PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK DARI KELUARGA YANG BERCERAI

Teks penuh

(1)

71

PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK DARI KELUARGA YANG BERCERAI

Dwi Noviani

Sekolah Tinggi Al-Qur’an Al-Ittifaqiah Ogan Ilir Sumatera Selatan Email: dwi.noviani83@yahoo.co.id

Abstract

An early age is a fundamental phase for individual development called the golden age. The implications of education side in early childhood need the right steps. The used effort is a very strategic step, because the child is a pioneer of the future. He is the man who will be a good or bad era in the next era. This means that the success of fostering children from an early age is a success in the future of children. Conversely, if you are failed in fostering, teaching, nurturing, behaving and educating the children, it will be a disaster for the lives of children in the future.Children are part of this nation, have the responsibility to succeed in education in an appropriate way to the level of their development, by maximizing all development aspects; the cognitive, language, affective, psychomotor and social aspects. In kindergarten age cognitive development has an important role, because it is related to the brain. Children's cognitive development has reached 50% when they are 4 years old, 80% when they are 8 years old, and even 100% when they are 18 years old. Thus,that needs more attention to kindergarten age. One of the steps are that optimal strategy in child training is preceded by the introduction of the characteristics and learning objectives to be applied which is science application. The purpose and scope of science will help and teach adults in the power of early childhood programs that are considered appropriate.

(2)

72 Abstrak

Usia dini adalah fase fundamental bagi perkembangan individu yang disebut sebagai golden age (usia emas).Implikasinya pada bidang pendidikan pada anak usiadini perlu langkah yang tepat. Upaya yang akan diambiladalah langkah yang sangat strategi, karena anak adalah perintis masa depan, dialah yang akan mengisi baik buruknya hari esok.Artinya keberhasilan membina anak sejak dini merupakan kesuksesan dimasa depan anak. Sebaliknya jika mengalami kegagalan dalam membina, mengajar anak, pengasuhan, prilaku dan mendidiknya merupakan bencana bagi kehidupan anak dimasa yang akan datang.Anak merupakan bagian dari bangsa ini, mempunyai tanggungjawab dalam mensukseskan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan tingkat perkembangannya yaitu memaksimalkan semua aspek perkembangan dari aspek kognitif, bahasa, afektif, psikomator dan sosial. Pada usia Taman Kanak-Kanak perkembangan kognitif mempunyai peranan yang penting, karena berkaitan dengan otak, perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun, 80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun.Dengan demikian perlu perhatian yang lebih pada usia Taman Kanak-Kanak. Salah satu langkah yang strategi dalam pembekalan anak yang optimal adalah didahului dengan pengenalan karakteristik dan tujuan pembelajaran yang akan diterapkan termasuk dalam bidang penerapan sains. Tujuan dan ruang lingkup sains akan banyak membantu dan mengajar orang dewasa dalam penguasa program-program untuk anak usia dini yang dianggap tepat.

(3)

73 A. Pendahuluan

Mencetak generasi unggul dan sukses hidup di tengah persaingan global dapat dilakukan dengan jalan menyelenggarakan pendidikan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, bakat, minat, dan kesanggupanya. Menyelenggarakan pendidikan yang memperlakukan anak dengan ramah, menyelengarakan pendidikan yang memanusiakan anak, dan menyelenggarakan pendidikan yang memenuhi hak-hak anak. Hal tersebut akan terwujud jika pendidikan yang demikian dilakukan sejak anak usia dini.

Bentuk implementasi Pendidikan Anak Usia Dini salah satunya adalah lembaga Taman Kanak-Kanak yang memberikan layanan pendidikan khususnya bagi anak usia 4 hingga 6 tahun. Kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak mengacu pada Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) harus memperhatikan tingkat pencapaian perkembangan yang meliputi lima aspek perkembangan yaitu perkembangan nilai-nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa dan sosial emosional. Masing-masing lembaga dapat mengembangkannya sesuai dengan kondisi di lembanga tersebut.

Pendidikan anak usia dini merupakan usaha sadar untuk menfasilitasi pertumbuhan, keterampilan jasmani dan rohani anak, yang dilakukan melalui upaya penyediaan pengalaman, pemberian rangsangan yang kaya dan bersifat menyeimbangkan. Upaya tersebut dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Pengembangan Anak Usia Dini wajib untuk semuaanak usia sekolah (Millennium Development Goal ini 2005). Hal ini dilihat bahwa pendidikan adalah merupakan investasi pembangunan suatu negara dapatmembuat lebih baik. Pendidikan memberikan kontribusi untuk kesehatan yang lebih baik, pendapatan yang lebih tinggi dan pendaftaran meningkat dalam kehidupan masyarakat.1

Dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan keterampilan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.2

1

Catherine. G. M,Early Childhood Education for the Pre-School Age Going Children: The Issue of Low

Enrolments in Kenya.Journal of Education and Practice. Vol 3, No 6, 2012, hal. 48.

2

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No.20 Tahun 2003) dan Peraturan Pelaksanaannya.

(4)

74

Hasil-hasil studi dibidang neurologi mengetengahkan antara lain bahwa perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun, 80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun (Osborn, White, dan Bloom). Studi tersebut makin menguatkan pendapat para ahli sebelumnya, tentang keberadaan masa peka atau masa emas (golden age) pada anak-anak usia dini. Masa emas perkembangan anak yang hanya datang sekali seumur hidup tidak boleh disia-siakan. Hal itu yang memicu makin mantapnya angapan bahwa sesungguhnya pendidikan yang dimulai setelah usia SD tidaklah benar. Pendidikan harus sudah dimulai sejak usia dini supaya tidak terlambat. Sehingga penting bagi anak untuk mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).3

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia delapan tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak.4Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan keterampilan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan keterampilan tersebut.

Masitohmengungkapakan bahwa Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang memiliki peranan sangat penting untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan jembatan antara lingkungan keluarga dengan masyarakat yang lebih luas yaitu Sekolah Dasar dan lingkungan lainnya. Sebagai salah satu pendidikan anak usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini bagi sekurang-kurangnya anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar.5

Pendidikan anakusiadini khususnya Taman Kanak-Kanak pada dasarnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan keterampilan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak sebagaimana dikemukakan oleh Anderson yang dikutip oleh Masitoh mengemukakan, "Early childhood education is based on a number of methodical didactic consideration the aim of which is provide opportunities for development of children personality". Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak memberi kesempatan untuk

3

Martini, Perkembangan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak: pedoman bagi orang tua dan guru (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hal. 5.

4

Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini(Jakarta: PT Indeks, 2009),hal. 7.

5

(5)

75

mengembangkan kepribadian anak, oleh karena itu pendidikan untuk anak usia dini khususnya di Taman Kanak-Kanak perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek keterampilan anak.6

Pada hakikatnya anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan, bersifat aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias terhadap banyak hal, bersifat eksploratif dan berjiwa petualang, kaya dengan fantasi, mudah frustrasi, dan memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang potensial.

Kurikulum untuk anak usia dini atau Taman Kanak-Kanak harus benar-benar memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap keterampilan dan harus dirancang untuk membuat anak mengembangkan potensi secara utuh. Pembelajaran anak usia dini atau Taman Kanak-Kanak pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain (belajar melalui bermain), pembelajaran yang berorientasi keterampilan yang lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat belajar dengan cara-cara yang tepat. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak.

Upaya pembinaan terhadap satuan-satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada masing-masing tingkat satuan pendidikan.

Dalam hal ini, diperlukan sebuah formula kurikulum yang disesuaikan dengan proses pertumbuhan dan keterampilannya. Perlu diketahui bahwa pada usia 4-6 tahun, keterampilan anak-anak sangat pesat. Keterampilan itu meliputi keterampilan fisik, seperti bertambahnya berat dan tinggi badan ataupun psikis yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan juga psikomotorik.7

Sebagaimana yang telah dikemukakan Piaget dalam bukunya Trianto bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori keterampilan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan

6

Ibid., hal. 2.

7

(6)

76

akomodasi (proses pemanfaatan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus-menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi dari anak dengan lingkungannya.8

Anak usia TK berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsure-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara rasional, (3) Menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan menggunakan hubungan sebab akibat, dan (5) memahami konsep subtansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan keterampilan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia TK memiliki tiga ciri, yaitu: konkret, integratif, dan hierarkis. Dengan demikian, dalam mengembangkan model pembelajaran bagi PAUD harus memperhatikan karakteristik anak dan kompetensi yang akandicapai, interakasi dalam proses pembelajaran, alat atau media, dan penilaian.

Ada banyak model pembelajaran yang dapat dikembangkan dan diterapkan di TK. Oleh karena itu, dalam mengembangkan model pembelajaran bagi PAUD harus memerhatikan karakteristik anak dan kompetensi yang akan dicapai, interaksi dalam proses pembelajaran, alat atau media, dan penilaian. Tetapi berdasarkan sifat dan karakter anak usia dini, maka pembelajaran di TK bersifat tematik yang dilakukan secara integrativ, artinya bahwa pembelajaran di TK tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal. Itulah sebabnya, model pembelajaran yang dikenalkan adalah yang bersifat paduan (integral)/pembelajaran terpadu.

B. Pembahasan

1. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun (di Indonesia berdasarkan Undang-Undang

8

(7)

77

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional), adapun berdasarkan para pakar pendidikan anak, yaitu kelompok manusia yang berusia 0-8 tahun. Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya piker, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini terbagi dalam tiga tahapan, yaitu (a) masa bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toddler (batita) usia 1-3 tahun, (c) masa prasekolah usia 1-3-6 tahun, (d) masa kelas awal SD 6-8 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya, yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya piker, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pertumbuhan pribadi yang utuh.9

Pendidikan anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari linghkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang yang melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak. Oleh karena anak merupakan pribadi yang unik dan melewati berbagai tahap perkembangan kepribadian, maka lingkungan yang diupayakan oleh pendidik dan orang tua yang dapat memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi berbagai pengalaman dengan berbagai suasana, hendaklah memperhatikan keunikan anak-anak dan disesuaikan dengan tahap perkembangan kepribadian anak.10

2. Pengertian Perkembangan Kognitif

Perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah, dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya. Kemampuan kognitif berkaitan dengan perkembangan bahasa (bahasa lisan maupun isyarat) seperti: memahami kata, mengeluarkan kana pag dia pikirkan, kemampuan logis, seperti memahami sebab akibat suatu kejadian.

Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan anak yang sangat penting dalam menunjang perkembangan anak. Pakar psikologi Swiss terkenal yaitu Jean Piaget

9

Mansur,Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009),hal. 88.

10

(8)

78

dalam bukunya Santrock menekankan bahwa anak secara aktif membangun dunia-dunia kognitif mereka sendiri; informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan ke dalam pikiran-pikiran mereka. Dia menemukan bagaimana anak-anak, pada tahapan-tahapan yang berbeda dalam perkembangan mereka, memandang dunia ini dan bagaimana perubahan yang sistematis itu terjadi dalam pikiran mereka.11

Menurut Sunarto, kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang pengamatan atau penyerapan atas suatu objek. Berarti ia menguasai sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya. Setiap saat diperlukan, pengetahuan yang dimilikinya itu dapat direproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau kurang tepat pengetahuan itu dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali dan ini merupakan tingkat kemampuan kognitif seseorang.12

Lebih lanjut Sunarto menjelaskan bahwa kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasarnya, kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Hasil belajar merupakan perpaduan antara faktor bawaan dan pengaruh lingkungan (faktor dasar dan ajar). Faktor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif dapat dibedakan dalam bentuk lingkungan alamiah dan lingkungan yang dibuat. Proses belajar dan mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang telah dimiliki oleh anak. tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar.13

Secara singkat, perkembangan kemampuan kognitif merupakan suatu proses yang progresif dan koheren dalam pusat susunan syaraf manusia dan secara psikologis terlihat dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan merangkap kegiatan mental seperti berpikir, menimbang, mengamati, mengingat, berbahasa, belajar, memecahkan persoalan dan sebagainya. Kemampuan kognitif pada seseorang tergantung persepsi yang ada pada pikirannya yang diperoleh dari hasil pengalaman belajarnya.

Piaget yakin bahwa penyesuaian diri (adaptasi) dilakukan dalam dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi (assimilation) terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Akomodasi (accomodation)

11

Santrock,Perkembangan Anak (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007),hal. 243.

12

Sunarto, Perkembangan Peserta Didik(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 11.

13

(9)

79

terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Akomodasi dan asimilasi ini kemudian membentuk struktur berpikir, yang oleh Piaget disebut skema (“Schema/Schemata”). Skema mengacu kepada unit (atau unit-unit) dasar atau suatu pola pemfungsian sensori-motorik yang terorganisasi.14

Piaget berpikir bahwa asimilasi dan akomodasi berlangsung sejak kehidupan bayi yang masih sangat kecil. Bayi yang baru lahir secara refleks mengisap segala sesuatu yang menyentuh bibirnya (asimilasi), tetapi setelah beberapa bulan pengalaman, mereka membangun pemahaman mereka tentang dunia secara berbeda. Beberapa objek, seperti jari dan susu ibu, dapat diisap, dan objek lain, seperti selimut yang berbulu halus sebaiknya tidak diisap (akomodasi). Tahapan-tahapan pemikiran ini secara kualitatif berbeda dari setiap individu. Cara anak berpikir pada satu tahap tertentu sangat berbeda dari cara mereka berpikir pada tahap lain.

Setiap tahapan Piaget berhubungan dengan usia anak yang bersangkutan dan terdiri atas cara-cara pemikiran yang unik. Piaget yakin ada empat tahapan perkembangan kognitif: sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Seperti yang di gambarkan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1. Empat Tahapan Perkembangan Kognitif dari Piaget15

Tahapan Rentang Usia Deskripsi

Sensorimotor 0 hingga 2 tahun Bayi memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Bayi mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensorik dengan tindakan-tindakan fisik. Seorang bayi berkembang dari tindakan refleksif, instingtif pada saat kelahiran hingga berkembanganya pemikiran simbolik awal pada akhir tahapan ini. Praoperasional 2 hingga 7 tahun Anak mulai menggunakan gambaran-gambaran

mental untuk memahami dunianya. Pemikiran-pemikiran simbolik, yang direfleksikan dalam penggunaan kata-kata dan gambar-gambar mulai digunakan dalam penggambaran mental, yang melampui hubungan informasi sensorik dengan tindakan fisik. Akan tetapi, ada beberapa

hambatan dalam pemikiran anak pada tahapan ini, seperti egosentrisme dan sentralisasi.

Operasional konkret

7 hingga 11 tahun Anak mampu berpikir logis mengenai kejadian-kejadian konkret, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan objek menjadi kelas-kelas hierarki (klasifikasi) dan menempatkan

14

Santrock, Op. Cit., hal. 245.

15

(10)

80

objek dalam urutan yang teratur (serialisasi). Operasional

formal

11 tahun hingga masa dewasa

Remaja berpikir secara lebih abstrak, idealis, dan logis (hipotesis-deduktif).

Standar tingkat pencapaian perkembangan kognitif anak usia dini ligkup perkembangan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan melalui Permen No 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional pendidikan anak usia dini.

Tabel 2. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak

Lingkup perkembangan Tingkat pencapaian perkembangan

Kognitif Usia 4 - 5 tahun Usia 5 –6 tahun

A. Belajar dan Pemecahan Masalah

1. Mengenal benda berdasarkan fungsi (pisau untuk

memotong, pensil untuk menulis)

2. Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik (kursi sebagai mobil) 3. Mengenal konsep sederhana

dalam kehidupan sehari-hari (gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb)

4. Mengetahui konsep banyak dan sedikit

5. Mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri yang terkait dengan berbagai pemecahan masalah

6. Mengamati benda dan gejala dengan rasa ingin tahu 7. Mengenal pola kegiatan dan

menyadari pentingnya waktu 8. Memahami posisi/kedudukan

dalam keluarga, ruang, lingkungan sosial (misal: sebagai peserta

didik/anak/teman)

1. Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti: apa yang terjadi ketika air ditumpahkan) 2. Memecahkan masalah

sederhana dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang fleksibel dan diterima sosial 3. Menerapkan pengetahuan atau

pengalaman dalam konteks yang baru

4. Menunjukkan sikap kreatif dalam menyelesaikan masalah (ide, gagasan di luar kebiasaan)

B. Berfikir Logis 1. Mengklasifikasikan benda berdasarkan fungsi, bentuk atau warna atau ukuran 2. Mengenal gejala sebab-akibat

yang terkait dengan dirinya 3. Mengklasifikasikan benda ke

dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang

berpasangan dengan 2 variasi 4. Mengenal pola (misal, AB-AB

dan ABC-ABC) dan mengulanginya 5. Mengurutkan benda

1. Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran: “lebih dari”; “kurang dari”; dan “paling/ter”

2. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ”ayo kita bermain pura-pura seperti burung”) 3. Menyusun perencanaan

kegiatan yang akan dilakukan 4. Mengenal sebab-akibat tentang

lingkungannya (angin bertiupmenyebabkan daun bergerak, air dapat

(11)

81

berdasarkan 5 seriasi ukuran atau warna

menyebabkan sesuatu menjadi basah)

5. Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3 variasi)

6. Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak ke dalam

kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis, atau kelompok berpasangan yang lebih dari 2 variasi

7. Mengenal pola ABCD-ABCD 8. Mengurutkan benda

berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya

C. Berfikir Simbolik 1. Membilang banyak benda satu sampai sepuluh

2. Mengenal konsep bilangan 3. Mengenal lambang bilangan 4. Mengenal lambang huruf

1. Menyebutkan lambang bilangan 1-10

2. Menggunakan lambang bilangan untuk menghitung 3. Mencocokkan bilangan dengan

lambang bilangan

4. Mengenal berbagai macam lambang huruf vokal dan konsonan

5. Merepresentasikan berbagai macam benda dalam bentuk gambar atau tulisan (ada benda pensil yang diikuti tulisan dan gambar pensil)

3. Hakikat Pembelajaran Sains di Taman Kanak-kanak a. Pengertian sains

Ilmu mencakup setiap usaha manusia untuk mengeksplorasi, menafsirkan dan mengelola alam. Ini adalah dinamis dan pada dasarnya berhubungan dengan pencarian dan penjelasan dari kedua keteraturan dan penyimpangan di alam. Itu melibatkan upaya untuk aksi dan reaksi, sebab dan akibat dalam lingkungan. Tujuan dari ilmu untuk mengubah lingkungan untuk meningkatkan kualitas umum kehidupan, sehingga membuat dunia menjadi lebih baik Tempat di mana untuk hidup. Terutama Sains berkaitan dengan intelektualisasi fakta dan nilai-nilai dalam caraobjektif.16

Sains berasal dari bahasa Latin scientia yang artinya pengetahuan. Lebih lanjut Ali Nugraha mengungkapkan namun, pernyataan tersebut terlalu luas dalam penggunaan sehari-hari, untuk itu perlu dimunculkan kajian etimologi lainya. Para ahli memandang batasan

16

Garuba, Mamudu A., Agweda, F. E., Abumere, Daniel Ikhine,The Contribution of Science and Technology

Education to National Development: The Nigerian Experience.Journal of Education and Practice. Vol 3, No 1,

(12)

82

etimologis yang tepat tentang sains yaitu dari bahasa Jerman, hal itu dengan merujuk pada kata Wissenschaft, yang memiliki pengertian pengetahuan yang tersusun atau terorganisasikan secara sistematis.17

Secara sederhada sains dapat berarti sebagai tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang muncul dari pengelompokkan secara sistematis dari berbagai penemuan ilmiah sejak jaman dahulu, atau biasa disebut sains sebagai produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dan berbagai teori yang membentuk semesta pengetahuan ilmiah yang biasa diibaratkan sebagai bangunan dimana berbagai hasil kegiatan sains tersusun dari berbagai penemuan sebelumnya. Sains juga bisa berarti suatu metode khusus untuk memecahkan masalah, atau biasa disebut sains sebagai proses. Metode ilmiah merupakan hal yang sangat menentukan, sains sebagai proses ini sudah terbukti ampuh memecahkan masalah ilmiah yang juga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai pengetahuan yang sudah ada.

Menurut Ali Nugraha, sains bukan hanya berisi rumus-rumus atau teori-teori yang kering; melainkan juga mengandung nilai-nilai manusiawi yang bersifat universal dan layak dikembangkan serta dimiliki oleh setiap individu di dunia ini; bahkan dengan begitu tingginya nilai sains bagi kehidupan, menyebabkan pembekalan sains seharusnya dapat diberikan sejak usia masih dini.

Sedangkan James Conant yang dikutip Holton dan Roller dalam bukunya Ali Nugraha, mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konsep tual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaan dan pengamatan, serta dapat diamati dan diuji coba lebih lanjut.18

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa sains merupakan ilmu pengetahuan yang mengakaji tentang alam baik itu makhluk hidup maupun tak hidup yang dilakukan dengan percobaan dan pengamatan untuk dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

b. Tujuan pembelajaran sains

Menurut Robert F. Mager dalam bukunya Hamzah memberikan pengertian tujuan pembelajaran sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.19Tujuan pembelajaran sains pada anak usia dini dapat dijadikan standar dalam menentukan tingkat ketercapaian dan keberhasilan dari suatu

17

Ali Nugraha, Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini(Bandung: Jilsi Poundation, 2008), hal. 13.

18

Ibid., hal. 18.

19

(13)

83

program pembelajaran yang dikembangkan dan silaksanakan. Maksudnya bahwa suatu tujuan yang dianggap terstandar dan memiliki tingkat ketepatan (validity), kebermaknaan (meaningfulness), fungsional dan relevansi yang tinggi dengan kebutuhan serta karakteristik sasaran.

Seperti Mattern dan Schau menggambarkan situasi, "Dalam negara-negara maju, telah ditentukan bahwa tujuan ilmu pengetahuan tidak pernah menyadari sepenuhnya, bahwa mahasiswa melakukan tidak seperti kuliah ilmu pengetahuan dan yang paling tidak memiliki preferensi untuk ilmu pengetahuan ". Meskipun konsep-konsep ilmiah yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari tetapi ini sulit dan kompleks di alam. Dalam mempelajari konsep-konsep ini, siswa 'sikap dan minat bisa memainkan peran penting di kalangan murid mempelajari ilmu. Siswa dapat berhasil dalam pelajaran ilmu jika mereka memiliki sikap terhadap ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pendidikan, "Hasil afektif instruksi yang sama pentingnya dengan hasil kognitif. Afektif domain ditandai dengan berbagai konstruksi, seperti sikap, preferensi, dan minat.20

Pentingnya memahami Nature of Science (NOS) secara luas diterima oleh banyak ilmu pendidik. Tujuan utama dari sebagian besar program pendidikan sains di banyak negara adalah untuk mengembangkan literasi ilmiah dan memahami aspek-aspek utama dari NOS adalah dianggap sebagai faktor kunci dalam mengembangkan literasi ilmiah.21

Selain itu, mengingat ketercapaian suatu tujuan amat penting untuk diketahui dan di kontrol, maka serangkaian tujuan yang dikembangkan hendaklah memiliki tingkat keterukuran yang memadai, maksudnya adalah tujuan-tujuan pendidikan sains yang telah dirumuskan hendaklah dapat diamati dan dinilai secara mudah, sederhana dan praktis.

Oleh karena itu Leeper dalam bukunya Ali Nugraha secara umum menyampaiakan bahwa pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ditujukan untuk merealisasikan empat hal, yaitu:22

1) Agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui penggunaan metode sains, sehingga anak-anak terbantu dan menjadi terampil dalam menyelesaikan yang dihadapinya.

20

Mushtaq A. M,Effect of Problem solving teaching strategy on 8th Grade students’ attitude towards

Science,Journal of Education and Practice. Vol 1, No 3, 2010, hal. 16-17.

21

Duygu, M, Effect of a Science Camp on the Children’s Views of Tentative Nature of Science,Journal of Studies in Education. Vol. 2, No. 1, 2012, hal. 165.

22

(14)

84

2) Agar anak-anak memiliki sikap-sikap ilmiah. Misalkan; tidak cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi-informasi yang diterimanya serta bersifat terbuka.

3) Agar anak-anak mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah (yang lebih dipercaya dan baik), maksudnya adalah segala informasi yang diperoleh anak berdasarkan pada standar keilmuan yang semestinya, karena informasi yang disajikan merupakan hasil temuan dan rumusan yang obyektif serta sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan yang menaunginya. 4) Agar anak-anak menjadi lebih berminat dan tertarik untuk menghayati sains yang berada

dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.

Secara lebih rinci tujuan sains atau pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini dapat dijabarkan sebagai berukut:

1) Membantu pemahaman anak tentang konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

2) Membantu melekatkan aspek-aspek yang terkait dengan keterampilan proses sains, sehingga pengetahuan dan gagasan tentang alam sekitar dalam diri anak menjadi berkembang.

3) Membantu menumbuhkan minat pada anak untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di luar lingkungannya.

4) Memfasilitasi dan mengembangkan sikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri dalam kehidupannya.

5) Membantu anak agar mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

6) Membantu anak agar mampu menggunakan teknologi sederhana yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

7) Membantu anak untuk dapat mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesarandan keanggungan Tuhan YME.

Sikap yang diharapkan dapat meningkat melalui pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini antara lain:

1) Sikap jujur 2) Sikap kritis 3) Sikap kreatif

4) Sikap positif terhadap kegagalan 5) Sikap kerendahan hati

(15)

85 7) Sikap keterbukaan untuk di kritik dan diuji 8) Sikap menghargai dan menerima masukan

9) Sikap berpedoman pada fakta dan dat yang memadai 10) Hasrat ingin tahu yang tinggi.

Merujuk pada sumber yang telah diungkapkan para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pengembangan pembelajaran sains anak usia dini adalah untuk membantu anak menghadapi dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, berpikir kritis, meningkatkan rasa ingin tahu anak, berpikir ilmiah (berdasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya), serta membantu meningkatkan kesadaran dan lebih mengenal kebesaran Tuhan YME.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Sains

Dalam pengembangan pembelajaran sains di taman kanak-kanak terdapat langkah-lngkah meliputi: perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan penilaian atau evaluasi.

1) Perencanaan

Pada setiap pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat penting dilakukan penyusunan perencanaan atau silabus agar tujuan dari pembelajaran tersebut lebih jelas dan tepat sasaran. Menurut The Liang Gie dalam bukunya Ali Nugraha perencanaan adalah aktivitas yang menggambarkan dimuka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakannya dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Sujana dalam bukunya Masitoh berpendapat bahwa perencanaan pembelajaran adalah memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (PBM), dengan mengkoordinasikan (mengatur dan menetapkan) komponen-komponen pengajaran, sehingga arah kegiatan (tujuan), isi kegiatan (materi), cara penyampaian (metode dan teknik) serta bagaimana mengukurnya (evaluasi) menjadi jelas dan sistematis.23

Masitoh memberikan rumusan tentang perencaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai. Perencanaan pengajaran mengandung komponen-komponen yang ditata secara sistematis dimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.

Memahami dari beberapa pendapat para ahli di atas yang menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran sangat penting dilakukan agar langkah-langkah dalam setiap

23

(16)

86

aktivitas pembelajaran tersusun secara jelas serta mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pengembangan pembelajaran sains, terdapat dua tahapan utama dalam perencanaan pembelajaran sains, diantaranya:

a) Tahap pra perencanaan yaitu tahapan yang ditempuh oleh seorang perencana sebelum merumuskan perencanaan sungguhnya, dan tahap ini berada paling awal dalam proses perencanaan. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan diantaranya adalah berpikir pertama, mengenai tujuan-tujuan atau kemampuan-kemampuan apasajakah yang akan dicapai atau pengalaman-pengalaman belajar sains yang akan dicapai dan diberikan kepada anak. Kedua, berpikir tentang bagaimana cara mencapai tujuan atau kemampuan sains yang telah dirumuskan. Antaralain ini berkaitan dengan berpikir secara keras tentang upaya-upaya serta alternatif-alternatif yang akan ditempuh guna merealisasikan semua tujuan dan kemampuan sains agar mengidividualisasi pada diri setiap anak. Hal terakhir yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara mengetahui keberhasilan pengembangan pembelajaran sains yang akan dilakukan atau evaluasi.

b) Tahap pengembangan perencanaan yaitu tahap melakukan kegiatan nyata dalam pembuatan perencanaan. Pada tahap ini terdapat dua tahapan penting yaitu tahapan pemilihan dan penentuan format perencanaan dan kedua tahap pengembangan atau pengisian format yang telah dipilih dan dianggap paling baik. Komponen-koponen format perencanaan yang sering digunakan dalam pengembangan perencanaan pembelajaran sains, diantaranya 1) Rumusan tujuan, 2) Material yang dibutuhkan, 3) Penyiapan anak dan setting lingkungan, 4) Pengembangan kegiatan, 5) Penguatan dan penghargaan, 6) Tindakan pengayaan, 7) Lembar kerja anak.

2) Pelaksanaan

Setelah melakukan langkah perencanaan yang dijelaskan di atas, maka guru dapat melakukan kegiatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Namun untuk dapat melaksanakan dan menfasilitasi kegiatan pembelajaran sains agar kegiatan menjadi optimal dan mencapai tujuan sains secara utuh, agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Dalam membimbing kegiatan sains hendaklah mengarahkan anak-anak untuk aktif mengerjakan sendiri, serta aktif berpikir sendiri secara teratur, kritis dan jujur.

b) Arahkanlah anak-anak untuk aktif mengadakan observasi dan penyelidikan-penyelidikan sendiri dengan alat-alat yang ada, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Atau

(17)

87

membuat sendiri alat/media yang akan dipergunakan dengan bahan-bahan sederhana. Makin sederhana alat/medianya makin baik untuk anak, terlebih jika hasil buatan sendiri. c) Berusaha memperkaya daya kreasi, serta aktif menggali secara potensi anak dan

mempergunakannya dalam pembelajaran sains secara optimal

d) Berusaha meningkatkan minat serta mempertajam daya observasi (pengamatan) setiap anak, karena kemampuan observasi merupakan kunci pokok untuk sukses dalam menyelami sains.

e) Mencoba dan mengembangkan segala yang ditemukan dalam kegiatan sains yang dikaitkan dengan dimensi keilmuan lainnya, misalnya dengan matematika, ilmu sosial, ilmu bahasa, dan sebagainya. Sehingga tercipta suatu pengajaran terpadu yang lebih bermakna dan fungsional bagi anak.

f) Membesarkan kemauan serta hasrat untuk membaca, menggali buku serta mengembangkan yang diperolehnya oleh anak selama pembelajaran sains. Dengan demikian kecintaan anak akan sains tidak berhenti di sekolah, tetapi dimanapun ia berada, maka diharapkan minatnya terhadap sains tumbuh dan terpelihara secara baik.

3) Penilaian atau Evaluasi

Ralph Tyler yang dikutip oleh Arikunto mengungkapkan definisi evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.24Evaluasi ini dilakukan untuk menilai dan mengukur tingkat keberhasilan atau ketercapaian suatu tujuan pembelajaran. Pabila tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan belum tercapai maka, perlu diadakan revisi lebih lanjut terhadap tujuan pembelajaran dengan melihat hal apa yang menjadi penyebab ketidak berhasilan serta langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Pada bidang pendidikan evaluasi difokuskan kepada evaluasi terhadap hasil belajar anak. Dalam mengembangkan pembelajaran sains juga dilakukan evaluasi sains. Menurut Ali Nugaraha evaluasi sains adalah proses penelusuran dan penentuan tingkat keberhasilan pembelajaran sains, sehingga diketahui upaya-upaya selanjutnya, baik tindakan perbaikan, pengayaan maupun pengembangan lainnya. Tujuan dari evaluasi sains adalah untuk mengukur sampai sejauh mana perkembangan dan kemajuan anak serta langkah-langkah tindak lanjutnya dapat diketahui secara baik.

