PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED
LEARNING) PADA STANDAR KOMPETENSI MENAMPILKAN SIKAP POSITIF
TERHADAP PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA DI KELAS XII IPA-1 SMAN 1 BOYOLANGU TAHUN PELAJARAN 2014-2015
Oleh: Endro Santoso
SMA Negeri 1 Boyolangu, Tulungagung
Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Boyolangu kabupaten
Tulungagung kelas XII IPA-1 semester I tahun pelajaran 2014-2015. Subyek penelitiannya adalah guru PKn dan siswa sejumlah 36 orang pada standar kompetensi menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka yang terdiri atas kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) dan menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan (siklus II). Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) di kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tahun Pelajaran 2014-2015 dapat
meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar siswa.
Kata Kunci: problem based learning, pancasila, ideologi terbuka, prestasi belajar
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ko-mitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam ke-hidupan bermasyarakat, berbangsa dan ber-negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus mene-rus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Repu-blik Indonesia (NKRI). Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bang-sa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus bangsa.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarga-negaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan kepribadian warga negara yang memahami prinsip-prinsp kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta mampu
me-ngamalkanya dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan menjadi warga negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan be-rbudi pekerti luhur serta menjunjung tinggi harkat martabat manusia baik sebagai mah-kluk individu maupun mamah-kluk sosial2). Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship
Education) merupakan mata pelajaran yang
juga memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kul-tural, bahasa, usia, dan suku bangsa. Di an-tara tujuan mata pelajaran Pendidikan Ke-warganegaraan (PKn) antara lain agar peser-ta didik memiliki kemampuan sebagai beri-kut: 1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarga-negaraan; 2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, ber-bangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi; 3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa
lain-nya; 4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Ber-dasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Na-sional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Stan-dar Isi, maka mata pelajaran Pendidikan Ke-warganegaraan (PKn) SMA/SMK/MA me-miliki standar kompetensi sebagai berikut: (1) Memahami hakikat bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (2) Menampilkan sikap positif terhadap sistem hukum dan peradilan nasional. (3) Menam-pilkan peran serta dalam upaya pemajuan, penghormatan dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). (4) Menganalisis hubung-an dasar negara denghubung-an konstitusi. (5) Me-nghargai persamaan kedudukan warga nega-ra dalam berbagai aspek kehidupan. (6) Me-nganalisis sistem politik di Indonesia. (7) Menganalisis budaya politik di Indonesia. (8) Menganalisis budaya demokrasi menuju masyarakat madani. (9) Menampilkan sikap keterbukaan dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (10) Menganalisis hubungan internasional dan organisasi inter-nasional. (11) Menganalisis sistem hukum dan peradilan internasional. (12) Menam-pilkan sikap positif terhadap Pancasila se-bagai ideologi terbuka. (13) Mengevaluasi berbagai sistem pemerintahan. (14) Menge-valuasi peranan pers dalam masyarakat de-mokrasi. (15) Mengevaluasi dampak global-isasi.
Dari standar isi tersebut di atas, Penulis memilih standar kompetensi ke dua belas yaitu: menampilkan sikap positif ter-hadap Pancasila sebagai ideologi terbuka se-bagai judul penelitian tindakan kelas ini. Berdasarkan hasil pengamatan dan penga-laman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa cenderug ti-dak begitu tertarik dengan pelajaran Pen-didikan Kewarganegaraan (PKn) karena se-lama ini pelajaran Pendidikan Kewarga-negaraan (PKn) dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran
se-hingga menyebabkan rendahnya minat be-lajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) siswa di sekolah.
Ada beberapa faktor yang menyebab-kan hasil pembelajaran Pendidimenyebab-kan Kewar-ganegaraan (PKn) rendah baik faktor
inter-nal maupun eksterinter-nal dari siswa. Faktor
in-ternal antara lain: motivasi belajar, intele-gensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Se-dangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa misalnya: guru se-bagai pembina kegiatan pembelajaran, stra-tegi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum, lingkungan, dll. Dari masalah-masalah yang dikemukakan di atas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pem-belajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (focus on learners), memberikan pem-belajaran dan pengalaman belajar yang rele-van dan kontekstual dalam kehidupan nyata dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. Di sinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlu-kan untuk meningkatdiperlu-kan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarga-negaraan (PKn). Dalam hal ini Penulis me-milih model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) sebagai upaya me-ningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya diharap-kan mampu meningkatdiharap-kan prestasi belajar paara siswa. dalam mata pelajaran Pendi-dikan Kewarganegaraan (PKn), khususnya pada standar kompetensi menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka yang terdiri atas kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) dan menganalisis Panca-sila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan (siklus II).
Berdasarkan uraian diatas maka pene-litian tindakan kelas ini, dirancang untuk mengkaji penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan kemampuan dan pres-tasi belajar siswa dalam memecahkan masa-lah yang berkaitan pada sandar kompetensi menampilkan sikap positif terhadap Panca-sila sebagai ideologi terbuka.
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan kon-sisten pada dirinya sebagai hasil penga-laman (learning is a change of behaviour as
a result of experience), demikian pendapat
John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan
akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan,
misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive
domain), aspek sikap dan perilaku (afektive domain) maupun aspek ketrampilan (psy-chomotoric domain). Belajar merupakan
suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Empat pilar belajar menurut UNESCO yaitu: a) Learning to know, yaitu suatu pro-ses pembelajaran yang memungkinkan sis-wa menguasai teknik menemukan pengeta-huan dan bukan semata-mata hanya mem-peroleh pengetahuan. b) Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai ke-mampuan untuk melaksanakan controlling,
monitoring, maintening, designing, organiz-ing. Belajar dengan melakukan sesuatu
dalam potensi yang konkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, mela-inkan juga meliputi kemampuan berkomuni-kasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik. c)
Learn-ing to live together adalah membekali
ke-mampuan untuk hidup bersama dengan
orang lain yang berbeda dengan penuh tole-ransi, saling pengertia dan tanpa prasangka. d) Learning to be adalah keberhasilan pem-belajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecah-kan masalah, bekerjasama, bertenggang ra-sa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa se-hingga menjadi manusia yang mampu me-ngenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut kecerdasan emosi (emotional intelegence).
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Pen-didikan Kewarganegaraan (PKn) dalam ra-ngka “nation and character building” yaitu: 1) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) me-rupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang relevan, yaitu: ilmu politik, hukum, sosio-logi, antropososio-logi, psokoliogi dan disiplin il-mu lainnya yang digunakan sebagai landa-san untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara; 2) Pendi-dikan Kewarganegaraan (PKn) mengem-bangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pengembangan karakter bang-sa merupakan proses pengembangan warga negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada penge-mbangan kecerdasan warga negara (civic
intelegence) sebagai landasan
pengem-bangan nilai dan perilaku demokrasi; 3) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan
pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan me-nekankan pelatihan penggunaan logika dan penalaran; 4) Kelas Pendidikan Kewargane-garaan (PKn) sebagai laboratorium demo-krasi. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pemahaman, sikap dan perilaku de-mokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui “mengajar demokrasi” (teaching
de-mocracy), tetapi melalui model
pembela-jaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Evaluasi dilakukan secara menyeluruh ter-masuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.
Hasil belajar adalah segala kemampu-an ykemampu-ang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penera-pan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya se-hari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan ma-nusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan ne-gara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta kera-gaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes (ulangan harian, tengah semester, akhir semester), unjuk kerja (performance), penugasan (projek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik se-hingga siswa termotivasi untuk belajar. Di-perlukan model pembelajaran interaktif di-mana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru
mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan
kom-prehensif pada aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diper-lukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar me-ngajar. Adapun pembelajaran yang tepat un-tuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran berbasis masalah (problem
ba-sed learning). Pembelajaran berbasis
masa-lah (problem based learning) adamasa-lah suatu model pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu diminta mengobser-vasi suatu fenomena. Kemudian siswa di-minta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut.
Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa be-kerja dan mengalami, menemukan dan men-diskusikan masalah serta mencari pemecah-an masalah, bukpemecah-an trpemecah-ansfer pengetahupemecah-an dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa me-reka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa meme-cahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide. Dalam model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) tugas gu-ru mengatur strategi belajar, membantu me-nghubungkan pengetahuan lama dengan pngetahuan baru, dan memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan meng-gunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan ma-salah dalam kehidupannya.
Dari pembahasan di atas dapat diduga bahwa model pembelajaran berbasis masa-lah (problem based learning) dapat
mening-katkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif, diamana siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, mene-mukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja ke-lompok, belajar dari model yang sebenar-nya, bisa merefleksikan apa yang diperoleh-nya antara harapan dengan kediperoleh-nyataan se-hingga peningkatan hasil belajar yang dida-pat bukan hanya sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata/ pemecahan kasus-kasus yang dikerja-kan siswa pada saat melakudikerja-kan proses pem-belajaran/ diskusi kelompok dan diskusi ke-las. Berdasar uraian di atas maka model pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) dapat meningkatkan
partisi-pasi siswa dalam roses pembelajaran sehing-ga diharapkan mampu meningkatkan pres-tasi/ hasil belajar Pendidikan Kewarganega-raan (PKn) pada standar kompetensi me-nampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka yang terdiri atas kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) dan me-nganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan (siklus II).
Secara umum penelitian tindakan ke-las ini bertujuan untuk meningkatkan par-tisipasi dan prestasi/ hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegara-an (PKn). SedKewarganegara-angkKewarganegara-an secara khusus peneli-tian tindakan kelas ini bertujuan untuk me-ningkatkan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menimbulkan kreatifitas siswa yang pada akhirnya dapat mening-katkan prestasi belajar Pendidikan Kewarga-negaraan (PKn) pada standar kompetensi: menampilkan sikap positif terhadap Panca-sila sebagai ideologi terbuka yang terdiri atas kompetensi dasar mendiskripsikan Pan-casila sebagai ideologi terbuka dan menga-nalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan.
