• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MEDIA KARTU TANDA BACA DUA DIMENSI BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK CALON MAHASISWA ASAL MAPPI PAPUA ANGKATAN 2018 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN MEDIA KARTU TANDA BACA DUA DIMENSI BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK CALON MAHASISWA ASAL MAPPI PAPUA ANGKATAN 2018 SKRIPSI"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MEDIA KARTU TANDA BACA DUA DIMENSI BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK CALON MAHASISWA

ASAL MAPPI PAPUA ANGKATAN 2018

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia

Disusun Oleh:

Elisabeth Inosensia Marlin NIM: 141224007

Disusun oleh:

Elisabeth Inosensia Marlin NIM: 141224007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2019

(2)

i

PENGEMBANGAN MEDIA KARTU TANDA BACA DUA DIMENSI BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK CALON MAHASISWA

ASAL MAPPI PAPUA ANGKATAN 2018

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia

Disusun Oleh:

Elisabeth Inosensia Marlin NIM: 141224007

Disusun oleh:

Elisabeth Inosensia Marlin NIM: 141224007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2019

(3)
(4)

iv

Halaman Persembahan

Karya ini saya persembahkan kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang selalu menyertai setiap langkah saya

Kedua orang tua saya, Basilius Blasius Gili dan Asteria Wasiyah. Adik-adik saya tercinta serta keluarga saya yang selalu mendukung saya dan memberikan semangat, sehingga saya selalu yakin untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Sahabat tercinta, Merici Dicta, Maria Rosari, Maria Benita, dan Sr. Ika yang selalu berusaha memahami saya, membantu, serta mendukung saya dalam

meyelesaikan karya ini.

.Teman-teman di kelas A PBSI 2014 dan Keluarga Besar PBSI.

(5)

v MOTTO

Guru adalah murid, murid adalah guru.

(Rm. Y.B. Mangunwijaya)

Dimana hati diletakan disitu proses dimulai.

(Elisabeth Inosensia Marlin)

Kita tidak perlu televisi karna kita punya imajinasi.

(Spongebob Squerpants)

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan atau daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 12 Desember 2019 Peneliti

Elisabeth Inosensia Marlin NIM: 141224007

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:

Nama : Elisabeth Inosensia Marlin Nomor Mahasiswa : 141224007

Demi pengembangan ilmu pengetahuan saya, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul:

Pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi berbasis metode Montessori untuk calon mahasiswa asal Mappi Papua angkatan 2018

Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, dan mendistribusikan secara teratas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Dibuat di Yogyakarta,

Pada tanggal, 12 Desember 2019 Yang menyatakan,

Elisabeth Inosensia Marlin

(8)

viii ABSTRAK

Marlin, Elisabeth Inosensia. 2019. Pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi berbasis metode montessori untuk calon mahasiswa asal mappi papua angkatan 2018. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media yang dapat membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua memahami penggunaan tanda baca sesuai kaidah yang ada. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu, (1) Bagaimana proses pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) berbasis metode Montessori untuk membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua dalam menggunakan tanda baca? (2) Bagaimana kualitas media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) yang layak dikembangkan untuk membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua dalam menggunakan tanda baca?

Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research &

Development). Proses pengembangan media pembelajaran berbasis Montessori tersebut menggunakan enam langkah pengembangan yaitu meliputi (1) potensi dan masalah, (2) pengumpula data, (3) desain produk, (4) validasi produk, (5) revisi desain, (6) uji coba terbatas. Media pembelajaran divalidasi oleh tiga validator. Skor rata-rata yang diperoleh dari hasil validasi adalah sebesar 3,5 dengan kategori sangat baik jika dilihat dari aspek menarik, bergradasi, auto- educaion, auto-correction, dan kontekstual.

Uji coba dilakukan kepada 26 calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua. Hasil uji coba tersebut menunjukan bahwa calon mahasiswa lebih tertarik belajar menggunakan media dan lebih mampu memahami pengunaan tanda baca pada keterampilan menulis menggunakan media. Hal ini dibuktikan dari hasil kerja posttest yang mengalami peningkatan sebesar 81% dari hasil pretest.

Kata kunci: Penelitian pengembangan, media pembelajaran, metode Montessori, dan tanda baca.

(9)

ix ABSTRACT

Marlin, Elisabeth Inosensia. 2019. The Development of Punctuation Marks with Two Dimensions’ Card Media based on Montessori Method for college students’ candidates from Mappi Papua batch 2018. Thesis. Yogyakarta:

Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Teaching and Education, Sanata Dharma University.

This research aims to yield the media which is able to assist the college students’ candidates from Mappi Papua, particularly in apprehending the use of punctuation marks properly and rule-based grammar. The problems which become the background of this research are, (1) How is the development’s process of punctuation marks with two dimensions (TABA 2D) based on Montessori Method to assist the college students’ candidates from Mippi Papua in using the punctuation marks? (2) How is the quality of punctuation marks with two dimensions’ card media which viable to be developed especially to assist the college students’ candidates from Mippi Papua in using the punctuation marks?

This research used research and development method. As a result, the development’s process of learning media based on Montessori Method used six development processes which included; (1) potential and problems, (2) data collection, (3) product design, (4) product validation, (5) design revision, (6) limited trial. The learning media in this research is validated by three validators.

The average scores which are collected through the results of validation is 3.5 with very good categorization, particularly when it seen through the enticing aspect, shades, auto-education, auto-correction, and contextual.

The trial is done to the twenty six college students’ candidates from Mappi Papua. The result shows that the college students are more interested and more understand to learn the punctuation marks in writing competency by using the media. This result is proved through the posttest which improved into eighty one percent from the pretest.

Keywords: development research, learning media, Montessori Method, punctuation marks.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi berbasis metode montessori untuk calon mahasiswa asal mappi papua”.

Skripsi ini disusun oleh penulis sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini berhasil diselesaikan karena bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih-Nya kepada saya.

2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si,. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Kaprodi dan dosen pembimbing yang telah dengan sabar membimbing, mengarahkan dan memotovasi saya dalam menyelasikan skripsi ini.

4. Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., Danang Satria Nugraha S.S., M.A. dan Irine Kurniastuti, M.Psi yang telah berkenan membantu memvalidasi instrumen dan produk, sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar.

5. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang telah mendidik, membimbing, dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi

(11)

xi

6. Tanjung Pripambudi dan Rosensi Galih Susandi yang telah meluangkan waktu untuk membantu penelitian beserta seluruh calon mahasiswa asal kabupaten Mappi Papua yang juga telah mendukung kelancaran proses penelitian.

7. Keluarga penulis tercinta, Bapak Basilius Blasius Gili, Ibu Asteria Wasiyah, Gregorius Refirsto Yanus Desira, serta Benedita Anastasya Carolina, yang selalu memberikan semangat dan dukungannya setiap hari untuk penulis.

8. Teman-teman dan sahabat seperjuangan yang selalu memberikan semangat dan dukungannya bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi.

9. Teman-teman PBSI kelas A angkatan 2014 atas semangat dan dukungannya.

Yogyakarta, 12 Desember 2019

Elisabeth Inosensia Marlin

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

MOTTO ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

HALAMAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Batasan Istilah ... 8

F. Spesifikasi Produk ... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Penelitian Terdahulu Yang Relevan... 14

1. Penelitian Tentang Pengembangan Media Berbasis Metode Montessori 2. Penelitian Tentang Kemampuan Penggunaan Tanda Baca ... 15

B. Kajian Teori ... 19

1. Teori Perkembangan Kognitif ... 19

2. Media Pembelajaran ... 21

3. Montessori ... 25

4. Tanda Baca ... 26

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

A. Jenis Penelitian ... 45

B. Setting Penelitian ... 46

1. Objek Penelitian ... 46

2. Subjek Penelitian ... 47

3. Tempat Penelitian... 47

4. Waktu Penelitian ... 48

C. Prosedur Pengembangan ... 48

1. Potensi dan Masalah ... 50

(13)

xiii

2. Pengumpulan Data ... 51

3. Desain Produk ... 52

4. Validasi Produk ... 53

5. Revisi Desain ... 53

6. Uji Coba Produk ... 54

D. Teknik Pengumpulan Data ... 55

1. Observasi ... 55

2. Wawancara ... 56

3. Kuisioner ... 57

4. Tes ... 58

5. Trianggulasi... 59

E. Instrument Penelitian ... 61

1. Instrument Observasi ... 61

2. Instrument Wawancara... 62

3. Instrument Kuisioner Validasi Produk ... 64

4. Instrument Tes ... 66

F. Teknik Analisis Data ... 67

1. Analisis Data Kualitatif ... 68

2. Analisis Data Kuantitatif ... 68

3. Analisis Data Hasil Tes ... 70

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA ... 73

A. Hasil Penelitian ... 73

1. Identifikasi Potensi Dan Masalah... 74

2. Pengumpulan Data ... 82

3. Desain Produk ... 91

4. Validasi Produk ... 95

5. Revisi Produk ... 96

6. Uji Coba Produk ... 108

B. Produk Akhir dan Pembahasan ... 115

BAB V PENUTUP ... 115

A. Kesimpulan ... 115

B. Keterbatasan Penelitian ... 116

C. Saran ... 116

DAFTAR PUSTAKA ... 118

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian yang Relevan ... 17

Table 3.1 Kisi-kisi Observasi ... 62

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Wawancara Pengajar Bahasa Indonesia ... 63

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Wawancara Calon Mahasiswa ... 64

Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuisioner Validasi Produk ... 65

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Soal Pretest dan Posttest ... 67

Tabel 3.6 Konversi Data Kualitatif ke Kuantitatif ... 70

Tabel 4.1 Hasil Observasi ... 75

Tabel 4.2 Hasil Validasi Instrumen Kuisioner Validasi Produk ... 93

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Validasi Produk Media ... 94

Tabel 4.4 Hasil Penilaian Validasi Produk Album ... 94

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Validasi Instrumen Pretest ... 94

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Validasi Instrumen Posttest ... 96

Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Pre-test ... 97

Tabel 4.8 Jadwal Kegiatan Pembelajaran ... 98

Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Post-test ... 98

Tabel 4.10 Perbandingan Hasil Pretest dan Post-test ... 99

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kartu Tanda Baca Dua Dimensi (TABA 2D) ... 11

Gambar 3.1 Langkah-langkah penggunaanMetode Research and Development (R&D) ... 48

Gambar 3.2 Prosedur Penelitian Pengembangan yang Digunakan Peneliti ... 49

Gambar 3.3 Trianggulasi Teknik Pengumpulan Data ... 59

Gambar 3.4 Trianggulasi Sumber Data Wawancara ... 60

Gambar 3.5 Rumus Rerata Hasil Penilaian Instrumen... 68

Gambar 3.6 Rumus Penentuan Jarak Interval ... 69

Gambar 3.7 Rumus Penilaian Hasil Tes ... 70

Gambar 3.8 Rumus Rerata Nilai Calon Mahasiswa... 71

Gambar 3.9 Rumus Presentase Kenaikan Nilai Pretest dan Posttest ... 71

Gambar 4.1 Trianggulasi Sumber Data Wawancara ... 81

Gambar 4.2 Media Tanda Baca Dua Dimensi (TABA 2D) ... 82

Gambar 4.3 Kartu Materi Tanda Baca ... 83

Gambar 4.4 Kartu Kata dan Frasa ... 84

Gambar 4.5 Kartu Pengendali Kesalahan Tahap 1 ... 85

Gambar 4.6 Kartu Klausa dan Kalimat ... 86

Gambar 4.7 Kartu Pengendali Kesalahan Tahap 2 ... 86

Gambar 4.8 Desain Album atau Buku Panduan Penggunaan Media ... 87

Gambar 4.9 Area Kerja Mahasiswa Pertemuan Pertama ... 94

Gambar 4.10 Area Kerja Mahasiswa Pertemuan Kedua ... 97

Gambar 4.11 Perbedaan Nilai Pretest dan Posttest ... 100

Gambar 4.12 Rerata Nilai Pretest dan Posttest ... 101

Gambar 5.1 Media Kartu Tanda Baca Dua Dimensi (TABA) ... 106

Gambar 5.2 Kartu Kategori Tanda Baca ... 106

Gambar 5.3 Kartu Materi ... 106

Gambar 5.4 Kartu Kata dan Kartu Pengendali Kesalahan ... 107

Gambar 5.5 Kartu Frasa dan Kartu Pengendali Kesalahan ... 107

Gambar 5.6 Kartu Klausa dan Kartu Pengendali Kesalahan ... 107

Gambar 5.7 Kartu Kalimat dan Kartu Pengendali Kesalahan ... 107

Gambar 5.8 Album / Buku Panduan Penggnaan ... 108

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakekatnya fungsi bahasa dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai alat ekspresi jiwa, alat komunikasi, alat beradaptasi dan alat kontrol sosial (Mulyati, 2016: 3-8). Menurut Sastromiharjo (dalam Hidayat, 2009:3) berbahasa merupakan kegiatan yang selalu mengisi bidang pendidikan kehidupan umat manusia misalnya, bidang ekonomi, hukum, politik dan pendidikan. Kegiatan tersebut berlangsung baik secara transaksional maupun interaksional. Melalui kegiatan tersebut penggunaan bahasa berusaha memaparkan, memberi alasan, menceritakan, atau menyaranan sesuatu.

Kemampuan menulis berkembang melalui pelatihan selama lebih dari dua dekade ketika seseorang anak tumbuh dan mempelajari keterampilan mengomposisikan selama masa akhir remaja dan awal dewasa. Penulis pemula berkembang dari tingkat penyampaian pengetahuan ketingkat transformasi pengetahuan, yaitu penulis dewasa. Penulis profesional terus berkembang ketingkat ahli yaitu penciptaan pengetahuan yang mana penggambaran isi penulis, teks, dan intepretasi pembaca terhadap teks termanipulasi oleh memori kerja.

Transformasi pengetahuan, dan khususnya penciptaan pegetahuan, hanya muncul jika ada perhatian yang cukup untuk menciptakan pengawasan terhadap pemeliharaan representasi teks demikian juga dengan perencanaan konsep isi, teks, ulasan isi dan teks menurut Cahyani (dalam Hidayat, 2009:165).

(17)

Perkembangan kognitif anak menunjukan perkembangan dari cara berfikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut, yaitu faktor dalam faktor yang ada di dalam diri anak antara lain faktor bawaan maupun yang diperoleh termasuk di dalam ini antara lain hal-hal yang dturunkan dari orangtua, unsur berfikir dan kemampuan intelektual, keadaan kelenjar zat-zat dalam tubuh, dan emosi serta sifat-sifat tertentu. Faktor luar meliputi keluarga, gizi, budaya, teman sebaya atau teman bermain. Unsur keluarga sangat mempengaruhi terhadap sikap dan tingkah laku anak, begitu juga dengan aspek-aspek perkembangan yang lain (Ahmad Susanto, 2012 dalam Ichsan dan Chusnandari, 2018; 218).

Berdasarkan teori dari para ahli yang telah disebutkan di atas, menulis merupakan keterampilan berbahasa yang penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dalam arti lain, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari keterampilan berbahasa khususnya menulis. Penggunaan tanda baca yang baik dan benar juga merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menulis pada pelajaran Bahasa Indonesia. Perkembangan kognitif mahasiswa dapat dilihat dari kemampuannya dalam menggunakan tanda baca dalam tulisan yang dibuat. Kemampuan dalam menggunakan tanda baca dalam prembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilatih dengan menggunakan media pembelajaran. Selama proses pembelajaran dengan adanya media, mahasiswa dapat lebih memahami materi karena dibantu dengan media konkretnya.

(18)

3

Namun, dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia pengajar seringkali tidak menggunakan media konkret sebagai penunjang pembelajaran.

Pembelajaran sebaiknya dilakukan tidak hanya bersifat hafalan saja namun juga mahasiswa diajak praktek menggunakan media yang disediakan oleh guru.

Dengan adanya media konkret lebih membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemamampuan belajar dibandingkan pembelajaran tanpa penggunaan media. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran agar mahasiswa lebih menguasai materi bahkan materi yang sulit dapat lebih mudah diterima oleh mahasiswa.

Penggunaan tanda baca dengan baik dan benar sangat penting dikuasai oleh semua pembelajar. Sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas guru telah mengajarkan penulisan kata, frasa, klausa dan kalimat disertai tanda baca.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua ketika melakukan matrikulasi mata pelajaran Bahasa Indonesia, calon mahasiswa dihadapkan pada bacaan yang menggunakan cukup banyak tanda baca. Perlu diketahui bahwa, pemahaman mahasiswa tentang penggunaan tanda baca tidak sama rata. Pemahaman mahasiswa terkait materi pembelajaran termasuk dalam ranah kognitif.

Calon mahasiswa asal Mappi Papua dipilih oleh peneliti menjadi subjek ujicoba produk yang dikembangkan. Alasan peneliti memilih calon mahsiswa asal Mappi Papua yaitu, pertama calon mahasiswa masih tergolong sedang terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang tengah diteliti. Kedua, calon mahasiswa mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi terkait pengembangan

(19)

produk TABA 2D. Ketiga, selama masa perkuliahan para calon mahaiswa akan menggunakan tanda baca pada tugas yang dibuatnya. Keempat, kemampuan dalam menggunakan tanda baca oleh calon mahasiswa asal Mappi Papua masih kurang.

Ketika calon mahasiswa diberikan teks bacaan, masih ada beberapa calon mahasiswa yang mengalami kesulitan memahami isi bacaan. Penguasaan kosakata menjadi faktor utama dalam masalah ini. Pendampingan pengajar sangat dibutuhkan dalam kondisi ini, setelah pengajar memberikan teks bacaan mahasiswa diminta mengerjakan soal berdasarkan teks bacaan tersebut.

Berdasarkan jawaban para mahasiswa, masih ada mahasiswa yang tidak menngunakan tanda baca dalam tulisan yang dibuatnya.

Selama proses pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung, peneliti juga tidak menemukan penggunaan media pembelajaran konkret, pengajar hanya menjelaskan penggunaan tanda baca yang baik dan benar dengan ceramah.

Setelah beberapa pertemuan, mahasiswa masih kurang tepat menggunakan tanda baca dalam tulisan yang dibuatnya. Hal ini bisa disebabkan karena mahasiswa tidak belajar dengan media konkret, pembelajaran menggunakan media dianggap mampu membantu calon mahasiswa dalam mengatasi masalahnya. Dengan adanya media calon mahasiswa akan lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran serta meminimalisir kesalahan yang akan dilakukan oleh calon mahasiswa. Pembelajaran menggunakan media akan membantu calon mahasiswa memahami penggunaan tanda baca yang baik dan benar karena melalui media

(20)

yang ada calon mahasiswa akan terlibat langsung dalam proses penggunaan tanda baca.

Metode Montessori adalah metode yang bersandar pada perinsipnya, bahwa pendidikan seorang anak harus muncul dari dan bertepatan dengan tahap-tahap perkembangan anak itu sendiri. Maria Montessori meyakini bahwa anak-anak mengalami kemajuan melalui serangkaian tahap perkembangan, masing-masing tahap memerlukan jenis pembelajaran yang dirancang secara tepat dan spesifik (Gutek, 2013). Dengan hanya mendengarkan penjelasan dari pengajar saja calon mahasiswa tentu tidak melakukan kegiatan apapun untuk lebih memahami penggunaan tanda baca yang baik dan benar.

Berdasarkan teori Gutek tersebut, peneliti merasa bahwa media pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis metode Montessori adalah sebuah solusi yang tepat dari masalah yang telah ditemukan di lapangan. Calon mahasiswa yang kurang mampu menggunakan tanda baca dengan baik dan benar dalam keterampilan menulis. Media berbasis Montessori mampu menumbuhkan niat belajar calon mahasiswa dengan pengalamannya sendiri, maka anak akan memperoleh pengetahuan melalui usahanya sendiri. Selain itu, media pembelajaran Bahasa Indonesia untuk calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua berbasis Montessori belum pernah dikembangkan sebelumnya sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian serta membuat desain media pembelajaran tanda baca.

(21)

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti menuliskan dua rumusan masalah yaitu sebagai berkut.

1. Bagaimana proses pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) berbasis metode Montessori untuk membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua dalam menggunakan tanda baca?

2. Bagaimana kualitas media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) yang layak dikembangkan untuk membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua dalam menggunakan tanda baca?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan proses pengembangan media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) berbasis metode Montessori untuk membantu calon mahasiswa asal Mappi Papua dalam menggunakan tanda baca.

2. Mendeskripsikan kualitas media Montessori untuk membantu calon mahasiswa dalam menggunakan tanda baca.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagi Calon mahasiswa

(22)

Calon mahasiswa memiliki pengalaman langsung terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia secara aktif, kreatif, dan menyenangkan dengan penggunaan media pembelajaran berbasis Montessori. Calon mahasiswa akan mampu menggunakan tanda baca dengan biak dan benar dalam penulisan kalimat atau paragraf yang nantinya sangat bermanfaat bagi calon mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan.

2. Bagi Pengajar

Pengajar dapat memiliki inspirasi baru dalam mengembangkan media pembelajaran, serta memberi pemahaman kepada pengajar bahwa media pembelajaran sangatlah penting digunakan dalam mengatasi kesalahan yang dilakukan calon mahasiswa selama proses pembelajaran.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini memberikan pemikiran baru bagi calon mahasiswa untuk mengembangkan media pembelajaran yang baru dan inovatif dalam membantu pembelajar selama proses pembelajaran. Penelitian ini juga memberikan pengalaman baru kepada calon mahasiswa tentang pengembangan media pembelajaran Montessori.

(23)

E. Batasan Istilah

1. Calon Mahasiswa Asal Kabupaten Mappi Papua

Calon mahasiswa Mappi Papua merupakan calon mahasiswa yang sedang menjalani matrikulasi selama 1 tahun. Matrikulasi ini diakukan untuk memberikan bekal pelajaran dasar sebelum menjadi mahasiswa.

2. Metode Montessori

Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar dengan tingkat perkembangan anak dan peran aktivitas fisik. Metode Montessori mengajak anak untuk belajar mandiri dan juga akan bermain dengan aneka permainan yang mendidik.

3. Media Montessori

Media Montessori dirancang secara sederhana dan menarik, bertujuan untuk melatih anak belajar secara mandiri, memberi kesempatan pada anak untuk bereksplorasi, serta membantu anak mengetahui dan memperbaiki kesalahannya sendiri.

(24)

4. Tanda Baca

Tanda baca merupakan simbol dalam Bahasa Indonesia yang digunakan dalam keterampilan berbahasa menulis, untuk menunjukan struktur suatu tulisan. Tanda baca juga akan menentukan intonasi dan jeda dalam kalimat yang dibacakan.

5. Kartu Tanda Baca Dua Dimensi (TABA 2D)

Kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) merupakan media yang dikembangkan dalam penelitian ini. TABA merupakan singkatan dari Tanda Baca, yang dibuat dalam bentuk kartu 2 dimensi. Media ini buat dengan bentuk persegi empat memiliki warna dan ukuran yang sama. Setiap kartu dilengkapi tanda baca yang terdapat dalam Bahasa Indonesia.

F. Spesifikasi Produk

Produk yang akan dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini terdiri dari lima komponen media, yaitu kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D), kartu kategori, kartu material, kartu kata dan frasa tahap satu beserta kartu pengendali kesalahan, kartu klausa dan kalimat tahap dua beserta kartu pengendali kesalahan, serta buku panduan TABA 2D. Berikut penjelasan dan gambar dari kelima komponen tersebut.

(25)

1. Kartu Tanda Baca Dua Dimensi (TABA 2D)

Kartu ini terdiri dari 15 kartu yang masing-masing berisikan tanda baca dalam Bahasa Indonesia dengan warna dan ukuran yang sama. Setiap kartu tanda baca memiliki ukuran panjang dan lebar yang sama yaitu 2,5 cm berwarna kuning.

Kartu ini digunakan dengan kartu kata, frasa, klausa dan kalimat.

Gambar 1.1 Kartu Tanda Baca Dua Dimensi (TABA 2D)

2. Kartu Kategori

Kartu ini terdiri dari kartu tanda baca yang berukuran 7x5 cm dengan warna dasar kuning berjumlah 15 kartu, serta kartu yang berisikan penjelasan dari fungsi penggunaan tanda baca dengan warna dasar putih berjumlah 40 kartu.

Gambar 1.2 Kartu Kategori

(26)

3. Kartu Material

Kartu terdapat dua sisi dengan ukuran 12x8 cm. Bagian depan berisikan tanda baca dengan warna dasar kartu kuning. Bagian belakang berisikan penjelasan dari fungsi penggunaan tanda baca dengan warna dasar putih.

Gambar 1.3 Kartu Material

4. Kartu Kata dan Frasa Tahap Satu Beserta Kartu Pengendali Kesalahan

Kartu ini terdiri dari kartu kata dan frasa yang digunakan bersamaan dengan kartu TABA 2D berukuran 3x8 cm berwarna putih berjumlah 78 kartu. Kartu pengendali kesalahan adalah kartu yang berisikan kata dan frasa yang sudah tersusun dengan tanda baca, berukuran 3x8 cm berwarna putih berjumlah 34 kartu.

(27)

Gambar 1.4 Kartu Kata dan Frasa Tahap Satu Beserta Kartu Pengendali Kesalahan

5. Kartu Klausa dan Kalimat Tahap Dua Beserta Kartu Pengendali Kesalahan

Kartu ini terdiri dari klausa dan kalimat yang digunakan bersamaan dengan kartu TABA 2D berukuran 3x8 cm berwarna putih berjumlah 60 kartu. Kartu pengendali kesalahan adalah kartu yang berisikan klausa dan kalimat yang sudah tersusun dengan tanda baca, berukuran 3x8 cm berwarna putih berjumlah 36 kartu.

Gambar 1.5 Kartu Klausa dan Kalimat Tahap Dua Beserta Kartu Pengendali Kesalahan

(28)

6. Buku Panduan TABA 2D

Buku ini merupakan buku yang berisikan petunjuk dalam menggunakan media TABA 2D. Buku ini berukuran 19x26 cm dengan cover berwarna kuning.

Gambar 1.6 Buku Panduan TABA 2D

(29)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan

1. Penelitian Tentang Pengembangan Media Berbasis Metode Montessori

Yuniastuti (2017) mengembangkan media pembelajaran IPA berbasis Montessori. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D). Model pengembangan yang digunakan adalah model Sugiyono serta Borg dan Gall yang kemudian dimodifikasi menjadi lima yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) perencanaan, (3) pengembangan desain, (4) validasi produk, dan (5) uji coba produk. Hasil validasi media pembelajaran oleh ahli, menunjukan (1) kualitas media pembelajaran sangat baik, dengan rerata skor sebesar 3,85, (2) nilai posttest lebih tinggi dari pretest dengan selisih rerata nilai sebesar 24, media pembelajaran akar tumbuhan berbasis Montessori memiiki kualitas sangat baik dan membantu siswa dalam memahami akar tumbuhan.

Astuti (2017) melakukan penelitian tentang pengembangan media kartu abjad berbasis metode Montessori. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang berawal dari adanya potensi dan masalah terkait membaca dan menulis permulaan. Penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Researc and Development). Proses pengembangan media berbasis metode Montessori tersebut menggunakan enam langkah pengembangan yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) uji validasi desain, (5) revisi desain produk, (6) uji coba produk. Media kartu abjad berbasis Montessori

(30)

memiliki kualitas sangat baik dilihat dari perolehan skor validasi ahli yaitu sebesar 3,48 sehingga media kartu abjad yang sudah dikembangkan layak untuk digunakan.

2. Penelitian Tentang Kemampuan Penggunaan Tanda Baca

Nurmawati, dkk (2014) melakukan penelitian dalam meningkatkan kemampuan menggunakan tanda baca titik, tanda baca koma, dan tanda baca titik dua dalam kalimat dengan menggunakan metode latihan siswa kelas IV SD.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menggunakan tanda baca titik, tanda koma, dan tanda titik dua pada mahasiswa kelas IV SDN Atananga melalui metode latihan.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri dari dua siklus yaitu tes pra tindakan dan tes akhir tindakan serta setiap siklus terdiri atas perencanaan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Atananga dengan melibatkan 12 orang siswa terdiri atas 5 orang laki-laki dan 7 orang perempuan karena pada berdasarkan hasil observasi awal masih banyak siswa yang belum mampu menulis kalimat dengan menggunakan tanda baca yang tepat sehingga perlu untuk ditingkatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tes awal pra tindakan tindakan diperoleh ketuntasan klasikal 41,66% dan daya serap klasikal 55,83%. siklus I diperoleh ketuntasan klasikal 58% dan daya serap klasikal 60,83%. Pada tindakan siklus II diperoleh ketuntasan klasikal 91,66% dan daya serap klasikal 80%. Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode latihan dapat meningkatkan kemampuan

(31)

menggunakan tanda baca titik, koma, titik dua pada siswa kelas IV pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Atananga.

Halimatussakdiah, dkk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa mengenai penggunaan tanda baca yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Penelitian dilaksanakan di Fakultas Ekonomi UNIMED dengan populasi sebanyak 34 orang dan sampel yang digunakan sebanyak 20 orang dimana sampel diambil secara acak. Teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan yaitu dengan memberikan tes pemahaman kepada 20 sampel yang dipilih serta metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil analisis data menunjukan bahwa hanya sebanyak 25% yang sangat paham mengenai penggunaantanda baca yang sesuai dengan EYD sedangkan 10% paham, 20% cukup paham dan presentase kurang paham mengambil porsi terbesar yaitu sebanyak 45%. Hasil ini menunjukan bahwa mahasiswa masih kurang paham mengenai penggunaantanda baca yang sesuai dengan EYD. Hal ini mungkin disebabkan adanya gangguan pada kegiatan belajar mengajar. Diharapkan gangguan yang mungkin muncul dapat diperkecil dan bagi mahaiswa diharapkan untuk terus belajar dan memperbaiki kemampuan mengenai pemahaman tanda baca karena penggunaantanda baca yang sesuai akan mempermudah pembaca untuk mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh penulis.

Penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.

(32)

Tabel 2.1 Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan

Metode Montessori PenggunaanTanda Baca

Pengembangan Media Pembelajaran IPA SD Materi Akar Tumbuhan Berbasis Media Montessori

Peningkatan Kemampuan

Menggunakan Tanda Baca Titik, Koma, dan Titik Dua dalam Kalimat Dengan Menggunakan Metode Latihan siswa Kelas IV SDN Atananga

Pengembangan Kartu Abjad Berbasis Metode Montessori untuk Latihan Membaca dan Menulis Permula

Pemahaman PenggunaanTanda Baca Sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Pada Mahasiswa Jurusan Akuntansi Kelas A 2012 FE UNIMED

Yang diteliti

Pengembangan Media Kartu Tanda Baca Dua Dimensi Berbasis Metode Montessori Untuk Calon Mahasiswa Asal Mappi Papua

Berdasarkan keempat penelitian yang dianggap peneliti relevan dapat di simpulkan bahwa, keempat penelitian tersebut memiliki kontribusi yang cukup besar bagi penelitian ini. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa ada persamaan

(33)

dan perbedaan dengan penelitian ini. Pada penelitian pertama membahas mengenai pengembangan media pembelajaran IPA SD materi akar tumbuhan berbasis montessori. Persamaan penelitian pertama dengan penelitian ini, yaitu peneliti sama-sama mengembangkan media pembelajaran berbasis montessori dengan menggunakan model penelitian Reserch and Development. Sedangkan, perbedaan penelitian pertama dengan penelitian ini terletak pada model pengembangan yang digunakan oleh peneliti. Persamaan dengan penelitian kedua yaitu, peneliti sama-sama mengembangkan media berupa kartu hanya saja pada penelitian kedua peneliti mengembangkan kartu abjad sedangkan, pada penelitian ini peneliti mengembangkan media berupa kartu yang berisi tanda baca.

Perbedaaannya dengan penelitian kedua, yaitu tujuan pengembangan media yang dikembangkan serta subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti. Pada penelitian ketiga dan keempat persamaannya adalah peneliti membahas topik tanda baca dan bertujuan untuk meningkatkan pemaham dalam menggunakan tanda baca. Hanya saja, yang membedakan penelitian ini dengan penelitian ketiga dan keempat, yaitu pada penelitian ini mengembangkan sebuah media sedangkan pada penelitian ketiga dan keempat hanya terfokus pada pemahaman dan peningkatan keamampuan penggunaan tanda baca dibantu dengan metode tertentu.

(34)

B. Kajian Teori

1. Teori Perkembangan Kogitif Menurut Jean Piaget

Teori perkembangan kognitif anak yang menjadi landasan dalam penelitian ini adalah teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget (1896-1980). Teori tersebut peneliti gunakan karena memiliki kesesuaian dengan tahap perkembangan kognitif subjek penelitian serta sesuai dengan metode Montessori yang berlandaskan pada perkembangan kognitif anak.

Piaget membagi tahap perkembangan kognitif anak dalam 4 tahap yaitu tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, tahap oprasional konkret, dan tahap operasional formal. Tahap sensorimotor ditandai dengan inteligensi anak yang lebih didasarkan pada tindakan indrawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamah, mendengar, membau, dan lainnya. Pada tahap ini, anak belum dapat berbicara dengan bahasa. Tahap praoprasional ditandai dengan adanya fungsi semiotik, yaitu penggunaan simbol atau tanda untuk menyatakan atau menjelaskan suatu objek yang saat itu tidak berada bersama subjek. Tahap oprasional konkret ditandai dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan oprasi-oprasi logis. Tahap oprasional formal seorang remaja sudah dapat berfikir logis, berfikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu (Piaget 1981 dalam Suparno 2001; 88).

(35)

Tahap perkembangan kognitif yang sesuai dengan subjek penelitian ini adalah tahap operasional formal. Pada tahap perkembangan ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu (Piaget & Inhelder, 1969; Piaget, 1981 dalam Suparno, 2001; 88).

Menurut Ginsburg dan Opper (1988) dalam Suparno 2001;88, seseorang pada tahap ini sudah mempunyai tingkat ekuilibrium yang tinggi. Ia dapat berpikir fleksibel dan efektif, serta mampu berhadapan dengan persoalan yang kompleks.

Ia dapat berfikir fleksibel karena dapat melihat semua unsur dan kemungkinan yang ada. Ia dapat berfikir efektif karena dapat meilihat pemikiran mana yang cocok untuk persoalan yang dihadapi. Ia dapat memikirkan bersama banyak kemungkinan dalam suatu analisis. Ia dapat membuat suatu deasin untuk suatu percobaan yang memerlukan percobaan yang memerlukan pemikiran dan penggunaan banyak variabel secara bersamaan.

Berdasarkan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget, calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua berada pada tahap oprasional formal. Sifat pokok pada tahap oprasional formal adalah pemikiran dedukatif hipotesis, induktif saintifik, dan abstraktif reflektif. Perkembangan pemikiran pada tahap ini sudah sama dengan pemikiran orang dewasa secara kualitatif. Perbedaan dengan pemikiran orang dewasa hanya terletak pada kuantitas, yaitu banyaknya skema pada orang dewasa (Suparno 2001;88).

(36)

Perkembangan kognitif anak menunjukan perkembangan dari cara berfikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi aspek-aspek perkembangan antara lain: (Ahmad Susanto, 2012 dalam Ichsan dan Chusnandari, 2018; 218).

1. Faktor Dalam (entern) yaitu faktor yang ada di dalam diri anak antara lain, faktor bawaan maupun yang diperoleh termasuk di dalam ini antara lain hal-hal yang dirutunkan dari orangtua, unsur berfikir dan kemampuan intelektual, keadaan kelenjar dalam tubuh, emosi serta sifat-sifat tertentu.

2. Faktor Luar (ekstern) meliputi keluarga, gizi, budaya, teman sebaya atau teman bermain. Unsur keluarga sangat mempengaruhi terhadap sikap dan tingkah laku anak, begitujuga dengan aspek-aspek perkembangan yang lain.

2. Media Pembelajaran a. Pengertian Media

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 892), mendefinisikan kata media sebagai alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran atau pembelajaran. Winkel (dalam Suprihatiningrum 2016;15) mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap. Dari pengertian itu dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam aktivitas mental/psikis untuk menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman.

(37)

Media pembelajaran adalah alat pelajaran yang telah diisi program pembelajaran (Pranowo, 2014: 284). Pranowo juga mengatakan agar materi pembelajaran dapat diserap oleh pembelajar sebanyak-banyaknya, guru harus melakukan berbagai usaha. Usaha yang dilakukan oleh guru antara lain (a) memberi porsi belajar kepada pembelajar lebih banyak, (b) mempersiapkan materi pembelajaran secara rinci sebelumnya, (c) mempersiapkan teknik dan strategi tertentu, (d) mempersiapkan media dan alat pembelajaran tertentu, (e) menciptakan suasana di kelas yang kondusif untuk belajar pembelajaran dan sebagainya. Berdasarkan pengetian media pembelajaran yang telah disampaikan Pranowo, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang berisi program yang dilakukan menggunakan beberapa usaha. Media pembelajaran yang digunakan akan berhasil apabila guru melakukan bebrapa usaha seperti yang telah disebutkan di atas.

Arsyad (2014: 3) mengatakan kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harafiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Geralach &

Ely (dalam Arsyad 2014:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat mahasiswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah. Berdasarkan dua pengertian media pembelajaran yang dikatakan oleh dua ahli tersebut, dapat disimpulkan bawa media pembelajaran merupakan penghubung yang membantu mahasiswa memahami pembelajaran dengan baik melalui buku, dan alat lainnya.

(38)

Berdasarkan pengertian media menurut ahli di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam aktivitas mental/psikis untuk menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan- pemahaman.

b. Media Pembelajaran Montessori

Lillard dalam Mbawo (2018: 12) mengungkapkan bahwa media Montessori dirancang secara mendetail sehingga anak dapat menggunakannya secara mandiri.

Media Montessori terdiri dari tiga unsur penting yang harus selalu diperhatikan, yaitu membangun kemandirian anak dan membangun akademik anak, memiliki nilai seni, dan mengembangkan rasa tanggung jawab serta menjaga media yang ia miliki. Media yang dikembangkan memiliki prinsip kesederhanaan, daya tahan, keindahan, mengembangkan kreativitas, dan anak belajar dari penemuan serta memberikan kepada anak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri.

c. Ciri Media Pembelajaran Montessori

Setiap media pembelajaran yang dibuat dalam Montessori akan mempunyai tujuan penggunaannya dan maknanya sendiri. Karakteristik media yang digunakan dalam kelas Montessori yaitu:

1) Menarik

Montessori (2003:81) dalam Mbawo (2018:13) menjelaskan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Unsur keindahan

(39)

tersebut dapat dilihat dari segi warna, bentuk media, kualitas media, dll.

Montessori percaya dengan warna dan bentuk dapat mengundang minat dan ketertarikan mahasiswa untuk belajar lebih giat dan menarik.

2) Bergradasi

Gradasi yang dimaksud yaitu media pembelajaran yang digunakan melibatkan lebih dari satu indra. Selain itu, bergradasi juga dapat dilihat dari daya guna media yang dapat digunakan oleh tingkat usia berbeda.

3) Memiliki Pengendali Kesalahan (Auto-Correction)

Lillard (1972:63) dalam Mbawo (2018:13-14) mengatakan bahwa pengendali kesalahan adalah semua jenis indicator yang dapat menunjukan kepada kita apakah yang dilakukan sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai atau tidak. Dengan adanya kartu pengendali kesalahan atau control of error ini akan membantu anak mengidentifikasi kesalahannya serta memperbaikinya secara mandiri.

4) Mengajarkan Mahasiswa Secara Mandiri (Auto-Education)

Lillard (1972:51) dalam Mbawo (2018:14) mengatakan bahwa auto- education akan membantu anak belajar sendiri dan mengurangi keterlibatan guru.

5) Kontekstual

Montessori mengemukakan bahwa belajar hendaknya disesuaikan dengan konteks (Lillard dalam Mbawo 2018:14).

(40)

3. Montessori

Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan oleh Maria Montessori. Metode Montessori sangat menekankan prinsip kebebasan anak dalam beraktifitas di lingkungan yang disiapkan. Menurut prinsipnya tentang belajar mandiri, kebebasan seorang anak memungkinkan anak untuk memilih kegiatan belajar mereka sendiri (Gutek, 2015: 31)

Gutek (2013: 75-76) menjelaskan bahwa Montessori mengidentifikasi pendidikan sebagai sebuah proses dinamis dimana anak-anak berkembang menurut ketentuan diri kehidupan mereka. Montessori merangsang anak menuju aktivitas diri untuk melaukan kegiatan-kegiatan yang mendukung pertumbuhan, yang mengantar kepada perkembangan lebih lanjut dan kemandirian lebih besar.

Kemandirian yang didasarkan pada kebebasan untuk menjadi aktif merupakan ketentuan dalam mengerjakan tugas dengan benar. Montessori menyiapkan bahan- bahan pembelajaran yang bersifat mengoreksi diri sendiri yang digunakan untuk melatih dan mengembangkan indra-indra dan pemikiran untuk mencapai kemandirian.

Berdasarkan penjelasan di atas peneliti berpendapat bahwa media pembelajaran berbasis metode Montessori adalah alat yang dirancang sesuai karakteristik Montessori dan perkembangan anak. Jadi, media kartu tanda baca dua dimensi (TABA 2D) adalah media yang dirancang bertujuan untuk membantu anak belajar secara mandiri dan berkonsentrasi dalam memecahkan masalah yang ditemukan dalam belajar.

(41)

4. Tanda Baca

Dalam bahasa tuli, tanda baca ini sangat penting karena dengan adanya tanda baca itu kita akan terbantu untuk dapat memahami suatu tulisan. Dalam sistem ejaaan dikenal adanya tanda baca titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda petik (“...”), tanda hubung (-), tanda pisah (-- ), tanda kurung ([...]), tanda garis miring (/), dan tanda penyingkat (‘) Chaer (2011:170-171).

Dalam Bahasa Indonesia terdapat 15 tanda baca yang didalamnnya ada aturan penggunaannya masing-masing. Aturan penggunaan tanda baca tersebut di tulis dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesi. Berikut merupakan penjelasan penggunaan tanda baca menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Hani’ah (2018:39).

1. Jenis-jenis Tanda Baca A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.

Misalnya:

- Mereka duduk di sana.

- Dia akan datang pada pertemuan itu.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a. Kondisi Kebahasaan di Indonesia

(42)

1. Bahasa Indonesa a. Kedudukan b. Fungsi b. Bahasa Daerah

1. Kedudukan 2. Fungsi c. Bahasa Asing

1. Kedudukan 2. Fungsi

1. Payokan Umum 1.1 Isi Kerangka 1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan 1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik 2. Patokan Khusus ...

...

Catatan:

(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Misalnya:

Bahasa Indonesiaberkedudukan sebagai

(43)

1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain, (a) lambang kebanggan nasional,

(b) identitas nasional, dan (c) alat pemersatu bangsa;

2) bahasa negara ...

(2) tanda titik tidak dipakai pada akhir pedoman digital yang lebih dari satu angka (seperti pada 2b).

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Misalnya:

Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia Tabel 1.2 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia Bagan 2 Struktur Organisasi

Bagan 2.1 Bagian Umum

Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia

Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia Gamabar 1 Gedung Cakrawala

Gambar 1.1 Ruang Rapat

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu atau jangka waktu.

Misalnya:

(44)

- pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)

- 01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik) - 00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

- 00.00.30 jam (30 detik)

4. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Misalnya:

- Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

- Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.

5. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukan jumlah.

Misalnya:

- Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.

- Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.

Catatan:

(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah.

Misalnya:

- Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

- Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa IndonesiaPusat Bahasa halaman 1305.

(45)

- Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.

(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustri, atau tabel.

Misalnya:

- Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan - Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)

- Gambar 3 Alat Ucap Manusia

(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.

Misalnya:

- Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No.73

Menteng Jakarta 10330

- Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV

Rawamangun Jakarta Timur - 21 April 2013

- Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat) B. Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

(46)

Misalnya:

Telfon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.

Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.

Satu, dua, ... tiga!

2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).

Misalnya:

Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.

Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau diundang, saya akan datang.

Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.

Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.

Misalnya:

Saya akan data kalau diundang.

Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.

Kita harus membaa banyak buku agar memiliki wawasan yang luas.

(47)

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu dan meskipun demikian.

Misalnya:

Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beamahasiswa belajar di luar negri.

Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar.

Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.

5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, sperti Bu, Dik, atau Nak.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

Hati-hati, ya, jalannya licin!

Nak, kapan selesai kuliahmu?

Siapa namamu, Dik?

Dia baik sekali, Bu.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya:

(48)

Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”

“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya, “karena manusia adalah makhluk sosial.”

Catatan: tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan

C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat diganti sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:

Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.

Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.

2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.

Misalnya:

Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah (1) berkewarganegaraan Indonesia;

(2) berijazah sarjana S-1;

(3) berbadan sehat; dan

(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

D. Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

(49)

Misalnya:

Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

(1) Ketua : Ahmad Wijaya Sekretaris : Siti Aryani Bendahara : Aulia Arimbi

(2) Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Effendi Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.

Pencatat : Sri Astuti Amelia, S.Pd.

3. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu: “Bawa koper ini, Nak!”

Amir: “Baik, Bu.”

Ibu: “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

E. Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.

Misalnya:

(50)

Di samping cara lama, diterapkan juga ca- ra baru ….

Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum- put laut.

Kini ada cara yang baru untuk meng- ukur panas.

2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.

Misalnya:

anak-anak berulang-ulang kemerah-merahan

3. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Misalnya:

11-11-2013 p-a-n-i-t-i-a

4. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur Bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.

Misalnya:

di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)

ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’) di-back up

(51)

me-recall pen-tackle-an F. Tanda Pisah (--)

1. Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan bangsa itu -- saya yakin akan tercapai -- diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

Keberhasilan itu -- kita sependapat -- dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.

2. Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.

Misalnya:

- Soekarno-Hatta -- Proklamator Kemerdekaan RI -- diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.

- Rangkaian temuan ini -- evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom -- telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

- Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia -- amanat Sumpah Pemuda -- harus terus digelorakan.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti

‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Misalnya:

Tahun 2010 -- 2013

(52)

Tanggal 5 -- 10 April 2013 Jakarta -- Bandung

G. Tanda Tanya (?)

1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?

Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).

Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

H. Tanda Seru (!)

1. Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!

Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!

Bayarlah pajak tepat pada waktunya!

(53)

Masa! Dia bersikap seperti itu?

Merdeka!

I. Tanda Elipsis (...)

1. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….

..., lain lubuk lain ikannya.

2. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

Misalnya:

“Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”

“Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”

Catatan:

(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.

(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).

J. Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.

(54)

Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Repub-

lik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”

2. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron,artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.

Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!

3. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.

Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

K. Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.

Misalnya:

Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

“Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

(55)

2. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.

Misalnya:

tergugat ‘yang digugat’

retina ‘dinding mata sebelah dalam’

noken ‘tas khas Papua’

tadulako ‘panglima’

L. Tanda Kurung ((…))

1. Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).

Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).

Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.

2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.

3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.

Misalnya:

(56)

Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.

Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.

4. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.

Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran,

(2) ijazah terakhir, dan

(3) surat keterangan kesehatan.

M. Tanda Kurung Siku ([…])

1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah Bahasa Indonesia.

Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.

(57)

2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman35─38]) perlu dibentangkan di sini.

N. Tanda Garis Miring (/)

1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:

Nomor: 7/PK/II/2013 Jalan Kramat III/10 tahun ajaran 2012/2013

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.

Misalnya:

mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’

dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’

buku dan/atau majalah ‘buku dan majalah atau buku atau majalah’

harganya Rp1.500,00/lembar ‘harganya Rp1.500,00 setiap lembar’

3. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

(58)

Misalnya:

Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapakali.

Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.

Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

1. Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.

Misalnya:

Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan) Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah) 5-2-‘13 (’13 = 2013)

(59)

C. Kerangka Berpikir

Masalah penggunaan tanda baca

Media Pembelajaran

Mengajak

berinteraksi dengan lingkungan belajar

Meningkatkan pemahaman terkait materi pembelajaran

Pemanfaatan media yang masih terbatas

Media kartu tanda baca dua dimensi berbasis metode

Montessori

(60)

45 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa kartu tanda baca. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau lebih dikenal dengan penelitian R & D (Research and Develpment). Menurut Sugiyono (2012: 297) metode penelitian &

pengembangan atau dalam bahasa Inggris Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian dan pengembangan berfungsi untuk memvalidasi dan mengembangkan produk. Memvalidasi produk, berarti produk itu telah ada, dan peneliti hanya menguji efektivitas atau validitas produk tersebut. Mengembangkan produk dalam arti luas dapat berupa memperbaharui produk yang telah ada (sehingga menjadi lebih praktis, efektif, efisien) atau menciptakan produk baru (yang sebelumnya belum pernah ada) (Sugiyono, 2015:28). Peneliti pun memutuskan untuk menggunakan desain penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono (2012:298).

Tujuan akhir dari penelitian dan pengembangan ini yaitu 1) menghasilkan suatu produk tertentu yang dianggap andal karena telah melewati pengkajian terus menerus; 2) produk yang dihasilkan adalah produk yang sesuai dengan kebutuhan lapangan; 3) proses pengembangan produk dimulai dari pengembangan produk

Gambar

Gambar 1.4 Kartu Kata dan Frasa Tahap Satu Beserta Kartu Pengendali  Kesalahan
Gambar 1.6 Buku Panduan TABA 2D
Tabel 2.1 Penelitian yang Relevan
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia  Tabel 1.2  Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia  Bagan 2 Struktur Organisasi
+7

Referensi

Dokumen terkait