TINGKAT KEKERASAN SUAMI PADA ISTRI DITINIATT
DARI SEBELUM PERSELINGKUHAN SUAMI DIKETAHUI OLEH ISTRI DAN SESUDAH DIKETAHUI OLEH ISTO
SKRIPSI
Oleh
LUKY DEWIARYANTI
96 231 075
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2002
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakulta* Psikologi Univcrsitas Islam Indonesia untuk memenuhi
Sebagai Syarat - Syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana S-! Psikclofh
Olei
LI KV DEW? ARYANTJ
%23I 075
FAKL'LTAS PSIKOLOGI INIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA 2002
DEWAN PENGUJI
Dipertahankan di Depan Penguji Ujian Skipsi
Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Dan Diterima Lntuk Memenuhi Sebagai
Syarat- syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana S-l Psikologi
Pada Tanggal
Mengesahkan
Fakultas Psikologi I niversitas Islam Indonesia
Dekan
Dr. Sukarti
Tanda Tangan
1• Fuad Nashori. H, S. Psi.,M.Si.
2. Sukarti, Dr.
3. Sonny Andrianto, S. Psi.
i5> ^
4> ,# <#
^r ^
0£•!
Skripsi ini kepersentbahkan untuk :
Papa dan Mama tercinta yang selalu mendoakan ku Serta kakak dan kedua adikku tercinta
IV
Assalammualaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini yang berjudul "TINGKAT KEKERASAN SUAMI PADA ISTRI DITEVJAU DARI SEBELUM PERSELINGKUHAN SUAMI DIKETAHUI OLEH ISTRI DAN SESUDAH DIKETAHUI OLEH ISTRI"
yang merupakan salah satu persyaratan kelulusan dan untuk meraih gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kelemahan dan kekurangan pada diri penulis, sehingga penulis merasa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat menbangun demi perbaikan dalam penulisan pada skripsi ini sangat penulis
harapkan.
Sebelum itu dalam proses penyusunannya, yaitu mulai dari penelitian hingga selesainya skripsi ini, banyak sekali bantuarryang telah saya terima dari berbagai pihak. Oleh karena itu perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besamya dan juga permohonan maaf atas segala kesalahan yang penulis lakukan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
skripsi ini terutama kepada:
1. Ibu Dr. Sukarti, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam
Indonesia..
2. Bapak DR. H.Djamaluddin Ancok, P.hd selaku Dekan Psikologi UII yang
pertama.
3. Bapak H. Fuad Nashori, S.Psi, M.Si, selaku Pembantu Dekan III sekaligus
Dosen Pembimbing Utama dalam penulisan skripsi ini.
4. Bapak Sony Andrianto, S.Psi, selaku Dosen Pembimbing Pembantu.
5. Ibu Retno Kumolohadi, Psikolog, selaku Dosen Pembimbing Akademik
6. Mama dan Papa tercinta yang selalu memberikan doa dan semangat buat
Luky setiap saat sehingga apa yang Luky perbuat menjadi bermanfaat.
7. Kakak ( Mbak Upik dan Mas Arif )dan Adik ku ( Fitri dan Efan )
tersayang yang telah memberikan , doa, dukungan, dan semangat dalam
pengerjaan skripsi ini.
8. Yang selalu bersama dan menemani Luky ,Mas Irman ,tenma kasih untuk
sayang ,Perhatian, semangat, dukungan dan juga bantuan terutama bantuan
dalam pengetikkan skripsi ini
9. Ibu-ibu responden yang telah meluangkan waktunya
10. Sahabat-sahabat ku tersayang Dede, Sari, Yuni, Lady, El.y, Wulan, Ana,
yang selalu menemani dalam suka ataupun sedih.
11. Rekan-rekan se-ahnamater dan satu angkatan yang banyak membantu dalam proses belajar selama ini danjuga membantu dalam penyelesaian skripsi ini, Elicia, Dian, Ulfa, Hapsari, Ipeh, Sony, Zalvin, Wa.i, Oman, dan semua
teman - teman yang tidak dapat disebut satu persatu dismi
12. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Islam
Indonesia yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
VI
semoga skripsi saya ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.
Yogyakarta, Juni 2002
Peneliti
VI1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
i
HALAMAN PENGESAHAN
11
MOTTO
in
HALAMAN PERSEMBAHAN
IV
KATA PENGANTAR
v
DAFTAR ISI
viii
DAFTAR TABEL..
xi
DAFTAR LAMPLRAN
xii
BABIPENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah B. Tujuan Penelitian C. Manfaat Penelitian
Io
D. Keaslian Penelitian . 0
lo
BAB IILANDASAN TEORI
A. Kekerasan Terhadap Istri 20
1. Pengertian Kekerasan Terhadap Istri 20
2. Aspek-Aspek Kekerasan Terhadap Istri 213. Sejarah Kekerasan Terhadap Istri 23
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kekerasan
Suami Pada Istri 25
Vlll
1. Pengertian Perselingkuhan 33
2. Dampak Fisiologis Perselingkuhan 34
3. Dampak Psikologis Perselingkuhan 35
C. Pengaruh Perselingkuhan Terhadap Tingkat
Kekerasan Suami Kepada Istri 38
D. Hipotesis 40
BAB III METODE PENELITIAN 42
A. Identifikasi Variabel Penelitian 42
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 42
C. Subjek Penelitian 43
D. Metode Pengambilan Data 43
E. Metode Analisis Data 48
BAB IV HASLL PENELITIAN 50
A. Persiapan Penelitian 50
1. Subjek Penelitian 50
2. Skala Penelitian 50
B. Pelaksanaan Penelitian 52
C. Hasil Uji Coba Alat Ukur 54
D. Hasil Penelitian 55
1. Deskripsi Subjek Penelitian 56
2. Deskripsi Data Penelitian 57
E. Pembahasan 61
IX
BABVPENUTUP 65
A. Kesimpulan 65
B. Saran <•<•
DAFTAR PUSTAKA 67
Tabel. I Kategori kekerasan 23
Tabel. II Kategori kekerasan 46
Tabel. Ill Blue print skala kekerasan sebelum perselingkuhan
diketahui oleh istri 48
Tabel. IV Blue print skala kekerasan setelah perselingkuhan
diketahui oleh istri 48
Tabel. V Skala kekerasan terhadap istri sebelum perselingkuhan
diketahui oleh istri 56
Tabel. VI Skala kekerasan terhadap istri setelah perselingkuhan
diketahui oleh istri 56
Tabel. VII Deskripsi subjek penelitian 57
Tabel. VIII Kategori skor variabel kekerasan pada istri 58
Tabel. IX Deskripsi data penelitian 59
XI
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPLRANA
Skala Yang Digunakan
Data Penelitian Skala Kekerasan Terhadap Istri Sebelum Suami Diketahui Berselingkuh
Data Penelitian Skala Kekerasan Terhadap Istri Sesudah Suami Diketahui Berselingkuh
LAMPIRAN B Analisis Butir.
77 LAMPIRAN C
Uji Asumsi Normalitas
87
Uji Asumsi Homogenitas
LAMPIRAND
Analisis Penelitian Uji-t
LAMPIRAN E
Suratljin Penelitian..
95
x n
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kekerasan terhadap istri oleh suami adalah fenomena yang universal.
Derajat yang berbeda, kekerasan suami terhadap istri terjadi di semua wilayah melintasi batas-batas geografis, tingkat ekonomi, kelas ekonomi, kelas sosial dan juga budaya. Ini ditunjukkan oleh penelitian lintas budaya tentang kekerasan terhadap istri pada 14 wilayah oleh Brown & Campbell, 1992 (dalam Dewi, 1996) yaitu di Iran, India, Indo-Fiji, Taiwan, Kepulauan Marshal, Bun, Aborigin, desa- desa Ekuador, Kuns, Kaisai, Garifuna, Nagoulsi dan Mayotte Counts.
Divisionfor (he Advencement of Women, Centre for Social Development &
Humanitarian Affairs, saiah satu publikasi PBB (Hariadi, 1992), menyebutkan
kekerasan terhadap perempuan terjadi dalam rumah tangga. Tindakan itu mencakup penganiayaan secara fisik, seksual dan psikologis. Ahli lain seperti Walker (Dewi, 1996) menyebutkan bahwa kekerasan terhadap istri adalah kekerasan secara fisik atau psikis yang dilakukan oleh pasangan intimnya. Hampir sama dengan pendapat Walker, di atas Straus & Gelles (1986) menyatakan bahwa kekerasan pada istri merupakan periiaku agresi yang mengarah pada tindakan agar orang lain, dalam hal ini istri, secara psikis atau fisik terluka. Grant (1991) menyatakan bahwa kekerasan suami secara fisik dapat berbentuk pemukulan, menampar, menjambak, mendorong, dan menendang. Kekerasan yang bersifat psikis atau emosional berupa periiaku mengejck, membentak atau mengancam.
Kekerasan seksual terjadi misalnya pada periiaku suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan intim atau menggunakan kekerasan pada proses hubungan intim. Kekerasan suami menghasilkan akibat yang berbahaya pada kondisi psikis
maupun badan istri. Walker, Unger & Crawford, (dalam Dewi, 1996) melalui wawancaranya terhadap 120 perempuan yang mengalami kekerasan pada suaminya mencatat bahwa pihak istri mengalami penderitaan fisik seperti patah tulang, patah leher, bengkak pada mata dan hidung, luka di tangan, punggung dan kepala, sampai yang lebih parah seperti kehilangan ginjal atau perdarahan dalam.
Walker, Unger & Crawford, (dalam Dewi, 1996) juga berpendapat bahwa istri yang mengalami kekerasan oleh suami menderita apa yang ia sebut sebagai Battered woman's syndrome. Battered woman's syndrome adalah perasaan tidak
dapat ditolong (helplessness) pada istri karena istri berulang kali mengalami
kekerasan suami dan merasa tidak memiliki satu cara apapun untuk melindungi
diri atau melarikan diri dari kondisi itu.
Butler, dkk (dalam Hyden, 1994) melaporkan adanya akibat lain seperti perasaan malu, terhina, dan terasing. Akibat psikis lain pada istri yang mengalami
kekerasan bersifat tahan lama. Akibat ini merupakan simtom psikis seperti muncul depresi, impuls bunuh diri, sikap menyalahkan diri sendiri dan menurunnya kemampuan mempercayai orang lain dan membangun hubungan
dekat (Hyden, 1994).
Berbagai ahli berpendapat bahwa ketidakseimbangan kekuasaan seperti di atas, akan berdampak juga pada kepuasan perkawinan. Diungkapkan oleh Raven, dkk (1975) dan Madden (1987) bahwa istri akan mengalami ketidakpuasan dalam
merasakan ketidakpuasan dalam perkawinan jika status quo-nya sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga digoyahkan oleh istri <Heavey, dkk, 1993).
Hubungan suami istri yang seringkali disertai konflik antar mereka, sekali lagi terbentuk bisa terjadi kekerasan suami pada istri.
Babcock, dkk (1993) dan Gray, dkk (1983) menjelaskan bahwa hubungan kekuasaan dengan kekerasan menjadi positif jika didahului dengan adanya ketidakpuasan dalam perkawinan. Menurut Babcock dan Gray, bisa saja suami istri berada dalam situasi ketidakseimbangan kekuasaan tetapijika mereka merasa puas dalam perkawinannya, maka kekerasan suami terhadap istri tidak akan terjadi. Ketidakpuasan perkawinan dianggap sebagai faktor pemicu terjadinya kekerasan suami terhadap istri.
Walaupun kekerasan terhadap istri merupakan penyimpangan 'budaya' tetapi adalah semacam 'aturan' bahwa kekerasan terhadap istri merupakan yang sangat pribadi, di mana masyarakat tidak berani campur tangan sebelum salah satu pihak melaporkannya pada pihak berwenang (Hariadi, 1992). Faktor lain adalah berkaitan dengan shame culture yaitu pentingnya menjaga nama baik dan keutuhan keluarga, terutama pada keluarga yang center social lite-nya. ketat bersendikan pada tradisi dan adat. Dalam pada itu Prasetyarini (1990), lewat penelitiannya terhadap 100 keluarga di lima wilayah Jakarta, mengungkapkan bahwa jarang terungkapnya tindak kekerasan terhadap istri adalah karena adanya ketakutan istri akan mendapat penganiayaan yang berat.
Perselingkuhan dalam perkawinan bukan sesuatu hal yang baru. Usianya mungkin sama dengan usia lembaga perkawinan itu sendiri. Perselingkuhan sendiri adalah penyebab tertinggi dari bertambahnya jumlah perceraian (Shappiro, 2000). Menurut Kinsey (dalam Shappiro, 2000), seorang pakar terkemuka dalam bidang seksualitas, sekitar setengah dari lelaki yang sudah kawin mengadakan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan lain pada suatu waktu.
Kekerasan karena nafsu atau dorongan perasaan tiba-tiba akibat perselingkuhan sering terjadi. Bunuh diri dapat terjadi jika orang tidak diberi sesuatu perspektif dan penyelesaian terhadap problema tersebut. Perempuan mempunyai pengalaman dengan berbagai bentuk kekerasan fisik dan seksual, secara signifikan lebih cenderung bermaksud bunuh diri dalam suatu waktu dalam hidupnya daripada
perempuan yang tidak teraniaya.
Pada umumnya kaum wanita memandang perselingkuhan yang dilakukan suami dihubungkan dengan ketidakbergunaan mereka. Wanita cenderung sedih dan menyakiti diri mereka sendiri dan mempunyai kemungkinan memulihkan hubungan dan menjaganya agar tetap hidup walaupun butuh waktu lama untuk sembuh dari cedera emosional atas perselingkuhan yang dilakukan pasangannya.
Sebaliknya, pria jikadiketahui berselingkuh cenderung marah dan memukul orang
lain dengan kejam, sekalipun hanya dalam fantasi mereka.
Berdasarkan penjelasan di atas jelas wanita mendapat perlakuan kekerasan secara emosi seperti mengintimidasi dengan sengaja (dengan teriakan dan membanting sesuatu), menyakiti perasaan dan secara tidak langsung menghina di depan orang lain, serta perlakuan secara fisik seperti memukul. Sebuah survei
mengungkapkan bahwa dari 126 responden perempuan di Yogyakarta, 48%
mengalami kekerasan emosional dan 23,3% mengalami penganiayaan fisik (Rifka
Annisa WCC, dalam Hakimi, dkk, 2001).
Banyak istri tidak mengetahui bahwa suaminya melakukan perselingkuhan, permasalahannya ketika mereka menemukan sejumlah gejala perubahan periiaku pasangannya yang terjadi secara drastis. Artinya, sebelumnya pasangannya tidak berperilaku demikian tetapi akhir-akhir ini pasangan mereka berperilaku tidak seperti biasanya. Dari hasil uraian dari para kliennya Satiadarma (2001) mengungkapkan beberapa aspek gejala yang perlu diwaspadai dalam
perubahan periiaku pasangannya antara lain:
1. Kerahasiaan
Kerahasiaan merupakan tema sentral yang sering diajukan para istri sebagai landasan kecurigaan atas perselingkuhan yang dilakukan suami.
Kerahasiaan terkait dengan periiaku suami yang menurut para istri cenderung menutup-nutupi kegiatan yang mereka lakukan contoh jika istri menanyakan kegiatan suami di kantor, suami cenderung bersikap menghindar atau memberikan jawaban yang kurang dapat diterima oleh istri. Misalnya, suami mengatakan
kepada istri untuk tidak usah menanyakan urusan kantor karena bukan urusan istri
untuk mengetahuinya. Bahkan tidak jarang suami berperilaku marah terhadap istrinya dengan mengatakan bahwa istrinya terlalu mencurigai dirinya sehingga ia merasa tersinggung. Dengan demikian istri tidak berani bertanya lagi.
2. Perhatian
Secara logis tentunya hal ini mudah dipahami. Jika seseorang memeberikan perhatian kepada lebih dari satu orang, tentunya bobot perhatian kepada satu individu akan berkurang karena tersita oleh adanya perhatian kepada individu yang lainnya. Kehadiran wanita lain diluar kehidupan perkawinan seseorang mengakibatkan kapasitas perhatian suami kepada istri berkurang.
Beralihnya perhatian suami baik sebagian kecil maupun sebagian besar dari istrinya kepada orang lain didasari oleh adanya selektivitas suami. Adapun faktor selektifini dipengaruhi baik oleh kebutuhan individu yang bersangkutan maupun dari isyarat yang ditampilkan oleh stimulus yang bersangkutan. Sifat selektif suami didasari oleh kebutuhan yang tengah ia miliki pada suatu saat tertentu dan adanya isyarat dari istri atau wanita lainnya. Isyarat ini meliputi dua aspek, yaitu:
aspek fisik misalnya penampilan seseorang dan cara berpakaian seseorang. Dan aspek psikis misalnya pola hubungan interpersonal dan pola komunikasi antar
individu
Selanjutnya aspek seletivitas ini secara bertahap akan mempengaruhi atau bahkan membentuk otomatisasi. Sebagai contoh, tokoh wanita lain diluar perkawinan sepasang suami istri tentunya memiliki nama tertentu dan karakteristik suara tertentu. Nama dan karakteristik suara adalah bentuk isyarat.
Ketika nama orang tersebut disebut, suami dari pasangan pernikahan itu secara otomatis tergugah perasaannya. Atau, l^etika ia mengangkat telepon dan mendengar isyarat suara dari wanita tersebut, perasaannya secara otomatis tergugah. Berikutnya, otomatisasi gugahan perasaan mempengaruhi kesadarannya pun akan terpengaruh. Apabila individu yang bersangkutan mampu
Demikian pula apabila kesadarannya terkendali, perasaannya tidak akan terlalu
mudah dipengaruhi.
3. Lupa
Hal yang erat kaitannya dengan perhatian adalah lupa. Banyak yang diantara mereka yang melaporkan suaminya berselingkuh mengeluh bahwa suami mereka melupakan berbagai hal yang selayaknya tidak dilupakan misalnya hari ulang tahun, hari pertunangan , dan hari pernikahan. Kembali perlu ditekankan bahwa mereka yang lupa hari ulang tahun pasangannya, hari pertunangan, dan pemikahan tidak berarti mereka berselingkuh. Lupa bisa terjadi karena hambatan mekanisme fisiologis akibat dari kerancuan pemetaan system penyimpanan data ingatan di otak. Hanya saja memang dapat dipahami bahwa kehadiran orang lain yang mengintervensi hubungan interpersonal pasangan pernikahan merupakan salah satu bentuk kondisi yang dapat menimbulkan proses lupa didalam ingatan
seseorang.
Dalam kasus perselingkuhan, penampilan wanita lain mungkin lebih menggugah isyarat emosional seseorang. Secara kontekstual hubungan emosional
yang bersangkutan juga lebih erat dan keberadaan wanita lain tersebut lebih menggugah suasana hati seseorang dari pada keberadaan sitrinya sendiri. Jika seseorang menangkap isyarat tertentu maka isyarat tersebut akan membangkitkan ingatan tertentu yang mengintervensi ingatan lainnya. Seorang suami yang berselingkuh mungkin akan mengingat tanggal pertemuan awalnya dengan wanita lain di luar pernikahannya, dan tanggal tersebut mengintervensi ingatan pada
tanggal pertunangan dengan istrinya. Spesifikasi isyarat tidak cukup untuk mengintervensi suatu ingatan, karena mungkin saja ingatan yang sudah lama tertanam lebih kuat pengakarannya dari pada informasi yang baru-baru ini terjadi.
Mungkin saja konteks pertemuan yang bam terjadi menimbulkan impresi yang lebih kuat didalam diri seseorang dari pada konteks pertunangan yang telah terjadi
relatif cukup lama.
Aspek kontekstual ini pun sesungguhnya tidak cukup untuk mengintervensi ingatan tanpa adanya aspek suasana hati yaitu suasana hati seseorang memiliki peran besar dalam berlangsungnya proses mengingat. Jika suasana hati seseorang dalam peristiwa tertentu cukup mendukung, maka ia cendemng akan mengingat peristiwa tersebut secara lebih kuat hal ini berlaku baik
dalam pengertian positif maupun negatif. Secara positif, misalnya roamntisme
seseorang tengah tergugah ketika melangsungkan pertemuan tertentu, maka iaakan cenderung mengingat pertemuan tersebut secara lebih rinci. Secara negatif, misalnya seseorang mengalami peristiwa yang amat mengerikan dan ia cendemng
mengingat peristiwa itu secara terns menems. Dalam hal ini temasuk kondisi traumatis yang sudah cukup banyak dipahami oleh orang banyak.
4. Sikap
Perubahan sikap yang paling nyata dan sering terjadi dalam kasus perselingkuhan adalah : kecendemngan untuk merahasiakan sesuatu, bertindak
defensif (mempertahankan diri), dan berbohong. Karakteristik perselingkuhan adalah hubungan yang bersifat rahasia. Apabila seseorang merasa rahasianya
terancam maka cendemng bertindak defensif, misalnya mengatakan bahwa
Ia mengatakan bahwa pasangannya menyinggung perasaannya dengan pertanyaan
tertentu. Akibatnya pasangannya kemudian mencoba tutup mulut. Hal ini membuat pelaku perselingkuhan untuk sementara waktu berhasil menghindari ancaman pengungkapan perselingkuhan. Disamping itu, ia jadi tambah waspada dengan ancaman yang mungkin timbul. Karena itu, ia kemudian sejumlah rencana bam untuk membohongi pasangannya. Tentunya ia menyusun strategi ini bersama dengan pasangan perselingkuhannya, dan dilakukan secara rahasia pula.
Karenanya kerahasiaan itu sendiri sebagai hal yang memperkuat periiaku perselingkuhan, dan sikap membangun kerahasiaan memperkuat sikap untuk
melanjutkan perselingkuhan.
Sikap mempunyai fungsi evaluatif jadi, sikap seseorang terhadap sesuatu berkaitan erat dengan bagaimana orang tersebut mengevaluasi atau menilai suatu objek, situasi atau keadaan tertentu. Penilaian suami terhadap istri ( atau sebaliknya) akan mempengaruhi penggunaan label tertentu pada diri seorang istri.
Yang dimaksud dengan label bukan saja nama tetapi juga julukan, isyarat suatu keadaan tertentu, situasi atau kandisi tertentu. Seperti bagus, jelek, indah, bumk, pandai, pandir, menyenangkan, menyedihkan, merepotkan, menggembirakan, pemarah, pendendam, cerewet, iri hati dan dengki adalah label. Setiap orang cenderung menilai dirinya sendiri maupun orang lain. Hasil penelitian tersebut
berbentuk label.
Dalam kasus hubungan suami istri, label yang diberikan suami kepada istri (atau sebaliknya) telah terlebih dahulu didasari oleh norma subjektif penilai. Yano-
10
dimaksuk norma subjektif adalah ukuran pertimbangan subjektif yang dimiliki
oleh peniiai itu sendiri. Adapun norma subjektif tersebut terbentuk dengan dilandasi oleh adanya reaksi emosional yang saling mempengaruhi dengan aspek
penalaran yang dimiliki individu peniiai. Jadi, suami menilai istri secara subjektif dan istri pun melakukan hal yang sama karena masing-masing peniiai telah memiliki standar norma subjektif. Standar norma subjektif inilah yang mendasari evaluasi suami terhadap istri atau sebaliknya, dan evaluasi ini mempengaruhi sikap mereka. Di dalam kasus perselingkuhan, yang acap kali terjadi adalah salah satu pasangan, suami misalnya, mengevaluasi istrinya secara negatif : istridianggap tidak mampu memenuhi standar norma subjektif yang dimilikinya, karena itu sikapnya menjadi negatif. Di lain pihak, si suami bertemu dengan wanita lain, yang pada saat itu mampu memenuhi kriteria norma subjektif yang
dimilikinya, sehingga sikapnya terhadap wanita tersebut menjadi baik pula.5. Kebersamaan
Kebersamaan dapat berarti keadaan ada bersama secara fisik. Tetapi aspek
fisik semata-mata tidak membatasi pengertian kebersamaan. Karena mungkin saja
terjadi lebih dari satu orang berada bersama di dalam suatu situasi dan kondisi tertentu namun tidak saling mengenal satu sama lain. Disamping batasan fisik, kebersamaan juga mencakup kehadiran secara psikis. Kalangan awam pun sudah cukup memahami bahwa aspek emosional memiliki peran penting dalam
hubungan perkawinan seseorang. Cinta adalah emosional sifatnya. Berkurangnya kedekatan dan kelekatan hubungan emosional sering kali diinterpretasikan sebagai
berkurangnya cinta. Berkurangnya hubungan emosional dimanifestasikan ke
dalam bentuk berkurangnya kehadiran emosional. Kehadiran emosional adalah kesediaan seseorang untuk memberikan respon emosional manakala ia menghadapi orang lain yang tengah mengalami gejolak emosional.
Aspek persepsi juga merupakan indikator penting yang dapat digunakan untuk menditeksi tingkat keselarasan hubungan interpersonal. Makin besar kesenjangan persepsi antar individu makin renggang hubungan di antara keduannya. Banyak pengadu masalah perselingkuhan menyatakan bahwa
pasangannya yang dicurgai berselingkuh akhir-akhir ini sering tidak memeliki
kesamaan pandangan dengan dirinya. Bahkan banyak diantara mereka yang
mengatakan bahwa mereka tidak dapat menemukan titik temu dalam upaya untuk mengatasi kesenjangan pandangan. Selanjutnya, yang sering terjadi adalah
perdebatan yang semakin hari semakin tinggi intensitasnya dan akhimya
membawa mereka pada kondisi hubungan yang retak. Banyak istri mengadukankecurigaan mereka tentang perselingkuhan yang dilakukan suaminya
mengemukakan misalnya suami cendemng menjauh, suami tidak berminat
berkomunikasi secara fisik suami ada bersamanya tetapi enggan bicara, suami
sibuk sendiri dengan pekerjaannya, suami tidak menghargai sedikit pun upaya
istri. Ada pula yang mengatakan bahwa akhir-akhir ini suaminya sering
melontarkan kata-kata kasar bahkan cendemng kotor, padahal sebelumnya tidakdemikian. Akibatnya hubungan mereka terasa demikian renggang. Istri tidak lagi
merasa berada dengan suaminya sehingga ia merasa demikian asing dihadapan suaminya. Kemudian secara bertahap timbul pula keraguan istri untuk bemsaha berada bersama dengan suaminya, sehingga kerenggangan hubungan semakin12
terasa. Di dalam kasus, sering terjadi bahwa periiaku perselingkuhan memang secara sengaja membangun ketidakbersamaan ini dengan menunjukkan sikap
tertentu sehingga memberi kesan hubungan renggang suami terhadap istri.
Untuk mengantisipasi terjadinya perselingkuhan ada beberapa hal yang
perlu dilakukan menumt Satiadarma (2001) antara lain : 1. Berada dalam pasangan perkawinan
Keberadaan bersama pasangan perkawinan mempakan bukti paling nyata akan adanya niat dan tekad untuk mempertahankan keberadaan rumah tangga.
Berada bersama secara fisik mempakan hal yang paling besar manfaatnya untuk
menghindari peluang terjadinya perselingkuhan. Akan tetapi hal ini tidak
senantiasa dapat dilangsungkan, karena banyak Iapangan kerja yang tidak memungkinkan individu untuk tems-menems dimmah. Di samping itu belum tentu minat kedua pasangan perkawinan adalah sama, bahkan mungkin minat
mereka berbeda dan masing-masing ingin memiliki karir sendiri juga.Berada bersama psikologis artinya setiap saat mampu mendampingi pasangannya dalam berbagai keadaan baik mengatasi masalah kerja sehari-hari, hubungan interpersonal, juga mencakup kesediaan masing-masing pasangan untuk bersedia dihubungi setiap saat dibutuhkan. Misalnya dengan berkembangnya alat- alat komunikasi modern dewasa ini mereka dapat memanfaatkan jasa telepon
genggam untuk saling berhubungan satu sama lain bila dibutuhkan. Berada
bersama menunjukkan kemginan untuk saling menemani, mendampingi
pasangannya dalam berbagai situasi, khususnya dalam situasi yang sulit. Hal ini
mempakan suatu kondisi yang sangat berkebalikan dari kondisi perselingkuhan.
Karena di dalam kasus perselingkuhan justru yang terjadi adalah masing-masing
pasangan menghindari satu sam lain dan membenyuk hubungan dengan pihak lain
diluar hubungan perkawinan mereka.
2. Membina komunikasi
Komunikasi mempakan aspek yang sangat penting dalam hubungan antar manusia. Komunikasi adalah jembatan hubungan antar manusia. Komunikasi
bersifat verbal dan non verbal. Komunikasi verbal mencakup hal-hal yang terkait dengan ucapan serta kata-kata, sedangkan komunikasi non verbal mencakup bahasa tubuh dan bahasa simbolik. Bahasa tubuh mencakup ekspresi wajah dan
respon-respon ketubuhan seperti misalnya menyentuh, memeluk, mencium dan
sebagainya. Penggunaan kata-kata tertentu khususnya label-label yang negatif sifatnya hams dihindari. Sebagai contoh kecendemngan mencemooh,
menyalahkan, melontarkan kata-kata kotor hams dihindari. Bahkan dalam kontek prilaku kekerasan, penggunaan kata-kata kotor mempakan bentuk kekerasan secara psikis (verbal). Walau pun tidak selalu, namun banyak kasus
perselingkuhan dibumbui dengan sikap saling mencemooh antar pasangan
perkawinan.
Memperbaiki frekuensi komunikasi hanya dapat dilakukan dengan peningkatan keberadaan pasangan secara bersama-sama. Sedangkan kualitas komunikasi dapat diperbaiki melalui berbagai cara seperti menghindari lingkungan komunikasi yang buruk, memperoleh masukan tentang pola komunikasi yang baik. Contoh kongrit dari lingkungan komunikasi yang bumk
adalah tontonan atau film serta bahan bacaan yang tidak mendidik. Masukan
14
tentang komunikasi yang baik dapat diperoleh dari bahan-bahan bacaan ilmiah
atau yang bersifat mendidik. Bahasa tubuh mempakan aspek penting dalam komunikasi. Sentuhan ketubuhan dapat bersifat kasar melalui pemukulan dapat
pula bersifat halus melalui belaian. Pemukulan akan menimbulkan rasa sakit
sedang belaian akan menimbulkan rasa senang dan bahagia. Sama hal nya kecendemngan mencemooh dalam aspek verbal, kecendemngan tindak kekerasan fisik pun hams dihindari. Pemukulan mempakan salah satu bentuk komunikasi
untuk memerintahkan seseorang mentaati kehendak yang memukul. Akan tetapi
cara ini mempakan suatu bentuk pemaksaan yang bersifat melecehkan hai individu untuk hidup bahagia. Karenanya cara seperti ini hams dihentikan.
Sebaiknya para pasangan perkawinan lebih mengembangkan pola komunikasi dengan bujukan dan belaian kasih sayang.
3. Menghidupkan Keindahan Masa Lalu
Banyak di antara pasangan perkawinan yang mengadukan berbagai masalah perkawinannya yang temyata tidak lagi melakukan kegiatan seperti dahulu ketika masih pacaran. Banyak pasangan perkawinan tidak lagi makan bersama, beriibur bersama kecuali jika dengan seluruh keluarga. Alasan yang dikemukakan bermacam-macam, mereka yang sudah mempunyai anak
mengatakan bahwa sulit meninggalkan anak-anak mereka sendiri dimmah.
Padahal selama mereka bekerja anak-anak ditinggal bersama pembantu dimmah.
Sebagaian dari mereka juga seolah-olah memikirkan anak-anak dengan
mengatakan bahwa kasihan kalau anak-anak tidak diikut sertakan berlibur bersama. Tetapi khususnya pelaku perselingkuhan, mereka berkesempatan untuk
berselingkuh tanpa memikirkan anak-anak dan pasangan perkawinannya. Adalah suatu hal yang ironis bahwa mereka demikian khawatir akan perkembangan anak- anaknya, akan tetapi mereka sendiri sering mengabaikan dampak lebih besar yang terjadi pada anak-anak mereka jika mereka sendiri selaku orang tua mengalami
konflik satu sama lain.
Awal mula sebuah keluarga adalah sepakatan pasangan untuk hidup bersama. Pasangan itulah tonggak utama keluarga. Kesepakatan yang mereka buat bersama melalui proses yang relatif panjang. Biasanya dalam proses tersebut
mereka membuat program kegiatan bersama. Kegiatan bersama tersebut adalah
landasan yang hams mereka tegakkan dan pertahankan. Akan tetapi tidak lama
perkawianan dilangsungkan mereka tidak lagi memperhatikan landasanperkawinan yang mereka bangun. Mereka melupakan landasan hubungan
emosional diantara mereka dan membiarkan lapuk termakan waktu. Bahkan
setelah timbul peristiwa percekcokkan diantara keluarga, mereka tetap
mempertahankan untuk tidak lagi memperhatikan landasan perkawinan tersebut.
Sungguh ironis seolah-olah hubungan emosional hanya diberiakukan pada saat pacaran dan tidak lagi dalam hubungan perkawianan. Sungguh suatu hal yang
kelim kalau menganggap kehidupan keluarga hanya dilandasi oleh kebutuhanekonomi tanpa kebutuhan lain. Hubungan emosional pasangan perkawinan selayaknya lebih erat dari hubungan pacaran. Intensitas hubungan emosional pada
masa pacaran dahulu selayaknya ditingkatkan dan bukan malah dikurangi dalam
hubungan emosional perkawinan. Demikian pula halnya aspek ekonomi. Apalagi
dalam masa-masa sulit tentu bisa dimengerti bahwa kebutuhan ekonomi begitu
16
besar untuk menghidupi mmah tangga. Karena desakan serta tekanan kerja
menjadi demikian besar. Ada memang orang-orang professional yang diharapkan bahkan mengorbankan dirinya demi institusi atau masyarakatnya. Mereka ini memang telah memilih profesi diatas segala-galanya, bahkan mungkin mengorbankan keluarga mereka dan diri mereka sendiri. Pada dasarnya individu mencari kerja untuk menghidupi keluarganya, apalah makna sebuah keluarga jika anggota keluarga mengabaikannya demi kerja. Jika dukungan psikologi untuk keluarga tidak cukup sekalipun dukungan finansial yang cukup besar, ada kecendemngan anggota keluarga akan tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan harapan. Hali-hal seperti ini kiranya perlu dijadikan pertimbangan oleh pasangan perkawinan agar menyadari betapa besar manfaat untuk tetap mempertahankan dasar hubungan emosional mereka seperti pada masa pacaran.Bahkan jika mungkin meningkatkan intensitasnya dalam derajat hubungan yang
lebih baik.
4. Berbagi
Pengertian berbagi disini lebih konkret sifat dan sering kali cendemng
dihindari oleh sejumlah pasangan karena berbagai alasan tertentu baik yang
masuk akal maupu tak masuk akal. Alasan masuk akal misalnya pemisahanrekening dilakukan untuk merinci biaya kebutuhan mmah tangga secara terpisah dengan biaya kebutuhan bisnis. Alasan tak masuk akal misalnya istri tidak perlu
mengetahui rekan-rekan bisnis suami atau suami tidak perlu mengetahui rekan-
rekan kerja dan kegiatan sosial istri. Contoh berbagi yang dimaksud misalnya
berbagi dalam segi keuangan, artinya suami dan istri mempunyai rekening yang
sama di bank, sehingga masing-masing pihak dapat memeriksa keuangan mereka.
Ada berbagai alasan khusus yang bersifat hukum memang untuk membuat
rekening secara terpisah dalam hal-hal tertentu namun yang lebih penting disini sebenarnya adalah kedua belah pihak memiliki jalur untuk dapat mengakses
informasi dari masing-masing pihak.
Hal ini hendaknya dilakukan bukan atas dasar pemaksaan atau kehamsan melainkan atas kesadaran kedua belah pihak bahwa mereka tidak memiliki
kerahasiaan apapun dalam hubungan satu sama lain sebagai suami istri. Banyak
para pasangan merasa keberatan dengan cara ini. Alasan yang mereka kemukakan adalah masalah privacy (privasi). Benarlah bahwa privasi tidak hams mengakibatkan perselingkuhan, namun perselingkuhan mempakan bentuk
penyalahgunaan privasi, dan privasi memperlebar peluang terjadinya perselingkuhan jika individu yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan diri.
Jadi bentuk usaha berbagi seperti ini sesungguhnya mempakan alat Bantu bagi
individu yang bersangkutan untuk lebih mengendalikan diri. Ia sendiri hams
bersedia memiliki niat dan tekad untuk mengendalikan diri, dan bila mana perlu
memperoleh bantuan hal atau orang lain untuk mengendalikan dirinya.
Berdasarkan fenomena yang ada peneliti bermaksud untuk mengetahui sejauh mana pengamh atau dampak periiaku kekerasan terhadap istri, ketika
suami melakukan perselingkuhan, sehingga dengan adanya penelitian mi kitadapat mengetahui apakah benar jika suami diketahui berselingkuh kekerasan
terhadap istri meningkat.
18
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kekerasan suami terhadap istri sebelum perselingkuhan suami di ketahui oleh istri dan
sesudah diketahui oleh istri.
C. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan memperluas wawasan dalam melihat peristiwa kekerasan terhadap istri.
b. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam bidang psikologi sebagai bahan pemikiran dan penelitian lebih Ianjut mengenai
kekerasan pada istri.
2. Manfaat Praktis
Pemahaman dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan bagi para abli psikologi, ilmu sosial, penegak hukum, dan pekerja sosial untuk lebih memperhatikan masalah-masalah perempuan.
D. Keaslian Penelitian
Setelah mencermati hasil penelitian mi tentang kekerasan dalam mmah
tangga memang sudah ada yang melakukan penelitian. Sebagian ada yang
menjadi referensi bagi peneliti. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti
dengan penelitian yang sudah ada adalah variabel bebasnya yaitu, keterkaitan
perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, dengan tingkat kekerasan pada istri
sebelum perselingkuhan suami di ketahui oleh istri dan sesudah di ketahui oleh
istri.
Riset lain yang pernah dilakukan dengan topik kekerasan terhadap istri : 1. Kekerasan Suami Pada Istri di Masyarakat Perkotaan Yogyakarta Ditinjau
Dari Marital Power Dan Kepuasan Perkawinan Suami (Dewi, 1996).
Dengan hasil penelitian, tingkat kekerasan pada istri dalam penelitian ini tergolong rendah, sedang tingkat marital power dan kepuasan perkawinan
suami terrnasuk tinggi.
2. Konsep Diri Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Winta,
2001)
Dengan hasil penelitian, menunjukkan perempuan korban kekerasan dalam
mmah tangga cendenmg memiliki konsep diri negatif. Ketika berhadapan dengan pasangannya, mempunyai perasaan tidak aman, kurang penerimaan
terhadap din' sendiri.
Sejauh ini yang meneliti tentang topik yang akan diteliti oleh peneliti belum ada, sehingga dapat dikatakan topik penelitian ini masih bam dan belum
ada yang meneliti.
BABH
LANDASAN TEORI
A. Kekerasan Terhadap Istri 1. Pengertian Kekerasan Terhadap Istri
Literatur yang membahas kekerasan terhadap istri memiliki beberapa istilah untuk kekerasan terhadap istri, misalnya kekerasan dalam mmah tangga (domestic violence), penganiayaan terhadap istri (Wife Abuse), penganiayaan dalam perkawianan (marital assault), kekerasan terhadap perempuan (woman battery), penganiayaan suami (spouse abuse), pemukulan terhadap istri (wife beating), kekerasan dalam perkawinan (conjugal violence), kekerasan yang sering
terjadi (intimate violence), kekerasan (battering), kekerasan yang dilakukan oleh
pasangan (partner abuse), ( dalam Dewi, 1996).
Division for the Advencement of Women, Centre for Social Development and Humanitarian Affairs, salah satu publikasi PBB (Hariadi, 1992) menyebutkan
bahwa kekerasan terhadap istri adalah tindakan yang terrnasuk pada pengertian kekerasan terhadap perempuan dalam tindakan itu mencakup penganiayaan secara
fisik, seksual dan psikologis.
Walker (dalam Dewi, 1996) menyebutkan bahwa kekerasan pada istri
adalah kekerasan secara fisik atau psikis yang dilakukan oleh pasangan intimnya.
Walker (dalam Straus &Gelles, 1986) menyatakan bahwa kekerasan terhadap istri
merupakan periiaku agresi yang mengarah pada tindakan agar orang lain dalamhal mi istri secara psikis atau fisik terluka.
20
Grant (1991) dengan tekanan yang sama dalam karyanya Breaking the Cycle of Violence, mendefinisikan kekerasan domestik pola sebagai pola periiaku menyerang (assaultive) dan memaksa (coersive), terrnasuk serangan secara fisik, seksual dan psikologis, juga pemaksaan secara ekonomi, yang dilakukan oleh orang dewasa kepada pasangan intimnya.
Hasbianto (dalam Hakimi, 2001), peneliti dari Riska Annisa (Women's Crisis Centre) Yogyakarta, membatasi pengertian kekerasan dalam mmah tangga (domestic) sebagai suatu bentuk penganiayaan (abuse) secara fisik maupun emosional atau psikologis yang mempakan suatu cara pengontrolan terhadap pasangan dalam kehidupan mmah tangga.
Grant (1991) menyatakan bahwa kekerasan secara fisik dapat berbentuk pemukulan, menampar, menjambak, mendorong dan menendang kekerasan yang bersifat psikis atau emosional bempa periiaku mengejek, membentak atau mengancam. Sedangkan kekerasan seksual terjadi misalnya pada periiaku suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan intim atau menggunakan kekerasan pada proses hubungan intim.
Kekerasan suami terhadap istri adalah berbagai bentuk periiakubaik psikis (verbal atau non verbal), fisik maupun seksual yang dilakukan suami dengan maksud untuk melukai fisik atau emosi yang dapat menyebabkan keamanan dan hidup istri dalam batas yang mengkhawatirkan.
2. Aspek-aspek Kekerasan Terhadap Istri
Menurut Konstmksi Ptacek (dalam Dewi, 1996) aspek-aspek kekerasan meliputi:
22
a. Kekerasan Psikis, terdiri dari kekerasan verbal yang meliputi:
tindakan mengancam untuk melukai atau membunuh, mengancam akan
menceraikan,melukai perasan dan harga diri dengan kata-kata. Dan kekerasan non verbal seperti tidak mau bertanggung jawab secara ekonomi, menolak
berkomunikasi dengan tanda-tanda bahasa tubuh.
b. Kekerasan fisik, bempa kekerasan fisik seperti menampar, menarik rambut, melempar dengan barang, memukul dengan benda keras, menendang, mendorong tubuh istri, mencekik dan menggunakan sejata tajam untuk
melukai.
c. Kekerasan seksual, yaitu memaksa langsung untuk melakukan hubungan
seksual.
Dewi (1996) menambahkan kategori kekerasan meliputi:
a. Kekerasan psikis (verbal dan non verbal)
Kekerasan verbal ringan seperti.bertengkar dengan sedikit berteriak, kekerasan verbal cukup seperti:menyinggung dengan kata-kata tajam,kekerasan verbal
beratseperti.mencela didepan umum, membentak.
Dan kekerasan non verbal ringan seperti: mengacuhkan istri, kekerasan non
verbal cukup seperti: keluar ruangan dengan membanting pintu, menghentakkan kaki. Kekerasan non verbal berat seperti: mengancam
menceraikan, mengancam mencari wanita lain.
b. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik dimulai dari yang ringan seperti mendorong tubuh istri tidak kuat, menuju ke kekerasan yang cukup seperti menampar, menarik rambut istri,
sampai kepada kekerasan berat seperti memukul, melukai dengan senjata tajam.
Kategori kekerasan secara lebih lengkap bisa dilihat pada tabel I
Tabel. I
I
Klasifikasi Kekerasan
Kategori
Psikis ! Fisik
Verbal Non Verbal
Ringan - Bertengkar dengan
sedikit berteriak
- Acuh tak acuh - Mengancam
- Memukul
- Mendorong (tidak kuat)
Sedang - Menyinggung - Mengomentari tubuh
istri
- Keluar ruangan dengan menghentak
kaki.
- Keluar ruangan dengan membanting pintu.
- Mencengkeram - Mendorong (hampir
jatuh) - Menampar - Menarik rambut
Berat - Mencela terus
menerus.
- Mengungkit kejelek-
an istri secara terus
menerus.
- Membentak - Mengumpat - Mencela di depan
u m u m
- Mengancam mence- raikan
- Mengancam mencari
wanita lain.
- Tidak memberi nafkah ekonomi - Menolah
berhubungan intim - Menggebrak meja
dihadapan istri.
- Melempar barang (tidak ke arah istri) - Membanting barang
- menendang
- mencekik
- memukul (dengan tangan kosong) - memukul (dengan
benda keras)
- memukul sampai luka
- mencoba melukai
(dengan senjata tajam)
- mencoba membunuh
- memaksa berhubngan intim (dengan fisik).
- Melukai (dengan senjata tajam)
3. Sejarah Kekerasan Terhadap Istri
Kekerasan terhadap istri adalah fenomena universal baik ditinjau dari rentang waktu terjadinya maupun konteks di mana kekerasan itu terjadi.
Fenomena kekerasan pada istri dapat diketahui terjadinya pada saat fenomena ini atau masa lampau. Fenomena ini juga dapat ditemukan di setiap lapisan masa dengan tingkat ekonomi sosial, agama dan budaya.
24
Langley dan Levy (1987), mereka menjelaskan bahwa terjadinya kekerasan terhadap istri dimulai dengan adanya usaha membedakan fungsi laki- laki dan perempuan pada masa awal sejarah peradaban manusia. Pada awalnya laki-laki adalah pemburu, begitu pula perempuan. Dalam menjalankan tugas ini
perempuan menjadi berkurang kemampuannya terutama pada saat mereka
mengalami menstruasi atau sedang mengandung. Perbedaan peran yang berakar dalam perbedaan fisiologis ini kemudian melahirkan konsep keunggulan laki-laki atas perempuan. Kemudian berkembang sistem sosial, konsep keunggulan laki-
laki ini bembah menjadi satu hukum yang tetap dan dijadikan satu kepastian yang tidak dapat bembah dalam hukum adat, tata nilai sosial, norma keagamaan, peraturan dan hukum. Pada akhirnya laki-laki dianggap menempati posisi di atas
perempuan. Posisi ini melegitimasi kuasa dan wewenang laki-laki atasperempuan, sehingga ia berhak untuk membuatnya patuh, mendisiplinkan dan
mendidik bila perlu bahkan dengan menggunakan cara kekerasan.
Fakta sejarah tentang kekerasan terhadap istri juga disebutkan oleh Dobash
dan Dobash (dalam Gelles, 1995). Mereka menyebutkan bahwa perlakuan suami di masa Romawi kuno yang dapat menghukum, menceraikan atau membunuh istrinya di Iapangan orang dewasa, dalam acara mabuk-mabukan, atau dalam permainan umum. Daly juga menyebutkan contoh Iain yaitu adanya tradisi membakar janda di India, upacara mengikat kaki perempuan di Tiongkok dan pembantaian perempuan yang didakwa menjadi dukun di Eropa pada masa
"pencerahan" Bhasin (dalam Dewi, 1996).
Indikasi tentang masifnya kekerasan pada istri juga dapat ditemukan dalam
bidang hukum. Pada abad pertengahan (sekitar abad 15) di Eropa, suami dibebaskan untuk memukul istrinya meskipun kekerasan brutal dianggap sebagai kebumkan. Pada waktu yang sama, di Wales, Inggris, lahir peraturan yang mengijinkan suami memukul istri yang tidak disiplin dengan tiga pukulan
menggunakan tongkat sepanjang lengan dan setebal jan tengah. Peraturan ini
kemudian diberiakukan di wilayah-wilayah hukum Inggris yang dikenal sebagai rule ofthumb. Istilah rule ofthumb diartikan sebagai suami berhak menyiksa istri dengan cambuk atau rotan asalkan ukurannya tidak lebih besar dari ibu jarinya
(Dewi, 1996). Dua ratus tahun sebelumnya suami bahkan disahkan melakukan
kekerasan dalam bentuk apapun dengan menggunakan alasan "mengajari"
istrinya.
Mencermati sejarah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kekerasan
suami terhadap istri telah teijadi seiring dengan evolusi peradaban manusia.
Kekerasan terhadap istri terns terjadi di masa sekarang dan masa datang karena sulit ditemukan kapan kekerasan pada istri dapat berhenti, sehingga menumt Calvert (dalam Langley &Levy, 1987) menyatakan bahwa tidak ada waktu yang jelas kapan seseorang dapat mengatakan tahun berapa atau dalam dekade berapa
seorang suami akan kehilangan kekuasaannya untuk memukul istri.
4. Faktor yang Mempengamhi Kekerasan Suami pada Istri
Faktor yang mempengamhi pelaku (suami) melakukan tindakan kekerasan
pada istri adalah sebagai berikut:
26
a. Proses belajar sosial (Social learning). Pria pelaku belajar mengekspresikan kemarahan mereka dengan kekerasan karena pengalaman dari keluarga.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pria yang melakukan kekerasan melihat ayah mereka menganiaya ibu atau mengalami menjadi korban kekerasan dalam kekerasan. Ada juga pengalaman melihat pemukulan yang dilakukan orang tua (parental hitting) sangat mempengaruhi penerimaan suami terhadap istri apabila istri memukul lebih dulu. Dan menumt Conte
(Dewi, 1996) menyebutkan selain akibat di atas, juga akan muncul periiaku delikuen, kriminal dan kekerasan lebih sering daripada pria yang tidak
menyaksikan kekerasan dalam keluarga ketika kecil.
b. Frustrasi atau stres akibat ketidakpuasan terhadap penghasilan dan pekerjaan.
Hal ini dibuktikan oleh Howel & Piglieshi, Unger, (dalam Dewi 1996) yang mengatakan bahwa para penganggur dan pekerja rendahan (blue collar) mempunyai tingkat kekerasan pada istri yang tinggi. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Lockhort (1987) dan Gelles (1980). Walaupun demikian Sculmant (dalam Gelles, 1980) dan Langley & Levy (1979) mengindikasikan bahwa kekerasan pada istri dapat terjadi pada semua kelas status sosial
ekonomi.
c. Hasil sosialisasi peran gender, sudah menjadi tradisi bahwa istri dianggap milik suami dan dihamskan menumt pada suami. Menumt Grant (1991) secara sosial dan telah berlangsung sejak lama laki-laki dipercayai untuk mengontrol dan menggunakan kekerasan fisik ketika diperlukan untuk mempertahankan dominasinya. Dapat dikatakan bahwa laki-laki kedudukannya lebih tinggi
(superior) dari istrinya karena secara norma sosial, agama, maupun budaya
laki-laki dianggap menempati kedudukan di atas perempuan.
d. Adanya dukungan budaya. Penelitian lintas budaya yang dilakukan oleh Campbell, Levinson, Erchak &Rosenfeld (Grant, 1991) menunjuk-kan bahwa
pemukulan terhadap istri dipengamhi oleh faktor-faktor sosial dalam
masyarakat. Hal ini menyangkut toleransi pada kekerasan, tingkat kompetensi
antara laki-laki dan perempuan.
e. Adanya sifat-sifat tertentu yang menyebabkan suami cendemng lebih sering melakukan kekerasan pada istri. Menumt Langley dan Levy (1987), sifat-sifat yang terdapat pada laki-laki yang memukul istrinya adalah rasa percaya diri yang rendah, ketrampilan komunikasi yang kurang, kurangnya kontrol terhadap impuls, memiliki kebutuhan yang tinggi untuk mengontrol orang lain, punya
kecendemngan menyalahkan korban atau faktor lain (seperti stres, alkohol atau
obat-obatan) atas periiaku mereka.
f. Adanya penggunaan alkohol dan obat-obat terlarang. Langley &Levy (1987)
menyebutkan bahwa 40 persen hingga 95 persen kasus-kasus penyiksaan istri yang terjadi di Amerika disebabkan pengamh alkohol. Hotaling &Sugarman juga menemukan hubungan positif antara agresi fisik dengan penggunaan alkohol (Dewi, 1996). Sedangkan Grant (1991) yang mengutip beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Aritchlow, Taylor &Leonard, Phil &Smith,
serta Gondolf &Foster, menyebutkan bahwa tidak ditemukan indikasi sebab
dan konsumsi zat-zat kimia tertentu dalam pola periiaku koersif. Dengan
28
demikian, penggunaan alkohol dan zat-zat kimia lainnya tidak dapat dijadikan
penyebab terjadinya kekerasan suami pada istri.
g. Adanya anggapan bahwa kekerasan merupakan cara untuk menyelesaikan masalah (Langley dan Levy, 1987). Hal ini terutama terjadi pada masyarakat
yang terbiasa menggunakan kekerasan sebagai cara berkomunikasi.
h. Usia. Status usia mempunyai hubungan negatif dan agresi fisik pada keluarga makin bertambah usia semakin rendah tingkat kekerasan dan sebaliknya (Dewi,
1996).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan suami terhadap istri adalah proses belajar sosial, frustrasi atau stres yang disebabkan oleh penghasil dan pekerjaan, sifat-sifat tertentu pada individu, dukungan budaya dan sosialisasi gender, pengamh alkohol dan obat-obatan terlarang serta anggapan bahwa kekerasan sebagai penyelesaian
masalah serta faktor usia.
Selain faktor-faktor di atas salah satu penyebab meningkatnya kekerasan
terhadap istri adalah periiaku perselingkuhan yang dilakukan suami. MenumtZillman (Bailey, 1988), gelora emosi erotik dengan mudah dapat diubah menjadi reaksi agresif. Hal ini mungkin ikut menjelaskan mengapa sebagian besar pembunuhan diawali oleh pertengkaran antara orang-orang yang saling mencinta.
Dalam hal ini orang yang saling mencinta mempunyai ikatan emosi yang sangat kuat sehingga jika ada saling kesalahpahaman atau intervensi dari orang lain yang sekiranya mengganggu perkawinan dapat dengan mudah bembah menjadi
kemarahan yang selanjutnya teriampiaskan dalam kekerasan.
Karena tekanan kecemasan ataupun kelakuan yang berlebih-lebihan, maka diri kadang-kadang terpaksa mengambil cara yang ekstrem untuk menghilangkan
atau mereduksi tegangan. Cara-cara yang demikian disebut mekanisme
pertahanan. Para pelaku perselingkuhan biasanya melakukan hal tersebut sebagai kompensasi rasa bersalah dan rasa ketidakberdayaannya menghadapi istri.
Menumt teori Freud (dalam Sumadi Suryabrata, 2002) bentuk-bentuk pokok
mekanisme pertahanan itu adalah:
a. Penekanan atau represi b. Proyeksi
c. Pembentukan reaksi d. Fiksasi
e. Regresi
Semua mekanisme pertahanan itu mempunyai kesamaan sifat-sifat yaitu:
1. Kesemuanya itu menolak, memalsukan atau mengganggu kenyataan.
2. Kesemuanya itu bekerja dengan tidak disadari, sehingga orangnya yang bersangkutan tidak tahu (tidak menginsyafi) apa yang sedang terjadi.
a. Penekanan atau represi
Penekanan adalah pengertian yang mula-mula diberikan oleh psikoanalisis.
Penekanan dapat berupa bentuk melawan rintangan (ami cathexis) sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Pelaku perselingkuhan yang perilakunya mulai dicurigai atau diketahui istri biasanya untuk mempertahankan dirinya dengan cara berperilaku agresif. Marah-marah jika ditanya oleh istri dan jika benar-benar telah diketahui berselingkuh lebih sering melontarkan kata-kata kasar
30
dan cenderung memakai kekerasan fisik sebagai kompensasi rasa malu dan rasa
ketidakberdayaan karena perbuatan mereka telah diketahui istri. Sekali penekanan itu telah terbentuk, maka akan sukarlah untuk dihapuskan, orang hams meyakini dirinya kembali, bahaya tidak ada. Tetapi dia tidak akan memperoleh keyakinan kembali yang demikian itu sebelum penekanannya dihilangkan, sehingga dia dapat mentest kenyataan. Dalam arti periiaku kekerasan suami yang dilakukan kepada istri akan terns berlangsung selama apa yang menjadi tekanan dalam hal ini periiaku perselingkuhan itu sendiri dihentikan. Bam kemudian dalam mmah tangga atau kekerasan terhadap istri dikarenakan masalah perselingkuhan suami
akan berangsur menghilang.
b. Proyeksi
Diri lebih mudah menghadapi ketakutan yang realistis daripada ketakutan neurotis dan ketakutan atau kecemasan itu dapat ditunjukkan terdapat di dunia
luar dan bukan impuls-impuls primitifhya atau ancaman kata hatinya, orang agaknya akan mendapatkan keinsyafan yang lebih besar mengenai ketakutannya itu. Mekanisme yang dipergunakan untuk mengubah ketakutan neurotis dan
ketakutan moral menjadi ketakutan realistis. Inilah yang disebut proyeksi.
Pengubahan ini mudah dilakukan, karena ketakutan akan hukuman dari luar.
Suami yang berselingkuh untuk menghindari tumpahan kesalahan dari orang- orang di luar keluarganya. Suami cendemng mempertahankan diri dengan menumpahkan kesalahan kepada istri atas perselingkuhan yang terjadi. Contoh:
suami menganggap istri sudah tidak becus mengurus umah, suami merasa tidak
nyaman berada di dalam mmah, karena ketakutan akan pandangan negatif orang
terhadap pelaku perselingkuhan (suami), maka suami akan menceritakan hal-hal tersebut kepada orang lain agar pandangan kepada dirinya tetap positif.
c. Pembentukan Reaksi
Pembentukan reaksi adalah penggantian impuls atau perasaan yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan dengan lawannya di dalam kesadaran.
Misalnya benci diganti dengan cinta. Biasanya pembentukan reaksi ditandai oleh sifat yang berlebih-lebihan. Bentuk-bentuk yang ekstrem dan sesuatu tingkah laku biasanya menunjukkan pembentukan reaksi. Suami yang berselingkuh biasanya
mampu memberikan perhatian, mengingat hari-hari penting dan berada bersama
tetapi dapat diwujudkan dengan bentuk-bentuk reaksi yang berlebihan seperti
memperhatikan istri dengan cara-cara yang berlebihan, memberikan sesuatu kepada istri secara berlebihan lain seperti kebiasaan yang ada.
d. Fiksasi
Pada perkembangan yang normal, kepribadian akan melewati fase-fase
yang sedikit banyak sudah tetap dari lahir sampai mencapai kedewasaan. Orang mungkin mengalami fiksasi pada suatu fase yang lebih awal, karena menginjak fase berikutnya membawa kecemasan atau ketakutan baginya. Anak yang terlalu bergantung kepada orang tua adalah contoh bagaimana fiksasi itu sebagai mekanisme pertahanan bekerja, katakuran untuk menentukan pilihan hidup (bekerja, menikah) karena sedan kecil terasa tidak diberi tanggung jawab oleh
orang tua.
32
e. Regresi
Regresi sangat erat hubungannya dengan fiksasi itu. Di sini, orang yang mendapat pengalaman traumatis kembali kepada fase perkembangan yang lebih awal, yaitu fase perkembangan yang telah ditinggalkan atau dilewatinya. Contoh suami yang mendapat kesukaran dengan istrinya mungkin mencari kenyamanan dengan mencari wanita lain sesuai dengan keinginannya. Jalan regresi biasanya
ditentukan oleh fiksasi yang telah dialami lebih dahulu.
Pada umumnya fiksasi dan regresi adalah keadaan nisbi, artinya seseorang jarang benar-benar mengalami fiksasi dan regresi, lebih tepat kalau dikatakan bahwa kepribadian cenderung untuk melingkupi infantilisme.
Menumt Satiadarma (2001), pembahan emosional dialami individu yang melakukan perselingkuhan seperti pembagian perhatian yang secara bersamaan membutuhkan energi yang lebih besar dari pada jika individu hanya memusatkan perhatian pada satu hal saja. Besamya energi yang digunakan akan mempengaruhi kondisi psikofisik yang bersangkutan. Makin besar energi yang digunakan makin cepat pula individu yang bersangkutan mengalami kelelahan (exhaustion).
Karena penyusutan daya pertahanan ini menyebabkan individu menjadi lebih sensitif terhadap tekanan yang dihadapi. Sensivitas ini menyebabkan individu
menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah marah, dan periiaku kurang
terkendali.
Kondisi seperti ini sering dilaporkan oleh para istri yang suaminya berselingkuh. Mereka mengatakan bahwa suami mereka cendemng menjadi
pemarah padahal sebelumnya tidak demikian. Femina edisi 10/XXX( Maret 2002) juga menyebutkan bahwa berselingkuh adalah terrnasuk jenis kekerasan psikis.
B. Perselingkuhan 1. Pengertian Perselingkuhan ,m
Kata selingkuh menumt Kamus Besar Bahasa Indonesia 1988 (dalam Kedaulatan Rakyat, 3Desember 2001) berarti tidak bertems terang, tidak jujur, suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, curang atau serong.
Ada asumsi bahwa perselingkuhan mempakan pelanggaran kepercayaan yang dapat memgikan bagi orang lain atau dapat memsak dan menghancurkan hubungan yang telah dibina dengan pasangannya sehingga dapat mengekalkan gangguan dalam sebuah hubungan dan membuat penempaan kasih sayang yang intim sangat tidak mungkin. Ada juga pendapat mengatakan bahwa orang yang dikhianati oleh pasangannya yang melakukan hubungan seksual dengan orang
ketiga, entah cuma kencan semalam atau sebagai bagian dari keterikatan emosional yang berjangka panjang. Tetapi tidak sedikit yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk periiaku akrab lain, seperti: pelukan, memberi perhatian sudah bempa perselingkuhan. Menumt studi terbaru dan bisa diandalkan, sebanyak 37
persen (3.432) pria yang menikah telah menodai kesetiaan dikemukakan oleh
Lauman, Gagnon, Michael dan Michaels, 1994 (dalam J.A Spnng &M. Spring,
1996).
Seorang pasangan yang mengetahui ketidaksetiaan pasangannya seringkali
memperiihatkan gejala psikologis dan fisiologis sebagai Post-Traumatic Stress
34
Disorder. Akan tetapi menumt edisi terakhir buku manual diagnostik dan statistik
(Quick Reference to the Diagnostic Criteria from DSM-N, 1994) diagnosis ini sekarang hanya diberikan kepada individu yang mmepunyai pengalaman yang
mengancam hidupnya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Perselingkuhan berarti tidak berterus terang, tidak jujur, suka menyembunyikan sesuatu demi kepentingan diri sendiri, curang atau serong. Dan untuk pasangan yang telah berkomitmen untuk bersama atau yang telah terikat oleh perkawinan perselingkuhan mempakan pelanggaran kepercayaan yang dapat memgikan bagi orang lain atau dapat memsak dan menghancurkan hubungan yang telah dibina
dengan pasangannya.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa perselingkuhan adalah melakukan hubungan seksual tidak dengan pasangannya entah cuma semalam atau keteriibatan emosional berjangka panjang.tetapi ada juga yang berpendapat bahwa perselingkuhan dapat diartikan sebagai bentuk-bentuk periiaku akrab lain, seperti
pelukan, memberi perhatian.
2. Dampak Fisiologis Perselingkuhan menumt Spring &Spring (1996).
Biasanya orang yang pasangannya berselingkuh kemungkinan besar mengalami pembahan-pembahan fisiologis, baik dalam susunan syaraf maupun fungsi kognitif. Ketika hormon adrenalin dan hormon-hormon lain yang berhubungan dengan stress mengalir deras dalam susunan syaraf simpatetik, maka akan terjadi ketegangan yang memuncak. Merasa cemas dan gelisah terns
menems, menjadi sulit tidur, sering terbangun tengah malam, dan lebih sensitif
terhadap suara berisik sehingga ,ubuh menjadi lelah karena kurang tidur dan ter.alu banyak piktran. Pikiran didera oleh kenangan-kenangan, sensasi-sensas,.
bayangan-bayangan yang hidup dan menyedihkan. Karena perubahan pada
susunan syaraf, emosi yang ,mens dipenuh, oleh perasaan ngeri dan ,ak berdaya.
Perubahan f,siol„g,s lain yang sangat berbeda terjadi dengan terlepas op.ord, sejenis dengan morfin, yang dihasilkan tubuh, ke dalam susunan syaraf.
Hal ini menumpulkan persepsi mengenai luka dan melindungi dari stress emosional yang ekstrem. Maka dengan kata Iain, ,ubuh mengerut, tertidur, mati.
Rentang perasaan dan sensasi sempi,, sementara berusaha menguasa, dm piktran mengembara semngga suit, berkonsentras,. Dengan spontan kehilangan kepercayaan dalam kemampuan umuk berinteraksi dan menarik diri dari
kehidupan sosial.
3- Dampak Psikologis Perselingkuhan Menurut Spring &Spring (1996)
Ada delapan bentuk kehilangan yang berbeda yang kemungkinan dialami
oleh orang yang merasa pasangannya berselingkuh.
a. Identitas diri. Mengetahui pasangannya berselingkuh, kemudian memaksa
dirinya untuk mendefimsikan kembali ja.i diri dengan cara yang paling
fundamental dengan kata lain karena dibutakan oleh pengkhianatan pasangannya, maka pandangan terhadap din yang selama in, sangat ditanamkan dan sifat yang diingmkan, serta kemampuan dasar untuk
bersosialisasi hilang.