• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PASIEN DEMAM TIFOID DAN PENGOBATAN DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN TAHUN 2016 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL PASIEN DEMAM TIFOID DAN PENGOBATAN DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN TAHUN 2016 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROFIL PASIEN DEMAM TIFOID DAN PENGOBATAN DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN TAHUN 2016

1MUHAMMAD FADHIL, 2NELLI MURLINA, 3YENITA, 4SHAHRUL RAHMAN 1,2,3,4UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

ABSTRACT

The type of research used in this study is a descriptive study with a cross sectional design to determine the profile and treatment of typhoid fever patients in the internal medicine department of Pirngadi hospital Medan in 2016 through medical record data. Based on the genitalia, male as many as 33 samples and females as many as 49 samples. Based on the age, teenager as many as 6 samples, young adults as many as 47 samples, adults as many as 27 samples, elderly as many as 2 samples. Based on the work, students as many as 6 samples, college student as many as 21 samples, goverment employee as many as 7 samples, entrepeneur as many as 15 samples, private employees as many as 10 samples, retirees as many as 4 samples, farmers as much as 2 samples, housewife as many as 14 samples, unemploymeent 3 people. Based on the treatment of antibiotics, cifrofloxacin as many as 25 samples, levofloxacin as many as 9 samples, ceftriaxone as many as 37 samples, cefixime as many as 7 samples, cefadroxyl as many as 1 sample, cefotaxime 1 sample, cotrimoxazole 1 sample. Based on antipyretic treatment, as many as 82 samples of paracetamol.

Keywords : Profile, Patient, Thypoid Fever, Treatment

PENDAHULUAN

Sejak awal abad ke-20, insidens demam tifoid menurun di Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini dikarenakan ketersediaan air bersih dan sistem pembuangan yang baik, dan ini belum dimiliki oleh sebgaian besar negara berkembang.Insidens demam tifoid yang tergolong tinggi terjadi di wilayah Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan kemungkinan Afrika Selatan (Insidens >100 kasus per 100.000 populasi per tahun). Insidens demam tifoid yang tergolong sedang (10-100 kasus per 100.000 populasi per tahun) berada di wilayah Afrika, Amerika Latin, dan Oceania (kecuali Australia dan Selandia baru) serta yang termasuk rendah (<10 kasus per 100.000 populasi per tahun) di bagian dunia lainnya.

Di Indonesia, Insidens demam tifoid banyak dijumpai pada populasi yang berusia 3-19 tahun. Ditjen Bina Upaya Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI tahun 2010, melaporkan demam tifoid menempati urutan ke-3 dari 10 pola penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia (41.081 kasus). Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2009 melaporkan bahwa proporsi demam tifoid dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit yaitu 8,5% (1.681 kasus) dari 19.870 kasus. Menurut laporan surveilans terpadu penyakit berbasis rumah sakit di Sumatera Utara tahun 2008, jumlah kasus demam tifoid rawat inap yaitu 1.364 kasus. Berdasarkan Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008, demam tifoid yang rawat jalan di Rumah Sakit menempati urutan ke-5 dari 10 penyakit terbesar yaitu 661 penderita dari 12.876 pasien rawat jalan (5.1%), sedangkan rawat inap di Rumah Sakit menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbesar yaitu sebanyak 1.276 penderita dari 11.182 pasien rawat inap (11.4 %).

Penatalaksanaan untuk demam tifoid ini terdiri dari istirahat dan perawatan diet dan terapi penunjang, serta yang paling penting adalah terapi medikamentosa yaitu dengan pemberian antibiotika. Dalam pengunaannya, pemberian antibiotika berbeda dengan pemberian jenis obat lainnya, selain harus memperhatikan pasien dan obat karakteristik yang ditangani harus diperhatikan. Untuk mencapai tujuan terapi yang optimal antibiotik harus digunakan serasional mungkin. Pengunaan antibiotika yang rasional harus didasari dengan pemahaman terhadap beberapa aspek dari penyakit infeksi terkait dan memperhatikan beberapa faktor seperti ketahanan individu, virulensi, mikroorganisme, serta farmakokinetik dan farmakodinamis dari antibiotika yang akan digunakan. Anti piretik digunakan untuk membantu untuk mengembalikan suhu

(2)

2

endogen pada hipotalamus. Obat ini menurunkan suhu tubuh hanya pada keadaan demam namun pemakaian obat golongan ini tidak boleh digunakan secara rutin karena bersifat toksik. Penyakit demam tifoid (Thypoid fever) yang biasa disebut tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya turunannya yaitu salmonella thyphii yang menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid terjadi pada masyarakat dengan status standar hidup dan kebersihan yang rendah, cenderung meningkat dan terjadi pada wilayah yang endemik. Didaerah endemik transmisi terjadi melalui air ataupun makanan yang tercemar. Makanan yang tercemar oleh carrier merupakan penularan yang paling sering di daerah nonendemik. Carrier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid tetapi masih mengekskresi S.Thyphi dalam bentuk feses dan urin selama lebih dari satu tahun. Demam tifoid ditularkan melalui oral-fekal (Makanan dan kotoran), maka pencegahan utama dengan cara memutuskan rantai tersebut dengan meningkatkan kebersihan perseorangan dan lingkungan seperti mencuci tangan sebelum makan dan penyediaan air bersih.Cara penyebarannya melalui muntahan, urin dan feses dari penderita melalui perantara pasif terbawa oleh lalat. Lalat kemudian mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran maupun buah-buahan yang segar. Jika demikian keadaanya, feses dan urin penderita bisa mengandung bakteri S.Typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui perantara makanan dan minuman yang sudah tercemar. S.typhi ialah bakteri gram negatif, memiliki flagela, bersifat anaerobik falkutatif, tidak mempunyai spora, memiliki kemampuan untuk invasi,hidup dan berkembang biak di sel kariotik. Bakteri ini membentuk asam dan kadang-kadang gas dari glukosa dan manosa, dan biasanya membentuk H2S.Bakteri ini dapat hidup di dalam air beku untuk jangka waktu yang cukup lama. S.typhi mempunyai beberapa antigen yaitu: antigen O, antigen H, antigen Vi dan outer membrane protein terutama porin.

Beberapa Antigen S.typhi/ : 1. Antigen O

Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh bakteri.Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2-5 jam,alkohol dan asam yang encer.

2. Antigen H

Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela,fimbriae S.typhi dan berstruktur kimia protein. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam.

3. Antigen Vi

Antigen Vi terletak di lapisan terluar S.typhi (kapsul) yang melindungi bakteri dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60°C,dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier.

4. Outer Membrane Protein (OMP)

Antigen OMP S.typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel di lingkungan sekitar. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan non porin. Porin merupakan komponen utama OMP yang terdiri atas OMP C,OMP D,OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM<6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85°C-100°C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A,protein A dan lipoprotein. Bersifat sensitif terhada protease, tetapi fungsinya belum diketahui dengan jelas.

S.typhi masuk melalui mulut, biasanya bersama makanan dan minuman yang terkontaminasi. S.typhi yang termakan

mencapai usus halus dan masuk ke saluran getah bening lalu ke aliran darah. Kemudian bakteri dibawa oleh darah menuju berbagai organ, termasuk usus. Saat bakteri masuk kesaluran pencernaan manusia, sebagian bakteri mati oleh asam lambung dan sebagian bakteri masuk ke usus halus. Setelah berhasil melewati usus halus, bakteri masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh darah dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati,empedu dan lain lain). Organisme ini berkembang biak dalam jaringan limfoid dan diekskresi dalam feses. Faktor host yang ikut berperan dalam resistensi terhadap infeksi S.typhi adalah keasaman lambung, flora normal usus dan daya tahan usus.Asam lambung (HCL) dalam lambung berperan sebagai penghambat masuknya bakteri S.typhi dan bakteri usus lainnya. Jika S.typhi masuk bersama-sama cairan, maka terjadi pengenceran HCL yang mengurangi daya hambat terhadap mikroorganisme yang menyebabkan penyakit masuk. Daya hambat HCL akan menurun pada waktu terjadi pengosongan lambung, sehingga S.typhi dapat masuk ke dalam usus penderita.S.typhi seterusnya memasuki folikel-folikel limfe yang terdapat di dalam lapisan mukosa atau submukosa usus, bereplikasi dengan cepat untuk menghasilkan lebih banyak S.typhi memasuki saluran limfe dan akhirnya mencapai aliran darah. Dengan demikian terjadilah bakterimia pada penderita. Dengan melewati kapiler-kapiler yang

(3)

3

terdapat dalam dinding kandung empedu atau secara tidak langsung melalui kapiler-kapiler hati dan kanalikuli empedu, maka bakteria dapat mencapai empedu yang larut disana. Melalui empedu yang infektif terjadilah invasi kedalam usus untuk kedua kalinya yang lebih berat dari pada invasi tahap pertama. Invasi tahap kedua ini menimbulkan lesi yang luas pada jaringan limfe usus kecil sehingga gejala-gejala klinik menjadi jelas.

Masa Inkubasi dapat berlangsung 7-21 hari,walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari. Pada awal penyakit keluhan dan gejala penyakit tidak khas, berupa: Anoreksia, sakit kepala, nyeri otot, lidah kotor dan gangguan saluran pencernaan. Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari.Gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berkepanjangan yaitu setinggi 39°C hinggs 40°C,sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk. Pada akhir minggu pertama diare lebih sering terjadi.Tanda khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor. Epiktasis dapat dialami oleh penderita sementara tenggorokan terasa mengering dan meradang. Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (rosalea) berlangsung 3-5 hari,kemudian hilang dengan sempurna. Jika pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu, pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaan tinggi. Suhu badan yang tinggi,dengan penurunan sedikit pada pagi hari. Terjadi perlambatan relatif nadi penderita. Suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi pendarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi ,akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor, inkotinensia alvi dan inkotinensia urin.Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar. Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikian juga hanya menghasilkan kekebalan yang lemah, kekambuhan dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu pendek. Pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan leukopenia,dapat pula terjadi kadar leukosit normal, atau leukositosis tanpa infeksi sekunder.Selain itu dapat ditemukan anemia dan trombositopenia. Nilai SGPT dan SGOT sering meningkat.Pemeriksaan lain yang rutin dilakukan adalah uji Widal dan kultur organisme. Kuman tifoid yang mengandung Antigen (O dan H) dapat menstimulasi host untuk terbentuknya antibodi.Pada uji Widal,bila terjadi kenaikan 4 kali titer antibodi O dan H pada spesimen yang diambil dalam jarak 2 minggu, maka kemungkinan tinggi terjadi proses infeksi S.Typhi. Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat dan secara cepat dapat mencapai puncak pada minggu keempat, dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pemeriksaan ini mempunyai sensitivitas sekitar 70% dan mempunyai nilai spesifitas yang rendah.Kultur merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis. Kultur darah, feses dan urin sebaiknya dilakukan. Kultur darah biasanya positif pada awal 2 minggu pertama, tetapi kultur feses biasanya selama minggu ke 3 hingga ke 5. Sedangkan kultur urin pada minggu ke 4. Jika kultur tersebut negatif tetapi secara klinis suspek kuat demam tifoid, maka kultur biopsi spesimen sumsum tulang belakang dapat dijadikan pertimbangan untuk mencari bakteri Salmonella. Tingkat sensitivitas kultur sumsum tulang mencapai 55-90% dan tidak seperti kultur darah, hasil kultur tidak berkurang walaupun setelah 5 hari pemberian antibiotik sebelumnnya.Akan tetapi,metode ini memerlukan waktu yang lama dengan tingkat sensitivitas dan spesifitas yang relatif rendah.Selain uji Widal, terdapat beberapa metode pemeriksaan lain yang dilakukan dengan cepat, mudah serta memiliki sensitivitas dan spesifitas yang lebih baik antara lain uji TUBEX, typhidot dan dipstik.Uji TUBEX adalah uji Semikuantif kolometrif yang cepat dan mudah untuk dikerjakan. Uji ini digunakan untuk mendektesi antibodi anti-S.Typhi O9 pada serum pasien. Deteksi terhadap anti O9 dapat dilakukan lebih dini. Tata laksana untuk pasien demam tifoid terbagi menjadi dua bagian besar yaitu tata laksana umum dan tata laksana antibiotik. Tata laksana umum demam tifoid yang bersifat suportif terdiri dari tirah baring, pemberian rehidrasi oral maupun parenteral, penggunaan antipiretik, pemberian nutrisi yang adekuat serta transfusi darah jika diindikasikan. Komponen-komponen tersebut ikut memberikan kontribusi untuk perbaikan kondisi kesehatan pasien. Berdasarkan dengan etiopatologis dari demam tifoid yaitu infeksi Salmonella

Typhi maka pengobatan utama untuk penyakit ini adalah pemberian antibiotika.Kloramfenikol masih merupakan pilihan pertama pada pengobatan pasien demam tifoid pada masa belum adanya antibiotik generasi terbaru. Kloramfenikol terikat secara reversibel pada tempat reseptor subunit 50S ribosom bakteri, obat ini bekerja sebagai antimikroba dengan menghambat pepditil transferase sehingga penggabungan asam amino dengan peptida baru akan terganggu.Dosis yang diberikan adalah 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 sampai 4 kali pemberian selama 10-14 hari atau sampai 5-7 hari setelah demam turun, sedang pada kasus malnutrisi atau penyakit pengobstsn dapat diperpanjang sampai 21 hari, 4-6 minggu

(4)

4

untuk osteomielitis akut, dan 4 minggu untuk meningitis.Penisilin merupakan obat beta-laktam yang bekerja sebagai obat antimikroba dengan merusak dinding bakteri. Golongan penisilin yang digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah Ampisilin dan Amoksisilin. Ampisilin memberikan respon perbaikan klinis yang kurang apabila dibanding kan dengan Kloramfenikol sehingga jarang dijadikan pilihan untuk terapi demam tifoid. Dosis yang dianjurkan adalah 200 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian secara intravena. Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian peroral memberikan hasil yang setara dengan Kloramfenikol namun penurunan demam lebih lama. Efek antimikroba dari Trimethoprim adalah menghambat asam dihidrofolar reduktase bakteri, sedangkan kerja dari Sulfamektazol adalah menghambat sintesis asam folat. Dosis yang dianjurkan adalah TMP 10 mg/kgBB/hari atau SMZ 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Aktivitas antimikrobanya sama dengan penisilin yaitu mengikat protein pengikat penisilin yang spesifik berfungsi sebagai reseptor obat pada bakteri, menghambat sintesis dinding sel bakteri dan transpeptidasi peptidoglikan, mengaktivasi enzim autolitik pada dinding sel bakteri sehingga menyebabkan dinding sel rusak atau bakteri akan mati. Obat Sefalosforin generasi ketiga melakukan penetrasi yang baik ke seluruh jaringan dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal dan bekerja membasmi bakteri gram negatif. Dosis Seftriakson diberikan secara injeksi intravena, intramuskular dan infus sebanyak 1gr/hari dalam dosis tunggal. Pada infeksi berat 2-4gr/hari dosis tunggal atau 2x sehari dan Sefotaksim diberikan secara intramuskular, intravena, atau infus 1gr/12 jam. Pada pemberian Seftriakson demam akan turun dan hasil kultur akan negatif pada hari keempat sehingga pengobatan dengan Seftriakson hanya membutuhkan waktu 5-10 hari saja sehingga akan menekan biaya pengobatan.Fluorokuinolon bekerja sebagai antimikroba yang menghambat

topoisomerase II dan topoisomerase IV sehingga sintesis protein terhambat. Bioavabilitas dari obat ini adalah 80-95%

terdistribusi secara baik ke jaringan dan cairan tubuh setelah pemberian secara oral.Pengobatan demam tifoid dosis antibiotik sifrofloksasin pemberian oral adalah 2 kali 250-500 mg dan pemberian parenteral adalah 200-500 mg/24 jam pemberian secara intravena, dosis antibiotik levofloksasin pemberian oral adalah 1 kali 250-500 mg dan pemberian parenteral adalah 500 mg/24 jam pemberian secara intravena.Salisilat, khususnya asetosal merupakan obat yang banyak digunakan sebagai analgesik, antipiretik, dari anti inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dosis toksik obat imi justru memperlihatkan efek piretik sehingga pada keracunan berat terjadi demam dan hiperhidrosis. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300μg/mL. Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik sebagai anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin. Asam mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin. Asam mefenamat terikat sangat kuat pada protein plasma. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg. Ibuprofen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali di banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin. Efek anti-inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari. Absorbsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dosis yang diabsorpsi akan diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjungatnya. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karbosilasi. Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Fenazetin tidak digunakan lagi dalam pengobatan karena penggunaannya dikaitkan dengan terjadinya analgesik nefropati, anemia hemolitik dan mungkin kanker kandung kemih.Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Kedua-duannya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang pelaksanaannya dilakukkan pada bulan Maret 2018. Data diambil dari data sekunder (rekam medik) dengan pasien yang didiagnosa demam tifoid pada tahun januari 2016 sampai desember 2016 di bagian penyakt dalam RS. Pirngadi Medan. Terdapat 82 pasien dengan diagnosa demam tifoid yang tercatat di database bagian rekam medik bagian penyakit dalam RS. Pirngadi tahun 2016. Variabel penelitian yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, pengobatan antibiotik dan pengobatan antipiretik.

(5)

5

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Usia Di Bagian Penyakit Dalam RS. Pirngadi Medan Tahun 2016

Usia Frekuensi Persentase (%)

14-16 6 7

17-35 47 57

36-65 27 34

>65 2 2

Total 82 100

Berdasarkan Tabel 4.1 diatas didapatkan jumlah sampel yang terdiagnosa demam tifoid yang paling banyak terdapat pada kelompok rentang usia 17-35 tahun sebnyak 47 orang (57%) dan yang paling sedikit pada kelompok rentang usia >65 tahun sebanyak 2 orang (2%).

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Jenis Kelamin Di Bagian Penyakit Dalam RS. Pirngadi Medan Tahun 2016

Jenis kelamin Frekuensi Pesentase (%)

Laki-Laki 33 40

Perempuan 49 60

Total 82 100

Berdasarkan tabel 4.2 diatas didapatkan jumlah sampel yang terdiagnosa demam tifoid yang paling banyak terdapat pada kelompok jenis kelamin perempuan sebanyak 49 orang (60%) dan kelompok jenis kelamin yang paling sedikit adalah Laki-Laki sebanyak 33 orang (40%).

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pekerjaan Di Bagian Penyakit Dalam RS. Pirngadi Medan Tahun 2016

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%) Pelajar 6 7 Mahasiswa 21 26 PNS 7 8 Wiraswasta 15 18 Pegawai Swasta 10 13 Pensiunan 4 5 Petani 2 2 IRT 14 17 Tidak Bekerja 3 4 Total 82 100

Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan jumlah sampel yang terdiagnosa demam tifoid berdasarkan pekerjaan didapatkan kelompok pekerjaan yang paling banyak terdiagnosa adalah mahasiswa sebanyak 21 orang (26%) dan paling sedikit adalah petani sebanyak 2 orang (2%).

(6)

6

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pengobatan Antibiotik Di Bagian Penyakit Dalam RS. Pirngadi Medan Tahun 2016

Pengobatan Antibiotik Frekuensi Persentase (%)

Sifrofloksasin 25 31 Levofloksasin 10 12 Seftriakson 37 45 Sefadroksil 1 1 Sefiksim 7 9 Sefotaksim 1 1 Kotrimoksazol 1 1 Total 82 100

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan jumlah sampel yang terdiagnosa demam tifoid berdasarkan pengobatan antibiotik didapatkan pilihan pengobatan antibiotik yang paling banyak adalah seftriakson sebanyak 36 orang (44%) dan paling sedikit adalah sefadroksil, sefotaksim dan kotrimoksazol sebanyak 1 orang (1%).

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pengobatan Antipiretik Di Bagian Penyakit Dalam RS. Pirngadi Medan Tahun 2016

Pengobatan Antipiretik Frekuensi Persentase (%)

Ibuprofen 0 0

Parasetamol 82 100

Total 82 100

Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan jumlah sampel yang terdiagnosa demam tifoid berdasarkan pengobatan antipiretik didapatkan pilihan pengobatan antipiretik yang paling banyak adalah parasetamol sebanyak 82 orang (100%) sedangkan untuk ibuprofen tidak ada.

PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang didapatkan dari rekam medik sebanyak 82 pasien dengan diagnosa demam tifoid di bagian penyakit dalam di RS. Pirngadi pada tahun 2016. Berdasarkan tabel 4.1 distribusi frekuensi pasien demam tifoid berdasarkan usia, dijumpai kelompok usia yang paling banyak kasusnya yaitu rentang usia 17-35 tahun sebesar 57% sedangkan yang paling sedikit adalah rentang usia >65 tahun sebesar 2%. Bila dicermati rentang usia yang yang terkena demam tifoid adalah usia dewasa muda dimana merupakan rentang usia yang lebih aktif dan lebih sering berada di luar rumah, sehingga lebih berisiko terinfeksi Salmonella Typhi karena mengomsumsi jajanan ataupun makanan di luar rumah dan higienitasnya tidak terjamin. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan I Komang Gede Triana dijumpai kategori usia yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah kategori usia dewasa muda sebamyak 50%. Berdasarkan tabel 4.2 distribusi frekuensi pasien demam tifoid berdasarkan jenis kelamin dijumpai jenis kelamin perempuan 60% lebih banyak dibandingkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 40%. Demam tifoid dapat terjadi pada semua jenis kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki, Penyakit demam tifoid berkaitan dengan higiene perorangan dan higiene penjamah makanan yang rendah, lingkungan yang kumuh dan biasanya transmisi terjadi melalui air yang tercemar Salmonella thyphi, makanan atau makanan yang tercemar carrier merupakan sumber penularan utama demam tifoid sehingga kejadian demam tifoid dapat terjadi kepada siapapun. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Puspita Sari dijumpai jenis kelamin yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah perempuan sebanyak 53% dan pada penelitian Laila Musyarrofah dijumpai jenis kelamin yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah perempuan sebanyak 67%. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Agung Triono dijumpai jenis kelamin yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah perempuan sebanyak 66%.Berdasarkan tabel 4.3 distribusi frekuensi pasien demam tifoid berdasarkan pekerjaan dijumpai kategori pekerjaan yang paling banyak terdiagnosa demam tifoid adalah mahasiswa sebesar 26%. dimana pada kelompok pekerjaan ini sering melakukan aktifitas diluar rumah seperti mengonsumsi makanan dan minuman yang kurang terjamin kebersihannya, sehingga beresiko terinfeksi Salmonella Typhi.

(7)

7

Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian Eunike Risani Seran dijumpai kategori pekerjaan yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah kategori mahasiswa sebanyak 38% dan pada penelitian Mai Debora Gultom dijumpai kategori pekerjaan yang paling banyak yang terdiagnosis demam tifoid adalah kategori mahasiswa sebanyak 46%.

Berdasarkan tabel 4.4 distribusi frekuensi pasien demam tifoid berdasarkan pengobatan antibiotik dijumpai antibiotik yang paling banyak digunakan adalah Seftriakson sebanyak 45%. Pada pemberian Seftriakson demam akan turun dan hasil kultur akan negatif pada hari keempat sehingga pengobatan dengan Seftriakson hanya membutuhkan waktu 5-10 hari saja sehingga akan menekan biaya pengobatan. Seftriakson dianggap sebagai obat yang efektif untuk mengobati demam tifoid jangka pendek. Sifat yang menguntungkan dari obat ini adalah merusak struktur kuman, mempunyai spektrum yang luas dan resintensi kuman masih terbatas. Seftriakson merupakan terapi lini kedua untuk demam tifoid, namun tetap digunakan sebagai terapi utama dikarenakan memiliki spektrum yang luas dan jarang terjadi resistensi. Selain itiu, memiliki indeks terapuetik yang tinggi dan efek samping minimal sehingga efektif dalam pengobatan demam tifoid. Seftriakson mampu menurunkan suhu tubuh hingga normal secara signifikan sehingga dapat menjadi obat pilihan untuk pasien demam tifoid. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian Puspita Sari dijumpai kategori pengobatan antibiotik paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah seftriakson sebanyak 45%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Riri Sri Untari dijumpai kategori pengobatan antibiotik paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah seftriakson 66%.dan pada penelitian Fitri Athaya dijumpai kategori pengobatan antibiotik paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah seftriakson sebanyak 42%. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sri Andriani dijumpai kategori pengobatan antibiotik paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah seftriakson sebanyak 52%. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Laila Musyaroffah dijumpai kategori pengobatan antibiotik paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah seftriakson sebanyak 55%. Berdasarkan tabel 4.5 distribusi frekuensi pasien demam tifoid berdasarkan pengobatann antipiretik dijumpai antipiretik yang paling banyak digunakan adalah Parasetamol sebanyak 100%. Hal ini disebabkan Parasetamol memiliki absorpsi yang cepat dan hampir sempurma dari saluran cerna.Konsentrasi dalam plasma mencapai puncak dalam 30 sampai 60 menit, waktu dalam plasma sekitar 2 jam setelah dosis terapeutik. Parasetamol terdistribusi relatif seragam hampir di seluruh cairan tubuh.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan kelompok usia dijumpai pasien yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah rentang usia 17-35 tahun sebanyak 47 orang (57%).

2. Berdasarkan jenis kelamin dijumpai pasien yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah perempuan sebanyak 49 orang (60%).

3. Berdasarkan pekerjaan pasien dijumpai pekerjaan yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid pada kelompok pekerjaan adalah mahasiswa sebanyak 21 orang (26%).

4. Berdasarkan pengobatan antibiotik dijumpai pengobatan yang paling banyak digunakan untuk penyakit demam tifoid adalah seftriakson sebanyak 37 orang (45%)

5. Berdasarkan pengobatan antipiretik dijumpai pengobatan yang paling banyak digunakan untuk penyskit demam tifoid adalah parasetamol sebanyak 82 orang (100%).

SARAN

1. Bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian ini perlu dilakukan peneltitian dengan menggunakan suatu rancangan metode-metode dan variabel lain yang berbeda.

2. Bagi masyarakat umum ini merupakan informasi penyakit demam tifoid dapat mengenai berbagai usia dan berbagai pekerjaan. Sehingga diharapkan masyarakat untuk menjaga higienitas makanan dan minuman.

(8)

8

DAFTAR PUSTAKA

Hoffman SL. Typhoid fever. In: Strickland GT,editor. Hunter’s tropical medicine. 7 th ed. Philadelphia; WB Saunders CO; 1991.

Ditjen BUK Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI,2010.

Soedarmo Sumarmo SP, Gama Herry, Rezki Sri SH, Irawan HS. Demam Tifoid. Dalam: Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia; 2012.

Gyssen Inge C. Audits for monitoring the quality of antimicrobal prescriptions. In: Antibiotic Policies Fighting Resistance. New York: Springer; 2005.

Widodo D. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta; Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2009. Soewondo ES. Demam Tifoid deteksi dini dan tatalaksana. Makalah lengkap: Seminar Kewaspadaan terhadap demam pada penyakit Thypus Abdominalis, DBD dan Malaria Serta Penggunaan Tes Diagnostik Laboratorium untuk Deteksi Dini. Surabaya: Tropical Diseases Center UNAIR; 2002.

Gladwin M, Trattler B. The enteric. In: Clinical Microbiology Made Ridiciously Simple. Miami:Med Master Inc, 1999.p.54-61. Baron EJ, Peterson R, Finegold SM, .Enterobacteriae.In;Baileyandscott’s diagnostic microbiology.1994.

Juwono R. Demam Tifoid. Penyakit Dalam I. Ed ke 3. Jakarta:Balai Penerbit FK UI 1996. Theodore Curtis,MD. Thypoid Fever.eMedicine Clinical Reference.2006.

Loho T, Sutanto, Silman E. . Demam Tifoid Peran Mediator, Diagnosis dan Terapi. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UI.2002.

Alwi, Idrus. Panduan Praktis Klinis Pematalaksanaan Di Bidang Ilmu Pemyakit Dalam. Interna Publishing.Jakarta,2015. Prayitno Ari. Pilihan Terapi Antibiotik Untuk Demam Tifoid. Dalam: Update Management of Infectious Disease and Gastrointestinal Disorders. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Departemen Ilmu Kesehatan Anak; 2012. Chamber Henry F. Obat Kemoterapik. Dalam: Farmakologi Dasar dan Klinik Katzung. Edisi 10, Jakarta: EGC; 2011. Gilman, A.G. , Goodman & Gillman Dasar Farmakologi Terapi,Edisi 10, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta; 2007. Triana Gede Komang I , Karateristik Klinis Demam Tifoid di RSUP Sanglah Periode Waktu Juli 2013 – Juli 2014, Bali: Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana; 2017.

Pratini Dea Ni Putu, Karateristik Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Demam, Kadar Hemoglobin, Leukosit dan Trombosit Penderita Demam Tifoid di RSU Anutupura Tahun 2013, Palu : Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako; 2017.

Seran Risani Eunike, Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskemas Tumaratas, Madano: Program Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi; 2015.

(9)

9

Untari Sri Riri, Analisis Pengunaan Antibiotik Pada Terapi Demam Tifoid Pasien Rawat Inap di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2010 dan 2011, Yogyakarta : Universitas Achmad Dahlan; 2013.

Untari Sri Riri, Analisis Pengunaan Antibiotik Pada Terapi Demam Tifoid Pasien Rawat Inap di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2010 dan 2011, Yogyakarta : Universitas Ahmad Dahlan; 2013.

Athaya Fitri, Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Kasus Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUP Abdul Wahan Sjahrane Samarinda Periode Januari-September 2015, Samarinda : Universitas Mulawarman; 2015.

Andriani Sri, Karateristik Dan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Beberapa Rumah Sakit Di Samarinda Periode 2015, Samarinda : Universitas Mulawarman; 2016.

Hammad O, Ceftriaxone versus Chloramphenicol for Treatment of Acute Typhoid Fever, Life Science Journal; 2011 8 (2), 100–105.

Musyaroffah Laila, Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RS PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2015, Yogyakarta : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; 2017.

Triono Agung, Hubungan Antara Higiene Perorangan Kondisi Jamban Keluarga Dan Informasi Yang Diterima Dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Nogosari Boyolali, Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2015

Gambar

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Jenis  Kelamin Di Bagian Penyakit Dalam   RS
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pengobatan Antibiotik Di Bagian Penyakit Dalam  RS

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian, jumlah leukosit yang paling banyak dialami pasien demam tifoid pada anak di RSUD Karanganyar adalah leukopenia yaitu sebanyak 44,9% (48 orang), diikuti

Antibiotik merupakan obat utama yang digunakan untuk terapi demam.. tifoid dan untuk mendapatkan antibiotik yang cost-effective

Untuk mengetahui apakah penggunaan antibiotik yang meliputi golongan antibiotik, nama antibiotik, dosis antibiotik, frekuensi dan durasi antibiotik pada demam tifoid di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kejadian DRPs kategori ketidaktepatan dosis dan pemilihan obat pada penggunaan antibiotik dalam pengobatan demam

Mengetahui hasil penelitian yang telah didapatkan mengenai waktu bebas demam yang diperoleh oleh antibiotik seftriakson pada empat kasus pasien demam tifoid anak dan

Mengetahui hasil penelitian yang telah didapatkan mengenai waktu bebas demam yang diperoleh oleh antibiotik seftriakson pada empat kasus pasien demam tifoid anak dan

Berdasarkan penelitian, jumlah leukosit yang paling banyak dialami pasien demam tifoid pada anak di RSUD Karanganyar adalah leukopenia yaitu sebanyak 44,9% (48 orang), diikuti

Untuk mengetahui apakah penggunaan antibiotik yang meliputi golongan antibiotik, nama antibiotik, dosis antibiotik, frekuensi dan durasi antibiotik pada demam tifoid di