PERAN BALAI PEMASYARAKATAN DALAM PROSES PERADILAN PIDANA ANAK (STUDI DI BALAI PEMASYARAKATAN PEKALONGAN) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
Teks penuh
Dokumen terkait
Proses peradilan tindak pidana untuk anak dilaksanakan sesuai dengan peraturan undang-undang Pengadilan Anak no 3 tahun 1997 dan cara pencegahannya yaitu menciptakan
terhadap anak nakal, maka menurut undang-undang ini tidak selalu anak pelaku tindak pidana harus mendapatkan hukuman penjara. Sebagaimana ditegaskan pada Pasal
terhadap anak nakal, maka menurut undang-undang ini tidak selalu anak pelaku tindak pidana harus mendapatkan hukuman penjara. Sebagaimana ditegaskan pada Pasal
Berdasarkan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, dalam perkara anak nakal, penuntut umum, penasehat hukum, pembimbing kemasyarakatan,
3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak merumuskan bahwa anak nakal adalah : (a) Anak yang melakukan tindak pidana, dan (b) Anak yang melakukan perbuatan yang
Undang-Undang Nomor n Tahun 20 1 2 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (se lanjutnya disebut UU SPPA) menggantikan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Anak Nakal adalah: Anak yang melakukan tindak pidana; atau Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan
Kejahatan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak terhadap anak diatur di dalam Undang-undang No 3 Tahun 1997, tentang Pengadilan Anak dalam pasal 1 ayat (2) adalah anak nakal