• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERIZINAN TOKO MODERN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN AYU LESTARI PROGRAM ILMU SOSIAL DAN POLITIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERIZINAN TOKO MODERN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN AYU LESTARI PROGRAM ILMU SOSIAL DAN POLITIK"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERIZINAN TOKO MODERN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

AYU LESTARI

PROGRAM ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Email : [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan pusat perbelanjaan dan toko modern di Indonesia semakin pesat seiring berjalannya waktu. Salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Depok Kabupaten Sleman, kini telah banyak didirikan pusat perbelanjaan baik yang bersifat modern maupun tradisional. Demi menjaga iklim yang kondusif serta salah satu upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman dalam penataan pusat perbelanjaan dan toko modern Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang dimana sangat diperlukan mengingat perkembangan pusat perbelanjaan dan toko modern sangat berkembang dengan pesat, terutama untuk toko modern yang masuk kategori minimarket. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Sumber-sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi dan observasi.Peneliti menggunakan teori implementasi kebijakan publik yang dimana implementasi kebijakan publik yang di ungkapkan oleh Edward III dilihat dari struktur birokrasi, adanya sumberdaya, adanya komunikasi serta dilihat dari disposisi yang berarti sikap kecenderungan.Hasil pada penelitian ini Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 tentang perizinan pusat perbelanjaan dan toko modern Kabupaten sleman belum berjalan secara efektif dan maksimal dilihat dari fakta yang ada semakin berkembangnya jumlah toko modern dari tahun ke tahun serta banyaknya pelanggaran yang dilakukan. Adanya pelanggaran zonasi/ jarak terhadap pasar tradisonal 1.000 meter, pelanggaran mengenai status jalan serta tidak adanya sosialisasi yang dilakukan. Kesimpulan dari penelitian ini implementasi kebijakan perizinan toko modern di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, pemerintah sebaiknya meningkatkan kembali pengawasan kepada terhadap pusat perbelanjaan dan toko modern agar tidak kembali melakukan pelanggaran serta meningkatkan pembinaan kepada UMKM agar nantinya antara pemilik toko modern khususnya minimarket dapat bersaing sehat dengan pasar tradisional.

Kata Kunci : Implementasi, Kebijakan, Perizinan, dan Toko Modern

A. PENDAHULUAN

Keberadaan toko modern tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga memberikan dampak negatif kepada para pedagang kecil dan pedagang menengah. Toko modern juga memberikan fasilitas pelayanan 24 jam (dua puluh empat jam), strategi tersebut membuat omset pedagang kecil dan menengah semakin berkurang. Meskipun demikian, anggapan yang yang mengatakan bahwa kehadiran toko modern menjadi salah satu penyebab tersingkirkannya pasar tradisional tidak seluruhnya benar dikarenakan sebagian pasar tradisional masih bergelut dengan kondisi pasar yang bermodelkan lama dengan minimnya sarana dan prasarana yang sangat minim, keadaan ini secara tidak langsung menguntungkan pihak toko modern. Maka daripada itu penertiban toko modern yang melanggar Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 dinilai belum berjalan dengan efektif serta masih belum optimal dengan adanya kasus, salah satu contoh yang terjadi di Dusun Prayan, Kelurahan Condong Catur Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman DIY sebuah toko modern yang telah melanggar peraturan daerah karena tidak memiliki Izin

(2)

Usaha Toko Modern (IUTM), IMB, HO maupun SIUP ditutup paksa oleh warga sekitar padahal sebelumnya Satuan Polisi Pamong Praja sudah datang dan melakukan penutupan.1 Berdasarkan keterangan yang disampaikan Perwakilan warga Dusun Krodan dan Pugeran, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman, Widodo menyampaikan sejak berdirinya toko modern yang tidak mengantongi izin banyak warga yang mempunyai toko/warung kelontong mengalami penurunan omzet rata-rata antara Rp 300 - 1 Juta.2 Adanya dampak negatif akibat munculnya toko modern maka diperlukan kebijakan pemerintah untuk mengatur dengan baik keberadaan toko modern tersebut, sehingga antara pasar tradisional dan usaha kecil lainnya mampu tumbuh secara berdampingan.

Adanya pertumbuhan toko modern jumlah terbanyak setiap tahunnya di Kecamatann Depok maka peneliti berminat untuk mengetahui bagaimana implementasi dan pengawasan dari Pemerintah Kabupaten Sleman terhadap perizinan toko modern dalam pemberian izin serta sanksi terhadap keberadaan toko modern seperti Alfamart dan Indomaret yang semakin marak berkembang di Kabupaten Sleman khusunya di Kecamatan Depok tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Implementasi Peraturan Daerah 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman tahun 2016 C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana Implementasi Perizinan Toko Modern dalam membatasi toko di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman tahun 2016.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta masukan sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Untuk memperluas dan memperdalam pemahaman dibidang Pengimplementasian pemberian izin mengenai keberadaan pusat perbelanjaan dan toko modern

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan program dalam strata 1 ( S1 ) pada program studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

b. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan masukan bagi pemerintah daerah dan sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kinerja dalam pemerintahan.

c. Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca termasuk bagi pemerintah dan investor/ pembisnis dalam hal perizinan.

1 Ita Mutiara Dewi,Implementasi kebijakan Perencanaan Penataan Toko Modern berjaringan

Nasional di Kabupaten Sleman dalam Studi Ekonomi Politik, Yogyakarta tahun 2012 diakses pada tanggal 19 september 2016 pukul 16.23 WIB, hal 3

2 Ita Mutiara Dewi,Implementasi kebijakan Perencanaan Penataan Toko Modern berjaringan

Nasional di Kabupaten Sleman dalam Studi Ekonomi Politik, Yogyakarta tahun 2012 diakses pada tanggal 19 september 2016 pukul 16.23 WIB, hal 3

(3)

E. KERANGKA TEORI 1. KEBIJAKAN PUBLIK

Menurut Harold Las Harold Laswell dan Abraham Kaplan3 mendefinisikan kebijakan publik sebagai suatu program yang di proyeksikan dengan tujuan-tujuan tertentu, nilai-nilai tertentu dan praktik-praktir tertentu. Carl I. Friedrick4 mendefinisikan kebijakan publik sebagai serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu, dengan ancaman dan peluang yang ada. Kebijakan yang diusulkan tersebut ditujukan untuk memanfaatkan potensi sekaligus mengatasi hambatan yang ada dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

2. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK

Menurut Edwar III, implementasi kebijakan merupakan tahap pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Dalam bukunya yang berjudul “Implementing Public Policy“, Edward mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat empat faktor atau variabel kritis dalam implementasi kebijaan publik. Adapun empat faktor yang dijelaskan oleh Edwards III, yaitu :5

1) Komunikasi

Implementasi dapat efektif penanggungjawab implementasi sebuah keputusan harus mengetahui apa yang mesti dilakukan. Dalam mengimplementasikan kebijakan, perintah untuk mengimplementasikan kebijakan harus ditransmisikan kepada personal yang tepat dan perintah harus jelas, akurat dan konsisten.

2) Sumberdaya

Untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara efektif maka dibutuhkan sumberdaya yang cukup. Implementasi kebijakan tidak akan efektif apabila para implementator kekurangan sumberdaya yang penting untuk melaksanakan kebijakan. Sumberdaya yang penting untuk mengimplementasi kebijakan meliputi staf dengan jumlah yang sesuai dan dengan keahlian yang memadai dan relevan dengan implementasi kebijakan, kewenangan dan fasilitas.

3) Disposisi (Sikap Kecenderungan)

Jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu kebijakan tertentu, maka kemungkinan besar mereka akan melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal. Demikian juga sebelumnya apabila sikap-sikap dan perspektif implementator berbeda dari pembuatan keputusan, maka proses pelaksaan suatu kebijakan menjadi semakin sulit.

4) Struktur Birokrasi

Menurut Edwards III struktur yang tepat dapat memberikan dukungan kuat terhadap kelancaran implementasi kebijakan. Terdapat dua hal penting dalam struktur birokrasi yaitu prosedur-prosedur kerja standar (Standard Operating procedures) dan fragmentasi

3. KEBIJAKAN PERIZINAN

Perizinan juga disebut simpul utama dari pengaturan mengenai peyiaran. Dalam rangkaian daur proses pengaturan penyiaran, perizinan menjadi tahapan keputusan Negara. Dengan kata lain, perizinan juga menjadi instrument pengendalian tangung jawab secara kontinyu dan berkala agar setiap lembaga penyiaran tidak melenceng dari misi pelayanan informasi kepada publik. Salah satu bentuk dari kewenangan yang dimiliki oleh daerah adalah perizinan yang bertujuan untuk mengendalikan setiap perilaku atau kegiatan yang dilakukan oleh individu atau golongan.6 Dengan demikian izin ini akan

3 Riant, Nugroho, 2009. Public Policy, Elexmedia, Jakarta Pusat, hlm 83

4Ibid

5Dyah, Mutiarin dan Arif Zaenudin,2014.Manajemen Birokrasi dan Kebijakan,Pustaka

Pelajar,Yogyakarta hal 38

6 Sumarto Hetifa Sj, Inovasi, Partisipasi dan Good Governance, (Bandung: Yayasan Obor Indonesia,

(4)

digunakan oleh penguasa sebagai instrumen untuk mempengaruhi hubungan dengan para warga agar mau mengikuti mengikuti cara yang dianjurkannya, guna mencapai tujuan yang konkrit

4. TOKO MODERN

Menurut Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Toko Modern adalah Toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan.

Minimarket waralaba adalah minimarket yang melaksanakan kegiatan usahanya yang menggunakan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai barang secara eceran, berdasarkan perjanjian waralaba dan merupakan jejaring usaha berskala nasional.7

Minimarket cabang adalah minimarket yang melaksanakan kegiatan usahanya yang menggunakan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran dan merupakan cabang usaha berskala nasional.8

Minimarket waralaba lokal adalah minimarket yang melaksanakan kegiatan usahanya yang menggunakan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran, berdasarkan perjanjian waralaba dan merupakan jejaring usaha berskala lokal atau regional Daerah Istimewa Yogyakarta.9

Minimarket cabang lokal adalah minimarket yang melaksanakan kegiatan usahanya yang menggunakan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran dan merupakan cabang usaha yang berskala lokal atau regional Daerah Istimewa Yogyakarta.10

Minimarket non waralaba dan non cabang adalah minimarket yang bukan minimarket waralaba, minimarket cabang, minimarket waralaba lokal, dan minimarket cabang lokal.11

Supermarket Merupakan sebuah toko yang umumnya menyediakan produk teoletris, food, drink, paresible dengan luas toko >1000 m2. <5000 m2 tetapi kegiatannya terus meningkat hingga penyediaan pakaian dan beberapa homewares tertentu. Membaiknya iklim bisnis retail membuat sejumlah pengusaha supermarket mulai menambah jumlah outletnya pada tahun 2000 sampai 2002. Supermarket yang berhasil menambah jumlah outlet dan melakukan ekspansi usaha antara lain adalah Hero dan Indomaret.12

Hypermarket merupakan sebuah toko distribusi self service dengan area penjualan seluas 5000 m2 atau lebih, menjual variasi barang konsumsi yang lebih luas berisikan gabungan produk makanan dan non makanan dalam berbagai ukuran transaksi atau kuantitas dan dalam berbagai bentuk kemasan. Konsep yang dikembangkan oleh hypermarket adalah one stop shopping. Keunggulan yang menjadi diferensiasinya adalah permodalan, luas ruang outlet, kelengkapan barang, teknologi maupun manajemen sehingga mendapatkan harga yang lebih murah dibanding supermarket lain. Hypermarket yang telah meramaikan bisnis retail di Indonesia antara lain Carrefour dan Giant.13

Perkulakan Perkembangan bisnis supermarket berimbas positif pada bisnis perkulakan. Hingga saat ini di Indonesia beroperasi lima pusat perkulakan , yaitu PT. Alfa Retailindo, PT. Makro Indonesia, PT. Goro Batara Sakti, PT. Indo Grosir dan The Club Store. Prinsip dari bisnis perkulakan adalah menjual harga secara grosir yang relatif lebih murah, meskipun dapat juga menjual secara eceran.Meskipun keuntungan perkulakan tidak terlalu besar untuk tiap satuan produk, namun karena kuantitas yang dijualnya dalam

7Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Kabupaten Sleman, Pasal 1, hlm 5

8ibid, hlm 5 9ibid

10 Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Kabupaten Sleman, Pasal 1, hlm 5

11ibid,

12http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49457/4/Chapter%20II.pdf diakses pada 17

Februari 2017 pukul 10.38 WIB

(5)

partai besar maka secara keseluruhan bisnis perkulakan masih mendapatkan keuntungan yang cukup besar.14

Department Store Merupakan sebuah toko retail dengan luas area yang bervariasi, biasanya berhubungan dengan proses retailing, penyortiran barang konsumsi yang dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia atau gaya hidup, self service atau pelayanan penjualan biasanya di bawah satu manajemen umum. Sebuah department store boleh meliputi sebuah supermarket yang luasnya tidak lebih dari 2000 m2. Bisnis department store di Indonesia dijalani oleh sejumlah perusahaan seperti Matahari, Ramayana, atau Rimo Department Store sedangkan peritel asing yang memasuki bisnis departement store dalam skala besar antara lain Sogo Department Store, Yaohan dan Seibu. Kehadiran department store asing tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja department store lokal karena segmen pasar antara department store asing dan lokal sudah jelas, di mana department store lokal lebih berkonsentrasi untuk pasar menengah ke bawah sedangkan department store asing lebih memfokuskan pada pasar kelas atas. Persaingan department store ini umumnya terjadi di pusat-pusat perbelanjaan mewah yang dibangun dengan konsep mall, yaitu memadukan aspek berbelanja dengan unsur rekreasi.15

F. METODOLOGI PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Dinas Perindsutrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman khususnya di Depok dikarenakan merupakan daerah yang memiliki pusat perbelanjaan dan toko modern terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta terlebih Alfamart dan Indomaret.

2. Jenis Penelitian

Bogdat dan Taylor menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-rang yang di amati

3. Jenis Data

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder, yaitu : a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan atau dari masyarakat. Dalam penelitian ini data primer merupakan data asli atau baru. Data hasil wawancara dengan Fitriana Nurhayati S.E M.Ec. Dev, Kepala Seksi Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Rusdi Rais Kasi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Kabupaten Sleman dan Usman Masyarakat Condongcatur

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diambil untuk menjadi rujukan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dari literature, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.16

4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Wawancara

wawancara ini dilakukan kepada Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman, Kepala Kasi Penegak Peraturan Daerah dan masyarakat

b. Dokumentasi

Dokumentasi adalah Teknik pengumpulan data dari dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian ini.17

c. Observasi

Observasi adalah sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati ke objek langsung untuk melihat kegiatan yang dilakukan.

14 ibid 15 ibid, hlm 4

16 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm. 162

(6)

G. HASIL PENELITIN DAN PEMBAHASAN 1. Struktur Birokrasi

Kebijakan Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kabupaten Sleman, sudah memiliki SOP dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan kebijakan tersebut sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern Kabupaten Sleman, Peraturan Daerah ini diperkuat dengan adanya Peraturan Bupati Sleman Nomor 54 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Sleman Nomor 44 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Dan memiliki tujuan yang baik dalam implementasi Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 yaitu :

1) Mengatur dan menata keberadaan pusat perbelanjaan dan toko modern

2) Mengoptimalkan pelaksanaan kemitraan antara pusat perbelanjaan dan toko modern dengan UMKM

3) Mewujudkan sinergi antara pusat perbelanjaan dan toko modern dengan pasar tradisional

4) Memberdayakan potensi ekonomi lokal 5) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah

Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan di dalam Peraturan Daerah tersebut, pusat perbelanjaan dan toko modern diharapkan dapat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi daerah dan tidak menghambat prekonomian para pedagang pasar tradisional serta mengoptimalkan pelaksanaan kemitraan dengan toko modern agar nantinya dapat berjalan berdampingan dan tidak adanya saling menjatuhkan satu sama lainnya.

2. Sumber Daya

Masih banyaknya pelanggaran mengenai zonasi, yang kurang dari 1.000 Meter seperti halnya yang telah di ungkapkan, Bapak Rusdi Rais, Kasi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Kabupaten Sleman mengungkapkan :

“Toko modern yang telah melanggar zonasi kurang dari 1.000 kami pihak Satpol PP berikan Surat Peringatan (SP) 1 hingga SP 3 jika tidak diperdulikan oleh pemilik toko kami akan melakukan penutupan segera, akan disegel secara paksa tetapi biasanya yang sudah berikan SP tetap beroperasi dikarenakan adanya pihak yang berkepentingan yang mempunyai uang dibelakangnya itu yang membuat agak susah mba tetapi kita tetap melakukan penutupan toko tersebut”18

Berdasarkan wawancara di atas, Bapak Rusdi telah menjelaskan bahwa telah memberikan Surat Peringatan sebelumnya, hanya saja adanya pihak-pihak yang berkepentingan didalamnya sehingga membuat toko berjejaring tersebut sulit untuk di tegakkan. Pasal 23 Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 menyebutkan pemilik izin toko akan diberikan sanksi karena telah melanggar zonasi yang telah diberlakukan, antara lain :19

a) Peringatan Tertulis

b) Pembekuan Izin Sementara c) Pencabutan Izin

d) Penyegelan

e) Penutupan Sementara f) Penutupan Tempat Usaha

Apabila setelah dilakukan pembekuan atau penyegelan pemilik izin masih melakukan pelanggaran, maka akan dilakukan pencabutan izin sesuai ketentuan perundang-undangan tetapi dalam faktanya sanksi yang diberikan tidak memberikan efek jera kepada pihak pemilik izin dilihat dari masih banyaknya toko berjejaring di Kabupaten Sleman yang melanggar isi Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Penutupan toko modern adalah salah satu bagian dari

18 Wawancara dengan Rusdi Rais, Kasi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Kabupaten Sleman 27

Desember 2016 pukul 07.59 WIB

19 Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern,

(7)

penegakan Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012, yang dimana jika pemilik izin terus menerus beroperasi membuka toko modern, pemilik izin sengaja telah mempermainkan isi dari Peraturan Daerah. Sedangkan ketentuan pidana yang dikenakan terhadap setiap pemilik izin usaha yang tidak memiliki IUPP dan IUTM diancam pidana kurungan paling lama 3(tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,-(Lima puluh juta rupiah).20 Menurut pernyataan wawancara di atas, Satpol PP telah melakukan penutupan toko modern setelah dilakukannya pemberian sanksi berupa pemberitahuan tertulis sampai pemberitahuan tertulis ke-3 dari Dinas Perindagkop. Apabila setelah dilakukan pembekuan dan penyegelan pemilik izin masih melakukan pelanggaran maka akan dilakukan pencabutan izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 14 (empat belas) hari.

Toko modern yang telah beroperasi di Depok Kabupaten Sleman terdapat 29 unit dan 14 unit melanggar ketentuan status jalan belum termasuk melanggar jam operasional yang dimana jam tutup toko modern minimarket waralaba lokal, minimarket cabang lokal, dan minimarket non waralaba dan non cabang hari senin sampai dengan hari Jum’at, mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB, hari Sabtu dan hari Minggu, mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB sedangkan hari besar keagamaan dan hari libur nasional, mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB. Masih banyaknya minimarket yang buka 24 jam, demi mendapatkan kuntungan sendiri sebaiknya Pemerintah Daerah lebih mengawasi pelanggaran-pelanggaran yang telah di buat karena sungguh sangat disayangkan jika Peraturan Daerah yang dibuat oleh Pemerintah ini tidak diimbangi dengan ketegasan dari berbagai pihak untuk menegakkan Peraturan Daerah ini maka untuk apa di buat Peraturan Daerah jika hanya untuk dilanggar.

Dalam mengimplementasikan kebijakan pusat perbelanjaan dan toko modern di Kabupaten Sleman, pelaksanaannya tentu saja membutuhkan sumber daya finansial dan anggaran. Sumber daya yang ada di Dinas Perindagkop sebanyak 12 orang seharusnya sudah dapat menjalankan kebijakan perizinan pusat perbelanjaan dan toko modern untuk di Kabupaten Sleman, dengan sumber daya tersebut Dinas dapat membagi tugas masing-masing disetiap wilayah di Kabupaten Sleman. Hal tersebut diharapkan agar tidak ada lagi wilayah yang melakukan pelanggaran mendirikan pusat perbelanjaan dan toko modern. Implementasi kebijakan secara lapangan adalah Satpol PP yang mengerahkan lebih banyak sumber daya daripada Disperindagkop jumlah personil yang di turunkan oleh Satpol PP cukup banyak hal tersebut dikarenakan Satpol PP sebagai implementator dalam melaksanakan kebijakan perizinan pusat perbelanjaan dan toko modern. Pelaksanakan dalam kebijakan publik harus disertai dengan adanya anggaran sebagai alat pendukungnya yang dimana dana dialokasikan khusus dari Kementerian Perdagangan maupun dana APBD Kabupaten Sleman keduanya sudah dimiliki tetapi dalam fakta yang ada dalam penegakan Peraturan Daerah masih belum berjalan secara maksimal.

3. Komunikasi

Demi kelancaran implementasi kebijakan pusat perbelanjaan dan toko modern pemerintah sebelumnya telah melakukan sosialisasi yang nantinya akan mempertemukan pelaku dan UMKM lainnya yang tujuannya akan lebih memperlancar dalam urusan izin pusat perbelanjaan dan toko modern serta akan membuat pemilik izin usaha lebih memahami apa saja yang harus dilakukannya sebelum pendirian pusat perbelanjaan dan toko modern agar pelanggaran dapat diantisipasi. Untuk membuat toko modern dan pasar tradisional tumbuh berdampingan serta saling menguntungkan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindagkop melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu:21

1) Mempertemukan pengelola toko modern dengan UMKM dengan tujuan kemitraan dari pihak toko modern dan UMKM. Kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah dan usaha besar yang disertai dengan pembinaan dan pengawasan oleh usaha menengah dan usaha besar serta memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

20 Laporan Pendataan Toko Modern Kabupaten Sleman, hlm10

(8)

2) Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi serta instansi terkait lainnya selain melakukan kemitraan juga melakukan pendekatan secara insten agar nantinya antara pemerintah dapat lebih mengontrol pemilik izin usaha agar serta mampu bersaing sehat dengan pemilik izin usaha kecil. Pendekatan ini juga dilakukan untuk menyadarkan pemilik maupun pengembang toko modern untuk mau menyesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Peraturan Daerah No 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan toko Modern.

Pelaku usaha kemudian harus melakukan sosialisasi sebelum mengajukan permohonan izin usaha. Pertama sosialisasi dilaksanakan dengan melibatkan paling sedikit 50 (lima puluh) Kepala Keluarga warga masyarakat termasuk toko terdekat yang sejenis disekitaran lokasi serta Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga, Dukuh, Kepala Desa dan Camat setempat. Kedua, keterlibatan Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga, Dukuh, Kepala Desa dan Camat setempat tidak termasuk kedalam hitungan kepala keluarga warga masyarakat setelah dilakukannya sosialisasi hasil sosialisasi menyetujui operasional kegiatan usaha minimarket waralaba dan minimarket cabang oleh paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah peserta dan 75% (tujuh puluh lima persen) khusus yang memiliki usaha toko sejenisnya.22Komunikasi yang dijalin oleh pemilik izin usaha pusat perbelanjaan dan toko modern di Kabupaten Sleman. Dalam pelaksanaanya pemilik izin usaha pusat perbelanjaan dan toko modern tidak melakukan komunikasi yang baik serta tidak sesuai dengan isi Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2015 dan Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 yang telah diterangkan diatas masih banyaknya informasi-informasi dari masyarakat bahwa sosialisasi tidak dilakukan sesuai dengan isi Peraturan Bupati dan Peraturan Daerah tersebut yang seharusnya keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan sosialisasi toko modern berjejaring ini sangat mempengaruhi keberadaan pusat perbelanjaan dan toko modern berjejaring tersebut. 4. Disposisi

Pemerintah maupun implementator dalam melaksanakan tugas harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang terkait, serta sikap atau cara yang digunakan dalam pengimplementasian suatu peraturan yang mengatur tentang kebijakan perizinan pusat perbelanjaan dan toko modern. Dengan menjamurnya toko modern bahwa dalam pengimplementasian pusat perbelanjaan dan toko modern belum berjalan secara maksimal. Hal ini tentu saja menjadi suatu kendala pemerintah dalam melakukan penertiban izin pusat perbelanjaan dan toko modern. Ketegasan dari implementator perlu ditingkatkan agar dapat menyesuaikan masalah tersebut sehingga nantinya akan sesuai dengan peraturan yang mengaturnya serta pemerintah dan pemilik izin juga harus meningkatkan kesadaran bahwa peraturan dibuat bukan untuk dilanggar dan tidak terpengaruh jika di iming-imingkan dengan uang.

Untuk mencapai suatu perubahan dalam suatu pengimplementasian pusat perbelanjaan dan toko modern, suatu kebijakan mempunyai faktor pendukung serta penghambat dalam melaksanakan implementasian pusat perbelanjaan dan toko modern. Faktor pendukung dalam implementasi kebijakan pusat perbelanjaan dan toko modern yaitu adanya anggaran dan adanya sumber daya Seperti yang telah dijelaskan oleh Ibu Fitriana Nurhayati, SE. M.Ec. Dev Kepala Seksi Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Sleman :

“Pemerintah dalam implementasinya didukung oleh adanya anggaran dan sumber daya manusia”23

Menurut paparan di atas, anggaran dan sumber daya manusia merupakan salah satu faktor utama yang mendukung jalannya suatu kebijakan. Sumber daya dan anggaran saling keterkaitan untuk mencapai suatu tujuan kebijakan tersebut, jika sumber daya memadai tetapi anggaran tidak terpenuhi maka kebijakan tidak akan berjalan dan begitu juga sebaliknya. Penggunaan anggaran yang baik perlu dikelola oleh sumber daya

22 Peraturan Bupati Sleman Nomor 54 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati

Sleman Nomor 44 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Pasal 17

23 Wawancara dengan Fitriana Nurhayati S.E M.Ec. Dev, Kepala Seksi Bidang Perdagangan Dinas

(9)

manusia yang baik pula agar pembagian penggunaan anggaran dapat disalurkan dan digunakan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Pelaksanaan kebijakan pusat perbelanjaan dan toko modern selain mendapat dukungan, ada juga beberapa hambatan yang tidak bisa dihindari. Hambatan-hambatan tersebut dapat diketahui saat implementasi dilakukan diantaranya seperti :

1) Adanya perbedaan pendapat

2) Kurangnya pemahaman tentang hukum Seperti yang diungkap oleh Ibu Fitri :

“Komitmen menjadi salah satu hambatan dalam pembuat kebijakansalah satunya dibagian Pimpinan Daerah, pembuat kebijakan di pemerintah daerah, sisi UMKM serta tenaga kerja lainnya. Sebagaimana yang telah dimaksud jika komitmen dari atasan jelas maka dibawah juga pasti ikut jelas”24

hambatan yang ada saat implementasi dilakukan yaitu terjadinya perbedaan pendapat terhadap isi Peraturan Daerah sehingga menyebabkan perbedaan tingkat komitmen diantara keduanya suatu kebijakan akan berjalan dengan baik apabila antara pemimpin dan bawahan mempunyai komitmen yang sama agar pelaksanaan dari isi Peraturan Daerah tersebut berjalan secara maksimal. Namun bukan hanya itu saja pemilik izin usaha menengah dan besar juga harus ikut memberdayakan pasar tradisional agar nantinya bisa hidup saling berdampingan tanpa ada masalah apapun didalamnya sehingga membuat pemerintah lebih mudah dalam mengimplementasikan peraturan yang ada. Kemitraan dengan UMKM yaitu adanya kerjasama antara pusat perbelanjaan dan toko modern dengan UMKM disertai pembinaan dan pengembangan dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Pelaksanaan kerjasama antara pusat perbelanjaan dan toko modern dengan UMKM dapat berupa :

1) Penempatan gerai bagi pelaku UMKM paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari keseluruhan gerai yang disediakan pusat perbelanjaan.

2) Penempatan gerai bagi pelaku UMKM pada lingkungan toko modern.

3) Penempatan produk UMKM paling sedikit 5% dari keseluruhan komoditas yang dijual oleh toko modern.

4) Pengemasan ulang produk UMKM.

Untuk pelaksanaan kemitraan dengan UMKM pemilik izin usaha toko modern diberikan pilihan untuk penempatan gerai bagi pelaku UMKM 10% atau penempatan produk paling sedikit 5% dari keseluruhan komoditas yang dijual di toko modern. Pada faktanya, dalam wawancara bersama Ibu Fitriani :

“Pemilik izin usaha lebih memilih untuk penyerapan 5% (lima persen) penempatan produk. Tetapi dalam faktanya, penyerapan 5% produk lokal masih belum terlaksana masih diusahakan”25

Dari wawancara di atas, untuk masalah kemitraan pemilik izin toko modern lebih memilih untuk penyerapan 5% penempatan produk hasil UMKM. Tetapi, meskipun telah memilih melakukan penyerapan 5% pada faktanya pemilik izin usaha tidak menepati apa yang telah disepakati sebelumnya namun sebagian pemilik izin usaha juga telah memasukkan produk lokal kedalam toko modern miliknya tetapi hanya berupa jajanan pasar.

Bapak Rusdi Rais juga mempunyai hambatan dalam mengimplementasikan Peraturan Daerah, yang dimana telah diungkapkannya dalam wawancara :

“Pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dibelakangnya yang menjadi salah satu faktor Peraturan Daerah susah untuk ditegakkan”26

Berdasarkan wawancara di atas, bukan hanya komitmen Kepala Daerah dan bawahan yang menjadi hambatan tetapi juga dari komitmen pemilik izin usaha mengikuti aturan yang sudah dituangkan kedalam regulasi yang ada serta tidak melanggar peraturan-peraturan dan mengikuti pasal demi pasal yang ada didalam regulasi tersebut serta sebagai Warga

24 Wawancara dengan Fitriana Nurhayati S.E M.Ec. Dev, Kepala Seksi Bidang Perdagangan Dinas

Perdagangan tanggal 19 Desember 2016 pukul 12.13 WIB

25 Wawancara dengan Fitriana Nurhayati S.E M.Ec. Dev, Kepala Seksi Bidang Perdagangan Dinas

Perdagangan tanggal 19 Desember 2016 pukul 12.13 WIB

26 Wawancara dengan Rusdi Rais, Kasi Penegak Peraturan Daerah Satpol PP Kabupaten Sleman

(10)

Negara yang taat hukum harus memahami aturan serta menerima konsekuensi jika telah melanggar regulasi. Dengan adanya regulasi akan mentertibkan pemilik izin usaha yang nantinya akan membuat dampak baik bagi pusat perbelanjaan dan toko modern. Sebaliknya jika aturan-aturan di dalam regulasi selalu dilanggar oleh toko modern Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2012 ini belum maksimal. Untuk itu, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi serta instansi terkait lainnya harus berani bertindak tegas dan memilah kembali terkait pemberian izin usaha toko modern. Pemberian izin semakin ketat diberlakukan agar nantinya para pemilik izin usaha tidak semena-mena dalam pendirian toko modern dan Peraturan Daerah yang telah ditetapkan berhasil menjadi regulasi bagi perizinan pusat perbelanjaan dan toko modern di Kabupaten Sleman.

Memperkuat koordinasi antara pihak Dinas Perindagkop dan pihak penegak Satpol PP beserta instansi terkait lainnya agar implementasi kebijakan berjalan dengan baik dikarenakan terlihat dari fakta-fakta yang ada di atas implementasi belum berjalan efektif meskipun sebuah kebijakan memiliki tujuan yang baik jika dari pihak implementator kurang memiliki pemahaman akan tugas dan fungsinya maka hasil dari pelaksanaan kebijakan menjadi kurang maksimal serta diperlukannya keseriusan dan tanggung jawab yang besar terhadap pelaksanaan kebijakan dalam melakukan implementasi kebijakan Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 tentang Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern agar pelanggaran dapat di atasi dengan baik.

H. KESIMPULAN DAN SARAN

Pada uraian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dalam mengimplementasikan kebijakan perizinan toko modern dalam ini sudah dilaksanakan dari tahun 2012 dan ditetapkan lah regulasi mengenai toko modern yaitu Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 Tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern akan tetapi dalam pengimplementasian Peraturan Daerah tersebut belum berjalan secara efektif dan maksimal dilihat dari realita yang ada semakin berkembangnya jumlah toko modern dari tahun ke tahun mengenai zonasi yang dilanggar serta kurangnya komunikasi oleh pemilik izin pusat perbelanjaan dan toko modern. Tata letak toko modern yang dekat bahkan berdempetan dengan pasar tradisional serta tidak adanya Izin Usaha Toko Modern (IUTM) khususnya untuk Alfamart dan Indomaret. Pengimplementasian Peraturan Daerah tersebut juga mengalami hambatan dikarenakan adanya pihak-pihak terkait yang mempunyai kepentingan tersendiri dalam toko modern tersebut.

Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2012 ini juga tidak dapat berjalan dengan lancar secara maksimal disebabkan karena didalam Peraturan Daerah tersebut menghilangkan tentang perlindungan terhadap pasar tradisional yang jaraknya dengan toko modern dihapuskan sehingga membuat pasar tradisional semakin kalah bersaing dengan toko modern. Tidak saja hal itu fasilitas dalam pasar tradisional juga terbatas hal ini semakin menyebabkan toko modern dan pasar tradisonal tidak bersaing dengan sewajarnya tanpa adanya pemberdayaan maka akan semakin membuat eksistensi toko modern dan pasar tradisonal tersingkirkan.

Saran

1. Pemerintah Kabupaten Sleman Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi dalam implementasi kebijakan toko modern sebaiknya meningkatkan sosialisasi lebih optimal lagi.

2. Pemerintah Kabupaten Sleman sebaiknya melakukan pengawasan secara berkala tehadap pusat perbelanjaan dan toko modern yang semakin marak di Kabupaten Sleman.

3. Pemerintah Kabupaten Sleman sebaiknya mendorong pelaku usaha tradisonal agar dapat bersaing dengan pelaku-pelaku usaha toko modern dengan cara melakukan program pendampingan dan pelatihan.

4. Pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan pedagang-pedagang kecil dengan cara memberikan sosialisasi atau pengetahuan modal guna mengembangkan usaha pemilik pedagang kecil.

(11)

5. Bagi pemilik izin untuk mengurus dan melengkapi izinnya, yaitu Izin Usaha Pusat Perbelanjaan (IUPP) bagi usaha pusat pebelanjaan dan Izin Usaha Toko Modern (IUTM).

I. DAFTAR PUSTAKA

Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012 Mutiarin, Dyah dan Arif Zaenudin.Manajemen Birokrasi dan Kebijakan,Pustaka

Pelajar,Yogyakarta, 2014.

Nugroho, Riant,.Public Policy,Elexmedia,Jakarta Pusat, 2009.

Siregar, Sofiyan, Metode Penelitian Kuantitatif, Kencana, Jakarta, 2013. Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2009.

Suprayoga Imam dan Tabrani, Metodologi Penelitian sosial Agama, PPT Rosdakarya , Bandung, 2001

Wahab,S. A., Analisis Kebijaksanaan: dari formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, Jakarta: 1997 Bumi Aksara

Winarno, Surachmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik, Bandung, 1982.

Winarno, Budi.Teori dan Proses Kebijakan Publik. Media Presindo.Yogyakarta 2002 Mutiara, Ita Dewi,Implementasi kebijakan Perencanaan Penataan Toko Modern

berjaringan Nasional di Kabupaten Sleman dalam Studi Ekonomi Politik, Yogyakarta tahun 2012. http://eprints.uny.ac.id/22788/1/artikel%20jurnal.pdf diakses pada 28 September 2016 pukul 21.23 WIB

Santosa Awan & Indoroyono Puthut, Nasionalisme Kemandirian Ekonomi, Swara33,Yogyakarta,2011.http://ebook.repo.mercubuanayogya.ac.id/Kuliah/mate ri_20131_doc/SWARA33_2011MEI_001.pdf diakses pada 18 september 2016 pukul 19.20 WIB.

MA. Arafat 2009. http://digilib .uinsby.ac.id/7354/3/bab%203.pdf.BAB II Metode Penelitian. (online) diakses pada tangal 1 Maret 2017 pukul 13.38 WIB

Kossa Zainab Munwir, Kebijakan Perizinan Penebangan Hutan Dalam Kaitannya Dengan Kelestarian Lingkungan Hidup Di Kabupaten Mimika Propinsi Papua,skripsi,Yogyakarta,2012

Alipuddin Muhamad, Analisa Implementasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bantul Tentang Pengelolaan Toko Modern 2010-2011,skripsi, Yogyakarta,2011

Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisisonal, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Perizinin Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Peraturan Bupati Sleman Nomor 54 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Sleman Nomor 44 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

http://perindagkop.slemankab.go.id

http://www.pos-metro.com/2016/07/tak-berizin-satpol-pp-sleman-tutup.html diakses pada 20 September 2016 pukul 19.21 WIB

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/43060/4/Chapter%20II. pdf,diakses pada 6 November 2016 pukul 18.06 WIB

http://eprints.walisongo.ac.id/2067/5/62411072_Bab4.pdf diakses tanggal 07 Januari 2017 pukul 14.45 WIB

(12)

http://satpolpp.slemankab.go.id diakses pada taggal 8 Januari 2017 pukul 20.25 WIB http://e-journal.uajy.ac.id/4728/2/1EM17585.pdf diakses pada tanggal 28 september 2016

pukul 19.35 WIB

http://eprints.uny.ac.id/22075/6/6.BAB%20IV.pdf di akses pada tanggal 10 mei 2017 pukul 12.03 WIB

Referensi

Dokumen terkait