i
LAPORAN AKHIR
PENELITIAN KOPERTIS WILAYAH V
ANALISIS EFISIENSI USAHATANI BAWANG MERAH DI SENTRA PRODUKSI KABUPATEN BANTUL
Oleh :
Muhammad Fauzan, S.P., M.Sc. NIDN 0518078901
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016
ii
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN KOPERTIS WILAYAH V
Judul Penelitian : Analisis Efisiensi Usahatani Bawang Merah di Sentra Produksi Kabupaten Bantul
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 183/Ekonomi Pertanian Peneliti
Nama Lengkap : Muhammad Fauzan, S.P., M.Sc.
NIDN : 0518078901
Jabatan Fungsional : -
Program Studi : Agribisnis
Nomor HP : 085228732543
Alamat surel (email) : [email protected] Pembimbing
Nama Lengkap : Ir. Eni Istiyanti, MP.
NIDN : 0520016501
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Unit Kerja : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Biaya Penelitian : - diusulkan ke Kopertis Rp 5.000.000,00
- dana internal PT Rp 0,00 - dana institusi lain Rp 0,00 - inkind sebutkan -
Yogyakarta, 15 Desember 2016
Dosen Pembimbing Peneliti,
Ir. Eni Istiyanti, MP Muhammad Fauzan, S.P., M.Sc.
NIK 19650120198812133003 NIK 19890718201507133059
Menyetujui, Mengetahui,
Ketua LP3M UMY Dekan Fakultas Pertanian
Hilman Latif, Ph.D. Ir. Sarjiyah, MS
iii
DAFTAR ISI
Halaman Sampul i
Halaman Pengesahan ii
Daftar Isi iii
Ringkasan Penelitian iv
Bab I. Pendahuluan 1
Bab II. Tinjauan Pustaka 8
Bab III. Metode Penelitian 13
Bab IV. Keadaan Umum Daerah Penelitian 17
Bab V. Hasil dan Pembahasan 20
Bab V. Kesimpulan dan Saran 31
iv
RINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi, pendapatan dan tingkat efisiensi usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul. Penelitian ini mengggunakan data primer hasil survei pada 30 petani responden dengan menggunakan kuisioner yang telah dirancang sesuai dengan tujuan penelitian. Rasio R/C dan fungsi produksi frontier stokastik digunakan dalam penelitian ini untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah kegiatan usahatani yang menguntungkan (profitable) dengan pendapatan sebesar Rp 20.903.711/ha, faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bawang merah di Kabupaten Bantul adalah luas lahan, pupuk SP-36, NPK-Phonska, fungisida, dan tenaga kerja, rerata tingkat efisiensi teknis yang dapat dicapai oleh petani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah sebesar 0,802, dan tingkat efisiensi teknis usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dipengaruhi oleh tingkat pendidikan petani. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi dan pendapatan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul masih dapat dilakukan dengan menambah luas lahan garapan bila masih memungkinkan dan juga dengan mengalokasikan faktor-faktor produksi secara optimal. Tingkat efisiensi usahatani bawang merah masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani melalui pendidikan, kegiatan penyuluhan dan pelatihan oleh dinas terkait.
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta obat tradisonal. Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah.
Bawang merah dihasilkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Provinsi penghasil utama bawang merah yang ditandai dengan dengan luas areal panen di atas seribu hektar per tahun adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Delapan provinsi ini menyumbang 96,8 persen dari produksi total bawang merah di Indonesia pada tahun 2013. Sementara itu lima provinsi di Pulau Jawa yang terdiri dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten memberikan kontribusi sebesar 78,1 persen dari produksi total bawang merah nasional (Bank Indonesia, 2013). Tabel 1.1 menunjukkan perkembangan luas panen, produksi, dan produktivitas bawang merah tahun 2009-2013.
Tabel 1.1. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Bawang Merah di Indonesia Tahun 2009-2013
Tahun Luas Panen Produksi Produktivitas
(Ha) (Ton) (Ton/Ha)
2009 104.009 965.164 9,28 2010 109.634 1.048.934 9,57 2011 93.667 893.124 9,54 2012 99.519 964.221 9,69 2013 98.937 1.010.773 10,22 Rata-rata 98.686 934.092 9,46 Sumber : BPS (2014)
2
Setiap tahun hampir selalu terjadi peningkatan produksi bawang merah, akan tetapi hal tersebut belum mampu mengimbangi peningkatan permintaan bawang merah secara nasional seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri olahan. Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian, pada tahun 2007 misalnya, permintaan bawang merah sebesar 901.102 ton dengan produksi 802.810 ton, tahun 2008 permintaan meningkat menjadi 969.316 dengan produksi 853.615. Pada tahun 2009, permintaan bawang merah di Indonesia mencapai 1.019.735 ton dengan produksi 965.164 ton dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 1.116.275 ton dengan produksi 1.048.934 ton.
Produksi bawang merah di Indonesia masih bersifat musiman seperti hasil pertanian pada umumnya. Hal ini menyebabkan kebutuhan bawang merah masyarakat Indonesia di luar musim panen tidak dapat dipenuhi sehingga untuk memenuhinya perlu dilakukan tindakan impor. Pemerintah melakukan impor bawang merah untuk menjaga ketersediaan bawang merah dalam negeri serta kestabilan harga pasar. Tindakan impor ini menjadikan Indonesia menjadi net importir bawang merah, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.2. Setiap tahun Indonesia melakukan kegiatan ekspor dan impor bawang merah, tetapi jumlah ekspor tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah impor bawang merah ke Indonesia.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2011-2013) terdapat indikasi kuat bahwa daya saing bawang merah nasional terus menurun dibandingkan bawang merah impor. Kondisi ini diperparah dengan semakin tingginya selisih harga satuan bawang merah ekspor dan impor terkait gejolak nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (Bank Indonesia, 2013). Jika kondisi perbedaan harga ini semakin tajam, maka diperkirakan pada tahun-tahun mendatang pun impor bawang merah akan terus menekan produksi dan harga bawang merah nasional. Pada akhirnya, hal ini dapat menurunkan motivasi petani untuk menanam bawang merah dan produksi bawang merah sehingga akan meningkatkan ketergantungan terhadap bawang impor.
3
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Bawang Merah Tahun 2007-2012
Tahun Volume (Ton)
Ekspor Impor 2007 9.357 107.649 2008 12.314 128.015 2009 12.822 67.330 2010 3.234 73.270 2011 13.792 160.467 2012 12.647 119.505
Sumber : Dirjen Hortikultura (2013)
Peningkatan produksi yang lambat sementara konsumsi terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan menjadikan ketersediaan bawang merah untuk keperluan rumah tangga dan industri makanan seringkali kurang dari kebutuhan dan hal ini mendorong naiknya harga komoditas tersebut. Sebagai tanaman musiman, puncak produksi bawang merah terjadi pada bulan-bulan tertentu, sementara konsumsi bawang merah hampir digunakan setiap hari dan bahkan pada hari-hari besar keagamaan permintaannya cenderung melonjak. Adanya perbedaan pola produksi dan permintaan menyebabkan terjadinya gejolak harga pada waktu tertentu, berupa lonjakan kenaikan harga pada saat permintaan lebih tinggi dari pasokan, atau harga merosot pada saat pasokan lebih tinggi dari permintaan (Bappenas, 2014).
