1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah peradaban Islam merupakan sebuah kajian yang sangat menarik untuk dipelajari bagi seluruh umatnya bahkan bagi umat lain. Karena, hal tersebut mengan- dung beberapa nilai yang dapat kita jadikan sebagai pedoman hidup atau sebagai sumber ilmu pengetahuan pada masa kini dan yang akan datang. Bangkitnya peradaban suatu bangsa atau umat, kemajuannya, kemundurannya dan kehancurannya tergantung kepada pemahaman anak bangsa terhadap bermacam-macam nilai yang ada dalam kehidupan. Ada empat pilar peradaban menurut Al-Ahwan yaitu agama,
ilmu, seni dan ekonomi.1 Begitu pula pada makalah ini akan dibahas
tentang beberapa hal yang berkaitan dengan empat pilar tersebut yang terjadi pada masa berdirinya daulah Bani Abbasiyah.
Daulah Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang berdiri setelah masa Bani Umayyah di jazirah arab. Pada tahun 132 H pemerintahan Bani Umayyah jatuh. Lalu, keturunan Al-Abbas pun naik
untuk menduduki kursi khilafah.2 Pemerintahan Bani Abbasiyah
merupakan masa kegemilangan Islam. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam hal pemerintahan politik, ekonomi, administrasi pemerintahan dan hukum. Bani Abbasiyah berdiri dari tahun 132 H dan mengalami masa keruntuhan pada tahun 656 H (524 tahun).
Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, diawali dari Abdul Abbas As-Shaffah hingga Abu Ahmad Abdullah Al-Mu’tashim
Billah.3 Pada masa ke-37 khalifah tersebut terjadi masa keemasan hingga
1 Ahmad Fuad Effendy, Sejarah Peradaban Arab dan Islam (Malang: Misykat, 2012), hlm. 146 2
Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiyah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007), hlm. 9
3
2
masa kemunduran Bani Abbasiyah (Islam). Berikut beberapa sebab mundurnya Bani Abbasiyah:
1. Para penguasa yang hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.
2. Dianasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad, akibat dari kebijakan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik.
3. Digantinya pemerintah dengan militer yang diambil dari Turki
4. Fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu’ubiyah (kebangsaan/anti Arab)
5. Luasnya wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah sehingga menyulitkan untuk berkomunikasi dan mengontrol seluruh wilayah tersebut.
6. Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan
7. Perang salib (perang suci) yang terjadi pada tahun 1095 M.4
B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Bagaiamana sejarah singkat berdirinya Dinasti Abbasiyah?
2. Bagaimanakah peristiwa yang terjadi dalam masa Bani Abbasiyah dalam hal Dearabisasi, perkembangan politik, ekonomi, administrasi pemerintahan dan hukum era Abbasiyah?
C. Tujuan
Berangkat dari rumusan maalah tersebut, penulis dapat menuliskan tujuan dari pembahan makalah. Tujuan tersebut adalah sebagi berikut: 1. Mengetahui sejarah singkat berdirinya Dinasti Abbasiyah.
4
Hujair A.H. Sanaky, Pemikiran dan Peradaban Islam , Makalah disajikan dalm perkuliahan pemikiran dan peradaban Islam di Universitas Islam Indonesia Fakultas Tarbiyah PAI dan Ilmu Kedokteran, Jogjakarta, 2008.
3
2. Mengetahui keadaan yang terjadi khususnya hal Dearabisasi,
perkembangan politik, ekonomi, administrasi pemerintahan dan hukum era Abbasiyah.
4
BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat Berdirinya Bani Abbasiyah
Pada tahun 132 H pemerintah Bani Umayyah jatuh. Lalu,
keturunan Al-Abbas pun naik untuk menduduki kursi
khalifah.5Pemerintahan Bani Abbasiyah dinisbatkan kepada al- Abbas,
paman Rasulullah Saw.. Sementara itu, khalifah pertama dari pemerintahan ini ada Abdullah (as-Saffah) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutthalib. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh Bani Hasyim (Alawiyun) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bhawa yang berhak untuk berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya. Pemikiran seperti ini tidak bisa berkembang dan kalah telak di awal-awal masa Islam. Pemikiran Islam yang lurus dan benarlah yang menang pada saat itu. Yakni, pemikiran bahwa kekuasaan itu adalah hak semua kaum muslimin dan siapa pun berhak selama dia
mampu menyandang amanat.6
Kelompok (sekte) Kaisaniyah (Syiah Rafidhah) mengatakan bahwa imamah berada di tangan Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (Ibnul Hanifah). Kemudian mereka menyerukan bahwa setelah itu imamah adalah milik sah Abu Hasyim yang dengan keras mengkritik pemerintahan Umayyah. Sebelum meninggal dia meminta kepada anak pamannya Muhammad bin Ali bin Abdullah ibnul Abbas yang bermukim di Hamimah Yordania untuk merebut kekuasaan Bani Umayyah dan
menyerahkannya untuk Ahli Bait Rasulullah.7
Muhammad bin Ali bin Abdullah ibnul Abbas dikenal sebagai sosok yang sangt ambisius. Maka, pun segera melahirkan pemikiran untuk mendirikan pmerintahan Abbasiyah. Sejak tahun 100 H dia menjadikan Hamimah sebagai sentral perencanaan, konsolidasi dan sistem kerja
5
Yusuf Al-Isy, loc. Cit.
6
Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2007), hlm. 215
7
5
gerakan. Sedangkan, Kuffah dijadikan sebagai pusat pembentukan opini dan Khurasan sebagai pusat penebaran opini itu. Gerakan ini berlangsung
dengan sangat rahasia dan sangat lamban.8 Setelah Muhammad bin Ali
bin Abdullah ibnul Abbas meninggal, anaknya yang bernama Ibrahim menggantikannya pada tahun 125 H/742 M. Pada saat itu pemerintahan Bani Umayyah telah mengalami kemunduran yang sangat setelah meninggalnya Hisyam Bin Abdul Malik. Pada saat yang sama gerakkan
Abbasiyah semakin gencar tersebar kemana-mana.9
Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia. Akan tetapi, Imam Ibrahim pemimpin Abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Ummayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan Dinasti Umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya diekskusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abdul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia tahu bahwa ia akan terbunuh. Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abdul Abbas diperintahkan untuk mengejar Khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri, di mana akhirnya dapat dipukul di dataran rendah sungai Zab. Pengejaran dilanjutkan ke Mausul, Harran dan menyeberangi sungai Eufrat sampai ke Damaskus. Khalifah itu melarikan diri hingga ke Fustat di Mesir dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah Al-Fayyun, tahun 132 H/750 M di bawah pemimpin Salih bin Ali, seorang paman Al-Abbas yang lain. Dengan demikian, maka tumbanglah kekuasaan Dinasti Umayyah dan berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya, yaitu Abdul Abbas Ash-Shaffa dengan pusat kekuasaan awalnya di Kuffah.10 8 Ibid.. 9 Ibid.. 10
6
B. Dearabisasi pada Masa Bani Abbasiyah
Apabila Bani Umayyah dengan Damaskus sebagai ibu kotanya mementingkan kebudayaan Arab, Bani Abbasiyah dengan memindahkan ibu kota ke Baghdad, telah agak jauh dari pengaruh Arab. Baghdad terletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia. Di samping itu, tangan kanan yang membawa Bani Abbasiyah kepada kekuasaan adalah orang-orang Persia. Dan setelah berkuasa, cendekiawan Persialah yang mereka jadikan sebagai pembesar-pembesar Istana. Adapun yang terbesar dan banyak berpengaruh pada mulanya ialah keluarga Barmak.
Disamping itu, para khalifah mengambil wanita-wanita Persia sebagai istri dan dari perkawinan ini timbullah khalifah-khalifah yang mempunyai darah Persia, seperti Al-Makmun. Semua ini membuat pengaruh Persia lebih besar kepada Dinasti Bani Abbasiyah daripada pengaruh Arab. Dengan naiknya kedudukan orang-orang Persia dan kemudian orang-orang Turki dalam pemerintahan Bani Abbasiyah, kedudukan orang-orang Arab menurun. Bani Abbasiyah mengubah corak khalifah dari Islam Arab, sebagaimana yang terdapat di masa Bani Umayyah, kepada Islam yang dipengaruhi unsur-unsur bukan Arab, terutama unsur Persia.
Perbedaan lainnya antara kedua dinasti tersebut, yaitu jika masa Bani Umayyah merupakan masa ekspansi daerah kekuasaan Islam. Masa Bani Abbasiyah adalah masa pembentukan dan perkembangan kebudayaan
dan peradaban Islam.11Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah dalam empat periode berikut:
1. Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya daulah Abbasiyah tahun 132 H sampai meninggalnya khalifah
11
7
Watsiq 232 H. Pada masa ini disebut sebagai periode pengaruh Persia pertama.
2. Masa Abbasiyah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H. Pada masa ini disebut sebagai periode pengaruh Turki pertama.
3. Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun 334 H sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad tahun 447 H. Pada masa ini disebut sebagai periode pengaruh Persia kedua dan Turki kedua.
4. Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 447 H sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol di bawah pemimpin Hulagu Khan pada
tahun 656 H.12
Dalam buku Ahmad al-Usairy dinyatakan bahwa pemerintahan Bani Abbasiyah berdiri pada tahun 132 H seiring dengan runtuhnya pemerintahan Bani Umayyah. Pemerintah Abbasiyah runtuh pada tahun 656 H setelah orang Mongol menghancurkan Baghdad dan membunuh khalifah terakhir Bani Abbasiyah. Dengan demikian, Bani Abbasiyah menejadi penguasa selama 524 tahun yakni dari tahun 132 – 656 H.
Pemerintahan mereka dibagi menjadi dua periode
sebagaimanayang banyak diistilahkan kalangan sejarawan.
1. Pemerintahan Abbasiyah periode I. Periode ini dimulai sejak tahun 132 – 247 Hijriyah. Periode ini merupakan masa kejayaan para khalifah Abbasiyah. Ada sepuluh penguasa pada periode ini.
12
8
No Khalifah Gelar Masa
Berkuasa
1 Abdul Abbas Abdullah
bin Muhammad
As-Saffah 132-136 H
2 Abu Ja’far Abdullah
bin Muhammad Al-Mansur 137-158 H 3 Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Mahdi 158-169 H
4 Musa bin Muhammad
bin Abdullah
Al-Hadi 169-170 H
5 Harun bin Muhammad
bin Abdullah
Ar-Rasyid 170-193 H
6 Muhammad bin Harun
bin Muhammad
Al-Amien 193-198 H
7 Abdullah bin Harun bin
Muhammad
Al-Makmun 198-218 H
8 Muhammad bin Harun
bin Muhammad
Al-Mu’tashim
218-227 H
9 Harun bin Muhammad
bin Harun
Al-Watsiq 227-232 H
10 Ja’far bin Muhammad
bin Harun
Al -Mutawakkil
232-247 H
2. Pemerintahan Abbasiyah periode II. Periode ini dimulai dari tahun 247 - 656 Hijriyah. Masa ini adalah masa lemahnya para khalifah dan lenyapnya kekuasaan mereka. Masa ini dikuasai oleh kalangan militer. Ada sebanyak 27 khalifah yang berkuasa pada masa ini.
9
No Khalifah Gelar Masa
Berkuasa
Dibawah Dominasi 11 Muhammad
bin Ja’far al-Mutawakkil Al-Muntashir 247-248 H TURKI 12 Ahmad bin Muhammad al-Mu’tashim Al-Mustain 248-252 H 13 Muhammad bin Ja’far al-Mutawakkil
Al- Mu’tazz
252-255 H
14 Muhammad bin Harun al-Watsiq Al- muhtadi 255-256 H 15 Ahmad bin Ja’far Mutawakkil Al-Mu’tamad 256-279 H 16 Ahmad bin Thalhab bin Ja’far Al- Mu’tadhid 279-289 H 17 Ali bin Ahmad al-Mu’tadhid Al-Muktafi 289-295 H 18 Ja’far bin Ahmad al-Mu’tadhid Al-Muqtadir 295-320 H 19 Muhammad bin Ahmad al-Mu’tadhid Al-Qahir 320-322 H 20 Muhammad Ar-Radhi 322-329 H
10 bin Ja’far al-Muqtadir 21 Ibrahim bin Ja’far al-Muqtadir Al- Muttaqi 329-333 H 22 Abdullah bin Ali al-Muktafi Al- Mustakfi 333-334 H 23 Al-Fadhl bin Ja’far al-Muqtadir Al-Muthi 334-363 H BUWAIHID 24 Abdul Karim ibnul-Fadhl Al-Muthi’ Ath-tha’i 363-381 H 25 Ahmad bin Ishaq ibnul-Muqtadir Al-Qadir 381-422 H 26 Abdullah bin Ahmad al-Qadir Al-Qaim 422-467 H 27 Abdullah bin Muhammad ibnul-Qaim Al-Muqtadi 467-487 H SALJUK 28 Ahmad bin Abdullah al-Muqtadi Al-Mustazhhir 487-512 H 29 Al-Fadhl bin Ahmad al-Mustazhhir Al-Mustarsyid 512-529 H 30 Manshur Ar-Rasyid 529-530 H
11 ibnul-Fadhl Al-Mustarsyid 31 Muhammad bin Ahmad al-Mutazhhir Al-Muqtafi 530-555 H 32 Yusuf bin Ahmad al-Muqtafi Al-Mustanjid 555-566 H 33 Al-Hasan bin Yusuf al-Mustanjid Al-Mustadhi’ 566-575 H 34 Ahmad ibnul-Hasan al-Mustadhi Al-Nashir 575-622 H 35 Muhammad bin Ahmad an-Nashir Az-Zahir 622-623 H 36 Manshur bin Muhammad az-Zhahir Al-Mustanshir 623-640 H 37 Abdullah bin Manshur al-Mustanshir Al- Mu’tashim 640-656 H
Ciri-ciri utama masa pemerintahan Bani Abbasiyah kedua adalah:
1. Lemahnya para khalifah dan dominasi kalangan militer terhadap pusat kekuasaan.
2. Munculnya negeri-negeri kecil akibatbanyaknya pemimpin yang memisahkan dari pusat kekuasaan.
12
3. Munculnya peradaban-peradaban Islam masa lalu di masa ini dalam bentuk ilmu pengetahuan, pembangunan, kemewahan dan foya-foya. 4. Munculnya gerakan yang menamakan dirinya sebagai kelompok Bani
Hasyim serta gerakan kebatinan.
5. Serangan pasukan salib ke wilayah kaum muslimin.
6. Serangan pasukan Mongolia dan dihancurkannya pemerintah
Abbasiyah dan jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H.13
C. Perkembangan Politik Masa Bani Abbasiyah
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman Bani Umayyah, tetapi memuncak di zaman Bani Abbasiyah terutama setelah khalifah-khalifah menjadi lemah dalam tangan tentara pegawai Turki. Daerah-daerah yang jauh letaknya dari pusat pemintahan di Damaskus dan kemudian di Baghdad, melepaskan diri dari
kekuasaan khalifah di pusat dan muncullah dinasti-dinasti kecil.14
Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan
mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayyah. Dan kedua, pengutamaan orang-orang turunan Persia. Akan tetapi kekuasaan dan pengaruh Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus masih tetap eksis dibawah pemerintahan khalifah-nya, Marwan. Pada masa awal berdirinya Dinasti Abbasiyah ini, terjadi dualisme kekuasaan yaitu kekuasaan Dinasti Umayyah yang sedang berada dalam keadaan lemah namun tetap dipandang sebagai ancaman serius bagi kedaulatan Dinasti Abbasiyah yang baru muncul dan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang sedang bangkit. Untuk menghadapi kekuatan Dinasti Umayyah tersebut, Abu al-Abbas menyiapkan pasukan dibawah komando Abdullah bin Ali. Akhirnya terjadilah pertempuran yang dahsyat antara pasukan Abbasiyah
13
Ahmad al-Usairy, loc.cit..hlm.245
14
13
dengan pasukan Umayyah di lembah sungai Az-Zab. Dalam pertempuran
ini, pasukan Umayyah mengalami kekalahan.15
Disisi lain, kemajuan politik yang terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah ini adalah masuknya orang-orang Persia ke dalam pemerintahan. Dinasti ini telah memberikan peluang yang cukup besar kepada orang-orang Mawali keturunan Persia untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan strategis seperti jabatan-jabatan Wazir. Dengan demikian, pengaruh Persia semakin signifikan dalam tatanan kehidupan politik pada masa itu. Kehidupan ala Persia menjadi trend-setter, baik pemikiran maupun gaya hidup. Hal ini berlaku tidak hanya pada kalangan masyarakat awam, akan tetapi juga terjadi di kalangan elit pemerintahan.
Masuknya orang-orang Persia ke dalam jajaran pemerintahan Dinasti Abbasiyah, tidak dapat dipungkiri karena mereka juga telah memainkan peranan yang sangat penting dalam menegakkan eksistensi Dinasti Abbasiyah pada periode awal berdirinya Dinasti ini. Disamping politik balas budi‖, masuknya orang-orang Persia ke dalam jajaran penting pemerintahan Dinasti Abbasiyah dimungkinkan karena Dinasti ini mengedepankan politik terbuka. Hal ini sangatlah berbeda dengan apa yang selalu dipraktekkan oleh Dinasti Umayyah yang bersifat
Arab-Sentris.16
Pada zaman ini, daulah Abbasiyah memberi beberapa perkembangan di bidang politik.
15
Abdullah Manshur, Perkembangan Politik dn Ilmu Pengetahuan pada Dinasti Abbasiyah, Makalah disajikan di STIMED Nusa Palapa Makassar, Makassar Januari 2009.hlm. 17-18
16
14
1. Pola pemerintahan yang diterapkan Dinasti Bani Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah antara lain: a. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi
pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
b. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan Wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen.
c. Pemakaian gelar tahta oleh para khalifah
d. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .
e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah.
2. Periode Abbasiyah adalah era baru dan identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia. Adapun ilmu yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah terdiri dari perkembangan ilmu naqli (sumber dari Al-Qur‘an dan Hadis) yaitu seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, ilmu fiqih, serta pembukuan kitab-kitab
hukum.17
3. Disintegrasi dalam sejarah politik Islam dan sebab kemunduran Pemerintahan Bani Abbasiyah.sebab kemunduran pemerintahan Bani Abbasiyah, adalah :
a. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.
17
15
b. Dinasti-dinasti yang memerdekan diri dari Baghdad, akibat dari kebijakan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik. Propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas dengan berbagai cara, yaitu : [1] pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko, [2] seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, seperti daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. [3] Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko, propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti, karena pemerintahan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatsi pergolakan yang muncul. Tetapi pada saat wibawa khalifah sudah mulai lemah dan memudar, mereka melepaskan diri dari pemerintahan Baghdad, bahkan mereka menggerogoti kekuasaan khalifah dan berusaha menguasai khalifah itu sendiri.
c. Keruntuhan kekuasaan Bani Abbasiyah mulai terlihat sejak awal kesembilan. Fenomena ini muncul bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka kuat dan benar-benar independen. Sebab, kekuasaan militer Abbasiyah pada saat itu mulai mengalami kemunduran dan sebagai pengganti, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang professional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki. Pengangkatan anggota meliter Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya ternyata menjadi
ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah.18
d. Pada periode pertama pemerintahan dinasi Abbasiyah, sudah
muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu’ubiyah
[kebangsaan/anti Arab]. Gerakan inilah yang banyak memberikan
18
16
inspirasi terhadap gerakan politik dan persoalanpersoalan
keagamaan. Nampaknya, para khalifah Abbasiyah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. Fanatisme ini, berkembang dalam hampir semua aspek kehidupan, seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah, tetapi penguasa Abbasiyah tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut, sehingga ada di antara mereka justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan.
e. Faktor-faktor penting lain yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah pada periode ini, sehingga banyak daerah memerdekan diri adalah : [1] Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah. [2] Dengan profesionalisme militer, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. [3] Keuangan negara sangat sulit, karena biaya yang dikeluarkan untuk militer bayaran sangat besar. Maka pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggung memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
f. Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan. Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Membiarkan jabatan tetap dipegang oleh Bani Abbas, karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi, sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk
dinasti-dinasti kecil yang merdeka.19
g. Perang Salib [perang suci] ini terjadi pada tahun 1095, saat Paus Urbanus II berseru kepada Umat Kristen di Eropa untuk melakukan
19
17
perang suci memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh penguasa Seljuk yang menetapkan beberapa peraturan yang memberatkan bagi. Umat kristen yang hendak berziarah ke sana. Perag Salib ini, dipicu oleh peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H [1017 M]. Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa itu berhasil mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanmkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat
Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib.20
D. Ekonomi pada Masa Peradaban Bani Abbasiyah
Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah,
perbendaharaan negara penuh dan berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Khalifah pada masa itu adalah al-Mansyur. Dia betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di mesir, sutra dari syiria dan irak, kertas dari samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.
Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat
20
18
melambungkan perekonomian Abbasiyah. Selanjutnya juga pada masa Al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan sektor pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti emas, perak, tembaga dan besi. Terkecuali itu perdagangan transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi
pelabuhan yang penting.21
Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Kondisi ekonomi yang ada saat itu berkaitan dengan kondisi ekonomi sebelumnya. Namun, berbagai sumber daya alam mulai mengering dan kebutuhan semakin bertambah. Pada masa dahulu negara kaya raya, harta melimpah dan pemasukkan sangat besar. Pada awalnya, negara memanglah kaya raya dan hal ini terus berlangsung sampai Al-Mu’tashim menjadikan bangsaTurki sebagai sekutunya. Seperti yang kita bahas, Al-Mu’tashim terpaksa harus membangun kota baru yang dia lindungi, yaknikota Samara. Onkos pembangunan kota tersebut mencapai mendekati dua belas juta dinar. Bahkan, ketika saat membangun dia melakukan banyak kesalahan sehingga negara harus mengeluarkan ongkos lebih untuk memperbaikinya. Dengan demikian, khalifah terus menerus membutuhkan uang. Sedangkan pemasukkan tidak seperti masa Ar-Rasyid dulu. Pada periode pemerintahan Ar-Rasyid yang kedua, dia sendiri yang langsung
21
19
menangani harta. Sedangkan pada awal pemerintahannya, orang-orang
Barmak yang dipasrahi untuk menguasai harta tersebut.22
Dalam masa ini khalifah berusaha untuk mendaptakan pemasukkan-pemasukkan baru. Lalu, mereka mendapatkan hal tersebut pada para pencatat pajak. Orang-orang tersebut tidak pernah menyetorkan pajak yang mereka dapatkan ke kas negara. Sebelum memberikannya ke Baitul Mal, mereka mengambil pajak tersebut dan membaginya diantara
mereka.23 Secara garis besar semenjak masa ini, kondisi menjadi sangat
buruk. Penyitaan harta merupakan cara terpenting bagi khalifah untuk
mendapatkan pemasukkan.24
E. Administrasi Pemerintahan
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat. Fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama Diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang Raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha Negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy.
22
Yusuf Al-Isy, loc.cit .hlm. 114
23
Ibid..hlm. 115
24
20
Khalifah al-Mansur juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa Dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat, pada masa al-Mansur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku Gubernur setempat kepada Khalifah.
F. Hukum
Sistem pemerintahan di masa pertama Bani Abbasiyah, yaitu masa yang terbentang hingga peride al-Makmun. Dasar pemerintahan tersebut diletakkan oleh Abu Ja’far Al-Manshur. Dia meletakkan hukum negara dengan pemikirannya. Bentuk tersebut berlangsung dengan sedikit perubahan hingga masa Al-Makmun, tidak ada perubahan besar kecuali dalam beberapa hal seperti yang akan kita lihat.
Sistem tersebut adalah sistem hukum pribadi yang diikat oleh Syari’at Al-Quran. Ia adalah sistem yang berdasarkan pemikiran agama. Al-Manshur pernah berkata.”sesungguhnya aku adalah Sultan Allah di Bumi-Nya. Aku memimpinkalian denga karunia, pengarahan dan dukungan-Nya. Aku menjaga dan memperlakukan harta-Nya dengan kehendak dan keinginan-Nya. Dan aku memberikannya dengan idzin-Nya.”
Dengan demikian, dasar kekuasaan tersebut adalah agama. Dalam masalah hukum, ia menganggap dirinya sebagai wakil kekuasaan Allah. Hukum tersebut tidak dibedakan antara orang Arab dan Non-Arab,
21
karena mereka semua adalah sama. Mereka adalah raktay yang dipimpin oleh oleh seorang pemimpin dengan menggunakan hukum dan kehendaknya. Agama memiliki madzab tertentu, yaitu madzab ahlu sunnah wal jamaah. Ia memerangi setiap zindik dan firqah-firqah yang keluar dari sunnah dan jamaah. Madzab hukum tersebut tidak hanya berlaku pada masa Abbasiyah pertama saja, tetapi berlaku pada semua masa Bani Abbasiyah, meskipun pemimpin adalah pemilik kekuatan, tetapi ia selalu
berada dari satu waktu ke waktu yang lain.25
25
22
BAB III A. KESIMPULAN
Pada awalnya Muhammad bin Ali, keturunan dari Abbas
menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan
pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.
Kemajuan Bani Abbasiyah begitu pesat hingga beragam. Terlebih dalam ilmu pengetahuan. Saat itu pusat ilmu pengetahuan dunia berada di tangan umat Islam. Puncak keemasan dinasti Abbasiyah terletak pada periode pertama puncak keemasan daulah Bani Abbasiyah adalah terletak pada periode I yaitu pada masa khalifah Harun Rasyid dan juga terletak pada masa khalifah al-Makmun (putra Harun al-Rasyid). Hingga saat ini masih dapat dijumpai warisan ilmu pengetahuan setelah puing-puing keruntuhan bani Abbasiyah tersebut.
Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian
23
diikuti oleh Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan.
B. SARAN
Kegemilangan masa yang keemasan masa lalu tidak akan ada artinya jika kini kita hanya berdiam meratapi harta yang telah hilang. Masa peradaban Islam yang maju tidak akan berbekas jika para umatnya di masa lalu dan masa kini tidak berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadits. Sudah banyak peristiwa yang ditunjukkan oleh Allah mengenai umat-umat yang melalaikannya sehingga Allah menggilasnya dengan roda nafsu dan angkara murka. Jadi jadilah umat yang berpegang teguh pada hukum Islam dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya.
24
Daftar Pustaka
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam III, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1992) Abdullah Manshur, Perkembangan Politik dn Ilmu Pengetahuan pada Dinasti
Abbasiyah, Makalah disajikan di STIMED Nusa Palapa Makassar, Makassar Januari 2009
Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2007) Ahmad Fuad Effendy, Sejarah Peradaban Arab dan Islam (Malang: Misykat,
2012)
Hujair A.H. Sanaky, Pemikiran dan Peradaban Islam , Makalah disajikan dalm perkuliahan pemikiran dan peradaban Islam di Universitas Islam Indonesia
Fakultas Tarbiyah PAI dan Ilmu Kedokteran, Jogjakarta, 2008. Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah), 2013) Tihawati, Sejarah Peradaban Islam, Makalah, Pasca Sarjana UIN Malang Tahun
2012.