METODE PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilak-sanakan selama lebih kurang 3 (tiga) bulan mulai, bertempat di SMA Negeri 1 Boyola-ngu Kabupaten Tulungagung, Jl .Ki Ma-ngunsarkoro, Beji, Boyolangu Kabupaten Tulungagung, web: http://smaboy.sch.id, e-mail: [email protected]
Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulunga-gung dengan jumlah siswa 36 orang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 21 orang perem-puan. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada saat proses pembelajaran mata pelajar-an Pendidikpelajar-an Kewargpelajar-anegarapelajar-an (PKn) ber-langsung pada standar kompetensi pada standar kompetensi menampilkan sikap po-sitif terhadap Pancasila sebagai ideologi ter-buka yang terdiri atas kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) dan menganalisis Panca-sila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan (siklus II).
Penelitian tindakan kelas ini merupa-kan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (class action research) yaitu suatu peneli-tian yang dikembangkan bersama-sama un-tuk peneliti dan pembuat keputusan
(decis-ion maker) tentang variabel yang
dimanipu-lasikan dan dapat digunakan untuk melaku-kan perbaimelaku-kan. Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan guru, catatan siswa, wawancara, angket dan berbagai dokumen yang terkait dengan siswa. Prosedur penelitian terdiri da-ri 4 tahap, yakni perencanaan (planing), me-lakukan tindakan/ pelaksanaan (acting), ob-servasi (obob-servasing) dan tindak lanjut
(re-flecting). Tindak lanjut/ refleksi merupakan
tahap akhir siklus dan akan berulang kem-bali pada siklus-siklus berikutnya (misalnya siklus I, II dan bilamana perlu siklus III dan seterusnya). Aspek yang diamati dalam se-tiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas
siswa saat pembelajaran Pendidikan Kewar-ganegaraan (PKn) dengan pendekatan model pembelajaran berbasis masalah (problem
ba-sed learning) untuk melihat perubahan
kah laku siswa dan untuk mengetahui ting-kat kemajuan belajarnya yang akan berngaruh terhadap hasil belajar dengan alat pe-ngumpul data yang sudah disebutkan di atas.
Data yang diambil adalah data kuan-titatif dari hasil tes, presensi, nilai tugas seta data kualitatif yang menggambarkan keak-tifan siswa, antusias siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil diskusi kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagung Tahun Pelajaran 2014-2015. Instrument penelitian tindakan kelas ini berbentuk soal tes, obser-vasi, catatan lapangan dan data kuantitatif berupa hasil belajar siswa sebelum peneli-tian tindakan kelas ini dilakukan. Hal ini di-perlukan untuk mengetahui kemajuan bela-jar siswa sebelum dan setelah penelitian di-lakukan. Selain itu juga dipergunakan seba-gai bahan pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut pada setiap siklus yang telah direncanakan.
Data yang terkumpul divalidasi dan dianalisis. Validasi diperlukan untuk me-mastikan bahwa data-data yang diperoleh benar-benar valid sehingga dapat dipertang-gungjawabkan. Sedangkan analisis data yang dipergunakan adalah diskriftif analitik, yaitu memaparkan fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat. Pro-sedur pengolahan data dilaksanakan dengan mengacu pada pengolahan data dalam pene-litian kualitatif dari hasil observasi dan wawancara serta hasil evaluasi kemajuan belajar yang kemudian dianalisis secara dis-kriptif, dengan mengkatagorikan dan meng-klasifikasikan berdasarkan analisis kaitan lo-gisnya, kemudian ditafsirkan dan disajikan secara sistematis dalam konteks permasalah-an penelitipermasalah-an. untuk selpermasalah-anjutnya dapat dija-dikan sebagai dasar bagi kegiatan refleksi bagi peneliti. Adapun cara melakukan anali-sis disesuaikan dengan tindakan yang telah
direncanakan selama penelitian berlangsung, yaitu dengan jalan mencari rata-rata skor yang diperoleh dari lembar kegiatan siswa untuk setiap indikator yang harus dikuasai oleh siswa. Dan untuk menunjang keabsah-an pengolahkeabsah-an data tersebut di atas peneliti juga akan melakukan survey terhadap res-pon siswa dalam mengikuti proses pembela-jaran dengan jalan membuat angket yang berisi skala sikap yang disusun dengan mak-sud untuk mengetahui tanggapan siswa ter-hadap proses pembelajaran yang telah diran-cang oleh peneliti.
Selanjutnya untuk analisis ketuntasan hasil belajar siswa peneliti melakukan peng-hitungan prosentase siswa yang mendapat-kan nilai sama dengan atau lebih dari tujuh puluh lima ( ≥75 ) untuk mengetahui sebera-pa besar daya serap dan pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar yang dipelajari dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) baik secara individual maupun daya serap siswa secara klasikal.
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus dengan prosedur sebagai berikut.
