A. Latar Belakang Masalah
Negara didirikan dengan tujuan utama untuk memberikan kesejahteraan (termasuk dalam pengertian ini antara lain kemakmuran, kesehatan, pendidikan dan rasa aman) kepada rakyat serta meningkatkan harkat dan
martabat rakyat sebagai manusia. Kesejahteraan
masyarakat merupakan tujuan pembangunan nasional yang hendak dicapai untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia dengan mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai-nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, maju, kokoh dengan kekuatan moral dan sejahtera.
Untuk mencapai tujuan tersebut Negara membentuk suatu organisasi yang bernama pemerintah sebagai pemegang mandat kekuasaan Negara untuk merencanakan, menetapkan tujuan dan sasaran, mengatur, menggerakkan, mengarahkan, dan mensinergikan segenap upaya bersama dalam mencapai tujuan bernegara tersebut. Dengan kewenangan pokok yang dilakukan pemerintah sebagai sebuah organisasi Negara1. pemerintah merupakan sebuah gejala yang memperlihatkan dan menjalankan kekuasaan
Negara2. Dengan kekuasaan yang diberikan Negara
1
Muhadam Labolo, 2006, Memahami Ilmu Pemerintahan Suatu Kajian, Teori, Konsep, dan Pengembanganya, Jakarta: Raja GrafindoPersada, hal.17.
2
Inu Kencana Syafi’i, 1998, Ekologi Pemerintahan, Jakarta: PT.Pertja, hal.4 1
kepadanya itu, pemerintah bisa melakukan segala upaya untuk mensejahterakan rakyatnya.
Pemikiran tentang kesejahteraan masyarakat
sebenarnya sudah ada sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam alenia ke-IV Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik lndonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa salah satu tujuan dari pembentukan Negara Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum3.
Pemerintah mengandung arti suatu kelembagaan atau organisasi yang menjalankan kekuasaan pemerintahan, sedangkan pemerintahan adalah proses berlangsungnya kegiatan atau perbuatan pemerintah dalam mengatur kekuasaan suatu Negara. Penguasa dalam hal ini
pemerintah yang menyelanggarakan pemerintahan,
melaksanakan penyelenggaraan kepentingan umum, yang dijalankan oleh penguasa administrasi Negara yang harus mempunyai wewenang. Seiring dengan perkembangan, fungsi pemerintahan ikut berkembang, dulu fungsi pemerintahan hanya membuat dan mempertahankan
hukum, akan tetapi pemerintahan tidak hanya
melaksanakan undang-undang tetapi berfungsi juga untuk merealisasikan kehendak Negara dan menyelenggarakan kepentingan kepentingan umum (public service). Perubahan paradigma pemerintahan dari penguasa menjadi pelayanan,
pada dasarnya pemerintah berkeinginan untuk
3
Pustaka Yustitia, 2007, Amandemen Undang-Undang Dasar 1945, Perubahan Pertama, Kedua, Ketiga Dan Keempat (Dalam Satu Naskah) Data Wilayah Administrasi 33 Propinsi, 349 Kabupaten Dan 91 Kota Di Seluruh Indonesia, Jakarta : PT. Buku Kita, hal. 2.
meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.
Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan Otonomi Daerah terlebih setelah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dimana Pemerintah Daerah diberikan kewenangan yang demikian luas oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur rumah tangga daerahnya sendiri, termasuk didalamnya adalah pemberian pelayanan kepada masyarakat di daerahnya. Namun Berbagai isu yang muncul di kalangan masyarakat, ternyata hak pelayanan yang diterima oleh masyarakat atau perorangan terasa belum memenuhi harapan semua pihak baik dari kalangan masyarakat umum maupun dari kalangan pemerintah sendiri. Pelayanan masyarakat yang diberikan oleh aparatur pemerintah seringkali cenderung rumit seperti : a) Tata cara Pelayanan, untuk mendapatkan pelayanan harus melalui proses yang panjang dari bawah sampai dengan tingkat atas, dapat dibilang jika tidak ada yang kenal dengan pegawai yang mengurus urusan akan menjadi lama b) Rendahnya Pendidikan aparat, hal ini berakibat pada lambannya pelayanan yang diberikan c) Kurangnya sarana dan prasarana, terutama sistem komputerisasi yang kadang online kadang tidak, serta kemampuan petugas dalam penguasaan teknologi dan d) Disiplin kerja, yaitu jam pelayanan yang tidak sesuai dengan ketentuan, baik jam pelayanan buka maupun jam pelayanan tutup. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan umum di daerah.
Pelayanan masyarakat dapat dikategorikan efektif apabila masyarakat mendapatkan kemudahan pelayanan
dengan prosedur yang singkat, biaya murah, cepat, tepat dan memuaskan. Keberhasilan meningkatkan efektivitas pelayanan Umum ditentukan oleh faktor kemampuan pemerintah dalam meningkatkan disiplin kerja aparat pelayanan. Masalah nyata proses pelayanan Umum, terutama pengurusan surat pengantar pembuatan KTP, Surat Keterangan Pindah, pelayanan IMB, dan pengantar pembuatan akte kelahiran, dirasakan masih berbelit dan tak terkendali secara efektif, sehingga wilayah aspirasi dan kepentingan Umum masih kurang tersentuh.
Ditetapkannya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik adalah untuk membangun kepercayaan atas pelayanan publik yang dilakukan oleh para penyelenggara negara agar supaya seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara, selain itu juga sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap
warga negara serta terwujudnya tanggung jawab
penyelenggara negara dalam menyelenggarakan pelayanan publik.
Pelayanan adalah proses menyangkut segala usaha yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan4. Pelayanan hakekatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu merupakan suatu proses. Sebagai proses, pelayanaan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat. Pelaksanaan pelayanaan dapat diukur, oleh karena itu dapat ditetapkan standar baik dalam waktu yang diperlukan maupun hasilnya. Dengan adanya standar
4
dalam pelayanan maka pada akhirnya dapat memberikan kepuasan pada pihak-pihak yang mendapat layanan.
Pelayanan Umum adalah proses pelayanan kepada masyarakat. Menelusuri arti pelayanan umum tidak terlepas dari masalah kepentingan umum, sehingga ada korelasi antara pelayanan umum dan kepentingan umum. Dalam perkembangannya pelayanan umum dapat timbul karena adanya kewajiban sebagai suatu proses penyelenggaraan kegiatan organisasi (pemerintahan).
Penyelenggaraan pelayanan umum didasarkan pada asas umum pemerintahan yang baik dan bertujuan untuk memenuhi kewajiban negara melayani publik atau
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Persoalan yang timbul saat ini adalah realitas pelaksanaan fungsi pelayanan pemerintah yang telah dilaksanakan di daerah, khususnya pelaksanaan fungsi pelayanan di bidang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kabupaten Semarang tidak berjalan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Masyarakat.
Hal tersebut nampak pada jadwal penyampaian instruksi dari pemerintah atasan, kepada kecamatan, kelurahan sering terlambat dari waktu yang ditentukan, kurang tepatnya penilaian tentang tafsiran biaya bangunan karena kesulitan yang ditemui petugas di lapangan, sebab petugas belum banyak pengalaman dan masyarakat kurang cepat memberikan informasi tentang bangunan, sehingga tafsiran biaya untuk bengunan hanya berdasarkan pikiran yang menyebabkan retribusi kurang cocok dengan kondisi bangunan
Dalam rangka mewujudkan tertib penyelenggaraan bangunan yang menjamin keandalan teknis bangunan dari
segala keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan
kemudahan dan mewujudkan kepastian hukum dalam
penyelenggaraan bangunan, Pemerintah Kabupaten
Semarang menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 2006 tentang Ijin Mendirikan Bangunan. Untuk menjamin daya guna dan hasil guna pelaksanaan Perda tersebut dikeluarkan Peraturan Bupati Semarang nomor 11 tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Ijin Bangunan. Dalam pelaksanaan pemberian izin mendirikan bangunan di Kabupaten Semarang meliputi : Persyaratan, Prosedur dan Waktu penyelesaian.
Syarat-syarat yang harus dilampirkan dalam
pengurusan IMB di Kabupaten Semarang antara lain adalah : foto kopi kartu tanda penduduk, foto kopi hak atas tanah, foto kopi tanda pelunasan PBB, surat keterangan tanah dari kepala desa/lurah, surat pernyataan penggunaan tanah apabila bukan milik sendiri, foto kopi ijin lokasi, surat pernyataan teknis, gambar situasi lokasi bangunan, site plant (tata letak bangunan terhadap lahan/kapling), rekaman gambar bangunan, izin pendirian tempat ibadah untuk bangunan keagamaan, surat pernyataan penggunaan bangunan dan kesanggupan UPL atau UKL atau AMDAL. Sedangkan prosedur dalam pengurusan IMB antara lain adalah:
1. Mengisi formulir permohonan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan, mulai dari RT, Kelurahan, Kecamatan dan selanjutnya ke KPPT;
a. meneliti formulir dan kelengkapan syarat-syarat
administrasi dan teknis; b.menghitung dan
menetapkan besaran retribusi; c.memberitahukan besaran retribusi yang wajib dibayar oleh pemohon atau memberi tahu penolakan atas izin yang diajukan oleh pemohon dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal berkas permohonan diterima.
3. Pembayaran retribusi disampaikan pada bendahara penerima KPPT dan disetor ke kas daerah;
4. Setelah melunasi retribusi, pemohon mendapat surat IMB resmi yang langsung dikeluarkan oleh kepala KPPT paling lama 12 (dua belas) hari kerja. Waktu penyelesaian adalah 5 (lima) hari kerja + ‘X’ hari kerja (tergantung kecepatan pemohon membayar retribusi) + 12 (dua belas) hari kerja, dihitung sejak diterimanya permohonan yang telah diagendakan.
Sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 5 Tahun 2009
tentang pelimpahan kewenangan bidang pelayanan
umum/perijinan dalam pemberian Izin Mendirikan
Bangunan, Camat diberi kewenangan untuk mengeluarkan Izin dengan ketentuan luas bangunan sampai dengan 250 m2 (bangunan 1 lantai). Berikut ini adalah diagram Alir Proses Pelayanan Perizinan Izin Mendirikan Bangunan:
PEMOHON PETUGAS INFORMASI PETUGAS PENDAFTARAN PETUGAS PEMROSESAN KEPALA KPPT/ CAMAT Tidak Ya Ya Tidak Catatan: -berkas sdh dilampiri rekomendasi: dinas pariwisata bila usaha akomodasi Dinas Perhubungan bila pendirian tower Dinas Kesehatan bila usaha bid kesehatan -berkas diperbanyak rangkap 2 dg asli -warna map, merah Ya
Sumber : Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Semarang. Mencari Informasi Memberikan info&formul ir permohona n Mengisi formulir& melengkapi persyaratan Menerima& memeriksa berkas permohonan lengkap Membuat tanda terima berkas permohonan Agenda pemeriksaan lapangan Pembuatan undangan tim Pemeriksa lapangan (berita acara) diizinkan
Cek draft izin
Penanda tanganan izin Agenda izin Resi penyerahan Surat penolakan Surat izin Pemberitah uan undangan
Warga masyarakat yang akan mencari Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) harus memperoleh keterangan mulai dari RT, Kelurahan, Kecamatan, DPU dan KPPT (Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu). Prosedur yang panjang ini tentu menyita banyak energi yang harus dikeluarkan oleh pemohon IMB. Ketika terjadi kesalahan gambar, prosesnya jadi semakin panjang dan lama, akibatnya pemohom enggan untuk mengurus sendiri, sehingga diurus lewat biro jasa atau notaris, dengan cara seperti ini maka biaya yang dikeluarkan juga semakin banyak. Aparat sangat lamban memproses masalah ini belum lagi adanya pungutan liar. Disamping itu adalah minimnya sosialisasi kepada masyarakat oleh Pemerintah Daerah tentang pentingnya IMB,dan tidak adanya sanksi yang tegas terhadap bangunan yang tidak memiliki IMB, sehingga yang mengajukan IMB adalah sebagian masyarakat yang mempunyai usaha saja. Dibawah ini adalah data pemohon dan realisasi IMB di Kecamatan Getasan mulai tahun 2007 sampai dengan 2011:
Tabel 1.1
Permohonan dan Realisasi IMB yang dikeluarkan oleh Camat Getasan
No JENIS Pemohon Th.2011 Realisasi
1 Hotel - - 2 Peternakan - - 3 Rumah tinggal 5 4 4 Toko/Tpt usaha - - 5 Kafe/karaoke - - 6 Lain-lain 3 1 Jumlah 8 5
Tabel 1.2
Permohonan dan Realisasi IMB Kecamatan Getasan yang dikeluarkan oleh KPPT Kabupaten Semarang
No Jenis Th.2011 Pemohon Realisasi 1 Hotel 15 14 2 Peternakan 3 - 3 Rumah tinggal 8 5 4 Toko/Tpt usaha - - 5 Kafe/karoke 2 1 6 Lain-lain 8 8 Jumlah 36 23
Sumber: KPPT Kab. Semarang, 2011
Dari tabel 1.1. dan 1.2 maka dapat dilihat antara pemohon yang terealisasi dan pemohon yang ditolak, permohonan yang ditolak disebabkan antara lain :
1. Tidak memenuhi garis sempadan jalan (garis batas bangunan yang diijinkan dari as jalan);
2. Belum adanya tukar guling tanah;
3. Belum ada kajian dari Disperindag (untuk
minimarket).
Berbagai fenomena diatas, maka sangat perlu untuk menilai kinerja birokrasi publik di Kabupaten Semarang , baik kualitas, kuantitas, efisiensi pelayanan sehingga dapat memotivasi aparat pelaksana, mendorong pemerintah agar lebih responsif kepada masyarakat yang dilayani. Di dalam Perda juga mengatur garis sempadan jalan untuk jalan provinsi (arteri) : 35 m, jalan provinsi sekunder 25 m, jalan kabupaten Primer : 21m, jalan Kabupaten sekunder : 14 m, jalan lingkungan : 6 m, sehingga fakta di lapangan banyak
bangunan di wilayah Kecamatan Getasan yang tidak memenuhi sempadan jalan tidak mengurus ijin Mendirikan Bangunan alias bangunan tanpa IMB banyak berdiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan pemberian Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kabupaten Semarang ?
2. Kendala-kendala apakah yang dihadapi oleh pemohon dalam penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB)?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yaitu :
1. Untuk mengetahui dan menganalisa pelaksanaan pemberian Ijin Mendirikan Bangunan di Kabupaten Semarang.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa kendala-kendala apakah yang dihadapi oleh pemohon dalam penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
D. Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian ini antara lain adalah :
1. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan ilmu hukum, khususnya dalam bidang Hukum Administrasi Negara
2. Bagi pembangunan, hasil penelitian ini diharapkan memberikan umpan balik kepada Pemerintah Kabupaten Semarang beserta elemen-elemen yang terkait sehingga Pemerintah Kabupaten Semarang lebih membuka diri dan mau bermitra dengan berbagai pihak baik peneliti dari
kalangan perguruan tinggi, DPRD, tokoh masyarakat, LSM, dan Pengusaha dalam rangka mencari format kebijakan yang diperlukan untuk model kegiatan pemerintahan dalam pelayanan yang lebih efisien, responsif dan akuntabel.
E. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian
Untuk membahas permasalahan yang penulis ajukan dalam penelitian ini, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan Yuridis Empiris, yaitu penelitian yang menggunakan data primer dan data sekunder dengan
melakukan penggalian data secara langsung dari
sumbernya. Penelitian ini juga didukung dengan pendekatan normatif dengan cara meneliti bahan pustaka dengan mempelajari dan menelaah teori-teori, konsep-konsep serta peraturan yang berkaitan dengan permasalahan5.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian pada tesis ini adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang bertujuan memberikan gambaran atas sebuah permasalahan dengan melalui kegiatan analisis data penelitian. Pada tesis ini hal yang digambarkan adalah Problematika Peraturan Daerah tentang penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kabupaten Semarang.
5
Soejono Soekamto dan Sri Mamuji, 1998, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,Cetakan Ke II. Jakarta: Rajawali, hal 14-15
3. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel, sekumpulan yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh pemohon IMB Kecamatan Getasan Tahun 2011 sebanyak 36 orang pemohon.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang dapat dijadikan wakil dari populasi dalam suatu penelitian (Hadi, 2003). Adapun sampel adalah 10 orang pemohon yang direalisasi dan 10 orang pemohon yang tidak direaliasi.
4. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini membutuhkan dua jenis data yang berasal dari sumber yang berbeda yaitu :
a. Data Primer
Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer yang berupa kejadian-kejadian di lapangan atau pendapat subyek penelitian atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). b. Data Sekunder
Pada penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam ilmu penelitian dikatagorikan sebagai data sekunder, baik data sekunder yang bersifat pribadi maupun data sekunder yang bersifat
publik. Dilihat dari sisi kekuatan mengikatnya, data sekunder di bidang hukum dapat dibedakan menjadi : a. Bahan-bahan hukum primer, meliputi :
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung
- Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang
Jalan;
- Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; - Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun
2010 tentang Pedoman Pemberian Izin Mendirikan Bangunan
- Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 03 Tahun 2003 tentang Izin Gangguan
- Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Izin Bangunan.
- Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 13 Tahun 2007 tentang Garis Sempadan
- Peraturan Bupati Semarang Nomor 11 Tahun 2009
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Izin Bangunan di Kabupaten Semarang
b. Bahan-bahan hukum sekunder, meliputi : bahan hukum yang diperoleh dari teks, jurnal, kasus-kasus, serta simposium atau yang sejenis yang berhubungan dengan persoalan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB); c. Bahan-bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang
memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus hukum eksiklopedi dan sebagainya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Mengenai penelitian ini bertitik tolak pada data sekunder, maka langkah pertama dalam pengumpulan data yaitu dilakukan dengan cara mengadakan telaah bahan pustaka dan studi dokumen. Bahan pustaka dan dokumen ini yang diteliti berkaitan dengan permasalahan, baik yang berkaitan dengan masalah fungsi pelayanan pemerintah khususnya di bidang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) maupun berkaitan dengan kinerja pelayanan publik. Disamping itu, juga dilakukan studi lapangan melalui serangkaian wawancara pada instansi terkait, wawancara dilakukan setelah melakukan inventarisasi permasalahan secara lebih konkrit, yang berkaitan dengan pendapat para sarjana mengenai hukum Admnistrasi, literatur-literatur yang berkaitan dengan fungsi pelayanan pemerintah khususnya di bidang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) maupun berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pelayanan publik untuk selanjutnya memperoleh data sebanyak-banyaknya mengenai sumber maupun informasi, yang relevan dengan pokok permasalahan dan penelitian.
5. Metode Analisis Data
Dalam menganalisa data, data yang telah diperoleh dianalisa dengan menggunakan analisa kualitatif dengan menggunakan pola pikir induksi. Teknik ini dilakukan dengan metode interaktif yang terdiri dari tiga jenis kegiatan, yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang dapat dilakukan pada saat sebelum dan selama pengumpulan data.
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan juga transformasi data yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Sementara penyajian data merupakan penyajian sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan6.
G. Sistematika Penulisan Tesis
Hasil penelitian yang sudah diperoleh dan telah dianalisa akan dibuat suatu tesis yang sistematikanya sebagai berikut :
Bab I sebagai bab pendahuluan yang akan memuat latar belakang dilakukanya penelitian, bab ini terbagi dalam perumusan masalah, tujuan penelitian dan metode penelitian yang terbagi atas spesifikasi penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data dan metode analisis data .
Bab II akan mengkaji tentang tinjauan teoritis
terhadap pelayanan publik oleh birokrasi kepada
masyarakat, pemerintah daerah sebagai birokrasi pelaksana pemerintahan di daerah, tinjauan tentang ijin mendirikan bangunan dan tinjauan tentang kesejahteraan rakyat dan penerapan hukum.
Bab III merupakan hasil penelitian dan analisa, yang sebelumnya dibahas Kondisi Umum dan Pemerintahan Kabupaten Semarang khususnya di Kecamatan Getasan, yang merupakan instansi yang bertugas memberikan
6
Matthew B.Miles dan A.Michel Huberman, Edisi Indonesia, 1992, Analisa Data Kualitatif Tentang Sumber Metode-Metode Baru, Jakarta: UI Press, hal. 16-18.
pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada masyarakat, pembahasan selanjutnya adalah mengungkap sebab-sebab fungsi pelayanan pemerintah dalam pemberian Ijin Mendirikan Bangunan di Kabupaten Semarang terkendala dalam pelaksanaanya, standar pelayanan pemberian ljin Mendirikan Bangunan (IMB) sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah di Kabupaten Semarang dan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Semarang dalam rangka mengatasi kendala pelaksanaan pelayanan pemberian Ijin Mendirikan Bangunan. Tesis ini akan ditutup dalam Bab IV, yang akan menguraikan kesimpulan dan sejumlah rekomendasi strategi bagi perbaikan (peningkatan) kualitas pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang.