JL. MOH. ROEM – GEDUNG GRAHA TAMAN PRAJA BLOK IV LT. 1
TELP/FAX. (0548) 20393
STRATEGI
SANITASI
KOTA
(SSK)
2015
Strategi Sanitasi Kota Bontang
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan melimpahkan berkah serta karunia-Nya kepada kita semua sehingga dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) telah dapat disusun dan disajikan menjadi suatu dokumen perencanaan terkait sektor sanitasi Kota Bontang Tahun 2016 - 2020.
Dokumen ini merupakan pemutakhiran dari dokumen sebelumnya dan merupakan bagian dari Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang digalang oleh Pemerintah Pusat dalam rangka mempercepat pembangunan sektor sanitasi nasional dan mencapai target universal access sanitasi tahun 2019.
Dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) juga merupakan dokumen terbuka (rolling document) dan akan selalu di-update (direvisi) berdasarkan pencapaian kesepakatan pendanaan ataupun sesuai dengan kemajuan yang telah dicapai. Dengan adanya revisi dokumen, disamping untuk mendorong komitmen Pemerintah Kota Bontang dalam menyusun program investasi bidang sanitasi juga diharapkan dapat memberikan penguatan dalam prosedur dan komitmen dukungan pendanaan dari lingkungan eksternal Pemerintah Kota, baik dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Pusat, Bantuan Luar Negeri, Masyarakat atau Kerjasama dengan Swasta serta semua pihak yang peduli terhadap pengembangan sektor sanitasi.
Disadari bahwa penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) ini masih belum sempurna, maka saran dan masukkan demi kesempurnaannya sangat diharapkan untuk perbaikan penyusunan yang akan datang.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan dan penyelesaian Strategi Sanitasi Kota ini kami ucapkan terima kasih. Semoga dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) ini dapat dilaksanakan dengan komitmen penuh dan optimal serta bermanfaat bagi semua pihak. Aamiin.
Bontang, Desember 2015 Pokja Sanitasi Kota Bontang
Ketua,
H.M. Syirajudin, SH, MT
Strategi Sanitasi Kota Bontang
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... vi BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Metodologi Penyusunan ... I-2 1.3 Dasar Hukum ... I-3 1.4 Sistematika Penulisan ... I-5
BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1 Gambaran Wilayah ... II-1 2.1.1 Letak Geografis Kota Bontang ... II-1 2.1.2 Topografi ... II-1 2.1.3 Hidrologi ... II-2 2.1.4 Geologi ... II-3 2.1.5 Klimatologi ... II-4 2.1.6 Penggunaan Lahan ... II-5 2.1.7 Administrasi ... II-7 2.1.8 Wilayah Kajian SSK ... II-8 2.1.9 Kependudukan ... II-9 2.1.10 Kesehatan ... II-12 2.1.11 Kebijakan Penataan Ruang ... II-13 2.2 Kemajuan Pelaksanaan SSK ... II-17 2.3 Profil Sanitasi Saat Ini ... II-19 2.3.1 Sub Sektor Air Limbah Domestik ... II-19 2.3.2 Sub Sektor Persampahan ... II-24 2.3.3 Sub Sektor Drainase Lingkungan ... II-35 2.4 Area Berisiko dan Permasalahan Mendesak Sanitasi ... II-40 2.4.1 Area Berisiko dan Permasalahan Air Limbah Domestik ... II-41 2.4.2 Area Berisiko dan Permasalahan Air Limbah Domestik ... II-43 2.4.2 Area Berisiko dan Permasalahan Drainase Perkotaan ... II-45
BAB III KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
3.1 Visi dan Misi Sanitasi ... III-1 3.2 Pentahapan Pengembangan Sanitasi ... III-2
Strategi Sanitasi Kota Bontang
iii
3.2.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sanitasi ... III-10 3.2.3 Skenario Percepatan Sasaran ... III-12 3.2.4 Kemampuan Pendanaan Sanitasi Daerah ... III-13
BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN SANITASI
4.1 Stratgei Pengelolaan Air Limbah Domestik ... IV-2 4.2 Stratgei Pengelolaan Persampahan ... IV-4 4.3 Stratgei Pengelolaan Drainase Perkotaan ... IV-6
BAB V PROGRAM, KEGIATAN DAN INDIKASI PEMBIAYAAN SANITASI
5.1 Ringkasan Program dan Kegiatan Sanitasi ... V-1 5.2 Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Dengan Sumber Perndanaan
Pemerintah ... V-2 5.3 Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Dengan Sumber Perndanaan
Non Pemerintah ... V-4 5.4 Antisipasi Funding Gab ... V-5
BAB VI MONITORING DAN EVALUASI CAPAIAN SSK
6.1 Gambaran Umum Monitoring dan Evaluasi ... VI-1 6.2 Kelembagaan Monitoring dan Evaluasi Sanitasi ... VI-2 6.3 Monitoring Capaian SSK ... VI-3 6.4 Evaluasi Capaian SSK ... VI-4 6.5 Pelaporan ... VI-5 6.6 Mekanisme Monev Implementasi SSK ... VI-5
LAMPIRAN 1 HASIL KAJIAN ASPEK NON TEKNIS DAN LEMBAR KERJA AREA BERISIKO LAMPIRAN 2 HASIL ANALISIS SWOT
LAMPIRAN 3 KERANGKA LOGIS PEMBANGUNAN SANITASI KOTA BONTANG
LAMPIRAN 4 HASIL PEMBAHASAN PROGRAM, KEGIATAN DAN INDIKASI PENDANAAN LAMPIRAN 5 DESKRIPSI PROGRAM/KEGIATAN
LAMPIRAN 6 DAFTAR PERUSAHAAN PENYELENGGARA CSR YANG POTENSIAL LAMPIRAN 7 KESIAPAN IMPLEMENTASI
Strategi Sanitasi Kota Bontang
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Luas Kemiringan Lahan (Rata-Rata) Kota Bontang ... II-1 Tabel 2.2 Sistem Hidrologi (DAS) Kota Bontang ... II-3 Tabel 2.3 Banyaknya Curah Hujan, Curah Hujan Maksimum, Hari Hujan dan Hari
Kering Menurut Bulan Di Kota Bontang Tahun 2013 ... II-5 Tabel 2.4 Penggunaan Tanah di Kota Bontang ... II-6 Tabel 2.5 Penggunaan Lahan Wilayah Laut Kota Bontang ... II-7 Tabel 2.6 Luas Wilayah Administrasi dan Wilayah Terbangun di Tiap Kelurahan ... II-8 Tabel 2.7 Luas Wilayah Administrasi, Jumlah Penduduk dan Kepadatan
Penduduk Tahun 2014 ... II-10 Tabel 2.8 Proyeksi Jumlah Penduduk, Kepala Keluarga, Pertumbuhan dan
Kepadatan Untuk 5 Tahun Ke Depan Menurut Kecamatan, Tahun 2015- 2019 ... II-19 Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan ... II-12 Tabel 2.10 Jumlah Kasus 10 Penyakit Terbanyak Di Kota Bontang Tahun 2013 ... II-13 Tabel 2.11 Kemajuan Pelaksanaan SSK Untuk Sub Sektor Air Limbah Domestik ... II-18 Tabel 2.12 Kemajuan Pelaksanaan SSK Untuk Sub Sektor Persampahan ... II-18 Tabel 2.13 Kemajuan Pelaksanaan SSK Untuk Sub Sektor Drainase Perkotaan ... II-19 Tabel 2.14 Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini di Kota Bontang ... II-23 Tabel 2.15 Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik ... II-24 Tabel 2.16 Timbunan Sampah ... II-29 Tabel 2.17 Cakupan Akses dan Sistem Layanan Persampahan ... II-30 Tabel 2.18 Kondisi Prasarana dan Sarana Persampahan ... II-30 Tabel 2.19 Wilayah Genangan di Kota Bontang ... II-37 Tabel 2.20 Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase Perkotaan di Kota Bontang ... II-39 Tabel 2.21 Area Berisiko Sanitasi Sub Sektor Air Limbah Domestik ... II-41 Tabel 2.22 Area Berisiko Sanitasi Sub Sektor Persampahan ... II-41 Tabel 2.23 Area Berisiko Sanitasi Sub Sektor Drainase Lingkungan ... II-45 Tabel 3.1 Visi dan Misi Sanitasi Kota Bontang ... III-2 Tabel 3.2 Tahapan Pengembangan Air Limbah Kota Bontang ... III-3 Tabel 3.3 Tahapan Pengembangan Persampahan Kota Bontang ... III-6 Tabel 3.4 Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan Kota Bontang ... III-9 Tabel 3.5 Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Air Limbah Domestik ... III-10 Tabel 3.6 Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Persampahan ... III-10 Tabel 3.7 Tujuan dan Sasaran Pengelolaan Drainase Perkotaan ... III-10 Tabel 3.8 Pencapaian Sasaran Pembangunan Sanitasi Kota Bontang ... III-12
Strategi Sanitasi Kota Bontang
v
Tabel 3.9 Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Kota Bontang Untuk