Siklus I
1. Perencanaan (Planing), (a) identifikasi masalah dan penetapan alternatif peme-cahan masalah; (b) merencanakan meto-de pembelajaran yang akan diterapkan; (c) menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar; (d) memilih bahan/ materi pembelajaran yang sesuai; (e) me-nentukan rencana pelaksanaan pembela-jaran berbasis masalah (problem based
learning); (f) mempersiapkan sumber,
bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan; (g) menyusun lembar kegiatan siswa; (h) mengembangkan format evaluasi; (i) me-ngembangkan format observasi pembela-jaran;
2. Tindakan (Acting), (a) menerapkan tinda-kan yang mengacu pada rencana pelak-sanaan pembelajaran; (b) siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber; (c) siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang materi yang terdapat pada buku sumber; (d) siswa mendengarkan penje-lasan guru tentang materi yang dipelajari; (e) siswa mengerjakan lembar kegiatan siswa (lks); (f) siswa berdiskusi memba-has masalah/ karsus/ pertanyaan yang su-dah dipersiapkan oleh guru; (g) masing-masing kelompok mempresentasikan ha-sil diskusi.
3. Pengamatan (Observasing), (a) melaku-kan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu de-ngan catatan anekdot untuk mengumpul-kan data; (b) menlai hasil tindamengumpul-kan de-ngan menggunakan format lembar kerja siswa.
4. Tindak Lanjut (Reflecting), (a) melaku-kan evaluasi tindamelaku-kan yang telah dilaku-kan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan; (b) melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang scenario pembelaja-ran dan lembar kerja siswa; (c) memper-baiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II
1. Perencanaan (Planing), (a) identifikasi masalah yang muncul pada siklus i dan belum teratasi dan penetapan alternatif pemecahan masalah; (b) menentukan indikator pencapaian hasil belajar; (c) pengembangan program tindakan II. 2. Tindakan (Acting)Pelaksanaan tindakan
pada siklus II yang mengacu pada iden-tifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain melalui: (a) guru melakukan apper-sepsi; (b) siswa diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran; (c) siswa mengumpulkan bacaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan; (d) presentasi hasil diskusi; (e) siswa
menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa (lks).
3. Pengamatan (Observasing), (a) melaku-kan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung; (b) menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan;
4. Tindak Lanjut (Reflecting), (a) melaku-kan evaluasi terhadap tindamelaku-kan pada sik-lus ii berdasarkan data yang terkumpul; (b) membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran pada siklus II; (c) memperbaiki pelaksanaan tindakan sesu-ai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus III bilamana perlu; (d) evalu-asi tindakan II; (f) indikator keberhevalu-asilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I.
Kriteria keberhasilan penelitian ini da-ri sisi proses dan hasil. Sisi proses yaitu ber-hasilnya siswa memecahkan masalah mela-lui pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) dengan mengadakan diskusi
kelompok belajar, dimana para siswa dilatih untuk berani mengemukakan pendapat dan/ atau berbeda pendapat, memberikan perta-nyaan, sanggahan, saran-saran dll. Sedang-kan sisi hasil ialah meningkatnya prestasi/ hasil belajar siswa pada standar kompetensi tersebut melalui hasil tes/ulangan yang dilaksanakan pada akhir masing-masing si-klus.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum siklus I dilaksanakan, berda-sar data dokumentasi diperoleh data awal bahwa dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%, sebanyak 27 siswa ( 75,00 % ) tuntas, dan sebanyak 9 siswa (22,23 %) harus mengikuti remidi, dengan nilai rata-rata 76,83. Temuan awal yang diperoleh diduga siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran, merasa jemu dan kurang memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah. Selama pembelajaran
berlangsung guru lebih dominan, akibatnya pembelajaran kurang efektif yang pada akhirnya prestasi siswa kurang optimal. Da-lam penelitian tindakan kelas ini dilakukan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan da-lam 2 siklus dan masing-masing siklus ter-diri dari empat tahap yaitu perencanaan
(pl-anning), tindakan (acting), observasi (obser-vasing) dan tindak lanjut (reflecting).
Ada-pun setiap siklus dirancang untuk penerapan dan pengaplikasian tindakan yang berbeda. Siklus Pertama
Dalam siklus I ini akan dilakukan
pengkajian kompetensi dasar
mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan pada siklus I ini dimulai dengan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang membahas Panca-sila sebagai ideologi terbuka. Selanjutnya pembuatan lembar kegiatan siswa (lks) yang berisi tentang permasalahan/ pertanyaan yang berkaitan dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Untuk pembahasan kom-petensi dasar ini diperlukan waktu 4 x 45 menit (4 jam pelajaran), terdiri dari perte-muan pertama 2 x 45 menit dan perteperte-muan kedua 2 x 45 menit dan diakhiri dengan uji kompetensi dasar. Selama pelaksanaan si-klus I ini, guru menyiapkan lembar obser-vasi yang diperlukan untuk merekam semua kejadian selama proses pembelajaran. Selain itu guru juga mempersiapkan instrumen penilaian guna mengukur kegiatan selama siklus I ini dan juga untuk kepentingan refleksi yang akan dilakukan di akhir siklus. 2. Tindakan (Acting)
Penerapan model pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning) pa-da kompetensi pa-dasar mendiskripsikan Pan-casila sebagai ideologi terbuka ini diawali dengan informasi guru mengenai tujuan pembelajaran, dilanjutkan penjelasan umum
tentang materi pembelajaran, kemudian pembentukan kelompok diskusi. Dengan bimbingan guru siswa membagi kelas men-jadi 6 kelompok yang heterogen, setiap ke-lompok beranggotakan 6 orang. Kemudian setiap meja kelompok diberikan lembar ke-giatan siswa yang berisi permasalahan/ ka-sus/ pertanyaan mengenai Pancasila sebagai ideologi terbuka. Pertanyaan dikembangkan berdasarkan indikator dari kompetensi dasar tersebut di atas. Selanjutnya siswa-siswa ter-sebut mendiskusikan dengan kelompoknya masing-masing. Hasil diskusi dicatat dan kemudian masing-masing kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil diskusi ke-lompoknya di depan kelas. Kelompok lain berhak bertanya, memberikan saran, masuk-kan, pendapat, dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
Selama proses pembelajaran berlang-sung, guru mengadakan pengamatan dan memberikan penilaian mengenai aktifitas siswa dalam berdiskusi, sikap, tata cara mengemukakan pendapat, cara bertanya, dll. Pada akhir pembelajaran siswa dengan bim-bingan guru menyimpulkan hasil diskusi. 3. Pengamatan (Observasing)
Kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh guru sebagai peneliti mengenai segala sesuatu yang terjadi selama pelaksanaan tin-dakan. Pengamatan yang telah dilakukan di-catat pada lembar observasi yang telah disi-apkan. Berdasarkan catatan yang telah dibu-at dalam lembar observasi, peneliti dapdibu-at menyimpulkan bahwa selama proses pembe-lajaran pada kajian Pancasila sebagai ideo-logi terbuka secara umum berjalan seperti yang diharapkan oleh guru, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah
(pro-blem based learning). Secara garis besar
as-pek yang dinilai selama proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning) an-tara lain: 1) menjawab permasalahan/ kasus/ pertanyaan dari lembar kegiatan siswa (lks) dengan terlebih dahulu mendiskusikannya
dalam kelompok; 2) mencatat hasil diskusi kelompok; dan 3) menyampaikan hasil dis-kusi kelompok di depan kelas.
Setelah semua kelompok
menyampai-kan hasil diskusinya, kepada setiap siswa dibagikan angket/ daftar pertanyaan untuk
mengetahui pendapat siswa mengenai pelak-sanaan penerapan model pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning). Angket/ daftar pertanyaan yang telah terisi selanjutnya direkap dan diperoleh data seperti pada Tabel 1.
Tabel 1 Data Aktifitas Siswa Selama Proses Pembelajaran (Siklus I) (KD. Mendiskripsikan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka)
No ASPEK PEMBELAJARAN JAWABAN JUMLAH
SISWA
PROSENTASE ( % )
1 Menumbuhkan keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat
Ya 29 80,56 Tidak 7 19,44 2 Memberikan motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran
(meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok)
Ya 28 77,78 Tidak 8 22,22 3 Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengikuti diskusi
kelompok/kelas
Ya 31 86,11 Tidak 5 13,89 4 Mengembangkan hubungan baik siswa dengan guru selama kegiatan
pembelajaran
Ya 29 80,56 Tidak 7 19,44 5 Mengembangkan hubungan baik siswa dengan siswa lain selama
pembelajaran (dalam kerja kelompok/kelas)
Ya 27 75,00 Tidak 9 25,00 6 Mengembangkan partisipasi siswa dalam pembelajaran
(memperhati-kan, ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru).
Ya 25 69,44 Tidak 11 30,56
Rata-rata Ya 28,17 78,24
Tidak 7,83 21,76 Dari tabel di atas dapat diambil
kesim-pulan bahwa rata-rata siswa yang menjawab ya= 28,17 siswa (78,24%), siswa yang menyatakan tidak= 7,83 siswa (21,76%). Dengan demikian berarti proses pembelajar-an pada siklus I ini telah berhasil meing-katkan peran/ aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, walaupun belum 100% siswa menyatakan ya. Keadaan ini menjadi titik tolak untuk memperbaiki proses pembelajar-an pada siklus berikutnya. Selpembelajar-anjutnya untuk mengetahui ketercapain kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka pada akhir pertemuan kedua dilaku-kan ulangan harian/ kuis. Soal ulangan ber-bentuk isian/ uraian dengan rentang nilai 0-100. Dengan memperhatikan berbagai aspek yang meliputi kompleksitas, masukan
(in-tage) maupun sarana prasarana yang
menun-jang maka Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Pendidikan Kewarganegaraan kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tu-lungagung untuk standar kompetensi me-nampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka yang terdiri atas
kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) dan menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan (siklus II) sebagaimana tersebut di atas adalah 75%.
