• Tidak ada hasil yang ditemukan

Provinsi Sumatera Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Provinsi Sumatera Selatan"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Provinsi Sumatera Selatan

GAMBARAN UMUM WPPI SUMATERA SELATAN

Geografi

Letak Geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1o 37’ 27’’ sampai 4o 55’ 17’’

Lintang Selatan dan antara 102o 3’ 54’’ dan 106o 13’ 26’’ Bujur Timur. Provinsi Sumatera

Selatan merupakan bagian dari Pulau Sumatera yang mempunyai luas wilayah 91.806,36 km2. Provinsi Sumatera Selatan secara administrasi menjadi 13 (tiga belas) Kabupaten dan 4

(empat) Kota dengan jumlah desa sebanyak 2.823 desa, 363 kelurahan dan 231 kecamatan.

Gambar 1 Peta Administrasi Provinsi Sumatera Selatan

Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan dialiri banyak sungai besar dan kecil dengan kekayaan sumber daya yang melimpah antara lain minyak bumi, batu bara dan gas alam. Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dengan panjang sekitar 750 km menjadi tempat yang subur bagi budi daya pertanian dan perikanan, dan penghubung bagi perdagangan antardaerah sejak jaman kerajaan Sriwijaya. Dengan letak geografis yang strategis, Sumatera Selatan menjadi salah satu pusat pertemuan dan interaksi para pedagang-pedagang asing terutama dari Arab, India dan Cina. Letak geografis ini memberikan peluang bagi Sumatera Selatan untuk cepat maju dan berkembang.

Batas-batas wilayah Provinsi Sumatera Selatan sebagai berikut Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Bangka Belitung, Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu

(2)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015 – 2035, Provinsi Sumatera Selatan merupakan bagian dari Wilayah Pengembangan Industri Sumatera Bagian Selatan, dengan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) Provinsi terdiri atas Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Kabupaten Banyuasin.

(3)

Profil Umum Provinsi Sumatera Selatan

Jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2015 sebanyak 8.025.315 jiwa dengan penduduk laki-laki 4.097,177 ribu dan 3.960,138 jiwa penduduk perempuan. Kepadatan penduduk di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2015 mencapai 92 orang/km2.

Tabel 1

Kependudukan WPPI Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015

No Kabupaten/Kota Ibukota Jumlah Luas (Km2) Kepadatan

Penduduk Jiwa/Km2

1. Banyuasin Pangkalan Balai 811.501 1.2361,43 67

2. Muara Enim Muara Enim 600.398 6.901,36 87

3. PALI Talang Ubi 179.529 1.844,71 97

Jumlah 1.591.428

Provinsi Sumatera Selatan 8.025.315 91.806,36 92

Sumber : Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka, 2016

Provinsi Sumatera Selatan memiliki wilayah pengembangan yang terbagi menjadi 3 bagian yakni Low Land, Middle Land, dan Upper Land dengan potensi kekayaan alam yang beragam. Potensi kekayaan alam di Provinsi Sumatera Selatan terdiri atas batubara, kelapa sawit, karet, dan kopi.

(4)

No Kelompok Industri 2014 2015

Unit Usaha Tenaga Kerja Unit Usaha Tenaga Kerja A. INDUSTRI DASAR

1 Kertas Barang dan Cetakan 6 2.158 6 2.158

2 Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 94 40.243 95 40.811

3 Semen dan Galian Non Logam 23 2.578 28 3.073

4 Logam Dasar, Besi dan Baja 17 645 17 749

5 Alat Angkut, Mesin, dan Peralatan 21 2.629 22 2.672

6 Barang Lainnya 38 1.821 45 2.265

B. INDUSTRI ANEKA

1 Makanan, Min uman dan Tembakau 105 46.458 106 48.291

2 Barang Kayu dan Hasil Hutan 97 21.226 103 21.578

Total 401 117.758 416 121.597

PENGEMBANGAN INDUSTRI

Potret Pertumbuhan Industri

Provinsi Sumatera Selatan

Jumlah industri menengah dan besar di Provinsi Sumatera Selatan terjadi peningkatan dari tahun 2014 ke tahun 2015 baik dari jumlah unit usaha maupun serapan tenaga kerja. kelompok industri dengan jumlah unit usaha terbanyak adalah makan dan minuman kemudian barang kayu dan hasil hutan serta pupuk kimia dan barang karet pada urutan ketiga dengan 95 unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak 40.811 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2 Jumlah Unit Usaha dan Tenaga Kerja Kelompok Industri Menengah dan Besar di Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2014-2015

Sumber : Disperindag Provinsi Sumatera Selatan, 2016

Peranan sektor industri pengolahan dalam PRDB Sumatera Selatan berada pada urutan ke tiga setelah sektor pertambangan dan penggalian serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi sebesar 18,58 % pada tahun 2015. Jika kita perhatikan tabel di bawah dapat dilihat adanya penurunan peran sektor ini dari tahun 2010 ke tahun 2014 tetapi di tahun 2015 terjadi kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2014.

(5)

Kategori Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 19,62 19,44 19,30 19,29 19,17 18,99 B Pertambangan dan Penggalian 23,32 23,14 22,64 22,19 21,82 21,80

C Industri Pengolahan 18,86 18,78 18,61 18,38 18,36 18,53

D Pengadaan Listrik dan Gas 0,08 0,08 0,08 0,08 0,09 0,08

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

0,12 0,11 0,11 0,11 0,11 0,12

F Konstruksi 10,58 10,77 11,30 11,72 11,67 11,18

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

9,45 9,57 9,69 9,76 9,74 9,65 H Transportasi dan Pergudangan 1,68 1,72 1,73 1,76 1,80 1,89 I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,10 1,13 1,15 1,12 1,13 1,19

J Informasi dan Komunikasi 2,85 2,88 2,92 2,94 3,04 3,16

K Jasa Keuangan dan Asuransi 2,28 2,32 2,53 2,64 2,62 2,62

L Real Estate 2,53 2,59 2,67 2,76 2,83 2,90

M,N Jasa Perusahaan 0,09 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

3,49 3,42 3,26 3,12 3,19 3,38

P Jasa Pendidikan 2,39 2,43 2,43 2,54 2,82 2,92

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,63 0,63 0,64 0,64 0,67 0,69

R,S,T,U Jasa lainnya 0,91 0,89 0,84 0,82 0,81 0,80

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Tabel 3

Perkembangan Distribusi Sektor Industri Pengolahan Terhadap PDRB ADHK 2010 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2015

Sumber : Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, 2016

Kabupaten Banyuasin

Kabupaten banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang termasuk WPPI di Provinsi Sumatera Selatan. Jumlah Industri menengah dan besar di Kabupaten Banyuasin ada 75 unit usaha dengan menyerap 10.246 tenaga kerja, terdapat 4 unit usaha pengolah karet berupa karet remah, lateks pekat dan industri ban vulkanisir serta 7 unit usaha pengolahan sawit yaitu 3 unit usaha CPO, 3 unit produksi minyak goreng serta 1 unit produksi pembuatan sabun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4

Industri Menengah dan Besar di Kabupaten Banyuasin, Tahun 2105

NO JENIS INDUSTRI UNIT

USAHA

TENAGA

KERJA KAPASITAS/TAHUN 1 KERTAS DAN BARANG CETAKAN

- Industri Kertas 1 255 13.000 Ton

- Industri Kemasan dari kertas 1 400

2 PUPUK, KIMIA DAN BARANG DARI KARET

- Pupuk 3 132 106.200 Ton

- Sabun 1 200 7.200 Ton

- Karet Remah & Lateks Pekat 3 351 47.900 Ton

- Ban Vulkanisir 1 24 2.000 Buah

- Lain-lain 5 143

3 SEMEN DAN GALIAN NON LOGAM 5 144

(6)

NO CABANG INDUSTRI UNIT USAHA % TENAGA KERJA % INVESTASI (000) 1 PANGAN 107 19,8% 1.176 21,6% 3.139.400

2 SANDANG DAN KULIT 6 1,1% 27 0,5% 90.000

3 KIMIA DAN BAHAN BANGUNAN (KBB) 386 71,5% 3.976 73,0% 16.901.057

4 LOGAM DAN JASA 37 6,9% 238 4,4% 1.923.021

5 KERAJINAN DAN UMUM (KRAUM) 4 0,7% 28 0,5% 47.200

JUMLAH 540 100% 5.445 100% 22.100.678

5 ALAT ANGKUT, MESIN DAN PERALATAN

- Perkapalan 1 27 200 Baru

6 MAKANAN, MINUMAN & LAINNYA

- Minyak Goreng 3 584 102.000 Ton

- CPO 3 943 286.335 Ton

- Makanan dan Minuman Lainnya 8 624

7 BARANG KAYU DAN HASIL HUTAN 28 5.288

8 BARANG LAINNYA 6 798

Jumlah 75 10.246

Sumber : Disperindag Provinsi Sumatera Selatan, 2016

Industri kecil formal di Kabupaten Banyuasin didominasi oleh kelompok industri kimia dan bahan bangunan yaitu ada 386 unit usaha atau 71,5% dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 3.976 atau 73% dari jumlah tenaga kerja yang diserap industri kecil formal. Urutan kedua adalah kelompok industri pangan sejumlah 107 unit atau 19,8% dari unit industri kecil formal yang ada di kabupaten Banyuasin.

Tabel 5

Industri Kecil Formal di Kabupaten Banyuasin, Tahun 2015

Sumber : Disperindag Provinsi Sumatera Selatan, 2016

Kabupaten Muara Enim

Kabupaten Muara Enim juga merupakan Kabupaten yang telah ditetapkan sebagai WPPI dalam RIPIN, saat ini telah ada 25 unit industri menengah besar, di antaranya terdiri dari: industri pengolahan karet menjadi crumb rubber ada 9 unit dengan kapasitas produksi 64.168 ton pertahun sementara produksi bahan baku karet di Kabupaten Muara Enim adalah 174.915 ton pertahun; industri pengolahan sawit menjadi CPO dan PKO sebanyak 6 unit dengan kapasitas produksi 364.021 ton pertahun; tambang dan pengolahan batu bara dengan kapasitas 9.870.000 ton pertahun.

Sedangkan untuk industri kecil formal di Kabupaten Muara Enim ada 758 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.579 orang. Yang paling menonjol adalah kelompok industri kecil kimia dan bahan bangunan sebanyak 316 unit usaha atau 42 % dengan menyerap tenaga kerja 1.105 orang , kemudian kelompok industri kecil pangan

(7)

sebanyak 152 unit dengan menyerap tenaga kerja 733 orang atau 28%. Dalam kelompok industri kecil pangan terdapat 23 unit usaha yang melakukan pengolahan kopi dengan kapasitas produksi 1.823 ton pertahun sementara total produksi kopi di Kabupaten Muara Enim adalah 25.147 ton pertahun. Untuk informasi lebih jelas mengenai kondisi industri yang ada di Kabupaten Muara Enim dapat dilihat pada dua tabel berikut.

Tabel 6

Industri Menengah dan Besar di Kabupaten Muara Enim, Tahun 2015

NO JENIS INDUSTRI UNIT USAHA

TENAGA

KERJA KAPASITAS/TAHUN

INVESTASI (Rp. 000) 1 KERTAS DAN BARANG

CETAKAN

- PULP (PT Tanjung

Enim Lestari) 1 730 450.000 Ton $886.100.000

2 PUPUK, KIMIA DAN BARANG DARI KARET

- CRUMB Rubber 9 864 64.168 Ton 105.949.000

- CPO & PKO 6 2.437 364.021 Ton 74.311.053

3 MAKANAN, MINUMAN DAN TEMBAKAU

- Olahan Nenas

1 20 90.000 Kaleng 8.619.000

31.000 Drum

- Industri olahan ubi

kayu, jagung dan kedel 3 60 138.770 Ton 5.668.000

4 BARANG KAYU DAN

HASIL HUTAN 3 60

1.500.000

5 SEMEN DAN GALIAN NON LOGAM

- Batu bara untuk PLTU

3.300.000 Ton

17.674.556

- Antrasit 1 500 60.000 Ton

- Batu bara 6.500.000 Ton

- Briket batu bara 1 20 10.000 Ton

Jumlah 9.870.000 Ton

JUMLAH 25 4.691

Sumber : Disperindag Provinsi Sumatera Selatan, 2016

Tabel 7

Industri Kecil Formal di Kabupaten Muara Enim, 2015

NO CABANG INDUSTRI UNIT

USAHA %

TENAGA

KERJA %

1 PANGAN 152 20% 733 28%

2 SANDANG DAN KULIT 85 11% 98 4%

3 KIMIA DAN BAHAN BANGUNAN

(KBB) 316 42% 1105 43%

4 LOGAM DAN JASA 102 13% 554 21%

5 KERAJINAN DAN UMUM (KRAUM) 103 14% 89 3%

JUMLAH 758 100% 2579 100%

(8)

Kawasan Industri Prioritas

Sesuai dengan arahan dalam RIPIN, maka fokus dan prioritas utama pengembangan Kawasan Industri di Provinsi Sumatera Selatan akan difokuskan ke rencana Kawasan Industri di Kabupaten yang termasuk WPPI, yaitu Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Muara Enim, karena telah terjadi pemekaran Kabupaten Muara Enim menjadi Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten PALI pada tahun 2014 maka rencana kawasan industri di Kabupaten PALI dibahas juga dalam penyusunan rencana induk ini. Dengan demikian kawasan industri prioritas yang dibahas dalam rencana induk ini meliputi : Kawasan Industri Tanjung Api-Api di Kabupaten Banyuasin, Kawasan Industri Gelumbang di Kabupaten Muara Enim, Pendopo Integrated Industrial Park (PIIP) di Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Pali.

1) Kawasan industri Tanjung Api-Api

Kawasan Industri Tanjung Api-Api (KI TAA) dengan rencana luas lahan ± 2.030 hektar di Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin, difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah dari pemanfaatan sumber daya alam di Sumatera Selatan yaitu kelapa sawit, karet, dan batubara dengan mengembangkan pabrik pengolahan karet, sawit, batubara dan turunannya.

KI TAA akan dibangun melalui 4 (empat) tahapan, yakni :

Tahap I (seluas ± 217,18 ha), meliputi Kantor Manajemen, Kantor Pemerintahan, Kantor Perijinan Satu Atap, Pos Keamanan, Unit Pemadam Kebakaran, Kantor Administrasi Keluar Masuk Barang, Pertokoan, Industri Kimia Dasar, Water Treatment Plant, Waste Water Treatment Plant, Ruang Terbuka Hijau

.

 Tahap II (seluas 749,26 ha), meliputi Industri Kimia Dasar, Industri Kecil-Usaha Kecil Menengah, Waste Water Treatment Plant, Power Plant, Ruang Terbuka Hijau.

 Tahap III (seluas 490,49 ha), meliputi Kantor Manajemen, Kantor Pemerintahan, Industri Kimia Dasar, Ruang Terbuka Hijau dan Kolam Retensi.

 Tahap IV (seluas 573,07 ha), meliputi Kantor Pemerintahan, Kantor Manajemen, Industri Kimia Dasar, Industri Kecil Menengah, Aneka Industri, dan Ruang Terbuka Hijau.

(9)

Gambar 4 Peta Tahapan Pengembangan Kawasan Industri TAA

2)

Kawasan Industri di Kecamatan Gelumbang – Kabupaten Muara Enim.

Dalam konteks Tata Ruang Wilayah di Kabupaten Muara Enim, Kecamatan Gelumbang merupakan kecamatan yang dijadikan sebagai pusat pertumbuhan wilayah bagian timur Kabupaten Muara Enim, dimana potensi yang dimilikinya terdiri dari perdagangan, jasa, pendidikan dan industri. Luas wilayah Kecamatan Gelumbang 644,20 Km2.

Sumber daya alam utama yang dihasilkan dari Kabupaten Muara Enim terdiri dari perkebunan, pertambangan dan perikanan. Komoditas perkebunan yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Muara Enim adalah komitas karet, kelapa sawit dan kopi. Untuk sektor pertambangan komoditas minyak dan gas, serta batubara merupakan komoditas yang berperan cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Muara Enim.

Kawasan Industri Gelumbang termasuk di wilayah sekitar kawasan Perkotaan Gelumbang. Sesuai dengan arahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Muara Enim dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Ibukota Kecamatan Gelumbang merupakan arahan lokasi kegiatan agro-industri yang mengolah hasil-hasil sumberdaya alam dengan arahan lokasi seluas lebih kurang 500 Ha. Adapun rencana zonasi Kawasan Industri Gelumbang, terdiri dari zona kavling industri yang terdiri dari zona industri besar, industri sedang dan industri kecil; kemudian zona komersil dan zona perumahan.

(10)

Gambar 5 Peta Rencana Lokasi Kawasan Industri Kecamatan Gelumbang – Kabupaten Muara Enim

3)

Kawasan Industri Pendopo Integrated Industrial Park di Kecamatan Talang Ubi

– Kabupaten PALI.

Arahan lokasi kawasan industri di Kabupaten PALI berdasarkan revisi RTRWP Sumatera Selatan terletak di Kecamatan Talang Ubi dengan nama Pendopo Integrated Industrial Park (PIIP) dengan fokus pada hilirisasi batubara menjadi energi dan gas.

(11)

Gambar 6 Rencana Lokasi Kawasan Industri di Kecamatan Talang Ubi - Kabupaten PALI Luas lokasi yang direncanakan untuk Pendopo Integrated Industrial Park (PIIP) adalah sekitar 1.700 Hektare, dengan peruntukan sebagai berikut :

1. Zona pemrosesan untuk eksport (Export Processing Zone) luas 407 Ha 2. Zona Energy luas 990 Ha

3. Zona Manufaktur luas 129 Ha 4. Zona Logistik 15 Ha

5. Zona Wisata (Tourism Zone) luas 9 Ha

6. Zona untuk aktivitas ekonomi lainnya luas 9 Ha 7. Zona unuk perumahan luas 30 Ha

8. Zona infrastruktur pendukung luas 112 Ha

Sumber Daya Industri

Potensi sumber daya alam di Provinsi Sumatera Selatan tergolong sangat besar. Potensi terbesar yang ada di Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari sektor Energi, pertanian dan perkebunan.

1)

Sektor Energi

Potensi energi primer di Provinsi Sumatera Selatan tersebar di sejumlah kabupaten/kota, yakni Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Kota Prabumulih. Diantara sejumlah kabupaten/kota tersebut, Kabupaten Muara Enim merupakan kabupaten yang memiliki cadangan minyak dan gas bumi serta batubara terbesar.

a. Minyak Bumi

Potensi cadangan minyak bumi di Provinsi Sumatera Selatan hingga saat ini tersebar di Kabupaten Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, Ogan Komering Ulu, Ogan Ilir dan Kota Prabumulih. Cadangan minyak di 8 (delapan) daerah tersebut diperkirakan sebesar 757,6 MMSTB atau sekitar 8,78 % dari total cadangan minyak bumi nasional. Berdasarkan statusnya cadangan minyak bumi di Provinsi Sumatera Selatan dengan status terbukti sebesar 448,2 MMSTB atau 10,7 % dari total cadangan terbukti minyak bumi nasional. Cadangan minyak bumi tercatat diperkirakan sebesar 704.518,0 MSTB (Metrik Stock Tank Barrel)

(12)

dengan cadangan terbesar terdapat di Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak 272.502,6 MSTB dan di Kabupaten Muara Enim sebanyak 252.397,3 MSTB.

b. Gas Bumi

Cadangan gas bumi di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 24.179.980 BSCF. Bila dibandingkan dengan cadangan gas bumi nasional yaitu 185.797.870 BSCF, maka rasio potensi gas bumi Provinsi Sumatera Selatan terhadap cadangan gas bumi nasional adalah 13,01%. Ada 2 (dua) sentra akumulasi besar dari gas alam di Provinsi Sumatera Selatan apabila dilihat berdasarkan lifting gas buminya, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin (48,41%) dan Kabupaten Musi Rawas (39,21%). Wilayah kerja pertambangan gas bumi di kedua kabupaten tersebut dapat dikategorikan sebagai area prospek ekonomi tinggi. Cadangan gas bumi di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 24.015,46 BSCF (Billion Square Cubic Feet).

c. Batubara

Potensi batubara di Provinsi Sumatera Selatan cukup besar, yaitu 22.240,4 juta ton atau sekitar 38,5 % dari total cadangan sumberdaya batubara nasional yaitu 57.847,7 juta ton. Sedangkan potensi cadangan yang siap tambang di Provinsi Sumatera Selatan adalah sekitar 2.653,9 juta ton atau sekitar 38 % dari cadangan siap tambang nasional yaitu 6.981,6 juta ton. Cadangan batubara di Provinsi Sumatera Selatan tersebar di 6 (enam) kabupaten. Daerah yang paling banyak menyimpan sumber daya batubara adalah Kabupaten Muara Enim, yakni sejumlah 13,56 milliar ton.

2)

Sektor Perkebunan

a. Karet

Produksi Karet di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2014 mencapai 1.095.492 ton dengan lahan seluas 1.259.149 ha. Sementara itu juga Sumatera Selatan memiliki tingkat produktifitas sebesar 1,113 kg/ha diatas nilai produktifitas Karet nasional (1,080 kg/ha). Produksi Karet pada tahun 2014 tersebut mengalami peningkatan sebesar 1.88 persen dibandingkan pada tahun 2013.

b. Kelapa Sawit

Produksi Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2014 mencapai 2.718.187 ton dengan lahan seluas 982.171 ha, menempatkan Sumatera Selatan

(13)

Komoditi 2010 2011 2012 2013 2014 Karet Luas Areal 1.195.111 1.204.995 1.213.530 1.232.038 1.259.149

Produksi 1.060.262 1.048.040 1.042.957 1.075.209 1.095.492 Kelapa Sawit Luas Areal 818.346 820.787 827.028 928.223 982.171 Produksi 2.160.632 2.203.275 2.218.070 2.463.338 2.718.927

Kopi Luas Areal 256.149 25.247 252.412 249.293 249.381

Produksi 150.214 14.398 143.328 139.754 135.288

Kelapa Luas Areal 67.737 67.694 66.787 65.308 68.157

Produksi 64.412 64.338 59.366 59.786 63.008

Lain-Lain Luas Areal 54.058 54.398 69.375 67.939 62.134

Produksi 109.091 96.309 98.269 107.895 102.125

TOTAL Luas Areal 2.391.401 2.400.344 2.429.132 2.542.801 2.620.992 Produksi 3.544.611 3.555.942 3.561.990 3.845.982 4.114.840 sebagai daerah nomer 3 terbesar tingkat nasional penghasil produk Kelapa Sawit setelah Provinsi Riau dan Sumut. Produksi Sawit pada tahun 2014 tersebut mengalami peningkatan sebesar 5,8% dari tahun tahun 2013.

