• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 2 No. 4 Nov 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 2 No. 4 Nov 2018"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

36

PENERAPAN METODE KNOW WANT LEARNED UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN

MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS IV

SD NEGERI 138436 TANJUNGBALAI

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

LILI PARIDAH

(Guru SD Negeri 138436 Tanjungbalai)

ABSTRACT

This study aims to determine the improvement in reading skills of students' understanding and learning activities in learning Indonesian after applying the KWL (Know, Want, and Learned) method in the fourth grade of SD Negeri 138436 Tanjungbalai 2017/2018 school year. This research is a classroom action research that is carried out in two cycles with two meetings each cycle. The subjects of the study were fourth grade students of SD Negeri 138436 Tanjungbalai in the year 2017/2018, which amounted to 20 students. Data reading skills were obtained through tests while learning activity data was obtained through observation sheets of student learning activities. The results of the study indicate that; 1) students' reading comprehension skills increase by applying the KWL method in Formative I showing an average of 60 with 40% calcical completeness and Formative II showing an average of 81 with 85% classical completeness or an increase in classical completeness by 45% and achieving success criteria research; 2) student learning activities increase by applying the KWL method in Cycle I writing activity 38%, reading 31%, discussion 21%, asking 5%, and which are not relevant to teaching and learning 5% while in Cycle II activity writes 31%, reads 36 %, 21% discussion, asking 9%, and which is not relevant to 3% teaching and learning activities.

Keywords: Know Want Learned Method, Reading Skills PENDAHULUAN

Membaca merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memahami isi bacaan melalui kegiatan pengenalan kata demi kata atau kalimat demi kalimat.Membaca merupakan kegiatan merespons lambang-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian yang tepat. Hal tersebut berarti bahwa membaca memberikan respons terhadap segala ungkapan penulis sehingga mampu memahami materi bacaan dengan baik.Membaca merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan, yakni mengamati, memahami, dan memikirkan. Sudiana (2007: 6) mengatakan bahwa membaca merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang melibatkan faktor fisik dan mental.

Kegiatan membaca meliputi kegiatan prabaca, kegiatan saat membaca, dan kegiatan pascabaca (Rahim, 2008). Pembelajaran membaca di sekolah dasar dilakukan dalam dua bentuk aktivitas yang melalui tiga tahapan kegiatan tersebut. Aktivitas kegiatan membaca terbagi dalam dua bentuk, yaitu membaca dalam hati (membaca pemahaman) dan membaca nyaring (membaca dengan bersuara). Kedua kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan membaca dengan aktivitas yang bermakna.Kegiatan membaca bersuara pada tingkat pemula bertujuan mengenali lambang dan simbol bahasa. Kegiatan ini juga dilaksanakan untuk mengenali kata dan kalimat. Selanjutnya, kegiatan membaca bersuara bertujuan memahami dan menemukan ide pokok suatu bahan bacaan (Iskandarwassid, 2008).

Menurut Djojosuroto (2006:69), membaca yang dimaksudkan untuk memahami makna atau pesan penulis melalui teks yang ditulisnya dinamakan membaca pemahaman (reading comprehension). Kecermatan dan ketepatan dalam memahami pesan komunikasi sangat penting agar dapat dicapai pemahaman terhadap pesan komunikasi tersebut sebagaimana yang dikehendaki penulis. Salah satu bentuk tulisan yang ditulis penulis adalah bentuk deskripsi.

(2)

37

Berdasarkan uraian tersebut membaca dapat dikatakan sebagai suatu proses memahami gagasan dan ide penulis yang tertuang dalam bacaan lalu menghubungkannya dengan pengalaman / skemata pembaca sebelumnya secara kritis, kemudian interaksi ilmiah yang dinamis tersebut dikembangkan secara

kreatif.

Karenanya membekali kemampuan dan keterampilan membaca siswaSD diperlukan pembelajaran membaca pemahaman atau membaca lanjut. Pemahaman isi dimulai dengan dapatnya siswa; (a) mengajukan atau menjawab pertanyaan sesuai isi bacaan; (b) mengemukakan gagasan utama; (c) menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri (meringkas bacaan); (d) mengemukakan gagasan / pesan cerita dan sifat pelaku; (f) menentukan bagian yang menarik dalam cerita..

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru kelas IVSD Negeri 138436 Tanjungbalai, bahwa kondisi pembelajaran membaca di kelas IV pada umumnya mengalami hambatan yang cukup serius. Pembelajaran masih dilaksanakan dengan cara yang konvensional yaitu siswa diberi tugas membaca di sekolah atau di rumah. Tugas itu siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar isi bacaan tersebut. Proses siswa membaca bukanlah tujuan utama. Tujuannya adalah siswaMembaca tugas sesuai keinginan guru.

Data yang ada pada siswa dalam penilaian membaca pemahaman memperoleh nilai rata-rata kemampuan membaca pemahaman untuk kelas IV setelah diadakan ulangan harian hanya 60 masih berada dibawah nilai KKM yaitu 75 dari nilai ideal 100. Kondisi pembelajaran membaca pemahaman pada siswa perlu segera diperbaiki. Jalan keluar yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada adalah pemberian alternatif pelaksanaan pembelajaran membaca dengan model, teknik, pendekatan yang berbeda. Di samping itu, pendekatan yang diambil juga harus dapat menggambarkan tingkat pemahaman siswa yang menyeluruh, baik pada pemahaman isi yang ditujukan dengan kemampuan siswa mengungkapkan kembali isi bacaan baik secara lisan maupun tulisan.

Untuk mengatasi dampak negatif terhadap ketidakmampuan membaca dan memahami isi bacaan dengan baik, diperlukan suatu teknik atau model pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas membaca pemahaman. Salah satu alternatif pemecahan masalah yang digunakan dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman adalah dengan menggunakan metode KWL.

Metode KWL merupakan kepanjangan dari Know-Want to know-Learned. Oleh sebab itu, metode ini dikembangkan oleh Ogle untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. Metode KWL melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memahami sebuah wacana. KWL diciptakan atas dasar bahwa membaca akan berhasil jika diawali dengan kepemilikan skemata atas isi bacaan. Tiga langkah dalam KWL ini berisi berbagai kegiatan yang berguna meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa diantaranya curah pendapat, menentukan kategori dan organisasi ide, menyusun pertanyaan secara sfesifik, dan mengecek hal-hal yang ingin diketahui/ dipelajari siswa dari sebuah bacaan. (Abidin, 2012: 87).

MetodeKWL adalah singkatan dari ; K (know) Apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (want) Apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), L (learned) Apa yang telah diketahui (setelah membaca). Teori tersebut ialah suatu teknik membaca kritis di mana pembaca mengingat dahulu apa yang telah diketahui atau menentukan apa yang ingin diketahui melakukan pembacaan (bahan yang telah dipilih) mengetahui apa yang telah diperoleh dari pembacaan yang baru dilakukan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian tentang membaca pemahaman dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca pemahaman dan aktivitas belajar siswa melalui penerapanmetode KWL di kelas IVSD Negeri 138436 Tanjungbalaitahun pelajaran 2017/2018.

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 138436 Tanjungbalai.Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 selama 4 (empat) bulan mulai dari bulan September sampai

(3)

38

dengan Desember 2017. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober2017selama 4 (empat) KBM yang dibagi dalam 2 (dua) Siklus.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas IVSD Negeri 138436 Tanjungbalaitahun pelajaran 2017/2018yang berjumlah 20 orang.

C. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau disekolah dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan meliputi siklus dengan empat tahap, menurut Aqib (2006 : 21) dalam satu siklus terdiri atas empat langkah, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting).

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Tes formatif, untuk menilai keterampilan membaca pemahaman siswa terdiri dari sepuluh soal objektif untuk setiap akhir siklus.

2. Lembar observasi aktivitas siswa, untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran secara berkelompok terdiri dari lima aspek pengamatan yaitu: menulis, membaca, diskusi, bertanya, dan aktivitas yang tidak relevan.

E. Teknik Analisis Data

Data hasil tes dianalisis menggunakan krteria ketuntasan minimal (KKM) untuk memperoleh persentase siswa tuntas. Persentase siswa tuntas dibandingkan dengan indikator keberhasilan penelitian. F. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan penelitian ini tercapai apabila nilai siswa secara individu mencapai KKM keterampilan membacakelas IV yang ditetapkan sekolah sebesar 75 dan secara klasikal≥ 85% siswa mencapai KKM tersebut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Siklus I

A. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP 1 dan 2, LKS 1 dan 2, soal tes formatif I dan alat-alat pembelajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengolahan metode KWL, dan lembar observasi aktivitas siswa.

B. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Siklus I dilakasanakan pada tanggal 5 Oktober 2017 dan 12 Oktober 2017 di Kelas IV dengan jumlah siswa 20 siswa. Pelaksanaan metode KWLmelalui tahapan sebagai berikut: K (know), apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (want), apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), L (learned), apa yang telah diketahui (setelah membaca). Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacupada RPP yang telah dipersiapkan.Pengamatan aktivitas belajar dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pelaksanaan tindakan pada Siklus I memerlukan 2 (dua) kali tatap muka, setiap tatap muka memerlukan 3 x 35 menit dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

(4)

39

C. Tahap Observasi

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Pada saat belajar mengajar dilakukan pengamatan terhadap akivitas belajar siswa dengan hasil seperti pada tabel berikut :

Tabel 1. Aktivitas Siswa Pada Siklus I

No Aktivitas Proporsi

1 Menulis 38%

2 Membaca 31%

3 Diskusi 21%

4 Bertanya 5%

5 Yang tidak relevan 5%

Jumlah 100%

Merujuk pada tabel 1, pada Siklus I rata-rata aktivitas menulismemperoleh persentase 38%. Aktivitas membacamemperoleh persentase 31%. Aktivitas diskusimemperoleh persentase 21%. Aktivitas bertanya memperoleh persentase 5% dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM memperoleh persentase 5%.Pada Siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode KWL sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.

Berikutnya dalah rekapitulasi hasil tes keterampilan membaca pemahaman pada formatif I seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Distribusi Hasil Formatif I

Nilai Frekuensi Ketuntasan Rata-rata

100 2 10% 60 80 6 30% 60 6 - 40 3 - 20 2 - 0 1 - Jumlah 20 40%

Merujuk pada tabel 2 tersebut, nilai terendah Formatif I adalah 0 dan tertinggi adalah 100 dengan kriteria ketuntasan minimal 70 maka 8 dari 20 siswa mendapat nilai mencapai KKM atau ketuntasan klasikal adalah sebesar 40%. Dengan mengacu pada ketuntasan klasikal minimum sebesar 85% maka nilai ini berada di bawah kriteria keberhasilan sehingga dapat dikatakan KBM Siklus I gagal memberi ketuntasan belajar dalam kelas. Nilai rata-rata kelas adalah 60 juga di bawah KKM. Sehingga ketuntasan keterampilan membaca pemahaman siswa belum tercapai.

A. Tahap Refleksi dan Tindakan Perbaikan I

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut :

Tahapan-tahan dalam metode KWL seperti tahapan Know dan Learned belum berjalan baik sehingga alur pembelajaran tidak sesuai dengan skeneria pembelajaran yang direncanakan.

(5)

40

 Kualitas tanya jawab atau pendapat siswa belum maksimal, hal ini karena siswa-siswa tertentu yang selama ini pasif dalam pembelajaran agak kesulitan mengikuti alur pembelajaran dimana siswa masih kesulitan mengingat isi teks sehingga kesulitan mencapai tingkat pemahaman.

 Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran.

 Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu dan pengorganisasian kelompok.

 Pengambilan tindakan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran tidak dapat langsung dilakukan oleh guru hingga menunggu refleksi yang dilakukan bersama pembimbing penelitian. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada Siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya tindakan perbaikan untuk dilakukan pada Siklus berikutnya.

Perlu dirumuskan alur pembelajaran yang sesuai dengan metode KWL terutam pada fase Know dan Learned yakni pertanyaan yang sesuai untuk memicu siswa berpikir.

 Membantu siswa beradaptasi dengan alur pembelajaran, dimana setiap pendapat siswa dihargai dengan pujian ”bagus” atau meminta siswa lain bertepuk tangan.

 Guru menganalisis kemungkinan-kemungkainan kesulitan siswa dalam Siklus II dan segera merencanakan tindakan yang dapat dilakukan langsung dalam pembelajaran.

 Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

 Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan .

 Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

2. Siklus II

A. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri ari RPP 3 dan 4, LKS 3 dan 4, soal tes keterampilan membaca pemahaman sebagai formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan metode KWL dan lembar observasi aktivitas siswa.

B. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Siklus II dilaksanakan pada 19 Oktober 2017dan 26 Oktober 2017di Kelas IV dengan jumlah siswa 20 siswa. Pelaksanaan metode KWL melalui tahapan sebagai berikut : K (know), apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (want), apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), L (learned), apa yang telah diketahui (setelah membaca). Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada Siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada Siklus I tidak terulang lagi pada Siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakanbersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.Pelaksanaan tindakan pada Siklus II memerlukan 2 (dua) kali tatap muka, setiap tatap muka memerlukan 3 x 35 menit.

C. Tahap Observasi

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Pada saat belajar mengajar dilakukan pengamatan terhadap akivitas belajar siswa dengan hasil seperti pada tabel berikut :

(6)

41

Tabel 3. Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus II

No Aktivitas Proporsi

1 Menulis 31%

2 Membaca 36%

3 Diskusi 21%

4 Bertanya 9%

5 Yang tidak relevan 3%

Jumlah 100%

Merujuk pada tabel 3, pada Siklus II, aktivitas menulis memperoleh persentase 31%. Aktivitas membacamemperoleh persentase 36%. Aktivitas diskusimemperoleh persentase 21%. Aktivitas bertanya memperoleh persentase 9% dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM memperoleh persentase 3%. Secara keseluruhan aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan kualitas yang menuju perbaikan.

Berikutnya adalah rekapitukasi hasil tes keterampilan membaca pemahaman siswa melalui formatif II seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Distribusi Hasil Formatif II

Nilai Frekuensi Ketuntasan Rata-rata

100 5 25% 81 80 12 60% 60 2 - 40 1 - Jumlah 20 85%

Merujuk pada tabel 4 tersebut, nilai terendah formatif II adalah 40 dan tertinggi adalah 100 dengan kriteria ketuntasan minimal 70 maka 17 dari 20 siswa mendapat nilai mencapai KKM atau ketuntasan klasikal adalah sebesar 85%. Dengan mengacu pada ketuntasan klasikal minimum sebesar 85% maka nilai ini berada pada kriteria keberhasilan sehingga dapat dikatakan KBM Siklus I berhasil memberi ketuntasan belajar dalam kelas. Nilai rata-rata kelas adalah 81 juga di atas KKM. Sehingga Siklus II berhasil memberikan keterampilan membaca siswa secara tuntas.

D. Tahap Refleksi II

Hasil observasi yang didapat dari pengamatan, bahwa peneliti dalam melaksanakan metodeKWL dalam pembelajaran sudah berhasil dan termasuk dalam kategori baik. Data menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada Siklus II lebih baik dari pada Siklus I, penurunan aktivitas tidak relevan terjadi pada Siklus II. Aktivitas yang tidak relevan dengan KBM pada Siklus II menyusut. Sehingga secara keseluruhan terjadi peningkatan kualitas aktivitas belajar siswa. Data aktivitas belajar siswa secara tiap siklus disajikan dalam gambar 1. 38% 31% 21% 5% 5% 31% 36% 21% 9% 3% 1 2 3 4 5 Siklus 1 Siklus 2

(7)

42

Keterangan: 1. Menulis 2. Membaca 3. Diskusi 4. Bertanya

5. Yang tidak relevan

Gambar 1. Grafik aktivitas siswa Siklus I dan Siklus II

Selama pengamatan terhadap aktivitas siswa Siklus IIdan penilaian terhadap keterampilan membaca pemahamansetelah penerapan metodeKWLSiklus II, sudah terjadi peningkatan dibandingkan Siklus I. Hasil belajar siswa sudah menunjukkan peningkatan dan secara klasikaldapat dikatakan tuntas. Secara keseluruhan semua aspek dalam hasil belajar mengalami peningkatan dari Siklus I ke Siklus II. Data peningkatan hasil belajar siswa tiap Siklusdisajikan dalam gambar 2.

Gambar 2. Grafik Keterampilan Membaca Pemahaman Siswa B. Pembahasan

Merujuk pada gambar 1,pada Siklus I rata-rata aktivitas menulismemperoleh persentase 38%. Aktivitas membaca memperoleh persentase 31%. Aktivitas diskusi memperoleh persentase 21%. Aktivitas bertanya memperoleh persentase 5% dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM memperoleh persentase 5%. Pada Siklus II, aktivitas menulis memperoleh persentase 31%. Aktivitas membaca memperoleh persentase 36%. Aktivitas diskusi memperoleh persentase 21%. Aktivitas bertanya memperoleh persentase 9% dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM memperoleh persentase 3%.

Merujuk pada gambar 2, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata setelah penerapan metode KWLmengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes pada Siklus I, nilai rata-rata keterampilan membaca yang dicapai siswa adalah 60dengan ketuntasan klasikal 40%, untuk nilai rata-rata hasil belajardan persentasi ketuntasan klasikal yang dicapai belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan namun begitu masih terdapat beberapa siswa memperoleh nilai yang di atas kriteria ketuntasan minimum. Baru pada Siklus II diperoleh hasil rata-rata 81dengan persentae ketuntasa 85%. Kedua nilai baik rata-rata dan ketuntasan klasikal telah mencapai kriteria atau Siklus II berhasil meningkatkan keterampilan membaca siswa sampai pada ketuntasan klasikal.

Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada Siklus II lebih baik dari pada Siklus I. Kesimpulan ini diperkuat dengan temuan bahwa aktivitas yang tidak relevan dengan KBM pada Siklus II menyusut mencapai 3%. 100 0 60 40 100 40 81 85

Nilai Tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai tes Ketuntasan klasikal (%) Siklus 1 siklus 2

(8)

43

Pada Siklus I belum tercapai ketuntasan belajar siswa dikarenakan selama pengamatan terhadap kegiatan siswa Siklus I, masih terdapat beberapa kekurangan, yaitu:

Tahapan-tahan dalam metode KWL seperti tahapan Know dan Learned belum berjalan baik sehingga alur pembelajaran tidak sesuai dengan skeneria pembelajaran yang direncanakan.

 Kualitas tanya jawab atau pendapat siswa belum maksimal, hal ini karena siswa-siswa tertentu yang selama ini pasif dalam pembelajaran agak kesulitan mengikuti alur pembelajaran dimana siswa masih kesulitan mengingat isi teks sehingga kesulitan mencapai tingkat pemahaman.

 Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran.

 Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu dan pengorganisasian kelompok.

 Pengambilan tindakan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran tidak dapat langsung dilakukan oleh guru hingga menunggu refleksi yang dilakukan bersama pembimbing penelitian. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada Siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya tindakan perbaikan untuk dilakukan pada Siklus berikutnya.

Perlu dirumuskan alur pembelajaran yang sesuai dengan metode KWL terutam pada fase Know dan Learned yakni pertanyaan yang sesuai untuk memicu siswa berpikir.

 Membantu siswa beradaptasi dengan alur pembelajaran, dimana setiap pendapat siswa dihargai dengan pujian ”bagus” atau meminta siswa lain bertepuk tangan.

 Guru menganalisis kemungkinan-kemungkainan kesulitan siswa dalam Siklus II dan segera merencanakan tindakan yang dapat dilakukan langsung dalam pembelajaran.

 Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

 Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan .

 Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

Sehingga selama pengamatan terhadap kegiatan siswa Siklus II (aktivitas siswa), penilaian terhadap keterampilan membaca pemahamanselama penerapan metodeKWLSiklus II, sudah tidak terlihat hal-hal yang harus diadakan perbaikan, siswa yang membuat gaduh pada Siklus II dapat diatasi oleh guru dengan baik, hasil belajar siswa sudah menunjukkan peningkatan dan semua siswa dikatakan tuntas. Secara keseluruhan semua aspek dalam hasil belajar mengalami peningkatan dari Siklus I ke Siklus II. Karena proses pelaksanaan pada Siklus II telah dapat mencapai hasil dari pembelajaran yang diharapkan dan telah dapat menjawab rumusan masalah pada penelitian ini, maka tidak diadakan Siklus selanjutnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan pada penelitian yang dilakukan oleh Harsono (2012) yang menunjukkan bahwa penguasaan membaca intensif siswa yang diajarkan dengan strategi KWL diperoleh dari tes kemampuan membaca intensif siswa. Dari pemaparan tersebut sudah terlihat bahwa strategi KWL mampu meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa.

Adapun beberapa langkah utama yang harus ditempuh oleh guru dalam menerapkan strategi KWL dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca intensif, antara lain terletak pada langkahlangkah pembelajaran yaitu, (1) kegiatan awal, guru memaparkan secara jelas penerapan strategi KWL dalam pembelajaran membaca intensif sebelum siswa diminta untuk membaca wacana. Setelah itu, guru memberikan apersepsi dan topik yang akan di bahas pada kegiatan inti. (2) kegiatan inti, guru memberikan kesempatan untuk siswa berpendapat mengenai topik tersebut tentang hal yang sudah siswa pelajari sebelumnya atau diketahui. Berikutnya guru menugaskan siswa untuk membuat pertanyan mengenai yang ingin diketahui siswa terkait topik, tugas guru hanya sebagai pengarah agar proses pembelajaran

(9)

44

berlangsung dengan baik dan yang terakhir guru membagikan wacana terkait topik, siswa ditugaskan untuk menjawab pertanyaan yang telah dibuat. (3) kegiatan akhir guru meminta siswa untuk menyimpulkan isi bacaan, dari hal tersebut terlihat siswa yang membaca secara intensif dengan siswa yang tidak membaca secara intensif.

Pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran metode KWL memiliki kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran konvensioanl. Pada pembelajaran metode KWLdapat memacu dan merangsang siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran metode KWL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam dalam membaca pemahaman dan juga meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui melalui kegiatan membaca bertujuan. Sehingga menjadikan siswa lebih termotivasi untuk belajar sebab siswa diajak terlibat langsung.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Dari data hasil penelitianketerampilan dan aktivitas belajar membaca pemahaman pada siswa kelas IVSD Negeri 138436 Tanjungbalai dengan menerapkan metodeKWLdapat disimpulkan antara lain:

1. Keterampilan membaca pemahaman siswa meningkat dengan menerapkan metodeKWL pada Formatif I menunjukkan rata-rata 60 dengan ketuntasan kalsikal 40% danpada Formatif II menunjukkan rata-rata 81 dengan ketuntasan klasikal 85% atau terjadi peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 45% dan mencapai kriteria keberhasilan penelitian.

2. Aktivitas belajar siswa meningkat dengan menerapkan metode KWL pada pada Siklus I aktivitas menulis 38%, membaca 31%, diskusi 21%, bertanya kepada guru 5%, dan yang tidak relevan dengan KBM 5% sedangkan pada Siklus IIaktivitasmenulis31%, membaca36%, diskusi21%, bertanya kepada guru 9%, dan yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar 3%.

B. Saran

Setelah melakukan peneliti dengan menerapkan metode KWLuntuk meningkatkan keterampilan dan aktivitas belajar membaca pemahaman siswa, dapat disarangkan hal-hal berikut :

1. Guru dapat memilih alternatif pembelajaran dengan menerapkan metodeKWL dalam pembelajaran membaca, baik itu membaca wacana atau bacaan yang lain.

2. Agar menjadikan pembelajaran yang menyenangkan bagisiswa, khususnya dalam materi membaca, guruhendaknya harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengemas pembelajaran.

3. Penulis berharap untuk penelitian pembelajaran membaca pemahaman dapat menggunakan model, metode, teknik, dan media yang belumpernah digunakan sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Z. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

Djojosuroto, K.2006. Analisis Teks Sastra dan Pengajarannya. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Harsono, Amiliya S.R. 2012. Pengaruh Strategi Know Want To Learned (KWL) dan Minat Membaca terhadap Kemampuan Membaca Intensif Siswa SMP Negeri di Temanggung. Skripsi (Tidak diterbitkan) Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Sebelas Maret.

Iskandarwassid. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: ROSDA

Rahim, F. 2008. Pengajaran Keterampilan Membaca di Sekolah dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Sudiana, I Nyoman. 2007. Membaca. Malang: Universitas Negeri Malang.

Gambar

Tabel 1. Aktivitas Siswa Pada Siklus I
Tabel 4. Distribusi Hasil Formatif II
Gambar 1. Grafik aktivitas siswa Siklus I dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Defisit perawatan diri berhubungan dengan menurunnya kemampuan merawat diri Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dapat merawat7.

Sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran pendapatan adalah biaya-biaya yang hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan ini tidak

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara , mengenai hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak yang tidak signifikan antara kesadaran merek dan loyalitas, sedangkan dampak yang signifikannya adalah persepsi

Berdasarkan draf laporan yang telah diparaf kasubbag umum & keuangan dan Sekretaris menandatangani laporan SAIBA tersebut untuk kemudian diteruskan kepada petugas

Pandangan (persepsi) masyarakat tentang remaja yang mengkonsumsi minuman keras dalam penelitian awal, mereka atau masyarakat khususnya mengatakan bahwa remaja sekarang ini tidak

Berdasarkan karakteristik sifat optik dan sifat listriknya didapatkan bahwa sampel Sp 2 adalah sampel yang terbaik untuk diaplikasikan sebgai bahan aktif sel surya

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa komunikasi pemasaran merupakan kegiatan atau usaha yang di lakukan oleh sebuah perusahaan guna menyebarluaskan informasi