• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP WAKTU PENGELUARAN AIR SUSU IBU (ASI) PADA IBU PRIMIPARA POST SECTIO CAESARIA LITERATUR REVIEW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP WAKTU PENGELUARAN AIR SUSU IBU (ASI) PADA IBU PRIMIPARA POST SECTIO CAESARIA LITERATUR REVIEW"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP WAKTU PENGELUARAN AIR SUSU

IBU (ASI) PADA IBU PRIMIPARA POST SECTIO CAESARIA

LITERATUR REVIEW

Fitriani Sulastri

e-mail:[email protected] ABSTRAK

Di Indonesia rata-rata permasalahan tidak tercapainya cakupan ASI ekslusif disebabkan gagalnya pemberian ASI segera setelah lahir dikarenakan tidak semua ibu paska melahirkan langsung mengeluarkan ASI. Hal ini dikarenakan proses pembentukan ASI melibatkan serangkaian stimulus yang kompleks. Pijat oksitosin ini dilakukan dengan memberikan tekanan ringan pada sisi kanan dan kiri tulang belakang dengan disertai pemberian lingkungan yang nyaman dan memprovokasi ikatan antara ibu dan bayi seperti meletakkan bayi di dekat ibu selama proses pijatan diberikan pada ibu.

Desain penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur dan studi kasus. Desain penelitian yang diambil dalam penelusuran ilmiah ini adalah Berdasarkan hasil penelusuran di Google Schoolar, Pub Med,Ebsco dan Proquest dengan kata kunci: pijat oxitosin, pengeluaran Air Susu (ASI), Post SC atau keyword: oxytocin massage, breastfeeding frequency, excretion time of colostrum, post SC, peneliti menemukan 15 jurnal yang sesuai dengan kata kunci tersebut. Sebanyak 10 jurnal dari jurnal yang ditemukan sesuai kata kunci pencarian tersebut kemudian dilakukan skrining,3 jurnal dieksklusi karena tidak tersedia artikel full text. Asesment kelayakan terhadap 7 jurnal full text dilakukan, jurnal yang duplikasi dan tidak sesuai kriteria inklusi dilakukan eksklusi sebanyak 1 , sehingga didapatkan 6 jurnal full text yang dilakukan review.

Hasil penelitian yang didapat dari hasil literature Produksi ASI responden setelah dilakukan pijat oksitosin terjadi peningkatan yang signifikan ditandai dengan kenaikan volume ASI setelah dilakukan pemijatan di areola mamae. Terdapat berbagai macam metode untuk meningkatkan produksi ASI, dan dapat dikombinasikan dalam melakukan intervensi untuk mengatasi permasalahan ASI. Pijat oksitosin efektif terhadap peningkatan pengeluaran ASI pada ibu post partum SC primipara dengan ratarata lama waktu pengeluaran ASI setelahdilakukan pijat oksitosin adalah 24 jam-<36 jam. Pijat oksitosin terbukti efektif terhadap pengeluaran ASI pada ibu post partum SC primipara.

Harapan tenaga kesehatan dan masyarakat dapat menggunakan terapi kombinasi pijat oksitosin sebagai salah satu alternatif metode relaksasi untuk meningkatkan dan memperlancar produksi ASI.

Kata kunci :

Pijat Oksitosin, Air Susu Ibu, Post Sectio caesarea

ABSTRACT

In Indonesia, the average problem of not achieving exclusive breastfeeding coverage is due to the failure of breastfeeding immediately after birth because not all mothers give birth immediately after giving birth. This is because the process of forming ASI involves a complex set of stimuli. Oxytocin massage is done by applying mild pressure on the right and left sides of the spine accompanied by providing a comfortable environment and provoking bond between mother and baby such as putting the baby near the mother during the massage process is given to the mother.

The research design used was a literature review and case study. The research design taken in this scientific search is based on search results in Google Schoolar, Pub Med, Ebsco and Proquest with keywords: oxitosin massage, milk expenditure (ASI), Post SC or keywords: oxytocin massage, breastfeeding frequency, excretion time of colostrum, post SC, researchers found 15 journals that match these keywords. A total of 10 journals from journals found according to the search keywords were then screened, 3 journals were excluded because there were no full text articles available. Feasibility assessment of 7 full text journals was carried out, duplicated journals that did not fit the inclusion criteria were excluded by 1, so that 6 full text journals were reviewed.

Research results obtained from the literature results of respondent's milk production after an oxytocin massage occurred a significant increase marked by an increase in the volume of breast milk after massaging the areola mamae. There are various methods to increase milk production, and can be combined to intervene to overcome the problems of breast milk. Oxytocin massage is effective against increasing breastmilk removal in postpartum SC primiparous mothers with the average length of time for breastmilk removal after oxytocin massage is 24 hours - <36 hours. Oxytocin massage has been shown to be effective against breastmilk removal in postpartum SC primiparous mothers.

It is hoped that health workers and the public can use combination therapy for oxytocin massage as an alternative relaxation method to increase and facilitate milk production.

Keywords: oxytocin massage, breastfeeding frequency, excretion time of colostrum, post SC

PENDAHULUAN

Salah satu target Sustainabel Development Goals (SDGs) yang akan dicapai adalah

menurunkan angka kematian anak dengan indikatornya yaitu menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 12/1000 kelahiran hidup di tahun 2030 (Barredo L et al, 2015). Upaya yang

(2)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat kematian bayi tersebut antara lain adalah dengan pemberian ASI secara eksklusif ( Liu L et al, 2016).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pemberian ASI secara eksklusif adalah hanya memberikan ASI saja tanpa memberikan bayi makanan dan minnuman selain ASI termasuk air putih selama menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes) sejak bayi lahir hingga berumur 6 bulan (Kramer et al, 2004). Keputusan WHO untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan dan MP-ASI setelahnya dengan tetap memberikan ASI hingga 2 tahun telah diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut diatur melalui Kepmenkes RI No. 450/Menkes/SK/ IV/2004 dengan menetapkan target pemberian ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80% (Kemenkes RI, 2004).

Masalah pemberian ASI ekslusif ini sudah masuk kedalam masalah global. Menurut data dari WHO tahun 2018 di amerika sekitar 60% bayi tidak mendapatkan ASI ekslusif. Sedangkan pada negara berkembang angka menyusui ASI ekslusif mencapai 50,8% dan pada negara dengan pendapatan perkapita rendah, capain ASI ekslusif kurang dari 23,9% (WHO;1. 2014). Di Indonesia sendiri, cakupan pemberian ASI ekslusif pada tahun 2015 masih belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Menurut data Riskesdas Indonesia pada tahun 2007-2013 terjadinya fluktuasi prevalensi pemberian ASI eksklusif dari 32% menurun ke 15,3% dan di tahun 2013 meningkat pada angka 30,2% (RISKESDAS, 2013). Untuk cakupan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) berdasarkan data RISKESDAS 2018 diketahui untuk provinsi Jambi sendiri masih ada sekitar 35% bayi yang tidak mendapatkan IMD dan sekitar 65% bayi usia 0-5 bulan yang belum mendapatkan ASI ekslusif.

Di Indonesia rata-rata permasalahan tidak tercapainya cakupan ASI ekslusif disebabkan gagalnya pemberian ASI segera setelah lahir dikarenakan tidak semua ibu paska melahirkan langsung mengeluarkan ASI. Hal ini dikarenakan

proses pembentukan ASI melibatkan

serangkaian stimulus yang kompleks (Guyton, 2008: bab 82;426). Selain itu beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara persalinan sectio caesarea (SC) dengan waktu produksi ASI dan menyusui (Hobb AJ et al. 2016; Karlstorm A et al, 2016; Rosmawaty. 2017; Sundari. 2017). Ibu yang melahirkan dengan sectio cesarea mengalami keterlambatan pengeluaran ASI pada hari 3 atau lebih (Sundari, 2017).

Ibu melahirkan dengan sectio caesarea mengalami hambatan dalam waktu pengeluaran kolostrum karena beberapa hal, selain kadar hormon prolaktin dan oksitosin yang dapat mempengaruhi pengeluaran kolostrum pada ibu adalah rasa nyeri post operasi yang

mengganggu kenyamanan ibu dapat

menghambat kerja saraf glandula pituitari posterior yang menghasilkan hormon oksitosin yang berperan dalam proses laktasi (Karlstr𝑜̈m A. 2017).

Produksi ASI melibatkan adanya rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon yang berpengaruh untuk menstimulasi produksi oksitosin. Hormon oksitosin diperlukan selama proses laktasi untuk membantu pengeluaran ASI. Hormon oksitosin dapat juga diproduksi melalui rangsangan dari luar tubuh seperti sentuhan, rasa nyaman, perasaan bahagia atau melalui hisapan pada puting payudara ibu dan pijatan pada tulang belakang ibu. Pijatan ini memberikan efek rileksasi sehingga menstimulasi pengeluran hormon oksitosin. Pijat oksitosin ini dilakukan dengan memberikan tekanan ringan pada sisi kanan dan kiri tulang belakang dengan disertai pemberian lingkungan yang nyaman dan memprovokasi ikatan antara ibu dan bayi seperti meletakkan bayi di dekat ibu selama proses pijatan diberikan pada ibu (Sulaeman SE. 2016; Roesli U, 2009).

Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima-keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Roesli U, 2009). Pijatan atau rangsangan pada tulang belakang, neurotransmitter akan merangsang medulla oblongata langsung mengirim pesan ke hypothalamus di hypofise posterior untuk mengeluarkan oksitosin sehingga menyebabkan buah dada mengeluarkan air susunya. Pijatan di daerah tulang belakang ini juga akan merileksasi ketegangan dan menghilangkan stress dan dengan begitu hormon oksitosoin keluar dan akan membantu pengeluaran air susu ibu, dibantu dengan isapan bayi pada puting susu pada saat segera setelah bayi lahir dengan keadaan bayi normal (Guyton, 2007; 428).

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pijat oksitosin terhadap waktu pengeluaran air susu ibu (ASI) pada ibu primipara post sectio caesaria

METODE PENELITIAN

Studi penelitian ini adalah literature review, dimana jurnal-jurnal yang dipilih adalah semua penelitian yang mencakup dengan pengaruh pijat oksitosin terhadap waktu pengeluaran air susu ibu (ASI) pada ibu primipara post sectio caesaria. Jurnal atau penelitian ini dipilih dengan menetapkan limit atau filter yaitu antara tahun 2014-2019 (lima tahun terakhir), format full text. Dengan kata kunci: pijat oxitosin, pengeluaran Air Susu (ASI), Post SC keyword: oxytocin massage, breastfeeding frequency, excretion time of colostrum, post SC.

Kriteria inklusinya adalah ibu post SC, yang diteliti adalah pengaruh pijat oksitosin terhadap waktu pengeluaran air susu ibu (ASI) pada ibu primipara post sectio caesaria, penelitian dilakukan di Indonesia. Literatur atau jurnal adalah jurnal-jurnal yang didapat dari website jurnal OJS (Open

(3)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

Journal System), kemudian diekstrak/disaring sesuai topik dan kriteria inklusi. Jurnal yang didapat terdiri dari jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia, Jurnal Kesehatan Masyarakat (JKM), Jurnal Gizi Pangan, Jurnal Berkala Kedokteran, dan Jurnal Ners. Berikut jurnal- jurnal yang

diperoleh sesuai topik penelitian, yaitu pengaruh pijat oksitosin terhadap waktu pengeluaran air susu ibu (ASI) pada ibu primipara post sectio caesaria.

Tabel 1. Ekstrak Jurnal Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Waktu Pengeluaran Air Susu Ibu (ASI) Pada Ibu Primipara Post Sectio Caesaria di Indonesia

No Judul, Nama

Peneliti dan Tahun

Tujuan Penelitian Variabel Metode Penelitian Hasil Penelitian Analisa Penelitian Rekomendasi 1 Effect of back Massage on Lactation among Postnatal Mothers Petel U (2013) Vol : 1/Issue march 2013

Edisi : International Journal of medical reseach and review ISSN-2321-127X

Mengetahui pengaruh pijat punggung terhadap laktasi pada ibu pasca kelahiran

Pijat Punggung Penelitian eksperimental semu dilakukan untuk jangka waktu 16 bulan, untuk menilai efektivitas pijat punggung tentang laktasi di antara ibu segera setelah melahirkan. Seba nyak 220 ibu terdaftar dalam dua kelompok (Grup A, Eksperimental group-100 cases, Group B, Control group-120 cases) Ada kenaikan berat badan pasca makan secara signifikan lebih tinggi, jumlah rata-rata buang air kecil yang lebih tinggi dan

tinja berlalu per hari, durasi tidur pasca makan yang lebih lama dan kepuasan yang lebih baik pada kelompok studi dibandingkan dengan control kelompok Pijat punggung efektif dalam meningkatkan laktasi pada semua parameter dinilai. Ini dapat direkomendasika n untuk semua ibu menyusui, terutama bagi mereka yang menghadapi masalah dalam memulai dan mempertahankan menyusui. 2 Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Asi Pada Ibu Postpartum Di Bpm Pipin Heriyanti Yogyakarta Tahun 2016 Azizah 2016 Vol : 6 NO.1 April 2017

Edisi : Media Ilmu Kesehatan Diketahuinya pengaruh pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Asi Pada Ibu Postpartum 1. Pijat Oksitosin 2. Pengeluaran ASI Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan post test dengan kelompok kontrol (Post Test Only Control Group Design). Penelitian ini dilakukan pada ibu postpartum Pijatan oksitosin secara signifikan meningkatkan volume ASI (hal. 0,000) dan ASI mempercepat pengeluaran (0,012) dibandingkan dengan kelompok kontrol Pijat oksitosin adalah salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu nifas primipara

3 Pijat Oksitosin Dan

Frekuensi Menyusui Berhubungan Dengan

Waktu Pengeluaran Kolostrum Pada Ibu

Post Sectio Caesarea

Di RS Kota Bandung

Hardianti (2016) Vol : 4 No.3 Tahun 2016, 146-156 Edisi : JNKI ISSN 2354-7642 Mengetahui hubungan pijat oksitosin dan frekuensi menyusui dengan waktu pengeluarankolo strum pada ibu post SC Pijat Oksitosin Pengeluaran colostrum Penelitian dilakukan dengan case control study. Sampel yangkolostrumny a keluar setelah 24 jam dan 30 kontrol ibu post SC yang kolostrumnya keluar kurang dari 24 diambildengan menggunakan kuota sampling sebanyak 60 responden yang terdiri dari 30 kasus ibu post SC

Hasil uji chi-square menunjukan angka p-value 0,001 (p<0,05), dengan OR 7,00 (95% CI 3,1-15,8) artinya kolostrum yang keluar pada <satu hari setelah persalinan SC berpeluang 7,0 kali lebih besar terjadi pada ibu yang melakukan pijat oksitosin. Serta OR 15,5 (95% CI 3,8-63,4) artinya kolostrum yang keluar pada <satu hari setelah persalinan SC berpeluang 15,5 kali lebih besar terjadi pada ibu yang frekuensi Pelayanan kesehatan khususnya bidan yang memberikan asuhan

terhadap ibu post partum, untuk dapat meningkatkan kualitas asuhan selama nifas di antaranya dengan memberikan beberapa informasi melalui konseling mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi waktu pengeluaran kolostrum khususnya mempelajari mengenai cara melakukan pijat oksitosin dan dapat

(4)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

menyusui bayinya lebih dari 7 kali

dalam sehari dijadikan sebagai standar pelayanan terhadap ibu post partum 4 Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Asi Pada Ibu Post Partum

Primipara Di Rsia Srikandi IBI Kholisotin (2019) Vol : 7 No, 2 Agustus 2019 p-ISSN : 2355-679X: e-ISSN : 2685-1830 Mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap keluarnya ASI pada ibu post partum primipara di RSIA Srikandi IBI Pijat Oksitosin Pengeluaran ASI Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen dengan rancangan the static group comparison: randomized control group only design. jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 36 yang terdiri dari 18 kelompok eksperimen dan 18 kelompok kontrol Penelitian ini menggunakan uji t paired t-test di peroleh P=0.001 (P< 0.05) Terdapat pengaruh yang signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin dapat mempercepat pengeluaran ASI 5 Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Asi Pada Ibu Postpartum Primipara Sulaeman (2019) Vol : 13 No 1 Februari 2019 p-ISSN; 1978-1334; e-ISSN : 2460-8661 Mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu post partum primipara Pijat Oksitosin Pengeluaran ASI Desain penelitian yang digunakan Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre and post test design. Sampling yang digunakan proportional random sampling. Jumlah responden penelitian sebanyak 30 responden Rata rata pengeluaran ASI 5.37

kali lebih besar dibandingkan rata rata sebelum dilakukan intervensi dengan rata rata 0.97. Hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon Match Pairs Test diperoleh p value = 0,000 atau p < α=0,05 yang berarti H0 ditolak H1

diterima atau ada pengaruh yang signifikan pijat oksitosin pada ibu post partum primipara di wilayah kerja Puskesmas se - Kota Mataram Sebagai masukan ilmu untuk dapat diterapkan menjadi bagian dari intervensi pijat oksitosin bagi petugas kesehatan maupun masyarakat untuk pengeluaran ASI. 6 Efektivitas Pijat Oksitosin Dan Breast Care Pada Ibu Bersalin Terhadap Pengeluaran ASI Di Puskesmas Kamonji Hardiani (2019) Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 2 No. 3 (Juli, 2019) : 218-230 E-ISSN 2614-5375 Mengetahui perbandingan waktu pengeluaran air susu ibu yang diberikan pijat oksitosin dan breast care dalam 2 jam postpartum di wilayah kerja Puskesmas Kamonji Pijat oksitosin Breast Care Pengeluaran ASI Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan desain the posttest only control group. Jumlah sampel sebanyak 30 orang, diambil dengan teknik consecutive sampling dan dibagi masing-masing 15 responden pada kelompok pijat oksitosin dan breast care. Rata-rata waktu pengeluaran ASI ibu yang diberikan pijat oksitosin adalah 14,19 jam dan breast care 5,57 jam Diharapkan melakukan breast care untuk membantu mempercepat pengeluaran ASI.

(5)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari enam jurnal yang dipilih seluruhnya meneliti tentang pijat oksitosin dimana 5 dari 6 penelitian tersebut menggunakan metode penelitian yang sama yaitu Quasi Eksperimen penelitian yang telah penulis lakukan, menyimpulkan bahwa pijat oksitosin efektif meningkatkan produksi ASI.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pijat oksitosin terhadap volume ASI. Hal ini sesuai dengan teori tentang pijat oksitosin yang merupakan pemijatan tulang belakang pada nervus interkostalis ke 5-6 sampai ke scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk merangsang hipofise posterior mengeluarkan oksitosin. Efek fisiologis dari pemijatan oksitosin tersebut adalah berpengaruh terhadap mioepitel untuk mengeluarkan ASI yang ada dalam alveolus ke dalam duktus untuk selanjutnya dialirkan sampai ke luar. Selain memperlancar ASI, pijat oksitosin memberikan kenyamanan pada ibu nifas, mengurangi bengkak (engorgement), mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit.

Berdasarkan volume, hasil penelitian ini rata-rata pada kelompok kontrol sebanyak 24,438 ml sedangkan pada kelompok perlakuan rata-rata sebanyak 28,313 ml. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Gustriani11 tentang pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada pasien post seksio sesarea di Makasar bahwa volume ASI yang dikeluarkan oleh ibu yang dilakukan pijat oksitosin rata-rata sebanyak 1,89 ml sedangkan yang tidak dipijat oksitosin volume rata-rata ASI yang dikeluarkan sebesar 0,95 ml. Perbedaan ini terletak pada waktu pengukuran ASI. Pada penelitian ini pengukuran ASI dilakukan setelah 12 jam pemijatan sedangkan pada penelitian Gustriani waktu pengukuran ASI dilakukan setelah 1 jam pemijatan. Hasil volume yang dihasilkan juga sesuai dengan teori yang menyebutkan sampai dengan 12 jam pertama ASI yang dikeluarkan sebanyak 25 ml. Persamaan penelitian ini adalah pijat oksitosin

memberikan efek lebih banyak pada

pengeluaran ASI dibandingkan yang tidak dipijat oksitosin. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mardiyahningsih12 yang menyimpulkan bahwa kombinasi teknik marmet dan pijat oksitosin efektif meningkatkan produksi ASI.

Dari jurnal yang didapat pada penelitian ketiga Frekuensi ibu menyusui bayinya sangat berpengaruh pada produksi dan pengeluaran ASI. Produksi dan pengeluaran ASI dapat dipengaruhi oleh frekuensi penyusuan bayi kepada ibunya. Otot-otot polos pada payudara berkontraksi dan pengeluaran ASI dipercepat

yang disebabkan oleh sekresi oksitosin. Pijat

oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. Pijat

oksitosin dilakukan sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae

kelima-keenam dan merupakan usaha untuk

merangsang hormon. prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan serta akan membuat rasa nyaman dan rileks pada ibu sesudah mengalami

persalinan dengan sectio caesarea dan rasa

nyaman tersebut merangsang pengeluaran hormon oksitosin untuk memproduksi ASI (6). Pijat oksitosin berpengaruh kepada pengeluaran

ASI. Hal ini sesuai dengan penelitian

Mardiyaningsih, yang menyebutkan bahwa ibu

post SC yang diberikan intervensi kombinasi teknik mamet dan pijat oksitosin berpeluang 11,5 kali lebih besar untuk mempunyai produksi ASI lancar dibandingkan dengan kelompok control.

Pada penelitian keempat Terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan dari P. value 0.001 yang berarti P<0.05. Terdapat perbedaan pada jumlah frekuensi yang dilakukan pijat dengan yang tidak dilakukan pijat oksitosin. Hasil penelitian ini dikuatkan oleh penelitian lain yang berjudul “Pijat Oksitosin Untuk Mempercepat Pengeluaran ASI pada Ibu Pasca Salin Normal di Dusun Sono Desa Ketanen Kecamatan Panceng Gresik” dengan menggunakan lembar observasi bersamaan dan membandingkan keduanya. Terdapat pengaruh yang signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin dapat mempercepat pengeluaran ASI (Faizatul, 2014). Analisa peneliti pijat oksitosin berpengaruh terhadap pengeluaran ASI dan dapat mempercepat pengeluaran ASI ibu post partum primipara.

Penelitian kelima Berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan pada 30 responden menunjukan bahwa pengeluaran ASI sebelum dilakukan intevensi pijat oksitosin sebanyak 30 responden dengan kategori kurang. Penurunan produksi dan pengeluaran ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan oleh kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin yang sangat berperan dalam kelancaran produksi dan pengeluaran ASI. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran produksi dan pengeluaran ASI yaitu makanan, ketenangan jiwa dan pikiran, penggunaan alat kontrasepsi, perawatan payudara, faktor aktivitas istirahat, faktor isapan bayi, konsumsi alcohol dan rokok.(Dewi, 2011). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ummah 2014, dengan rata rata pengeluaran ASI pada ibu post partum yang di berikan pijat oksitosin lebih cepat 6.21 jam setelah bayi lahir dibandingkan tidak diberikan pijat oksitosi dengan rata rata 8.93 jam setelah bayi lahir. Hal ini diperkuat dengan teori Guyton 2007.

Dan penelitian keenam Berdasarkan

hasil analisis deskriptif, pengeluaran ASI tercepat pada kelompok pijat oksitosin adalah 1,42 jam dan terlama adalah 96 jam, dengan median 6 dan rerata 14,19. Sedangkan pada

(6)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

kelompok breast care pengeluaran ASI tercepat adalah 1,21 jam dan terlama 29,3 jam, dengan median 2,45 dan rerata 5,7 jam. Jika dibandingkan rerata pengeluaran ASI maka dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan pengeluaran ASI selama 8,62 jam antara kedua kelompok intervensi dimana pengeluaran ASI pada kelompok breast care 2,55 kali lebih cepat dibandingkan pijat oksitosin.

Berdasarkan hasil uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai ρ sebesar 0,044 atau <0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan Pengeluaran ASI antara ibu yang diberikan pijat oksitosin dan breast care, dimana ibu yang diberikan breast care berpeluang 2,55 kali lebih cepat mengeluarkan ASI daripada ibu yang diberikan pijat oksitosin. Jadi, hipotesis penelitian ini dapat diterima yaitu ada perbedaan waktu pengeluaran ASI pada ibu yang diberikan pijat oksitosin dan breast care dalam 2 jam postpartum. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Zuhrotunida dan Yunita tahun 2016 perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh pengelompokkan waktu pengeluaran ASI yang berbeda, dimana dalam penelitian tersebut pengeluaran ASI dikatakan cepat jika ASI keluar <2 hari dan dikatakan lambat jika ASI keluar ≥2 hari. Rata-rata pengeluaran ASI pada ibu yang diberikan pijat oksitosin adalah 14,81 dan breast care 37,44. Selain itu, responden yang menjadi sampel penelitian tersebut adalah ibu dengan persalinan section caesaria (SC) dan seluruhnya adalah primigravida.

Pemberian pijat oksitosin membuat ibu makin nyaman dan inhibitor hormon oksitosin bisa ditekan dan hormon oksitosin bisa bekerja dengan lebih baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO tahun 2009 yaitu jika seorang ibu merasakan sakit atau gelisah, hormon oksitosin akan terhambat dan pengeluaran ASI akan tiba-tiba menjadi tidak lancar. Jika ibu menerima dukungan dan dibantu untuk merasa nyaman dan tetap membiarkan bayinya menyusu maka ASI akan mengalir dengan baik. Meskipun dari penelitian tersebut menyatakan bahwa pijat oksitosin lebih efektif dari breast care, akan tetapi pengeluaran ASI dikatakan cepat apabila ASI keluar <2 hari, sedangkan dalam penelitian ini rerata pengeluaran ASI pada kelompok pijat oksitosin dan breast care sama-sama terjadi pada hari pertama postpartum (<24 jam). Hal ini bisa disebabkan oleh jenis persalinan yang berbeda dalam kedua penelitian, penelitian ini dilakukan pada ibu dengan persalinan normal sehingga ibu tidak merasakan nyeri seperti pada ibu yang melakukan persalinan dengan seksio sesarea.

Menurut Latifah, dkk tahun 2015 pijat oksitosin dan breast care sama-sama merangsang refleks oksitosin atau let down reflex, yang menjadi pembeda antara keduanya adalah teknik tindakan. Breast care

memengaruhi let down reflex melalui rangsangan pada puting susu dan daerah payudara. Sedangkan pijat oksitosin memengaruhi let down reflex melalui pemijatan yang dimulai pada tulang belakang servikal (servical vertebrae) sampai tulang belakang torakalis dua belas. Refleks Pengeluaran ASI terjadi karena sel otot halus disekitar kelenjar payudara mengerut sehingga memeras ASI untuk keluar. Sehingga dari segi cara, breast care lebih dekat dengan payudara dan hal tersebut memengaruhi produksi ASI yang lebih banyak dibandingkan dengan pijat oksitosin yang dilakukan pada bagian belakang. Pemberian rangsangan pada daerah yang dapat menstimulasi langsung pengeluaran ASI bukan hanya memengaruhi produksi ASI tetapi juga waktu pengeluaran ASI. Pemberian stimulus pada daerah payudara termasuk puting dan areola memberikan rangsangan yang sama dengan hisapan bayi sehingga hormon prolaktin dan oksitosin dapat diproduksi dengan baik. Selain itu, masase yang dilakukan pada payudara dapat membantu untuk memperlancar pengeluaran ASI.

SIMPULAN

Berdasarkan analisis yang penulis lakukan terhadap 6 jurnal yang relevan dan penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan: 1. Produksi ASI setelah dilakukan pijat oksitosin

terjadi peningkatan yang signifikan ditandai dengan kenaikan volume ASI setelah dilakukan pemijatan di areola mamae. Terdapat berbagai macam metode untuk meningkatkan produksi ASI, dan dapat dikombinasikan dalam melakukan intervensi untuk mengatasi permasalahan ASI. Pijat Oksitosin adalah intervensi yang mudah, gampang dilakukan, dan aman bagi ibu. Intervensi ini juga dapat dilakukan oleh ibu nifas dan keluarga setelah dilatih oleh bidan/tenaga kesehatan.

2. Pijat oksitosin efektif terhadap peningkatan

pengeluaran ASI pada ibu

post partum SC primipara dengan ratarata

lama waktu pengeluaran ASI

setelahdilakukan pijat oksitosin adalah 24 jam-<36 jam

3. Pijat oksitosin terbukti efektif terhadap pengeluaran ASI pada ibu post partum SC primipara.

DAFTAR PUSTAKA

Barredo L, Agyepong I, Liu G, Reddy S. 2015 Ensure Healthy Lives and Promote Well-Being

for All at All Ages. UN Chronicle. 2015; 51 (4): 9-10.

Budiarti, T. 2009.

Efektifitas pemberian paket sukses ASI terhadap produksi ASI ibu menyusui dengan seksio sesarea di wilayah Depok Jawa

(7)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

Dewi, Vivian Nanny Lia; Sunarsih, Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika, x, 2025 halaman.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Modul Manajemen Laktasi. Jakarta: Direktorat Jendral Departemen Kesehatan. Dian Nur Hadianti, 2016.

Pijat Oksitosin dan Frekuensi menyusui berhubungan dengan waktu pengeluaran kolostrum pada ibu post section caesarea di RS Kota Bandung. Jurnal JNKI Volume 4 No.3 Tahun 2018. ISSN 2354-7642

Eko Mardiyaningsih. 2011.

Efektifitas Kombinasi Teknik Marmet Dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi Asi Ibu Post Seksio Di Rumah Sakit Wilayah Jawa Tengah.

Hendriani, 2019.

Efektifitas pijat oksitosin dan breast care pada ibu bersalin terhadap pengeluaran ASI di Puskesmas. Jurnal Window of Health volume 2 No. 3 Juli 2019 . E-ISSN 2014-5375.

Gondo HK. 2011.

Pendekatan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri saat persalinan. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran. 38 (4) : 185 Hobb AJ et al. 2016

The impact of caesarean section on breastfeeding initiation, duration and difficulties in the first four months postpartum. BMC peregnancy and childbirth; 2016;16;90. Canada.

Hubertin PS. 2007.

Konsep Penerapan ASI eksklusif, Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC.

Imroatul Azizah, 2016.

Pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu postpartum di BPM Heriyanti Yogyakarta tahun 2016. Media Ilmu kesehatan Volume 6 No. 1 April 2017

Feher J.2016.

Quantitative human physiology: an introduction. Ed.2 Academic Press. 1008 halaman.

Fetel U, 2013

Effect of back massage on lactation among post natal mother. Artikel Reseach volume 1 maret 2013 ISSN 2321-127X.

Guyton, A. C., Hall, J.E. 2008.

Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Ed.11. chapter 82. 1172 halaman. Jellife DB, EFP Jellife. 1989.

Community Nutritional Assesment with Special Reference to Less Technically Develop Countries. New York : Oxford University Press.

Karlstr𝑜̈m A et al. 2007.

Postoperative pain after cesarean birth affects breastfeeding and infant care. JOGNN. 36; 430-440.

Kholistin, 2019.

Pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu post partum primipara di RSIA Srikandi IBI. Jurnal Keperawatan Profesional (JKP) volume 7 No.2 Agustus 2019.p-ISSN : 2355=769x; e-ISSN : 2658-1830

Kramer, Michael S, Ritsuko K. 2004.

The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding. Protecting Infants Through Human Milk. Boston: Springer; 2004. 63-77.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 450/Menkes/SK IV/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2004. Kementerian Kesehatan RI. 2016

Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan RI. 2013.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. 2018.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Lia X et al. 2010.

Trends in Maternal Mortality Due to Obstetric Hemorrhage in Urban, and Rural China, 1996–2005. J. Perinat. Med. 39: 35–41.

Liu L et al. 2016.

Global, Regional, and National Causes of Under-5 Mortality in 2000–15: An Updated Systematic Analysis with Implications for The Sustainable Development Goals. The Lancet. 2016; 388 (10063): 3027–35. Lowdermilk B, Jensen. 2006.

Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta. EGC.

Morhen VB et al. 2012.

Massage increases oxytocin and reduces adrenocorticotropin hormon in humans. Alternative therapies. Vol 2;6.

Patricia, Faas - Fehervary. 2005.

Caesarean Section On Demand: Influence of Personal Birth Experience and Working Environment On Attitude of German Gynaecologists. European Journal of Obstetrics and Gynecology Reproductive Biology, 122(2): 162-166.

Pilaria E, Sopiatun R. 2018.

Pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja puskesmas Pejeruk Kota Mataram. Jurnal Kedokteran Yarsi. 26(1) 027-033.

(8)

FITRIANI SULASTRI primipara Post SC

Roesli U. 2009.

Mengenal ASI Eksklusif. Cetakan ke-IV Penerbit PT Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, Jakarta.

Ridhawati Sulaiman (2019).

Pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Jurnal Kesehatan Prima Volume 13 No.1 Februari 2019. P-ISSN : 1978-1334 e-ISSN: 2468-8661

Sugiyono. 2010.

Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulaeman SE et al. 2016.

The effect of oxytocin massage on the postpartum mother on breastmilk production in Surakarta Indonesia. ICHWB. Sri purwanti, Hubertin. 2004.

Konsep penerapan ASI eksklusif: buku saku untuk bidan. Jakarta: EGC viii, 95 halaman.

Sundari, Sari RN. 2017.

Pengaruh pijat oksitosin terhadap lama pengeluaran kolostrum pada ibu post sectio caesaria di RSUD kota Madiun. Global health science. 2(3)2503-5088. Tehuteru ES. 2010.

Asi vs Susus formula. Perinansia. Tahun XVII, nomor 2, ed. Jun-Sep.

Todman D. 2007.

A History of Caesarean Section: From Ancient World to The Modern Era. Australian and New Zealand Journal of Obstet.

Utami S. 2016.

Efektivitas aromaterapi bitter orange terhadap nyeri post partum sectio cesarea. UJPH. 5(4).

World Health Organization (WHO). 2014.

Global nutrition targets 2025. Breastfeeding folicy brief. World Health Organization.

Witular, Y. 2018.

Gambar

Tabel 1. Ekstrak Jurnal Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Waktu Pengeluaran Air Susu Ibu (ASI)  Pada Ibu Primipara Post Sectio Caesaria di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Syamsinar menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara perawatan payudara dengan kelancaran ASI pada ibu post partum di dengan nilai

Lama waktu yang dibutuhkan untuk intervensi sampai penilaian kedua adalah 30menit Oleh karena itu pada kelompok kontrol, setelah penilaian awal, ibu diberikan minuman

Sedangkan kelompok yang dipijat rata-rata kecepatan pengeluaran ASI 11,68 jam lebih cepat dari pada kelompok yang tidak dipijat, ini sejalan dengan penelitian yang

Sedangkan rata-rata waktu pengeluaran kolostrum pada kelompok mobilisasi dini adalah 24,72 jam dengan rentang waktu 15 - 30 jam Pijat oksitosin memiliki pengaruh yang

Hasil: Produksi ASI pada ibu nifas dengan kenaikan berat badan pada kelompok kontrol dengan rentang 100-250 gram, sedangkan kelompok eksperimen peningkatan berat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi BAB pada responden yang dilakukan pijat oketani dan oksitosin paling rendah setelah dilakukan pijat oketani dan

Hasil: Produksi ASI pada ibu nifas dengan kenaikan berat badan pada kelompok kontrol dengan rentang 100-250 gram, sedangkan kelompok eksperimen peningkatan berat

Sedangkan rata- rata waktu pengeluaran kolostrum pada kelompok mobilisasi dini adalah 24,72 jam dengan rentang waktu 15 - 30 jam Dengan demikian, pijat