• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

5. Trianggulasi

Dalam teknik pengumpulan data, trianggulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2015: 242)

Sugiyono (2015 :242) membedakan trianggulasi menjadi dua macam yaitu trianggulasi teknik dan trianggulasi sumber. Trianggulasi teknik berarti penelitian menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi pertisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Sedangkan trianggulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.

Peneliti mengumpulkan data menggunakan trianggulasi teknik. Trianggulasi teknik pada penelitian ini dihasilkan melalui data yang dikumpulkan dengan kegiatan observasi dan wawancara. Berikut adalah trianggulasi data yang dilakukan oleh peneliti dan disajikan dalam gambar 3.3.

Gambar 3.3 Trianggulasi Teknik Pengumpulan Data

Gambar di atas terdapat dua teknik dalam mengumpulkan data dalam penggunaan media pembelajaran dalam Bahasa Indonesia. Teknik yang digunakan oleh peneliti terdiri dari dua teknik yaitu observasi dan wawancara. Data dari kedua teknik tersebut yaitu observasi dan wawancara akan dianalisis untuk

Observasi Wawancara

mempertimbangkan pembuatan media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengajar dan calon mahasiswa. Peneliti menggunakan teknik trianggulasi untuk menganalisis data observasi dan wawancara dengan pengajar serta mahasiswa. Berikut merupakan gambar trianggulasi berdasarkan data analisis kebutuhan yang peneliti dapat selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi.

Gambar 3.4 Trianggulasi Sumber Data Wawancara

Bagan di atas merupakan dua sumber data dalam wawancara, yaitu pengajar dam calon mahasiswa. Wawancara dilakuakan untuk memperoleh pendapat narasumber mengenai penggunaan media pembelajaran dan kesulitan calon mahasiswa dalam menggunakan tanda baca pada mata kuliah Bahasa Indonesia.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat ukur seperti tes, kuisioner, pedoman wawancara dan pedoman observasi yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian (Sugiyono, 2015: 156). Instrumen penelitian yang akan digunakan oleh peneliti ada dua komponen yaitu observasi dan wawancara.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai instrumen yang akan digunakan oleh peneliti selama proses penelitian berlangsung.

Pengajar Calon mahasiswa

1. Instrumen Observasi

Instrumen observasi disusun oleh peneliti sebagai acuan yang akan digunakan selama observasi. Instrumen observasi juga disusun untuk melihat ketersedian media pembelajaran serta penggunaan tanda baca dalam penulisan paragraf oleh calon mahasiswa. Kisi-kisi instrumen observasi disajikan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kisi-kisi Observasi

Objek yang Diamati No Item

Adanya media pembelajaran yang untuk pembelajaran Bahasa Indonesia.

1

Adanya penggunaan tanda baca pada lembar kerja calon mahasiswa.

2

Instrumen observasi tersebut divalidasi agar dapat digunakan untuk mengumpulakan data yang valid selama penelitian. Uji validasi yang dilakukan adalah validasi konstruk. Validasi konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori, yaitu yang menjadi dasar penyusunanan instrumen. Definisi atau konsep yang diukur berasal dari teori yang digunakan (Widoyoko, 2009: 131).

2. Instrumen Wawancara

Instrumen wawancara ini dibuat dan digunakan oleh peneliti sebagai acuan ketika melakukan wawancara kepada pengajar Bahasa Indonesia dan calon mahasiswa Kabupaten Mappi Papua. Wawancara ini bertujuan menganalisis kebutuhan calon mahasiswa yang berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran tanda baca dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam melakukan wawancara peneliti menyiapkan daftar pertanyaan secara singkat dan mudah di mengerti oleh responden saat peneliti bertanya. Pertanyaan yang ditanyakan oleh peneliti dapat berkembang sesuai dengan jawaban yang diungkapkan responden.

a. Wawancara Kepada Pengajar Bahasa Indonesia

Wawancara dengan pengajar Bahasa Indonesia bertujuan supaya peneliti mengetahui ketersediaan media pembelajaran serta proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti secara tidak terstruktur, namun menggunakan instrumen wawancara sebagai acuan untuk membuat pertanyaan wawancara. Kisi-kisi instrumen wawancara dengan pengajar Bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Wawancara Pengajar Bahasa Indonesia

No Topik Pertanyaan

4 Kesulitan yang dialami pengajar

5 Kesulitan yang dialami calon mahasiswa 6 Usaha yang dilakukan pengajar

7 Saran untuk pengembangan produk

b. Wawancara Kepada Calon mahasiswa Mappi Papua

Wawancara dilakukan dengan calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua supaya peneliti mengetahui kesulitan belajar yang dialami calon mahasiswa dalam menggunakan tanda baca dengan baik dan benar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kisi-kisi instrumen wawancara terhadap calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua dapat dilihat pada tabel 3.3.

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Wawancara Calon Mahasiswa

No Topik Pertanyaan

1 Identitas

2 Proses kegiaan belajar calon mahasiswa 3 Penggunaanmedia pembelajaran

4 Kesulitan yang dialami calon mahasiswa 5 Usaha yang dilakukan calon mahasiswa 6 Pengembangan media pembelajaran

3. Instrumen Kuisioner Validasi Produk

Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan kuisioner validasi produk oleh ahli. Kuisioner yang dibuat oleh peneliti digunkan untuk memperoleh data dalam menentukan kualitas produk yang dikembangkan oleh peneliti. Berikut kisi-kisi dai ketiga kuisioner yang dibuat oleh peneliti.

Kuisioner yang dibuat oleh peneliti menggunakan lima aspek yang sesuai dengan karakteristik Montessori yaitu menarik, bergradasi, kontekstual, auto-education, dan auto-corection. Kuisioner yang dibuat dan diberikan kepada ahli serta pengajar berisikan 12 pertanyaan. Kisi-kisi analisis kebutuhan disusun dengan mengadopsi dan memodifikasi dari penelitian yang dilakukan Fransisca Mbawo (2018:37).

Kuisioner validasi produk yang peneliti buat dalam penelitian ini, berguna untuk mengetahui kualitas produk yang dikembangkan oleh peneliti. Kuisioner validasi produk akan diberikan dan divalidasi oleh ahli Bahasa Indonesia, ahli Montessori dan pengajar Bahasa Indonesia. Kisi-kisi validasi produk menggunakan lima aspek yang sesuai dengan karakteristik Montessori yaitu menarik, bergradasi, kontekstual, auto-education, dan auto-corection, dengan mengadopsi dan memodifikasi dari penelitian yang dilakukan Fransisca Mbawo (2018:37). Berikut tabel 3.4 berisi mengenai kisi-kisi kuisioner validasi produk.

Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuisioner Validasi Produk

Indikator Deskripsi

Menarik

1. Media pembelajaran memiliki warna yang menarik 2. Bentuk media menarik

3. Cara kerja media pembelajaran mudah dan menarik Bergradasi 1. Media pembelajaran memiliki bentuk 2 dimensi

2. Melibatkan lebih dari satu indra

Auto-Education

1. Membantu mahasiswa memahami penggunaan tanda baca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia 2. Membantu mahasiswa belajar secara mandiri

Auto-Correction

1. Media ini dilengkapi dengan pengendali kesalahan 2. Media ini membantu mahasiswa menemukan

kesalahan sendiri dalam proses belajar

3. Media ini membantu mahasiswa menemukan jawaban yang benar

Kontekstual

1. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar tempat belajar

2. Sekolah/pengajar dapat memproduksi sendiri dengan mudah

4. Instrumen Tes

Kegiatan penilaian hasil belajar memerlukan instrumen untuk mengukur hasil belajar yang akan dinilai. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek (Widoyoko, 2014:93). Peneliti menyiapkan soal pretest dan posttest untuk mahasiswa berupa tes uraian bebas. Kisi-kisi soal pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel 3.5 dibawah ini.

Tabel 3.5 Kisi-kisi soal pretest dan posttest

No Indikator

1 Membuat kalimat menggunakan tanda baca dengan baik dan benar.

F. Teknk Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain (Sugiyono, 2015: 368). Teknik analisis data ini

dilakukan oleh peneliti setelah peneliti mendapatkan seluruh data yang dibutuhkan melalui berbagai instrumen penelitian yang telah dibuat.

1. Analisis Data Kualitatif

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi dan wawancara. Setelah semua pengambilan data dilaksanakan peneliti akan menganalisis data observasi dan wawancara dengan teknik analisis data kuatitatif. Berikut adalah penjelasan dari setiap teknik pengumpulan data.

Analisis data yang pertama yaitu hasil observasi dan wawancara. Data diolah dengan cara pertama, membaca hasil observasi dan wawancara yang sebelumnya telah dilakukan oleh peneliti. Kedua, mencari kata kunci atau pokok dari hasil observasi dan wawancara. Ketiga, membuat kesimpulan sementara dari hasil tersebut (Astuti, 2017: 49). Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan mahasiswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam materi penggunaan tanda baca. Setelah data diolah menggunakan tahapan tersebut, data kualitatif diolah dengan menggunakan teknik trianggulasi. Hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian jawaban dari masing-masing sumber.

2. Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif diperoleh dari penilaian instrumen observasi dan wawancara, instrument pretest dan posttest, instrumen kuisioner validasi produk, serta uji hasil

validasi produk oleh ahli. Analisis data pertama yang dilakukan, yaitu terhadap hasil validasi instrumen observasi dan wawancara serta instrument pretest dan posttest oleh ahli Bahasa Indonesia. Selanjutnya, data hasil validasi instrumen kuisioner validasi produk, serta uji hasil validasi produk oleh tiga ahli. Instrumen yang telah diberi nilai diolah untuk memperoleh rerata skor. Rerata hasil penilaian dihitung dengan rumus pada gambar 3.5.

Gambar 3.5 Rumus Rerata Hasil Penilaian Instrumen

Perolehan skor dapat diolah dengan menghitung jumlah skor yang diperoleh lalu dibagi dengan jumlah item soal yang buat. Setelah mendapatkan hasil akhir maka akan disesuaikan dengan kategori nilai beserta klasifikasi yang telah ditentukan. Kategori Penskoran ditentukan denan mengadopsi aturan pemberian skor dan klasifikasi hasil penilaian berdasarkan pendapat Widoyoko (Widoyoko, 2014: 144).

1. Skor pernyataan yang negatif kebalikan dari pernyataan yang positif.

2. Jumlah skor tertinggi ideal = jumlah pernyataan atau aspek penilaian x jumlah pilihan (gradasi skor dalam rubrik).

3. Skor akhir = (jumlah skor yang diperoleh: skor tertinggi ideal) x jumlah kelas interval.

4. Jumlah kelas interval = skala hasil penilaian. Artinya kalau penilaian menggunakan skala 4, hasil penilaian diklasifikasikan menjadi 4 interval.

5. Penentuan jarak interval (Ji) diperoleh dengan rumus:

Gambar 3.6 Rumus Penentuan Jarak Interval

Keterangan: t = skor tertinggi ideal dalam skala, r = skor terendah ideal dalam skala, dan Jk = jumlah kelas interval.

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dibuat klasifikasi hasil penilaian dengan skala 4 sebagai contoh, adalah sebagai berikut:

a. Skor tertinggi ideal = 4 b. Skor terendah ideal = 1 c. Jarak interval = (4-1)/4 = 0,75 d. Klasifikasi hasil penilaian =

Tabel 3.6 Konversi Data Kualitatif ke Kuantitatif Skor Akhir Klasifikasi

>3,25 - 4,00 Sangat Baik (SB)

>2,50 - 3,25 Baik (B)

>1,75 - 2,50 Cukup (C) 1,00 - 1,75 Kurang (K)

3. Analisis Data Hasil Tes

Tipe soal pretest dan posttest yang diberikan kepada calon mahasiswa merupakan bentuk tes tipe uraian bebas yang jumlahnya 15 soal untuk pretest dan 10 soal untuk posttest. Penilaian terhadap hasil pretest dan posttest berdasarkan kriteria penilaian jika benar nilainya 1 dan jika salah nilainnya 0. Rumus analisis data hasil tes yang digunakan oleh peneliti diambil dari penelitian sebelumnya oleh Mbawo (2018:40). Nilai-nilai dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut.

Gambar 3.7 Rumus Penilaian Hasil Tes

Langkah berikutnya adalah menghitung rerata tes yang diperoleh oleh semua anak dengan cara sebagai berikut.

Gambar 3.8 Rumus Rerata Nilai Calon Mahasiswa

Kemudaian langkah terakhir yaitu peneliti membandingkan nilai hasil pretest dengan posttest dengan cara menghitung persentase peningkatan nilai dengan menggunakan rumus berikut.

100

Gambar 3.9 Rumus Persentase Peningkatan Nilai Pretest dan Posttest

73 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada subbab ini dipaparkan uraian mengenai persiapan sampai dengan pelaksanaan proses penelitian oleh peneliti. Peneliti akan membahas prosedur pengembangan dan kualitas media pembelajaran kartu tanda baca berbasis metode Montessori untuk calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua.

1. Idenifikasi Potensi dan Masalah

Berdasarkan prosedur pengembangan menurut Sugiyono (2012: 298) langkah pertama dalam penelitian ini adalah peneliti mengetahui potensi dan masalah yang ada terkait dengan penggunaan tanda baca pada calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua. Tanda baca dalam Bahasa Indonesia sangat penting dalam keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menulis. Struktur kalimat yang benar sangat dipengaruhi dengan penggunaan tanda baca yang benar pula.

Potensi yang dilihat peneliti adalah panggunaan tanda baca dengan baik dan benar dapat membantu calon mahasiswa pada keterampilan menulis dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Selama masa perkuliahan calon mahasiswa akan dihadapan pada kalimat sampai paragraf yang akan menggunakan banyak tanda baca. Pengetahuan akan penggunaan tanda baca dengan baik dan benar sangat besar manfaatnya bagi calon mahasiswa contohnya dalam menulis karya ilmiah.

Masalah yang terjadi yaitu masih ada calon mahasiswa yang mengalami kesulitan

dalam penggunakan tanda baca dengan baik dan benar. Penggunaan tanda baca oleh calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua dengan baik dan benar yang dimaksud oleh peneliti yaitu, seluruh calon mahasiswa mampu menggunakan tanda baca pada keterampilan menulis sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Masalah yang muncul bisa disebabkan karena pengajar belum mampu menciptakan metode pembelajaran yang paling efektif serta media pembelajaran yang menarik untuk digunakan dan membantu calon mahasiswa dalam penggunaan tanda baca. Melihat dari permasalahan yang ada, maka peneliti akan membuat media pembelajaran kartu tanda baca berbasis metode Montessori untuk membantu calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua dalam penggunaan tanda baca dengan baik dan benar.

2. Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data sudah menggunakan trianggulasi.

Dalam teknik pengumpulan data, trianggulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik penggumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2012: 300). Data yang diperoleh peneliti dengan teknik trianggulasi ini adalah data hasil observasi dan wawancara. Berikut adalah penjelasan dari pengumpulan data observasi dan wawancara yang telah diperoleh peneliti.

a. Observasi

Observasi dilakukan oleh peneliti untuk melihat penggunaan media pembelajaran selama proses belajar dikelas serta penggunaan tanda baca dengan baik dan benar dalam tulisan berupa paragraf milik calon mahasiswa. Peneliti melakukan observasi di seluruh kelas calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua yang terdiri dari empat kelas yaitu kelas A, B, C, dan D. Peneliti juga melakukan observasi dengan melihat tulisan berupa paragraf yang dibuat oleh calon mahasiswa dalam lembar kerja selama perkuliahan. Sebelumnya pedoman observasi divalidasi terlebih dahulu oleh ahli. Berdasarkan hasil validasi dari ahli Bahasa Indonesia, instrumen penelitian yang buat oleh peneliti dianggap cukup untuk digunakan sebagai instrumen observasi. Peneliti memperbaiki instrumen observasi berdasarkan saran yang diberikan oleh ahli Bahasa Indonesia.

Peneliti melakukan kegiatan observasi pada tanggal 10 Desember 2018 hasil observasi dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Observasi

Tidak ada media pembelajaran konkret yang di letakan di dalam kelas khususnya media Montessori, karena dari pihak kampus memang tidak menyediakan media untuk calon mahasiswa Mappi.

No Objek yang Diamati Ya Tidak Catatan

Media pembelajaran yang digunakan oleh calon mahasiswa dibuat oleh pengajar berupa teks bacaan saja. Tidak ada media khusus lainnya karena pada kelas calon mahasiswa, pengajar sudah tidak perlu membahas materi tertentu dengan media pembelajaran yang menarik.

Calon mahasiswa menggunakan tanda baca pada tulisan yang dibuatnya. Tanda baca yang paling sering ditemukan peneliti dalam paragraf yang ditulis oleh calon mahasiswa yaitu hanya tanda baca titik dan koma. Tanda seru dan tanda tanya ada namun bukan pada paragraf melainkan hanya pada kalimat saja.

Berdasarkan observasi 50 lembar kerja milik calon mahasiswa, peneliti menemukan sekitar 20 calon mahasiswa masih salah dalam penggunan tanda baca pada paragraf. Penggunaan tanda titik pada akhir kalimat hampir semua calon

No Objek yang Diamati Ya Tidak Catatan

mahasiswa sudah benar, namun penggunaan tanda koma masih banyak yang salah. Karena pada lembar kerja calon mahasiswa hanya dtemukan tanda baca titik dan koma, untuk penggunaan tanda baca lainnya belum begitu terlihat kesalahannya.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, peneliti mengambil kesimpulan bahwa dalam proses pembelajaan di kelas pengajar tidak menggunakan media pembelajaran khusus untuk tanda baca, pengajar hanya menggunakan media berupa teks bacaan saja. Dari 50 lembar kerja calon mahasiswa yang berisikan tulisan dalam bentuk paragraf. Peneliti melihat 30 calon mahasiswa menulis paragraf menggunakan tanda baca dengan baik dan benar sesuai kaidah, sedangkan sisanya yang berjumlah 20 calon mahasiswa kurang mampu meggunakan tanda baca dengan baik dan benar sesuai kaidah.

b. Wawancara

Pengumpulan data yang selanjutnya dilakukan oleh peneliti yaitu wawancara dengan pengajar Bahasa Indonesia berjumlah dua pengajar. Wawancara ini

bertujuan mengetahui pendapat calon mahasiswa mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia, penggunan media pembelajaran Bahasa Indonesia, serta mengetahui kesulitan belajar calon mahasiswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelum peneliti melakukan kegiatan wawancara dengan pengajar, insrumen wawancara divalidasi terlebih dahulu oleh ahli pembelajaran Bahasa Indonesia.

1. Wawancara dengan Pengajar Bahasa Indonesia

Peneliti melakukan wawancara dengan pengajar Bahasa Indonesia, kegiatan wawancara dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2018. Peneliti mewawancarai pengajar Bahasa Indonesia yang mengajar calon mahasiswa mappi bernama Eka Tanjung Pripambudi dan Rosensi Galih Susandi.

Pedamping kelas A, B dan D, serta sudah mengajar Bahasa Indonesia selama 4 bulan.

Peneliti menanyakan proses pembelajaran Bahasa Indonseia. Pengajar melakukan proses pembelajaran bahasa Indonesia sebanyak empat kali pertemuan dalam satu minggu dua kali pertemuan di kampus dan dua pertemuan lagi di asrama calon mahasiswa Mappi. Pengertian tanda baca menurut pengajar, tanda baca merupakan bagian penting dalam sebuah kalimat dan paragraf. Calon mahasiswa sangat perlu diajarkan penggunaan tanda baca dengan baik dan benar karena sangat penting dalam penulisan kalimat sampai paragraf. Pengunaan tanda baca dengan baik dan benar akan memperjelas penyampaian pesan pada kalimat yang dibuat oleh calon mahasiswa. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia tidak ada kompetensi khusus yang mempelajari tanda baca, pembelajaran tanda

baca diintegrasikan dengan materi lainnya. Selama proses pembelajaran berlangsung pengajar menggunakan pendekatan komunikatif. Selama empat bulan pembelajaran, tanda baca yang paling sering digunakan oleh calon mahasiswa hanyalah tanda baca titik, tanda koma, tanda tanya, dan tanda seru.

Calon mahasiswa menggunakan tanda titik dan tanda koma pada paragraf deskriptif dan naratif sedangkan tanda seru dan tanda tanya digunakan dalam kalimat tanya dan kalimat perintah.

Perihal penggunaan media pembelajaran selama proses kegiatan belajar.

Pengajar tidak membuatkan media permainan, pengajar hanya mengunakan teks bacaan sebagai media untuk calon mahasiswa. Karena penggunaan media pembelajaran yang menarik sudah sangat jarang digunakan dalam kelas calon mahasiswa. pengajar sering mengunakan teks bacaan dalam mengajar khususnya untuk mengajarkan pengunaan tanda baca dengan baik dan benar.

Pengajar tidak mengalami kesulitan, kesulitan justru dialami oleh calon mahasiswanya itu sendiri. Kesulitan yang dialami oleh calon mahasiswa antara lain semangat belajar yang semakin menurun pada beberapa calon mahasiswa, terlambat masuk kelas, untuk beberapa calon mahasiswa masih ada yang belum lancar dalam membaca karena beberapa faktor. Usaha yang dilakukan pengajar dalam mengalami kesulitan tersebut yaitu dengan menjadi pengajar yang tegas namun tidak galak, agar calon mahasiswa tetap mau mengikuti proses belajar dengan baik dan semangat.

Pengajar memberi saran untuk produk yang sedang dikembangkan oleh peneliti, yaitu pembuatan media sebaiknya menggunakan warna yang cerah karena hampir semua calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua menyukai warna yang cerah, misalkan warna merah, kuning, hijau, biru.

2. Wawancara dengan Calon mahasiswa Asal Mappi Papua

Wawancara kedua yang dilakukan leh peneliti yaitu melakukan wawancara dengan calon mahasiswa asal kabupaten Mapi Papua.Wawancara dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mengetahui penggunaanmeda pembelajaran Bahasa Indonesia serta kesulian yang dialami calon mahasiswa selama proses belajar.

Peneliti melakukan kegiatan wawancara dengan calon mahasiswa pada tangga 20 November 2018. Peneliti menanyakan proses kegiatan belajar di kelas.

Selama matrikulasi Bahasa Indonesia seluruh calon mahasiswa mampu mengikuti pembelajaran di kelas dengan baik. Untuk materi yang menggunakan banyak tand baca, masih ada calon mahasiswa yang belum mampu menggunakan tanda baca dengan baik dan benar sesuai kaidah. Tidak ada media pembelajaran yang bisa digunakan untuk belajar sambil bermain. Media yang biasa digunakan oleh pengajar hanya sebatas teks bacaan saja.

Perihal kesulitan yang dihadapi calon mahasiswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, masih ada calon mahasiswa yang belum menguasai keterampilan membaca dikarenakan berbagai faktor, misalnya saja kemampuan melihat yang sudah tidak baik. Kosa kata yang diketahui calon mahasiswa hanya sedikit, sehingga apabila ada kosa kata baru maka akan mempengaruhi arti dari satu

kalimat yang ada. Usaha yang dilakukan oleh calon mahasiswa dengan menumbuhkan semangat belajar dalam diri, terus belajar dan tidak mudah putus asa.

Berdasarkan hasil wawancara kedua sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada penggunaan media pembelajaran yang digunakan oleh pengajar selain teks bacaan. Pengajar hanya menggunakan teks bacaan yang kemudian akan menjadi lembar kerja calon mahasiswa. Media konkret untuk pembelajaran Bahasa Indonesia untuk calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua sangat minim. Pengajar belum pernah menggunakan media konkret selama proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban narasumber pada

Berdasarkan hasil wawancara kedua sumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada penggunaan media pembelajaran yang digunakan oleh pengajar selain teks bacaan. Pengajar hanya menggunakan teks bacaan yang kemudian akan menjadi lembar kerja calon mahasiswa. Media konkret untuk pembelajaran Bahasa Indonesia untuk calon mahasiswa asal Kabupaten Mappi Papua sangat minim. Pengajar belum pernah menggunakan media konkret selama proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban narasumber pada