Setelah dilaksanakan ulangan harian/kuis dengan KKM =75% pada kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) hasilnya adalah
sebanyak 31 siswa (86,11 %.) tuntas dan sebanyak sebanyak 5 siswa (13,89%) belum tuntas, dengan nilai rata-rata keseluruhan 78,75. Siswa yang belum tuntas selanjutnya diberikan tugas tambahan (remidial) agar dapat menyelesaikan kompetensi dasar tersebut dan pada akhirnya dilaksanakan ulangan/ kuis. Berdasar data di atas berarti dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) dapat membantu para siswa
dalam memahami kajian mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I)
pada siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tahun Pelajaran 2014/2015. 4. Tindak Lanjut (Refleksi)
Dari seluruh kegiatan, mulai dari pe-rencanaan, observasi, pengambilan data sampai dengan pelaksanaan pengerjaan lem-bar kegiatan siswa (lks) pada siklus I ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa semua kegiatan berjalan dengan baik dan dapat dikatakan berhasil, walaupun kenaikan rata-rata nilai jika dibandingkan dengan temuan awal belum signifikan. Semua hal yang telah direncanakan dapat dilaksanakan tanpa adanya kendala yang berarti. Kegiatan pembelajaran yang Peneliti terapkan pada kompetensi dasar mendiskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka (siklus I) melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) dapat dikatakan
cocok dan sesuai dengan karakteristik ma-teri dan objek penelitian. Dalam penerapan strategi belajar ini menekankan sikap dan kerjasama saling memberi informasi dan tukar pikiran dengan sesama temannya. Sedangkan peranan guru hanya sebagai motivator dan pembimbing dalam proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Guru hanya memberikan penekanan konsep pada akhir pembahasan permasalahan dalam pe-laksanaan diskusi. Siklus I berjalan dengan baik walauapun masih belum sesuai harapan karena peningkatan nilai kognitif siswa belum signifikan jika dibandingkan dengan data temuan awal sebelum siklus I di-laksanakan. Masih terdapat beberapa siswa yang belum dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan juga masih ada kelompok siswa yang belum dapat melak-sanakan tugasnya secara baik. Oleh karena itu perlu dilaksanakan siklus II dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) sebagaimana pada
siklus I, akan tetapi pemilihan bahan ajar, pembagian kelompok siswa serta upaya agar siswa lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran lebih ditingkatkan untuk
pen-capaian kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Siklus Kedua
Dalam siklus II ini akan dilakukan pengkajian kompetensi dasar menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan para-digma pembangunan.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan pada siklus II ini dimulai dengan pembuatan rencana pelaksanaa pem-belajaran yang membahas kompetensi dasar menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan. Selanjutnya pembuatan lembar kegiatan siswa (lks) yang berisi tentang permasalahan/ kasus/ perta-nyaan yang berkaitan dengan menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan para-digma pembangunan. Permasalahan/ kasus/ pertanyaan yang disajikan pada lembar kegi-atan siswa pada suklus II ini diupayakan le-bih kontekstual yang terjadi saat ini. Pem-bagian kelompok diskusi memperhatikan hasil pengamatan (observasi) dan hasil ula-ngan/ kuis pada siklus sebelumnya agar aktifitas siswa maupun kelompok lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya, arti-nya siswa yang pada siklus sebelumarti-nya kurang berperan aktif dalam proses pem-belajaran/ diskusi, akan dijadikan satu kelompok dengan siswa yang lebih aktif, demikian juga dengan hasil ulangan/kuis yang diperoleh pada siklus sebelumnya. Untuk pembahasan kompetensi dasar ini diperlukan waktu 4 x 45 menit (4 jam pela-jaran), terdiri dari pertemuan pertama 2 x 45 menit dan pertemuan kedua 2 x 45 menit. Selama pelaksanaan siklus II ini, guru menyiapkan lembar observasi yang diper-lukan untuk merekam semua kejadian sela-ma proses pembelajaran serta daftar perta-nyaan/ angket yang selanjutnya pada akhir pertemuan pertama angket tersebut dibagi-kan kepada siswa untuk diisi sebagaimana dilakukan pada siklus sebelumnya. Dan juga mempersiapkan instrumen penilaian guna mengukur kegiatan selama siklus II ini
untuk kepentingan refleksi yang akan di-lakukan di akhir siklus.
2. Tindakan (Acting)
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) pada kompetensi dasar menganalisis Pancasila se-bagai sumber nilai dan paradigma pem-bangunan ini diawali dengan informasi guru mengenai tujuan pembelajaran, dilanjutkan penjelasan umum tentang materi pembela-jaran, kemudian pembentukan kelompok diskusi dengan memperhatikan hal-hal se-bagaimana tersebut di atas. Dengan bim-bingan guru siswa membagi kelas menjadi 6 kelompok yang heterogen, setiap kelompok beranggotakan 6 orang. Kemudian setiap meja kelompok diberikan lembar kegiatan siswa yang berisi permasalahan/ kasus/ pertanyaan mengenai menganalisis Panca-sila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan. Selanjutnya siswa-siswa mendiskusikan dengan kelompoknya ma-sing-masing. Hasil diskusi dicatat dan kemudian masing-masing kelompok secara bergiliran menyampaikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Kelompok lain berhak bertanya, memberikan saran, masu-kan, pendapat, dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Selama proses pembelajaran beralangsung, guru mengadakan pengamatan dan memberikan penilaian mengenai aktifitas siswa dalam berdiskusi, sikap, tata cara mengemukakan pendapat, cara bertanya, dll. Pada akhir pembelajaran siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil diskusi.
3. Pengamatan ( Observasing )
Kegiatan pengamatan ini dilakukan oleh guru sebagai Peneliti mengenai segala
se-suatu yang terjadi selama pelaksanaan tin-dakan. Pengamatan yang telah dilakukan catat pada lembar observasi yang telah siapkan. Berdasarkan catatan yang telah di-buat dalam lembar observasi, Peneliti dapat menyimpulkan bahwa selama proses pem-belajaran pada kajian menganalisis Panca-sila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan secara umum berjalan seperti yang diharapkan oleh guru, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah
(pro-blem based learning.) Secara garis besar
as-pek yang dinilai selama proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning) an-tara lain (1) menjawab permasalahan/ kasus/ pertanyaan dari lembar kegiatan siswa (lks) dengan terlebih dahulu mendiskusikannya dalam kelompok; (2) mencatat hasil diskusi kelompok; dan (3) menyampaikan hasil dis-kusi kelompok di depan kelas sebagaimana dilakukan pada siklus I, namun pada siklus II ini guru lebih pro aktif memberikan motivasi kepada siswa baik secara individu-al maupun kelompok dengan harapan siswa lebih aktif berperan dalam proses pembela-jaran. Setelah semua kelompok menyampai-kan hasil diskusinya, kepada setiap siswa dibagikan angket/ daftar pertanyaan untuk mengetahui pendapat siswa mengenai pelak-sanaan penerapan model pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning) pa-da siklus II ini. Apa-dapun gambaran partisi-pasi siswa dalam proses pembelajaran dapat dilihat pada rekapitulasi hasil angket/daftar pertanyaan yang telah terisi sekaligus dibandingkan dengan hasil rekapitulasi pada siklus I, seperti Tabel 2.
Tabel 2 Data Aktifitas Siswa Selama Proses Pembelajaran (Siklus II)
(KD. Mengnalisis Pancasila Sebagai Sumber Nilai & Paradigma Pembangunan)
No ASPEK PEMBELAJARAN
SIKLUS I SIKLUS II
JWB JML (%) JW
B JML (%)
1 Menumbuhkan keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat Ya 29 80,56 Ya 32 88,89 Tidak 7 19,44 Tidak 4 11,11 2 Memberikan motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran /
meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok
Ya 28 77,78 Ya 33 91,67 Tidak 8 22,22 Tidak 3 8,33 3 Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengikuti diskusi kelompok/ kelas Ya 31 86,11 Ya 33 91,67
Tidak 5 13,89 Tidak 3 8,33 4 Mengembangkan hubungan baik siswa dengan guru selama kegiatan Ya 29 80,56 Ya 32 88.89
No ASPEK PEMBELAJARAN
SIKLUS I SIKLUS II
JWB JML (%) JW
B JML (%)
pembelajaran Tidak 7 19,44 Tidak 4 11,11 5 Mengembangkan hubungan baik siswa dengan siswa lain selama pembelajaran
(dalam kerja kelompok/kelas)
Ya 27 75,00 Ya 34 94,44 Tidak 9 25,00 Tidak 2 5,56 6 Mengembangkan partisipasi siswa dalam pembelajaran (memperhatikan, ikut
melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru).
Ya 25 69,44 Ya 33 91,67 Tidak 11 30,56 Tidak 3 8,33
Rata-rata Ya 28,17 78,24 Ya 32,83 91,20
Tidak 7,83 21,76 Tidak 3,17 8,80
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada siklus II ini rata-rata siswa yang men-jawab ya= 32,83 siswa (91,20 %) mengala-mi peningkatan sebesar 12,96 % jika diban-dingkan dengan siklus I sebesar 28,17 siswa (78,24%), dan siswa yang menyatakan ti-dak= 3,17 siswa (8,80%) mengalami penu-runan sebesar 12,96% jika dibandingkan pa-da siklus I sebesar 7,83 siswa (21,76%) arti-nya sebaarti-nyak 12,96% siswa yang pada sik-lus I belum berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, pada siklus II ini telah ber-partisipasi aktif. Dengan demikian berarti proses pembelajaran pada siklus II ini telah berhasil meningkatkan peran/ aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, walaupun juga belum 100%. Selanjutnya untuk mengetahui ketercapain kompetensi dasar menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradig-ma pembangunan pada akhir pertemuan ke-dua dilakukan ulangan harian. Soal ulangan berbentuk isian/uraian dengan rentang nilai 0-100. Setelah dilaksanakan ulangan harian/ kuis dengan KKM =75% pada kompetensi dasar menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) pada siklus II ini hasilnya adalah sebanyak 34 siswa (94,44%) tuntas, mengalami kenaikan sebesar 8,33% jika dibandingkan pada sikus I sebanyak = 31 siswa (86,11%) dengan nilai rata-rata 81,47. Sedangkan siswa-siswa yang belum tuntas (remidi) pada silus II ini sebanyak 2 siswa (5,56%) yang selanjutnya diberikan tugas tambahan agar dapat menye-lesaikan kompetensi dasar tersebut di atas.
Berdasar data di atas berarti dapat disim-pulkan bahwa penerapan pembelajaran ber-basis masalah (problem based learning)
da-pat membantu para siswa dalam memahami standar kompetensi menampilkan sikap po-sitif terhadap Pancasila sebagai ideologi ter-buka pada siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Tahun Pelajaran 2014/2015.
4. Tindak Lanjut (reflecting)
Dari seluruh kegiatan, mulai dari pe-rencanaan, observasi, pengambilan data sampai dengan pelaksanaan pengerjaan lem-bar kegiatan siswa (lks) pada siklus II ini Peneliti dapat menyimpulkan bahwa semua kegiatan berjalan dengan baik dan berhasil, walaupun pada akhir siklus II ini masih ada siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan. Kenaikan rata-rata nilai hasil ulangan/kuis jika diban-dingkan dengan temuan awal juga masih perlu upaya peningkatan lebih keras lagi. Walaupun demikian kegiatan pembelajaran yang Peneliti terapkan pada standar kom-petensi menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) cocok dan sesuai
dengan karakteristik materi dan objek pene-litian. Upaya lebih lanjut dalam peningkatan partisipasi/ aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dalam rangka peningkatan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegara-an (PKn) harus terus ditingkatkKewarganegara-an sehingga terciptalah pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan hasil penga-matan guru sebagai Peneliti dalam pene-rapan pembelajaran berbasis masalah
(pro-blem based learning) pada standar
kom-petensi menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka di kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagung Tahun Pelajaran 2014-2015 maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. (1) Penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) mampu meningkatkan peran/aktivitas siswa maupun guru dalam proses pembelajaran. Aspek-aspek yang dikembangkan meliputi: menumbuhkan keberanian siswa dalam ber-tanya dan mengemukakan pendapat, motiv-asi dan kegairahan dalam mengikuti pembe-lajaran, mengembangkan kemampuan siswa dalam mengikuti diskusi kelompok/kelas, hubungan baik siswa dengan guru, hubu-ngan baik siswa dehubu-ngan siswa lain dan me-ngembangkan partisipasi siswa dalam pem-belajaran. (2) Peningkatan partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran sebagai-mana disebutkan pada poin 1 di atas diikuti dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar dengan pene-rapan pembelajaran berbasis masalah
(pro-blem based learning) ini juga cukup
signi-fikan jika dibandingkan dengan temuan awal sebelum penelitian dilaksanakan.
Saran
Berdasar pada kesimpulan di atas, maka demi kemajuan dan perbaikan proses pembelajaran serta peningkatan prestasi be-lajar siswa, hendaknya: (1) Siswa lebih aktif dan kreatif mengambil bagian dalam proses pembelajaran karena sebenarnya siswa ada-lah subyek belajar dan bukan sebagai obyek dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya sebagai pendengar yang pasif. (2) Guru-guru lebih kreatif dan inovatif dalam memilih metode, media serta materi-materi pokok yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang hendak dicapai. Pemilihan meto-de, media dan materi yang cocok akan sa-ngat membantu siswa dalam mencapai ke-tuntasan belajarnya. (3) Peran orangtua sis-wa/ komite sekolah sangat dibutuhkan untuk membantu/ mendukung pemenuhan sarana/ prasarana yang diperlukan untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran di sekolah. (4) Pemerintah/sekolah memberikan kesem-patan kepada para guru untuk senantiasa me-ningkatkan kemampuannya dalam pro-ses pembelajaran melalui workshop, pena-taran, seminar dan lain-lain sehingga para guru memiliki kemampuan lebih yang pada akhirnya proses pendidikan berjalan dengan lancar sesuai tujuan nasional pendidikan. Guru-guru yang baik niscaya akan meng-hasilkan murid-murid yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Affan Gaffar. 2006. Politik Indonesia,
Transisi menuju Demokrasi.
Jogja-karta: Pustaka Pelajar
Alfian. 1980. Politik, Kebudayaan dan
Manusia Indonesia. Jakarta: LP3ES
. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono, dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Bina Aksara
Asshiddiqie, Jimly. 2005. Format
Kelem-bagaan Negara dan Pergeseran
Keku-asaan dalam UUD 1945. Jogjakarta:
FH UII Press
BP7 Pusat. 1995. UUD 1945, P4, GBHN,
Bahan Penataran P4, Jakarta: BP7
Pusat
Budimansyah, Dasim. 2006. Model
Pembe-lajaran dan Penelian Portofolio.
Bandung: PT. Genesindo
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba. 2004.
Budaya Politik. Jakarta: Bina Aksara
Kaelan, MS. 2004. Pendidikan Pancasila. Jogjakarta: Edisi reformasi, penerbit Paradigma
Lemhanas. 2001. Pendidikan
Kewarganega-raan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Umum
Magnis-Suseno, Franz. 2000. Etika Politik,
Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kene-garaan Modern. Jakarta: Gramedia
Malian, Sobirin dan Marzuki Suparman. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan
dan Hak Asasi Manusia. Jogjakarta: