Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Terakreditasi A
SK BAN –PT NO: 3095/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019
Strategi Amerika Serikat dalam Mengeliminasi Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia (2008-2014)
Skripsi
Diajukan untuk Ujian Sidang Jenjang Sarjana Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Oleh
Rayvindira Athena 2016330175
Bandung
2019
Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
Terakreditasi A
SK BAN –PT NO: 3095/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019
Strategi Amerika Serikat dalam Mengeliminasi Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia (2008-2014)
Skripsi
Oleh
Rayvindira Athena 2016330175
Pembimbing
Sukawarsini Djelantik, Ph.D.
Bandung
2019
i
ABSTRAK
Nama : Rayvindira Athena NPM : 2016330175
Judul : Strategi Amerika Serikat dalam Mengeliminasi Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia (2008-2014)
Penelitian ini membahas mengenai strategi kontra terorisme AS dalam mengeliminasi kelompok teroris Al-Shabaab di Somalia. Jangka waktu pembatasan penelitian dimulai sejak tahun 2008 hingga 2014. Tahun 2008 merupakan tahun penetapan Al-Shabaab sebagai Foreign Terrorist Organization (FTO) oleh AS, sedangkan tahun 2014 merupakan tahun keberhasilan AS dalam menyelesaikan target operasi yang menewaskan pemimpin Al-Shabaab, Sheikh Ahmed Abdi Godane. Sebagai kesimpulan, penulis menemukan bahwa AS menggabungkan antara upaya militer dan kerjasama internasional dalam strategi kontra terorisme di Somalia, seperti implementasi strategi militer “jejak cahaya”, strategi dalam upaya memperkuat kemitraan dan aliansi, serta strategi dalam pembangunan Somalia. Konsep kontra terorisme berupa model perang, model intelijen, dan model pembangunan juga dilibatkan untuk memperdalam analisis strategi kontra terorisme AS tersebut.
Kata Kunci: Kontra terorisme, Amerika Serikat, Al-Shabaab, Somalia
iii
ABSTRACT
Nama : Rayvindira Athena NPM : 2016330175
Judul : The Strategy of The United States in Eliminating Al-Shabaab Terrorist Group in Somalia (2008-2014)
.
This research purposed to explain the strategy of the US in effort to eliminate Al-Shabaab in Somalia. Time frame limited only from 2008 to 2014.
2008 was the year where the US designated Al-Shabaab as a Foreign Terrorist Organization (FTO), while 2014 was the year where the US successed in completing the target of operation that killed Al-Shabaab leader, Sheik Ahmed Abdi Godane. As a result, the author find out that the US combined militarry efforts and international cooperation as the counterterrorism strategy in Somalia, such as the implementation of “light footprint” military strategy, strategies in efforts to strengthen partnerships and alliances, and strategies in Somalia’s development. The counterterrorism concept such as the war model, the intelligence model, and the development model will be concluded as the tool to deepen the analysis of the US counterterrorism strategy.
Key Words: Counterterrorism, United States, Al-Shabaab, Somalia
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas limpahan Rahmat dan Karunia Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan susunan skripsi dengan judul ‘Strategi Amerika Serikat dalam Mengeliminasi Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia’.
Pasca penyelarasan kepentingan jangka panjang dengan Al-Qaeda, kelompok Al- Shabaab ditetapkan sebagai Foreign Terrorist Organization (FTO) oleh AS.
Berbagai implementasi dari strategi kontra terorisme yang dilakukan oleh AS untuk mengeliminasi kelompok Al-Shabaab di Somalia.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para peneliti lain yang sedang melakukan penelitian dengan topik serupa. Namun, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih mengandung banyak kekurangan, Oleh karena itu, penulis terbuka terhadap segala masukan dan kritikan guna menyempurnakan skripsi ini.