Sanitasi Tahun 2010-2014 ... III-13 Tabel 3.10 Perkiraan Besaran Pendanaan Sanitasi Kota Bontang Tahun 2016-2020... III-14 Tabel 3.11 Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Kota Bontang Untuk
Operasional/Pemeliharaan dan Investasi Sanitasi ... III-14 Tabel 3.12 Perkiraan Besaran Pendanaan APBD Kota Bontang Untuk Kebutuhan
Operasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi Terbangun Hingga Tahun 2020 .... III-15 Tabel 3.13 Perkiraan Kemampuan APBD Kota Bontang Dalam Mendanai
Program/Kegiatan SSK ... III-15 Tabel 4.1 Tujuan, Sasaran dan Strategi Pengelolaan Air Limbah Kota Bontang ... IV-3 Tabel 4.2 Tujuan, Sasaran dan Strategi Pengelolaan Persampahan Kota Bontang ... IV-5 Tabel 4.3 Tujuan, Sasaran dan Strategi Pengelolaan Drainase Kota Bontang ... IV-6 Tabel 5.1 Rekapitulasi Indikasi Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Kota
Bontang ... V-2 Tabel 5.2 Rekapitulasi Indikasi Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Kota
Bontang Per Sumber Anggaran ... V-2 Tabel 5.3 Rekapitulasi Sumber Pendanaan APBD Kota Bontang ... V-3 Tabel 5.4 Rekapitulasi Sumber Pendanaan APBD Provinsi ... V-3 Tabel 5.5 Rekapitulasi Sumber Pendanaan APBN ... V-3 Tabel 5.6 Rekapitulasi Sumber Pendanaan Sanitasi Partisipasi Swasta/CSR ... V-4 Tabel 5.7 Rekapitulasi Sumber Pendanaan Sanitasi Partisipasi Masyarakat ... V-4 Tabel 5.8 Funding Gab / Daftar Tunggu ... V-5 Tabel 6.1 Capaian Stratejik Sub Sektor Air Limbah Domestik ... VI-7 Tabel 6.2 Capaian Stratejik Sub Sektor Persampahan ... VI-10 Tabel 6.3 Capaian Stratejik Sub Sektor Drainase ... VI-13 Tabel 6.4 Capaian Kegiatan Sub Sektor Air Limbah Domestik ... VI-14 Tabel 6.5 Capaian Kegiatan Sub Sektor Persampahan ... VI-16 Tabel 6.6 Capaian Kegiatan Sub Sektor Drainase ... VI-17 Tabel 6.7 Evaluasi ... VI-18
Strategi Sanitasi Kota Bontang
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta DAS Kota Bontang ... II-2 Gambar 2.2 Peta Administrasi Kota dan Cakupan Wilayah Kajian SSK ... II-9 Gambar 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah ... II-15 Gambar 2.4 Peta Rencana Pola Ruang Wilayah ... II-17 Gambar 2.5 Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik ... II-22 Gambar 2.6 Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Persampahan ... II-28 Gambar 2.7 Peta Layanan Persampahan Kota Bontang Dengan Kendaraan Arm
Roll ... II-17 Gambar 2.8 Peta Layanan Persampahan Kota Bontang Dengan Kendaraan
Dump Truk ... II-17 Gambar 2.9 Peta Wilayah Genangan Kota Bontang ... II-40 Gambar 2.10 Peta Area Berisiko Sub Sektor Air Limbah Domestik ... II-42 Gambar 2.11 Peta Area Berisiko Sub Sektor Persampahan ... II-44 Gambar 2.12 Peta Area Berisiko Sub Sektor Drainase Lingkungan ... II-46 Gambar 3.1 Peta Zona dan Sistem Sub Sektor Air Limbah ... III-5 Gambar 3.2 Peta Zona dan Sistem Sub Sektor Persampahan ... III-8
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) merupakan dokumen perencanaan jangka menengah (5 tahun) yang memberikan arah bagi pengembangan sanitasi di Kabupaten/Kota. SSK ini untuk mengoperasionalkan urusan wajib, sekaligus menjadi wujud perhatian yang lebih dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota terhadap pengelolaan sanitasi terutama untuk berkontribusi dalam pencapaian RPJMD dari sektor sanitasi.
Pemutakhiran SSK ini perlu dilakukan mengingat beberapa kondisi di bawah ini:
Periode pelaksanaan yang tercantum dalam dokumen SSK sebelumnya telah melampaui masa berlaku, yaitu lebih dari 5 tahun.
Peningkatan kualitas dokumen dari SSK sebelumnya yang disebabkan oleh ketidaklengkapan data maupun akibat adanya keraguan atas validitas data yang digunakan.
Adanya kebutuhan untuk mempercepat implementasi terutama terkait dengan pencapaian target Universal Access di tahun 2019.
Adanya penyesuaian/perubahan RPJMD yang menjadi acuan dari SSK, (Perubahan RPJMD terjadi akibat adanya perubahan Kepala Daerah).
Dokumen SSK Kota Bontang Tahun 2015 ini, selanjutnya akan diposisikan sebagai acuan di dalam perencanaan strategis sektor sanitasi skala Kota. Dokumen ini merupakan dokumen perencanaan sistem sanitasi kota yang telah disesuaikan dengan program kegiatan untuk sektor sanitasi dengan dokumen perencanaan pemerintah lainnya seperti RPJPD, RPJMD, RPI2-JM, Renstra, dan RTRW Kota Bontang.
a. Hubungan SSK dengan RPJMD
RPJMD Kota Bontang Tahun 2011-2015 merupakan penjabaran dari RPJPD Kota Bontang Tahun 2005-2025, dipergunakan sebagai sumber dasar bagi penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Bontang Tahun 2011-2015.
Pada tahun 2015, Kota Bontang menyusun pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Bontang untuk periode tahun 2015-2019 yang nantinya dapat dijadikan masukan dalam penyusunan RPJMD Kota Bontang Tahun 2016-2020 yang akan disusun pada tahun 2016, khususnya dalam pengembangan dan pembangunan sanitasi Kota Bontang.
b. Hubungan SSK dengan Renstra SKPD
Dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) tahun 2015-2019 akan menghasilkan program dan kegiatan dalam rangka pengembangan dan pembangunan sanitasi Kota Bontang selama 5 tahun kedepan dan akan diimplementasikan melalui Renstra SKPD tahun 2016-2020 sehingga
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 2
Strategi Sanitasi Kota (SSK) dan Renstra SKPD merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan SKPD yang terkait dengan pengembangan dan pembangunan sanitasi.
c. Hubungan SSK dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Dokumen RTRW dipergunakan sebagai salah satu acuan penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota Bontang, dimana untuk rencana kedepannya perkiraan dan proyeksi jumlah penduduk dan pembangunan lnfrastruktur sektor sanitasi harus diperhitungkan dengan mengacu dan tidak bertentangan dengan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam dokumen RTRW Kota Bontang.
1.2. METODOLOGI PENYUSUNAN
Dokumen Strategi Sanitasi Kota Bontang disusun oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kota Bontang secara partisipatif melalui kegiatan-kegiatan diskusi, konsultasi, simulasi, pelatihan dan pembekalan, dengan dukungan fasilitator. Metode yang digunakan dalam penyusunan pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) ini menggunakan beberapa pendekatan dan alat bantu yang dilakukan untuk menghasilkan dokumen perencanaan yang lengkap. Serangkaian kegiatan dan metode dilakukan bersama pokja baik lokakarya dan pelatihan, diskusi, simulasi dan pembekalan.
Metode penyusunan dokumen pemutakhiran SSK ini, terdiri dari tahapan berikut :
1. Penilaian dan pemetaan kondisi sanitasi Kota saat ini (dari Buku Putih Sanitasi), untuk belajar dari fakta sanitasi guna menetapkan kondisi sanitasi yang tidak diinginkan. Pada tahap ini Pokja mengkaji kembali Buku Putih Sanitasi untuk memastikan kondisi yang ada saat ini khususnya kondisi yang tidak diinginkan atau permasalahan-permasalahan yang ada dalam pengelolaan sanitasi kota. Kondisi semua sub sektor layanan sanitasi yang terdiri: sub sektor air limbah, sub sektor persampahan, sub sektor drainase lingkungan dan aspek pendukung lainnya.
2. Perumusan kondisi sanitasi yang diinginkan dimasa depan yang dituangkan kedalam visi dan misi sanitasi serta tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.
3. Analisa kesenjangan antara kondisi saat ini dengan kondisi yang diinginkan. Analisis kesenjangan digunakan untuk mendiskripsikan issue strategis dan kendala yang mungkin akan dihadapi dalam mencapai tujuan.
4. Perumusan Strategi Sanitasi Kota yang menjadi basis penyusunan program dan kegiatan pembangunan sanitasi Kota Bontang jangka menengah (5 tahunan). Dengan alat analisis SWOT dengan mengkaji kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang berhasil diidentifikasi.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 3
1.3. DASAR HUKUM
Dasar hukum atau peran regulasi cukup mendasar untuk mewadahi setiap aktivitas penciptaan lingkungan bersih dan sehat. Namun demikian untuk mendukung kebijakan regulasi yang menyeluruh pemerintah juga telah menetapkan beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan sanitasi secara menyeluruh. Landasan hukum yang menjadi acuan penyusunan SSK Kota Bontang adalah :
A. Undang-Undang
1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H, yang menyebutkan bahwa setiap warga Indonesia berhak mendapatkan kesejahteraan dan lingkungan yang baik.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang. 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.
7. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
8. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang . 9. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. 10. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
11. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 12. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009, Tentang Kesehatan yang merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam Pancasila dan UUD 1945. 14. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. 15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.
B. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
1. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 4
6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama
Daerah.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
C. Peraturan Presiden Republik Indonesia
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019.
D. Keputusan Presiden Republik Indonesia
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
E. Peraturan Menteri
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP).
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah.
5. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduse, Reuse dan Recycle Melalui Bank Sampah.
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
F. Keputusan Menteri
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 52/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel.
3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL.
4. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
5. Kepmenkimpraswil Nomor 403 Tahun 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs SEHAT).
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 5
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
G. Peraturan Daerah
1. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sampah. 2. Peraturan Daerah kota Bontang Nomor 6 Tahun 2004 tentang Perizinan dan Retribusi
Pembuangan Limbah Cair
3. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan dan Kebersihan.
4. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bontang Tahun 2012-2032.
H. Petunjuk Teknis
1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Pet. I judul Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan. 2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Kompos Rumah
Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daur Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug Terkendali Di TPA Sampah.
3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan.
4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan.
1.4. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penyusunan SSK tahun 2015 Kota Bontang ini terdiri dari 6 (enam) Bab, yang masing-masing bab membahas hal-hal sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini membahas latar belakang, metodologi penyusunan, dasar hukum, serta menjelaskan sistematika yang digunakan dalam penulisan dokumen.
BAB II. PROFIL SANITASI SAAT INI
Dalam bab ini menjelaskan wilayah kajian ssk dan gambaran umum kota yang menggambarkan kondisi fisik kota, kemajuan pelaksanaan SSK, Profil sanitasi saat ini, Area Berisiko dan Permasalahan mendesak sanitasi.
BAB III. KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
Dalam bab ini membahas mengenai harapan umum/visi dan misi sanitasi kota yang ingin dicapai, Tujuan dan Sasaran pembangunan sanitasi, Skenario pencapaian sasaran dan Kemampuan pendanaan sanitasi daerah.
BAB IV. STRATEGI PENGEMBANGAN SANITASI
Bab ini akan membahas secara detail mengenai Strategi pengembangan sanitasi masing-masing sub sektor yang meliputi : sub sektor Air limbah, Persampahan, dan
Strategi Sanitasi Kota Bontang
I - 6
Drainase perkotaan, serta Enabling and Sustainability Aspect (yang menyangkut Kebijakan Daerah dan Kelembagaan, Keuangan, Komunikasi, Keterlibatan Pelaku Bisnis serta Partisipasi Masyarakat dan Jender)
BAB V. PROGRAM, KEGIATAN DAN INDIKASI PENDANAAN SANITASI
Dalam bab ini memuat langkah-langkah tindak lanjut mengenai Program dan Kegiatan serta kebutuhan pengembangan sanitasi dengan sumber pendanaan pemerintah, non pemerintah serta munculnya funding gap.
BAB VI. MONITORING DAN EVALUASI CAPAIAN SSK
Memuat rencana pemantauan kegiatan mengenai gambaran umum struktur sanitasi Monitoring dan Evaluasi capaian SSK (yang terdiri dari Monitoring terkait pengambilan keputusan Monitoring pelaksanaan dan Monitoring stratejik), Pengembangan/penyusunan indikator input, output dan outcome, serta pengumpulan dan penyajian/pelaporan data.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 1
BAB II
PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1 GAMBARAN WILAYAH
2.1.1 Letak Geografis Kota Bontang
Kota Bontang terletak antara 117o23’ Bujur Timur – 117o38’ Bujur Timur serta diantara 0o01
Lintang Utara – 0o012’ Lintang Utara. Wilayah Kota Bontang didominasi oleh lautan. Kota
Bontang memiliki wilayah daratan seluas 147,8 Km2 ( 29,70 % ), sedangkan luas wilayah
seluruhnya 497,57 Km2, didukung dengan tata letak yang cukup strategis yaitu terletak pada
jalan trans Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Selat Makasar yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) dan Internasional sehingga menguntungkan dalam mendukung interaksi wilayah Kota Bontang dengan wilayah lain diluar Kota Bontang baik dalam skala nasional, regional maupun internasional.
2.1.2 Topografi
Morfologi wilayah Kota Bontang berupa permukaan tanah yang datar, landai dan berbukit dan bergelombang. Topografi kawasan Bontang memiliki ketinggian antara 1-120 meter dpl dengan kemiringan lereng yang bervariasi dari Pantai Timur dan Selatan hingga bagian Barat. Kemiringan lahan Kota Bontang dengan kemiringan 0-2% (datar) mempunyai luasan 7.211 ha atau 48,79 %. Kemiringan lahan bergelombang (3-15%) seluas 4.001 ha atau 27,07%. Proporsi luas lahan dengan kemiringan yang curam (16-40%) hampir sama dengan yang bergelombang yaitu 24,14 % atau 3.568 ha.
Berdasarkan ketinggian diatas permukaan laut, Kota Bontang rata-rata memiliki ketinggiam 0-120 meter. Adapun rincian dari ketinggian diatas permukaan laut untuk masing-masing kecamatan di Kota Bontang berdasarkan Badan Pertanahan Basional Kota Bontang adalah sebagai berikut:
1. Kecamatan Bontang Selatan memiliki ketinggian 0-120 m 2. Kecamatan Bontang Utara memiliki ketinggian 0-45 m 3. Kecamatan Bontang Barat memiliki ketinggain 2-108 m.
Tabel 2.1
Luas Kemiringan Lahan (Rata-Rata) Kota Bontang
No Kemiringan Luas Ha % 1 Datar (0-2%) 7.211 48.79 2 Bergelombang (3-15%) 4.001 27.07 3 Curam (16-40%) 3.568 24.14 4 Sangat Curam (> 40%) 0 0.00 Jumlah 14.780 100
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 2
2.1.3 Hidrologi
Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menempati wilayah Kota Bontang merupakan bagian dari Sub DAS Santan Ilir. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah adalah Sungai Guntung, Sungai Bontang, Sungai Busuh, Sungai Nyerakat Kanan dan Sungai Nyerakat Kiri yang semuanya bermuara di Selat Makasar. Sungai-sungai tersebut berhulu di bagian barat wilayah Kota Bontang atau di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Sungai-sungai tersebut juga mengalirkan air yang berasal dari mata air, terutama air yang keluar dari batuan pasir halus, pasir kasar dan lempung pasiran yang berasal dari formasi Balikpapan.
Secara administratif DAS Bontang terletak di Kecamatan Sangatta Kabupaten Kutai Timur (DAS Bontang hulu), Kecamatan Bontang Barat (DAS Bontang Tengah), Kecamatan Bontang Selatan (DAS Bontang Tengah), Kecamatan Bontang Utara (DAS Bontang Tengah) dan Kecamatan Bontang Baru (DAS Bontang Hilir). DAS Bontang memiliki luas 59,710 Km2 dan panjang sungai utama 41,173 Km dengan alur berkelok-kelok (meandering). DAS Bontang yang melintasi Kota Bontang memiliki luas kurang lebih 300 Km2 dan panjang sungai utama 17 Km.
