanaan pengelolaan BMNdi lingkungan ANRI.

C. Ruang Lingkup

Prosedur Tetap Pengelolaan BMN ini berlaku dan digunakan oleh seluruh unit akuntansi kuasa pengguna barang (UAKPB) di Lingkungan ANRI. Prosedur Tetap Pengelolaan BMN ini meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

D. Dasar

1. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5071);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagaimanan telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;

6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara; 7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Penggolongan dan

Kodefikasi Barang Milik Negara;

8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/21/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Penyusunan Standard Operating Prosedures (SOP);

9. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Tata Naskah Dinas;

10. Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Arsip Nasional Republik Indonesia sebagaimana telah dua

(5)

kali diubah terakhir dengan Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2010.

11. Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Prosedur Tetap Di Lingkungan Arsip Nasional Republik Indonesia.

E. Pengertian

Dalam Prosedur Tetap ini yang dimaksud dengan :

1. Barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang syah.

2. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan barang milik negara/daerah, yaitu Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara adalah Pengelola Barang Milik Negara.

3. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik negara/daerah yaitu Menteri/pimpinan lembaga selaku pimpinan kementerian negara/lembaga adalah Pengguna Barang Milik Negara.

4. Kuasa pengguna barang adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh pengguna barang untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.

5. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) adalah Unit yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan SIMAK-BMN di lingkungan satuan kerja. Penanggung jawab UAKPB di ANRI secara fungsional dilaksanakan oleh pejabat eselon III (Kepala Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga) dan Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi atau Pejabat yang ditetapkan dengan fungsi sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan sistem manajemen infomasi BMN; b. Menyelenggarakan sistem akuntansi BMN;

c. Menyelenggarakan inventarisasi BMN;

d. Menyusun dan menyampaikan Laporan BMN serta jurnal transaksi BMN secara berkala.

6. Unit Penatausahaan Kuasa Pengguna Barang (UPKPB) adalah unit penatausahaan BMN pada tingkat satuan kerja (Kuasa Pengguna Barang), yang secara fungsional dilakukan oleh unit eselon III, eselon IV dan/atau eselon V yang membidangi kesekretariatan dan/atau BMN. Penanggung jawab UPKPB adalah Kepala Kantor/Kepala Satuan Kerja. a. Unit penatausahaan BMN dari Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan,

(6)

b. Untuk unit penatausahaan BMN pada BLU, penanggung jawab UPKPB adalah Pimpinan BLU atau Pimpinan Satuan Kerja pada BLU.

UPKPB bertugas menyelenggarakan penatausahaan BMN pada Kuasa Pengguna Barang, meliputi :

a. Membuat Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP); b. Melakukan Pembukuan BMN;

c. Melakukan Inventarisasi BMN;

d. Melakukan rekonsiliasi data BMN dengan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan/atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);

e. Melakukan rekonsiliasi DBKP pada UPKPB dengan Daftar Barang Milik Negara Kantor Daerah per Kementerian Negara/Lembaga (DBMN-KD-K/L) pada KPKNL, jika diperlukan;

f. Melakukan Pelaporan BMN; g. Melakukan Pengamanan Dokumen

7. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W) adalah unit yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan SIMAK-BMN pada tingkat Kantor Wilayah atau Unit Kerja lainnya yang ditetapkan sebagai UAPPB-W dengan fungsi sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan sistem manajemen infomasi BMN; b. Menyelenggarakan sistem akuntansi BMN;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan inventarisasi UAKPB di wilayah kerjanya; d. Menyusun dan menyampaikan Laporan BMN secara berkala.

8. Unit Penatausahaan Pengguna Barang – Wilayah (UPPB-W) adalah unit penatausahaan BMN pada tingkat kantor wilayah atau unit kerja lain di wilayah yang ditetapkan sebagai UPPB-W, yang secara fungsional dilakukan oleh unit eselon III yang membidangi kesekretariatan dan unit eselon IV yang membidangi BMN. Penanggung jawab UPPB-W adalah Kepala Kantor Wilayah atau Kepala unit kerja yang ditetapkan sebagai UPPB-W. UPPB-W ini membawahi UPKPB.

9. Unit penatausahaan BMN Dana Dekonsentrasi, penanggung jawab UPPB-W adalah Gubernur, sedangkan untuk penatausahaan BMN Dana Tugas Pembantuan, penanggung jawab UPPB-W adalah Kepala Daerah sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh pemerintah melalui Kementerian Negara/Lembaga. UPPB-W bertugas menyelenggarakan penatausahaan BMN pada Tingkat Wilayah, meliputi:

a. Membuat Daftar Barang Pengguna Wilayah (DBP-W); b. Melakukan Pembukuan BMN;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan Inventarisasi BMN di wilayah kerjanya; d. Melakukan Pelaporan BMN;

(7)

e. Jika diperlukan UPPB-W dapat melakukan pemutakhiran data dalam rangka penyusunan LBPW semesteran dan tahunan dengan UPKPB di wilayah kerjanya. f. Dapat melakukan pembinaan penatausahaan BMN kepada UPKPB di wilayah

kerjanya.

g. Melakukan Pengamanan Dokumen;

10. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang (UAPPB-E1) adalah unit yang mempunyai Tugas pokok menyelenggarakan SIMAK-BMN pada tingkat Eselon I yang ditetapkan sebagai UAPPB-E1 dengan fungsi sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan sistem manajemen infomasi BMN; b. Menyelenggarakan sistem akuntansi BMN;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan inventarisasi;

d. Menyusun dan menyampaikan Laporan BMN secara berkala.

11. Unit Penatausahaan Pengguna Barang – Eselon I (UPPB-E1) adalah unit penatausahaan BMN pada tingkat eselon I, yang secara fungsional dilakukan oleh unit eselon II yang membidangi kesekretariatan, unit eselon III dan unit eselon IV yang membidangi BMN. Penanggung jawab E1 adalah pejabat eselon I. E1 ini membawahi UPPB-W dan/atau UPKPB. UPPB-E1 bertugas menyelenggarakan penatausahaan BMN pada Tingkat Eselon I, meliputi :

a. Membuat Daftar Barang Pengguna Eselon I (DBP-E1); b. Melakukan Pembukuan BMN;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan Inventarisasi BMN di wilayah kerjanya; d. Melakukan Pelaporan BMN;

e. Jika diperlukan UPPB-E1 dapat melakukan pemutakhiran data dalam rangka penyusunan LBPE1 semesteran dan tahunan dengan UPPB-W dan/atau UPKPB di wilayah kerjanya.

f. Dapat melakukan pembinaan penatausahaan BMN kepada UPPB-W dan/atau UPKPB di wilayah kerjanya.

g. Melakukan Pengamanan Dokumen.

12. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) adalah unit yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan SIMAK-BMN pada tingkat Kementerian Negara/Lembaga yang ditetapkan sebagai UAPB dengan fungsi sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan sistem manajemen infomasi BMN; b. Menyelenggarakan sistem akuntansi BMN;

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan inventarisasi;

(8)

13. Unit Penatausahaan Pengguna Barang (UPPB) adalah unit penatausahaan BMN pada tingkat Kementerian Negara/Lembaga (pengguna barang), yang secara fungsional dilakukan oleh unit eselon I yang membidangi kesekretariatan, unit eselon II, unit eselon III dan unit eselon IV yang membidangi BMN. Penanggung jawab UPPB adalah Menteri/Pimpinan Lembaga. UPPB ini membawahi UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB. UPPB bertugas menyelenggarakan penatausahaan BMN pada Tingkat Pusat, meliputi :

a. Membuat Daftar Barang Pengguna (DBP), yang meliputi : 1) DBP Persediaan

2) DBP Tanah

3) DBP Gedung dan Bangunan 4) DBP Peralatan dan Mesin

a) DBP Alat Angkutan Bermotor b) DBP Alat Besar

c) DBP Alat Persenjataan d) DBP Peralatan lainnya 5) DBP Jalan, Irigasi, dan Jaringan 6) DBP Aset Tetap lainnya

7) DBP Konstruksi Dalam Pengerjaan 8) DBP Barang Bersejarah

9) DBP Aset lainnya

b. Melakukan Pembukuan BMN, meliputi :

1) Mendaftarkan dan mencatat semua BMN yang telah ada ke dalam Daftar Barang yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB. 2) Mendaftarkan dan mencatat setiap mutasi BMN ke dalam Daftar Barang

sebagaimana butir 1 yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB.

3) Mendaftarkan dan mencatat hasil inventarisasi BMN ke dalam Daftar Barang sebagaimana butir 1 yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB.

4) Mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bersumber dari pengelolaan BMN yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB.

c. Mengkoordinasikan pelaksanaan Inventarisasi BMN di wilayah kerjanya, meliputi : 1) BMN yang berada dalam pengusaannya sekurang-kurangnya sekali dalam 5

(lima) tahun.

(9)

d. Melakukan rekonsiliasi DBP pada UPPB dengan DBMN-K/L pada DJKN jika diperlukan.

e. Melakukan Pelaporan BMN, meliputi :

1) Menyampaikan DBP yang berisi semua BMN yang telah ada untuk pertama kali kepada Menteri Keuangan cq. DJKN.

2) Menyampaikan mutasi BMN pada DBP secara periodik kepada Menteri Keuangan cq. DJKN.

3) Menghimpun dan menyampaikan laporan hasil inventarisasi BMN yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB kepada Menteri Keuangan cq. DJKN.

4) Menyusun Laporan Barang Pengguna (LBP) Semesteran dan Tahunan secara periodik yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB, dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan cq. DJKN.

5) Menyusun Laporan Kondisi Barang yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB, dan menyampaikannya secara periodik kepada Menteri Keuangan cq. DJKN.

6) Menyusun dan menyampaikan Laporan PNBP yang bersumber dari

pengelolaan BMN yang datanya berasal dari UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB kepada Menteri Keuangan cq. DJKN

f. Jika diperlukan UPPB dapat melakukan pemutakhiran data dalam rangka penyusunan LBP semesteran dan tahunan dengan UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB.

g. Melakukan pemutakhiran dan/atau rekonsiliasi data dalam rangka penyusunan LBMN semesteran dan tahunan dengan DJKN.

h. Melakukan pembinaan penatausahaan BMN kepada UPPB-E1, UPPB-W dan/atau UPKPB.

i. Melakukan Pengamanan Dokumen, meliputi :

1) Menyimpan fotocopy/salinan dokumen kepemilikan BMN selain tanah dan/atau bangunan yang berada dalam penguasaannya.

2) Menyimpan fotocopy/salinan dokumen kepemilikan BMN berupa tanah dan/atau bangunan yang berada dalam penguasaannya.

3) Menyimpan asli dan/atau fotocopy/salinan dokumen penatausahaan BMN. 14. Perencanaan kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan barang milik

negara/daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan yang akan datang.

(10)

15. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan.

16. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah, dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, dan bangun serah guna/bangun guna serah dengan tidak mengubah status kepemilikan. 17. Sewa adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah oleh pihak lain dalam jangka

waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai.

18. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antar pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelola barang.

19. Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan negara bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya.

20. Bangun guna serah adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.

21. Bangun serah guna adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.

22. Penghapusan adalah tindakan menghapus barang milik negara/daerah dari daftar barang dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau kuasa pengguna barang dan/atau pengelola barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya.

23. Pemindah tanganan adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah sebagai tindak lanjut dari penghapusan dengan cara dijual, dipertukarkan, dihibahkan atau disertakan sebagai modal pemerintah.

24. Penjualan adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah kepada pihak lain dengan menerima penggantian dalam bentuk uang.

25. Tukar-menukar adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah yang dilakukan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, antar pemerintah daerah,

(11)

atau antara pemerintah pusat/pemerintah daerah dengan pihak lain, dengan menerima penggantian dalam bentuk barang, sekurangkurangnya dengan nilai seimbang.

26. Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, antar pemerintah daerah, atau dari pemerintah pusat/pemerintah daerah kepada pihak lain, tanpa memperoleh penggantian.

27. Penyertaan modal pemerintah pusat/daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah dan/atau uang yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham negara atau daerah pada badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum lainnya yang dimiliki negara.

28. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan barang milik negara/daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

29. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang milik negara/daerah.

30. Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang objektif dan relevan dengan menggunakan metode/teknik tertentu untuk memperoleh nilai barang milik negara/daerah.

31. Daftar barang pengguna, yang selanjutnya disingkat dengan DBP, adalah daftar yang memuat data barang yang digunakan oleh masing-masing pengguna barang.

32. Daftar barang kuasa pengguna, yang selanjutnya disingkat dengan DBKP, adalah daftar yang memuat data barang yang dimiliki oleh masing-masing kuasa pengguna barang. 33. Kementerian negara/lembaga adalah kementerian negara/lembaga pemerintah non

kementerian negara/lembaga negara.

34. Menteri/pimpinan lembaga adalah pejabat yang bertanggungjawab atas penggunaan barang kementerian negara/lembaga yang bersangkutan.

35. Pihak lain adalah pihak-pihak selain kementerian negara/lembaga dan satuan kerja perangkat daerah.

36. Tanah dan/atau Bangunan Idle adalah tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Kementerian Negara/Lembaga.

(12)

BAB II

PROSEDUR PENGELOLAAN BMN

A. Penggunaan Barang Milik Negara

1. Prosedur Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara Berupa Tanah dan/atau Bangunan :

a. Pengguna Barang atau Kuasa Pengguna Barang harus menyelesaikan dokumen kepemilikan (antara lain sertifikat tanah, IMB, dll.) atas Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan yang pengadaannya atas beban APBN atau perolehan lainnya yang syah untuk dijadikan dasar pengajuan permintaan penetapan status penggunaan Barang Milik Negara kepada Pengelola Barang. b. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permintaan penetapan status penggunaan

kepada Pengguna Barang disertai dengan asli dokumen kepemilikan dan dokumen pendukung lainnya atas tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan paling lama 1 bulan Sejak diterimanya dokumen kepemilikan.

c. Pengguna Barang mengajukan permintaan penetapan status penggunaan kepada Pengelola Barang dengan disertai asli dokumen kepemilikan dan dokumen pendukung lainnya paling lama 1 bulan Sejak diterimanya usulan dari Kuasa Pengguna Barang.

d. Pengelola Barang menetapkan status penggunaan tanah dan/atau bangunan dengan Keputusan Penetapan Status Penggunaan.

e. Pengelola Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan atas tanah dan/atau bangunan kedalam Daftar Barang Milik Negara dan menyimpan dokumen kepemilikan asli dan dokumen pendukung lainnya menyatu dengan salinan keputusan penetapan status penggunaannya.

f. Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan tanah dan/atau bangunan kedalam Daftar Barang Pengguna dan menyimpan fotocopy dokumen kepemilikan dan dokumen pendukung lainnya menyatu dengan asli keputusan penetapan status penggunaannya.

g. Kuasa Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan kedalam Daftar Barang Kuasa Pengguna atas tanah dan/atau bangunan dan menyimpan fotocopy dokumen kepemilikan dan dokumen pendukung lainnya menyatu dengan salinan Keputusan Penetapan Status Penggunaannya;

(13)

2. Prosedur Penetapan Status Penggunaan BMN selain tanah dan/atau bangunan

a. Kuasa Pengguna Barang harus menyelesaikan dokumen bukti kepemilikan/Berita Acara Serah Terima Barang dari Pihak lain atas perolehan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan.

b. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usul penetapan status penggunaan kepada Pengguna Barang disertai dengan fotocopi dokumen bukti kepemilikan atau Berita Acara Serah Terima dan dokumen pendukung lainnya paling lama 1 bulan sejak diterimanya dokumen/bukti kepemilikan/berita acara serah terima;

c. Pengguna Barang mengajukan usul penetapan status penggunaan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan kepada Pengelola Barang disertai dengan copy bukti kepemilikan atau berita acara serah terima paling lama 1 bulan sejak diterimanya usulan dari Kuasa Pengguna Barang;

d. Pengelola Barang menetapkan status penggunaan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan setelah diterimanya permintaan dan dokumen pendukung lengkap dari Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang;

e. Status Penggunaan Barang ditetapkan dengan keputusan Pengelola Barang dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Pengguna Barang;

f. Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan BMN selain tanah dan/atau bangunan kedalam Daftar Barang Pengguna dan menyimpan fotocopy dokumen kepemilikan menyatu dengan asli keputusan penetapan status penggunaan;

g. Kuasa Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan BMN selain tanah dan/atau bangunan kedalam Daftar Barang Kuas Pengguna dan menyimpan asli dokumen kepemilikan menyatu dengan salinan keputusan penetapan status penggunaan;

h. Pengelola Barang melakukan pencatatan Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan berupa barang yang memiliki bukti kepemilikan dan barang dengan nilai perolehan diatas Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) per unit/satuan kedalam Daftar Barang Milik Negara serta menyimpan salinan keputusan penetapan status penggunaannya;

i. Pengelola Barang menghimpun laporan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan.

B. Penerimaan Penyimpanan Dan Pendistribusian Barang 1. Prosedur Penerimaan Barang Persediaan

a. Penatausaha Barang Persediaan menerima barang persediaan berdasarkan, Surat Perintah Kerja Pengadaan (SPK Png.) atau Dokumen lain sejenis (faktur,

(14)

surat jalan, Berita Acara Serah Terima, dll)di gudang atau di tempat lain yang telah di tentukan;

b. Penatausaha Barang Persediaan melakukan pemeriksaan administrasi dan fisik terhadap barang yang telah sampai di gudang dengan persyaratan barang harus dalam kondisi baik dan baru, serta memenuhi semua hal yang dipersyaratkan dalam SPK. Pengadaan., atau Dokumen lain yang sejenis ;

c. Penatausaha Barang Persediaan melaporkan hasil pemeriksaan administrasi dan fisik kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi dilampiri dengan ceklist hasil Pemeriksaan dan Penerimaan Barang Persediaan (faktur, dll) d. Penatausaha Barang Persediaan menyimpan barang persediaan sesuai dengan

jenis barang dan waktu datangnya barang; 2. Prosedur Penerimaan Barang Inventaris/Aset Tetap :

a. Penatausaha Barang Inventaris menerima barang invetaris/aset tetap dilakukan berdasarkan Surat Permintaan Barang/Pesanan, Surat Perintah Pengadaan atau Dokumen lain yang sejenis, di Gudang atau ditempat lain yang ditentukan; b. Penatausaha Barang Inventaris melakukan pemeriksaan administrasi dan fisik

terhadap barang yang telah sampai di gudang dengan persyaratan barang harus dalam kondisi baik dan baru, serta memenuhi semua hal yang dipersyaratkan dalam SPK. Pengadaan., atau Dokumen lain yang sejenis.

c. Penatausaha Barang Inventaris/Aset Tetap segera menyelesaikan proses Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB) yang ditandatangani oleh unit kerja pengadaan sebagai Quality Qontrol, Kepala Sub Bagian Distribusi & Inventarisasi selaku penanggung jawab materiil dan disyahkan serta disetujui oleh Kepala Bagian Perlengkapan & Rumah Tangga dalam rangkap 3 (tiga) masing-masing untuk unit-unit yang berkepentingan;

d. Petugas Penatausaha Barang Inventaris membuat BAPPB dilengkapi dengan data barang berupa : nama dan merk barang, jenis dan kodefikasi barang, spesifikasi teknis, rincian jumlah dan nilai perolehan barang, waktu perolehan, kondisi barang, nama dan alamat pemasok serta hal lain yang dipandang perlu sebagai dasar pencatatan ;

e. Petugas Penatausaha Barang Inventaris mencatat dan menyimpan barang sesuai dengan kelompok/jenis barang dan kodefikasi/golongan barang dan unit kerja pengusul/peminta barang tersebut

3. Prosedur Penerimaan Barang Inventaris/Aktiva Tetap yang Pengadaannya Melalui Lelang/Kontrak :

a. Tim Pemeriksa Barang memeriksa melakukan pemeriksaan administrasi dan fisik terhadap barang yang telah sampai di gudang dengan persyaratan barang

(15)

harus dalam kondisi baik dan baru, serta memenuhi semua hal yang dipersyaratkan dalam Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB), kontrak atau Dokumen lain yang sejenis.

b. Tim Pemeriksa, membuat surat pemberitahuan pemeriksaan barang (SPB) setelah barang yang diperiksa telah memenuhi persyaratan sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam dokumen pengadaan yang sebelumnya telah dilaksanakan pemeriksaan oleh Unit Kerja Pengadaan, sehingga barang yang akan diterima benar-benar sesuai dengan yang dipersyaratkan, sebagai dasar pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB); c. Tim Pemeriksa berdasarkan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Barang

tersebut, barang yang telah diperiksa dan dapat diterima, dituangkan kedalam formulir Surat Pernyataan Pemeriksaan Barang (SPPB), yang dilengkapi dengan data barang antara lain : spesifikasi teknis, kode dan kondisi barang, rincian volume dan nilai perolehan, nama dan alamat rekanan/penyedia barang, serta hal lain yang dianggap perlu;

d. Tim Penerima Barang segera menyelesaikan proses Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB) dan menyampaikan BAPPB yang telah ditandatangani oleh Subbag Pengadaan dan Subbag Distribusi dan Inventarisasi, kepada Kepala Bagian Perlengkapan & Rumah Tangga untuk dibuatkan pengantar ke Unit Keuangan, serta perhitungan denda bila ada keterlambatan/penyimpangan/pembatalan atas penyerahan barang yang disebabkan oleh kelalaian rekanan/penyedia barang/jasa untuk dikenakan sanksi alternatif sebagi berikut :

1) Dikenakan denda keterlambatan sekurang-kurangnya 1 0/00 (satu permil) per hari dari nilai kontrak;

2) Keterlambatan pekerjaan/pembayaran karena semata-mata kesalahan atau kelalaian pengguna barang/jasa, maka pengguna barang/jasa membayar kerugian yang ditanggung penyedia barang/jasa akibat keterlambatan dimaksud;

3) Konsultan Perencana yang tidak cermat dan mengakibatkan kerugian pengguna barang/jasa dikenakan sanksi berupa keharusan menyusun kembali perencanaan dengan beban biaya dari konsultan yang bersangkutan, dan/atau tuntutan ganti rugi;

4. Prosedur Penyimpanan Barang Persediaan

a. Penatausaha Barang Persediaan menerima dan menyimpan Barang Persediaan berupa Suku cadang, ATK atau Barang habis pakai lainnya atau menurut

(16)

sifatnya sangat penting dan harus disiapkan untuk berjaga-jaga, serta barang bekas pakai dan diatur sebagai berikut:

1) Penyimpanan barang persediaan berupa suku cadang, ATK atau barang habis pakai lainnya didalam gudang penyimpanan dilakukan berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB);

2) Penyimpanan barang persediaan harus dikelola sedemikian rupa agar barang senantiasa dalam keadaan baik, siap untuk dipergunakan, mudah dikenal, mudah dicari, mudah dicapai atau diambil, mudah disajikan/disampaikan, mudah diawasi, dan aman ;

3) Barang-barang persediaan yang disimpan sebagai stock/cadangan, harus diberi kode barang sebagaimana tersebut dalam Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB) ;

4) Setiap barang/kelompok barang yang tersimpan di gudang penyimpanan, harus dilengkapi dengan Kode dan Label Barang;

b. Penatausaha Persediaan mencatat setiap terjadi mutasi barang, ke dalam Aplikasi Persediaan dengan tertib berdasarkan dokumen sumber :

1) Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB) untuk barang masuk, faktur, SPK.Peng, dll.

2) Bukti Pengeluaran Barang (BPB) atau bon barang untuk barang keluar. 3) Berita Acara Penerimaan Barang Bekas Pakai (BAP-BBP)

c. Penatausaha Barang Persediaan menyimpan dan memelihara kualitas barang persediaan agar tetap baik, dengan melakukan kegiatan perawatan secara periodik;

d. Penatausaha Barang Persediaan harus melakukan tindakan pengamanan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kehilangan, kebakaran dan kemungkinan lain yang tidak diinginkan, antara lain dengan cara (menggunakan kunci pengaman, identifikasi petugas ruang penyimpanan, dipasang teralis, disediakan tabung pemadam kebakaran, dll).

e. Melaporkan pelaksanaan penyimpanan dan pemeliharaan barang persediaan kepada Kasubbag Distribusi dan Inventarisasi

5. Prosedur Penyimpanan Barang Inventaris/Aset Tetap

a. Penatausaha Barang Inventaris menyimpan barang inventaris yang masuk ke gudang barang inventaris ANRI diatur sebagai berikut:

1) Penyimpanan barang inventaris didalam gudang penyimpanan dilakukan berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB);

(17)

2) Penyimpanan barang inventaris harus dikelola sedemikian rupa agar barang senantiasa dalam keadaan baik, siap untuk dipergunakan, mudah dikenal, mudah dicari, mudah dicapai atau diambil, mudah disajikan/disampaikan, mudah diawasi, dan aman ;

3) Barang-barang inventaris yang disimpan, harus diberi kode barang sebagaimana tersebut dalam Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang (BAPPB) dan unit kerja pengusul;

4) Setiap barang/kelompok barang yang tersimpan di gudang penyimpanan, harus dilengkapi dengan kode dan Label Barang;

b. Penatausaha Barang Inventaris mencatat pada Aplikasi SIMAK BMN setiap terjadi mutasi barang inventaris. Mutasi, meliputi perolehan, perubahan dan penghapusan berdasarkan :

1) Berita Acara Serah Terima BMN; 2) Dokumen Kepemilikan BMN;

3) Dokumen pengadaan dan/atau pemeliharaan BMN (SPM/SP2D, Faktur pembelian; Kuitansi; Surat Keterangan Penyelesaian Pembangunan; Surat Perintah Kerja (SPK); Surat Perjanjian/Kontrak;

4) Dokumen pengelolaan BMN;ke dalam Aplikasi SIMAK BMN dengan tertib

c. Penatausaha Barang Inventaris harus menjaga, kualitas barang agar tetap baik, dengan melakukan kegiatan perawatan secara periodik, pengamanan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kehilangan, kebakaran dan kemungkinan lain yang tidak diinginkan, dengan cara (melakukan sertifikasi/mengurus bukti kepemilikan, pemagaran, menggunakan kunci pengaman, identifikasi petugas ruang penyimpanan, dipasang teralis, disediakan tabung pemadam kebakaran, dll).

d. Penatausaha Barang Inventaris melaporkan pelaksanaan penyimpanan, pemeliharaan dan pengamanan barang inventaris kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi.

6. Prosedur Pendistribusian/Pengeluaran Barang Persediaan

a. Unit Kerja mengajukan permintaan barang persediaan sesuai kebutuhan dengan menggunakan bon barang/formulir Bukti Pengeluaran Barang (BPB) yang ditandatangani oleh Pejabat/minimal setingkat eselon IV melalui Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi, dengan mencantumkan sasaran pemakaian yang jelas;

b. Penatausaha Persediaan, meneliti BPB yang sudah diisi dan disetujui oleh Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi dan setelah dipertimbangkan

(18)

kewajaran permintaan, serta persediaan yang ada, dibuatkan nomor dan tanggal BPB, untuk proses pengeluaran barang;

c. Penatausaha Persediaan menyusun laporan posisi/kondisi barang persediaan setiap bulan kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi

7. Prosedur Pendistribusian/Pengeluaran Barang Inventaris

a. Unit Kerja mengajukan permintaan barang sesuai kebutuhan sebagaimana yang telah dituangkan dalam dokumen program/perencanaan dan penganggaran (PO) dengan menggunakan bon permintaan barang inventaris/formulir Bukti Pengeluaran Barang (BPB) yang ditandatangani oleh Pejabat/minimal setingkat eselon IV melalui Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi, dengan mencantumkan sasaran pemakaian yang jelas;

b. Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi meneliti dan menyetujui BPB yang sudah diisi dan ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja setelah diteliti dokumen sumber (PO, Kontrak, Faktur dab SPM/SP2D, dll) kemudian dibuatkan nomor dan tanggal BPB, selanjutnya diteruskan ke petugas penatausaha Barang Inventaris/BMN untuk proses pengeluaran barang;

c. Penatausaha Barang Inventaris segera menyampaikan barang inventaris kepada unit kerja untuk selanjutnya mencatat dan memberi label nomor registrasi setiap barang yang keluar sesuai dengan kodefikasi dan golongan, Unit Kerja/Pemakai, ruangan, dll.

d. Penatausaha Barang Inventaris melaporkan pendistribusian Barang Inventaris kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi.

C. Pemanfaatan Barang Milik Negara

1. Prosedur penyewaan sebagian tanah dan/atau bangunan oleh Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang:

a. Pengguna Barang mengajukan usulan kepada Pengelola Barang untuk menyewakan sebagian tanah dan/atau bangunan dengan disertai pertimbangan penyewaan , bukti kepemilikan, gambar lokasi, luas yang akan disewakan, nilai perolehan dan NJOP tanah dan/atau bangunan, data transaksi sebanding dan sejenis, calon penyewa, nilai sewa, serta jangka waktu penyewaan;

b. Pengelola barang melakukan penelitian atas usulan untuk menyewakan BMN dari Pengguna Barang;

c. Dalam hal Pengelola Barang tidak menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai alasannya;

d. Dalam hal Pengelola Barang menyetujui usulan tersebut Pengelola Barang menerbitkan surat persetujuan penyewaan atas sebagian tanah dan/atau

(19)

bangunan yang sekurang-kurangnya memuat tanah dan/atau bangunan yang disewakan, nilai tanah dan/atau bangunan, pihak penyewa, nilai sewa, dan jangka waktu sewa;

e. Pengguna barang menetapkan keputusan pelaksanaan penyewaan yang sekurang-kurangnya memuat informasi tentang tanah dan/atau bangunan yang akan disewakan, besaran tarif sewa, calon penyewa, dan jangka waktu sewa; f. Penyewa menyetorkan keseluruhan uang sewa ke rekening kas umum negara,

paling lambat pada saat surat perjanjian sewa menyewa ditandatangani;

g. Penyewaan tanah dan/atau bangunan dituangkan dalam perjanjian sewa menyewa yang memuat sekurang-kurangnya hak dan kewajiban para pihak, serta ditandatangani oleh Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barangdan Pihak Penyewa;

h. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan sewa menyewa sebagian tanah dan/atau bangunan kepada Pengelola Barang dengan disertai bukti setor dan perjanjian sewa menyewa;

i. Dalam hal penyewa mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu sewa, maka permintaan tersebut harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa;

j. Dalam hal diperlukan Pengelola Barang dapat membentuk Tim dan/atau menugaskan penilai untuk melakukan penelitian dan kajian atas usulan sewa BMN berupa sebagian tanah dan/atau bangunan dari Pengguna Barang guna menentukan besaran tarif sewa dimaksud;

k. Pihak penyewa, selama masa sewa hanya dapat mengubah bentuk BMN tanpa mengubah konstruksi dasar bangunan, dengan ketentuan bagian yang ditambahkan pada bangunan tersebut menjadi BMN atas persetujuan Pengelola Barang;

l. Pihak yang dapat menyewa BMN meliputi : 1) Badan Usaha Milik Negara (BUMN); 2) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); 3) Badan Hukum lainnya;

4) Perorangan.

2. Prosedur penyewaan BMN selain tanah dan/atau bangunan oleh Pengguna Barang a. Pengguna Barang mengajukan usulan kepada Pengelola Barang disertai dengan

hasil penelitian mengenai kekayaan kelayakan kemungkinan penyewaan BMN selain tanah dan/atau bangunan dimaksud, termasuk pertimbangan mengenai calon penyewa, nilai sewa, dan jangka waktu penyewaan;

(20)

b. Pengelola Barang melakukan penelitian atas usulan untuk menyewakan BMN selain tanah dan/atau bangunan tersebut;

c. Dalam hal Pengelola Barang tidak menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai alasannya;

d. Dalam hal Pengelola Barang menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang menerbitkan surat persetujuan yang sekurang-kurangnya memuat barang BMN yang disewakan, calon penyewa, nilai sewa, dan jangka waktu sewa;

e. Pengguna Barang menetapkan surat keputusan penyewaan yang sekurang-kurangnya memuat jenis, nilai, besaran sewa BMN, penyewa, dan jangka waktu sewa;

f. Penyewa menyetorkan keseluruhan uang sewa ke rekening kas umum negara, paling lambat pada saat surat perjanjian ditandatangani;

g. Penyewaan BMN selain tanah dan/atau bangunan dituangkan dalam perjanjian sewa menyewa yang memuat sekurang-kurangnya hak dan kewajiban para pihak, serta ditandatangani oleh Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dan Pihak Penyewa;

h. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan sewa menyewa BMN selain tanah dan/atau bangunan tersebut kepada Pengelola Barang dengan disertai bukti setor dan perjanjian sewa menyewa;

i. Dalam hal penyewa mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu sewa, maka permintaan tersebut harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa;

k. Dalam hal diperlukan Pengelola Barang dapat membentuk Tim dan/atau menugaskan penilai untuk melakukan penelitian dan kajian atas usulan sewa BMN berupa selain tanah dan/atau bangunan dari Pengguna Barang guna menentukan besaran tarif sewa dimaksud;

3. Prosedur Pinjam Pakai BMN oleh Pengguna Barang

a. Pengguna Barang mengajukan usulan pelaksanaan pinjam pakai kepada Pengelola Barang yang sekurang-kurangnya memuat pertimbangan yang mendasari diajukannya permintaan, jenis dan spesifikasi barang, detail peruntukkan dan jangka waktu pinjam pakai;

b. Pengelola Barang melakukan kajian atas usulan Pengguna Barang terutama menyangkut kelayakan kemungkinan peminjaman BMN tersebut;

c. Berdasarkan hasil kajian tersebut Pengelola Barang dapat menyetujui atau tidaknya usulan pijnjam pakai ;

(21)

d. Dalam hal Pengelola Barang tidak menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai alasannya;

e. Dalam hal Pengelola Barang menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang menerbitkan surat persetujuan pinjam pakai BMN yang sekurang-kurangnya memuat pihak yang akan meminjam, BMN yang dipinjamkan, jangka waktu peminjaman, dan kewajiban peminjam untuk melakukan pemeliharaan BMN yang dipinjam;

f. Berdasarkan persetujuan pinjam pakai tersebut, Pengguna Barang melaksanakan pinjam pakai yang dituangkan dalam naskah perjanjian pinjam pakai antara Pengguna Barang dengan peminjam (Pemerintah Daerah) yang antara lain memuat : subjek dan objek pinjam pakai, jangka waktu peminjaman, hak dan kewajiban para pihak, antara lain kewajiban peminjam untuk melakukan pemeliharaan dan menanggung biaya yang timbul selama pinjam pakai, dan persyaratan lain yang daianggap perlu;

g. Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan pinjam pakai kepada Pengelola Barang;

h. Setelah berakhirnya jangka waktu pinjam pakai peminjam wajib menyerahkan objek pinjam pakai kepada Pengguna Barang yang dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima yang tembusannya disampaikan kepada Pengelola Barang; i. Pengguna Barang meminta perpanjangan jangka waktu pinjam pakai dilakukan

dengan cara mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu pinjam pakai kepada pengelola barang paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum jangka waktu pinjam pakai berakhir.

4. Prosedur Kerjasama Pemanfaatan Atas Sebagian Tanah dan/atau Bangunan yang Berlebih Dari Tanah dan/atau Bangunan yang Sudah Digunakan oleh Pengguna Barang

a. Pengguna Barang mengajukan usulan kerjasama pemanfaatan tanah dan/atau bangunan kepada Pengelola Barang dengan disertai bukti kepemilikan, gambar lokasi, luas dan nilai perolehan dan/atau NJOP tanah dan/atau bangunan, pertimbangan yang mendasari usulan kerjasama pemanfaatan dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan;

b. Pengelola Barang melakukan kajian atas usulan Pengguna Barang tersebut, terutama menyangkut kelayakan kemungkinan kerjasama pemanfaatan BMN tanah dan/atau bangunan dimaksud;

c. Pengelola Barang membentuk Tim yang anggotanya terdiri atas Pengelola barang dan Pengguna Barang, untuk melakukan penelitian atas tanah dan/atau bangunan yang akan dilakukan kerjasama pemanfaatan serta menyiapkan

(22)

hal-hal yang bersifat teknis, apabila kajian atas usulan kerjasama pemanfaatan tersebut menyimpulkan kelayakan dilakukannya kerjasama pemanfaatan, d. Pengelola Barang dapat mengikutsertakan unsur instansi/lembaga teknis yang

kompeten;

e. Pengelola Barang menugaskan penilai untuk melakukan penghitungan nilai Barang Milik Negara yang akan dijadikan obyek kerjasama pemanfaatan, dalam rangka penghitungan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan,

f. Penilai menyampaikan laporan penilaian kepada Pengelola Barang melalui Tim;

g. Tim menyampaikan laporan hasil penelitiannya atas tanah dan/atau bangunan berikut hasil penghitungan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan yang didasarkan pada laporan penilaian kepada Pengelola Barang;

h. Pengelola Barang memutuskan disetujui atau tidaknya usulan kerjasama pemanfaatan, berdasarkan laporan Tim dimaksud,

i. Pengelola Barang memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai dengan alasannya, dalam hal Pengelola Barang tidak menyetujui usulan tersebut, j. Dalam hal Pengelola Barang menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang

menerbitkan surat persetujuan yang sekurang-kurangnya memuat bagian tanah dan/atau bangunan yang akan dijadikan obyek kerjasama pemanfaatan, nilai tanah dan/atau bangunan, besaran kontribusi tetap dan pembagian hasil keuntungan dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan;

k. Pengguna Barang menetapkan mitra kerjasama pemanfaatan berdasarkan hasil pelaksanaan pemilihan dimaksud, disertai dengan penetapan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan Berdasarkan persetujuan dari Pengelola Barang tersebut,

l. Pengguna Barang melaksanakan kerja sama pemanfaatan yang dituangkan dalam bentuk naskah perjanjian kerja sama pemanfaatan antara Pengguna Barang dengan mitra kerja sama pemanfaatan yang sekurang-kurangnya memuat pihak mitra kerja sama Pemanfaatan, besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan, serta jangka waktu kerja sama pemanfaatan;

m. Pengguna Barang menyerahkan Barang Milik .Negara yang menjadi objek kerjasama pemanfaatan yang dituangkan dalam berita acara serah terima; n. Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan

(23)

o. Pengguna Barang bersama-sama dengan Pengelola Barang melakukan monitoring, evaluasi dan penatausahaan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara tersebut.

q. Pengguna Barang mengajukan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Pengelola Barang;

r. Pengguna Barang mengajukan permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan kepada Pengelola Barang harus disampaikan Pengguna Barang paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan.

s. Mitra Kerjasama Pemanfaatan menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan, berikut dengan sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari pelaksanaan kerjasama pemanfaatan, dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola Barang yang dituangkan dalam berita acara serah terima, setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan,

5. Prosedur Kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara Selain tanah dan/atau bangunan

a. Pengguna Barang mengajukan usul kerjasama pemanfaatan kepada Pengelola Barang, disertai dengan pertimbangan kerjasama pemanfaatan, nilai perolehan, fotokopi dokumen kepemilikan, kartu identitas barang, dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan.

b Pengelola Barang melakukan kajian atas usulan Pengguna Barang tersebut, terutama menyangkut kelayakan kemungkinan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan dimaksud;

c. Berdasarkan kajian dimaksud, Pengelola Barang memutuskan disetujui atau tidaknya usulan kerjasama pemanfaatan yang diajukan oleh pengguna Barang; d. Dalam hal Pengelola Barang tidak menyetujui usulan tersebut, pengelola

Barang memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai dengan alasannya. e. Dalam hal Pengelola Barang menyetujui usulan tersebut, Pengelola Barang

menerbitkan surat persetujuan atas usulan kerjasama pemanfaatan yang sekurang-kurangnya memuat objek kerjasama pemanfaatan, jangka waktu kerjasama pemanfaatan, kerwajiban pengguna membentuk Tim yang akan melakukan penelitian terhadap objek kerjasama pemanfaatan, serta menghitung besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan;

f. Berdasarkan persetujuan dari Pengelola Barang, Pengguna Barang membentuk Tim yang unsur-unsurnya terdiri atas Pengguna Barang dan Pengelola Barang dan dapat mengikutsertakan unsur instansi/ lembaga teknis yang kompeten.

(24)

g. Hasil penelitian, penghitungan besaran kontribusi tetap, dan pembagian keuntungan disampaikan kepada Pengguna Barang untuk mendapatkan penetapan.

h. Pengguna Barang melakukan tender untuk mendapatkan mitra kerjasama pemanfaatan berdasarkan penetapan sebagaimana tersebut pada butir g.

i. Pengguna Barang menetapkan mitra kerjasama pemanfaatan, disertai dengan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan kerjasama pemanfaatan. j. Pelaksanaan kerja sama pemanfaatan dituangkan dalam naskah perjanjian kerja

sama pemanfaatan antara Pengguna Barang dengan mitra kerja sama pemanfaatan, yang sekurang-kurangnya memuat objek kerjasama pemanfaatan, mitra kerja sama pemanfaatan, besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan, serta jangka waktu kerja sama pemanfaatan;

k. Penyerahan Barang Milik Negara yang menjadi objek kejasama pemanfaatan dituangkan dalam berita acara serah terima;

l. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan dimaksud kepada Pengelola Barang, disertai bukti setor kontribusi tetap, dan fotokopi perjanjian kerjasama pemanfaatan;

m. Pengguna Barang dan Pengelola Barang melakukan monitoring, evaluasi, dan menatausahakan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan;

n. Perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Negara dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Pengelola Barang;

o. Permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan.

p. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan, mitra menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengguna Barang yang dituangkan dalam berita acara serah terima.

6. Prosedur Bangun Guna Serah (BGS) dan Bangun Serah Guna (BSG) Atas Tanah yang Status Penggunaannya ada pada Pengguna Barang

a. Pengguna Barang menyerahkan tanah yang akan dijadikan objek BGS/BSG kepada Pengelola Barang dengan disertai usulan BGS/BSG dan dokumen pendukung berupa lokasi/alamat, status dan bukti kepemilikan, luas, harga perolehan/NJOP, dan rencana pembangunan gedung yang diinginkan;

b. Pengelola Barang menetapkan tanah yang akan dijadikan objek BGS/ BSG berdasarkan hasil penelitian kelayakan.

(25)

c. Pengelola Barang membentuk tim yang beranggotakan unsur Pengelola Barang, Pengguna Barang, serta dapat mengikutsertakan unsur instansi/lembaga teknis yang kompeten.

d. Tim bertugas untuk melakukan pengkajian tanah yang akan dijadikan objek BGS/BSG serta menyiapkan hal-hal yang bersifat teknis, termasuk tetapi tidak terbatas untuk menyiapkan rincian kebutuhan bangunan dan fasilitas yang akan ditenderkan, penelitian indikasi biaya yang diperlukan untuk penyediaan bangunan dan fasilitasnya, dan melakukan tender calon mitra BGS/BSG; e. Pengelola Barang menugaskan penilai untuk melakukan perhitungan, nilai limit

terendah besaran kontribusi. BGS/BSG atas Barang Milik Negara yang.akan menjadi objek BGS/BSG.

f. Penilai menyampaikan laporan penilaian kepada Pengelola Barang melaluiTim; g. Tim menyampaikan laporan kepada Pengelola Barang terkait dengan hasil pengkajian atas tanah, dengan disertai perhitungan nilai limit terendah besaran kontribusi BGS/BSG dari penilai.

h. Berdasarkan laporan tim dimaksud, Pengelola Barang menerbitkan surat penetapan nilai tanah yang akan dilakukan BGS/BSG dan nilai limit terendah kontribusi atas pelaksanaan BGS/BSG, dan rencana kebutuhan bangunan dan fasilitasnya.

i. Berdasarkan surat penetapan tersebut tim melakukan tender pemilihan mitra BGS/BSG.

j. Hasil pelaksanaan tender disampaikan kepada Pengelola Barang untuk ditetapkan dengan menerbitkan surat keputusan pelaksanaan BGS/BSG dimaksud, yang antara lain memuat objek BGS/BSG, nilai kontribusi, mitra BGS/BSG, dan jangka waktu BGS/BSG.

k. Pelaksanaan BGS/BSG dituangkan dalam perjanjian BGS/BSG antara Pengelola Barang dengan mitra BGS/BSG;

l. Mitra BGS/BSG menyetorkan ke rekening kas umum negara uang kontribusi tetap setiap tahun paling lambat tanggal 31 Januari kecuali untuk tahun pertama selambat-lambatnya pada saat perjanjian BGS/BSG di tanda tangani;

m. Setelah pembangunan selesai, mitra BSG menyerahkan objek BSG beserta fasilitsnya kepada Pengelola Barang yang dituangkan dalam berita acara serah terima barang;

n. Mitra BSG mengoperasikan objek BSG setelah penyerahan objek BSG sesuai dengan perjanjian BSG;

o. Pengelola Barang melakukan monitoring, evaluasi, dan penatausahaan pelaksanaan BGS Barang Milik Negara dimaksud;

(26)

p. Penyerahan kembali objek BGS beserta fasilitasnya kepada Pengeloa Barang dilaksanakan setelah masa pengopersian BGS yang diperjanjikan berakhir dan dituangkan dalam suatu berita acara serah terima barang.

D. Pengamanan Dan Pemeliharaan 1. Prosedur Pengamanan BMN

a. Pengguna Barang wajib mengamankan BMN yang menjadi tanggung jawabnya;

b. Pengguna Barang mengamankan BMN dengan cara mengamankan dari segi administrasi, yaitu pengamanan BMN yang dilakukan dengan cara melakukan penatausahaan dan pencatatan atas seluruh aset/BMN yang dimiliki;

c. Pengguna Barang bertanggung jawab mengamankan secara fisik BMN yang dimiliki dengan cara memberi batas yang jelas seperti melakukan pemagaran, menggunakan BMN untuk pelaksanaan tupoksi, dll

d. Pengguna Barang bertanggung jawab mengamankan BMN dari segi legalitasnya, dengan melakukan pengurusan bukti kepemilikan serta menyimpan dan memelihara bukti kepemilikan aset/BMN dengan aman terhindar dari pencurian dan gangguan fisik lainnya seperti bencana, faktor cuaca, faktor biota, dll.

e. Pengguna Barang harus mensertifikatkan barang milik negara berupa tanah atas nama Pemerintah Republik Indonesia c.q. Kementerian/Lembaga yang bersangkutan;

f. Pengguna Barang harus melengkapi barang milik negara berupa bangunan dengan bukti kepemilikan (IMB) atas nama Pemerintah Republik Indonesia c.q. Kementerian/Lembaga yang bersangkutan;

g. Pengguna Barang harus melengkapi barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan dengan bukti kepemilikan atas nama pengguna barang;

h. Pengguna Barang wajib menyimpan dan memelihara bukti kepemilikan barang milik negara dengan tertib dan aman;

i. Pengelola Barang menyimpan bukti kepemilikan barang milik negara berupa tanah dan/ atau bangunan;

j. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyimpan bukti kepemilikan barang milik negara selain tanah dan/ atau bangunan;

2. Prosedur Pemeliharaan Barang Milik Negara

a. Sub Bagian Pemeliharaan bertanggung jawab atas pemeliharaan barang di lingkungan ANRI.

(27)

b. Sub Bagian Pemeliharaan melakukan pemeliharaan sebagaimana dimaksud diatas berpedoman pada Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang (DKPB). c. Sub Bagian Pemeliharaan wajib membuat daftar hasil pemeliharaan barang

(DHPB) yang berada dalam kewenangannya dan melaporkan/ menyampaikan daftar hasil pemeliharaan barang tersebut kepada pengguna barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang secara berkala.

e. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang, meneliti laporan daftar hasil pemeliharaan barang dan menyusun daftar hasil pemeliharaan barang yang dilakukan dalam satu tahun anggaran sebagai bahan untuk melakukan evaluasi mengenai efisiensi pemeliharaan barang milik negara.

f. Sub Bagian Pemeliharaan menyusun program pemeliharaan secara terencana yang bertujuan untuk pencegahan/preventif yaitu rangkaian kegiatan atau usaha untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan suatu peralatan/fasilitas yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu (periodik) atas dasar rencana pemeliharaan jangka panjang untuk mencapai umur pemakaian yang layak dan melaksanakan perbaikan/pemeliharaan curatif yaitu kegiatan untuk memulihkan kondisi peralatan/fasilitas sebagian atau keseluruhan agar kembali baik seperti semula dalam jangka waktu tertentu atas dasar rencana jangka panjang sesuai umur pemakaian yang layak.

g. Sub Bagian Pemeliharaan melakukan pemeliharaan tak terencana/insidentil, merupakan kegiatan perbaikan atas kerusakan dari suatu peralatan/fasilitas yang dilaksanakan secara insidentil atau tidak termasuk dalam perencanaan sebelumnya.

j. Sub Bagian Pemeliharaan menyiapkan penyusunan petunjuk pengoperasian Penggunaan BMN/peralatan/fasilitas dan program pelatihan teknis kepada operator/pegawai sesuai petunjuk teknis dan pengalaman operasional ;

3. Prosedur Perbaikan dan Pelaporan Barang Rusak Berat :

a. Kepala Unit Kerja menyampaikan secara tertulis dengan nota dinas atau formulir permintaan perbaikan peralatan/fasilitas/barang yang mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan kepada Kepala Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga c.q. Sub Bagian Pemeliharaan dengan tembusan kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi;

b. Kepala Sub Bagian Pemeliharaan menindaklanjuti laporan/perminataan perbaikan peralatan/fasilitas/barang dengan memeriksa dan melakukan cek fisik ke lokasi untuk memastikan apakah barang/peralatan tersebut masih dapat diperbaiki atau sudah tidak dapat diperbaiki atau dapat diperbaiki tetapi dari

(28)

segi ekonomis tidak efisien karena biaya pemeliharaan/perbaikan lebih besar ketimbang manfaat yang diperoleh.

c. Kepala Sub Bagian Pemeliharaan menentukan apakah akan diperbaiki sendiri oleh teknisi/petugas pemeliharaan atau perlu diserahkan kepada pihak ketiga/rekanan.

d. Kepala Sub Bagian Pemeliharaan menyampaikan barang rusak berat tersebut kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi dengan Berita Acara untuk selanjutnya dapat diusulkan untuk dilakukan penghapusan;

e. Kepala Sub Bagian Pemeliharaan mengeluarkan barang rusak untuk diperbaiki melalui Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi dengan menggunakan formulir barang keluar sebanyak tiga rangkap 1 rangkap untuk penanggungjawab ruangan, satu rangkap Subbag Pemeliharaan (menyertai barang) dan satu rangkap untuk Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi, sebagai pengendalian;

f. Sub Bagian Pemeliharaan menyampaikan barang yang telah selesai diperbaiki kepada Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi untuk disampaikan kepada unit kerja;

4. Prosedur Penarikan Barang Rusak Berat :

a. Kepala Sub Bagian Pemeliharaan melaporkan/menyampaikan secara tertulis kepada Kepala Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga barang yang dinyatakan rusak berat (berdasarkan laporan hasil pemeliharaan barang);

b. Kepala Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga mendisposisikan laporan Barang Rusak Berat tersebut kepada Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi untuk dilakukan penarikan;

c. Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi menindaklanjuti disposisi Kepala Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga dengan menarik Barang Rusak Berat menggunakan Berita Acara Penarikan Barang Rusak Berat dengan mencantumkan jenis//type/merk barang, jumlah, kodefikasi dan NUP, dan kode Ruangan, dan informasi lain yang diperlukan;

d. Kepala Sub Bagian Distribusi dan Inventarisasi menyimpan barang rusak berat di gudang penyimpanan barang rusak berat untuk selanjutnya diusulkan untuk dikeluarkan menjadi aset lain-lain (aset yang dihentikan dari penggunaan operasional pemerintahan dan selanjutnya diusulkan untuk penghapusannya);

E. Penilaian Barang Milik Negara

1. Prosedur Penilaian Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan dalam rangka pemanfaatan atau pemindahtanganan

(29)

a. Pengguna Barang mengajukan permohonan penilaian yang disampaikan secara tertulis kepada Pengelola Barang disertai dengan data dan informasi objek penilaian.

b. Pengguna Barang/ Pemohon wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan objek penilaian secara lengkap dan benar.

c. Pengelola Barang meminta kelengkapan data dan informasi kepada Pemohon, dalam hal:

1) Data dan informasi yang diserahkan belum lengkap; atau

2) Membutuhkan data dan informasi lebih lanjut sebagai bahan penilaian. d. Pengelola Barang mengembalikan permohonan penilaian, dalam hal

permohonan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam poin b dan c.

e. Pengelola Barang menetapkan Tim Penilai dan dapat melibatkan penilai independen untuk melakukan penilaian barang milik negara berupa tanah dan/ atau bangunan dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan.

f. Tim Penilai melakukan penilaian barang milik negara dan melaporkan hasil penilaian barang milik negara kepada Pengelola Barang untuk ditetapkan g. Pengelola Barang menetapkan dan menyampaikan hasil penilaian Barang Milik

Negara kepada Pengguna Barang.

2. Prosedur Penilaian Barang Milik Negara Selain Tanah dan/atau Bangunan

a. Pengguna Barang menetapkan Tim Penilaian Barang Milik Negara dan dapat melibatkan penilai independen untuk melakukan penilaian barang milik negara selain tanah dan/ atau bangunan dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan;

b. Tim Penilai melakukan Penilaian Barang Milik Negara dalam rangka penyusunan neraca Pemerintah Pusat dilakukan tanpa harus didahului adanya permohonan.

c. Tim Penilaian melaporkan hasil penilaian kepada Pengguna Barang

d. Kuasa Pengguna Barang menerima hasil penilaian dari pengguna barang yang selanjut dijadikan data asset yang telah diperbaharui.

e. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyampaikan/melaporkan data

asset yang telah diperbaharui sesuai hasil penilaian kepada pengelola barang

F. Penghapusan Barang Milik Negara

1. Prosedur Penghapusan karena penyerahan Barang Milik Negara kepada Pengelola Barang

(30)

a. Pengguna Barang memperoleh keputusan penetapan penyerahan Barang Milik Negara dengan tata cara sebagaimana diatur dalam Tata Cara Penggunaan; b. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang melakukan penghapusan

barang dimaksud dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan barang paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penetapan penyerahan barang ditandatangani;

c. Pengguna Barang menyampaikan tembusan keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna tersebut kepada Pengelola Barang;

d. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyerahkan Barang Milik Negara dimaksud kepada Pengelola Barang yang dituangkan dalam berita acara serah terima Barang Milik Negara, berdasarkan keputusan penghapusan tersebut diatas;

e. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan perubahan Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna sebagai akibat dari penghapusan yang dicantumkan dalam Laporan Semesteran dan Laporan Tahunan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguua Barang. 2. Prosedur Penghapusan Karena Pengalihan Status Penggunaan Barang Milik Negara

Kepada Pengguna Barang Lain

a. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang melakukan penghapusan barang dari Daftar Barang pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan barang paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal persetujuan pengalihan status penggunaan barang di tandatangani dan disetujui oleh Pengelola Barang;

b. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyampaikan tembusan keputusan penghapusan barang dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna kepada Pengelola Barang;

c. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyerahkan Barang Milik Negara kepada Pengguna Barang lain yang dituangkan dalam berita acara serah terima Barang Milik Negara.

d. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang melaporkan perubahan Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna sebagai akibat dari penghapusan yang dicantumkan dalam Laporan Semesteran dan Laporan Tahunan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang; e. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang yang menerima pengalihan

Barang Milik Negara dari Pengguna Barang atau Kuasa Pengguna Barang lain harus mencatat barang dimaksud dalam Daftar Barang Pengguna dan/atau

(31)

Daftar Barang Kuasa Pengguna serta harus mencantumkan barang tersebut dalam Laporan Semesteran dan Laporan Tahunan Pengguna Barang atau Kuasa Pengguna Barang.

3. Prosedur Penghapusan Karena Pemindahtanganan Barang Milik Negara

a. Pengguna Barang atau Kuasa Pengguna Barang melakukan penghapusan barang dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan barang paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal persetujuan pemindahtanganan Barang Milik Negara di tanda tangani/disetujui oleh Pengelola Barang;

b. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menghapus Barang Milik Negara tersebut dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna dan memindahtangankan Barang Mlilik Negara kepada pihak yang telah disetujui Pengelola Barang, yang dituangkan dalam berita acara serah terima Barang Milik Negara;

c. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang menyampaikan Tembusan keputusan penghapusan barang dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna berikut berita acara serah terima barang dimaksud kepada Pengelola Barang paling lama 1 (satu) bulan sejak serah terima;

d. Pengelola Barang menghapuskan barang dimaksud dengan menerbitkan keputusan penghapusan barang apabila barang tersebut ada dalam Daftar Barang Milik Negara;

e. Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang melaporkan Perubahan Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna sebagai akibat dari pemindahtanganan harus dicantumkan dalam Laporan Semesteran dan Laporan Tahunan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang; 4. Prosedur Penghapusan Dengan Tindak Lanjut Pemusnahan

a. Pejabat pengelola Barang Mlilik Negara menyampaikan usulan penghapusan Barang Miiik Negara kepada Kuasa Pengguna Barang, dengan dilengkapi data pendukung sebagai berikut :

1) Alasan penghapusan, yang mencerminkan dipenuhinya persyaratan penghapusan dengan tindak lanjut untuk dimusnahkan yang didukung dengan surat pernyataan dari pejabat yang berwenang;

2) Data Barang Milik Negara yarrg diusulkan untuk dihapuskan, termasuk keterangan tentang kondisi, lokasi, harga perolehan/perkiraan nilai barang, fotokopi dokumen kepemilikan disertai asli/fotokopi surat keputusan penetapan status Penggunaan (untuk bangunan), kartu identitas barang, serta foto/gambar atas Barang Milik Negara dimaksud.

Gambar

DIAGRAM  ALIR
DIAGRAM  ALIR
DIAGRAM  ALIR
DIAGRAM ALIR
+7

Referensi

Dokumen terkait

Guna menanggulangi kelemahan dari model pembelajaran partisipatif ini, ada beberapa cara diantaranya penataan kelas yang responsif agar iklim kelas menjadi lebih

Berdasarkan data-data hasil penelitian dapat digunakan untuk menunjang penggunaan obat tradisional sebagai pengobatan yang layak supaya dapat diterima oleh

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditas tanaman obat basis dan non basis di Kabupaten Pacitan berdasarkan analisis LQ ( Location Quotient )

sesuatu hal yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengendalikan kebijakan melalui pembuatan sebuah regulasi daerah dapat berupa Surat Keputusan ataupun

• Kebaikan dan Kemurahan Ilahi : Allah telah belas kasihan yang lebih besar kepada orang-orang tidak percaya yang ada dalam perjanjian eksklusif dengan Dia daripada kepada

Dari semua nilai galat baku terkecil tersebut, pada metode sampling satu tahap, metode stratified random sampling pada sampel 1000 dengan lapisan berdasarkan status

Pasal 364 KUHP menambahkan bahwa perbuatan yang diterangkan dalam Pasal 362 dan Pasal 363 butir 4, begitu pun perbuatan yang diterangkan dalam Pasal 363 butir

E. Serangkaian senyawa yang saling berisomer satu sama lain 2. Berikut ini yang termasuk anggota deret homolog alkana adalah ..... Senyawa hidrokarbon berikut yang mempunyai 5