Besarnya volume impor bawang merah, sebagaimana tertera pada Tabel 1.2, sejatinya menunjukkan bahwa masih ada peluang yang sangat besar untuk pasar dalam negeri. Usaha budidaya bawang merah memiliki prospek dan peluang usaha yang sangat baik di masa yang akan datang. Dari sisi produktivitas, dalam tujuh tahun terakhir (2007-2013) rata-rata produktivitas bawang merah nasional hanya sekitar 9,46 ton/ha, jauh di bawah potensi produksi yang berada di atas 20 ton/ha. Beberapa permasalahan rendahnya produktivitas tersebut antara lain : (a) ketersediaan benih bermutu, (b) prasarana dan sarana produksi terbatas, (c) belum diterapkannya SOP (Standard Operating Procedurs) spesifik lokasi secara benar sehingga belum dapat diatasinya permasalahan yang ada.
4
Produksi bawang merah nasional sampai saat ini masih terpusat di beberapa kabupaten di pulau Jawa. Lima provinsi di pulau Jawa yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten memberi kontribusi sebesar 75 hingga 80 persen terhadap total produksi bawang merah nasional selama lima tahun terakhir, sebagaimana tertera pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3. Kontribusi Pulau Jawa terhadap Produksi Bawang Merah Nasional Tahun 2009-2013
Provinsi Produksi (Ton)
2009 2010 2011 2012 2013 Jawa Barat 123.587 116.396 101.273 115.896 115.585 Jawa Tengah 406.725 506.357 372.256 381.814 419.472 DI Yogyakarta 19.763 19.950 14.407 11.854 9.541 Jawa Timur 181.490 203.739 198.388 222.863 243.087 Banten 668 351 421 1.230 1.836 Pulau Jawa 732.233 846.793 686.745 733.657 789.521 Indonesia 965.164 1.048.934 893.124 964.221 1.010.773 Kontribusi (%) 75,87 80,73 76,89 76,09 78,11 Sumber : BPS (2014), diolah
Profil usahatani bawang merah dicirikan oleh 80 persen petani yang merupakan petani kecil dengan luas lahan kurang dari 1 ha. Berbagai varietas bawang merah yang diusahakan petani antara lain Bima Brebes, Kuning, Bangkok, Bima Sawo, Engkel, Bangkok, Bima Timor, Filipina, dan Thailand (Bank Indonesia, 2013). Usaha budidaya bawang merah ini umumnya merupakan usaha keluarga yang telah dilaksanakan secara turun-temurun. Sebagian besar petani bawang merah sudah melakukan budidaya bawang merah hingga 15-25 tahun. Motivasi pendirian usaha ini di antaranya adalah karena harga jual bawang merah yang cukup baik walaupun dengan pola perubahan yang cukup ekstrem, meneruskan usaha yang telah ada (usaha keluarga), sumber daya alam yang mendukung, dan adanya pengalaman dengan ketrampilan yang sederhana.
Untuk mencapai produktivitas yang maksimal, sistem budidaya bawang merah harus dilakukan secara intensif sehingga perlu ketrampilan dan keuletan ekstra
5
dari setiap individu petani. Mengkaji persoalan tentang produktivitas sebenarnya adalah mengkaji masalah efisiensi usahatani. Hal ini dikarenakan ukuran produktivitas pada hakikatnya mempengaruhi tingkat efisiensi teknis budidaya yang dilakukan oleh petani yang menunjukkan pada seberapa besar output maksimum yang dapat dihasilkan dari tiap input yang tersedia. Tingkat efisiensi akan sangat dipengaruhi oleh kapabilitas manajerial petani dalam aplikasi teknologi budidaya dan pasca panen, serta kemampuan petani dalam mengakumulasikan dan mengolah informasi yang relevan dengan usaha budidayanya sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan tepat.
Isu in-efisiensi pada dasarnya timbul dari asumsi bahwa petani dan usahatani berperilaku memaksimalkan keuntungan. In-efisiensi dapat diintepretasikan sebagai suatu titik atau tahapan di mana tujuan dari perilaku ekonomi belum secara penuh dimaksimalkan. Kemungkinan seorang pelaku tidak dapat mencapai tujuan maksimalnya adalah sesuatu yang umum. Dengan kata lain, in-efisiensi sebenarnya merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan (Adiyoga, 1999).
Dalam mengelola usahataninya, petani mungkin saja melakukan penyimpangan-penyimpangan yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi. Dinamika sektor pertanian yang ditandai oleh adanya perubahan lingkungan teknis dan ekonomis secara terus-menerus akan menyulitkan petani dalam menyesuaikan keputusan-keputusan alokatifnya agar tetap respon terhadap perubahan lingkungan produksi serta tetap menjaga efisiensi alokasi penggunaan sumberdayanya. Pada kondisi seperti ini petani sebenarnya secara terus-menerus berada pada keadaan dis-ekuilibrium. Dinamika perubahan lingkungan strategis yang dihadapi petani juga mensyaratkan kriteria efisiensi yang lebih diarahkan pada keragaan sistem (termasuk di dalamnya petani dan sistem penunjang usahatani), bukan semata-mata difokuskan secara sempit kepada rasionalitas petani (Adiyoga, 1999).
Besarnya peluang untuk menjangkau pasar nasional maupun pasar internasional menjadikan bawang merah sebagai salah satu komoditi prioritas dalam pengembangan sayuran di Indonesia, yang cukup strategis dan ekonomis dipandang dari segi keuntungan (profit) usahatani. Semakin tinggi keuntungan usahatani yang
6
dicapai oleh petani akan menunjukkan keberhasilan petani dalam menjalankan usahataninya secara ekonomi. Untuk itu, pengembangan usahatani bawang merah di Indonesia harus diarahkan untuk mewujudkan agribisnis dan agroindustri yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
1.2. Rumusan Masalah
Seorang petani menjalankan usahataninya dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dari usahanya tersebut, baik berupa hasil panen untuk dikonsumsi sendiri atau uang hasil penjualan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Semakin tinggi pendapatan usahatani yang dicapai oleh petani akan menunjukkan keberhasilan petani dalam menjalankan usahataninya.
Pendapatan umumnya menjadi titik pertama yang menjadi fokus perhatian bagi petani. Pendapatan usahatani yang tinggi selalu menjadi magnet bagi petani untuk memilih mengusahakan suatu komoditas tertentu. Hal ini sejalan dengan petani bawang merah di mana nilai ekonominya yang tinggi benar-benar menjadi magnet penggerak bagi petani untuk menanam bawang merah.
Rendahnya pendapatan usahatani sering kali disebabkan karena terjadinya in-efisiensi penggunaan sumberdaya oleh petani. Jika petani tidak mengalokasikan sumberdaya secara efisien maka terdapat potensi yang tidak atau belum tereksploitasi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani. Tingkat efisiensi, baik efisiensi teknis maupun alokatif sudah seharusnya diteliti secara seksama. Efisiensi usahatani yang rendah dapat disebabkan karena sistem usahatani yang belum optimal, harga jual yang terlalu murah, atau tingginya biaya untuk input. Dalam hal ini, petani harus mampu me-manage usahataninya secara baik.
Penelitian tentang tingkat efisiensi usahatani menjadi sangat penting untuk diketahui sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan tentang penggunaan teknologi dengan tujuan untuk meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Setiap petani bawang merah tentu mengharapkan produksi yang tinggi dan sekaligus keuntungan yang memadai. Dalam menghadapi kondisi lingkungan yang serba tidak menentu, seorang petani harus mampu
7
mengalokasikan faktor-faktor produksi yang digunakan sedemikian rupa sehingga usahataninya dapat mencapai tingkat yang efisien dan memperoleh pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarganya dan sekaligus mengembangkan usahataninya.
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah : 1. Seberapa besar produksi dan pendapatan usahatani bawang merah yang dapat
dicapai petani dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi, dan
2. Sejauh mana efisiensi usahatani bawang merah dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Produksi dan pendapatan usahatani bawang merah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya,
2. Efisiensi usahatani bawang merah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari penelitian ini akan diketahui upaya-upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah yang merupakan salah satu syarat tercapainya swasembada bawang merah nasional.
8
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep pengukuran efisiensi pertama kali diperkenalkan oleh Farrell (1957), dimana Farrell mengajukan pengukuran efisiensi yang terdiri dari dua komponen : (1) efisiensi teknis, yang merefleksikan kemampuan perusahaan untuk mendapat output maksimum dari satu set input yang tersedia, dan (2) efisiensi alokatif, yang merefleksikan kemampuan dari perusahaan menggunakan input dalam proporsi yang optimal, sesuai dengan harganya masing-masing. Kedua ukuran efisiensi ini kemudian dikombinasikan menjadi ukuran total efisiensi ekonomi (Coelli et al., 1998).
Hal senada juga dikemukakan oleh Lau dan Yotopoulos (1971) yang menyatakan bahwa efisiensi pada dasarnya mencakup tiga pengertian, yaitu : (1) efisiensi teknis, (2) efisiensi harga dan (3) efisiensi ekonomi. Dalam teori produksi, efisiensi teknis mencerminkan kemampuan petani untuk memperoleh output maksimal dari sejumlah input tertentu. Di sisi lain, efisiensi harga adalah kemampuan petani dalam menggunakan input dengan proporsi yang optimal pada masing-masing tingkat harga dan teknologi yang dimiliki untuk memperoleh produksi dan pendapatan yang maksimal, sedangkan efisiensi ekonomi merupakan gabungan antara efisiensi teknis dan efisiensi harga.
Bentuk umum dari ukuran efisiensi teknis (Technical Efficiency/TE) didefinisikan sebagai berikut (Coelli, 1996) :
TEi = = = E (2.1)
Keterangan :
TEi = Efisiensi Teknis (Technical Efficiency)
Y = Produksi aktual Y* = Produksi potensial
Dimana nilai TEi berada diantara 0 dan 1. Jika nilai TE semakin mendekati 1 maka
9
sebaliknya jika nilai TEi semakin mendekati 0 maka usahatani dapat dikatakan
semakin in-efisien secara teknis.
Farrel (1957) menggunakan pendekatan berorietansi input untuk menghitung efisiensi, sebagaimana dilukiskan pada Gambar 2.1, dimana isokuan yang menunjukkan kondisi efisien penuh (full efficient) digambarkan oleh kurva UU’. Semua titik yang terletak pada kurva UU’ adalah yang paling efisien secara teknis. Jika suatu usahatani menggunakan input sejumlah C untuk memproduksi satu unit output, maka nilai in-efisiensi teknis dicerminkan oleh jarak BC. Pada ruas garis BC jumlah input yang digunakan dapat dikurangi tanpa harus mengurangi jumlah output yang dihasilkan.
Secara matematis, nilai efisiensi teknis (Technical Efficiency/TE) ditulis sebagai berikut :
TE = =
Besarnya TE berkisar antara 0 dan 1 serta menunjukkan derajat efisiensi teknis yang dapat dicapai.
Gambar 2.1. Pengukuran Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Ekonomi
Sumber : Coelli et al. (1998)
Gambar 2.1 juga menunjukkan bahwa unit isokuan dapat digunakan untuk menjelaskan perhitungan efisiensi alokatif (Allocative Efficiency/AE). Garis PP’ merupakan garis isocost yang menunjukkan biaya produksi minimum satu unit
D C B A U’ U P’ P 0
10
output. Jika rasio harga input ditunjukkann oleh garis biaya PP’, maka nilai efisiensi alokatif direpresentasikan dalam bentuk :
AE =
Ruas garis AB menunjukkan biaya produksi yang dapat dikurangi sehingga memungkinkan bagi usahatani mencapai kondisi efisien secara alokatif dan teknis pada titik D. Pada titik B meskipun efisien secara teknis namun in-efisien secara alokatif.
Efisiensi teknis dinyatakan dengan seberapa jauh penyimpangan suatu usahatani beroperasi dari fungsi produksi frontier pada tingkat teknologi tertentu. Coelli et al. (1998) menyatakan bahwa fungsi produksi frontier adalah fungsi produksi yang menggambarkan output maksimum yang dapat dicapai dari setiap penggunaan input. Apabila suatu usahatani berada pada titik di fungsi produksi frontier artinya usahatani tersebut efisien secara teknis. Jika fungsi produksi frontier diketahui maka dapat diestimasi in-efisiensi teknis melalui perbandingan posisi aktual relatif terhadap frontiernya. Jika informasi harga diketahui dan beberapa perilaku asumsi seperti minimisasi biaya sesuai maka efisiensi alokatif dapat dihitung. Efisiensi alokatif sendiri adalah kombinasi input yang meminimalkan biaya. Seluruh observasi pada isocost PP’ adalah efisien secara alokatif.
Kombinasi TE dan AE menghasilkan efisiensi ekonomi (Economic Efficiency/EE). Pada Gambar 2.1 hanya titik D yang efisien secara ekonomi dimana pada saat itu isokuan bersinggungan dengan isocost. Dengan demikian, efisiensi ekonomi (Economic Efficiency/EE) dapat didefinisikan sebagai berikut :
EE = TE AE = =
dimana AC dapat diintepretasikan sebagai pengurangan biaya. Nilai EE merupakan perkalian antara TE dengan AE. Nilai EE sendiri berkisar antara 0 dan 1. Nilai 1 menunjukkan usahatani secara penuh mencapai efisien secara ekonomi, sedangkan EE < 1 menunjukkan secara ekonomi in-efisien
Model in-efisiensi teknis yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada model Coelli et al. (1998), dimana untuk mengukur in-efisiensi teknis digunakan
11
variabel ui yang diasumsikan bebas dan distribusinya terpotong normal dengan N (μi,
σ2). Untuk menentukan nilai parameter distribusi (μ
i) efek in-efisiensi teknis
digunakan rumus sebagai berikut : μi = δ0 + Zitδ + wit
dimana Zit adalah variabel penjelas yang merupakan vektor yang nilainya konstan, δ
adalah parameter skalar yang dicari nilainya.