Gambar 2.1
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 3
Tabel 2.2
Sistem Hidrologi (DAS) Kota Bontang
No Nama Sungai Panjang (km) Luas (m2) Lebar (m) Kedalaman (m) Debt (m3/detik)
Permukaan Dasar Maks Min 1 Sungai Bontang 41.173 59.710 9 6 1-3,5 113,79 4 2 Sungai Guntung 15.879 23.612 7 5 1-3 3 Sungai Karibungan 4.879 5.190 5 3 0,3-0,5 4 Sungai Semputuk 4.892 20.002 3 2 0,3-0,5 5 Sungai nyerakat 20.590 29.388 6 3,5 0,5-2 2,200 0,176 6 Sungai Belimbing 22.295 15.627 5 3 0,3-0,5 7 Sungai Tanjung Limau 11.300 1.478 3 2 0,3-0,5 8 Sungai Busuk 3.480 25.798 5 3 0,3-0,5 9 Sungai Budak 11.010 20.468 4 2,5 0,3-0,5 Sumber : SDLH Kota Bontang 2013
Wilayah Kota Bontang terletak di daerah khatulistiwa sehingga memiliki iklim tropis basah dengan ciri-ciri khas hujan terjadi disepanjang tahun dengan suhu rata-rata 240 -330C. Oleh
karena itu, di wilayah ini hampir tidak memiliki perbedaan pergantian musim hujan dan kemarau.
2.1.4 Geologi
Kondisi Geologi, Kota Bontang termasuk dalam sub bagian cekungan Kutai dengan batas fisik di sebelah Timur Selat Makassar, sebelah Selatan Sungai Santan, sebelah perbukitan sebelah Timur Gunung Lobang Batik dan sebelah Utara Sungai Temputuk. Dari aspek litologi, formasi batuan di Kota Bontang terdiri dari enam formasi batuan, yaitu:
a. Endapan Alluvium, yang tersusun oleh kerakal, kerikil, lempung dan lumpur sebagai endapan sungai, rawa, pantai dan delta.
b. Formasi Kampungbaru, yang tersusun atas batu pasir kuarsa dengan sisipan lempung, lanau dan serpih dengan sifat lunak dan mudah hancur. Formasi ini memiliki aquifer potensial di daerah Bontang dengan jenis batuan yang bertindak sebagai aquifer berupa kerikil, pasir kuarsa yang bersifat lepas, batu pasir dan pasir lempung.
c. Formasi Balikpapan, yang terdiri atas perselingan batu pasir kuarsa, batu lempung lanauan dan serpih dengan sisipan napal, batu gamping dan batubara. Formasi Balikpapan merupakan formasi terbesar di kawasan Pesisir Bontang dengan arah utara-selatan.
d. Formasi Pulau Balang, merupakan perselingan batu pasir kuarsa, batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batubara.
e. Formasi Bebulu, yaitu formasi batuan terkecil di kawasan Pesisir Bontang yang tersusun atas batu gamping dengan sisipan lempung lanauan dan sedikit napal.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 4
f. Formasi Pamaluan. Tersusun atas batu lempung dan serpih dengan sedikit napal, batu pasir dan batu gamping.
Jenis tanah didominasi oleh podsolik merah kuning, aluvial dan kompleks latosol. Jenis tanah ini memiliki lapisan kuning (top soil) yang tipis, peka erosi dan miskin unsur hara. Untuk pemanfaatan lahan pertanian dan perkebunan dibutuhkan pengolahan awal berupa perbaikan tanah (soil stabilization) dan pengamanan hutan sehingga kestabilan tanah dan persediaan air tanah tetap terjaga.
Kondisi hidrogeologi Kota Bontang secara regional dapat dibedakan berdasarkan morfologi, geologi, lingkungan pengendapan batuan, dan cara terdapat air tanahnya.
Berdasarkan ciri fisik litologi, fasies, lingkungan pengendapan, struktur geologi dan batuan yang tersingkap di daerah Bontang dan sekitarnya, cekungan air tanah Bontang merupakan sub cekungan Kutai.
Areal imbuh cekungan air tanah Bontang diperkirakan berasal dari daerah tekuk lereng Gunung Lobang Sebatik beserta areal perbukitannya yang memanjang dari Utara ke Selatan. Jalur tersebut ditempati oleh batuan dari formasi kampung Baru. Formasi ini bertindak langsung sebagai formasi peresapan paling potensial untuk cekungan air tanah Bontang.
2.1.5 Klimatologi
Kota Bontang merupakan salah satu kota di Indonesia yang dilalui Garis Khatulistiwa dengan suhu udara rata-rata tertinggi sebesar 29,15°C pada bulan November, dan terendahnya 27,10°C pada bulan Maret. Rata-rata kelembaban udara tertinggi 82,30% pada bulan Juli dan terendahnya 69,17% pada bulan Desember. Rata-rata tekanan udara selama tahun 2013 bervariasi antara 29,60InHg sampai 30,12InHg, dengan rata-rata kecepatan angin antara 13,50 knot hingga 17,80 knot. Curah hujan rata-rata selama tahun 2013 adalah 211,10 mm dan 15,67 hari hujan, dengan intensitas terbesar terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan mencapai 306,0 mm.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 5
Tabel 2.3
Banyaknya Curah Hujan, Curah Hujan Maksimum, Hari Hujan dan Hari Kering Menurut Bulan Di Kota Bontang, 2013
Bulan Curah Hujan (mm) Curah Hujan Maksimum (mm) Jumlah Hari Hujan (hari) Jumlah Hari Hujan (hari) Januari 306,0 15 16 81,6 Februari 257,8 19 9 63,0 Maret 89,3 12 19 26,5 April 300,5 18 12 73,2 Mei 298,6 18 13 63,3 Juni 266,0 12 18 93,0 Juli 157,2 14 17 50,3 Agustus 203,6 17 14 50,2 September 118,0 12 18 43,0 Oktober 198,6 10 21 76,5 Nopember 187,6 14 16 83,2 Desember 150,0 16 15 29,7 Jumlah 2.533,2 177 188 733,5 Rata-rata 211,10 14,75 15,67 61,1
Sumber : Bontang Dalam Angka, 2014
2.1.6 Penggunaan Lahan
Kota Bontang diapit oleh hutan lindung di sebelah Barat dan Selatan, Taman Nasional Kutai di sebelah Utara, dan Selat Makasar di sebelah Timur. Berdasarkan hasil pemetaan tahun 2009 menunjukkan hampir seluruh luas daratan telah dimanfaatkan baik untuk kegiatan budidaya, kawasan ruang terbuka hijau maupun untuk kawasan lindung lainnya. Menurut data tahun 2009, dari luas daratan Kota Bontang sekitar 14.780 ha penggunaan tanah terbesar masih berupa semak belukar sebesar 6.870,98 ha (46,49%). Penggunaan lainnya terdiri dari hutan sejenis seluas 2.764,48 ha (18,70%), bakau seluas 1.115,51 ha (7,55%), tambak seluas 328,18 ha (2,19%), pekarangan seluas 980,64 ha (6,63%), rumah/bangunan gedung seluas, 1.355,56 ha (9,17%) dan fasilitas umum seluas 562,43 ha (3,13%). Adapun jenis penggunaan penggunaan lahan secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 6
Tabel 2.4
Penggunaan Tanah di Kota Bontang
No Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) % 1. Pemukiman
a. Rumah/ Bangunan/ Gedung 1.355,56 9,17 b. Pekarangan 980,64 6,63 c. Fasilitas Sosial 29,76 0,20 d. Fasilitas Umum 462,43 3,13 e. Permukiman Atas Air 53,94 0,36
f. Jasa 69,52 0,47
2. Tambak 323,18 2,19
3. Kawasan Industri/ Pabrik
a. PT. Pupuk Kaltim Tbk 192,46 1,30 b. PT. Badak NGL 278,07 1,88 4. Rawa 53,54 0,36 5. Danau/Waduk/Situ 15,11 0,10 6. Hutan Kota 196,98 1,33 7. Hutan Sejenisnya 2.764,48 18,70 8. Bakau 1.115,51 7,55 9. Semak Belukar 6.870,98 46,49 10. Tanah Terbuka 17,83 0,12 Total 14.780 100
Sumber : RDTR Kota Bontang 2014
Kota Bontang merupakan kota pesisir yang terlihat dari luasan wilayah lautnya yang dominan sekitar 70,30%. Namun demikian dengan melihat karakteristik fisik laut dan banyaknya kegiatan yang sudah ada di wilayah tersebut menjadikan potensi pengembangan wilayah laut sangat sempit. Potensi untuk kegiatan perikanan sekitar 9.384 ha atau sekitar 26,83% dari luas wilayah laut Kota Bontang, sedangkan pengunaan lahan terbesar di wilayah laut Kota Bontang adalah untuk alur pelayaran, baik alur pelayaran swasta, rakyat maupun alur pelayaran nasional.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 7
Tabel 2.5
Penggunaan Lahan Wilayah Laut Kota Bontang
No Penggunaan Luas (Ha) %
1. Flat - Gosong 940 2,69 - Pasir 158 0,45 - Pasir Berlumpur 100 0,29 2. Terumbu Karang 2.799 8,00 3. Alur Pelayaran - PT. Badak NGL 1.311 3,75 - PT. Pupuk Kaltim Tbk 3.464 9,90 4. Areal efektif utk kegiatan perikanan 9.384 26,83 5. Penggunaan lain (alur rakyat, alur tanjung
laut, dan kegiatan lainnya) 16.821 48,09
Luas Total Wilayah Laut 34.977 100
Sumber: RTRW Kota Bontang 2011-2030
2.1.7 Administrasi
Secara administrasi, semula Kota Bontang merupakan kota administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan UU N0. 47 Tahun 1999, tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama – sama Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kertanegara. Dan sejak disahkannya Peraturan Daerah Kota Bontang N0.17 Tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan Bontang Barat, pada tanggal 16 Agustus 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Barat. Adapun Kelurahan yang ada ditiap masing-masing Kecamatan adalah sebagai berikut :
1. Kecamatan Bontang Selatan terdiri dari 6 Kelurahan yaitu Kelurahan Bontang Lestari, Kelurahan Satimpo, Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Berbas Tengah, Kelurahan Tanjung Laut dan Kelurahan Tanjung Laut Indah.
2. Kecamatan Bontang Utara terdiri dari 6 Kelurahan yaitu Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Bontang Baru, Kelurahan Api-Api, Kelurahan Gunung Elai, Kelurahan Loktuan dan Kelurahan Guntung.
3. Kecamatan Bontang Barat terdiri dari 3 Kelurahan yaitu Kelurahan Kanaan, Kelurahan Gunung Telihan dan Kelurahan Belimbing.Luas dan batas wilayah, Kota Bontang dengan luas wilayah 49.757 ha yang didominasi oleh lautan, yaitu seluas 34.977 ha (70,30%) sedangkan wilayah daratannya seluas 14.780 ha (29,70%). Luas masing-masing Kecamatan yaitu Kecamatan Bontang Selatan memiliki wilayah daratan paling luas 10.440 ha, disusul Kecamatan Bontang Utara seluas 2.620 ha, dan Kecamatan Bontang Barat seluas 1.720 ha.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 8
Batas wilayah administratif Kota Bontang yaitu:
Sebelah Barat : dibatasi Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur.
Sebelah Timur : dibatasi oleh Selat Makasar.
Sebelah Selatan : dibatasi Kecamatan Marang Kayu Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sebelah Utara : dibatasi oleh Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur.
Tabel 2.6
Luas Wilayah Administrasi dan Wilayah Terbangun di Tiap Kelurahan
NO Kecamatan / Kelurahan
Luas Wilayah
Administrasi Terbangun Luas (Ha) % Luas (Ha) %
I Bontang Selatan 10.440 70,64 4.589 60,55 1 Bontang Lestari 8.092 54,75 2.967 39,15 2 Satimpo 1.561 10,56 1.118 14,76 3 Berbas Pantai 70 0,47 69 0,90 4 Berbas Tengah 98 0,66 85 1,12 5 Tanjung Laut 135 0,91 128 1,69 6 Tanjung Laut Indah 484 3,27 222 2,93
II Bontang Utara 2.620 17,73 1.997 26,35 1 Bontang Kuala 567 3,84 346 4,56 2 Bontang Baru 208 1,41 128 1,70 3 Api Api 179 1,21 153 2,02 4 Guntung Elai 459 3,11 339 4,48 5 Loktuan 358 2,42 307 4,05 6 Guntung 849 5,74 724 9,55
III Bontang Barat 1.720 11,63 993 13,10
1 Kanaan 650 4,40 248 3,28 2 Gunung Telihan 316 2,14 191 2,52 3 Belimbing 754 5,10 553 7,30 Jumlah 14.780 100,00 7.579 100,00 Sumber : Bappeda 2015 2.1.8 Wilayah Kajian SSK
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan oleh anggota pokja sanitasi, disepakati mengenai cakupan wilayah Kota Bontang yang akan menjadi wilayah sasaran dan kajian SSK, yaitu seluruh wilayah yang termasuk di dalam wilayah administratif Kota Bontang. Demikian pula target area survei EHRA (penilaian resiko kesehatan lingkungan) adalah seluruh wilayah kelurahan.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 9
Gambar 2.2
Peta Administrasi Kota dan Cakupan Wilayah Kajian SSK
Sumber : RTRW Kota Bontang 2011-2030
2.1.9 Kependudukan
Jumlah penduduk Kota Bontang senantiasa bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Pertumbuhan penduduk Kota Bontang dihasilkan oleh berubahnya jumlah secara alamiah yaitu kelahiran dan kematian serta perubahan jumlah penduduk akibat migrasi (penduduk datang dan pergi) yang dipengaruhi oleh semakin meningkatnya berbagai fasilitas publik yang dibutuhkan masyarakat dan terbukanya peluang lapangan kerja. Hal ini merupakan dampak keberhasilan pembangunan sehingga menarik minat pendatang baru untuk tinggal di kota ini.
Pada Tahun 2014 jumlah penduduk Kota Bontang adalah 159.885 jiwa, penyebaran jumlah penduduk di tiga kecamatan tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni di kecamatan Bontang Selatan sebesar 63.348 jiwa sedangkan di kecamatan Bontang Utara adalah 69.905 jiwa dan di Kecamatan Bontang Barat 27.361 jiwa. Berdasarkan luas area terbangun, kepadatan penduduk Kecamatan Bontang Utara sebesar 35 orang/ha masih lebih tinggi dibandingkan kepadatan penduduk di Kecamatan Bontang Selatan yang besarannya 14 orang/ha dan Kecamatan Bontang Barat 28 orang/ha. Kepadatan penduduk rata-rata Kota Bontang selama tahun 2014 sebesar 21 orang/ha.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 10
Tabel 2.7
Luas Wilayah Administrasi, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Tahun 2014 No Nama Wilayah Luas Wilayah Administrasi (Ha) Jumlah Penduduk (orang) Kepadatan (Orang/Ha) Bontang Selatan 10.440 63.348 14 1 Bontang Lestari 8.092 4.178 1 2 Satimpo 1.561 7.517 7 3 Berbas Pantai 70 9.175 134 4 Berbas Tengah 98 14.747 174 5 Tanjung Laut 135 14.915 116 6 Tanjung Laut Indah 484 12.816 58
Bontang Utara 2.620 68.905 35 1 Bontang Kuala 567 4.380 13 2 Bontang Baru 208 10.781 84 3 Api- Api 179 15.407 101 4 Guntung Elai 459 14.857 44 5 Loktuan 358 19.195 63 6 Guntung 849 4.556 6 Bontang Barat 1.720 27.361 28 1 Kanaan 650 3.742 15 2 Telihan 316 11.615 61 3 Belimbing 754 12.004 22 Jumlah 14.780 159.885 21
Sumber : Bontang Dalam Angka 2015
Dalam perencanaan pembangunan sanitasi di Kota Bontang, perlu adanya perhitungan untuk memperkirakan (proyeksi) jumlah penduduk selama 5 tahun yang akan datang. Hasil
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 11
Tabel 2.8
Proyeksi Jumlah Penduduk, Kepala Keluarga, Pertumbuhan dan Kepadatan Untuk 5 Tahun ke Depan Menurut Kecamatan, Tahun 2015 - 2019
Nama Kecamatan Luas Wilayah Administrasi (ha) Jumlah Penduduk (orang) Jumlah KK Tingkat Pertumbuhan (%) Kepadatan Penduduk (orang / ha)
Tahun Tahun Tahun Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 Bontang Selatan 10.440 64.621 65.632 66.894 67.987 69.156 16.155 16.408 16.724 16.997 17.289 2,01 1,56 1,92 1,63 1,72 14,08 14,30 14,58 14,82 15,07 Bontang Utara 2.620 70.751 72.751 74.704 76.609 78.438 17.688 18.188 18.676 19.152 19.610 2,28 2,83 2,68 2,55 2,39 35,43 36,43 37,41 38,36 39,28 Bontang Barat 1.720 27.954 28.485 29.074 29.610 30.128 6.989 7.121 7.269 7.403 7.532 2,17 1,90 2,07 1,84 1,75 28,15 28,69 29,28 29,82 30,34
Jumlah 14.780 163.326 166.868 170.672 174.176 177.722 40.832 41.717 42.668 43.552 44.431 2,15 2,17 2,28 2,05 2,04 21,55 22,02 22,52 22,98 23,45
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 12
Di Kota Bontang garis kemiskinan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik, artinya secara relatif dapat kita katakan kemiskinan berangsur-angsur berkurang dari tahun ketahun. Pada tahun 2007 hingga 2013 menunjukkan persentase yang terus menurun dari kisaran 7,87 % terus menurun hingga 5,16 % penduduk miskin dari total penduduk Kota Bontang. Sedangkan garis kemiskinan juga menunjukkan perkembangan yang semakin positif atau terus meningkat dari tahun ketahun. Jika pada tahun 2007 berada pada kisaran 215.107, maka pada tahun 2013 angkanya sudah menjadi 422.951.
Tabel 2.9
Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan
No Nama Kecamatan Jumlah Keluarga Miskin (KK) 1. Bontang Selatan 2.475 2. Bontang Utara 2.308 3. Bontang Barat 818 Jumlah 5.601 Sumber : Bappeda 2014 2.1.10 Kesehatan
Pada dasarnya pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan murah. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka memeratakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan penyediaan fasilitas kesehatan terutama puskesmas dan puskesmas pembantu karena kedua jenis fasilitas tersebut dapat menjangkau lapisan masyarakat hingga ke pelosok terpencil.
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang baik selain dengan menyediakan berbagai fasilitas kesehatan, juga melalui penyuluhan kesehatan, agar masyarakat dapat berprilaku hidup bersih dan sehat. Diharapkan dengan penyuluhan ini penularan penyakit seperti diphteria, muntaber, kolera, dan demam berdarah, sebagai akibat dari sanitasi lingkungan yang buruk dan kebiasaan hidup yang tidak sehat dapat dicegah.
Salah satu dari sepuluh penyakit utama yang paling sering diderita masyarakat Kota Bontang selama tahun 2013 menurut hasil laporan Dinas Kesehatan Kota Bontang adalah penyakit pada saluran pernafasan bagian atas (23.406 penderita). Penyakit ini mengalami penurunan lebih dari 12 persen dibanding tahun 2012. Diperlukan penanganan serius agar penderita penyakit ini tidak terus bertambah.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 13
Tabel 2.10
Jumlah Kasus 10 Penyakit Terbanyak Di Kota Bontang, Tahun 2013 Jenis Penyakit Banyaknya Kasus 1. Infeksi Saluran Pernafasan Bagian Atas 23.406 2. Tekanan darah Tinggi 10.757
3. Pharingitis 7.054
4. Penyakit Dyspepsia 6.878 5. Diare & Gastreonteritis/Penyebab Infeksi
Tertentu 6.042
6. Observasi Febris 3.948
7. Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 2.844 8. Penyakit Atopic Dermatitis 2.642 9. Infeksi akut lain pada saluran pernafasan atas 2.510 10. Penyakit susunan syaraf lain-lain 2.256 Sumber : Bontang Dalam Angka, 2014
2.1.11 Kebijakan Penataan Ruang
Dalam konteks kebijakan pembangunan daerah, ruang merupakan wadah tempat aktivitas pembangunan dilaksanakan baik dalam kerangka pembangunan ekonomi, sosial, kelembagaan maupun pembangunan bidang lingkungan. Seluruh aktivitas pembangunan tersebut bermuara pada kebutuhan ruang yang dideliniasi dalam bentuk ruang wilayah administrasi daerah.
Menurut Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang, ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya. Mengikuti definisi ini, maka hakekat fungsional dari sebuah ruang adalah bagaimana pengelola wilayah mampu melakukan penataan ruang yang dapat menjamin keberlanjutan seluruh aktivitas manusia dan makhluk hidup lain di dalamnya. Oleh karena tujuan dari penataan ruang adalah menjamin keberlanjutan segenap fungsi, khususnya kegiatan manusia maka proses penataan ruang dan hasilnya yaitu tata ruang menjadi kebutuhan yang fundamental bagi sebuah wilayah. Walaupun definisi penataan ruang menurut UU No.26/2007 merupakan sebuah sistem proses perencanaan ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, namun proses dari segenap kegiatan penataan ruang tersebut menjadi hal terpenting agar hasil dari penataan ruang yaitu tata ruang dapat diterima dan dapat diimplementasikan dengan baik. Pada prinsipnya, proses penataan ruang dilakukan secara partisipatif, komprehensif tanpa meninggalkan aspek efektivitas dan efisiensi proses penataan ruang itu sendiri.
Tujuan penataan ruang Kota Bontang adalah untuk mewujudkan Kota Bontang sebagai kota maritim berkebudayaan industri yang berwawasan lingkungan dan mensejahterakan
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 14
masyarakat melalui keterpaduan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang antar wilayah ( nasional, provinsi dan kota ) dan antar kawasan ( lindung dan budidaya ).
Kebijakan pengembangan struktur tata ruang Kota Bontang meliputi :
1. Pengembangan sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota secara hirarkis dan proporsional
Untuk mewujudkannya perlu strategi yang harus ditempuh yaitu : a. Mengatur dan mengendalikan penyebaran penduduk
b. Mengembangkan pusat-pusat layanan sesuai karakteristik dan potensi
c. Meningkatkan keterkaitan antar pusat-pusat layanan dengan wilayah pelayanannya sesuai jenis dan skala pelayanan.
2. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasrana yang merata dan terpadu
Untuk mencapai tujuan ini strategi yang perlu dilakukan adalah :
a. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana prasarana transportasi darat b. Mengembangkan pelayanan pelabuhan dan Bandar udara umum
c. Mengembangkan jaringan energi dengan memanfaatkan sumber-sumber energi yang dimiliki
d. Meningkatkan pelayanan telekomunikasi dengan mengembangkan jaringan kabel dan nirkabel.
e. Membangun dan meningkatkan jaringan sumber air secara terpadu
f. Meningkatkan system prasarana pengelolaan lingkungan yang meliputi drainase, persampahan, air limbah dan air minum
g. Menyediakan prasarana bagi pejalan kaki dan evakuasi bencana yang terintegrasi dengan prasarana kota lainnya.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 15
Gambar 2.3
Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah
Sumber : RTRW Kota Bontang
Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang meliputi: kebijakan dan strategi pemantapan kawasan lindung; kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya. Kebijakan pemantapan kawasan lindung meliputi:
1. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Strategi yang ditempuh meliputi:
a. Menetapkan kawasan lindung di ruang darat dan ruang laut;
b. Memantapkan fungsi kawasan lindung di ruang darat dan ruang laut;
c. Mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah;
d. Mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas wilayah kota;
e. Meningkatkan kerjasama dengan kabupaten yang berbatasan dalam pemeliharaan kelestarian fungsi kawasan lindung.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 16
2. Pencegahan dampak negatif kegiatan pemanfaatan ruang yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Strategi yang ditempuh:
a. Melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
b. Meningkatkan kemampuan lingkungan hidup untuk dapat meyerap zat, energi dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya
c. Mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; d. Mengembangkan kegiatan pemanfaatan ruang berfungsi budidaya yang adaptif
terhadap bencana.
Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya meliputi:
1. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya/pemanfaatan di ruang darat, ruang laut dan ruang udara.
Strategi yang ditempuh adalah :
a. Mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan beserta prasarananya secara terpadu dan berkelanjutan untuk mendorong perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;
b. Mengembangkan kawasan budidaya yang dapat mengakomodasi kebutuhan pengembangan sektoral dan kegiatan para pemangku kepentingan di Kota Bontang secara sinergi dan berkelanjutan agar tidak terjadi konflik antar sektor maupun antar pelaku dalam pemanfaatan ruang baik di darat, laut, serta udara;
c. Mengembangkan kegiatan budidaya dengan memperhatikan keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) serta keterpaduan ekosistem darat, laut dan udara;
d. Meningkatkan kegiatan budidaya berbasis kelautan (maritim) yang memiliki keterkaitan dengan sumberdaya wilayah darat dan daerah hinterland Kota Bontang. 2. Pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung
dan daya tampung lingkungan. Strategi yang ditempuh adalah :
a. Membatasi perkembangan kegiatan budidaya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;
b. Membatasi perkembangan kawasan terbangun untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan;
c. Mengembangkan kegiatan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan laut dengan memperhatikan keunikan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta beragamnya sumberdaya yang ada.
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 17
Gambar 2.4
Peta Rencana Pola Ruang Wilayah
Sumber : RTRW 2012
2.2 KEMAJUAN PELAKSANAAN SSK
Secara umum rencana kebutuhan sarana sanitasi untuk 3 (tiga) sub sektor yang ditargetkan pada SSK periode sebelumnya (tahun 2011 – 2012), sampai saat ini sebagian besar telah terimplementasikan. Informasi mengenai status implementasi SSK periode sebelumnya dari masing-masing sub sektor dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 18
a. Sub Sektor Air Limbah Domestik
Tabel 2.11
Kemajuan Pelaksanaan SSK untuk Sub Sektor Air Limbah Domestik
SSK (Periode Sebelumnya) Tahun 2011– 2012 SSK (Saat Ini) Tujuan Sasaran Data Dasar Status Saat Ini
(1) (2) (3) (4) Meningkatkan pengendalian pencemaran lingkungan Meningkatnya cakupan pelayanan dan pengelolaan air limbah dari 4,8% menjadi 10% 4,8% penduduk terlayani dalam pengelolaan air limbah 41,6% penduduk sudah terlayani dalam pengelolaan air limbah Meningkatnya sarana prasarana pengelolaan sanitasi dari 0% menjadi 66,7% Sarana prasarana yang tersedia 0% Sarana prasarana telah tersedia 66,7% Mewujudkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah Meningkatnya jumlah kelompok swadaya masyarakat yang menangani pengelolaan air limbah dari 5 KSM menjadi 15 KSM Baru terbentuk 5 KSM yang menangani pengelolaan air limbah Telah terbentuk 7 KSM yang menangani pengelolaan air limbah
b. Sub Sektor Persampahan
Tabel 2.12
Kemajuan Pelaksanaan SSK untuk Sub Sektor Persampahan
SSK (Periode Sebelumnya) Tahun 2011– 2012 SSK (Saat Ini) Tujuan Sasaran Data dasar Status Saat Ini
(1) (2) (3) (4)
Meningkatnya
cakupan layanan dan kualitas system pengelolaan persampahan Meningkatnya cakupan layanan persampahan dari 71,29% menjadi 74,08% 71,29% penduduk terlayani dalam pengelolaan sampah 95% penduduk sudah terlayani dalam pengelolaan sampah Meningkatkan peran aktif masyakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan mandiri berbasis komunitas Meningkatnya jumlah kelompok swdaya masyarakat/sekolah yang menangani pengelolaan sampah 3R yang terbina dari 5 menjadi 25 KSM/sekolah Baru terbentuk 5 KSM yang menangani pengelolaan sampah 3R terbina Telah terbentuk 24 KSM/sekolah yang menangani pengelolaan sampah 3R terbina
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 19
c. Sub Sektor Drainase
Tabel 2.13
Kemajuan Pelaksanaan SSK Untuk Sub Sektor Drainase Perkotaan
SSK (Periode Sebelumnya) Tahun 2011– 2012 SSK (Saat Ini) Tujuan Sasaran Data Dasar Status Saat Ini
(1) (2) (3) (4)
Meningkatkan system jaringan drainase dan pengendalian banjir Meningkatnya kondisi drainase/saluran pembuangan air sepanjang jalan dengan kondisi baik dari 13,77% menjadi 38,62% 13,77% drainase dalam kondisi baik 27,31% drainase dalam kondisi baik
Menurunnya kondisi drainase tersumbat dari 6% menjadi 3% Kondisi drainase tersumbat 6% Kondisi drainase tersumbat menjadi 2,73%
2.3 PROFIL SANITASI SAAT INI
Kota Bontang mempunyai luas wilayah darat 14.780 ha dan wilayah laut 34.977 dari luas wilayah 49.757 ha. Terdapat kawasan hutan lindung seluas 5.573 ha. Areal industri PT. Badak NGL dan PKT seluas 470 ha sisa wilayah daratan diluar tersebut 8.697 ha dan sebagian dataran rendah serta termasuk daerah pasang surut dimana sebagian besar masyarakat yang berada didaerah tersebut menggunakan WC atau MCK yang kurang layak, sehingga membutuhkan sarana sanitasi yang tepat untuk masyarakat, hal ini terlihat dari kebiasaan sebagian masyarakat yang tidak baik antara lain :
a. Membuang sampah disaluran drainase. b. Mencuci dan mandi di sungai tercemar.
c. Air buangan industri rumah tangga tanpa pengolahan.
d. Cara buang air besar masyarakat secara langsung ke sungai / pantai.
Kondisi eksisting pengelolaan sanitasi Kota Bontang saat ini dari tiap-tiap sub sektor sanitasi, antara lain:
2.3.1 Sub sektor Air Limbah Domestik
A. Sistem dan Infrastruktur
Saat ini Kota Bontang masih belum memiliki sarana pengelolaan air limbah terpusat skala kota, namun upaya penyediaan sarana pengolahan air limbah domestik skala kawasan/komunal terus dilakukan dan dikembangkan, terbukti dengan terbangunnya IPAL kawasan di beberapa kelurahan yang sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti IPAL Bontang Kuala, Berbas Pantai, Loktuan dan Guntung, sedang sisanya menggunakan MCK umum atau langsung dibuang ke sungai dan bibir pantai. Namun di sisi lain sebagian besar masyarakat sudah melengkapi rumahnya dengan sarana pengelolaan air limbah
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 20
dengan tangki septik aman dan sebagian kecil lainnya masih menggunakan saluran drainase serta sungai yang terdapat disekitar lingkungan permukiman.
Untuk mengidentifikasi sistem sanitasi existing, permasalahan yang dihadapi, dan potensi pengembangannya, Pokja melakukan analisis dengan menggunakan Diagram Sistem Sanitasi (DSS) sebagai alat bantu. Pada dasarnya, melalui diagram ini Pokja akan mendapatkan gambaran lengkap tentang kondisi aliran limbah, dari sejak dihasilkan sampai dibuang ke lingkungan di wilayahnya.
Identifikasi dari berbagai kemungkinan aliran limbah ini sekaligus menggambarkan sistem sanitasi yang berlaku di Kota Bontang.
Proses pemetaan sistem sanitasi pengelolaan air limbah yang ada dituangkan ke dalam “Diagram Sistem Sanitasi” seperti di bawah ini :
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 22
Gambar 2.5
Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik
STUDI EHRA DILAKUKAN DI SELURUH KELURAHAN
JUMLAH SAMPEL SEBANYAK 975 RESPONDEN (JUMLAH KK : 39.971
KK)
JUMLAH RT SEBANYAK 195 RT DARI 488 RT YANG ADA
BIDANG
RESAPAN ATAU
KE TANAH
LANGSUNG
Laut
SUNGAI LAUTTPA
Pipa Sewer
Septic Tank
komunal
IPAL Kawasan
DANAUStrategi Sanitasi Kota Bontang
II - 23
Tabel 2.14
Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini di Kota Bontang
No
Nama Kecamatan dan
Kelurahan
Sanitasi Tidak Layak Sanitasi Layak
BABS* (KK)
Sistem Onsite Sistem Offsite
Sistem Berbasis Komunal Skala Kawasan / Terpusat Cubluk***, Jamban Tidak Aman** (KK) Cubluk Aman/ Jamban Keluarga Dgn Tangki Septik Aman(KK) MCK /Jamban Bersama (KK) MCK Komunal**** (KK) Tangki Septik Komunal > 10 (KK) IPAL Komunal (KK) Sambungan Rumah yg Berfungsi (KK) (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x)
Bontang Selatan 1 Bontang Lestari ˗ 52 794 0 175 ˗ ˗ ˗ 2 Satimpo ˗ 0 1.912 0 ˗ 33 ˗ ˗ 3 Berbas Pantai ˗ 436 1.649 99 50 ˗ ˗ 120 4 Berbas Tengah ˗ 275 3.331 26 ˗ 50 ˗ ˗ 5 Tanjung Laut ˗ 66 3.621 0 200 ˗ ˗ ˗
6 Tanjung Laut Indah ˗ 238 2.902 0 150 50 ˗ ˗
Bontang Utara 1 Bontang Kuala ˗ 0 494 170 ˗ ˗ ˗ 505 2 Bontang Baru ˗ 15 2.009 787 ˗ 50 ˗ ˗ 3 Api-Api ˗ 13 3.159 1.069 ˗ ˗ ˗ ˗ 4 Gunung Elai ˗ 160 3.007 636 ˗ 50 120 ˗ 5 Loktuan ˗ 1.009 3.025 765 ˗ ˗ ˗ 135 6 Guntung ˗ 228 824 101 ˗ ˗ ˗ 165 Bontang Barat 1 Kanaan ˗ 42 642 232 ˗ ˗ ˗ ˗ 2 Gunung Telihan ˗ 185 3.554 80 ˗ ˗ ˗ ˗ 3 Belimbing ˗ 21 3.428 41 ˗ ˗ ˗ ˗
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 24
Tabel 2.15
Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/ Kapasitas
Kondisi
Keterangan Berfungsi Tidak
Berfungsi
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii)
SPAL Setempat (Sistem Onsite)
1 Berbasis komunal
- MCK Komunal unit 12 11 1
Kel. Bontang Lestari Kel. Berbas Pantai Kel. Tanjung Laut Kel. Tj.Laut Indah
2. Truk Tinja unit 1 1 - DKP
3. IPLT : kapasitas M3/hari - - - Belum ada
SPAL Terpusat (Sistem Offsite)
1. Berbasis komunal
- Tangki septik
komunal >10KK unit 5 5 -
Kel. Satimpo Kel. Berbas Tengah Kel. Tj.Laut Indah Kel. Bontang Baru Kel. Gunung Elai
- IPAL Komunal unit 1 1 - Kel. Gunung Elai
2. IPAL Kawasan/
Terpusat unit 4 4 -
Kel. Bontang Kuala Kel. Berbas Pantai Kel. Loktuan Kel. Guntung
- kapasitas M3/hari - - -
- sistem - - -
Sumber : DKP Kota Bontang
Tidak ada informasi data tentang Peta cakupan akses dan sistem layanan air limbah domestik, mengingat Kota Bontang belum memiliki Masterplan Air Limbah.
B. Kelembagaan dan Peraturan
Secara umum organisasi pengelola sektor air limbah (IPAL) di Kota Bontang adalah Dinas Pekerjaan Umum yang membangun sarana prasarana serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang melakukan pengoperasian dan pemeliharaan.
Untuk kelembagaan SANIMAS di masyarakat dilakukan oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM-SANIMAS) yang kelembagaannya dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya yaitu sebagai Panitia Pembangunan dan Badan Pengelola.
2.3.2 Sub sektor Persampahan
A. Sistem dan Infrastruktur
Pada Kota Bontang Lokasi TPA berada di Kelurahan Bontang Lestari Kecamatan Bontang Selatan. Pelayanan persampahan di Kecamatan Bontang Selatan saat ini dikelola oleh Dinas Kebersihan, dan Pertamanan Kota Bontang. Pengelolaan persampahan di Kecamatan
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 25
Bontang Selatan sama halnya dengan pengelolaan sampah di Kota Bontang. Kondisi persampahan Kota Bontang secara jelas akan ditampilkan pada Peta Persampahan Kota Bontang. Adapun mekanisme penanganan persampahan terbagi menjadi tiga jenis pola penanganan persampahan, yaitu :
a. Pola Individual Langsung
b. Pola Komunal Langsung
c. Pola Individual Tidak Langsung
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kecamatan Bontang Selatan dilayani oleh TPA Bontang Lestari dengan sistem sanitary landfill, dalam pemindahan sampah dari sumber sampah hingga ke TPA Bontang Lestari menggunakan sarana kebersihan berupa gerobak/becak motor, kontainer dan armada truk pengangkut.
Secara garis besar kondisi sistem pengelolaan sampah di Kota Bontang adalah sebagai berikut :
1. Pengelolaan oleh Masyarakat
Pelaksanaan pengumpulan sampah dari wadah sampah ke TPS dilaksanakan oleh penghasil sampah. Pola komunal ini terdapat pada sebagian besar daerah permukiman yang berada disekitar jalur pengangkutan sampah. Masyarakat penghasil sampah memindahkan sampah yang dihasilkannya ke suatu tempat yang berfungsi sebagai TPS, dapat berupa peralatan terbuka, bak sampah, atau kontainer.
Pada sebagian besar wilayah permukiman yang belum mendapat pelayanan pengangkutan sampah dari Pemerintah. Pada pola ini masyarakat langsung mengumpulkan sampahnya ke tempat terbuka untuk ditimbun, dibuang secara terbuka, atau dibakar.
2. Pengelolaan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Pelaksanaan pengumpulan sampah dari wadah sampah dilaksanakan oleh petugas kebersihan (petugas Dinas Kebersihan) dan secara langsung dipindahkan ke dalam truk
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 26
pengangkut sampah. Pola individu langsung ini dilaksanakan pada daerah-daerah permukiman teratur dan permukiman dipinggir jalan utama yang dilalui oleh truk pengangkut sampah.
Sampah dikumpulkan oleh petugas (yang dibiayai oleh penghasil sampah dan dikoordinir oleh RT masing-masing atau oleh pihak Kelompok masyarakat/Pokmas). selanjutnya sampah dengan gerobak dibawa ke pinggir jalan yang akan dilalui truk pengangkut, ketika truk datang sampah dipindahkan ke dalam truk. Pada pola ini gerobak berfungsi sebagai alat angkut pengumpul dan sekaligus sebagi TPS. Ini dilakukan jika pada jalur pengangkutan sampah terdekat tidak tersedia TPS (bak sampah atau kontainer). Jika di sekitar jalur pengangkutan tersedia TPS, maka sampah dari gerobak langsung dipindahkan kedalam TPS. Pola yang sama juga dilakukan pada daerah pasar, tetapi dengan petugas pelaksana adalah petugas kebersihan (petugas Dinas Kebersihan). Sampah dikumpulkan petugas kemudian dipindahkan ke TPS yang tersedia (Bak sampah atau kontainer) sebelum diangkut ke TPA.
Pada saat ini sudah dikembangkan area TPA di Kota Bontang seluas 15 Ha dengan sistem sanitary landfill yang berlokasi di Kelurahan Bontang Lestari. Kegiatan pengurangan jumlah sampah yang akan dibuang ke cekungan dilakukan sekitar 30 KK pemulung yang bermukim pada lokasi dan sekitar TPA. Prasarana yang tersedia di lingkungan TPA sampah adalah jalan masuk, bangunan beratap tanpa dinding untuk pelaksanaan pembuatan kompos (belum difungsikan), dan sarana air minum (tangki ukuran 2 m3) yang diisi setiap 4
hari untuk memenuhi kebutuhan air minum para pemulung yang tinggal disekitar TPA sampah. TPA sampah ini digunakan sebagai tempat pembuangan akhir sampah oleh pemerintah Kota Bontang (untuk sampah yang berasal dari daerah kota yang dilayani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan).
3. Pengelola Swasta
Sampah di kawasan industri ditangani sendiri oleh perusahaaan yang bersangkutan, yaitu di Kel. Satimpo ditangani oleh PT Badak LNG dan di Kel. Belimbing ditangani oleh PT Pupuk Kaltim. TPA Sampah PT.Pupuk Kaltim yang terletak diareal PT Pupuk Kaltim ini khusus digunakan untuk menampung sampah yang berasal dari permukiman PT Pupuk Kaltim. Lahan TPA sampah berbentuk lembah. Sampah diturunkan dari truk pengangkut sampah di lahan penampung. Metode yang digunakan open dumping. Sarana yang tersedia adalah bangunan Dinas, tempat pemilihan sampah, tempat pembuatan kompos dengan metode terowongan (windows), dan incinerator. Peralatan yang digunakan adalah bulldozer untuk mendorong dan memindahkan sampah.
Pembuatan kompos dengan model terowongan dalam skala besar juga telah dilakukan yaitu, di TPA milik PT Pupuk Kaltim oleh pihak swasta pengelola kebersihan di komplek PT Pupuk Kaltim. Jumlah terowongan yang digunakan saat ini sekitar 35 unit dengan kapasitas per terowongan sekitar 300-400 kg kompos per sekali produksi (setiap 55-60 hari).
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 27
Kompos yang dihasilkan digunakan sebagai penyubur (fertilizer) tanaman yang ada di Komplek PT Pupuk Kaltim.
Pemetaan sistem sanitasi pengelolaan persampahan yang terjadi diilustrasikan melalui DSS sebagai berikut:
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 28
Gambar 2.6
Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Persampahan
Sungai
Laut
Kebun
TPA
Bank Sampah
Motor Roda 3
Bank Sampah
Strategi Sanitasi Kota Bontang
II - 29
Produksi sampah ditetapkan (asumsi) : 2.5 lt/hari/jiwa, pada tahun 2014 total timbulan sampah sebesar 399,71 m3/hari. Hal ini didasarkan pada jumlah penduduk Kota Bontang
pada tahun 2014 sebanyak 159.885 jiwa, sedang untuk kapasitas pengelolaan sampah terangkut sebesar 380,01 m3/hari.
Tabel 2.16 Timbulan sampah No Nama Kecamatan dan Kelurahan Jumlah Penduduk (orang)
Volume Timbulan Sampah
(%) (m3/hari) Bontang Selatan 63.348 39,62 158,37 1 Bontang Lestari 4.178 2,61 10,45 2 Satimpo 7.517 4,70 18,79 3 Berbas Pantai 9.175 5,74 22,94 4 Berbas Tengah 14.747 9,22 36,87 5 Tanjung Laut 14.915 9,33 37,29 6 Tanjung Laut Indah 12.816 8,02 32,04
Bontang Utara 68.905 43,27 172,94 1 Bontang Kuala 4.380 2,74 10,95 2 Bontang Baru 10.781 6,74 26,95 3 Api-Api 15.407 9,64 38,52 4 Gunung Elai 14.857 9,29 37,14 5 Loktuan 19.195 12,01 47,99 6 Guntung 4.556 2,85 11,39 Bontang Barat 27.361 17,11 68,40 1 Kanaan 3.742 2,34 9,36 2 Gunung Telihan 11.615 7,26 29,04 3 Belimbing 12.004 7,51 30,01 TOTAL 159.885 100 399,71