Evalusi sains dilakukan melalui empat cara, diantaranya: a) Observasi atau pengamatan

24

(18)

88

Observasi adalah cara pengumpulan data penilaian yang pengisiannya berdasarkan pengamatan lansung terhadap sikap dan perilaku anak.

b) Catatan anekdot

Catatan anekdot atau “anecdotal record” adalah kumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak yang khusus, baik yang positif maupun yang negatif.

c) Percakapan atau interview

Percakapan adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap-cakap atau wawancara antara anak dengan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

d) Pemberian tugas

Pemberian tugas adalah suatu metode penilaian dimana guru dapat memberikannya setelah melihat hasil kerja anak. Pemberian tugas dalam kegiatan sains pada anak dapat dilakukan secara kelompok, berpasangan ataupun individual sehingga hasil pemberian tugas dapat berupa satu hasil karya kelompok, sepasang atau seorang anak.

d. Metode Pembelajaran Sains di Taman Kanak-kanak

Pemilihan dan penentuan metode dalam pembelajaran sangat penting dilakukan mengingat metode merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar. Peran metode pembelajaran merupakan suatu cara, yang dalam bekerjanya, merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan.25

Metode pembelajaran yang ada di Taman Kanak-kanak sangat beragam. Walaupun demikian, guru harus tetap mengingat bahwa anak Taman Kanak-kanak berbeda dengan tingkat usia yang lain. Perbedaan tersebut tentu saja berdampak dalam pemilihan metode yang tepat.

Metode yang dianggap tepat digunakan di Taman Kanak-kanak hendaknya memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak serta memenuhi kebutuhan dan minat setiap anak. Dalam membantu meningkatkan keterampilan sains terdapat beberapa metode yang dianggap tepat diterapkan di Taman Kanak-kanak melalui pengembangan sudut (area) pembelajaran sains, metode eksperimen, melalui bulletin board (majalah dinding), discovery-inquiry, melalui permainan, serta kunjungan-kunjungan ke objek-objek sains.

C. Kesimpulan

Pendidikan anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan

25

(19)

89

pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari linghkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang yang melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak.

Teori perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri dan fungsi dari objek – objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, teman. Bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.

Substansi pembelajaran sains pada program Pembelajaran Anak Usia Dini (PAUD) diorientasikan pada proses pengenalan dan proses penguasaan tentang sains sesuai dengan tingkat usianya, sehingga kedua proses tersebut diharapkan menjadi titik awal penguasaan sains untuk level selanjutnya. Oleh karena itu, wilayah garapan pembelajaran sains bagi anak usia dini meliputi dua dimensi besar, pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang pengembangan atau kemampuan yang akan dicapai.

(20)

90

Daftar Pustaka

Ali Nugraha.Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. Bandung: Jilsi Poundation, 2008.

Arikunto, S. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Catherine. G. M.Early Childhood Education for the Pre-School Age Going Children: The Issue of Low Enrolments in Kenya.Journal of Education and Practice. Vol 3, No 6, 2012.

Duygu, M.Effect of a Science Camp on the Children’s Views of Tentative Nature of Science, Journal of Studies in Education. Vol. 2, No. 1, 2012.

Garuba, Mamudu A., Agweda, F. E., Abumere, Daniel Ikhine, The Contribution of Science and Technology Education to National Development: The Nigerian Experience.Journal of Education and Practice. Vol 3, No 1, 2012.

Hamzah.Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Mansur.Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Martini. Perkembangan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak: pedoman bagi oran g tua dan guru. Jakarta: PT Grasindo, 2006.

Masitoh.Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdiknas, 2005. Moeslichatoen.Metode Pengajaran Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Mushtaq A. M, Effect of Problem solving teaching strategy on 8th Grade students’ attitude

towards Science,Journal of Education and Practice. Vol 1, No 3, 2010. Santrock.Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007.

Sunarto. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Trianto.Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No.20 Tahun 2003) dan Peraturan Pelaksanaannya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Yuliani Nurani Sujiono.Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks, 2009.

Biografi singkat penulis:

Istikomah,S.Pd.I., M.Pd., adalah dosen tetap Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yasni Muara Bungo, Jambi, Indonesia. Menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Strata-1 (S.Pd.I) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang pada jurusan Kependidikan Islam tahun 2010. Program Magister (M.Pd) diselesaikan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada jurusan Pendidikan Anak Usia Dini tahun 2013. Saat ini sedang menempuh studi Program

(21)

91

Doktor pada Prodi Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Korespondensi dapat dilakukan melalui surat elektronik di istidani88@gmail.com.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...