Fungsi produksi frontier stokastik secara independen dirintis oleh Aigner, Lovell dan Schmidt (1977), dan Meeusen dan van den Broeck (1977). Spesifikasi asli mencakup fungsi produksi yang dispesifikasi untuk data silang (cross-sectional data) yang mempunyai error term yang terdiri dari dua komponen, yaitu satu yang disebabkan oleh random effects dan yang lain disebabkan oleh in-efisiensi teknis. Model ini dapat diekspresikan dalam bentuk sebagai berikut :
Yi = Xi β + (Vi – Ui), i = 1, 2, … , N (2.2)
dimana : Yi = produksi yang dihasilkan oleh petani
Xi = vektor masukan yang digunakan petani
β = vektor parameter yang diestimasi
Vi = variabel acak yang berkaitan faktor eksternal (iklim, hama, dsb)
Ui = variabel acak non negatif yang diasumsikan mempengaruhi
xxxxxxxxxxxiiiiiitingkat in-efisiensi teknis dan berkaitan dengan faktor internal.
Model stokastik frontier disebut juga composed error model karena error term terdiri dari dua unsur (εi = Vi – Ui) yaitu :
1. Unsur Vi adalah variasi output yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti
iklim, serangan hama, bencana alam, dan lain-lain.
2. Unsur Ui merefleksikan komponen galat yang sifatnya internal atau dapat
dikendalikan oleh petani sehingga menggambarkan kemampuan manajerial petani dalam mengelola usahataninya. Variabel U ini berfungsi untuk menangkap in-efisiensi.
Model yang dinyatakan dalam persamaan (2.2) disebut sebagai fungsi produksi stochastic frontier karena nilai output dibatasi oleh variabel acak (stochastic) exp (xiβ + vi). Random error bisa bernilai positif dan negatif, begitu juga
12
output stochastic frontier bervariasi di sekitar bagian deterministik dari model, exp (xiβ).
Penelitian yang dilakukan oleh Rosyadi (2014) tentang efisiensi dan profitabilitas usahatani bawang merah di Kabupaten Brebes dengan mengambil 6 (enam) desa di Kecamatan Bulakamba sebagai lokasi penelitian, melaporkan bahwa rata-rata skor efisiensi usahatani keenam desa tersebut sebesar 64,84 persen. Berdasarkan skor rata-rata efisiensi tersebut, Rosyadi (2014) menyimpulkan bahwa usahatani yang dilakukan oleh petani di lokasi penelitian tidak efisien karena skor efisiensinya kurang dari 100 persen.
Sementara untuk hasil analisis profitabilitas menunjukkan bahwa produksi bawang merah per hektar dalam dua kali tanam dalam setahun cukup besar yaitu 11,13564 ton (11.135,64 kg) dengan nilai penerimaan (revenue) produksi sebesar Rp 69.967.500. Sedangkan keuntungan bersih setelah dikurangi berbagai pengeluaran (biaya produksi) sebesar Rp 4.670.114, dengan R/C ratio sebesar 1,1. Perolehan keuntungan yang kecil oleh petani disebabkan tingginya biaya produksi yaitu 90 persen dari total pendapatan kotor serta disebabkan oleh fluktuasi harga output sebesar 33,33 persen, fluktuasi harga pupuk sebesar 28,57 persen, fluktuasi pestisida sebesar 55,56 persen, dan fluktuasi harga bibit, iklim, hama pasca tanam.
Penelitian Rosdiantini (2013) tentang efisiensi produksi usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dengan mengambil 1 (satu) desa masing-masing di Kecamatan Sanden dan Kretek sebagai lokasi penelitian, melaporkan bahwa rata-rata pendapatan petani per musim tanam adalah Rp 20.064.714,86 per hektar. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan meliputi luas lahan, harga benih, harga pupuk phonska, harga fungisida padat, dan upah tenaga kerja. Rata-rata skor efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usahatani bawang merah adalah 0,77; 1,04; 0,81 yaitu belum efisien sehingga masih memungkinkan untuk meningkatkan tingkat efisiensi teknis dan alokatif untuk mencapai efisiensi ekonomi.
13
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penentuan Lokasi Penelitian dan Pengambilan Sampel
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu cara pengambilan sampel daerah berdasarkan ciri-ciri tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kabupaten Bantul dipilih dengan pertimbangan bahwa kabupaten tersebut merupakan salah satu sentra produksi bawang merah nasional. Responden di Kabupaten Bantul berasal dari tiga kecamatan yang memiliki rerata produktivitas tertinggi yaitu Kecamatan Sanden, Kretek, dan Srandakan, dimana kesemuanya merupakan petani bawang merah di lahan sawah. Penentuan sampel petani dilakukan secara purposive dengan kriteria petani yang menanam padi atau palawija terlebih dahulu sebelum menanam bawang merah. Hal dimaksudkan agar dapat diketahui biaya pengolahan tanah yang sebenarnya. Pada lokasi penelitian kemudian dipilih sebanyak 30 orang petani.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan atau lokasi penelitian. Metode kuisioner dan wawancara langsung dipakai untuk memperoleh informasi terkait dengan penelitian ini. Kunjungan langsung kepada responden dilakukan untuk lebih mendalami data dan kondisi aktual yang terjadi, khususnya di lapangan. Observasi tingkat desa dan kecamatan juga dilakukan sebagai pendukung kelengkapan informasi.
Data sekunder diambil dari instansi terkait, mulai dari tingkat desa sampai dengan tingkat provinsi sebagai bahan untuk menggambarkan lokasi penelitian, sektor pertanian, dan komoditas bawang merah. Instansi terkait, seperti Dinas Pertanian dan BPS juga dikunjungi guna kelengkapan infomasi secara menyeluruh.
3.3. Metode Analisis Data
14
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bawang merah dianalisis dengan menggunakan fungsi produksi frontier stokastik tipe Cobb-Douglas. Model matematis dari fungsi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
ln Y = β0 + β1 ln X1 + β2 ln X2 + β3 ln X3 + β4 ln X4 + β5 ln X5 + β6 ln X6 +
β7 ln X7 + β8 ln X8 + β9 ln X9 + β10 ln X10 + β11 ln X11 + (vi – ui) (3.1)
Keterangan :
Y : Produksi bawang merah (kg) X1 : Luas Lahan (m2) X2 : Benih (kg) X3 : Pupuk Urea (kg) X4 : Pupuk ZA (kg) X5 : Pupuk SP-36 (kg) X6 : Pupuk KCl (kg) X7 : Pupuk NPK X8 : Hebisida (ml) X9 : Fungisida (gr) X10 : Insektisida (ml)
X11 : Tenaga Kerja (HKO)
β0 : Intersep
βi : Koefisien Regresi
vi : Kesalahan yang dilakukan karena pengambilan secara acak
cc(kesalahan yang disebabkan oleh hal yang tidak dikuasai petani) ui : Efek dari inefisiensi teknis yang muncul (kesalahan yang dikuasai
ccoleh petani)
Untuk menentukan nilai efek ui pada penelitian ini digunakan persamaan :
ui = δ0 + δ1 ln Z1 + δ2 ln Z2 + δ3 ln Z3 (3.2)
dimana faktor-faktor yang mempengaruhi in-efisiensi teknis meliputi : Z1 : Umur Petani (tahun)
15 Z2 : Pendidikan (tahun)
Z3 : Pengalaman Menjalankan Usahatani Bawang Merah (tahun)
Pendugaan parameter dari persamaan (3.1) dan (3.2) dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) dilakukan secara simultan yaitu menggunakan program software FRONTIER 4.1 Coelli (1996).
3.3.2. Analisis Efisiensi Teknis
Analisis efisiensi teknis dilakukan dengan mengestimasi fungsi produksi frontier stokastik seperti pada persamaan (3.1) dan (3.2) secara simultan dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) menggunakan program FRONTIER 4.1 Coelli (1996). Dengan menggunakan program ini maka akan didapatkan efisiensi teknis dari usahatani bawang merah, dengan perhitungan :
(3.3) Keterangan :
TEi : Efisiensi Teknis Petani ke i
Y : Produksi Aktual
Y* : Produksi Potensial (diperoleh dari fungsi produksi frontier stokastik) dimana nilai TEi berkisar antara 0 dan 1.
Jika nilai TE semakin mendekati 1 (satu) maka usahatani bawang merah dapat dikatakan semakin efisien secara teknis dan jika semakin mendekati 0 (nol) maka usahatani bawang merah dapat dikatakan in-efisien secara teknis.
3.3.3. Analisis Pendapatan
Untuk menghitung pendapatan usahatani bawang merah digunakan rumus : I = TR – TC
= (Q x PQ) - TC dimana :
16 TR : Total Revenue / Penerimaan (Rp) TC : Total Cost / Biaya Total (Rp) Q : Produksi (kg)
PQ : Harga Jual (Rp/kg)
Untuk mengetahui apakah usahatani bawang merah menguntungkan atau tidak maka digunakan rasio R/C sebagai berikut :
Rasio R/C = dimana :
TR : Total Revenue / Penerimaan (Rp) TC : Total Cost / Biaya Total (Rp)
Ada tiga kriteria dalam perhitungan Rasio R/C, yaitu :
a. Apabila R/C > 1, maka usahatani menguntungkan layak diusahakan
b. Apabila R/C = 1, maka usahatani berada pada titik impas (break even point)
c. Apabila R/C < 1, maka usahatani tidak menguntungkan atau tidak layak diusahakan
17
BAB 4
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis
Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten dari lima kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentang alam Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul di sebelah timur, dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di sebelah utara, dengan Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat, dan dengan Samudra Indonesia di sebelah selatan. Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 50.685 ha yang terbagi dalam 17 kecamatan yaitu Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro, Pandak, Bantul, Jetis, Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Banguntapan, Sewon, Kasihan, Pajangan, dan Sedayu.
Kondisi topografi Kabupaten Bantul sebagian besar wilayahnya termasuk dataran dengan kemiringan 0-2% seluas 31.421 ha (61,99%). Selanjutnya wilayah dengan lereng curam (25-40%) dan sangat curam (>40%) seluas 4.264 Ha (8,41%) dan 4.009 Ha (7,90%). Sebaran dataran tersebut berada di bagian tengah memanjang dari pantai selatan ke utara yang meliputi Kecamatan Sanden, Kretek, Srandakan, Pundong, Pandak, Bantul, sebagian Imogiri, Jetis, sebagian Pleret, Sewon, Kasihan, Banguntapan, sebagian Piyungan dan sebagian Kecamatan Sedayu. Sebaran lereng curam dan sangat curam berada di bagian timur Kabupaten Bantul, khususnya di sebagian kecil Kecamatan Kretek, Pundong, Pleret dan Piyungan, sebagian besar Kecamatan Imogiri dan Dlingo.
Secara umum fisiografi wilayah Kabupaten Bantul dapat dikelompokkan sebagai berikut : (1) Bagian Barat merupakan daerah landai dan bergelombang, kesuburan tanah cukup untuk kegiatan budidaya pertanian tanaman pangan lahan basah; (2) Bagian Tengah merupakan daerah datar dan landai yang membentang dari
18
selatan-utara, kesuburan tanah tinggi cocok untuk budidaya pertanian tanaman pangan lahan basah; (3) Bagian Timur merupakan daerah perbukitan yang memanjang dari selatan ke utara, kesuburan tanah rendah sehingga hanya jenis tanaman tahunan yang mampu bertahan hidup, sedang untuk pertanian tanaman pangan terbatas untuk pertanian tadah hujan; (4) Bagian Selatan merupakan daerah pesisir dan sebenarnya merupakan bagian dari bagian tengah, keadaan alam wilayah ini berpasir dan sedikit berlagun, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden sampai Kretek. Wilayah ini dapat dibudidayakan pertanian palawija dengan pengairan intensif, dan tanaman tahunan.
Di wilayah Kabupaten Bantul terdapat 3 (tiga) DAS utama yaitu DAS Progo, DAS Opak, dan DAS Oya. Aliran sungai dalam DAS tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang tahun (permanen), walaupun untuk beberapa sungai kecil pada musim kemarau debit airnya relatif kecil. Sungai-sungai tersebut merupakan sungai perenial dengan akuifer tebal, sehingga aliran dasar (base flow) relatif besar yang termasuk efluent. Sungai Opak berhulu di Gunung Merapi, mengalir kearah selatan melalui Kabupaten Sleman, Kota Yoyakarta, dan Kabupaten Bantul yang selanjutnya menuju Lautan Hindia. Luas DAS Opak diperkirakan 1.350 km2 dengan panjang sungai sekitar 70 km. Salah satu anak sungai utama dari Sungai Opak adalah Sungai Oya, yang mempunyai luas sekitar 750 km2 dan panjang 112 km.
4.2. Keadaan Penduduk
Berdasarkan data hasil proyeksi penduduk tahun 2010-2020, jumlah penduduk Kabupaten Bantul tahun 2015 adalah 971.511 jiwa yang tersebar di 75 desa dan 17 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 481.510 jiwa adalah laki-laki dan 490.001 jiwa adalah perempuan. Jika dibandingkan dengan data hasil sensus penduduk tahun 2010 yang tercatat jumlah penduduk Kabupaten Bantul 911.503 jiwa berarti dalam 6 tahun terakhir telah terjadi pertambahan jumlah penduduk 60.008 jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Bantul adalah 1.917 jiwa per km2 dengan kepadatan tertinggi berada di Kecamatan banguntapan yakni 4.771 jiwa per km2 dan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Dlingoyang dihuni 653 jiwa per km2.
19
Perkembangan jumlah penduduk di Kabupaten Bantul dipengaruhi oleh pertumbuhan alami (lahir dan mati), penduduk datang dan peduduk keluar (migrasi). Berdasarkan data penduduk dari tahun 2002 sampai tahun 2009 dapat diketahui bahwa rata-rata pertambahan jumlah penduduk di Kabupaten Bantul sebesar 2,53% pertahun, untuk kurun waktu yang sama, kecamatan yang mempunyai rata-rata tingkat pertambahan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Banguntapan yaitu 2,40% per tahun.
4.3. Keadaan Pertanian
Luas lahan sawah di Kabupaten Bantul pada tahun 2015 tercatat 15.225 ha, lahan bukan sawah tercatat 13.639 ha, dan lahan bukan pertanian tercatat seluas 21.821 ha. Lahan bukan sawah meliputi tegal/kebun, lahan ditanami pohon/hutan rakyat, dan lainnya. Lahan bukan pertanian meliputi tanah untuk bangunan dan pekarangan, hutan negara, lahan tidak ditanami/rawa, dan tanah lainnya. Pada tahun 2015, produksi tanaman padi sawah tercatat 198.457 ton dengan rerata produktivitas sebesar 6,72 ton/ha, produksi tanaman padi ladang 685 ton dengan rerata produktivitas 5,71 ton/ha, produksi jagung 28.933 ton dengan rerata produktivitas 6,71 ton/ha, produksi ubi kayu 28.903 ton dengan rerata produktivitas 17,99 ton/ha, produksi ubi jalar 2.756 ton dengan rerata produktivitas 25,99 ton/ha, produksi kacang tanah 6.015 ton dengan rerata produktivitas 1,77 ton/ha, dan produksi kedelai 2.785 ton dengan rerata produktivitas 1,67 ton/ha.
Untuk tanaman sayuran, produksi terbanyak pada tahun 2015 adalah bawang merah dengan jumlah produksi sebesar 4.478 ton dengan rerata produktivitas sebesar 7,65 ton/ha. Untuk tanaman buah, produksi terbanyak adalah tanaman pisang sebesar 7.506 ton, sedangkan untuk tanaman biofarmaka produksi tertinggi adalah tanaman temu lawak sebesar 58.940 kg.
20
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Pola Tanam Usahatani Bawang Merah
Pola tanam adalah suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam kurun waktu satu tahun. Pola tanam biasanya bersifat spesifik wilayah sesuai dengan kondisi geografis, iklim, dan sosial budaya. Pola tanam diatur dengan tujuan untuk memanfaatkan sumberdaya secara optimal dan untuk menghindari risiko kegagalan. Pola tanam yang dominan dijumpai di wilayah sentra produksi bawang merah di Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut :
Padi (MH, November-Februari) – Bawang Merah + Cabai Merah (MK I,
Maret-Juni) – Bawang Merah + Cabai Merah (MK II, Juli - Oktber)
Bawang merah di Kabupaten Bantul ditanam secara tumpang sari dengan tanaman cabai merah, baik di Musim Kemarau I (MK I) maupun di Musim Kemarau II (MK II). Cabai merah biasanya ditanam 25 hari setelah bawang merah ditanam. Tanaman bawang merah sendiri akan dipanen pada umur 50-60 hari, sementara tanaman cabai merah akan terus dipertahankan hingga waktu tanam bawang merah berikutnya tiba.
5.2. Penggunaan Sarana Produksi
Faktor produksi yang sangat penting dalam usahatani bawang merah adalah benih. Penggunaan benih yang memiliki kualitas unggul akan mampu memberikan hasil produksi yang lebih baik dibandingkan dengan benih dengan kualitas tidak unggul. Penggunaan benih unggul untuk usahatani bawang merah tidak hanya diarahkan untuk peningkatan kuantitas hasil produksi saja, tetapi juga diarahkan untuk peningkatan kualitas/mutu dari produksi yang dihasilkan.
21
Terdapat dua jenis varietas bawang merah yang dominan ditanam di Kabupaten Bantul, yaitu tiron dan biru. Varietas biru dan tiron banyak dipilih petani karena memiliki potensi hasil yang tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit. Varietas biru paling disukai petani karena umurnya yang pendek, berumbi besar, dan memiliki harga jual yang relatif tinggi. Sementara varietas tiron disukai petani karena tahan terhadap hujan, berwarna merah cerah, dan memiliki daya tahan simpan yang lama, walaupun varietas ini berumbi kecil dan berumur panjang. Rata-rata penggunaan benih bawang merah di Kabupaten Bantul adalah 878,48 kg kg/ha.
Faktor produksi pupuk adalah bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara yang ditambahkan kepada tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Jenis-jenis pupuk yang digunakan beserta rerata penggunaannya untuk usahatani bawang merah dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rerata Penggunaan Pupuk untuk Usahatani Bawang Merah
Jenis Pupuk (kg/ha) N Rerata
Urea 18 153,93 ZA 14 282,69 SP-36 20 380,07 KCl 21 188,67 NPK Phonska 25 400,92 NPK Mutiara 12 244,14 DAP 9 150,04 Petroganik 5 1.531,23 Kandang 11 5.546,79
Sumber : Analisis Data Primer
Penggunaan pupuk merupakan usaha petani untuk meningkatkan produktivitas lahan, yaitu dengan cara menambah unsur hara yang diperlukan tanaman. Pemupukan sangat penting untuk meningkatkan produksi tanaman, yaitu dengan menambah ketersediaan unsur hara dalam tanah. Dengan demikian diharapkan kebutuhan tanaman akan unsur hara akan dapat terpenuhi secara optimal. Tabel 1 menunjukkan bahwa petani bawang merah di Kabupaten Bantul cukup intensif dalam perlakuan pemupukan pada tanaman bawang merah, terutama pada
22
pemberian pupuk majemuk yang mengandung unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), diantaranya adalah NPK Phonska dan NPK Mutiara. Selain itu, separuh petani bawang merah di Kabupaten Bantul menggunakan pupuk organik, baik berupa pupuk kandang maupun petroganik, pada lahan bawang merah mereka.
Jenis-jenis pestisida yang digunakan oleh petani bawang merah antara lain herbisida, fungisida, dan insektisida. Rerata penggunaan pestisida untuk usahatani bawang merah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rerata Penggunaan Pestisida untuk Usahatani Bawang Merah
Jenis Pestisida N Rerata
Herbisida (ml/ha) 30 1.140
Fungisida Padat (gr/ha) 25 5.962
Fungisida Cair (ml/ha) 24 1.123
Insektisida Padat (gr/ha) 2 857
Insektisida Cair (ml/ha) 25 1.511
Sumber : Analisis Data Primer
Secara umum usahatani bawang merah adalah jenis usahatani yang membutuhkan banyak asupan pestisida. Pemberian pestisida dimaksudkan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, seperti hama, patogen penyebab penyakit tanaman, dan gulma. Tabel 2 menunjukkan bahwa petani bawang merah di Kabupaten Bantul menggunakan berbagai jenis pestisida dengan cukup intensif.
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi utama dalam usahatani bawang merah. Sebab dalam mengelola usahataninya, petani tidak hanya menyumbangkan tenaganya tetapi juga kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Rerata penggunaan tenaga kerja untuk usahatani bawang merah dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rerata Curahan Tenaga Kerja untuk Usahatani Bawang Merah
Curahan Tenaga Kerja (HKO/ha) Laki-Laki Wanita
23
Tanam dan Pemeliharaan 447,67 6,90
Panen 47,89 1,35
Total 553,56 22,64
Sumber : Analisis Data Primer
Usahatani bawang merah merupakan tipe usahatani yang membutuhkan banyak curahan tenaga kerja petani. Secara umum, curahan tenaga kerja tersebut dapat dibedakan dalam tiga jenis pekerjaan, yaitu 1) persiapan benih dan lahan, 2) tanam dan pemeliharaan, serta 3) panen. Jenis pekerjaan yang pertama meliputi pembelahan benih, pembuatan selokan, pelembutan tanah, pembuatan garis tanam, pemberian herbisida pra-tanam, dan pemberian pupuk dasar. Jenis pekerjaan yang kedua mencakup penanaman, pemupukan, penyemprotan pestisida, penyiraman, dan penyiangan. Sementara jenis pekerjaan yang ketiga meliputi panen dan pengangkutan hasil panen.
