Cita-cita bagi setiap orang adalah hidup

Teks penuh

(1)

Pendekatan Kelembagaan dalam Pembinaan

Keagamaan bagi Lanjut Usia

Hadi Carito

Staf Ahli Menteri Sosial RI dan mantan Kepala Puslitbang Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI

Abstract:

A variety of constraints confronted naturally by the elders necessitate special treatment in dealing with it. The existence of elder care, whether it is owned by the government or private sector, is expected to give the best service, including religious guidance for the elders. A possible solution in religious guidance for elders is by an institutional approach. Apparently, it is needed, a policy relating to the development of elder care, such as, restructuring organization and operation procedure including rehabilitating elder care facilities, opening the opportunity to optimize actualizing social welfare service duties more professionally, eff ectively, and effi ciently.

Keyword: Institutional approach, guidance

alternative, elders

Pendahuluan

C

ita-cita bagi setiap orang adalah hidup selamat di dunia dan akhirat. Oleh karena itu pembinaan keagamaan sesungguhnya sangat diperlukan agar dapat menuntun manusia untuk mencapai cita-cita tersebut. Pembinaan keagamaan tidak hanya ketika masa lanjut usia, tetapi seyogyanya sejak lahir.

Beberapa konsep tentang lanjut usia dapat dij elaskan. Secara individu, seseorang

(2)

disebut lanjut usia jika telah berumur 60 tahun ke atas (di negara berkembang) atau 65 tahun ke atas (di negara maju). Di antara lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas dikelompokkan lagi menjadi young old (60-69 tahun), old (70-79 tahun) dan old-old (80 tahun ke atas).

Dari aspek kesehatan, seseorang disebut sebagai lanjut usia (older

person) jika berusia 60 tahun ke atas. Sedangkan penduduk yang berusia

antara 49-59 tahun disebut sebagai pra-lanjut usia. Lanjut usia yang berusia 70 tahun ke atas disebut sebagai lanjut usia berisiko.

Dari aspek ekonomi, lanjut usia (60 tahun ke atas) dikelompokkan menjadi: (a) lanjut usia yang produktif yaitu lanjut usia yang sehat baik dari aspek fi sik, mental maupun sosial; dan (b) lanjut usia yang tidak produktif yaitu lanjut usia yang sehat secara fi sik tetapi tidak sehat dari aspek mental dan sosial; atau sehat secara mental tetapi tidak sehat dari aspek fi sik dan sosial; atau lanjut usia yang tidak sehat baik dari aspek fi sik, mental maupun sosial.

Menurut hasil Susenas tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia mencapai 16.172.835 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 2.426.191 lansia yang telantar dan sebanyak 4,6 juta lansia yang rawan terlantar. Angka ini kemudian meningkat jumlahnya di tahun 2006 mencapai kurang lebih ± 19 juta.

Secara umum kondisi fi sik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan: (1) perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf : otak, isi perut : limpa, hati, (3) perubahan panca indra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar keterampilan baru.

Perubahan-perubahan tersebut di atas berdampak pada beberapa hal, sebagai berikut: pertama, gangguan intelektual. Gangguan ini merupakan kumpulan gejala klinis yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari. Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia (kepikunan berat). Pada usia 85 tahun ke atas, kejadian ini meningkat mendekati 50%. Salah

(3)

satu penyebab adanya gangguan intelektual adalah depresi, sehingga perlu dibedakan dengan gangguan intelektual lainnya.

Kedua, gangguan infeksi, adalah gangguan yang sering didapati

pada lansia. Faktor penyebab lansia mudah terkena penyakit infeksi adalah karena kekurangan gizi, kekebalan tubuh yang menurun, berkurangnya fungsi organ tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Selain itu, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.

Ketiga, gangguan pancaindera, komunikasi, dan kulit. Akibat

proses menua, semua pancaindera berkurang fungsinya. Demikian juga gangguan pada otak, saraf dan otot-otot yang digunakan untuk berbicara dapat menyebabkan terganggunya komunikasi. Organ kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal. Keempat, gangguan sulit buang air besar (konstipasi). Faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi disebabkan kurangnya gerakan fi sik, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain. Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering. Pada kondisi kronis terjadi karena penyumbatan pada usus yang disertai rasa sakit pada daerah perut.

Kelima, gangguan depresi akibat perubahan status sosial,

bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial, serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia. Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas. Tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berangsur menurun, sulit memusatkan pikiran dan perhatian, minat berkurang, kesenangan yang biasanya dinikmati menjadi hilang, menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang. Pada kelompok ini juga muncul perasaan bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri.

Kondisi gangguan sebagaimana disebutkan di atas, tentunya para lanjut usia mengalami hambatan untuk menunaikan aktivitas

(4)

keagamaannya, sehingga perlu pembahasan kembali agar cita-cita sebagai umat manusia sebagaimana diutarakan sebelumnya dapat terwujud. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahannya adalah, bagaimana pembinaan keagamaan bagi lanjut usia yang mengalami hambatan dan ketergantungan dalam melakukan aktivitas keagamaan.

Pembahasan

Sebagaimana kita ketahui bahwa kondisi lanjut usia telah mengalami beberapa penurunan berbagai fungsi organ yang mereka miliki. Oleh karena itu, agar pembahasan tidak terlalu luas, maka lanjut usia dipandang dari dua kelompok besar yaitu; (1) lanjut usia produktif dan (2) tidak produktif. Lanjut usia produktif adalah golongan lanjut usia yang masih memiliki kemampuan fi sik dan mental untuk melakukan berbagai aktivitas. Sedangkan yang tidak produktif adalah lanjut usia yang memiliki keterbatasan baik fi sik, mental dan ekonomi untuk melakukan aktifi tas dan biasanya memerlukan bantuan orang lain.

Bagi lanjut usia kategori produktif tentunya tidak banyak kendala dalam melakukan pembinaan keagamaan karena mereka masih memiliki kemampuan fi sik, mental untuk melakukan ibadah. Namun kesulitan yang dihadapi dalam pembinaan lanjut usia kategori ini adalah mereka tersebar. Metode yang cocok digunakan adalah pendekatan individual (mikro) yang tentunya membutuhkan petugas-petugas yang mencukupi jumlahnya agar dapat menjangkau para lanjut usia yang jumlahnya lebih banyak. Kemudian pendekatan secara kelompok (mezzo). Pendekatan ini terlebih dahulu membentuk kelompok-kelompok (paguyuban) bagi para lanjut usia dan menetapkan jadwal waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk mendapatkan penyegaran pengetahuan keagamaan.

Pada kategori lanjut usia yang tidak produktif biasanya mereka ditempatkan pada panti-panti lanjut usia. Panti lanjut usia telah memiliki standar pelayanan termasuk di dalamnya pelayanan pembinaan keagamaan. Namun karena para lanjut usia yang berada di panti memiliki kemampuan yang sangat terbatas seperti fi sik dan mental, khususnya daya ingat yang sangat lemah sehingga membutuhkan waktu dalam pembinaannya. Dukungan pendamping lanjut usia yang profesional sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai gangguan

(5)

yang dialami oleh lanjut usia seperti gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas keagamaan. Demikian juga gangguan pancaindera akibat proses menua semua pancaindera dan fungsinya berkurang yang mengakibatkan terganggunya komunikasi.

Gangguan sebagaimana disebutkan di atas tentunya semakin berat apabila yang mengalami adalah lanjut usia non-produktif dan tidak memiliki kemampuan untuk menanganinya. Pada kondisi demikian peran panti sangat dibutuhkan untuk memberikan pelayanan. Jumlah panti tentunya tidak sebanding dengan jumlah lanjut usia yang memerlukan pelayanan panti. Oleh karena itu Panti sosial milik pemerintah diarahkan menjadi pusat pelayanan kesejahteraan sosial. Hal ini sesuai dengan tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan yang prima dan memberikan contoh yang telah distandardisasi bagi masyarakat/swasta yang akan memberikan pelayanan kesejahteraan sosial yang sejenis yang mampu memberikan berbagai jenis pelayanan pencegahan, pemulihan, reintegrasi, perlindungan dan pengembangan serta menjadi sistem pendukung pelayanan sosial lainnya. Panti Sosial harus mampu menjadi pusat informasi pelayanan kesejahteraan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Di samping itu, juga dapat menjadi pusat rujukan bagi panti sosial milik masyarakat/swasta, terutama bagi klien yang membutuhkan pelayanan terpadu atau pengembangan kemampuan secara optimal.

Panti swasta yang mulai berkembang dan tumbuh dimana-mana menuntut panti pemerintah dapat memberikan bantuan teknis (technical

assistance) dalam pengembangan program pelayanannya kepada panti

sosial milik masyarakat/swasta dan sebagai pusat konsultasi bagi pengembangan kapasitas (capacity building) pelayanan panti sosial milik swasta.

Kesimpulan

Keberadaan panti lanjut usia saat ini seiring dengan makin meningkatnya jumlah lanjut usia sangat penting. Oleh karena itu kebijakan terkait pengembangan panti sosial diperlukan seperti melakukan restrukturisasi organisasi dan tata kerja serta rehabilitasi

(6)

sarana prasarana panti sosial. Kemudian menyediakan peluang untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas-tugas pelayanan kesejahteraan sosial secara lebih profesional, efektif, efi sien. ***

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :