1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai macam pulau, suku bangsa, kelompok etnik, bahasa dan agama. Keanekaragaman ini juga akhirnya berpengaruh kepada perilaku, kebiasaan, dan pola komunikasi yang terjadi di antara anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok tertentu. Hal inilah yang membuat Indonesia memiliki berbagai macam budaya yang tersebar dari pulau Sabang sampai Merauke.
Budaya itu sendiri menurut E. B. Tylor (dalam Elly, 2006, 27) diartikan sebagai sebuah bentuk keseluruhan kompleks yang secara umum meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lainnya. Budaya ini sendiri merupakan sebuah kebiasaan yang didapat oleh individu sebagai anggota dari sebuah kelompok masyarakat. Oleh karena itu, budaya meliputi berbagai aspek dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya budaya ini akan diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Budaya yang diwariskan oleh kelompok masyarakat itu sendiri terbagi menjadi warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Warisan budaya benda adalah istilah yang digunakan untuk warisan budaya yang berbetuk dan dapat diindera melalui penglihatan dan perabaan, sebagai contohnya adalah peninggalan artefak dan situs yang di dalamnya termasuk candi, keris, keramik dan lain sebagainya. Warisan budaya tak benda diartikan sebagai warisan budaya yang tidak berbentuk dan tidak dapat diindera oleh penglihatan dan perabaan namun eksistensinya masih ada di masyarakat, sebagai contoh warisan budaya tak benda adalah musik daerah, seni tari, seni pertunjukan dan lain sebagainya (Sumber:
http://www2.pdsp.kemdikbud.go.id/Berita/2015/06/13/Warisan-Budaya-2 BendaWarisan-Budaya-Tak-Benda diakses pada tanggal 08 April 2020). Karena warisan budaya tak benda di Indonesia beraneka ragam, maka warian budaya tak benda dibagi menjadi beberapa kategori.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengkategorikan warisan budaya tak benda menjadi lima kategori di antaranya yaitu adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan; kemahiran dan kerajinan tradisional; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta; seni pertunjukan; dan yang terakhir adalah tradisi dan ekspresi lisan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat ada 9.710 warisan budaya tak benda dari seluruh Indonesia. Sampai saat ini dari 9.710 hasil pencatatan yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, baru 1086 warisan budaya tak benda yang secara resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia dan 52 di antaranya berasal dari Jawa Barat. Salah satu warisan budaya tak benda dalam kategori seni pertunjukan adalah Lais Garut yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2016 (Sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/ diakses pada tanggal 1 Maret 2020).
Gambar 1.1 Seni Pertunjukan Lais Garut (Sumber: internet https://travel.detik.com/)
3 Lais merupakan sebuah seni pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan atraksi di atas seutas tali yang diikat pada dua bilah bambu. Seni pertunjukan yang telah ada sejak lama dan berkembang di daerah Garut, Jawa Barat. Sampai saat ini daerah yang masih melestarikan budaya Lais adalah berasal dari Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Garut. Kesenian Lais ini berasal dari kebiasaan salah satu warga Cibunar yaitu Ahmadi yang sering memanjat pohon lalu bergelantungan dari satu dahan ke dahan lainnya. Kebiasaan memanjat ini lah yang akhirnya berkembang menjadi seni Lais. Saat ini sendiri padepokan Lais yang ada di Desa Cibunar dipimpin dan dikelola oleh generasi ke-lima yang bernama Ade Dadang, padepokan ini bernama Putra Pancawarna Medal Panglipur. Padepokan Lais ini sendiri sudah ada dari tahun 1925. Namun dengan berkembangnya jaman menjadi lebih modern, saat ini kesenian Lais sudah sulit untuk disaksikan kecuali pada acara-acara besar seperti pernikahan atau ulang tahun Kota
Garut (Sumber:
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=272 diakses pada tanggal 09 April 2020).
Padepokan Putra Pancawarna Medal Panglipur sendiri saat ini adalah satu satunya padepokan yang masih bertahan melestarikan budaya Lais di Garut. Oleh karena itu keberadaan dan eksistensi seni pertunjukan Lais semakin hari semakin tercancam punah dan semakin banyak orang
Gambar 1.2 Padepokan Lais Putra Panca Warna Medal Panglipur (Sumber: internet https://youtube.com/)
4 yang tidak mengetahui bahwa di Jawa Barat tepatnya di Garut, terdapat seni pertunjukan ekstrem yaitu Lais yang keberadaanya harus terus dilestarikan. Dengan arus modernisasi yang semakin cepat, teknologi yang semakin berkembang dan berbagai tantangan lainnya, tradisi Lais ini ternyata mampu bertahan hingga saat ini. Menurut ketua padepokan Lais di Cibunar, Ade Dadang mengungkapkan bahwa untuk melestarikan budaya Lais agar tidak punah diperlukan kerjasama yang baik antara seniman Lais, masyarakat, dan pemerintah. Informasi tersebut penulis dapatkan ketika mengunjungi padepokan Lais Pancawarna dan berdiskusi langsung dengan Ade Dadang selaku ketua paguyuban.
