• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKTA PENETAPAN PA WONOSOBO NO. 11 / P / 2004 / PA. WSB TENTANG IZIN MENIKAH BAGI SUAMI DALAM MASA IDDAH TALAK RAJ I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III AKTA PENETAPAN PA WONOSOBO NO. 11 / P / 2004 / PA. WSB TENTANG IZIN MENIKAH BAGI SUAMI DALAM MASA IDDAH TALAK RAJ I"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MASA IDDAH TALAK RAJ’I

A. Sekilas Tentang Pengadilan Agama Wonosobo.

1. Sejarah terbentuknya.

Pengadilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan

“Peradilan Agama” telah ada diberbagai tempat di Nusantara, jauh sejak jaman penjajahan Belanda. Bahkan menurut pakar sejarah Peradilan, Peradilan Agama sudah ada sejak abad ke 16. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul seabad Peradilan Agama di Indonesia, tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai hari jadinya, yaitu bersamaan dengan diundangkannya Ordonantie Staatsblad tahun 1882 No. 152 tentang Peradilan Agama di Pulau Madura.

Hingga sekarang Peradilan Agama barjalan, putusannya ditaati dan dilaksanakan dangan sukarela, tetapi hingga diundangkannya UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1898, Peradilan Agama belum pernah memiliki Undang-Undang tersendiri tentang susunan, kekuasaan dan acara, melainkan terserak-serak dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan kesatuan, lagi pula tidak seragam.

1

(2)

Kekuasaannya kadang kala berbenturan dengan Peradilan Umum karena memang sengaja dibuat tidak jelas oleh Pemerintah Jajahan, sebab Pemeritah Jajahan sejak semula sangat khawatir terhadap hukum Islam, lantaran hukun Islam itu. Disamping bertentangan dengan agama mereka, juga merupakan hukum yang sebagian besar dianut oleh bangsa Indonesia.

Memberikan hak hidup kepada hukum Islam sama artinya dengan memberikan peluang hidup terhadap Hukum Bangsa Indonesia.1

Begitu pula dengan Pengadilan Agama Wonosobo yang telah ada sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda yang menangani masalah- masalah sengketa suami-istri yang beragama Islam (Saatsblad 1882), dan pada saat itu Pengadilan Agama Wonosobo masih bertempat di Masjid Jami’ Al Mansur Wonosobo.

Baru kemudian pada tahun 1980 didirikan Kantor Pengadilan Agama Wonosobo dengan anggaran proyek APBN dengan nama Gedung Balai Sidang Pengadilan Agama di jalan Argopeni, Desa Kalianget, Kecamatan Wonosobo.

Kemudian pada bulan Januari 2004 Kantor Pengadilan Agama pindah dijalan Bambang Sugeng, Desa Mendolo, Kecamatan Wonosobo, hal ini karena ditempat yang sebelumnya dirasa kurang memberikan rasa kenyamanan bagi pencari keadilan, karena tempatnya yang kurang

1 Roihan Rasyid, Hukum Peradilan Agama, Jakarta: Raya Grafindo Persada, Cetaan ke 10. 2003. halaman 1.

(3)

strategis dan gedungnya dirasa kurang luas. Ditempat yang baru ini selain tempatnya yang strategis juga diadakan perluasan gedung.

Adapun aparat Pengadilan Agama Wonosobo sebelum berlakunya UU No. 1 tahun 1974 terdiri dari: Hakim Ketua, Wakil Ketua dan Panitera, sedangkan Hakim Anggota terdiri dari para Ulama yang menguasai hukum Syari’at Islam, dengan status hukum haNorer dan yang menjadi Ketua Majelis adalah Ketua Pengadilan Agama atau Wakilnya.

Setelah diberlakukannya UU No. 1 tahun 1974, maka aparat Pengadilan Agama terdiri dari: Ketua, Wakil Ketua, Hakim, Panitera / Sekertaris dan tidak boleh lagi memakai hakim hoNorer, kemudian setelah berlakunya UU No. 7 tahun 1989 aparat Pengadilan Agama terdiri dari : a. Ketua

b. Wakil Ketua c. Hakim

d. Panitera / Sekretaris

e. Wakil Panitera / Panitera Perkara

Tentang Bimbingan Adminitrasi Yustisial Pengadilan Agama, sejak berdirinya Departemen Agama tahun 1946, telah dinyatakan bahwa Pengadilan Agama yang berada di bawah pengawasan dan bimbingan Departemen Agama, dalam hal ini Jawatan Pengadilan Agama yang berkembang menjadi Jawatan Pengadilan Agung (JAPA) dan kemudian menjadi Biro Pengadilan Agama (BIRPA).

(4)

Keadaan ini berlaku sampai tahun 1974, yaitu dengan adanya UU No. 1 tahun 1974. Sejak tahun 1974 sampai tahun 1989, Mahkamah Agung mulai mengadakan kerja sama dengan Departemen Agama dalam bidang yustisial, kemudian setelah berlaku UU No.1 tahun 1989 baik hubungan dan pengawasan, tentang Atminitrasi maupun Yustisialnya berada dibawah kekuasaan Mahkamah Agung, berdasarkan UU No.14 tahun 1970 pasal 10 ayat (1) sampai (4).

Perkembangan ini terjadi pula di Pengadilan Agama Wonosobo dan dalam perkembangannya tersebut, Pengadilan Agama Wonsobo telah mengalami beberapa pergantian pimpinan. Dimana yang menduduki jabatan sebagai Ketua Pengadilan Agama Wonosobo sejak tahun 1939 sampai sekarang adalah sebagai berikut :2

1. Periode 1939-1943 diketuai oleh K. Abu Makarim.

2. Periode 1943-1949 diketuai oleh A. Sama Wasito.

3. Periode 1949-1952 diketuai oleh K. Adzkiyz.

4. Periode 1952-1954 diketuai oleh K.H. Busyeri.

5. Periode 1954-1957 diketuai oleh K. Tamlicho.

6 Periode 1957-1960 diketuai oleh K. Afif.

7 Periode 1960-1967 diketuai oleh K. Idris

8 Periode 1967-1977 diketuai oleh K. A. Miftah Idris (wakil) 9 Periode 1977-1980 diketuai oleh K. H. M. Qomari.

2 Hasil wawancara dengan Wakil Ketua PA Wonosobo dengan Drs. H M Hidayat, SH, Mh, tanggal 22 Sept 2004.

(5)

10 Periode 1980-1984 diketuai oleh K H. Miftah Idris.

11 Periode 1984-1988 diketuai oleh Drs. H Mukhrom.

12 Periode 1988-1999 diketuai oleh Nikun PriyoNo. S.H.

13 Periode 1999-2002 diketuai oleh Sumarno SH.

14 Periode 2002-sekarang diketuai oleh Drs. Miftahudin SH.

Adapun Struktur Organisasi P.A. Wonosobo adalah sebagai berikut : 1. Ketua : Drs. Miftahudin, SH

2. Wakil Ketua : Drs. H.M. Hidayat, SH, MH 3. Panitera/Sekretaris : Ngadiman, SH

4. Wakil Panitera : Fatchurrozi. SH 5. Wakil Sekretaris : Adi Permono, SH

6. Hakim :

a. Hajah Farichah, SH.

b. Drs. H. Furqon Yunus c. Drs. H. Ichwan M.Ag.

d. Drs. Suhaeb e. Drs. M.A. Madiyan f. Dra. Hj. Dhohwah g. Drs. Ahmadi M.H h. Drs. Masfuri i. Drs. Ali Mas’ad 7. Panitera Muda Permohonan : Dra. Hj. Siti Djuwariyah 8. Panitera Muda Gugatan : Drs. M. Zaidin.

(6)

9. Panitera Muda Hukum : Mualif, S,Ag 10. Kasubag Kepegawaian : Aminah, S,Ag 11. Kasubag Umum : Ahmad Najin, S,Ag.

12. Panitera Pengganti

a. Nihad Maksudi, S.Ag b. Siti Nuryati S.Ag c. Latifah, S.Ag d. Siti Saetifah, SH e. Mukholiq, SH f. Irawan. H.W, SH g. Wahid Salim S.Ag 13. Juru Sita Pengganti :

a. Komar.

b. Agung Febri. S c. Marsa’at

d. Bambang Gunawan e. Mugiarti, S,Ag f. Ernawati 2. Wewenang (Kompetensi) Pengadilan Agama Wonosobo

P.A. Wonosobo sebagaimana P.A. yang lainnya di Indonesia merupakan Peradilan Tingkat Pertama. P.A merupakan salah satu pelaksana kekuasan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragam Islam mengenai perdata tertentu.

(7)

Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, kewarisan, hibah, wakaf dan sodaqoh yang dilaksanakan berdasarkan hukum Islam.

Berdasarkan wilayah dan batas kerja yang ada didalam Pengadilan Agama Wonosobo memiliki dua macam wewenang (kompetensi), yaitu:

a. Kompetensi Relatif.

Kompetensi relatif adalah kekuasaan atas dasar wilayah hukum dan dapat diartikan sebagai kekuasaan Pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan, dalam perbedaannya dengan kekuasaan Pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan lainnya. 3

Kekuatan relatif Pengadilan Agama terdapat pada pasal 4 ayat (1) UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang berbunyi:

“Pengadilan Agama berkedudukan di Kotamadya atau di Ibu Kota Kabupaten, dan daerah-daerah hukumnya meliputi wilayah Kota Madya dan Kabupaten.”4

Adapun penjelasan pasal 4 ayat (1) tersebut adalah :

“Pada dasarnya tempat kedudukan Pengadilan Agama ada di Kota Madya atau ibu Kota Kabupaten, yang daerah hukumnya meliputi

3 Roihan Rasyid, Op.cit., hlm. 25.

4 Depag RI, Bahan Penyuluhan Hukum, Agama: Dirjen Bimbingan Islam. 1999/2000, hlm. 59.

(8)

Kotamadya atau Kabupaten, tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya pengecualian.”5

Kompetensi relatif ini mempunyai arti penting sehubungan dengan Pengadilan mana yang berhak untuk mengadili setiap perkara yang masuk.

Menurut penelitian penulis di Pengadilan Agama Wonosobo, didapatkan data wilayah hukum Pengadilan Agama Wonosobo yang meliputi:

1. Kecamatan Kejajar 2. Kecamatan Garung 3. Kecamatan Mojotengah 4. Kecamatan Watumalang 5. Kecamatan Kaliwiro 6. Kecamatan Wadaslintang 7. Kecamatan Leksono 8. Kecamatan Selomerto 9. Kecamatan Sukoharjo 10. Kecamatan Wonosobo 11. Kecamatan Kertek 12. Kecamatan Kejajar 13. Kecamatan Sapuran 14. Kecamatan Kepil

5 ibid.,hlm.59

(9)

15. Kecamatan Kalimbawang6 b. Kompetensi Absolut

Kompetensi absolut yaitu memandang suatu kewenangan Pengadilan yang bersifat mutlak. Dapat diartikan dengan kekuasaan Pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis Pengadilan atau tingkatan Pengadilan, dalam perbedaanya dengan jenis perkara atau jenis Pengadian atau tingkatan Pengadilan lainnya.7

Kompetensi absolut Pengadilan Agama disebutkan dalam pasal 49 dan 50 UU No. 7 tahun 1989 tentang Pengadilan Agama, yaitu:

1) Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam, di bidang:

a) Perkawinan

b) Kewarisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam

c) Wakaf dan shodaqoh

2) Bidang perkawinan sebagaimana dimaksud dalam pasal (1) huruf a, ialah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan UU mengenai perkawinan yang berlaku.

3) Bidang kewarisan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf b, ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris,

6 Sumber data kantor Pengadilan Agama Wonosobo.

7 Roihan Rasyid, Op.cit., hlm. 27

(10)

penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing–

masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.

Pasal 50 :

”Dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain dalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 49, maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum .”8

Dari pasal 49 diatas dapat diterangkan bahwa kompetensi absolut Peradilan Agama adalah meliputi 3 bidang yaitu :

1) Perkara Perkawinan

Yang dimaksud dengan bidang perkawinan yang diatur dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan antara lain adalah:

a) Izin beristri lebih dari seorang

b) Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang berusia 21 (dua puluh satu) tahun, dalam orang tua atau wali atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat.

c) Despensasi kawin d) Pencegahan perkawinan.

8 Depag RI, Op.cit., Hlm. 68

(11)

e) Penolakan perkawinan oleh pegawai pencatat nikah.

f) Pembatalan perkawinan .

g) Gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan istri.

h) Perceraian atas talak.

i) Gugatan perceraian

j) Penyelesaian harta bersama k) Mengenai penguasaan anak-anak

l) Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan atas pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggungjawab tidak memenuhinya .

m) Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri.

n) Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak.

o) Putusan tentang pencabutan kekuasan orang tua . p) Pencabutan kekuasaan wali

q) Penunjukan orang lain sebagai wali oleh Pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali di cabut

r) Menunjuk seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal oleh kedua orang tuanya padahal tidak ada penunjukan wali orang tuanya

(12)

s) Pembebanan kewajiban ganti kerugian terhadap wali yang telah menyebabkan kerugian atas harta benda anak yang ada dibawah kekuasannya

t) Penetapan asal usul seorang anak

u) Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran

v) Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain. 9

2) Perkara kewarisan, wasiat dan hibah

Bidang kewarisan sebagaimana disebutkan dalam pasal 49 ayat (3) UU No. 7 tahun 1989 tentang Pengadilan Agama adalah:

“Bidang kewarisan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf b ialah penentuan siapa saja yang akan menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.”

Adapun tentang wasiat dan hibah tidak dijelaskan secara rinci, hanya yang perlu dijelaskan disini bahwa wasiat harta adalah wasiat itu sudah dibuat pada saat si pembuat wasiat masih hidup tetapi berlakunya wasiat setelah si pembuat wasiat meninggal

9 ibid ., hlm. 87

(13)

dunia, sedangkan hibah tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang, sebab hibah itu dibuat sewaktu pemberi hibah masih hidup dan sudah dilaksanakan penyerahan kepada penerima hibah sewaktu pemberi hibah masih hidup.10

3) Perkara Wakaf dan Sodaqoh

Dalam UU No. 7 tahun 1989 tentang Pengadilan Agama, kedua istilah tersebut tidak dijelaskan dan itu berarti bahwa yang dimaksud adalah wakaf dan sodaqoh menurut konsepsi hukum Islam secara universal, artinya dalam hal wakaf tidak hanya terbatas pada Perwakafan Tanah Milik seperti yang diatur dengan PP Nomor. 28 tahun 1977, LN 1977-38.

Wakaf adalah suatu ibadah dengan cara menjadikan suatu benda miliknya, yang kekal zatnya, menjadi tetap untuk selamanya, diambil manfaatnya bagi kepentingan kebaikan (kepentingan umat manusia)

Sehingga jika timbul perselisihan tentang sah atau tidaknya wakaf atau sengketa karena telah dijualkan/digadaikan/

dihibahkan/diwariskan dan lain sebagainya, maka yang demikian itu menjadi kekuasaan Peradilan Agama, baik yang menyangkut benda bergerak maupun benda tetap.

10 ibid, hlm., 68

(14)

Sedangkan sodaqoh adalah memberikan benda atau barang, baik berupa benda bergerak atau benda tetap, yang segera habis bila dipakai atau tidak kepada orang lain atau kepada badan hukum seperti Yayasan atau sejenisnya itu, tanpa imbalan dan tanpa syarat melainkan semata-mata karena mengharapkan pahala dari Allah SWT di akhirat nanti. 11

Penjelasan Pasal 50 UU No. 7 tahun 1989 menerangkan bahwa :

“Penyelesaian terhadap objek yang menjadi sengketa yang dimaksud tidak berarti menghentikan proses peradilan di Pengadilan Agama atas obyek yang tidak menjadi sengketa itu.”12

Sesuai dengan UU No 7 tahun 1989 pasal 54 yang berbunyi:

“Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Pengadilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.”13

Dengan demikian sumber hukum acara yang berlaku di PA meliputi:

a) HIR/R.Bg

b) UU No. 7 Th 1989

11 Raihan Rasyid, Op.cit., hlm. 37

12 Depag RI, Op.cit, hlm.88

13 ibid, hlm. 69

(15)

c) UU No. 14 Th 1970 d) UU No.14 Th. 1985

e) UU No. 1 Th. 1974 jo. PP. No. 9 Th. 1975 f) UU No. 20 Th. 1947

g) Inpres No. 1. Th. 1991 (Kompilasi Hukum Indonesia) h) Peraturan Mahkamah Agung RI

i) Surat Edaran Mahkamah Agung RI j) Peraturan Menteri Agama

k) Keputusan Menteri Agama

l) Kitab-kitab Fiqih Islam dan sumber hukum tidak tertulis lainnya

m) Yurisprodensi Mahkamah Agung 14

Pengadilan Agama Wonosobo dalam menyelesaikan setiap perkara senantiasa berdasarkan hukum Islam yang terkandung dalam al-Qur'an dan Hadits, serta pendapat para Fuqoha dalam kitab fiqh sebagai sumber hukum. Adapun kitab-kitab yang dijadikan sebagai rujukan oleh para Hakim untuk saat sekarang ini tidak hanya terbatas pada kitab Fiqh 13, sebagaimana yang telah ditentukan oleh Biro PA No. B/1/735/1985 tertanggal 15 Desember 1958 melainkan semua kitab Fiqih yang relevan, bahkan termasuk KHI. Namun demikian dalam penerapannya senantiasa

14 A. Mukti Arto, Praktek Perkara Peerdata pada Pengadilan Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cet. III, 2000, hlm. 12

(16)

menggunakan azas kemaslahatan dengan memperhatikan situasi dan kondisi perkara atau kasus itu sendiri.15

B. Akta Penetapan PA Wonosobo No. 11/P/2004/PA WSB Tentang Ijin Menikah Bagi Suami Dalam Masa Iddah Talak Raj’i.

Bahwa Pengadilan Agama Kelas 1A Wonosobo telah menjatuhkan penetapan sebagai berikut dibawah ini,

Dalam perkara Slamet al Slamet Pamuji bin Hadi Suwito, Umur 34 Tahun, Agama Islam, Pekerjaan Swasta, tempat tinggal di Mulyosari, Desa Kejajar, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, selanjutnya disebut "Pemohon”.

Melawan :

Sri Hartati binti Moh. Kasli, umur 28 tahun, Agama Islam, Pekerjaan Swasta, tempat tinggal di Kejajar, Desa Kejajar, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, selanjutnya disebut “Termohon”.

Bahwa Pemohon telah menikah dengan termohon pada tanggal 24 Oktober 1994, tercatat pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, dengan bukti Akta Nikah No. 264/34/X/1994 tanggal 24 Oktober 1994.

Berdasarkan putusan Pengadilan Agama kelas 1A Wonosobo tanggal 16 Desember 2003 No. 1301/Pdt.G/2003/PA WSB yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Amarnya berbunyi sebagai berikut:

15 Hasil wawancara dengan Wakil Ketua PA Wonosobo dengan Drs. H M Hidayat, SH, Mh, tanggal 22 Sept 2004.

(17)

- Menyatakan termohon telah dipanggil dengan cara sah dan patut tidak hadir.

- Mengabulkan permohonan pemohon dengan verstek

- Memberi ijin kepada pemohon (Slamet al Slamet Pamuji bin Hadi Suwito) untuk mengucapkan ikrar talak terhadap termohon (Sri Hartati binti Moh. Kasli) dihadapan Sidang Pengadilan Agama Kelas 1A Wonosobo.

- Menghukum pemohon untuk membayar kepada termohon berupa nafkah anak sebesar Rp. 150. 000,- (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah) setiap bulan.

- Membebankan kepada pemohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 226.000,- (Dua Ratus Dua Puluh Enam Ribu Rupiah) Berdasarkan berita acara Persidangan Pengadilan Agama Kelas 1A Wonosobo tanggal 24 Februari 2004 No. 1301/Pdt.G/ 2003/PA WSB.

Pemohon telah mengucapkan ikrar talak pada hari selasa tanggal 24 Februari 2004 kepada istrinya Sri Hartati binti Moh. Kasli. Untuk itu Pengadilan Agama Wonosobo menetapkan bahwa perkawinan antara Pemohon Slamet al Slamet Pamuji bin Hadi Suwito dengan termohon Sri Hartati binti Moh. Kasli putus karena perceraian dengan talak Raj’i.16

Di Pengadilan Agama Wonosobo jumlah perkara izin menikah bagi suami dalam masa iddah talak Raj’i relatif kecil dibandingkan dengan jumlah perkara cerai talak atau cerai gugat. Sebagai contoh dalam tahun 2003 jumlah

16 Salinan Penetapan No. 1301/Pdt.G/2003/ PA WSB, tanggal 16 Desember 2003

(18)

perkara izin menikah dalam masa iddah yang diterima oleh P.A Wonosobo tercatat 33 perkara. Sedang jumlah cerai talak yang diterima oleh P.A Wonosobo tercatat 681 perkara dan cerai gugat 904 perkara. Hal ini disebabkan suami yang ingin menikah lagi dengan wanita lain setelah cerai dengan istrinya lebih suka menunggu masa iddah selesai. Ijin menikah dalam masa iddah tersebut pada tahun 2003 semua dikabulkan Pengadilan Agama Wonosobo, karena memenuhi syarat. Adapun salah satu contoh perkara ijin menikah dalam masa iddah yang terjadi di Pengadilan Agama Wonosobo adalah perkaranya Slamet al-Slamet Pemuji bin Hadi Suwito, sebagai berikut:

1.) Tentang duduknya perkara

Bahwa pemohon dengan surat permohonannya tanggal 4 Maret 2004, yang kemudian didaftarkan kepaniteraan Pengadilan Agama Wonosobo pada hari itu juga di bawah Nomor register:

11/Pimdir/2004/PA Wonosobo yang pada pokoknya sebagai berikut : - Bahwa pemohon belum memenuhi persyaratan yaitu istri dalam masa

iddah sehingga oleh karenanya belum dapat untuk melaksanakan

pernikahan.

- Bahwa pemohon adalah bekas suami Sri Hartati binti Muh. Kasli dari perceraian yang dilaksanakan di Pengadilan Agama kelas 1A Wonosobo tanggal 24 Februari 2004 dengan talak satu Raj’i, dengan mendapatkan Akta Cerai tanggal 24 Februari 2004 Nomor : 193/AC/2004/PA Wonosobo.

(19)

- Bahwa pemohon selama dalam masa iddahnya bermaksud akan menikah dengan seorang perempuan bernama Sri Namayanti binti Yustangin, umur 20 tahun, agama Islam, pekerjaan wiraswasta, bertempat tinggal di Bakalan desa Siwuran, Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo, yang tidak ada hubungan keluarga dengan pemohon maupun bekas istri pemohon.

- Bahwa alasan yang mendasari permohonan pemohon untuk segera menikah sebelum habis masa iddah bekas istri pemohon ialah

a. Tidak sanggup menduda terlalu lama.

b. Untuk menghindari perbuatan yang melanggar agama.

c. Tidak akan merujuk bekas istrinya.

d. Telah adanya kesanggupan diri calon istri pemohon.

- Bahwa atas dasar dalil dan alasan tersebut pemohon mohon agar Pengadilan menjatuhkan akta penetapan sebagai berikut :

a. Mengabulkan permohonan pemohon.

b. Memberi izin kepada pemohon untuk menikah dengan Sri Namayanti binti Yustangin dalam masa iddah bekas istri pemohon Sri Hartati binti Muh. Kasli.

- Bahwa pemohon sanggup menanggung biaya penyelesaian yang timbul dalam masalah ini.

- Bahwa untuk meneguhkan keterangannya, pemohon telah mengajukan alat bukti yang berupa bukti-bukti tertulis. Dan sebagai bukti-bukti tertulis pemohon menyerahkan :

(20)

a. Foto copy akta cerai atas nama pemohon dengan bekas istri pemohon dari Pengadilan Agama Wonosobo tanggal 24 Februari 2004 Nomor : 193/AC/2004/PA Wonosobo.

b. Surat pernyataan dari pemohon tentang keterangan bahwa pemohon benar-benar tidak akan merujuk bekas istrinya.

2.) Tentang pertimbangan hukum

Menimbang bahwa perkara slamet al slamet pamuji bin hadi suwito ini menjadi wewenang Pengadilan Agama Wonosobo. Dimana maksud dan tujuan permohonan pemohon sebagaimana telah diuraikan di atas dipandang telah memenuhi persyaratan dan telah terpenuhi alasan maka permohonan pemohon dapat diterima dan diteruskan kepada pemeriksa pokok perkara. Berdasarkan keterangan pemohon yang diperkuat dengan alat cerai yang diajukan dan surat pernyataan dari pemohon untuk tidak akan merujuk bekas istrinya harus dinyatakan terbukti bahwa pemohon adalah duda cerai yang masih di dalam masa iddah Raj’i dari bekas istrinya bernama Sri Hartati binti Muh. Kasli.

Berdasarkan keterangan pemohon yang diperkuat dengan alat-alat bukti tertulis harus dinyatakan terbukti bahwa pemohon akan segera melangsungkan pernikahan dengan calon istri pemohon, dengan alasan yang masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum, maka majlis memandang patut untuk mempertimbangkannya. Pemohon juga menerangkan bahwa antara pemohon dan bekas istri pemohon dengan calon istri pemohon tidak ada yang dapat jadi penghalang untuk

(21)

dilangsungkannya pernikahan antara pemohon dengan calon istri pemohon.

Sesuai dengan ketentuan pasal 89 ayat (1) segala biaya penyelesaian perkara dibebankan kepada pemohon. Dan jalannya pemeriksaan kesemuanya telah dicatat di dalam berita acara tersebut.

Maka dengan mengingat kepada

a. UU No. 1 tahun1974 Jo PP No. 9 tahun 1975.

b. UU No. 7 tahun 1989

c. Surat edaran direktur pembinaan badan peradilan Agama Islam No.

DIV/Ed/17/1979, tanggal 10 Februari 1979.

Dalam surat edaran tersebut menjelaskan ;

1.) Bagi seorang suami yang telah menceraikan istrinya dengan talaq Raj’i dan mau menikah lagi dengan wanita lain sebelum habis masa iddah bekas istrinya, maka dia harus mengajukan ijin poligami ke Pengadilan Agama.

2.) Sebagai pertimbangan hukumnya adalah penafsiran bahwa pada hakikatnya suami istri yang bercerai dengan talaq Raj’i adalah masih dalam ikatan perkawinan selama belum habis masa iddahnya. Karenanya bila suami tersebut akan menikah lagi dengan wanita lain pada hakikatnya dari segi kewajian hukum dan inti hukum adalah beristri lebih dari seorang (poligami).

(22)

3.) Sebagai produk Pengadilan penolakan atau ijin permohonan tersebut harus dituangkan dalam bentuk Akta Penetapan Pengadilan Agama.

d. Segala peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum yang mengenai masalah ini.

3.) Keputusan

a. Mengabulkan permohonan pemohon

b. Memberi izin kepada pemohon untuk menikah dengan Sri Namayanti binti Yustangin dalam masa iddah bekas istri pemohon Sri Hartati binti Muh. Kasli

c. Membebankan semua biaya perkara kepada pemohon.17

17 Salinan Akta Penetapan No. 11/P/2004/P.A WSB, Tanggal 4 Maret 2004

Referensi

Dokumen terkait

Media pembelajaran interaktif sholat fardhu lima waktu. Membuat media pembelajaran interaktif sholat fardhu lima waktu yang baik dan mudah dimengerti. Mempermudah guru/pengajar

Sedangkan untuk variabel status pekerjaan yang tidak memiliki hubungan signifikan tetapi memiliki nilai signifikan p < 0,25 selanjutnya di analisis multivariat

Pengadilan Agama Tigaraksa dalam memutus perkara perceraian, khususnya perkara cerai talak, (yaitu perceraian yang diajukan oleh suami terhadap istrinya), Majelis Hakim

Dominasi bentuk pola garis lingkaran hanya terlihat pada telapak yang terletak d i bagian antar jari ke dua (dibawah antara jari tengah dan telun j uk) t angan kanan (TAKA 11)

Katalis yang digunakan dalam reaksi hidrasi α-pinena selama ini digunakan katalis homogen seperti pada penelitian Daryono (2015) yang telah melakukan sintesis α-pinena

Dentro de ese marco posible de ideas o procesos políticos este trabajo abordará la temática de la memoria colectiva: no sólo sus definiciones y características, sino también la

1) Sarana dan Prasarana merupakan fasilitas yang menunjang pekerjaan agar semakin efisien dan efektif. 2) Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam sebuah

Pembangunan pertanian merupakan cara untuk melakukan perubahan dengan inovasi dan teknologi sesuai dengan potensi agroekosistem wilayah untuk meningkatkan pendapatan dan