1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut sejarah, ternyata tato tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM (sebelum Masehi). Namun seiring dengan berjalannya waktu, kini tato sudah merambah dalam dunia fashion sehingga wanita pun juga berhak memiliki tato pada tubuhnya karena dianggap sebagai pembentukan jati diri atau identitas dan sebagai bentuk karya seni atau bentuk apresiasi terhadap seni melukis pada tubuh dan menjadikannya sebuah trend juga menimbulkan keseksian tersendiri pada seorang wanita. Bukan untuk menunjukkan bahwa dirinya preman ataukah seorang yang jahat dan perlu untuk di hindari, walapun terkadang tidak sedikit masyarakat pada umumnya memandang demikian.
Tato atau dalam kebudayaan Indonesia dikenal sebagai salah satu bentuk praktek melukis tubuh memberikan fenomena tersendiri dalam masyarakat, terkait pemakaiannya dan persepsi setuju atau ketidaksetujuan mengenai tato. Perbedaan persepsi individu dalam menilai tato memberikan ilustrasi yang tidak hanya secara logika menjadikannya sebagai bentuk pilihan antara memakai atau tidak, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai lain diluar dua pilihan hitam-putih. Lebih dari sekedar bentuk persetujuan, peneliti melihat tato khususnya pada wanita bukan hanya sebagai wacana dalam bentuk ilustrasi gambar saja. Perkembangan pemaknaan tato yang individualistik tentunya memberikan warna tersendiri untuk dapat dilihat dari berbagai aspek.
2 Tato pada dasarnya diaplikasikan pada bagian-bagian tubuh yang sesuai dengan kehendak penggunanya. Tangan, kaki, pergelangan tangan, jari, kuku, daun telinga, kulit kepala, wajah, leher, pinggul, betis dan bagian tubuh lainnya.
Bahkan bagian-bagian tubuh yang terdengar tidak lazim juga menjadi media aplikasi gambar tato, seperti bola mata (melalui jalan operasi), gigi, lidah, dan bagian-bagian intim. Untuk kelompok, komunitas, atau sekte dalam kaitannya sebagai suatu keanggotaan, terkadang tato di buat pada bagian tubuh yang sama pada setiap anggotanya menurut kesepakatan atau ketentuan yang telah ada (http://uniknya.com/2012/05/22/5-eksotisme-magis-masyarakat-suku-dayak/).
Hal ini sebagai suatu penunjuk keanggotaan, solidaritas, syarat, atau sebagai identitas dari kelompok bersangkutan atau juga tato dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri.
Dalam era modernisasi, tato tidak hanya dijadikan sebagai alat yang memiliki pandangan kuno terhadap hal-hal animisme, kekuatan magis, atau hal- hal ortodok lainnya. Posisi tato sekarang ini jauh melebihi perannya pada masa lampau. Tato dalam pandangan modern telah banyak melibatkan unsur-unsur yang secara sinergis dapat disatukan dalam suatu ringkasan gambar. Seni design dalam tato memiliki hubungan kuat dengan adanya sisi artistik dari gambar tato, dengan kata lain tato ini pun menjadi satu komoditas lain untuk dapat mengapresiasi seni. Bahkan hal ini justru dijadikan “alasan” umum untuk kaum urban dalam mengklaim penggunaan tato.
Eksplorasi pop art menjadi salah satu cara untuk menempatkan tato sebagai bentuk-bentuk di luar pemahaman kuno, kecenderungan memberikan
3 wacana baru sebagai bentuk gaya hidup. Tidak heran jika tato kemudian melebarkan pemahamannya dengan menyangkut pada adanya kelas gender penggunanya. Kecenderungan tato sampai saat ini sepertinya masih di pegang pada tabu laki-laki sebagai gender yang dirasa ‘cocok’ untuk memiliki tato. Kesan maskulinitas seharusnya menjadi acuan jika nilai gender ini memang dihadirkan untuk menempatkan tato sebagai ‘milik’ laki-laki. Kenyataannya sekarang ini tato bukan hanya di dominasi oleh laki-laki. Perempuan pun berhak menentukan pilihannya dalam menghias tubuhnya dengan beragam gambar tato. Konsep modernitas pada perempuan bertato di asumsikan peneliti sebagai karya dalam memposisikan gender mereka dengan lawannya. Kemudian munculnya sikap feminisme dalam perlawannya menempatkan emansipasi melalui gambar tato.
Dalam perspektif gender, maskulin maupun feminin sebenarnya merupakan pilihan, artinya pria dan wanita adapat secara bebas memilih penampilannya sendiri sesuai dengan yang disukainya. Tidak ada kewajiban bahwa pria harus menampilkan dirinya sebagai sosok maskulin, dan feminin bagi perempuan. Sifat-sifat sebagaimana tersebut di atas dapat dipertukarkan satu dengan lainnya. Pria dapat berpenampilan feminin, sementara wanita dapat memilih penampilan sebagai sosok yang maskulin (Widytama, 2006:25).
Seksualitas pun dalam hal penggunaan tato dapat dilibatkan kapan saja.
Ada beberapa alasan yang mengemuka mengenai daya tarik seks tato dalam hubungan intim penggunanya. Beberapa pola menunjukan tato pada perempuan dapat menunjukan sisi seksualitasnya, apalagi dengan letak gambar tato yang dapat berada dalam jangkauan intim. Jika hal ini merupakan sebagian kecil asumsi tato yang memiliki daya tarik seksual tersendiri, maka tato sedikitnya memiliki
4 nilai jual untuk dapat membentuk image tersendiri bagi penggunanya. Memang tidak selalu dihubungkan dengan seks, tetapi ini merupakan trend lain yang ditunjukan dari fenomena tato pada perempuan.
Masalah lain yang berhubungan dengan pencitraan perempuan adalah masalah kepemimpinan. Didalam Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa
“laki-laki memimpin kaum perempuan”. Mitos yang terjadi di masyarakat bahwa laki-laki seharusnya melindungi seorang wanita. Sikap seperti ini sudah menjadi mitos, budaya dan akhirnya menjadi sebuah kewajiban bagi seorang laki-laki.
Namun dalam film Perjaka Terakhir ini berusaha merubah mitos tersebut yakni Sigi yang notabene seorang wanita justru melindungi dan menjaga laki-laki yakni dalam film ini menjaga Torro. Sikap pemberani Sigi ini menyiratkan pesan bahwa dia sebagai wanita sanggup melawan laki-laki, dan sanggup memegang tanggung jawab sebagai seorang pemimpin (Fauzia, 2004:195).
Dengan makna lain sutradara menonjolkan pesan bahwa bukan hanya laki- laki atau pria saja yang mampu melakukan hal-hal kasar namun wanita pun juga bisa, dengan menunjukkan adegan ini sangat menegaskan apa yang dimaksud dan diinginkan oleh sutradara. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya tanpa pernah berlaku sebaliknya (Sobur, 2003:127).
Jika perempuan bertato dikonstruksi sebagai seorang pemimpin dilihat menurut pandangan Islam, tidak ada pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik atau agama dan kepemimpinan, semuanya satu kesatuan. Karena hidup kita ini diatur oleh agama dari hal yang paling kecil sampai pada hal yang
5 terbesar. Hidup adalah tingkah laku, dan tingkah laku dibatasi oleh norma agama termasuk tingkah laku dalam berpolitik. Ada dalil yang menunjukkan bahwa wanita tidak boleh menjadi seorang pemimpin adalah tidak adanya Nabi dan Rasul wanita, yakni (Nabi dan Rasul adalah refleksi dari pemimpin, baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil, dan suka atau tidak suka, mereka adalah contoh, pedoman atau acuan bagi manusia lainnya) (Fauzia, 2004:201).
Dalam film Perjaka Terakhir ini Sigi perempuan tomboy bertato yang diperankan oleh Fahrani bisa menjadi ketua geng dengan mudah setelah mengalahkan musuhnya. Sedangkan dalam kehidupan dengan keluarganya Sigi sangat di tuntut untuk segera menikah. Akhirnya dia bertemu dengan Ramya pria gemulay sebagai instruktur salsa yang diperankan oleh Aming. Setelah mereka menikah Ramya yang seharusnya menjadi kepala keluarga justru sangat patuh dan takut pada Sigi yang konotasinya hanya sebagai ibu rumah tangga. Namun justru Sigi yang sangat terlihat mencolok sebagai kepala keluarga yang tegas, pemberani, dan mampu melindungi. Dengan demikian bisa dipahami dalam film Perjaka Terahir ini yang menjadi kepala rumah tangga adalah Sigi dan Ramya sebagai seorang istri yang harus patuh dan juga bertingkah laku layaknya seorang perempuan. Hal ini sangat bertolak belakang pada kehidupan sehari-hari. Sigi yang sebagai ketua gang Black Rose juga sangat cekatan dan pemberani, dia sangat mampu sebagai wanita untuk melawan gang lain yang semuanya beranggotakan laki-laki.
Melihat dari fenomena tato khususnya tato pada perempuan yang seakan di konstruksi sebagai seorang pemimpin dalam film Perjaka Terakhir maka peneliti tertarik untuk mendeskripsikan adanya kecurigaan untuk membentuk
6 perempuan bertato menjadi seorang pemimpin. Sehingga merepresentasikan konstruksi kepemimpinan perempuan bertato dengan judul penelitian
“Konstruksi Kepemimpinan Perempuan Bertato Dalam Film Perjaka Terakhir (Analisis Semiotik Pada Film Perjaka Terakhir karya Arie Aziz)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka peneliti menarik sebuah rumusan masalah yaitu, bagaimana konstruksi kepemimpinan perempuan bertato melalui analisis semiotik dalam film Perjaka Terakhir?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi kepemimpinan perempuan bertato melalui analisis semiotik dalam film Perjaka Terakhir.
D. Manfaat Penelitian
D.1 Secara Akademis : Penelitian ini diharapkan memberikan referensi pengetahuan kepada peneliti lain, khususnya kepada peneliti-peneliti yang melakukan penelitian semiotika dan berhubungan dengan wanita dan tato, Sehingga dapat memberikan wawasan sekaligus referensi bagi peneliti lain ketika melakukan penelitian sejenis berkaitan dengan semiotika, wanita dan tato.
7 D.2 Secara Praktis : penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan gambaran aspek sosial terhadap pelaku tato maupun masyarakat dalam menanggapi fenomena konstruksi kepemimpinan perempuan dan juga dari simbol-simbol atau tanda-tanda yang ada yang akhirnya mendapatkan sebuah penjelasan mengenai konstruksi kepemimpinan perempuan bertato.