Tabel 3 menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja petani di Kabupaten Bantul cukup intensif. Hal ini terlihat jelas terutama untuk jenis pekerjaan yang kedua, yaitu penanaman dan pemeliharaan. Keadaan ini dapat dimengerti mengingat kondisi tanah di Kabupaten Bantul yang memerlukan perhatian dan penanganan lebih seperti pemupukan, penyemprotan pestisida, dan penyiraman yang cukup intensif.
Akibatnya, curahan tenaga kerja yang dikeluarkan oleh petani menjadi lebih banyak.
5.3. Produksi Bawang Merah
Tinggi rendahnya produksi dan produktivitas bawang merah sangat dipengaruhi oleh modal yang tersedia dan teknik budidaya yang dilakukan oleh petani. Produksi dan produktivitas usahatani selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu usahatani telah dikelola dengan baik atau tidak. Rata-rata produksi usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rerata Penguasaan Lahan dan Produktivitas Bawang Merah
Uraian Rerata
Luas Lahan (ha) 0,25
24
Produksi (kg) 3.026,67
Produktivitas (kg/ha) 12.243,69
Produktivitas (ton/ha) 12,24
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa rerata produksi bawang merah petani di Kabupaten Bantul adalah sebesar 3.026,67 kg per usahatani atau setara dengan 12,24 ton/ha. Nilai ini lebih tinggi dari rerata produktivitas nasional selama rentang 2007-2013 yaitu sebesar 9,46 ton/ha. Produktivitas yang cukup tinggi ini dapat dicapai oleh petani di Kabupaten Bantul disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pemilihan varietas, pola tanam, dan waktu tanam.
5.4. Nilai Produksi dan Struktur Biaya Usahatani Bawang Merah
Salah satu indikator penting dalam penilaian ekonomi usahatani adalah dengan melihat nilai produksi yang diperoleh petani. Nilai produksi atau penerimaan usahatani merupakan perkalian antara jumlah produksi dengan harga yang diterima oleh petani. Nilai produksi usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Produksi dan Struktur Biaya Usahatani Bawang Merah
Uraian Kab. Bantul
Jumlah Persentase (%)
Penerimaan
Produksi (kg/ha) 12.244
Harga (Rp) 5.492
Nilai Produksi (Rp/ha) 67.132.814
Biaya Variabel (Variable Cost)
Benih (Rp/ha) 12.907.927 27,92
Pupuk (Rp/ha) 4.079.884 8,83
Pestisida (Rp/ha) 2.080.691 4,50
Tenaga Kerja (Rp/ha) 21.699.674 46,94
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Sewa Lahan (Rp/ha/musim) 5.111.508 11,06
25
Biaya Total (Rp/ha) 46.229.103 100,00
Sumber : Analisis Data Primer
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa penerimaan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah sebesar Rp 67.132.814,00/ha. Besarnya penerimaan ini dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga yang diterima oleh petani bawang merah. Walaupun produksi yang dihasilkan petani tinggi, seringkali harga yang diterima petani rendah sehingga menyebabkan besarnya penerimaan usahatani tidak maksimal.
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa biaya total usahatani bawang merah adalah sebesar Rp 46.229.103,00/ha. Dilihat dari struktur biaya usahatani, tenaga kerja menjadi pos biaya yang paling tinggi karena mencakup 46,94% dari total biaya yang harus dikeluarkan oleh petani di Kabupaten Bantul. Hal ini menunjukkan usahatani bawang merah adalah tipe usahatani yang cukup intensif dalam penggunaan tenaga kerja. Biaya benih menjadi pos biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja. Sementara itu, biaya pupuk dan pestisida hanya mencakup sekitar 4 – 9% dari total biaya usahatani bawang merah.
5.5. Pendapatan Usahatani Bawang Merah
Nilai produksi setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan akan didapatkan nilai pendapatan usahatani. Semakin tinggi pendapatan yang diterima oleh petani, maka usahataninya dapat dikatakan lebih berhasil secara ekonomi. Pendapatan inilah yang kemudian akan digunakan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tabel 6. Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul
Uraian Jumlah (Rp/ha)
Penerimaan (R) 67.132.814
Biaya Variabel 40.768.176
26
Total Biaya (C) 46.229.103
Pendapatan 20.903.711
R/C 1,45
Sumber : Analisis Data Primer
Tabel 6 menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima oleh petani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah sebesar Rp 20.903.711/ha dengan nilai R/C sebesar 1,45. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul secara ekonomi menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
5.6. Efisiensi Usahatani Bawang Merah
Berikut ini adalah hasil estimasi fungsi produksi stokastik frontier dengan menggunakan pendekatan Maximum Likelihood Estimation (MLE), sebagaimana ditampilkan pada Tabel 8. Metode MLE ini menggambarkan kinerja terbaik (best practice) dari perilaku petani dalam proses produksi. Fungsi produksi frontier ini akan digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bawang merah dan juga sebagai dasar untuk menghitung efisiensi produksi usahatani bawang merah.
Tabel 8. Estimasi Fungsi Produksi Frontier Stokastik Usahatani Bawang Merah
Variabel Parameter Koefisien T-ratio
Konstanta β₀ 0,37744 ns 0,43289 Luas Lahan β₁ 0,66579 *** 10,12172 Benih β₂ -0,17112 ns -0,93594 Pupuk Urea β₃ 0,00665 ns 0,72494 Pupuk ZA β₄ -0,00079 ns -0,07019 Pupuk SP-36 β₅ 0,01862 ** 2,35378 Pupuk KCl β₆ 0,00259 ns 0,23901 Pupuk NPK-Phonska β₇ 0,02641 *** 3,05581 Herbisida β₈ 0,04565 ns 0,49650 Fungisida β₉ 0,05082 ** 2,48934 Insektisida β₁₀ 0,11763 ns 1,45325 Tenaga Kerja β₁₁ 0,51298 ** 2,74632 Sigma-squared 0,09427 ** 2,0787
27
Gamma 0,99997 *** 4.911,5
Sumber : Analisis Data Primer
Keterangan : *** : signifikan pada α = 1% ** : signifikan pada α = 5% * : signifikan pada α = 10% ns : non-signifikan
Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai sigma-squared sebesar 0,09427 dan signifikan pada α sebesar 5 persen sehingga dapat dimaknai bahwa keragaman produksi bawang merah di Kabupeten Bantul yang disumbangkan oleh efek in-efisiensi dan efek eksternal mempunyai variasi yang nyata. Kemudian nilai gamma didapatkan sebesar 0,99997 dan signifikan pada α sebesar 1 persen. Hal ini menunjukkan bahwa 99,9 persen tingkat variasi produksi bawang merah di Kabupaten Bantul disebabkan oleh perbedaan efisiensi teknis dan sisanya sebesar 0,1 persen disebabkan oleh pengaruh eksternal seperti iklim, serangan hama dan penyakit, dan kesalahan dalam pemodelan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh in-efisiensi teknis merupakan faktor yang berpengaruh nyata dalam variabilitas produksi bawang merah.
Seluruh variabel faktor-faktor produksi yang dimasukkan dalam model bertanda positif, kecuali faktor produksi benih dan pupuk ZA. Koefisien yang bertanda positif dari faktor produksi luas lahan, pupuk Urea, pupuk SP-36, pupuk KCl, pupuk NPK-Phonska, herbisida, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja menunjukkan bahwa penambahan masing-masing faktor produksi tersebut akan dapat meningkatkan produksi bawang merah. Sementara itu, koefisien yang bertanda negatif dari faktor produksi benih menunjukkan bahwa penambahan jumlah benih tidak meningkatkan produksi bawang merah namun justru sebaliknya dapat menurunkan jumlah output. Hal ini disebabkan karena penggunaan benih yang berlebihan oleh petani. Penggunaan benih yang berlebihan ini akan menyebabkan jarak tanam terlalu rapat sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu, penambahan jumlah pupuk ZA juga tidak meningkatkan produksi bawang.
28
Pengujian secara parsial pada fungsi produksi, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 8, menunjukkan bahwa faktor produksi luas lahan, pupuk SP-36, pupuk NPK-Phonska, fungisida, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah. Sementara faktor produksi benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk KCl, herbisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah.
Secara umum, karakteristik model produksi frontier untuk menduga efisiensi teknis adalah adanya pemisahan dampak dari goncangan peubah eksogen terhadap keluaran melalui kontribusi ragam yang menggambarkan efisiensi teknis (Giannakas et al., 2003 dalam Sukiyono, 2005). Dengan kata lain, penggunaan metode ini dimungkinkan untuk menduga ketidakefisienan suatu proses produksi tanpa mengabaikan error term dari modelnya. Selain itu, pendugaan efisiensi menggunakan fungsi produksi frontier memungkinkan untuk dapat diketahui tingkat efisiensi yang dicapai oleh tiap individu unit-unit usahatani (Coelli et al., 1998), sebagaimana ditampilkan pada Tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Efisiensi Teknis (ET) Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul
Tingkat Efisiensi Teknis Jumlah Petani Persentase
< 0,5 4 13,33 0,51 - 0,60 2 6,67 0,61 - 0,70 2 6,67 0,71 - 0,80 4 13,33 0,81 - 0,90 6 20,00 0,91 - 1,00 12 40,00 Jumlah 30 Rerata 0,802 Nilai Minimum 0,289 Nilai Maksimum 0,997
Sumber : Analisis Data Primer
Hasil analisis menunjukkan tingkat efisiensi teknis yang dicapai oleh petani bawang merah di Kabupaten Bantul berkisar antara 0,289 hingga 0,999 dengan rata-rata 0,802. Dari 30 petani terdapat 18 petani (60,00 persen) yang telah mencapai
29
tingkat efisiensi diatas 0,800 atau 80 persen. Hal ini menandakan bahwa masih terdapat 40 persen petani bawang merah yang masih berada pada tingkat efisiensi teknis dibawah 80 persen atau masih mengalami in-efisiensi teknis dalam usahataninya. Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perbedaan tingkat efisiensi teknis yang mampu dicapai oleh masing-masing individu petani. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ruang dari petani bawang merah untuk meningkatkan efisiensi teknis melalui peningkatan manajemen usahatani.
Perbedaan tingkat efisiensi teknis yang dicapai petani bawang merah mengindikasikan tingkat penguasaan dan aplikasi teknologi yang berbeda-beda. Perbedaan tingkat pengusaan teknologi disebabkan oleh atribut yang melekat pada diri petani seperti umur, pendidikan, dan pengalaman berusahatani serta dapat juga disebabkan oleh faktor eksternal seperti penyuluhan. Perbedaan dalam aplikasi teknologi maksudnya adalah perbedaan dalam hal pengalokasian input produksi. Disamping itu, tingkat efisiensi teknis yang berbeda-beda juga disebabkan oleh kemampuan petani untuk mendapatkan input produksi. Jumlah anggota keluarga usia produktif juga berperan dalam hal penggunaan input tenaga kerja (Fadwiwati et al., 2014).
Tabel 10. Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi In-Efisiensi Teknis Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul
Variabel Parameter Koefisien T-ratio
Konstanta δ₀ 0,01913 ns 0,01971
Umur δ₁ 0,34254 ns 0,47087
Pendidikan δ₂ -0,85495 * -1,35717
Pengalaman δ₃ 0,17452 ns 0,26972
Sumber : Analisis Data Primer
Keterangan : * : signifikan pada α = 15% ns : non-signifikan
Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi in-efisiensi teknis usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah umur, pendidikan, dan pengalaman petani. Hasil estimasi pada Tabel 10 menunjukkan bahwa hanya pendidikan yang
30
berpengaruh nyata terhadap in-efisiensi usahatani bawang merah pada tingkat α sebesar 15%. Tingkat pendidikan memiliki koefisien bertanda negatif yang dapat dimaknai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka semakin kecil petani tersebut melakukan ketidakefisienan dalam menjalankan usahatani bawang merah. Atau dengan kata lain, semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka petani tersebut akan semakin efisien dalam menjalankan usahataninya.
31
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kegiatan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah usahatani yang menguntungkan (profitable) dengan pendapatan sebesar Rp 20.903.711/ha.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bawang merah di Kabupaten Bantul adalah luas lahan, pupuk SP-36, NPK-Phonska, fungisida, dan tenaga kerja. 3. Rata-rata tingkat efisiensi teknis petani bawang merah di Kabupaten Bantul adalah
sebesar 0,802.
4. Tingkat efisiensi teknis usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dipengaruhi oleh tingkat pendidikan petani.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan dari penelitian ini maka beberapa hal yang dapat disarankan adalah :
1. Peningkatan produksi dan pendapatan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul masih dapat dilakukan dengan menambah luas lahan garapan bila masih memungkinkan dan juga dengan mengalokasikan faktor-faktor produksi secara optimal.
2. Tingkat efisiensi teknis usahatani bawang merah masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani melalui pendidikan, kegiatan penyuluhan dan pelatihan oleh dinas terkait.
32
DAFTAR PUSTAKA
Adiyoga, W. 1999. Beberaapa Alternatif Pendekatan untuk Mengukur Efisiensi atau In-Efisiensi dalam Usahatani. Jurnal Informatika Pertanian. Vol 8.
Bank Indonesia. 2013. Pola Pembiayaan Usaha Kecil Menengah Usaha Budidaya Bawang Merah. Departemen Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM. Jakarta
Bappenas. 2014. Studi Pendahuluan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bidang Pangan dan Pertanian 2015-2019. Direktorat Pangan dan Pertanian. Jakarta
Coelli, T.J., D.S.P. Rao, C.J. O’Donnel, G.E. Battese. 1998. An Introduction to Efficiency and Productivity Analysis. Springer. New York
Lau, L. J. dan P. A. Yotopoulos, 1971. A Test for Relative Efficiency and Application to Indian Agriculture. American Economic Review. 61 : 94-104.
Rosdiantini, R. 2013. Efisiensi Produksi Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Master Thesis.
Rosyadi, I. 2014. Profitabilitas dan Efisiensi Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Brebes. Makalah Seminar Nasional dan Call For Paper Program Stusi Akuntasi FEB UMS.