Berdasarkan dari permasalahan di atas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat seni Lais ini menjadi sebuah proyek tugas akhir berbentuk film dokumenter dengan mengungkapkan bagaimana perjuangan seniman Lais di Desa Cibunar dalam melestarikan budaya Lais ini. Penulis akan mengungkapkan bagaimana sejarah singkat budaya Lais itu sendiri, bagaimana perjuangan para seniman Lais di Desa Cibunar dalam melestarikan budaya Lais dan bagaimana peran pemerintah dalam membantu melestarikan budaya Lais di Garut. Film dokumenter ini dibuat dengan harapan bisa mengenalkan seni Lais ini kepada khalayak ramai dengan bantuan konten audio dan visual yang menarik. Penulis memilih topik ini karena dari banyaknya warisan budaya tak benda yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Barat, budaya Lais ini belum banyak diangkat oleh media dan banyak masyarakat yang belum mengenal budaya Lais ini sendiri. Film ini ditujukan untuk usia remaja sampai dewasa, dengan harapan agar bisa menginspirasi dan mendorong khususnya generasi muda untuk berperan secara aktif melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak lama. Selain itu secara umum, film dokumenter ini diharapkan dapat menjadi sebuah media informasi yang menggambarkan bagaimana kondisi seni pertunjukan Lais di Kota Garut.
5 1.2 Fokus penelitian
Tugas akhir berbentuk film dokumenter berjudul “Laisan” ini memiliki fokus permasalahan yaitu bagaimana menyajikan kesenian Lais di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut dari mulai sejarah singkat hingga perkembangannya dalam sebuah karya film dokumenter ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan Fokus penelitian yang penulis ungkapkan di atas, maka dalam penyusunan karya film dokumenter “Laisan” ini memiliki tujuan yaitu untuk menyajikan kesenian Lais di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut dari mulai sejarah singkat hingga perkembangannya dalam sebuah karya film dokumenter.
1.4 Manfaat
1 Aspek Teoritis
Dari aspek teoritis manfaat pembuatan proyek tugas akhir berjudul “Laisan” ini adalah sebagai informasi yang berisikan fakta, pengetahuan, dan pengalaman tentang bagaimana perjuangan seniman Lais yang ada di Desa Cibunar dalam melestarikan budaya Lais yang keberadaannya terancam punah. Sehingga pembuatan karya tugas akhir berjudul “Laisan” ini dapat menjadi informasi dan sumber pengetahuan untuk karya tugas tugas akhir dan penelitian-penelitian selanjutnya terutama dalam pembuatan film dokumenter. 2 Aspek Praktis
Proyek film dokumenter ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kesenian Lais kepada masyarakat, khususnya masyarakat di luar wilayah Garut. Selain itu karya film dokumenter ini semoga dapat kembali menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya yang ada, agar budaya yang
6 bangsa ini miliki tidak punah dan hilang tertelan oleh jaman. Proyek film dokumenter ini juga nantinya bisa dipakai oleh para pembuat film sebagai rujukan dan referensi dalam pembuatan film dokumenter ke depannya.
1.5 Cara Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan pada tahapan pra-produksi ini adalah menggunakan teknik wawancara dan observasi.
1. Obervasi
Penulis mengunjungi padepokan Lais Putra Pancawarna Medal Panglipur di Kampung Mayang, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut sebagai riset awal dan menemukan permasalahan-permasalahan yang akhirnya penulis angkat.
2. Wawancara
Selain melakukan observasi penulis juga melakukan wawancara dengan warga serta para seniman Lais di Paguyuban Putra Pancawarna Medal Panglipur untuk mendapatkan informasi yang akurat.
1.6 Skema Rancangan Proyek
Skema rancangan proyek tugas akhir film dokumenter berjudul “Laisan” ini digambarkan dalam skema berikut:
7 Tabel 1.1
Skema Rancangan Proyek
(Sumber: Olahan Penulis 2020) Produksi
Pra Produksi
Merumuskan ide dan tema untuk film dokumenter
Seni pertunjukan Lais di Desa Cibunar, Cibatu, Kabupaten Garut
Melakukan riset dan menentukan konsep, anggaran biaya, skenario, sinopsis, treatment, dan jadwal
pengambilan gambar Proses Pengambilan gambar Editing Online Music Scoring Editing Offline Paska Produksi Shooting Adegan Wawancara
8 1.7 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Dalam melaksanakan pembuatan film dokumenter ini lokasi yang dipilih adalah berada di Kampung Sayang, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut karena lokasi ini adalah tempat di mana subjek dan narasumber dari film dokumenter ini berada. Untuk pelaksanaan pembuatan karya film dokumenter ini diperkirakan adakan berlangsung dari bulan Februari sampai bulan Juli.
Tabel 1.2
Perencanaan Jadwal Pengerjaan Film Dokumenter “Laisan”
Tahap Kegiatan Februari 2020 Maret 2020 April 2020 Mei 2020 Juni 2020 Juli 2020 Agustus 2020 September 2020 Pencarian Data dan Riset Menyusun Proposal Seminar Proposal Produksi Pasca Produksi Penulisan Laporan Bab 4-5