Bandung, 6 Desember 2019
Rayvindira Athena
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih untuk keluarga, sahabat-sahabat, si Amin Paling Serius, bungkus putih merah yang sempurna, dan tempat-tempat yang sudah menjadi ‘teman hidup’ saya selama tiga setengah tahun di kampus 3,
terima kasih atas Buku, Pesta, dan Cinta–nya.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR AKRONIM ... x
BAB PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 3
1.2.1 Pembatasan Masalah ... 6
1.2.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.2 Kegunaan Penelitian ... 7
1.4 Kajian Literatur ... 7
1.5 Kerangka Pemikiran ... 11
1.6 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 15
1.6.1 Metode Penelitian ... 15
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data ... 16
1.7 Sistematika Pembahasan ... 16
BAB II KEBIJAKAN KONTRA TERORISME AMERIKA SERIKAT TERHADAP KELOMPOK TERORIS AL-SHABAAB DI SOMALIA ... 18
2.1 Tragedi 9/11 dan Kebijakan Kontra Terorisme Amerika Serikat ... 18
2.1.1 Kampanye Perang Global Melawan Terorisme atau Global War on Terror (GWOT) ... 20
vii
2.1.2 Dokumen Strategi Nasional dalam Memerangi Terorisme (NSCT) .... 22
2.2 Faktor Transformasi Kelompok Teroris Al-Shabaab ... 26
2.2.1 Dinamika Politik Lembaga Pemerintahan di Somalia ... 27
2.2.2 Intervensi Pihak Eksternal terhadap Konflik di Somalia (AS, Ethiopia, Uni Afrika) ... 31
2.3 Transformasi kelompok Al-Shabaab ... 36
2.3.1 Kelompok Al-Shabaab berafiliasi dengan Al-Qaeda ... 37
2.3.2 Aksi Teror Al-Shabaab sebagai Kelompok Teroris Internasional ... 41
2.3.3 Penetapan Al-Shabaab sebagai kelompok Teroris Internasional dan Target Operasi AS ... 45
2.4 Kontra Terorisme AS di Somalia ... 47
BAB III STRATEGI KONTRA TERORISME AS DALAM MENGELIMINASI KELOMPOK TERORIS AL-SHABAAB DI SOMALIA ... 50
3.1 Strategi Militer “Jejak Cahaya” (Light Footprint) ... 51
3.1.1 Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Drones) dan Peluru Kendali ... 52
3.1.2 Kerjasama antara Central Intelligence Agency (CIA) dengan Badan Intelijen Nasional Somalia (NISA) ... 58
3.2 Strategi dalam Memperkuat Mitra Kerjasama dan Aliansi AS ... 60
3.2.1 Pembentukan Komando Afrika (AFRICOM) ... 62
3.2.2 Pembentukan Mitra Kontra Terorisme di Regional Afrika Timur (PREACT) ... 66
3.2.3 Mendukung Misi Perdamaian Uni Afrika di Somalia (AMISOM) ... 70
3.3 Strategi dalam Bantuan Pembangunan Somalia ... 75
3.3.1 Bantuan Pelatihan Tentara Lembaga Pemerintah Transisi Somalia (TFG) ... 76
3.3.2 Menerapkan Nilai Demokrasi kepada Pemerintah Federal Somalia (FGS) ... 79
3.3.3 Memberi bantuan dana melalui Badan Pengembangan Internasional AS (USAID) ... 81
BAB IV KESIMPULAN ... 87 DAFTAR PUSTAKA ... 90
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Grafik Aktivitas Penggunaan Pesawat Tanpa ... 56 Awak AS terhadap Al-Shabaab
Gambar 3.2 Grafik Aktivitas Penyerangan oleh Al-Shabaab ... 58 di Somalia
Gambar 3.3 Grafik Alokasi Dana PREACT tahun 2009 hingga ... 69 2013
Gambar 3.4 Peta Somalia yang dikuasai oleh kelompok ... 73 Al-Shabaab tahun 2007 hingga 2008
Gambar 3.5 Peta Somalia yang dikuasai oleh kelompok ... 75 Al-Shabaab pada akhir tahun 2012
Gambar 3.6 Grafik Pendonor USAID pada tahun 2013 ... 86
DAFTAR AKRONIM
TOC Transnational Organized Crime
WOT War on Terror
WTC World Trade Center
GWOT Global War on Terror
FTO Foreign Terrorist Organization
MAK Maktab Al Khidamat
TFG Transitional Federal Government PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa AMISOM African Union Mission in Somalia
ICU Islamic Court Union
NSCT National Security for Combating Terrorism
IGAD Inter-Governmental Authority on Trade and Development AIAI Al Ittihad Al Islamiya
SDGT Special Designated Global Terrorist JSOC The Joint Special Operations Command CIA The Central Intelligence Agency
NISA National Intelligence and Security Agency AFRICOM United States Africa Command
CJTF-HOA Combined Joint Task Force – Horn of Africa OOV Operation Objective Voice
DoD Department of Defense
xi
USAID The United States Agency for International Development PREACT Partnership for Regional East Africa Counterterrorism ACOTA Africa’s Contingency Operations Training and Assistance USCIRF United States Commission on International Religious
Freedom
UPDF Uganda People’s Defence Forces FGS Federal Government of Somalia
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat tidak hanya mengedepankan kepentingan negara namun juga kondisi dunia. Pertimbangan tersebut dikarenakan AS menjadi satu-satunya negara hegemon di antara negara lain di dunia. Sistem hegemoni menjadikan AS memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan politik dan keamanan internasional. Salah satu kebijakan politik luar negeri AS adalah kebijakan kontra terorisme (counterterrorism) yang dikenal dengan War on Terror (WOT)
Kebijakan War on Terror ditetapkan oleh Presiden Bush pasca serangan teroris pada tanggal 11 September 2001. Kelompok teroris bernama Al-Qaeda dipimpin oleh Osama bin Laden menyerang gedung kembar di kota New York yakni World Trade Center (WTC) serta gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat, di Pentagon, Virginia.1 Presiden Bush memberikan pernyataan perang terhadap terorisme dan menghancurkan organisasi Al-Qaeda sebagai aktor dibalik penyerangan tersebut. AS juga meluaskan kebijakannya dalam skala internasional untuk mencegah adanya aksi-aksi teroris radikal di negara-negara lain dengan mengeluarkan kampanye militer yakni Global War on Terror (GWOT).
Kebijakan Global War on Terror (GWOT) merupakan kampanye militer yang dideklarasikan oleh Presiden George W. Bush dihadapan kongres AS pada
1 Thomas R. Eldridge, Susan Ginsburg, Walter T. Hempel II, Janice L. Kephart, Kelly Moore, Joanne M. Accolla, The 9/11 Commission Report: Complete Edition (Musaicum Books, 2004)
2
tanggal 20 September 2001 yang berbunyi “Either you with us or you are with the terrorist. If you are not with us, you are againts us”. Pernyataan ini disampaikan dalam upaya AS untuk mengajak dunia internasional untuk bekerjasama melawan aksi terorisme. AS menganggap bahwa kelompok terorisme harus diperangi karena menganggu kestabilan keamanan dunia.
Somalia sebagai salah satu negara di wilayah Afrika Timur mengalami transisi ideologi dan pemerintahan menyebabkan adanya ketidakstabilan politk, sosial, dan keamanan. Ketidakstabilan tersebut mengakibatkan perbedaan kepentingan diantara masyarakat Somalia yang kemudian menjadi faktor pendorong munculnya kelompok-kelompok berbasis militer yang menjadi pihak oposisi pemerintah. Kelompok-kelompok militan tersebut berusaha untuk menjatuhkan Presiden Siad Barre, Presiden Somalia, yang dinilai sangat otoriter.2 Salah satu kelompok militan tersebut adalah kelompok Al-Shabaab.
Al-Shabaab dikenal sebagai sebuah kelompok militan yang bertujuan untuk menggulingkan rezim pemerintahan Somalia yang dianggap otoriter. Namun, ideologi kelompok tersebut bergeser hingga berupaya untuk memisahkan diri dari Somalia dan membangun negara baru yang menerapkan syariat Islam. Kelompok Al-Shabaab mulai melakukan aksi-aksi teror yang merugikan dan memakan banyak korban. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Al-Shabaab adalah untuk menentang Pemerintah Federal Transisi Somalia atau Transitional Federal Government (TFG). TFG merupakan pemerintahan resmi Somalia yang di akui
2 “Al-Shaabab in Somalia”, Council on Foreign Relations, https://www.cfr.org/backgrounder/al-shabab, (di akses pada 29 Januari 2019)
oleh Uni Afrika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2007.3 Alasan kelompok Al-Shabaab menentang TFG adalah karena TFG dianggap telah terpengaruh oleh negara-negara barat khususnya AS.
Pada tahun 2012, Al-Shabaab yang dipimpin oleh Mukhtar Abu Zubair tersebut mendeklarasikan keberpihakannya terhadap kelompok Al-Qaeda.4 Deklarasi adanya hubungan dengan Al-Qaeda menjadi titik pergerakan AS melakukan aksi militer dengan menyebarkan pasukan militernya untuk membantu Somalia menyelesaikan konflik internal dengan pemberontak Al-Shabaab tersebut. Tindakan ini menjadi bukti komitmen AS dalam memberantas aksi terorisme di dunia. Selain itu, sejak dari tahun 2008 AS melakukan beberapa upaya dalam memberantas kelompok Al-Shabaab.
1.2 Identifikasi Masalah
Konflik antar etnis, agama, dan ideologi politik di Somalia tersebut menyebabkan munculnya kelompok-kelompok radikal sebagai akar dari jaringan terorisme. Ketidakstabilan pada sektor keamanan dan lembaga pemerintahan di Somalia menyebabkan adanya potensi perkembangan kelompok teroris Al- Shabaab. Oleh karena adanya ketidakstabilan, beberapa pihak asing melakukan intervensi dan berusaha untuk membantu menstabilkan kondisi internal Somalia.
Namun, tindakan intervensi tersebut justru menyebabkan konflik internal Somalia semakin berkepanjangan.
3 “Somalia Country Report”, BTI 2014, https://www.bti-
project.org/fileadmin/files/BTI/Downloads/Reports/2014/pdf/BTI_2014_Somalia.pdf, (di akses pada 29 Januari 2019)
4 Adlini Ilma Ghaisany Sjah, “Tracing Al-Shaabab’s Decission to Cooperate with Al-Qaeda in Somalia (2008)”, Journal of Terrorism Reseacrh, Vol. 5 Issue 1 (2014).
4
Salah satu intervensi dari pihak asing yang menjadi pemicu berkembangnya kelompok Al-Shabaab adalah ketika Ethiopia melakukan invasi ke wilayah kekuasaan Al-Shabaab di Mogadishu pada tahun 2006.5 Selain itu, adanya pembentukan African Union Mission in Somalia (AMISOM) oleh Uni Afrika dan TFG yang menjadi salah satu gerakan yang dibentuk untuk melawan kelompok Al-Shabaab.6 Dengan adanya intervensi pihak asing, kelompok Al-Shabaab semakin kehilangan kekuasaan. Al-Shabaab pada saat itu memihak dan mendukung kubu penentang TFG yakni Islamic Courts Union (ICU) yang dipimpin oleh Sheikh Sharid Ahmed karena memiliki kesamaan ideologi yakni menjadikan Somalia sebagai negara bersyariat Islam.
Kelahiran ICU sebagai lembaga pengganti pemerintahan di Somalia pasca turunnya Presiden Barre didasari oleh kepercayaan masyarakat Somalia terhadap sekelompok ulama yang sering membantu menyelesaikan permasalahan dalam negeri sesuai dengan syariat Islam.7 Kondisi politik dan militer negara Somalia yang lemah karena tidak adanya sentralisasi kekuatan pemerintahan Somalia juga menjadi faktor adanya persaingan antara ICU dan TFG. ICU menginginkan sistem pemerintahan Somalia berlandaskan syariat Islam sedangkan TFG telah diputuskan oleh PBB dan Uni Afrika sebagai pemerintahan yang sah di Somalia pada saat itu. Pandangan Al-Shabaab terhadap keberpihakan Uni Afrika dan TFG terhadap pihak Barat semakin kuat sehingga mendorong kelompok tersebut
5 John Rollins, “Al Qaeda and Affiliates: Historical Perspective, Global Presence, and Implications for U.S. Policy”, Congressional Research Service, https://fas.org/sgp/crs/terror/R41070.pdf, (diakses pada 29 Januari 2019)
6 Ibid.
7 Rob Wise, “Al Shaabab”, Centre for Strategic & International Studies, http://www.operationspaix.net/DATA/DOCUMENT/4039~v~Al_Shabaab.pdf, (di akses pada 29 Januari 2019)
berafiliasi dengan kelompok terorisme internasional yakni Al-Qaeda pada tahun 2012.
Setelah berafiliasi dengan kelompok Al-Qaeda, kelompok Al-Shabaab memperluas target aksi terornya hingga lintas batas negara. Salah satunya adalah aksi teror kelompok Al-Shabaab yang dilakukan di salah satu pusat perbelanjaan di Nairobi, Kenya yakni Westgate Mall. Kelompok Al-Shabaab memasuki pusat perbelanjaan tersebut pada 21 September 2013 dan menggunakan senjata otomatis sekaligus granat dan menargetkan semua pengunjung di Westgate Mall tersebut.8 Aksi pengepungan tersebut berlangsung selama empat hari dan Al-Shabaab telah menyandera dan membunuh setidaknya 67 orang dan 200 orang lainnya terluka termasuk lima orang warga negara Amerika Serikat.9
Perkembangan aksi teror hingga melintasi batas negara yang dilakukan oleh Al-Shabaab menjadikannya dianggap sebagai kelompok terorisme internasional yang masuk dalam kategori transnational organized crime (TOC). Selain itu, munculnya fakta adanya hubungan antara Al-Shabaab dan Al-Qaeda menyebabkan AS semakin fokus menerapkan kebijakan luar negeri kontra terorisme di Somalia sebagai upaya untuk mengeliminasi kelompok tersebut dan mencegah adanya perkembangan kelompok-kelompok terorisme lain di wilayah Afrika Timur.
8 Lauren Ploch Blanchard, “The September 2013 Terrorist Attack in Kenya: In Brief”, Congressional Research Service, https://fas.org/sgp/crs/row/R43245.pdf, (di akses pada 29 Januari 2019)
9 Op.cit. Lauren Ploch
6
1.2.1 Pembatasan Masalah
Amerika Serikat sebagai negara hegemon bertanggung jawab untuk menjaga kestabilan keamanan internasional terutama dari ancaman terorisme. AS telah menetapkan kelompok teroris Al-Qaeda sebagai musuh internasional yang perlu dimusnahkan pasca tragedi 9/11. Al-Shabaab menjadi target operasi AS karena telah berafiliasi dengan kelompok teroris internasional Al-Qaeda.
Pembatasan penelitian dimulai dari tahun 2008 hingga tahun 2014. Tahun 2008 menjadi titik awal pemerintah AS menetapkan kelompok teroris Al-Shaabab sebagai organisasi teroris seperti yang tercantum dalam The Immigration and Nationality Act bagian 219 dan sebagai entitas teroris global sesuai laporan Executive Order 13224 bagian 1(b).10 Tahun akhir penelitian ini adalah 2014 karena ditandai dengan keberhasilan AS dalam menyelesaikan target operasi yang menewaskan pemimpin Al-Shabaab, Sheikh Ahmed Abdi Godane. Keberhasilan operasi tersebut menyebabkan kelompok Al-Shabaab tereliminasi dari segi kekuatan dan wilayah kekuasaannya di Somalia.
1.2.2 Perumusan Masalah
Dari penjelasan mengenai permasalahan di atas, maka masalah dirumuskan dalam pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimana strategi Amerika Serikat untuk mengeliminasi kelompok teroris Al-Shabaab pada tahun 2008 hingga 2014 melalui kebijakan kontra terorisme?”
10 “Al Shabaab,” National Counterterrorism Center,
https://www.dni.gov/nctc/groups/al_shabaab.html, (diakses pada 29 Januari 2019)
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi AS dalam mengeliminasi kelompok teroris Al-Shabaab di Somalia pada tahun 2008 hingga 2014. Pembahasan ini diteliti dengan cara memaparkan terlebih dahulu mengenai dinamika politik Somalia yang menjadi faktor pendorong berkembangnya kelompok Al-Shabaab hingga menjadi target operasi kontra terorisme AS.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna sebagai referensi bagi para peneliti yang melakukan penelitian serupa mengenai kebijakan kontra terorisme dan juga kelompok teroris Al Shabaab. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi pelengkap dari referensi pelentian lain yang memiliki keterkaitan dengan kebijakan kontra terorisme AS terhadap Al-Shabaab.
1.4 Kajian Literatur
Artikel pertama yang dikaji oleh penulis adalah thesis berjudul “The Impact of Foreign Elements Over Somalia’s Al-Shaabab”. Thesis ini ditulis oleh Stephen Westcott pada tahun 2011 yang berasal dari Murdoch University. Thesis ini menjelaskan mengenai perkembangan kelompok terorisme Al-Shabaab serta dampak dari kelompok tersebut terhadap hubungan Somalia dengan negara lain.11 Thesis ini juga menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan
11 Stephen Westcott, “The Impact of Foreign Elements Over Somalia’s Al Shabaab”, Murdoch University (2011).
8
perkembangan Al-Shabaab antara lain jaringan Al-Qaeda, aliran Islam radikal, kelompok ekstrimis, dan lain-lain.
Stephen Westcott menjelaskan beberapa hal mengenai tujuan dari terbentuknya kelompok teroris Al-Shabaab. Al-Shabaab sebagai sebuah gerakan Islam bersenjata terbentuk atas dasar keinginan untuk mengayomi dunia Muslim.
Tujuan utama kelompok terorisme Al-Shabaab ini adalah untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam di Somalia dan bertekad untuk tetap berkontribusi dengan gerakan Islam lainnya di dunia internasional.12 Aksi Al-Shabaab dalam melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah Federal Somalia (TFG) sebagian besar dilakukan di Somalia bagian Selatan dan Tengah. Tesis ini juga menjelaskan dampak negatif dari adanya Al-Shabaab di Somalia tersebut mempengaruhi keadaan sosial di Somalia dan juga semakin memperumit hubungan Somalia dengan negara-negara Barat.
Artikel kedua adalah thesis milik Toivo Pollock yang diterbitkan pada Maret 2008 berjudul “The Global War on Terrorism in the Horn of Africa”.13 Secara garis besar, thesis ini menjelaskan mengenai kondisi internal Somalia yang dihubungkan dengan sejarah Somalia yang dapat berdampak pada kemunculan kelompok terorisme. Kemunculan dari kelompok-kelompok bibit terorisme tersebut menjadi titik awal AS mulai melirik Afrika khususnya Somalia dalam menanggapi ancaman tersebut demi menegakkan komitmen memerangi
12 Ibid.
13 Toivo Pollock, “The Global War on Terrorism in the Horn of Africa”, National Defence University (2008)
terorisme.14 Sejak digulingkannya Presiden Siad Barre pada tahun 1990, kondisi pemerintahan Somalia tergolong tidak efektif dan menyebabkan kondisi negara tersebut menjadi anarki. Kondisi anarki ini yang menjadi penyebab munculnya potensi sebagai tempat munculnya dan berkembangnya aktivitas kelompok- kelompok teroris.
Di dalam thesis ini menjelaskan adanya strategi-strategi AS dalam merespon dugaannya mengenai adanya potensi Somalia sebagai tempat perkembangan bibit-bibit kelompok teroris. Namun, tesis ini juga menekankan bahwa kondisi negara Somalia sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk perkembangan jaringan terorisme. Hal ini dikarenakan kondisi internal Somalia yang sedang berkonflik dan sistem sosial yang berlaku di Somalia adalah sistem klan sehingga muncul pandangan bahwa Somalia tidak cocok sebagai tempat perkembangan teroris. Kondisi tidak stabilnya hubungan Somalia dengan negara- negara lain juga akan menyulitkan sebuah kelompok teroris untuk mengembangkan jaringannya. Tindakan ikut campur AS dalam melawan terorisme di Somalia dianggap tidak perlu karena dasar dalam melakukan intervensi tersebut tidak kuat.
Artikel berikutnya adalah “Al Shabaab’s Somalia Safe Heavens: A Springboard for Terror” yang ditulis oleh Josh Meservey pada tahun 2013. Di dalam jurnal ini dijelaskan mengenai serangan Al-Shabaab di Westgate Mall di Nairobi yang telah mengorbankan banyak masyarakat sipil. Dalam penyerangannya, kelompok teroris Al-Shabaab menargetkan masyarakat sipil
14 Ibid.
10
yang sedang berada di tempat perbelanjaan tersebut secara brutal tanpa melihat umur dan golongan. Artikel ini menjelaskan bahwa penyerangan tersebut bertujuan untuk menunjukan kekuatan dari kelompok Al-Shabaab karena telah beroperasi lintas batas negara yakni di Kenya.15
Penyerangan Al-Shabaab dilakukan sebagai petunjuk bahwa mereka tidak terima adanya intervensi militer yang dilakukan oleh AMISOM dan merugikan Al-Shabaab dalam segi materi maupun personil militernya. Oleh karena itu, Al-Shabaab menargetkan tempat perbelanjaan sehingga pembalasan dendam ditargetkan kepada masyarakat sipil. Al-Shabaab juga percaya bahwa tindakan intervensi AMISOM di dukung oleh negara-negara Barat khususnya AS.
Artikel ini juga menjelaskan bahwa pemimpin Al-Shabaab yakni Ahmed Abdi Godane merupakan seorang pemimpin dengan paham radikal dan juga menerapkan pemahaman jihad yang salah kepada para anggotanya.16 Selain itu, di dalam jurnal ini menekankan bahwa pentingnya pemerintahan yang stabil akan meminimalisir pontensi munculnya pemberontak-pemberontak yang menjadi bibit kelompok terorisme di sebuah negara.
Dari ketiga artikel tersebut, penulis melihat adanya persamaan terkait dinamika politik antara lembaga pemerintahan Somalia yang menjadi salah satu faktor munculnya kelompok radikal Al-Shabaab. Adanya intervensi dari pihak asing juga menyebabkan kelompok Al-Shabaab berkembang menjadi kelompok teroris. Ketiga artikel juga membahas mengenai keterlibatan AS dalam
15 Josh Meservey, “Al Shabaab’s Somalia Safe Havens: A Springboard for Terror”, Perspective on Terrorism Vol 7 Issue 6 (2013)
16 Ibid.
mendukung aksi intervensi pihak asing menjadi salah satu faktor kelompok Al- Shabaab berafiliasi dengan kelompok teroris internasional Al-Qaeda.
Namun, ketiga artikel tersebut belum menjelaskan mengenai strategi AS dalam menghadapi kelompok Al-Shabaab. Ketiga artikel tersebut hanya menjelaskan mengenai upaya AS dalam mengeliminasi kelompok Al-Shabaab tetapi tidak berkaitan dengan kebijakan kontra terorisme. Oleh karena itu, penelitian ini membahas mengenai strategi AS dalam mengeliminasi kelompok teroris Al-Shabaab melalui kebijakan kontra terorisme.
1.5 Kerangka Pemikiran
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendefinisikan terorisme sebagai suatu bentuk kekerasan yang sebelumnya telah di rencanakan.17 Kelompok terorisme tersebut melakukan operasinya secara rahasia dan cenderung menggunakan kekerasan kepada kelompok lain yang dianggap sebagai musuh karena menentang pandangan dan kepentingan kelompoknya. Isu terorisme mulai menjadi salah satu tantangan yang menjadi perhatian berbagai negara dalam menjaga keamanan nasional maupun internasional. Aksi terorisme dianggap sebagai ancaman bagi negara karena berdampak negatif terhadap keadaan internal sebuah negara seperti menganggu dan merugikan warga sipil. Namun, terorisme merupakan suatu hal yang sulit didefinisikan karena dapat menghasilkan berbagai definisi dan pandangan tergantung dari sudut pandang yang digunakan.
17 Jack N Kondrasuk, “Disaster Prevention and Management”, Bradford Vol. 14, Iss 5, (2005):
644-656.
12
Peneliti menggunakan menggunakan konsep model perang atau the War Model dari pendekatan coercive counterterrorism. Di dalam artikel yang ditulis oleh Ronald Crelinsten menjelaskan bahwa pendekatan The War Model menjelaskan tidak hanya melihat lokasi terjadinya aksi-aksi teror, tindakan untuk menghentikan aksi terorisme juga berkaitan dengan lokasi terbentuknya kelompok teroris sekaligus jaringannya tersebut.18 Jika pada umumnya konsep perang terjadi antara aktor negara saja, maka dengan pendekatan the War Model secara tidak langsung akan menimbulkan anggapan tentang kesetaraan posisi kelompok teroris dengan aktor negara. Oleh karena adanya kesetaraan tersebut, bentuk perang terhadap kelompok teroris disebut sebagai zero-sum conflict.
Artikel ini juga menjelaskan bahwa parameter keberhasilan melawan terorisme ini hanya dapat dinilai dengan kemenangan atau kekalahan. Konsep the War Model menekankan pendekatan hard power dalam upaya kontra-terorisme.
Tindakan sebuah negara akan mengeluarkan kekuatan militernya secara maksimum dalam menghadapi kelompok teroris. Dari segi teknis, penggunaan kekuatan militer dalam implementasi upaya kontra-terorisme dapat berupa spy drones, teknologi peluru kendali, dan penggunaan berbagai persenjataan canggih lainnya.
Penulis juga menggunakan konsep model intelijen atau the intelligence model dari pendekatan proactive counterterrorism.19 Konsep the intelligence model menjelaskan tindakan dalam melawan aksi terorisme dengan cara
18 Ronald Crelinsten, “Perspective on Counterterrorism: From Stovepipes to a Comprehensive Approach”, http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/321/645, (di akses pada 13 Februari 2019)
19 Op.cit. Perspective on Counterterrorism: From Stovepipes to a Comprehensive Approach. hal 4.
mencegah dan menghentikan kemungkinan skenario aksi terorisme yang dirancang oleh para kelompok teroris sebelum terjadi.20 Tindakan pencegahan melalui bidang intelijen akan memperluas tingkat pengawasan pada target operasi.
Di bidang militer, tindakan pengawasan dapat menggunakan pesawat tanpa awak (drone) yang berfungsi sebagai alat pengawasan target operasi sekaligus sebagai alat eksekusi target. Tindakan pengawasan sering kali digunakan di negara-negara untuk tujuan pengintaian dan penyerangan terhadap tempat pelatihan teroris dan kelompok militan saparatis.
Dalam pendeketan ini, operasi intelijen tidak digunakan untuk mencari bukti terhadap kelompok teroris melainkan untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan dan rencana para target operasi. Informasi tersebut akan di proses sehingga menghasilkan strategi pencegahan terhadap kelompok teroris.
Informasi juga mencakup pengawasan terhadap aktivitas anggota-anggota teroris selaku target operasi, tempat perlindungan dan jaringan kelompok teroris. Upaya kontra terorisme dalam bidang intelijen dan pengawasan difokuskan terhadap pergerakan dan perkembangan kelompok teroris agar dapat dicegah sebelum melakukan operasi.
Konsep terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembangunan atau the development model dari pendekatan long-term counterterrorism. Kontraterorisme jangka panjang merupakan pendeketan yang tidak memberikan dampak secara cepat namun lebih mengarah kepada perbaikan dalam jangka panjang. Perbaikan dalam jangka panjang mencakup perbaikan dari
20 Ibid.
14
faktor-faktor dasar permasalahan sebuah negara yang dianggap berpotensi menjadi tempat munculnya kelompok terorisme. Faktor-faktor dasar tersebut antara lain kemiskinan, ideologi, dan kesenjangan sosial di masyarakat yang mengakibatkan adanya diskriminasi golongan minoritas.21 Faktor-faktor tersebut merupakan faktor pendorong adanya ketidakstabilan yang berujung munculnya konflik internal di sebuah negara. Ketidakstabilan tersebut dimanfaatkan oleh para kelompok teroris untuk melakukan radikalisasi, mobilisasi sekaligus proses rekrutmen anggota di negara tersebut.22 Oleh karena itu, upaya kontra terorisme dalam jangka panjang lebih fokus kepada akar penyebab dari sebuah negara yang berpotensi menjadi tempat muncul dan berkembangnya kelompok teroris.
Bantuan asing dan proyek pembangunan dapat menjadi bantuan bagi sebuah negara untuk mengeliminasi pergerakan kelompok teroris untuk berkembang. Negara yang berpotensi menjadi tempat aman bagi para teroris perlu diperkuat dari segi sistem dan struktur pemerintahannya. Selain itu, bantuan seperti pelatihan militer, reformasi peradilan dan penguatan pemerintahan yang demokratis dapat membantu pembangunan di “negara gagal”.23 Oleh karena itu, bantuan asing dan pembangunan menjadi contoh upaya kontraterorisme jangka panjang dalam model pembangunan ini.
21 Op.cit. hal 9
22 James J.F. Forest (Ed.) (2006), The Making of a Terrorist: Recruitment, Training and Root Causes. Volume III: Root Causes (Westport, Conn: Praeger Security International): Ronald Crelinsten, “Perspective on Counterterrorism: From Stovepipes to a Comprehensive Approach”, http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/321/645, (di akses pada 13 Februari 2019)
23 Joanne Wright (2006), ‘The Importance of Europe in the Global Campaign Againts Terrorism’, Terrorism and Political Violance, 18(2): Ronald Crelinsten, “Perspective on Counterterrorism:
From Stovepipes to a Comprehensive Approach”,
http://www.terrorismanalysts.com/pt/index.php/pot/article/view/321/645, (di akses pada 13 Februari 2019)
1.6 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.6.1 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif menurut John Crewell adalah langkah-langkah yang digunakan dalam mengumpulkan informasi untuk meningkat pengetahuan dalam menganalisis suatu masalah.24 Langkah-langkah tersebut antara lain pengumpulan data, analisis data, dan pemaknaan atau interpretasi data. Penulis akan mengikuti langkah-langkah tersebut sebagai dasar metode penelitian agar bersifat sistematis.
Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi kasus. Menurut John Creswell, teknik studi kasus adalah dimana peneliti meneliti sebuah peristiwa, entitasi/sekelompok individu, serta aktivitasnya.25 Peneliti dibatasi oleh waktu dan aktivitas dalam mengumpulkan informasi yang terkait dengan topik penelitian. Penulis juga mengandalkan data-data sekunder sebagai sumber yakni dari buku, jurnal, laporan, artikel-artikel yang terkait dengan topik penulisan ini. Data yang diperoleh dari sumber-sumber tersebut selanjutnya akan dianalisis dan diinterpretasikan sesuai dengan kerangka pemikiran yang sudah ditetapkan oleh penulis agar metode penelitian kualitatif ini dapat menghasilkan suatu data baru yang dapat menjawab pertanyaan penelitian ini.
24 John W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches 4th Ed, (California: Sage Publication, 2014), 236.
25 Ibid.
16
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengumpulan data melalui studi pustaka. Sumber-sumber data yang akan digunakan oleh penulis untuk dianalisis sekaligus di interpretasikan dalam penulisan ini berasal dari sumber sekunder seperti buku, dokumen resmi, jurnal, serta website dari internet. Penulis akan menyesuaikan data-data sekunder tersebut dengan topik penelitian sehingga dapat membantu untuk menjawab pertanyaan penelitian di penulisan ini.
1.7 Sistematika Pembahasan BAB 1: Pendahuluan
Bab I membahas tentang latar belakang penelitian yang dibatasi pada periode waktu dan dirumuskan menjadi suatu pertanyaan penelitian. Pada bab ini juga membahas kajian literatur dan menjelaskan kerangka pemikiran sebagai dasar untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini.
BAB II: Kebijakan Kontra Terorisme Amerika Serikat terhadap Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia
Bab II menggambarkan upaya-upaya AS dalam merespon tragedi 9/11 serta kebijakan kontra terorisme di Somalia. Bab ini juga menjelaskan dinamika politik Somalia dan transformasi kelompok Al-Shabaab menjadi kelompok teroris internasional.
BAB III: Strategi Kontra Terorisme Amerika Serikat dalam Mengeliminasi Kelompok Teroris Al-Shabaab di Somalia
Pembahasan dalam bab III adalah menganalisis implementasi kebijakan counterterrorism AS sebagai strategi dalam mengeliminasi kelompok teroris Al- Shabaab di Somalia.
BAB IV: Kesimpulan
Bab IV memaparkan kesimpulan penulis dari analisis strategi AS dalam mengeliminasi kelompok teroris Al-Shabaab. Bab ini juga menjelaskan mengenai jawaban dari pertanyaan penelitian berdasarkan pembatasan masalah penelitian ini.