97
ANALISA DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini, karakteristik responden terdiri atas usia, status pernikahan, pengalaman kerja, dan tingkat pendidikan.
1. Usia
Pada penelitian ini usia responden adalah usia 20-30 tahun sebanyak 43 responden (53,75%), 31-40 tahun sebanyak 33 responden (41,25%), dan usia 40-50 tahun sebanyak 4 responden (5%). Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa usia pekerja di PT. Flambindo Cortama termasuk ke dalam kelompok usia yang produktif untuk kerja. Usia produktif adalah usia antara 15 – 64 tahun. Usia 20-30 tahun merupakan golongan usia muda. Pada usia tersebut merupakan usia yang masih memiliki tingkat ketahanan fisik yang kuat dan tingkat kecekatan dalam bekerja yang masih baik. Pada usia 31-40 tahun merupakan golongan usia menengah. Pada usia tersebut tingkat ketahanan fisik dan tingkat kecekatan dalam bekerja mulai menurun. Sedangkan pada usia 40-50 tahun merupakan golongan usia tua. Pada usia tersebut tingkat ketahanan fisik dan tingkat kecekatan dalam bekerja sangat rendah dan sangat terbatas.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Lechman (1972) bahwa usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja. Dengan bertambahnya usia, kecekatan, kekuatan fisik dan kesehatan akan ikut mengalami kemunduran. Di PT. Flambindo Cortama memiliki usia pekerja terbanyak pada kisaran usia 20-30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja di PT. Flambindo Cortama memiliki pekerja yang mempunyai ketahanan fisik dan kecekatan dalam bekerja yang baik.
2. Status Pernikahan
Status pernikahan menjadi salah satu pertanyaan di dalam penelitian ini, karena menurut Attwood, Joseph, dan Danz-Reece (2004) shift kerja akan mempengaruhi kehidupan pribadi dan sosial pekerja, salah satunya adalah aktivitas sosial bersama keluarga. Hal ini disebabkan terkadang pekerja tidur saat kegiatan sosial berlangsung, sehingga pekerja sulit memberikan waktunya pada keluarga, berkumpul dengan teman atau berinteraksi dengan masyarakat untuk mendapatkan nilai sosial yang besar. Dalam penelitian ini, dari 80 responden, 72 responden (90%) berstatus menikah.
3. Pengalaman Kerja
Poin lain dalam penelitian ini adalah pengalaman kerja. Responden yang dipilih adalah pekerja yang mempunyai pengalaman kerja minimal 1 tahun. Dari responden yang ada, sebanyak 52 responden (65%) memiliki pengalaman kerja antara 1-5 tahun, 22 responden (27,5%) memiliki pengalaman kerja antara 5-10 tahun, dan 6 responden (7,5%) memiliki pengalaman kerja selama lebih dari 10 tahun. Sebagian besar responden memiliki pengalaman kerja 1-5 tahun, sedangkan yang lainnya memiliki
pengalaman kerja 5-10 tahun lebih. Watjana (1971) menyatakan bahwa tenaga kerja yang mempunyai masa kerja yang cukup lama akan membantu dalam pelaksanaan tugas sehingga diharapkan produktivitas akan naik. Selain itu dalam penelitian ini, lamanya pengalaman kerja dapat dijadikan sebagai acuan bahwa responden telah berpengalaman dengan sistem shift kerja dan memahami serta merasakan keluhan-keluhan yang terjadi selama bekerja dengan sistem shift kerja.
4. Tingkat Pendidikan
Poin berikutnya adalah tingkat pendidikan responden di PT. Flambindo Cortama. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam bekerja. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan mencerminkan kecerdasan dan keterampilan tertentu sehingga kesuksesan kerja dapat diperkirakan dari latar belakang pendidikan seseorang yang akan berpengaruh terhadap penampilan kerja. Menurut As’ad (1987) bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin cenderung sukses dalam bekerja. Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di bagian produksi adalah lulusan SMP. Hal ini dikarenakan pada bagian produksi ini, perusahaan lebih mementingkan keterampilan dibanding tingkat pendidikan.
5.2 Dampak Shift Kerja Terhadap Performansi, Kesehatan dan Psikososial
Menurut Attwood, Joseph, dan Danz-Reece (2004) shift kerja berdampak pada performansi, kesehatan, dan psikososial.
1. Performansi Kerja
Berkurangnya jumlah dan kualitas tidur pekerja malam mengacu pada berkurangnya performansi pekerja. Pada beberapa pekerjaan, interaksi yang terjadi pada kondisi tubuh dengan kesulitan tidur dapat menimbulkan penurunan performansi dan keselamatan pekerja malam secara signifikan.
2. Kesehatan dan Keselamatan Pekerja
Suatu sistem syaraf manusia biasanya memiliki daya tolak yang luar biasa terhadap perubahan yang tiba-tiba. Jadi, penjadwalan kerja seharusnya diatur sehingga tidak mengganggu sistem syaraf tersebut secara berlebihan. Biasanya hal ini dilakukan dengan memberikan perubahan yang bersifat sementara dan berikutnya pekerja dikembalikan pada kondisi normalnya. Misalnya, seorang pekerja hanya menjalani satu shift malam dalam dalam satu minggunya. Cara lain, adalah dengan memberikan perubahan yang permanen pada pekerja, hingga ia terbiasa dengan keadaan tersebut. Contoh, pekerja tersebut melakukan shift malam terus menerus tanpa diselingi oleh shift yang berlainan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pekerja yang mengalami gangguan kesehatan, seperti kesulitan pencernaan dan sulit tidur, biasanya dipengaruhi negatifoleh shift malam.
3. Interaksi sosial
Kebutuhan seseorang pasti berbeda-beda. Permasalahan pokok yang berhubungan dengan shift kerja adalah terkadang pekerja tidur saat kegiatan sosial berlangsung. Hal ini menyebabkan pekerja sulit memberikan waktunya pada keluarga, berkumpul dengan teman atau berinteraksi dengan masyarakat untuk mendapatkan nilai sosial yang besar. Sedangkan kegiatan harian lain seperti hobi, olah raga, belanja atau menonton televisi sebagai hiburan dapat dilupakan.
5.2.1 Dampak Shift Kerja Terhadap Performansi
Performansi kerja seseorang dapat berpengaruh dikarenakan kelelahan atau kurangnya istirahat. Dalam kasus ini, performansi seseorang terpengaruh karena pergantian shift kerja yang terjadi pada tiap minggunya. Seorang pekerja yang bekerja pada shift pagi dan minggu berikutnya bekerja pada shift malam, maka pekerja tersebut akan melakukan adaptasi pada lingkungan sekitar setiap minggunya. Permasalahan yang banyak terjadi adalah adaptasi setiap orang berbeda-beda, banyak diantaranya memerlukan waktu lama untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru. Keluhan responden shift pagi yang berpengaruh terhadap performansi kerja pekerja adalah responden menyatakan biasa saja dalam melakukan pekerjaan dengan kecepatan yang sama tiap jamnya. Keluhan tersebut disebabkan kurangnya konsentrasi yang diakibatkan oleh rasa kantuk. Rasa kantuk tersebut diakibatkan karena pergantian shift. Pekerja yang sebelumnya bekerja pada shift malam akan sulit beradaptasi untuk bekerja pada shift pagi. Berdasarkan
hasil wawancara, pekerja dapat beradaptasi pada jam kerja shift pagi setelah hari ke 3 shift pagi. Bagi pekerja yang bekerja dengan sistem shift rotasi, fungsi tubuh mereka terus beradaptasi dengan lingkungan sekitar setiap minggunya. Menurut Kuswadji (1997), tubuh manusia sebenarnya mudah menyesuaikan dengan keadaan luar, sebagaimana dengan keluar masuknya matahari. Perbedaan dengan siklus tubuh manusia hanya satu jam per hari. Itu adalah masa maksimal. Pada pekerja shift ada perbedaan selama 8 jam. Ini tentu saja memerlukan penyesuaian selama 8 hari. Dengan kata lain jika seorang pekerja sudah bekerja malam selama satu minggu, maka dia sudah menjadi manusia malam. Jika setelah itu diubah lagi menjadi pekerja siang, dia perlu penyesuaian seminggu pula. Sedangkan keluhan pada performansi yang dirasakan oleh responden shift malam adalah sebagai berikut:
1. Responden menyatakan tidak mampu untuk melakukan suatu tindakan dengan tepat jika terjadi masalah dalam pekerjaan,
2. Responden menyatakan tidak dapat melakukan tindakan yang cepat jika terjadi kesalahan dalam pekerjaan,
3. Responden menyatakan tidak dapat menerima arahan pekerjaan dari atasan dengan baik,
4. Responden menyatakan terkadang tidak dapat mengingat tugas yang diberikan dengan benar,
5. Responden menyatakan terkadang tidak mampu menyampaikan informasi pekerjaan terhadap rekan kerja dengan benar, dan
6. Responden menyatakan terkadang tidak mampu melakukan perencanaan dalam pekerjaan.
Keluhan yang dirasakan pada shift malam lebih banyak dirasakan oleh responden. Hal ini disebabkan karena tuntutan bekerja shift menyebabkan gangguan pada circadian rhythm dan pada metabolisme tubuh kita. Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift. Kerja shift membutuhkan banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul bersama keluarga. Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber daya (energi). Itulah sebabnya mengapa orang yang bekerja pada shift malam sering merasa mengantuk dan kelelahan saat bekerja. Kelelahan dan insomnia adalah keluhan yang umum bagi para pekerja shift. Kelelahan ini akan menurunkan daya konsentrasi, motivasi, daya ingat dan reaksi mental yang dapat mempengaruhi semua aspek kinerja. Selain itu, pekerjaan yang memerlukan kewaspadaan dan tugas monoton lainnya juga akan terpengaruh, karena pada saat bekerja malam hari, seseorang tidak dapat mempertahankan kewaspadaan dan perhatiannya. Menurut Singleton (1972) pada shift malam, konsentrasi atau konsistensi menurun dari waktu ke waktu karena perubahan dari shift pagi ke shift malam. Tubuh pekerja masih memerlukan adaptasi maksimal selama 8 hari akibat bekerja dari shift pagi. Penurunan konsentrasi ini terjadi karena selama malam fungsi fisiologi tubuh benilai rendah. Pola aktivitas tubuh akan terganggu bila bekerja pada malam hari dan maksimum terjadi pada shift malam.
5.2.2 Dampak Shift Kerja Terhadap Kesehatan
Shift kerja menunjukan keterkaitan langsung dengan kesehatan. Gangguan kesehatan yang dimaksud adalah gangguan kesehatan mental dan fisik. Pada gangguan kesehatan mental akan berpengaruh terhadap emosi, motivasi kerja dan mood kerja. Sedangkan pada gangguan kesehatan fisik akan berpengaruh terhadap nafsu makan, pencernaan, dan kualitas dan kuantitas tidur. Pada penelitian ini terdapat persamaan keluhan dampak shift kerja terhadap kesehatan antara shift pagi dan shift malam, persamaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Terkadang merasa mudah marah, 2. Terkadang mudah tersinggung dan 3. Pernah kehilangan nafsu makan.
Pada shift pagi dan shift malam terdapat persamaan keluhan. Hal ini menunjukkan bahwa pada shift pagi maupun shift malam pekerja mengalami keluhan mental. Keluhan mental yang dimaksud adalah adanya rasa cemas, sedih, marah, kesal, khawatir, rendah diri, kurang percaya diri dan lain-lain. Hal ini dapat diakibatkan dari ketidakpuasan pekerja karena kurangnya sosialisasi bersama keluarga yang diakibatkan perputaran shift kerja, atau kurangnya waktu istirahat setelah terjadinya pergantian shift kerja dan jenis kerja yang monoton yang membuat pekerja merasa bosan, mudah tersinggung dan mudah marah. Sedangkan keluhan lainnya yang hanya dirasakan pada shift malam diantaranya adalah :
1. Tidak bisa berusaha bekerja keras untuk mencapai hasil kerja yang baik, 2. Tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu,
3. Tidak senang dalam melakukan pekerjaan, 4. Tidak dapat tidur nyenyak, dan
5. Tidur kurang dari 8 jam.
Keluhan yang dirasakan pada shift malam lebih banyak dirasakan oleh responden dibandingkan pada shift pagi. Emosi akan meningkat dan motivasi kerja akan menurun bagi pekerja yang bekerja di malam hari. Menurunnya motivasi kerja ini disebabkan kelelahan yang timbul karena kurangnya istirahat. Bagi para pekerja giliran malam, masalah timbul pada kebiasaan tubuh. Pekerja malam mengakali dengan tidur di pagi hingga siang hari untuk mengganti kebutuhan tidur 8 jam perhari. Masalahnya, tubuh harus dibuat melawan siklus alami yakni bekerja berdasar cahaya terang dan beristirahat saat gelap malam. Pekerja yang bekerja pada shift malam terpaksa harus istirahat pada siang hari, ketika kondisi tubuhnya terbangun, dan begitu juga sebaliknya. Tidur pada siang hari biasanya lebih pendek dibandingkan dengan tidur pada malam hari, dan kualitas tidur pada siang hari tidak sebaik tidur pada malam hari karena pengaruh cahaya matahari dan kebisingan. Dampak dari rendahnya kualitas dan kuantitas tidur ini dapat memicu kantuk pada saat bekerja. Pada saat seseorang mengantuk, maka ia akan dengan mudah kehilangan konsentrasi sehingga dapat memicu emosi dan motivasi kerja seseorang. Hal lain yang harus diwaspadai adalah akumulasi dari dampak kantuk yang akan terasa setelah beberapa hari. Bukti dari para ahli menunjukkan pengalihan jam tubuh alami mempengaruhi ritme jantung, sehingga memicu perubahan hormonal dan metabolisme. Pengalihan itu ternyata meningkatkan resiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
5.2.3 Dampak Shift Kerja Terhadap Psikososial
Faktor-faktor psikososial dapat mempengaruhi performansi kerja dan kepuasan kerja. Masalah dan gangguan pada umumnya terkait dengan tiga faktor: jadwal shift kerja, perbedaan individu, dan kehidupan pribadi dan sosial pekerja. Dengan adanya pergeseran jadwal shift kerja, kehidupan pribadi dan kehidupan sosial seorang pekerja akan terganggu. Pada peneilitan ini terdapat persamaan keluhan dampak shift kerja terhadap psikososial antara shift pagi dan shift malam, persamaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Terkadang tidak memiliki waktu untuk melakukan hobi,
2. Terkadang tidak memiliki kesempatan berkumpul dengan keluarga, 3. Terkadang tidak memiliki waktu untuk berekreasi,
4. Terkadang tidak memiliki waktu untuk berbincang dengan rekan kerja yang berbeda shift, dan
5. Terkadang tidak dapat ikut serta dalam kegiatan sosial.
Pada shift pagi keluhan yang dirasakan responden memiliki persamaan dengan keluhan yang dirasakan pada shift malam. Namun tingkat keluhan yang dirasakan lebih besar pada shift malam. Hal tersebut diakibatkan dari perputaran shift kerja yang memberi pengaruh terhadap pekerja baik pada shift pagi maupun pada shift malam. Ketika para pekerja adalah bagian dari sistem perputaran jadwal shift, mereka merasa sulit untuk mengembangkan dan mempertahankan interaksi sosial dengan teman-teman yang kebetulan berada di pergeseran berbeda karena proses rotasi. Oleh karena itu, pekerja tersebut dapat mengalami isolasi sosial. Selain itu, perputaran shift kerja mempengaruhi terhadap tingkat sosialisasi pekerja karena interaksinya
terhadap lingkungan menjadi terganggu, seperti aktivitas sosial bersama keluarga, teman serta berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi, pendidikan, dan masyarakat. Dampak sosial tersebut akan berpengaruh terhadap kepuasan kerja pekerja. Sedangkan keluhan lainnya pada shift malam yang tidak dirasakan pada shift pagi adalah responden tidak memiliki waktu untuk mengobrol dengan keluarga seusai bekerja. Pada shift malam, pekerja memiliki waktu yang lebih sedikit untuk melakukan interaksi sosial. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa pekerja shift terkadang tidur saat kegiatan sosial berlangsung. Hal ini menyebabkan pekerja sulit memberikan waktunya pada keluarga, berkumpul dengan teman atau berinteraksi dengan masyarakat untuk mendapatkan nilai sosial yang besar.
5.3 Pengaruh Shift Kerja Terhadap Kelelahan Fisik
Secara fisiologis, kelelahan yaitu penurunan kekuatan otot yang disebabkan oleh kehabisan tenaga dan peningkatan sisa-sisa metabolisme. Kelelahan terjadi karena beberapa hal, misalnya melakukan aktifitas monoton, beban kerja dan waktu kerja yang berlebihan, lingkungan kerja, fasilitas kerja, keadaan psokologis dan keadaan gizi. Sebagian besar kecelakaan kerja ada kaitannya dengan kelelahan kerja. Untuk meminimasi kelelahan, ada baiknya memperhatikan kondisi kerja terlebih dahulu, terutama pada saat shift malam. Lama shift kerja tidak terlalu panjang, dan penyiapan yang baik sebelum tugas malam dengan memperhatikan kondisi kerja, agar penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja dapat menurun.
Keluhan fisik yang sering dirasakan pekerja setelah bekerja adalah sebagai berikut :
1. Responden sering merasa sakit di bagian lengan atas kanan 2. Responden sering merasa sakit di bagian pergelangan tangan kiri
3. Responden sering mearsa sakit di bagian pergelangan tangan kanan 4. Responden sering merasa sakit di bagian paha kiri
5. Responden sering merasa sakit di bagian paha kanan 6. Responden sering merasa sakit di bagian betis kiri 7. Responden sering merasa sakit di bagian betis kanan
8. Responden sering merasa sakit di bagian pergelangan kaki kiri
9. Responden sering merasa sakit di bagian pergelangan kaki kanan 10. Responden sering merasa sakit di bagian kaki kiri
Berdasarkan hasil identifikasi terhadap nordic body map kuesioner, responden merasakan keluhan fisik pada segmen tubuh yang sama baik pada shift pagi maupun pada shift malam. Hal ini menunjukkan bahwa shift kerja tidak mempengaruhi permasalahan pada keluhan fisik, namun dapat diakibatkan dari jenis pekerjaan dan beban kerja pada shift pagi maupun shift malam adalah sama.
Dari keluhan-keluhan yang dirasakan responden diatas, berdasarkan nilai persentase diatas 50%, keluhan yang paling banyak dirasakan responden adalah pada bagian betis kiri dan betis kanan dan juga pada bagian kaki kiri dan kaki kanan. Hal ini dikarenakan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan responden berdiri selama melakukan pekerjaannya. Departemen produksi yang mengharuskan pekerja berdiri secara terus-menerus diantaranya adalah
pada bagian press, cutting, welding, turret. Keluhan-keluhan yang dirasakan pekerja tersebut sebaiknya diatasi dengan memperbaiki posisi kerja pekerja. Pihak perusahaan harus dapat meminimasi keluhan yang dirasakan pekerja. Keluhan tersebut apabila dibiarkan akan menjadi rasa sakit yang berkepanjangan bagi pekerja. Khususnya pada shift malam, dimana fungsi fisiologi sedang mengalami pemulihan, sehingga pekerja shift malam sangat rentan terhadap keluhan fisik. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan mengatur cara kerja dan posisi kerja pekerja. Untuk dapat melakukan perbaikan ini maka perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut sehingga dapat membantu meringankan cara kerja pekerja di PT. Flambindo Cortama.
5.4 Pengaruh Shift Kerja Terhadap Denyut Nadi
Pengukuran denyut nadi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kelelahan kerja bagi pekerja shift. Rata-rata denyut nadi seorang pekerja yang tinggi mengindikasikan bahwa tingkat kelelahan dan beban kerja yang dialami pekerja tersebut tinggi. Secara umum semua fungsi tubuh meningkat pada siang hari, mulai melemah pada sore hari dan menurun pada malam hari untuk pemulihan dan pembaharuan. Kondisi melemahnya fungsi tubuh ini, ditambah dengan tuntutan tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk dapat mengakibatkan kelelahan. Selain itu, kemungkinan adanya lingkungan fisik yang terlalu menekan, kurangnya kontrol yang dirasakan akibat melemahnya fungsi tubuh dan kurangnya hubungan interpersonal skill pada shift malam menjadi penyebab melemahnya fungsi tubuh.Dalam penelitian ini, pengukuran denyut nadi dilakuan pada saat sebelum bekerja, saat bekerja,
dan saat setelah bekerja. Hasil pengukuran denyut nadi tersebut kemudian diuji hipotesis ANOVA untuk mengetahui apakah terdapat pebedaan signifikan antara denyut nadi shift pagi dengan denyut nadi shift malam.
1. Pengukuran Denyut Nadi Saat Sebelum Bekerja
Hasil pengujian hipotesis ANOVA, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara denyut nadi shift pagi dengan denyut nadi shift malam saat sebelum bekerja. Meskipun demikian, bila dilihat secara grafik rata-rata denyut nadi pada shift malam masih menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan shift pagi. Hal ini disebabkan pada saat sebelum bekerja, khususnya pada shift malam pekerja telah melakukan aktifitas diluar pekerjaan sebelum ia mulai bekerja. Hal lainnya juga dapat disebabkan dari perbedaan lingkungan yang terjadi di pagi hari dan di malam hari, atau dapat diakibatkan dari keadaan mental pekerja yang tidak siap untuk bekerja pada malam hari.
2. Pengukuran Denyut Nadi Saat Bekerja
Hasil pengujian hipotesis ANOVA, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara denyut nadi shift pagi dengan denyut nadi shift malam saat bekerja. Pada umumnya, tubuh manusia bersistirahat pada malam hari sehingga denyut nadi mengalami penurunan untuk recovery, namun bagi pekerja shift yang bekerja pada malam hari menyebabkan pengaturan sirkulasi dalam tubuh manusia untuk bekerja lebih pada malam hari yang menyebabkan denyut nadi pada shift malam mengalami peningkatan karena memaksakan untuk bekerja. Pada shift malam, tingkat kelelahan saat bekerja lebih tinggi, hal tersebut dapat dilihat pada grafik denyut nadi bahwa
rata-rata denyut nadi pada shift malam lebih besar dari pada rata-rata-rata-rata denyut nadi pada shift pagi. Intensitas lamanya bekerja juga dapat mempengaruhi kerja denyut nadi. Oleh karena itu, perancangan jadwal shift kerja yang baik perlu dilakukan.
3. Pengukuran Denyut Nadi Saat Setelah Bekerja
Hasil pengujian hipotesis ANOVA, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara denyut nadi shift pagi dengan denyut nadi shift malam saat setelah bekerja. Rata-rata denyut nadi pada saat setelah bekerja pada shift pagi maupun shift malam menunjukkan hasil yang hampir mendekati rata denyut nadi pada saatsebelum bekerja. Bila dilihat secara grafis, rata-rata denyut nadi pada shift pagi dan shift malam cukup berdekatan. Hal ini menunjukkan bahwa pada shift pagi maupun pada shift malam, pekerja mempunyai tingkat recovery yang sama. Dari hasil pengukuran denyut nadi, baik pada saat sebelum bekerja, saat bekerja, dan saat setelah bekerja, bila dilihat secara grafik denyut nadi pada shift malam lebih besar dibandingkan dengan denyut nadi pada shift pagi. Hal ini menunjukkan bahwa pada malam hari fungsi fisiologi tubuh manusia tidak dapat melakukan pekerjaan seperti halnya pada saat pagi atau siang hari. Selain itu pengaruh-pengaruh dari luar menjadi fakor penyebab denyut nadi di malam hari labih tinggi dibandingkan di pagi hari ataupun siang hari. Seperti pengaruh dari lingkungan, kondisi kesehatan, dan kondisi psikis menjadi salah satu faktor penyebab denyut nadi di malam hari lebih besar dibandingkan di pagi hari.
shift malam lebih besar dari pada denyut nadi pada shift pagi, rata-rata denyut nadi ini menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan responden masih dalam kategori pekerjaan ringan hingga sedang yaitu berada diantara 60-100 detak/menit (suma’mur, 1989). Hal ini menunjukkan bahwa jenis pekerjaan yang ada masih bisa diterima oleh fisik pekerja baik pada shift pagi maupun pada shift malam.
5.5 Usulan Perbaikan Shift Kerja di PT. Flambindo Cortama
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, tidak menunjukkan adanya beban kerja yang berat bagi pekerja shift. Tapi apabila merujuk kepada hasil kuesioner dampak shift kerja, terdapat keluhan- keluhan yang mengindikasikan bahwa sistem shift kerja di PT. Flambindo Cortama perlu dilakukan perbaikan. Keluhan-keluhan yang banyak dirasakan oleh pekerja adalah pada variabel kesehatan dan psikososial. PT. Flambindo Cortama memiliki 2 jadwal shift kerja, yaitu shift pagi dan shift malam. Perputaran jadwal shift kerja dilakukan setiap satu minggu. Jumlah jam kerja yang tersedia adalah 8 jam kerja per harinya, namun terkadang dengan jadwal yang tidak pasti, pekerja dikenakan lembur sehingga jam kerja yang diterima oleh pekerja melebihi dari 8 jam kerja. Dengan jadwal shift kerja tersebut, pekerja shift di PT. Flambindo Cortama akan mengalami kesulitan beradaptasi pada lingkungan kerja setiap minggunya. Ketika mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan pada malam hari, mereka akan mengalami kesulitan ketika berpindah pada shift pagi pada minggu berikutnya. Jadwal shift kerja lama dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Jadwal Shift Kerja Lama
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Pagi Malam Off Total
Shift
S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R
1 Grup 1 P P P P P O M M M M M M O O P P P P P O M M M M M M O O P P P 13 12 6 25 2 Grup 2 M M M M M O O P P P P P O M M M M M M O O P P P P P O M M M M 10 15 6 25
Keterangan : P (Pagi) M (Malam) O (Off)
Perbaikan yang diberikan adalah mencoba mengusulkan perubahan jadwal shift kerja menjadi 3 shift kerja dengan pola 2-2-2 (Pola Metropolitan), dengan jadwal jam kerja shift pagi dimulai pada pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 15.00, jadwal jam kerja shift sore dimulai pada pukul 15.00 dan berakhir pada pukul 23.00, jadwal jam kerja pada shift malam dimulai pada pukul 23.00 dan berakhir pada pukul 07.00. Dengan jumlah pekerja yang ada di PT. Flambindo Cortama memungkinkan untuk membuat jadwal shift kerja menjadi 3 shift kerja. Diharapkan dengan jadwal shift kerja yang baru tersebut dapat mengurangi keluhan-keluhan dari dampak shift kerja. Dengan pergantian jadwal shift kerja yang dilakukan setiap 2 hari sekali dan diberikan libur setelah bekerja pada shift malam, memungkinkan pekerja untuk dapat berisitrahat dengan cukup setelah melakukan aktivitas di malam hari. Selain itu, dengan sistem shift kerja tersebut tidak perlu lagi diberikan jam kerja lembur karena proses produksi telah berlangsung selama 24 jam sehingga dengan demikian secara tidak langsung juga dapat mengurangi upah pekerja.
Tabel 5.2
Usulan Jadwal Shift Kerja Baru
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Pagi Sore Malam Off Total Shift S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R 1 Grup 1 P P S S M M O O P P S S M M O O P P S S M M O O P P S S M M O 8 8 8 7 24 2 Grup 2 S S M M O O P P S S M M O O P P S S M M O O P P S S M M O O P 7 8 8 8 23 3 Grup 3 M M O O P P S S M M O O P P S S M M O O P P S S M M O O P P S 8 7 8 8 23
Keterangan : P (Pagi) M (Malam) O (Off)
Dipilihnya jadwal shift kerja dengan pola 2-2-2 (Pola Metropolitan) adalah untuk mempersingkat sisitem rotasi shift kerja. Dengan mempersingkat rotasi shift kerja maka dapat mempersingkat pula tingkat adaptasi pekerja ketika dilakukan pergantian jadwal shift kerja dari malam ke pagi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, menurut Kuswadji (1997), perbedaan siklus tubuh manusia hanya satu jam per hari. Itu adalah masa maksimal. Pada pekerja shift ada perbedaan selama 8 jam. Ini tentu saja memerlukan penyesuaian selama 8 hari. Dengan kata lain jika seorang pekerja sudah bekerja malam selama satu minggu, maka dia sudah menjadi manusia malam. Jika setelah itu diubah lagi menjadi pekerja siang, dia perlu penyesuaian seminggu pula. Dengan diberlakukannya pola shift kerja 2-2-2, pekerja dapat melakukan penyesuaian pada saat libur setelah bekerja malam.
5.6 Usulan Perbaikan Cara Kerja Terhadap Kondisi Fisik Pekerja
Berdiri merupakan salah satu postur alami manusia yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya kesehatan tertentu. Tapi jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama hal ini akan mempengaruhi kondisi tubuh, sama
seperti halnya bahaya terlalu lama duduk.
Bekerja dalam posisi berdiri untuk jangka waktu panjang secara teratur bisa menyebabkan kaki sakit, pembengkakan kaki, varises, kelelahan otot umum, nyeri pinggang serta kekakuan pada leher dan bahu.
Hal ini karena tubuh dipengaruhi oleh pengaturan daerah kerja sehingga membatasi posisi-posisi tubuh pekerja dalam beraktivitas. Akibatnya tubuh pekerja hanya memiliki sedikit kebebasan bergerak dan menjadi lebih kaku. Kurangnya fleksibilitas tubuh akan menyebabkan masalah kesehatan.
Bekerja dalam posisi berdiri pada jangka panjang akan menimbulkan ketidaknyamanan dan akhirnya jika berlangsung terus menerus bisa mengakibakan masalah kesehatan yang parah dan kronis. Terlalu lama berdiri membuat otot menjadi kaku sehingga secara efektif bisa mengurangi suplai darah ke otot-otot. Akibatnya aliran darah berkurang sehingga mempercepat timbulnya kelelahan dan menyebabkan nyeri pada otot-otot punggung, kaki dan leher (otot-otot ini digunakan untuk mempertahankan posisi tubuh). Pekerja tidak hanya merasakan ketegangan otot tapi juga ketidaknyamanan lainnya seperti berkumpulnya darah di kaki, serta berdiri terlalu lama mengakibatkan radang pembuluh darah. Peradangan ini dari waktu ke waktu berkembang menjadi varises kronis dan menyakitkan. Selain itu juga bisa menyebabkan sendi di tulang belakang, pinggul, lutut dan kaki menjadi seperti terkunci yang nantinya memicu terjadinya penyakit rematik degeneratif akibat kerusakan pada tendon dan ligamen (struktur yang mengikat otot tulang). Meski begitu beberapa hal bisa dilakukan pekerja untuk mengurangi dampak yang tidak menyenangkan, yaitu sebagai berikut
a. Menggunakan alas kaki yang nyaman.
b. Jika memang harus menggunakan sepatu bertumit sebaiknya pilihlah tinggi sepatu yang kecil atau di bawah 5 cm.
c. Usahakan untuk duduk disela-sela waktu kerja atau setidaknya ketika ada waktu istirahat melakukan peregangan secara teratur misalnya setidaknya 30 menit atau 1 jam, peregangan dilakukan untuk mengurangi tekanan pada kaki, bahu, leher dan kepala.
3. Untuk dapat merumuskan strategi sistem shift kerja yang baik, maka perlu ditentukan kriteria perancangan. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
a. Waktu kerja tiap hari tidak boleh lebih dari 8 jam
b. Jumlah shift kerja malam yang berurutan untuk seorang pekerja, harus ditekan sekecil mungkin
c. Setiap shift malam harus diikuti dengan waktu libur stidaknya 24 jam d. Tiap perencanaan shift kerja mesti meliputi akhir pekan, paling
tidak 2 hari berurutan.
e. Untuk pekerja malam dan sore hari, tingkat penerangan tinggi harus tersedia. Selain itu, stimulant bagi pekerja agar pekerja tetap terjaga dan waspada perlu dilaksanakan, seperti pemutaran music, penyediaan minuman berkafein dan makanan panas.
f. Berdasarkan hasil penelitian, didapat strategi perbaikan, yaitu strategi perbaikan shift kerja. Strategi tersebut adalah merubah sistem shift kerja menjadi 3 shift dengan sistem rotasi cepat atau dengan pola 2-2-2