• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interior Design Greyers House with Life Satisfaction Concept.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Interior Design Greyers House with Life Satisfaction Concept."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha | vi

ABSTRAK

Setiap manusia semakin hari semakin bertambah tua, dan tidak ada

seorang pun yang dapat luput dari proses penuaan. Proses penuaan ini akan

membuat manusia mengalami masa lansia (lanjut usia). Dalam proses penuaan,

sel-sel mengalami penurunan kerja sehingga lama-lama akan mempengaruhi

kinerja tubuh. Penurunan kinerja tubuh akan menghambat aktivitas sehari-hari,

sehingga lansia biasanya tidak lagi bekerja seperti biasa dan lebih banyak

beristirahat. Keterbatasan fisik pada lansia, akhirnya akan menciptakan

ketergantungan terhadap orang lain. Namun, masyarakat bahkan anggota keluarga

sendiri terkadang tidak memiliki waktu untuk menemani lansia. Padahal di masa

tersebut, lansia seharusnya menikmati kebahagiaan sebagai hadiah atas kerja

keras dan produktivitasnya di masa muda.

Wisma wreda merupakan salah satu tempat yang diciptakan khusus untuk

lansia. Lansia dapat berkumpul dan bersosialisasi bersama lansia lainnya, karena

berada dalam komunitas yang sesuai, maka lansia akan merasa lebih bahagia dan

lebih dihargai. Dalam perancangan wisma wreda ini, disediakan beberapa

aktivitas yang dapat dilakukan lansia dalam mengisi waktunya. Aktivitas tersebut

antara lain menyanyi, bermain musik, membaca, memasak, menonton,

berolahraga, dan membuat kerajinan tangan. Disediakan juga fasilitas kamar tidur

yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat. Seluruh ruangan dalam wisma

wreda ini diciptakan dengan tujuan untuk membuat lansia merasa nyaman dan

senang. Oleh karena itu, wisma ini menggunakan konsep Life Satisfaction dan

tema Golden Age supaya lansia dapat menikmati hari tua dengan bahagia.

(2)

Universitas Kristen Maranatha | vii

ABSTRACT

Every human is getting aging, and there is no one who can escape from an aging process. This aging process will make the human experience become the elderly. In the process of aging, the cells work has decreased so long will affect the performance of the body. Performance degradation of the body will inhibit daily activities, so that the elderly are usually no longer works as usual and need more rest. Physical limitation for the elderly, would ultimately create dependency to others. However, people even own members of the family sometimes do not have time to accompany for the elderly. While in that time, for the elderly should be enjoying the bliss of as a reward for hard work and its productivity in youth.

Nursing house is a place which was created specifically to elderly. Assembled for the elderly can socialize with another, because it was appropriate, within the community then the elderly will feel happier and more valued. Provided some activity that can be conducted for the elderly in filling time. These activities among singing, music, reading, cooking, watching, exercising, and making handicraft. Provided facilities a bedroom that can be used as a resting place. The whole room in this nursing house created with the purpose of making elderly feel comfortable and happy. Hence, the concepts life satisfaction and theme that the golden age for the elderly can enjoy the old days with a happy in this nursing house.

(3)

Universitas Kristen Maranatha | viii

DAFTAR ISI

COVER i

LEMBAR PENGESAHAN ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN TUGAS AKHIR iii

PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN iv

KATA PENGANTAR v

1.2Ide/Gagasan Perancangan Wisma Wreda 3

1.3Identifikasi Masalah 3

1.4Rumusan Masalah 3

1.5Tujuan Perancangan Wisma Wreda 4

1.6Manfaat Perancangan Wisma Wreda 4

1.7Batasan Perancangan Wisma Wreda 4

1.8Sistematika Penulisan 4

BAB II – WISMA WREDA DAN STUDI ERGONOMI UNTUK LANSIA

2.1 Pengertian Lansia 6

2.1.1 Batasan Umur Lanjut Usia 7

(4)

Universitas Kristen Maranatha | ix

2.1.3 Perubahan Pada Lansia 7

2.1.4 Kebutuhan Lansia 9

2.2 Pengertian Wisma Wreda 10

2.2.1 Sejarah dan Perkembangan Panti Wreda 11

2.2.2Tujuan Panti Wreda 12

2.2.3 Active Adult Community 12

2.2.4 Program Kegiatan Wisma Wreda 13

2.3 Standar Ergonomi Lansia 17

2.3.1 Lantai 17

2.3.2 Tangga dan Lift 17

2.3.3 Pencahayaan 18

2.3.4 Kontrol 18

2.3.5 Kamar Mandi 20

2.3.6 Ruang Pemeriksaan Kesehatan 21

2.3.7 Sirkulasi 21

2.4 Teori Warna 22

2.5 Studi Banding Senior Club Indonesia 23

2.6 Studi Banding Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 26

(dahulu Panti Wreda Asuhan Bunda)

2.6.1 User Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 27

2.6.2 Fasilitas di Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 28

2.6.3 Program Kegiatan 29

2.6.4 Ruangan di Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 31

BAB III – WISMA WREDA

3.1 Deskripsi Objek Studi 40

3.1.1 Deskripsi Lokasi 41

3.1.2 Dekripsi Fungsi Objek Studi 41

3.1.3 Analisa Site 41

3.1.4 Analisa Building 45

3.2 Analisis Fungsional 49

(5)

Universitas Kristen Maranatha | x

3.2.2.1 Klien 49

3.2.2.2 Staff 49

3.2.2 Tabel Kebutuhan Ruang dan Tabel Kriteria Ruang 51

3.3 Hasil Kuisioner 60

3.4 Implementasi Konsep 64

3.4.1 Konsep Bentuk 66

3.4.2 Konsep Warna 66

3.4.3 Konsep Tekstur 66

3.4.4 Konsep Material 67

3.4.5 Konsep Pencahayaan 67

3.4.6 Konsep Skala 67

3.5 Hubungan Kedekatan Ruang 68

3.5.1 Zoning Blocking 68

3.5.2 Bubble Diagram 70

3.6 Studi Image 71

BAB IV – PERANCANGAN WISMA WREDA

4.1 Perancangan General 72

4.2 Perancangan Area Khuss 75

4.2.1 Resepsionis 75

4.2.2 Ruang Medis 79

4.2.3 Ruang Fisioterapi 79

4.2.4 Ruang Merajut dan Membaca 79

4.2.5 Ruang Berkumpul 85

4.2.6 Ruang Massage dan Spa 90

4.2.7 Ruang Makan dan Dapur Lansia 95

4.2.8 Kamar Daily Care 101

4.2.9 Kamar Standard 103

4.2.10 Kamar VIP 105

4.2.11 Kamar Ganda 107

BAB V – SIMPULAN DAN SARAN

(6)

Universitas Kristen Maranatha | xi

5.2 Saran 111

DAFTAR PUSTAKA 112

(7)

Universitas Kristen Maranatha | xii

DAFTAR TABEL

BAB II

Tabel 2.1 Penggolongan Lansia Berdasarakan Umur dan Aktivitas 10

Tabel 2.2 Kegiatan Harian Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 29

Tabel 2.3 Kegiatan Harian Wisma Lansia “J. Soenarti Nasution” 30

BAB III

Tabel 3.1 Analisa Site Panti Asuhan Putra BK Maranatha 44

Tabel 3.2 Tabel Kebutuhan Ruang 51

(8)

Universitas Kristen Maranatha | xiii

DAFTAR GAMBAR

BAB II

Gambar 2.1 Standard Tangga 17

Gambar 2.2 Standard Ruangan 18

Gambar 2.3 Lay-out Kamar Mandi 20

Gambar 2.4 Tampak Kamar Mandi 20

Gambar 2.5 Isometri Kamar Mandi 20

Gambar 2.6 Area Ruang Pemeriksaan Kesehatan 21

Gambar 2.7 Sirkulasi pada Koridor 21

Gambar 2.8 Sirkulasi Area Pintu bagi Pengguna Kursi Roda 22

Gambar 2.9 Kegiatan Program Rutin SCI 24

Gambar 2.10 Kegiatan Program Pilihan SCI 25

Gambar 2.11 Kegiatan Program Khusus SCI 25

Gambar 2.12 Fasilitas Gedung SCI 26

Gambar 2.13 Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 27

Gambar 2.14 Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 31

Gambar 2.15 Lantai 1 Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 31

Gambar 2.16 Ruang Tamu Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 31

Gambar 2.17Receptionist Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 32

Gambar 2.18Pantry Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 33

Gambar 2.19 Ruang Rapat Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 33

Gambar 2.20 Ruang Baca Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 34

Gambar 2.21 Sirkulasi Kamar VIP Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 34

Gambar 2.22 Jendela Kamar VIP Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 34

Gambar 2.23 Lantai Dasar (Under Ground)

Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 35

Gambar 2.24 Ruang Kesehatan Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 35

Gambar 2.25 Dapur Kotor Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 36

Gambar 2.26 Area Makan dan Area Bersantai 37

Gambar 2.27Program Kegiatan dan Area Kursi Roda

(9)

Universitas Kristen Maranatha | xiv Gambar 2.28 Sirkulasi Kamar Subsidi Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 37

Gambar 2.29 Kamar Subsidi Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 38

Gambar 2.30 WC Bersama untuk Kamar Subsidi

Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 39

Gambar 2.31Rampdan Tangga Wisma Lansia J. Soenarti Nasution 39

BAB III

Gambar 3.1 Peta Lokasi Panti Asuhan Putra BK Maranatha 42

Gambar 3.2 Fasade Bangunan 45

Gambar 3.3 Denah Lantai 1 45

Gambar 3.4 Denah Lantai 2 45

Gambar 3.5 Ruang Tamu 45

Gambar 3.6 Ruang Serba Guna 46

Gambar 3.7 Ruang Belajar 46

Gambar 3.8 Ruang Ganti 47

Gambar 3.9 Ruang Makan 47

Gambar 3.10 Dapur 47

Gambar 3.11 Kantor 48

Gambar 3.12 Lapangan 48

Gambar 3.13 Pilihan Pertama 63

Gambar 3.14 Pilihan Kedua 63

Gambar 3.15 Pilihan Ketiga 63

Gambar 3.16 Pilihan Keempat 64

Gambar 3.17 Bentuk Dasar 66

Gambar 3.18 Skema Warna 66

Gambar 3.19 Tekstur Glossy 66

Gambar 3.20 Material 67

Gambar 3.21 Lighting Character 67

Gambar 3.22 Zoning dan Blocking Lantai 1 68

Gambar 3.23 Zoning dan Blocking Lantai 2 68

(10)

Universitas Kristen Maranatha | xv BAB IV

Gambar 4.1 Peta Lokasi Panti Asuhan Putra BK Maranatha 73

Gambar 4.2 Denah General Lantai 1 dan 2 74

Gambar 4.3 Potongan General 74

Gambar 4.4 Denah Ceiling Resepsionis 75

Gambar 4.5 Denah Furniture Resepsionis 75

Gambar 4.6 Denah Pola Lantai Resepsionis 75

Gambar 4.7 Tampak Potongan Resepsionis 76

Gambar 4.8 Detail Interior Kolam Area Resepsionis 76

Gambar 4.9 Detail Interior Lambrisering Area Resepsionis 77

Gambar 4.10 Detail Furniture Meja Resepsionis 78

Gambar 4.11 Perspektif AreaResepsionis 78

Gambar 4.12 Denah Ceiling Ruang Merajut dan Membaca 79

Gambar 4.13 Denah Furniture Ruang Merajut dan Membaca 80

Gambar 4.14 Denah Pola LantaiRuang Merajut dan Membaca 80

Gambar 4.15 Tampak Potongan Ruang Merajut dan Membaca 80

Gambar 4.16 Detail Interior Wall Treatment Koridor Ruang Merajut

dan Membaca 81

Gambar 4.17 Detail Furniture Meja Membaca 82

Gambar 4.18 Detail Furniture Kursi Merjaut 83

Gambar 4.19 Detail Furniture Kursi Merjaut 84

Gambar 4.20 Perspektif Ruang Merajut dan Membaca 84

Gambar 4.21 Denah Ceiling Ruang Berkumpul 85

Gambar 4.22 Denah Furniture Ruang Berkumpul 86

Gambar 4.23 Denah Pola Lantai Ruang Berkumpul 86

Gambar 4.24 Tampak Potongan Ruang Berkumpul 87

Gambar 4.25 Detail Furniture Sofa Modular 88

Gambar 4.26 Detail Furniture Sofa Modular 89

Gambar 4.27 Perspektif Ruang Berkumpul 90

Gambar 4.28 Denah Ceiling Ruang Massage dan Spa 91

Gambar 4.29 Denah Furniture Ruang Massage dan Spa 91

(11)

Universitas Kristen Maranatha | xvi Gambar 4.31 Tampak Potongan Ruang Massage dan Spa 92

Gambar 4.32 Detail Interior Wall Treatment Area Massage 93

Gambar 4.33 Detail Furniture Kasur Massage 94

Gambar 4.34 Perspektif Ruang Massage dan Spa 95

Gambar 4.35 Denah Ceiling Ruang Makan dan Dapur Lansia 96

Gambar 4.36 Denah Furniture Ruang Makan dan Dapur Lansia 96

Gambar 4.37 Denah Pola Lantai Ruang Makan dan Dapur Lansia 97

Gambar 4.38 Tampak Potongan Ruang Makan dan Dapur Lansia 97

Gambar 4.39 Denah Interior Ceiling Treatment Area Makan Lansia 98

Gambar 4.40 Detail Furniture Meja Makan Lansia 99

Gambar 4.41 Detail Furniture Meja Makan Lansia 100

Gambar 4.42 Perspektif Ruang Makan dan Dapur Lansia 100

Gambar 4.43 Denah Ceiling Kamar Daily Care 101

Gambar 4.44 Denah Furniture Kamar Daily Care 101

Gambar 4.45 Denah Pola Lantai Kamar Daily Care 102

Gambar 4.46 Tampak Potongan Kamar Daily Care 102

Gambar 4.47 Perspektif Kamar Daily Care 102

Gambar 4.48 Denah Ceiling Kamar Standard 103

Gambar 4.49 Denah Furniture Kamar Standard 103

Gambar 4.50 Denah Pola Lantai Kamar Standard 104

Gambar 4.51 Tampak Potongan Kamar Standard 104

Gambar 4.52 Perspektif Kamar Standard 105

Gambar 4.53 Denah Ceiling Kamar VIP 105

Gambar 4.54 Denah Furniture Kamar VIP 106

Gambar 4.55 Denah Pola Lantai Kamar VIP 106

Gambar 4.56 Tampak Potongan Kamar VIP 106

Gambar 4.57 Perspektif Kamar VIP 107

Gambar 4.58 Denah Ceiling Kamar Ganda 107

Gambar 4.59 Denah Furniture Kamar Ganda 108

Gambar 4.60 Denah Pola Lantai Kamar Ganda 108

Gambar 4.61 Tampak Potongan Kamar Ganda 108

(12)

Universitas Kristen Maranatha | xvii

(13)

Universitas Kristen Maranatha | xviii

DAFTAR BAGAN

BAB III

Bagan 3.1 - Persentasi Pendidikan 60

Bagan 3.2 - Persentasi Usia 61

Bagan 3.3- Persentasi Kegiatan yang Disukai 62

Bagan 3.4 – Konsep Perancangan 65

(14)

Universitas Kristen Maranatha | 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring perkembangan manusia yang semakin pesat, maka populasi manusia

ikut bertambah menyebabkan jumlah lansia semakin banyak setiap tahunnya.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Dana Kependudukan PBB jumlah lansia

di dunia pada tahun 2000 berjumlah lebih banyak dibandingkan jumlah anak-anak

dan diperkirakan sebelum tahun 2050, jumlah generasi yang berusia lanjut akan

lebih banyak daripada penduduk berusia di bawah 15 tahun. Dalam hanya 10

(15)

Universitas Kristen Maranatha | 2 mencapai 200 juta dalam waktu 10 tahun. Pertambahan jumlah lansia terjadi

setiap saat di berbagai wilayah termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, jumlah lansia tahun 2010 diperkirakan akan sama dengan anak

balita yaitu sekitar 24 juta jiwa atau 9,77 persen dari seluruh jumlah penduduk dan

tahun 2020 diperkirakan lansia di Indonesia meningkat menjadi 28,8 juta atau

11,34 persen total jumlah penduduk, dan berdasarkan survey yang dilakukan oleh

Komisi Nasional Lanjut Usia tahun 2010, lansia yang rasio lansia yang memiliki

ketergantungan terhadap orang lain berjumlah 13.37% pada tahun 2009 dari

seluruh populasi masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan.

K

Lansia yang tidak lagi produktif dan bergantung pada orang lain seringkali

diabaikan dan diacuhkan oleh masyarakat, bahkan terkadang lansia dianggap sebagai “beban masyarakat”. Pandangan negatif ini akan memberikan konstribusi negatif bagi psikologis lansia. Selain pandangan yang negatif, fasilitas bagi lansia

juga masih sangat sedikit. Misalnya saja di kota Bandung, dengan jumlah lansia

yang mencapai 3,4 juta jiwa, fasilitas jompo seperti wisma wreda hanya berjumlah Bagan 1.1 – Rasio Ketergantungan Penduduk Tua menurut Tipe Daerah

(16)

Universitas Kristen Maranatha | 3 8 buah. Perbandingan ini sangatlah tidak seimbang, sehingga diperlukan

penambahan fasilitas bagi jompo. Oleh karena itu, perancangan kali ini ditujukan

kepada kaum lansia.

1.2 Ide/Gagasan Perancangan Wisma Wreda

Ide untuk merancang wisma wreda timbul karena minimnya wadah bagi para

lansia di Indonesia yang masih sedikit tidak seimbang dengan jumlah lansia yang

semakin meningkat setiap tahunnya. Wisma wreda diperuntukkan bagi para lansia

yang berumur 55 tahun ke atas yang masih memiliki keluarga dengan pilihan

perawatan daily care, weekly care, serta whole life care.Progam yang disediakan

untuk lansia yaitu olahraga di pagi hari, sesi berkumpul dan bertukar cerita,

belajar musik,memasak bersama, membuat kerajinan tangan, seperti merajut, dan

menyulam. Selain itu, disediakan pula fasilitas massage dan spa agar lansia

merasa rileks.

Dalam wisma disediakan tempat beristirahat ketika lelah, ataupun tempat

menginap. Fasilitas lain yang berfokus pada kesehatan yaitu adanya fisioterapi

yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dari setiap lansia, serta ruang

perawatan apabila lansia merasa tidak enak badan, serta pemeriksaan gratis dari

dokter yang bekerja sama dengan wisma.

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka didapatkan permasalahan yaitu bagaimana

merancang sebuah tempat yang dapat memenuhi kebutuhan lansia agar dapat

melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan memberikan konstribusi

positif sehingga lansia merasa dihargai.

1.4 Rumusan Masalah

Sesuai dengan pokok pembahasan makalah ini, yaitu mengenai perancangan

wisma wreda maka masalah yang dapat dirumuskan adalah :

1. Bagaimana merancang interior yang memberikan kontribusi positif bagi

(17)

Universitas Kristen Maranatha | 4 2. Bagaimana merancang ruang yang dapat meningkatkan rasa kekeluargaan

bagi lansia?

1.5 Tujuan Perancangan Wisma Wreda

Adapun tujuan perancangan wisma wreda yaitu:

1. Untuk menciptakan suasana hunian yang dapat memberikan konstribusi

positif bagi lansia sehingga dapat menikmati hidup.

2. Untuk menciptakan desain yang mampu menghargai keberadaan dan

kemandirian lansia.

1.6 Manfaat Perancangan Wisma Wreda

a. Mengajak masyarakat untuk lebih menghargai dan menghormati lansia.

b. Mengajak masyarakat untuk membuat sebuah tempat yang memfasilitasi

lansia secara fisik dan mental.

1.7 Ruang Lingkup Perancangan Wisma Wreda

Perancangan wisma wreda difokuskan kepada tata ruang, dan ergonomi yang

sesuai untuk lansia. Fasilitas yang disediakan antara lain ruang kumpul lansia,

ruang musik, ruang untuk belajar kerajinan tangan, ruang memasak, ruang

membacam ruang massage serta kamar tidur yang dibagi menjadi dua tipe, yaitu

kamar tidur standard dan VIP.

1.8 Sistematika Penulisan

Penyusunan laporan tugas akhir ini diuraikan menjadi beberapa bab, yaitu :

BAB I – PENDAHULUAN

Berisikan pembahasan mengenai latar belakang, ide/gagasan perancangan wisma

wreda, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan perancangan, manfaat

perancangan, batasan perancangan serta sistematika penulisan.

BAB II – LITERATUR PERANCANGAN WISMA WREDA

Merupakan kumpulan hasil studi literatur serta hasil survey yang digunakan

sebagai dasar perancangan wisma wreda.

(18)

Universitas Kristen Maranatha | 5 Pembahasan mengenai deskripsi proyek, deskripsi site, identifikasi user secara

lengkap, flow activity, user activity, zoning-blocking, implementasi konsep dan

tema pada perancangan.

BAB IV – PERANCANGAN WISMA WREDA

Pembahasan mengenai ide perancangan yang sudah dituangkan dalam bentuk

lembar kerja disertai pembahasan secara singkat.

BAB V – SIMPULAN DAN SARAN

Merupakan hasil simpulan dari peracangan yang sudah dilakukan serta saran,

(19)

Universitas Kristen Maranatha | 110

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam merancang wisma wreda.

Sisi fungsionalitas, ergonomi, pola aktivitas dan rutinitas lansia, kebutuhan lansia,

dan hal-hal kecil yang mungkin sangat besar dampaknya dalam membantu

kelangsungan aktivitas sehari-hari. Kebutuhan lansia yang berbeda dengan

manusia normal harus diperhatikan, sehingga fungsionalitas dan aspek keamanan

merupakan hal utama. Estetis merupakan nilai tambah yang dipikirkan setelah

(20)

Universitas Kristen Maranatha | 111 pun harus dipikirkan secara detail, karena pola yang terlalu rumit akan

menimbulkan rasa tidak nyaman ataupun pusing pada lansia.

Lansia memiliki fisik yang mudah lelah, sehingga diperlukan fasilitas

tambahan di koridor, seperti handrail ataupun fasilitas duduk.Selain fasilitas

tersebut, toilet pun harus ditempatkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh, karena

lansia biasanya memiliki kebiasaan buang air kecil cukup sering.Dengan

demikian, tata letak ruang serta kemudahan dalam mencapai tempat aktivitas

sangat penting untuk meningkatakan efektivitas lansia dalam beraktivitas.

Dalam perancangan wisma wreda dengan tema “Golden Age” dan konsep

“Life Satisfaction”, penerapan warna yang hangat diharapakan dapat menimbulkan efek psikologis nyaman dan merasa diterima pada lansia. Suasana

hangat pada ruangan dapat menciptakan kesan keberesamaan sehingga lansia

tidak merasa asing.Selain itu, bentuk-bentuk tanpa sudut yang diterapkan

merupakan salah satu upaya untuk menjaga keamanan bagi lansia. Konsep

penghawaan terbuka serta taman pada bagian dalam bangunan merupakan salah

satu hal penting dalam perancangan, karena kebanyakan lansia merasa

nyamanapabila terhubung kembali dengan alam. Hal lain yang perlu diperhatikan

yaitu tata letak ruang dan ergonomi yang sesuai dengan keadaan fisik lansia

sehingga dapat memudahkan lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

5.2 Saran

Kebutuhan fisik yang berbeda menuntut desainer memberikan inovasi

desain yang dapat membantu dan memermudah kegiatan aktivitas lansia.Hal-hal

kecil dan detail harus diperhatikan agar lansia lebih mudah dan aman dalam

menjalankan aktivitasnya.Perancangan wisma wreda ini diharapkan dapat menjadi

salah satu inspirasi bagi perancang lainnya untuk dapat menciptakan desain yang

bermanfaat bukan hanya untuk kalangan anak muda tetapi juga untuk lansia.

Mengingat betapa besar jasa-jasa orang yang sudah lanjut usia, tetapi justru

biasanya diabaikan dalam desain. Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki lansia

(21)

Univetrsitas Kristen Maranatha | 112

DAFTAR PUSTAKA

Hukum :

Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor : 4/PRS-3/KPTS/2007

tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dalam Panti dalam Departemen

Sosial R.I, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Direktorat

Pelayanan Sosial Lanjut Usia dalam Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia.

Buku :

Building and Counstruction Authority : Code on Accessibility in The Built

Environment 2007. Singapore : Building and Cnstruction Authority.

Chiara, Joseph De, Michael J. Crosbie. 1973. Time-Saver Standards for Building

Types, Fourth Edition. New York : Mc. Grow Hill Book Company.

Effendy, Ferry dan Makhfudii. 2009.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori

Praktik dan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Marucus, Clare Cooper dan Carolyn Francis. 1998. People Places (2nd Edition), Design Guidelines For Urban Open Space. Canada : John Wiley and Son,

Inc.

Maryam, R. Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Keperawatannya. Jakarta

: Salemba Medika.

Nugroho,Wahjudi. 2006. Komunikasi Dalam Perawatan Gerontik. Jakarta :

Penerbit Buku Kedoketeran EGC.

Parker, Rosetta E. 1984.Housing For The Elderly-The Handbook For Manager.

English : Institute of Real Estate Management.

Pastalan, A. Leon. 1990. Optimizing Housing For The Elderly Homes Not

Houses, Volume 7. USA : The Haworth Press, Inc.

Perkins, John. 2004. Confesions of an Economic Hit Man. USA : Berret-Kohler

(22)

Univetrsitas Kristen Maranatha | 113

Uliyah, Musrifatul dan A. Azia Alimul Hidayat. 2006. Keterampilan Dasar

Praktik Klinik Untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.

Website :

http://www.merdeka.com/ [Accessed : 18 Feb 2013]

http://news.malang-online.com/ [Accessed : 18 Feb 2013]

http://rehsos.depsos.go.id [Accessed : 18 Feb 2013]

http://health.kompas.com/ [Accessed : 18 Feb 2013]

http://kesehatan.kompasiana.com/ [Accessed : 25 Feb 2013]

http://sosbud.kompasiana.com/[Accessed : 25 Feb 2013]

http://www.ipotnews.com/ [Accessed : 25 Feb 2013]

http://www.carehome.co.uk/ [Accessed : 25 Feb 2013]

http://www.alphacarehomes.com/ [Accessed : 25 Feb 2013]

http://www.waspada.co.id/ [Accessed : 25 Feb 2013]

http://www.univmed.org/ [Accessed : 7 Mar 2013]

http://www.harianterbit.com/[Accessed : 7 Mar 2013]

http://www.voaindonesia.com/[Accessed : 7 Mar 2013]

http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/KEBUTUHAN%20NUTRISI%20DAN%

20CAIRAN%20%20PADA%20LANSIA.pdf[Accessed : 7 Mar 2013]

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26951/4/Chapter%20II.pdf

http://www.4fate.org/history.html[Accessed : 7 Mar 2013]

http://www.seniorhousingnet.com/care-types/nursing.aspx?source=web [Accessed

(23)

Univetrsitas Kristen Maranatha | 114

http://atjehpost.com/read/2012/11/02/26349/40/40/Mengenal-5-Tipe-Lansia[Accessed : 11 Mar 2013]

http://www.lkc.or.id/2012/05/22/olahraga-untuk-lansia/[Accessed : 11 Mar 2013]

http://www.balisruti.or.id/berolah-raga-untuk-kebugaran-bagi-lansia.html[Accessed : 11 Mar 2013]

http://nasional.kompas.com/read/2008/06/04/22234524/Olahraga.di.Usia.Lanjut.

Mana.yang.Sesuai.[Accessed : 19 Mar 2013]

http://www.terapimusik.com/alzheimer.htm[Accessed : 19 Mar 2013]

http://www.terapimusik.com/terapi_musik.htm[Accessed : 19 Maret 2013]

http://www.seniorclubindonesia.com[Accessed : 26 Maret 2013]

http://lovira.com/pemilihan-warna-yang-cocok-untuk-dinding-rumah-anda/[Accessed : 9 April 2013]

http://www.pantirapih.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=73

&Itemid=79[Accessed : 9 April 2013]

http://www.fisioterapimakassar.info/fisioterapi-pada-lansia.html[Accessed : 16

April 2013]

http://www.rssiagaraya.com/fisiotherapi.html[Accessed : 16 April 2013]

http://www.artikel.indonesianrehabequipment.com/2012/01/fisioterapi-pada-penyakit-jantung.html[Accessed : 16 April 2013]

http://id.prmob.net/terapi-fisik/kesehatan/geriatri-927339.html[Accessed : 16

April 2013]

http://www.ilmufisioterapi.info/afr-pada-penderita-osteoporosis.html[Accessed :

Referensi

Dokumen terkait

Peranan padang lamun secara fisik diperaiaran dangkal diantaranya membantu mengurangi tekanan gelombang dan arus yang menuju ke pantai, menyaring sedimen yang terlarut dalam

Gambaran suatu implementasi tindakan dan komunikasi dapat dilihat dari program kampanye keselamatan kerja, misalnya, implementasi humas bukan hanya merancang program komunikasi

Untuk mengevaluasi kerasionalan produk, informasi yang terdapat pada brosur atau kemasan produk dicocokkan dengan literatur untuk dapat melihat kriteria kerasionalan yang

Baik disengaja ataupun tidak disengaja semut hitam turut membantu dalam menyebarkan nimfa kutu putih serta melindunginya dari serangga lain karena adanya manfaat yang dirasakan

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sekarang adalah Return On Equity sebagai yang dipilih sebagai indikator kinerja keuangan serta Dewan Komisaris Independen

output : tersedianya alat kebersihan di lingkungan setda kota semarang, kantor pimpinan, rumdin,

Global Education: The Opportunities for Danyl Carter 0.5 hours Collaboration. Developing Schools Competitive Advantage Anthony van Ruiten

Dari hasil penelitian ini dapat di ketahui penerapan sistem pelaporan SPT manual dengan e-SPT yang dilakukan oleh KPP Pratama Watampone dengan mengkaji lebih dalam lalu