• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 2 No. 4 Nov 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 2 No. 4 Nov 2018"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

26

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPRATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KISAH NABI DAN RASUL DI KELAS IV SD NEGERI 138339 TANJUNGBALAI TAHUN PELAJARAN 2017/2018

K H O I R I A H

(Guru PAI SD Negeri 138339 Tanjungbalai) ABSTRACT

This study aims to determine the increase in comprehension of students' learning and learning activities in the material of the story of the prophets and apostles after applying the cooperative learning model type student team achievement division in class IV 138339 Public Elementary School Tanjungbalai 2017/2018 school year. This research is a classroom action research in two cycles. The research subjects were fourth grade students of 138339 Public Elementary School Tanjungbalai 2017/2018 learning year which amounted to 37 students. Data on student understanding is obtained through tests while student learning activity data is obtained through observation sheets. Data is processed by being described as a percentage using the minimum completeness criteria (KKM) reference. The results of the study show; 1) student understanding increases by applying the cooperative learning model of the achievement division student team in Formative I and Formative II showing an average of 68 and 82, from the data it shows complete compliance with KKM with classical completeness of 46% and 86% or classical completeness achieved at Cycle II with an increase in classical completeness by 40%; 2) student learning activities increase by applying cooperative learning model type student achievement division division in Cycle I, among others, writing and reading 37%, working on 33% LKS, asking fellow friends 17%, asking teachers 7%, and which is not relevant to activities teaching and learning 6%. While Cycle II includes writing and reading 36%, working on LKS 36%, asking fellow friends 21%, asking teachers 4%, and which are not relevant to those that are not relevant to teaching and learning activities 3%.

Keywords: Understanding, Student Achievement Division PENDAHULUAN

Saat ini kesejahteraan bangsa tidak hanya bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal dan kepercayaan (kredibilitas). Dengan demikian, tuntutan untuk menumbuhkan kemutakhiran budaya mandiri menjadi suatu keharusan.

Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam merespon secara positif kepada berbagai perkembangan informasi, pengetahuan sains dan teknologi serta tuntutan desentralisasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran pendidikan Agama Islam dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Kompentesi pendidikan Agama Islam menjamin keutuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT.Penguasaan kecakapan hidup, penguasaan prinsip-prinsip sosial, ekonomi, budaya dan akhlak sehingga tumbuh generasi yang kuat dan berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan tujuan dari Pendidikan Agama yakni untuk membimbing anak agar mereka menjadi orang Muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, Agama dan Negara.

Namun tujuan pembelajaran ini belum dapat tercapai dengan baik termasuk pada siswakelas IV SD Negeri 138339 Tanjungbalai tahun pelajaran 2017/2018. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, beberapa siswa belum dapat menguasai materi dengan tuntas. Ketuntasan klasikal belum tercapai, sehingga berakiat pula pada lemahnya penerapan pemahaman agama dalam kehidupan sehari-hari siswa yang tergambar dalam akhlak dan prilakunya. Selama ini, penekanan dalam pembelajaran PendidikanAgama Islam masih bergantung pada metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Metodeceramah masih menjadi pilihan dalam penyampaian materi karena kenyataannya menerapkan pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa (berpusat pada siswa) masih sulit dilakukan, sehinggasiswa cenderung bosan, dan kurang

(2)

27

bersemangat untuk belajar. Ini disebabkan oleh ketersediaan perangkat dan sumber belajar yang terbatas dan keterbatasan kemampuan guru dalam memvariasi model pembelajaran. Akibatnya, kualitas pembelajaran menjadi rendah, dan menyebabkan hasil belajar siswa menurun. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, beberapa siswa belum dapat menguasai materi dengan tuntas. Data ulangan harian sebelumnya mendapati hasil dengan nilai rata-rata hanya 62 dari KKM sebesar 75. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas belajar hanya 72%. Ketuntasan klasikal belum tercapai, sehingga berakibat pula pada lemahnya penerapan pemahaman agama dalam kehidupan sehari-hari siswa yang tergambar dalam akhlak dan prilakunya.

Metode tanya jawab kurang efektif karena hanya siswa yang tertentu yang aktif dan mau menjawab pertanyaan yang diberikan, sehingga terjadi kesenjangan antara siswa yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan dalam metode diskusi tidak semua topik dapat disajikan dengan metode diskusi. Hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu, sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat, sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat.

Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah terbiasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara, dan memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antar kelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu dari pada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh, atau lebih bodoh.

Upaya perbaikan pembelajaran telah dilakukan peneliti sebagai guru Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan beberapa variasi pembelajaran. Namun menerapkan pembelajaran berorientasi aktivitas siswa bukan sesuatu yang mudah. Kemampuan peneliti dan ketersediaan bahan ajar masih terbatas. Untuk memberi variasi dan meningkatkan kemampuan peneliti dalam menerapkan model-model pembelajaran maka akan diterapkan model lain yang relevan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni model pembelajaran kooperatif. Slavin (2008 : 4), mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapakan saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu, dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.

Jadi perbedaannya dengan diskusi adalah bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada saling ketergantungan antar siswa untuk memahami materi pelajaran ketimbang hanya bertukar informasi atau mempertahankan pendapat masing-masing.

Ibrahim (2006 : 6), secara lebih terperinci menyatakan bahwa kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut (1) Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. (2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. (3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin berbeda-beda. (4) Penghargaan lebih beroreintasi kelompok ketimbang individu. Sehingga heterogentitas siswa dalam kelompok adalah keharusan.

Agar hubungan sesama kelompok dapat memberikan pengaruh positif, mereka harus mengusahakan suasana saling memiliki, saling menerima, saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain. Lie (2008:31), mengemukakan bahwa ada lima unsur pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yakni saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

(3)

28

Salah satu varian model pembelajaran koperatif yang paling sederhana adalah model pembelajaran kopertif tipe Student Team Achivement Division(STAD). Pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan untuk mengelompokkan kemampuan yang berbeda sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa secara aktif sehingga diharapkan siswa yang pandai akan membantu siswa yang kurang pandai karena dalam STAD siswa harus mempunyai tanggung jawab secara individu dan secara kelompok sehingga akan memperbaiki kualitas pembelajaran dan meningkatkan hasil belajarnya. Tanggung jawab individu muncul akibat penilaian terhadap dirinya adalah peneilaian kelompok dan sebaliknya.Dalam model ini, siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar (Rusman, 2011: 203). Model ini juga melatih siswa dalam mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping kecakapan kognitif (Isjoni, 2010:72). Sementara itu, peran guru juga menjadi lebih aktif dan lebih terfokus sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator (Isjoni, 2010:62).

Dengan menyadari berbagai fakta tersebut maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan ketuntasan pemahaman dan aktivitas belajar siswa pada materi kisah nabi dan rasul setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division pada siswa kelas IV SD Negeri 138339 Tanjungbalaitahun pelajaran 2017/2018.

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 138339 Tanjungbalaipada semester ganjiltahun pelajaran 2017/2018 selama empat bulan mulai dari bulan Septembersampai denganDesember 2017.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas IVSD Negeri 138339 Tanjungbalaitahun pelajaran 2017/2018 dengan jumlah siswa yang beragama Islam sebanyak 37 siswa.

C. Alat Pengumpul Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Lembar observasi aktivitas siswa, untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran secara berkelompok terdiri dari lima aspek pengamatan yaitu: membaca dan menulis, mengerjakan LKS, bertanyapada teman, bertanya pada guru, dan aktivitas yang tidak relevan.

2. Tes formatif, untuk menilai hasil belajar siswa terdiri dari sepuluh soal objektif untuk setiap akhir siklus

.

D. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau disekolah dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran. Menurut Lewin dalam Aqib (2007: 21) menyatakan bahwa dalam satu Siklus terdiri atas empat langkah, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting).

E. Teknik Analisis Data

Data hasil tes dianalisis menggunakan krteria ketuntasan minimal (KKM) untuk memperoleh persentase siswa tuntas. Persentase siswa tuntas dibandingkan dengan indikator keberhasilan penelitian.

F. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan penelitian ini tercapai apabila nilai siswa secara individu mencapai KKM Pendidikan Agama Islamkelas IV yang ditetapkan sekolah sebesar 75 dan secara klasikal≥ 85% siswa mencapai KKM tersebut.

(4)

29 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian yang diperoleh berupa data observasi pengamatan pengelolaan model pengajaram tuntas dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes hasil belajar siswa pada setiap siklus. Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data formatiif untuk mengetahui pengaruh penerapan model pengajarantuntas dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa dan data pengamatan aktivitas siswa.

Data tes hasil belajar untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan proses belajar mengajar dengan menerapkan model pengajarankooperatiftipe student team achivement division.

Sebelum dilakuakn KMB Siklus I dilakukan tes hasil belajar sebagai tes Prasiklus. Merujuk pada lampiran data tes Prasiklus diperoleh nilai terendah siswa25, sedangkan nilai tertingginya50. Dengan rata-rata 35, sedangkan KKM adalah 75 maka tidak seorang siswapun memperoleh nilai tuntas atau ketuntasan klasikal 0%. Dengan demikian, maka kemampuan siswa pada tes Prasiklus sangat rendah.

A. Hasil Penelitian 1. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP 1 dan 2, soal formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi aktivitas siswa. Seluruh perangkat diperoleh dari diskusi antara peneliti dengan guru sejawat.

b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Siklus I dilaksanakan dengan KBM I pada Selasa, 3Oktober 2017 di Kelas IVdengan jumlah siswa 37 siswa. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini adalah kisah Nabi Adama as. Sementara KBM II pada Selasa, 10Oktober 2017 dengan diikuti 37 siswa. Materi yang dibahas adalah kisah Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah dua orang guru sejawat. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada RPP yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar pada fase diskusi.

c. Tahap Observasi I

 Data aktivitas belajar siswa

Pada tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung dengan bantuan dua orang guru untuk mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktifitas siswa.Dari hasil pengamatan aktivitas siswa diperoleh data aktivitas yang disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Skor Aktivitas Belajar Siswa Siklus I

No Aktivitas Proporsi

1 Menulis dan membaca 37%

2 Mengerjakan LKS 33%

3 Bertanya pada teman 17%

4 Bertanya pada guru 7%

5 Yang tidak relevan 6%

Jumlah 100%

 Data Hasil Belajar Siswa

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar. Adapun data hasil penelitian pada Siklus I disajikan dalam tabel 2.

(5)

30

Tabel2. Deskripsi Data Formatif I

Nilai Frekuensi Ketuntasan Rata-rata

90 2 5%

68

80 15 41%

70 5 -

60 5 -

50 10 -

Jumlah 37 46%

Merujuk pada tabel 2 di atas, dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 68, dengan nilai terendah 50 dan tertinggi 90. KKM yang ditetapkan 75 sehingga ketuntasan belajar 46% atau hanya 17 siswa dari 37 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada Siklus I secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebesar 46% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Sehingga Siklus I masih gagal memperbaiki aktivitas dan ketuntasan pemahaman siswa.

d. Tahap Refleksi I

Pada Siklus I belum tercapai ketuntasan belajar siswa dikarenakan selama pengamatan terhadap kegiatan siswa Siklus I, masih terdapat beberapa kekurangan, yaitu:

1. Kerjasama siswa dalam kelompok masih belum optimal, masih banyak siswa yang pasif. Mereka memang terlihat seperti mengerjakan, tetapi sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari mereka yang mengerjakan, yang lainnya hanya bergantung pada temannya. Hal ini dikarenakan siswa kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Terlihat dari aktiviatas menulis dan membaca yang dominan (38%) di dukung oleh dokumentasi penelitian yang menunjukkan siswa banyak menulis dan membaca.

2. Beberapa siswa dalam kelompom masih bingung menyikapi alur pembelajaran yang masih baru sehingga diskusi tidak fokus dan tidak terjadi suasana kooperatif.

3. Beberapa orang siswa melakukan kegiatan tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar.

2. Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Siklus II direncanakan sama dengan Siklus I hanya merujuk pada refleksi Siklus I maka dilakukan tindakan-tindakan perbaikan. Pada Siklus II juga disusun perangkat angket respon siswa selain perngkat yang sama pada perencanaan Siklus I. Seluruh perangkat juga disusun dalam diskusi antara peneliti dengan pembimbing penelitian. Adapun solusi tindakan yang direncanakan pada pelaksanaan Siklus II dari hasil refleksi di atas antara lain:

1. Guru memberikan peringatan agar setiap siswa mengemukakan pendapatnya pada saat kerja kelompok. Bagi siswa yang tidak mengemukakan pendapatnya pada saat kerja kelompok, akan dikurangi nilainya.

2. Tahap berdiskusi dimodifikasi dengan bertukar pikiran antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Ini dimaksudkan untuk memperkaya ide-ide (mempersering munculnya ide) dalam kelompok.

3. Untuk membantu siswa memunculkan ide-ide dan focus dalam diskusi maka guru memasang media fokus yang dapat diamati siswa selama diskusi.

b. Tahap kegiatan dan pengamatan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Siklus I dilaksanakan dengan KBM IIIpada Selasatanggal 17Oktoeber 2017 di Kelas IVdengan jumlah siswa 37 siswa. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini adalah kisah masa kanak-kanak Nabi Muhammad SAW. Sementara KBM IV pada Selasa, 24 Oktober 2017 dengan diikuti 29 siswa. Materi yang dibahas adalah ketauladanan taubatnya Nabi Adam as.

Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan yang bertindak sebagai pengamat dua orang guru sejawat. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada RPP 3 dan 4 dengan memperhatikan revisi

(6)

31

pada Siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada Siklus I tidak terulang lagi pada Siklus II.

Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

c. Tahap Observasi

 Data aktivitas belajar siswa

Pada tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung dengan bantuan dua orang guru untuk mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktifitas siswa.Dari hasil pengamatan aktivitas siswa Siklus II diperoleh data aktivitas yang disajikan dalam tabel 3.

Tabel 3. Skor Aktivitas Belajar Siswa Siklus II

No Aktivitas Proporsi

1 Menulis dan membaca 36%

2 Mengerjakan LKS 36%

3 Bertanya pada teman 21%

4 Bertanya pada guru 4%

5 Yang tidak relevan 3%

Jumlah 100%

 Data Hasil Belajar Siswa

Membaiknya aktivitas belajar siswa berdampak pula terhadap membaiknya pemahaman siswa.

Diakhir siklus II diberikan tes hasil belajar sebagai Formatif II dengan jumlah soal 10 item. Data Formatif II disajikankan dalam tabel 4.

Tabel 4. Deskripsi Data Formatif II

Nilai Frekuensi Ketuntasan Rata-rata

100 3 8%

82

90 8 22%

80 21 57%

70 3 -

60 2 -

Jumlah 37 86%

Merujuk pada tabel 4, diperoleh nilai rata-rata tes sebesar 82 dan dari 37 siswa yang telah tuntas sebanyak 32 siswa dan lima siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada Siklus II ini ada peningkatan penghayatan siswa dari Siklus I. Adanya peningkatan penghayatan siswa pada Siklus II ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kualitas pembelajaran dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achivement division sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Pada Siklus II ini ketuntasan secara klasikal meningkat dan telah tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada Siklus II.

c. Tahap Refleksi II

Beberapa hal yang dapat dicatat dalam refleksi pembelajaran Siklus II adalah sebagai berikut:

1. Siswa mulai akti dalam diskusi dengan ditunjukkan oleh hasil observasi aktivitas belajarnya yang sedikit lebih baik dari pada Siklus I. peningkatan aktivitas siswa ini disajikan dalam gambar 1.

(7)

32 Keterangan: 1. Menulis dan membaca

2. Mengerjakan LKS 3. Bertanya pada teman 4. Bertanya pada guru 5. Yang tidak relevan

2. Ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dari 58% atau gagal menjadi 86%atau dalam ketogori berhasil. Secara keseluruhan peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa disajikan dalam gambar 2.

Gambar 2. Grafik Perubahan Pemahaman Siswa Tiap Siklus

3. Siswa mulai terbiasa mengungkapkan pendapatnya terlihat dari dokumentasi penelitian dan aktivitas belajar siswa dimana aktivitas diskusi meningkat dan mencapai dominan, berarti pemberian tutorial oleh teman dalam kelompok cukup membantu dalam memicu kemampuan siswa mnengungkapkan pendapatnya.

Pada siklus II guru telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran

37% 33%

17%

7% 6%

36% 36%

21%

4% 3%

1 2 3 4 5

Siklus 1 Siklus 2

50

25

35

0 90

50

68

46 100

60

82 86

Nilai Tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai tes Ketuntasan klasikal (%) Ujiawal Siklus 1 siklus 2

(8)

33

kooperatif tipe student team achievement divisiondapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

B. Pembahasan

Merujuk pada gambar 1, peningkatankualitas aktivitas belajar ditunjukkan dengan perubahan aktivitas Siklus I ke Siklus II. Rata-rata aktivitas menulis dan membaca mengalami perubahan dari proporsi 37% menjadi 36%. Aktivitas mengerjakan dalam diskusi naik dari 33% menjadi 36%. Aktivitas bertanya pada teman naik dari 17% menjadi 21%. Aktivitas bertanya kepada guru turun dari 7% menjadi 4%. Dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM turun dari 6% menjadi 3%.

Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada Siklus II lebih baik dari pada Siklus I, meski tidak ada perubahan aktivitas individual seperti menulis dan membaca terjadi pada Siklus II, namun aktivitas kerja mengalami kenaikan sedikit. Ketergantungan siswa pada guru menurun dengan turunnya aktivitas bertanya pada guru diimbangi dengan naiknya ketergantungan positif antar siswa dengan naiknya aktivitas bertanya sesama siswa. Kesimpulan ini diperkuat dengan temuan bahwa aktivitas yang tidak relevan dengan KBM pada Siklus II menyusut sedikit dari Siklus I.

Merujuk pada gambar 2, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement divisionyaitu berupa nilai pretes adalah 35 dengan ketuntasan belajar yang dicapai 0%, setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement divisionnilai siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes pada Siklus I, nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa adalah 68dengan persentasi 46%, untuk nilai rata-rata hasil belajar dan persentasi ketuntasan klasikal yang dicapai belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan karena masih banyak siswa memperoleh nilai yang di bawah kriteria ketuntasan minimum.

Setelah dilaksanakan Siklus II, maka hasil belajar siswa menurut Formatif II adalah rata-rata 82 dengan ketuntasan klasiklal mencapai 86%. Karena nilai rata-rata di atas KKM sebesar 75 dan ketuntasan klasikal telah mencapai 85%. Maka tindakan Siklus II dapat dikatakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa sampai pada kriteria ketuntasan yang ditetapkan.

Pada Siklus I belum tercapai ketuntasan belajar siswa dikarenakan selama pengamatan terhadap kegiatan siswa Siklus I, masih terdapat beberapa kekurangan, yaitu:

a. Kerjasama siswa dalam kelompok masih belum optimal, masih banyak siswa yang pasif. Mereka memang terlihat seperti mengerjakan, tetapi sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari mereka yang mengerjakan, yang lainnya hanya bergantung pada temannya. Hal ini dikarenakan siswa kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Terlihat dari aktiviatas menulis dan membaca yang dominan sebesar 38% di dukung oleh dokumentasi penelitian yang menunjukkan siswa banyak menulis dan membaca.

b. Beberapa siswa dalam kelompom masih bingung menyikapi alur pembelajaran yang masih baru sehingga diskusi tidak fokus dan tidak terjadi suasana kooperatif.

c. Beberapa orang siswa melakukan kegiatan tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar.

Sehingga tindakan perbaikan yang direncanakan pada pelaksanaan Siklus II dari hasil refleksi di atas antara lain:

a. Guru memberikan peringatan agar setiap siswa mengemukakan pendapatnya pada saat kerja kelompok. Bagi siswa yang tidak mengemukakan pendapatnya pada saat kerja kelompok, akan dikurangi nilainya.

(9)

34

b. Tahap diskusi dimodifikasi dengan bertukar pikiran antara satu kelompok dengan kelompok lain.Ini dimaksudkan untuk memperkaya ide-ide (mempersering munculnya ide) dalam kelompok.

c. Untuk membantu siswa memunculkan ide-ide dan fokus dalam diskusi maka guru memasang media infokus yang dapat diamati siswa selama diskusi.

Sehingga selama pengamatan terhadap kegiatan siswa Siklus II, penilaian terhadap tes hasil belajar (ranah kognitif), dan pengamatan terhadap pelaksanaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipestudent team achivement divisionSiklus II, sudah tidak terlihat hal-hal yang harus diadakan perbaikan, siswa yang membuat gaduh pada Siklus II dapat diatasi oleh guru dengan baik, hasil belajar siswa sudah menunjukkan peningkatan dan semua siswa dikatakan tuntas. Secara keseluruhan semua aspek dalam hasil belajar mengalami peningkatan dari Siklus I ke Siklus II. Karena proses pelaksanaan pada Siklus II telah dapat mencapai hasil dari pembelajaran yang diharapkan dan telah dapat menjawab rumusan masalah pada penelitian ini, maka tidak diadakan Siklus selanjutnya.

Pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran model kooperatif tipe student team achivement division memiliki kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran model kooperatif tipe student team achivement divisiondapat memacu dan merangsang siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran model kooperatif tipe student team achivement divisiondapat memperbaiki aktivitas belajar siswa, melatih penerapan nilai-nilai Kristiani dalam interksi sesama siswa, dan merangsang kemampuan siswa dalam berfikir. Sehingga menjadikan siswa lebih termotivasi untuk belajar sebab siswa diajak terlibat langsung.

Sebagai mediator guru menjalani tiga peran, yaitu berfungsi sebagai fasilitator, model dan pelatih.

Sebagai fasilitator guru menciptakan lingkungan dan kreativitas yang kaya, guna membantu siswa membangun pengetahuannya. Dalam rangka menjalankan peran ini, ada tiga hal pula yang harus dikerjakan.

Pertama, mengatur lingkungan fisik, termasuk pengaturan tata letak perabot dalam ruangan serta persediaan berbagai sumber daya dan peralatan yang dapat membantu proses belajar mengajar siswa.

Kedua, menyediakan lingkungan social yang mendukung proses belajar siswa, seperti mengelompokkan siswa secara heterogen dan mengajak siswa mengembangkan struktur sosial yang mendorong munculnya perilaku yang sesuai untuk bertuntas antar siswa, ketiga, guru memberikan tugas memancing munculnya interaksi antarsiswa dengan lingkungan fisik maupun sosial di sekitarnya. Dalam hal ini, guru harus mampu memotivasi anak. Dampaknya adalah interaksi antar siswa sangat baik terjadi dan mampu membiasakan prilaku baik dalam berhubungan dengan teman kelompoknya.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division selama kegiatan belajar mengajar pada materi pokok kisah nabi dan rasul di kelas IVSD Negeri 138339 Tanjungbalai tahun pelajaran 2017/2018sebagai berikut:

1. Pemahaman siswa meningkat dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division pada Formatif I dan Formatif II menunjukkan rata-rata 68 dan 82, dari data tersebut menunjukkan tuntas sesuai dengan KKM dengan ketuntasan klasikal 46% dan 86%

atau ketuntasan klasikal tercapai pada Siklus II. Dengan peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 40%.

2. Aktivitas belajar siswa meningkat dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement divisionpada Siklus I antara lain menulis, membaca 37%, mengerjakan LKS 33%, bertanya sesama teman 17%, bertanya kepada guru 7%, dan yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar 6%.Sedangkan Siklus II antara lain menulis dan membaca 36%,

(10)

35

mengerjakan LKS 36%, bertanya sesama teman 21%, bertanya kepada guru 4%, dan yang tidak relevan dengan yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar 3%.

B. Saran

Hasil analisis dan rekaman pada saat kegiatan belajar mengajar yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student team achievement division di sekolah benar-benar bermanfaat sesuai dengan tujuan penelitian. Melihat kondisi hasil belajar dan rekaman aktivitas belajar dan tanggapan siswa saat guru membelajar dapat disarankan sebagai berikut:

1. Guru dalam pembelajaran ini hendaknya lebih banyak strategi pembelajaran daripada sekedar memberikan informasi.

2. Selama kerja kelompok perlu aturan-aturan di informasikan kepada siswa sesuai dengan tujuan berkelompok, agar tujuan berkelompok dapat tercapai dan dapat dilihat pada tes hasil belajar secara indivdu.

3. Siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide-idenya, dan guru sebaiknya sebagai fasilitator.

4. Perlu diadakan penelitian selanjutnya karena penelitian hanya dilakukan pada siswa kelas IVSD Negeri 138339 Tanjungbalaitahun pelajaran 2017/2018.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Z. 2007. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Yrama Widya.Bandung.

Ibrahim, M, dkk. 2006. Pembelajaran Kooperatif. Unesa- University press. Surabaya.

Isjoni. 2010. Pembelajaran Kooperatif. Meningkatkan kecerdasan antar peserta didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Lie, A.2008. Cooperatif Learning Memperaktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Grasindo.

Jakarta.

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Slavin, R. 2008. Cooperative Learning Theory, Research and PracticeAllymand dan Bacon. Massachusett.

USA.

Gambar

Tabel 1. Skor Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
Tabel 4. Deskripsi Data Formatif II
Gambar 2. Grafik Perubahan Pemahaman Siswa Tiap Siklus

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pemecahan masalah rendahnya kemampuan menjumlah dan mengurangi pecahan, peneliti akan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team

menerapkan pembelajaran kooperatif tipe student team-achievement division lebih tinggi dari hasil belajar peserta didik pada materi operasi hitung bilangan bulat

Dalam penelitian ini, peneliti juga menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe ( Student Team Achievement Division ) STAD, namun cakupan pembahasannya berbeda yaitu

menerapkan pembelajaran kooperatif tipe student team-achievement division lebih tinggi dari hasil belajar peserta didik pada materi operasi hitung bilangan bulat

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division) dengan Metode Eksperimen Terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Fisika

Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian adalah, jika guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) pada mata

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) di kelas X MIA 2

Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Data aktivitas siswa antar siklus dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.3 Perbandingan Data Aktivitas Siswa antar Siklus I dan Siklus II