Tabel 8

Luas Areal (Ha) dan Produksi (ton) Pertanian dan Perkebunan di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015

Sumber : Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka Tahun 2016

Pengembangan Industri Prioritas

Dengan melihat kondisi sumberdaya alam yang ada, industri yang telah berkembang saat ini, serta berbagai kajian yang telah dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan ( antara lain: Road Map Pengembangan Industri Unggulan Tahun 2010-2014, Road map Penguatan SIDa, Target Pengembangan Industri Tahun 2013-2018 serta prioritas potensi investasi dari BP3MD Provinsi Sumatera Selatan), maka industri prioritas yang perlu dikembangkan di WPPI Sumatera Selatan adalah industri pengolahan karet, kelapa sawit, kopi, batu bara dan industri turunannya. Industri prioritas yang sebaiknya dikembangkan di setiap kawasan industri di WPPI Provinsi Sumatera Selatan adalah :

1. Kawasan Industri Tanjung Api Api (KAA), terdiri dari Kawasan Industri Gasing dan Pangkalan Benteng yang ditetapkan melalui Perda Kabupaten Banyuasin Nomor 15 Tahun 2009 serta di Kawasan Tanjung Api-Api Kecamatan Banyuasin II. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2011 telah mengembangkan kawasan industri di Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin dan ditingkatkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus, yaitu KEK Tanjung Api-Api seluas 2030 Ha melalui PP No 51 Tahun 2014. Pengembangan Kawasan Industri di Tanjung Api-Api Kabupaten Banyuasin diarahkan sebagai pusat pertumbuhan regional yang meliputi Provinsi Bengkulu, Lampung, Jambi dan Sumatera Selatan dengan ditopang Pelabuhan Tanjung Api-Api / Tanjung Carat sebagai Pelabuhan Internasional dan Pusat Distribusi Regional. Industri

(14)

NO KABUPATEN KECAMATAN PRODUK

1 OKU Lubuk Batang Sentra batu akik

2 Mura Tara Muara Lumpit Sentra batu akik

3 Banyu Asin Banyu Asin I - Kerupuk Udang

- Pempek bahan dasar udang Banyu Asin II - Industri kelapa terpadu

yang sebaiknya dikembangkan di TAA antara lain industri pengolahan karet, kelapa sawit, batu bara dan turunannya serta industri aneka.

2. Kawasan Industri Gelumbang, adapun arahan lokasi kawasan industri di Kabupaten Muara Enim sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Muara Enim Nomor 13 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Muara Enim Tahun 2012 – 2032, dan Rencana Detail Tata Ruang Ibukota Kecamatan Gelumbang terletak di Kecamatan Gelumbang dengan skala menengah dan untuk pengolahan hasil pertanian dan perkebunan / Agro Industri terutama industri pengolahan karet, kopi dan turunannya. Lokasi kawasan industri tersebut terletak di sekitar perkotaan Kecamatan Gelumbang.

3.

Pendopo Integrated Industrial Park (PIIP), arahan lokasi kawasan industri di

Kabupaten PALI berdasarkan revisi RTRWP Sumatera Selatan terletak di Kecamatan Talang Ubi dengan nama Pendopo Integrated Industrial Park (PIIP) dengan fokus pada hilirisasi batubara menjadi energy dan gas.

PERKEMBANGAN IKM DAN SENTRA IKM

Dalam rencana tata ruang yang lebih makro seperti RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota arahan mengenai rencana sebaran lokasi Sentra Industri Kecil Dan Menengah pada umumnya belum direncanakan secara terperinci. Adapun rencana sebaran lokasi industri dalam RTRW Kota yang skalanya sudah lebih besar, beberapa kota-kota di Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan titik-titik lokasi dan sebarannya, seperti di Kota Palembang dan Kota Lubuk Linggau. Namun dalam RTRW Kabupaten/Kota tersebut pada umumnya arahan Sentra IKM diidentikan dengan pengelompokan industri kecil dan industri rumah tangga yang luasannya tidak sebesar standar Sentra IKM yakni sebesar 5 hektar. Sebaran sentra industri kecil dan menengah di lokasi WPPI Provinsi Sumatera Selatan, seperti Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten PALI juga belum direncanakan secara utuh.

Sebaran potensi lokasi dan produk Sentra IKM di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 9

(15)

NO KABUPATEN KECAMATAN PRODUK 4 Kota Palembang - Sebrang Ulu I

- Ilir Barat II

Songket dan aneka kerajinan

5 OKI Kayu Agung - Kerupuk Kemplang

- Pempek

6 Musi Banyu Asin Lowong Wetan Getah gambir (untuk bahan kosmetik dan tekstil)

7 Lubuk Linggau Lubuk Linggau Barat Makanan ringan (kerupuk, kue kering)

8 Ogan Ilir Tanjung Batu - Songket dan kerajinan tangan lainnya

- Pandai besi - Pandai emas

- Peralatan dapur dari alumunium

Payaraman Bordir dan baju muslim

Tanjung Batu (Desa Seberang)

Rumah knock down

Indralaya Timur Songket

Tanjung Pinang (Desa Tanung Laut dan Tanjung Pinang)

- Pandai besi modern - Alat mesin pertanian

9 OKU Timur Belitang Makanan ringan

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, 2015

INFRASTRUKTUR PENUNJANG WPPI

Konektivitas WPPI

1. Infrastruktur pendukung yang telah ada di sekitar Kawasan Industri Tanjung Api-Api antara lain terdiri dari :

 Akses jalan dari kota Palembang sepanjang 70 km.

 Lokasi kawasan industri dekat dengan bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dengan jarak sekitar 56 km.

 Berjarak sekitar 70 km dengan Stasiun Kereta Api Kertapati Palembang

Di sebelah utara Kawasan Tanjung Api-Api telah beroperasional Pelabuhan

Penyeberangan Tanjung Api-Api sejak 11 Desember 2013 dan sejajar dengan lokasi tersebut, sedang dalam tahap penyelesaian Pelabuhan Laut Regional Tanjung Api-Api.

 Telah tersedia prasarana listrik di KEK TAA yakni Gardu Induk dari PT. PLN dengan kapasitas sebesar 2 x 30 MW, dimana kebutuhan listrik ini telah mencukupi untuk tahap I dan akan dikembangkan lagi.

Telah ada Base Transceiver Station (BTS) atau menara telepon seluler sebanyak 4 buah.

2. Infrastruktur pendukung a di sekitar Kawasan Industri Gelumbang dan Pendopo antara lain terdiri dari :

(16)

 Kecamatan Gelumbang dan lokasi kawasan industri Gelumbang ini merupakan lokasi strategis dan dapat dilalui oleh sistem jaringan jalan kolektor (Palembang – Indralaya – Gelumbang – Prabumulih - Muara Enim) yang merupakan akses antara wilayah kabupaten / kota maupun antar provinsi bahkan antar pulau (Sumatera -Jawa).

 Selain angkutan jalan raya, terdapat juga sistem angkutan kereta api untuk angkutan barang dan penumpang yang menghubungkan Palembang – Gelumbang – Prabumulih – Muara Enim – Baturaja -Lampung dan Muara Enim – Lahat – Lubuk Linggau.

 Dalam kebijakan pengembangan rencana jalan tol trans Pulau Sumatera, Lokasi kawasan industri Gelumbang ini merupakan bagian dari rencana akses jalan tol Indralaya – Prabumulih - Muara Enim – Lahat.

Kebutuhan Infrastruktur Pendukung WPPI

Kebutuhan infrastruktur jalan dan perpipaan :

 Peningkatan kapasitas jalan yang lebarnya masih di bawah 7 meter yang mendukung WPPI Sumsel untuk pengangkutan bahan baku industri.

 Penyediaan jalur perpipaan dari Kawasan Industri ke Pelabuhan untuk mendukung distribusi hasil produksi seperti hasil produksi industri petrokimia hulu.

 Penyediaan jalur perpipaan dari Palembang ke Kawasan Industri untuk mendukung penyaluran bahan baku industri terutama untuk industri petrokimia hulu.

(17)

Gambar 7 Peta Kebutuhan Infrastruktur Jalan di Provinsi Sumatera Selatan

Kebutuhan Pelabuhan :  Dermaga Kontainer

 Jetty → untuk dermaga bahan-bahan kimia, oil & gas  Gudang

 Container Yard

 Tangki → untuk penyimpanan barang jenis liquid

 Sistem Perpipaan → untuk mendukung distribusi barang-barang jenis liquid  Peralatan bongkar muat untuk mempercepat pergerakan barang di pelabuhan

 Sistem operasional pelabuhan 24 jam untuk mengurangi biaya logistik akibat menginapkan barang

(18)

Gambar 8 Peta Kebutuhan Infrastruktur Pelabuhan di Provinsi Sumatera Selatan

(19)

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN WPPI

Isu Strategis Pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan

Kerangka issue dan masalah terkait dengan pengembangan WPPI di Provinsi Sumatera Selatan dapat diidentifikasi, mulai dari masalah yang kecil, masalah vokal (strategis), hingga masalah utama. Beberapa Isu Strategis yang dapat diidentifikasi terkait dengan pengembangan WPPI di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan ekspor yang cukup besar untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.

2. Nilai tambah yang hilang terlalu besar, akibat penjualan bahan baku mentah secara langsung.

3. Tambahan industri pengolahan lebih rendah dari tambahan volume eksploitasi komoditas unggulan.

4. Masih terhambatnya dukungan Logistik (Pengangkutan, Pergudangan, Pengemasan dan Pengelolaan).

5. Bahan baku pelengkap (atau penolong) di daerah masih sangat terbatas.

6. Daya Saing dan daya jelajah industri pengolahan karet, sawit, kopi, batu bara dan industry turunannya masih belum maksimal

7. Belum ada lokus spesifik untuk industri pengolahan komoditas unggulan dan turunannya.

8. Industri pengolahan belum efisien dalam memanfaatkan energi, dan sumberdaya yang ada.

9. Masih belum siapnya Kawasan Ekonomi Khusus untuk menampung dan mewadahi industri pengolahan.

(20)

Analisis SWOT untuk pengembangan WPPI Sumsel adalah sebagai berikut :

WPPI Provinsi S

(WeaknessesGambar 10 Analisa SWOT Untuk Pengembangan WPPI di Provinsi Aceh

Selanjutnya alternatif strategi pengembangan WPPI di Provinsi Sumatera Selatan

adalah sebagai berikut :

Kekuatan (Strength) Kelemahan ( Weaknesses)

1. Dukungan kebijakan spasial tata ruang

Strategi SO

1. Dukungan kebijakan Pemerintah Pusat Strategi WO Pel u an g (o p p o rtu n ity )

 Mengembangkan KI sesuai dengan kebijakan spasial tata ruang dan dukungan kebijakan pemerintah pusat, yaitu KI TAA, KI dan Pelabuhan Internasional Tanjung Carat, KI Gelumbang dan KI Pendopo/PALI.

 Fokus industri yang dikembangkan adalah industri hilir dari komoditas unggulan (karet, sawit, kopi, sawit dan batubara).

 Mengarahkan target pasar industri hilir di dalam negeri (substitusi impor) maupun luar negeri Ke ku at an 

 Meningkatkan daya dukung infrastruktur untuk pengembangan WPPI.

 Meningkatkan kemampuan SDM daerah sesuai dengan kebutuhan industri hilir yang

akan dikembangkan.

 Melakukan kerjasama antara pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMD maupun swasta dalam mengembangkan kawasan industri. Strategi ST Strategi WT Ke le m ah an

1. Belum meratanya infrastruktur dan sarana pendukung industri (ketimpangan barat, tengah dan timur)

2. Kurang tersedianya tenaga terampil bidang industri

3. Masih ada industri yang belum mengelola air limbahnya dengan baik.

4. Sulitnya implementasi pengembangan KI Tanjung Api-Api dan KI lainnya akibat pembebasan lahan (anggaran besar)

An

caman

1. Persaingan produk industri hilir dari daerah / negara lain yang telah berkembang lebih dahulu.

2. Banyaknya tenaga kerja dari luar daerah termasuk tenaga kerja asing yang akan bersaing dengan tenaga kerja lokal. 3. Pencemaran lingkungan yang diakibatkan

oleh limbah industri yang dapat merusak ekosistem lingkungan

4. Kepemilikan lahan oleh pihak asing dan luar Sumsel

(21)

Visi, Misi dan SasaranPengembangan WPPI di Provinsi SumateraSelatan

Visi WPPI Provinsi Sumatera Selatan dirumuskan dengan mengacu kepada Visi Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan. Rumusan Visi Pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut :

“WPPI Sumatera Selatan Berdaya Saing Internasional dengan Sumber Daya Industri yang Unggul”.

Adapun misi pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan adalah : 1. Mewujudkan pengembangan idustri hilir berbasis sumber daya alam;

2. Mewujudkan tersedianya sumber daya industri yang unggul dan berdaya saing tinggi;

3. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sasaran Pengembangan WPPI Sumatera Selatan dibagi ke dalam 6 aspek, yaitu Pengembangan perwilayahan industri, pengembangan industri, pengembangan social ekonomi, pengembangan sumber daya industri dan infratrsuktur.

1. Pengembangan perwilayahan industri

1.1. Terwujudnya pemanfaatan ruang industri pada Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sumatera Selatan

1.2. Tersusunnya Perencanaan Kawasan Industri di WPPI Sumatera Selatan.

1.3. Tersedianya lahan untuk pengembangan Kawasan Industri (KI) Gelumbang, PALI dan TAA

1.4. Berkembangnya KI Muara Enim, KI PALI, dan KI TAA

1.5. Tersedianya lahan untuk Sentra IKM Pendukung Industri Hilir 1.6. Berkembangnya sentra IKM baik di dalam maupun di luar KI 2. Pengembangan Industri

2.1. Terbangunnya industri penggerak utama (champion) pengolahan karet, sawit dan batu bara di TAA; pengolahan karet dan kopi di Muara Enim; pengolahan batu bara di PALI (PIIP) beserta industri turunannya.

2.2. Berkembangnya industri pengolahan komoditas karet, kelapa sawit, kopi, batubara dan turunannya.

2.3. Berkembangnya Industri Komponen, Bahan Penolong, Barang Modal dan Jasa Industri sebagai pendukung industri inti.

(22)

di Provinsi Sumatera Selatan. 3. Pengembangan Sosial Ekonomi

3.1. Meningkatnya kesempatan kerja.

3.2. Meningkatnya pertumbuhan sektor lain sebagai akibat dari efek berganda. 4. Pengembangan Sumber Daya Industri

4.1. Meningkatnya kualitas SDM (tenaga kerja, wirausaha & konsultan industri);

4.2. Berkembangnya pusat pelatihan dan pengembangan keahlian industri pengolahan karet, kelapa sawit, kopi, batu bara dan turunannya.

4.3. Berkembangnya litbang pengolaan karet, sawit, kopi, batu bara dan turunannya. 4.4. Terjaminnya pasokan bahan baku industri pengolahan karet, kelapa sawit, kopi &

batubara serta industri turunannya secara berkelanjutan. 5. Infrastruktur Pendukung Perwilayahan Industri.

5.1. Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur bidang energi dan listrik.

5.2. Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur terminal, pelabuhan , dan bandara. 5.3. Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur jalan dan kereta api.

5.4. Terpenuhinya kebutuhan infrastruktur sumber daya air.

5.5. Terpenuhinya kebutuhan sarana perumahan, rumah sakit, sekolah, belanja/niaga dan lain-lain.

Strategi Pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan

Ada beberapa arah kebijakan dan strategi pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan yaitu :

1. Strategi Perwilayahan Industri

STRATEGI TAHAP I (2017-2021) TAHAP II (2022-2036)

1. Penyusunan Rencana Kawasan Industri

• Penyusunan / Peninjauan ulang Masterplan, Studi Kelayakan, Renstra, DED dan AMDAL KI TAA, KI Muara Enim, KI PALI (PIIP)

2. Penyediaan Lahan Kawasan Industri untuk KI TAA, KI Muara Enim dan KI PALI

• Pembentukan Badan Pengelola Kawasan ( Pemda – BUMN – BUMD – Swasta) • Pembebasan lahan tahap

awal

• Pembebasan lahan tahap selanjutnya

(23)

3. Pengembangan KI TAA, KI Muara Enim dan KI PALI

• Pembangunan Infrastruktur dasar tahap awal dengan

bantuan dana dari

Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

• Pengembangan

infrastruktur kawasan industri tahap awal oleh badan pengelola.

• Pengembangan

infrastruktur kawasan industri tahap berikutnya oleh badan pengelola.

2. Strategi pengembangan Industri

STRATEGI TAHAP I (2017-2021) TAHAP II (2022-2036)

1. Penentuan Industri Penggerak Utama

• Pemilihan industri penggerak utama pengolohan karet, sawit dan batu bara di TAA; karet dan kopi di KI Muara Enim; pengolahan batu bara di PALI.

• Perluasan dan diversifikasi usaha industri penggerak utama untuk pengolahan karet, sawit, kopi batu bara dan industri turunannya.

2. Pengembangan industri pengolahan karet, sawit, kopi, batu bara dan industri turunannya.

• Promosi investasi

• Peningkatan program PTSP

• Mendorong industri pengolahan karet, sawit, kopi, batu bara dan industri turunannya untuk substitusi impor.

• Promosi investasi • Mendorong industri

pengolahan karet, sawit, kopi, batu bara dan industri turunannya untuk substitusi impor maupun untuk ekspor.

3. Pengembangan industri pendukung.

• Promosi investasi pengembangan industri komponen dan bahan penolong

• Pengembangan industri komponen dan bahan penolong

• Promosi investasi pengembangan industri barang modal dan jasa industri

• Pengembangan industri barang modal dan jasa industri.

4. Penguatan industri hulu komoditas unggulan

• Peningkatan kapasitas dan kualitas industri hulu • Peningkatan kapasitas dan

sarana pengangkutan batubara

• Peningkatan kapasitas dan kualitas industri hulu karet, sawit dan kopi.

• Peningkatan kapasitas dan sarana pengangkutan batubara

(24)

3. Strategi Pengembangan Sumber Daya Industri

STRATEGI TAHAP I (2017-2021) TAHAP II (2021-2036)

1. Mengutamakan penyerapan tenaga kerja lokal

• Penyusunan kebijakan penyerapan tenaga kerja lokal.

• Peningkatan kompetensi SDM lokal

• Pembangunan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Latihan Keterampilan Kerja

• Peningkatan standar kompetensi SDM industri • Pengembangan SMK dan Perguruan Tinggi untuk mendukung industri industri pengolahan karet, sawit, kopi, batu bara dan industri turunannya serta industri pendukungnya.

2. Peningkatan kapasitas dan kualitas karet, sawit dan kopi sebagai bahan baku industri.

• Penyediaan bibit unggul karet, sawit dan kopi. • Peningkatan kerjasama

penyedia bahan baku – industri hulu – industri hilir

• Peningkatan produkstivitas tanaman karet, sawt dan kopi.

• Perluasan areal produksi karet, sawit dan kopi. 3. Peningkatan

penguasaan teknologi.

• Penguatan lembaga pusat inovasi dan inkubasi barang jadi karet.

• Fasilitasi kerjasama antara lembaga litbang / PT

dengan industri

pengolahan karet, sawit, kopi dan industri turunannya.

• Pembangunan sarana dan

prasarana litbang

pengolahan karet, sawit, kopi dan batu bara.

4. Strategi Pengembangan Infrastruktur Pendukung

STRATEGI TAHAP I (2017-2021) TAHAP II (2022-2036)

Pengembangan infrastruktur energi dan listrik

• Pembangunan PLTU di KI- TAA

• Pembangunan Pembangkit Panas Bumi di Muara Enim

• Pembangunan PLTU di KI- TAA

• Pembangunan Pembangkit Panas Bumi di Muara Enim Pengembangan terminal,

pelabuhan dan bandara.

• Beroperasinya Pelabuhan TAA • Beroperasinya Bandara Serdang Gelumbang • Pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat • Peningkatan Bandara Serdang Gelumbang Pengembangan sarana

jalan dan kereta api

• Pembangunan jalan tol Palembang - TAA

• Pembanguna jalan KA Tanjung Enim - TAA Pengembangan sarana

sumber daya air

• Pembangunan saluran air baku dari Sungai Musi

• Pembangunan saluran air baku dari Sungai Musi tahap II

Pengembangan sarana perumahan, kesehatan, sekolah, niaga dan lain- lain.

• Pengembangan sarana perumahan, kesehatan, sekolah, dan niaga disetiap KI atau sekitar KI secara bertahap

• Pengembangan sarana perumahan, kesehatan, sekolah, dan niaga disetiap KI atau sekitar KI secara bertahap

(25)

Rencana Aksi Pengembangan WPPI Sumatera Selatan

Program pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan disusun dengan memperhatikan pengertian dari WPPI itu sendiri, serta permasalahan maupun isu-isu strategis yang dihadapi dalam pengembangan WPPI di Provinsi Sumatera Selatan. Adapun Indikasi program perwujudan Rencana induk Pengembangan WPPI Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut :

1. Program Penyusunan Rencana, pengurusan legalitas dan pembebasan lahan Kawasan Industri

2. Program Pengembangan Kawasan Industri 3. Program Pengembangan Industri

4. Program Pengembangan Sumber Daya Industri

5. Program Pengembangan Sarana Pendukung kegiatan Industri 6. Program Pengembangan Infrastruktur pendukung industri

Gambar

Gambar 1 Peta Administrasi Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 2 Peta Administrasi WPPI Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 3 Profil Umum Provinsi Sumatera Selatan
Tabel 2  Jumlah Unit Usaha dan Tenaga Kerja Kelompok Industri Menengah dan Besar  di Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2014-2015
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dokumen penawaran asli dan Salinan / Fotokopi Dan dokumen kualifikasi lainnya. PEMERINTAH PROVINSI

pendapatan daerah Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2010 dan 2011. Untuk menganalisis tingkat kemandirian keuangan Provinsi

Program revitalisasi industri kehutanan yang dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan berupa: perbaikan perizinan industri primer hasil hutan kayu (IPHHK) dari bahan baku

Sebagai sebuah lembaga yang sedang dan terus berkembang, Balai Bahasa Palembang Provinsi Sumatera Selatan tidak pemah berhenti untuk selalu menjaga mimpi.. Demi

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Daerah

5.4 Persamaan Allometrik dalam Menduga Biomassa Pohon pada Berbagai Organ Tegakan Eucalyptus pellita Wilayah Benakat PT Musi Hutan Persada Provinsi Sumatera Selatan

webGIS.Hasil yang dicapai adalah terbangunnya sistem informasi pengelolaan jalan nasional di Provinsi Sumatera Selatan yang terdiri dari data inventarisasi jalan, kondisi

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi