PENGARUH PADAT PENEBARAN NAUPLII TERHADAP KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS KISTA Artemia franciscana DENGAN PEMBERIAN PAKAN
BUNGKIL KELAPA
Naskah Publikasi
Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sains
Oleh
Niken Yunianti Rahayu M 0402039
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2007
PERSETUJUAN Naskah Publikasi
PENGARUH PADAT PENEBARAN NAUPLII TERHADAP KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS KISTA Artemia franciscana DENGAN PEMBERIAN PAKAN
BUNGKIL KELAPA
Oleh
Niken Yunianti Rahayu M 0402039
Telah disetujui untuk dipublikasikan
Surakarta, Agustus 2007 Pembimbing I Pembimbing II
Tetri Widiyani, M.Si Ir. Akhmad Fairus Mai Soni, M.Sc NIP. 132 262 263 NIP. 080 079 312
Mengetahui, Ketua Jurusan Biologi
Dra. Endang Anggarwulan, M.Si NIP. 130 676 864
PENGARUH PADAT PENEBARAN NAUPLII TERHADAP KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS KISTA Artemia franciscana DENGAN PEMBERIAN PAKAN
BUNGKIL KELAPA
The Influence of Nauplii Density to The Quality and Productivity of Cyst Artemia franciscana with Coconut Cake Feeding
Niken Yunianti R1), Tetri Widiyani2), dan A. Fairus Mai Soni3) Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRACT
Artemia franciscana is the one of natural food which has an important function in Indonesia’s aquaculture this time. The high nutrition of A. franciscana could make intensify the growth and survival rate of fish and shrimp. The research aims to find out of the nauplii density influence to the quality and productivity of A. franciscana’s cysts and find out the nauplii density which is able to make the best quality and productivity of A. franciscana’s cysts with coconut cake feeding. he research had been accomplished at November until December 2006 at Laboratory of Natural Food, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Central Java. This research used CRD (Completely Randomized Design) with five treatments group, each treatment with three replicates. The treatments group were density 200, 400, 600, 800, and 1000 nauplii/litre. The parameters observation were survival rate, fecundity, cyst diameters, cyst production, hatching percentage, and hatching rate. They were analized using One Way Anova and Tukey experimental test with 5% signification, while water quality were analized by comparative description. he result showed that 600 nauplii/litre with coconut cake feeding was the best density which able to give productivity of A. franciscana’s cysts was 981,33 cysts, fecundity 28,66 cysts/individu, and the best hatching percentage 25,33%. Density 200 nauplii/litre has given the best survival rate 27,07%. Density 1000 nauplii/litre has given the biggest cyst diameters 252,28 µm.
Key word : Artemia franciscana, coconut cake, cyst, nauplii density
PENDAHULUAN
Dalam budidaya ikan yang intensif, terutama di tambak-tambak pembenihan ikan, masalah pakan memegang peranan yang sangat penting, sehingga perlu dikembangkan pembuatan serta penggunaan pakan tambahan dan pakan buatan yang lebih intensif.
1) Mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta 2) Pembimbing I
Artemia merupakan salah satu pakan alami yang memiliki banyak keunggulan dibanding dengan pakan alami atau jenis plankton lainnya. Menurut Mudjiman (1988),
Artemia dapat disediakan dalam jumlah yang cukup karena Artemia dapat hidup beberapa bulan dan mampu menghasilkan lebih dari 300 nauplius (salinitas 25-30 gl-1) atau kista (salinitas tinggi) setiap lima harinya, memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi, karena kadar proteinnya 65% dari berat keringnya, mudah beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan, baik dalam kepadatan tinggi maupun dalam salinitas air yang tinggi. Artemia ini memakan semua jenis partikel, baik yang merupakan organisme hidup maupun organisme mati yang berukuran kurang dari 50 mikron. Artemia sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan pembenihan udang di Indonesia. Namun karena budidaya secara besar-besaran di Indonesia belum ada, maka Artemia ini perlu diimport dari luar negeri sehingga mahal harganya. Dalam budidaya Artemia perlu diperhatikan beberapa hal yang sangat menentukan keberhasilan tingkat sintasan dan reproduksinya. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor makanan dan kondisi lingkungan media pemeliharaan seperti salinitas, suhu, pH, dan kadar ammonia dalam air. Oleh karena itu, dengan pengelolaan pakan yang cukup dan pengaturan kondisi lingkungan media yang optimal, diharapkan dapat meningkatkan produksi dan kualitas kista serta biomassa Artemia.
Menurut Moria dkk. (1996), padat penebaran juga akan mempengaruhi kompetisi terhadap ruang gerak dan kebutuhan pakan. Persaingan tersebut akan terjadi dalam padat penebaran yang terlalu tinggi, yang menyebabkan nauplius menjadi lemah karena kekurangan pakan, sehingga sintasan atau kemampuan hidup Artemia menjadi rendah dan pertumbuhannya pun akan terhambat bahkan terhenti atau mati.
Ada banyak limbah pertanian yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan hasil pertanian yang dapat digunakan sebagai sumber pakan bagi Artemia, salah satu diantaranya adalah bungkil kelapa. Bungkil kelapa merupakan bahan organik yang selain berguna sebagai pakan, dapat juga berperan sebagai pupuk untuk menumbuhkan plankton yang dapat menjadi sumber pakan bagi Artemia juga (Hersapto dkk., 1997).
Dari latar belakang tersebut, diharapkan dengan pemeliharaan Artemia pada padat penebaran yang berbeda, dengan pemberian pakan bungkil kelapa pada konsentrasi tertentu untuk semua perlakuan dapat berpengaruh dalam peningkatan kualitas dan produktivitas kista yang dihasilkan oleh Artemia pada padat penebaran tertentu secara maksimal.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November-Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah. Analisis proksimat dilakukan di laboratorium Fisika dan Kimia Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah.
Alat dan bahan
Alat yang digunakan antara lain botol plastik yang berbentuk conical volum 1,5 L sebagai wadah penetasan kista, 15 buah toples pemeliharaan volum 2,5 L, peralatan aerasi, mikroskop untuk mengamati kista dan nauplius Artemia, mikrometer untuk mengukur panjang nauplius Artemia, jangka sorong untuk mengukur panjang Artemia
dewasa; timbangan digital Sartorius skala 0,0001 gram, handcounter sebagai alat bantu hitung, refraktometer, DO-meter, pH-meter, saringan (ukuran 0,1 µm, 50 µm, 90 µm,
dan 120 µm, jarum pentul, dan alat untuk analisis proksimat. Bahan yang digunakan adalah ±1 gram kista Artemia yang diperoleh dari produksi tambak di desa Surodadi Jepara, bungkil kelapa, air laut berkadar garam 30 gl-1, stock brine water 200 gl-1, garam krosok, larutan lugol, kaporit, Natrium thiosulfat, pengukuran amonia digunakan reagen klorin, dan kemikalia untuk analisis proksimat.
Cara kerja
Rancangan Percobaan. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 macam perlakuan pada berbagai macam padat penebaran nauplii Artemia franciscana,yaitu:
A : padat penebaran 200 nauplii/liter B : padat penebaran 400 nauplii/liter C : padat penebaran 600 nauplii/liter D : padat penebaran 800 nauplii/liter E : padat penebaran 1000 nauplii/liter
Tahap Persiapan. Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian dicuci dan disterilisasi dengan menggunakan kaporit, kemudian dikeringkan. Kemudian dilakukan pemasangan peralatan aerasi.Persiapan media dilakukan dengan mencampurkan air laut bersalinitas 30 gl-1 dan stock brine water bersalinitas 200 gl-1, yang kemudian disaring dengan saringan 0,1µm untuk memisahkan kotoran. Bungkil kelapa yang masih kotor dioven selama 24 jam untuk mendapatkan bungkil kelapa dengan kadar air minimum, dihaluskan dengan menggunakan blender dan disaring dengan saringan 50 µm untuk mendapatkan pakan berupa bungkil kelapa murni.
Tahap perlakuan. Meliputi proses hidrasi yaitu sebanyak 1 gram kista Artemia
direndam dalam air laut bersalinitas 30 gl-1 selama 1 jam. Dilanjutkan dengan proses dekapsulasi, kista Artemia yang telah terhidrasi direndam dalam larutan kaporit dan disaring dengan menggunakan saringan 120 µm, selanjutnya dicuci dengan Natrium thiosulfat. Kista Artemia yang telah didekapsulasi ditempatkan dalam wadah penetasan
conical dengan air yang bersalinitas 30 gl-1 dengan suhu 25° –30 °C selama 24 jam. Penebaran nauplius Artemia dilakukan pada medium bersalinitas 80 gl-1 setelah nauplii yang telah menetas dipisahkan dari cangkangnya. Penebaran dilakukan dengan menggunakan 15 wadah pemeliharan (untuk 5 perlakuan) masing-masing berukuran 2,5 liter. Sehingga pada setiap 3 wadah pemeliharan, masing-masing dilakukan penebaran nauplius secara manual dan teliti sebanyak 500 ekor, 1000 ekor, 1500 ekor, 2000 ekor, dan 2500 ekor.
Tahap Pemeliharaan. Pemberian pakan bungkil kelapa 20 mgl-1 (Soni, 2004 a; Soni dan Sulistyono, 2005) dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari sampai akhir pemeliharaan. Penggantian air dilakukan setiap hari setelah Artemia berumur 3 hari dengan cara mengganti air sebanyak 10-15 % dari volume total sebelum pemberian pakan. Peningkatan salinitas dilakukan secara bertingkat mulai dari 80 gl-1 pada awal pemeliharaan akan ditingkatkan secara bertahap sampai pada salinitas 140 gl-1 untuk penetasan kista yang dilakukan dengan cara menambahkan garam pada medium tersebut dengan peningkatan 10 gl-1 setiap 2 hari sekali selama 14 hari pemeliharaan.
Pengukuran kualitas air. Pengukuran suhu air dan kandungan oksigen terlarut dilakukan setiap hari dengan menggunakan alat DO-meter. Pengukuran salinitas juga dilakukan setiap hari dengan menggunakan refraktometer ketelitian 0,1 gl-1. Pengukuran
pH dilakukan pada hari ke-0, hari ke-18 dan hari ke-35 penelitian dengan menggunakan alat hand pH-meter ketelitian 0,1. Sedangkan pengukuran kadar amonia dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-35 penelitian dengan metode fotospektrometri menggunakan reagen klorin.
Tahap pengamatan.
1). Penghitungan Kelangsungan Hidup (Survival Rate/ SR) Artemia franciscana
Jumlah A. franciscana pada awal dan akhir penelitian dihitung secara manual masing-masing sebanyak 3 ulangan. Untuk menghitung nilai Survival Rate digunakan rumus menurut Mudjiman (1983):
Nt
SR = X 100% N0
Keterangan:
SR : kelangsungan hidup (Survival Rate) induk Artemia franciscana (%) HO : jumlah Artemia franciscana pada awal penebaran
H1 : jumlah Artemia franciscana pada akhir pemeliharaan
2). Penghitungan Fekunditas Induk Artemia franciscana
Sejumlah 30 induk Artemia franciscana dalam wadah pemeliharaan yang telah bereproduksi dan ovisacnya telah berwarna coklat kehitaman dibedah di bawah mikroskop dengan menggunakan jarum pentul dan dihitung fekunditas masing-masing induk dengan menggunakan handcounter.
3). Pengukuran Diameter Telur
Telur diambil dari induk Artemia franciscana yang telah dihitung fekunditasnya sejumlah 10 telur segera diukur diameternya dengan menggunakan mikrometer.
4). Penghitungan Produksi Kista Artemia
Menurut Utomo (2004), produksi kista pada masing-masing perlakuan dihitung secara manual dan teliti. Pemanenan kista sebelumnya dilakukan dengan menggunakan saringan bertingkat. Kista Artemia yang telah diperoleh tersebut segera diletakkan dalam cawan petri untuk dihitung.
5). Penghitungan Persentase Penetasan
Pengujian terhadap persentase penetasan, terlebih dahulu dipilih kista yang baik dari jumlah kista yang telah diproduksi oleh induk A. franciscana selama satu siklus reproduksi. Kemudian diambil 100 butir kista dan ditetaskan selama 36 jam. Persentase jumlah kista yang menetas dihitung dengan rumus menurut Mudjiman (1983):
N
HP = x 100%
N + C Keterangan:
HP : Persentase penetasan (Hatching Rate) kista Artemia franciscana (%) N : jumlah nauplius yang menetas
C : jumlah kista yang berisi tapi tidak menetas.
6). Penghitungan Kecepatan Penetasan Kista
Kista yang telah diproduksi dimasukkan ke dalam 4 wadah penetasan dengan kepadatan yang sama dari masing-masing perlakuan. Wadah I digunakan untuk menghitung persentase penetasan setelah 12 jam perendaman, wadah II setelah 18 jam perendaman, wadah III setelah 24 jam perendaman, dan wadah IV setelah 36 jam perendaman (Mudjiman, 1983).
Analisis data
Kelangsungan hidup, fekunditas induk, diameter telur, produksi kista, persentase penetasan, dan kecepatan penetasan dilakukan dengan program komputer SPSS versi 10.0 One Way Anova (Analisis of Varians) signifikasi 5% dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey, sedangkan data kualitas air berupa suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan kadar amonia dianalisis secara deskriptif komparatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelangsungan Hidup (Survival Rate/ SR) Artemia franciscana
Tabel 1. Rerata kelangsungan hidup (Survival Rate/SR) Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Perlakuan Rerata SR (%) ± standar deviasi
A ( padat penebaran 200 nauplii/liter) 27,07 ± 2,91b
B ( padat penebaran 400 nauplii/liter) 20,47 ± 6,95ab
C ( padat penebaran 600 nauplii/liter) 17,80 ± 2,66ab
D ( padat penebaran 800 nauplii/liter) 15,13 ± 4,23a E ( padat penebaran 1000 nauplii/liter) 14,04 ± 2,06a
Keterangan: Nilai yang diikuti huruf superscript yang berbeda, berbeda nyata pada (P<0,05) dengan uji lanjutTukey 0 10 20 30 200 400 600 800 1000
Padat Tebar (Nauplii/liter)
Ke langsung a n hi du p (%)
Gambar 1. Grafik rerata kelangsungan hidup Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa. Padat penebaran, konsentrasi asupan pakan dan nutrisi yang diberikan selama pemeliharaan, serta kondisi lingkungan pemeliharaan akan mempengaruhi
kelangsungan hidup A. franciscana (Watanabe, 1998 dalam Soebiantoro, 2001). Padat penebaran tinggi akan memperbesar persaingan ruang gerak dan kebutuhan makanan. Diperkirakan kematian A. franciscana setelah dewasa dan telah bereproduksi yang diakibatkan oleh tidak mencukupinya energi dari pakan untuk memenuhi kebutuhan hidup A. franciscana dan juga kebutuhan akan oksigen yang rendah.
Pada penelitian ini, padat penebaran yang tinggi disertai kondisi lingkungan media pemeliharaan yang semakin ekstrim menjadi faktor penyebab rendahnya kelangsungan hidup A. franciscana. Salinitas air tinggi (140 mgl-1) dan kandungan oksigen terlarut yang rendah rata-rata sebesar 2 mgl-1 (hipoksia) bertujuan untuk merangsang terbentuknya kista. Padahal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan maksimal dibutuhkan kandungan oksigen sebesar 4-5 mgl-1 dan salinitas 80 mgl-1 (Utomo dkk., 2002; Darsuci, 1987). Pengaruh kondisi hipoksia ini kemungkinan besar berpengaruh pada peningkatan pembentukan hemoglobin (El Gamal and Spicer, 1999). Induk A. franciscana akan berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya disamping berusaha untuk tetap memproduksi kista, dengan membentuk haemoglobin yang berfungsi mengikat oksigen di dalam darahnya. Tidak semua induk mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Saat A. franciscana mulai dewasa dan bereproduksi, banyak di antara mereka yang mati karena energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan reproduksi lebih besar daripada untuk membentuk haemoglobin.
Fekunditas IndukArtemia franciscana
Tabel 2. Rerata fekunditas Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Perlakuan Rerata fekunditas (butir/induk) ± standar deviasi
A ( padat penebaran 200 nauplii/liter) 26,00 ± 0,47ab
B ( padat penebaran 400 nauplii/liter) 29,33 ± 0,08c
C ( padat penebaran 600 nauplii/liter) 28,66 ± 0,87bc
D ( padat penebaran 800 nauplii/liter) 27,00 ± 0,55abc
E ( padat penebaran 1000 nauplii/liter) 24,66 ± 1,74a
Keterangan: Nilai yang diikuti huruf superscript yang berbeda, berbeda nyata pada (P<0,05) dengan uji lanjut Tukey 10 20 30 200 400 600 800 1000
Padat Tebar (Naupli/liter)
Jum lah Te lur (bu tir)
Gambar 2. Grafik rerata fekunditas Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Effendie (1979) berpendapat bahwa adanya variasi pada jumlah fekunditas dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketersediaan pakan, nutrisi pakan, kepadatan populasi, dan kualitas air. Pada Gambar 2, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi padat penebaran nauplii, akan cenderung semakin rendah jumlah fekunditas induk A. franciscana. Hal ini berkaitan dengan persaingan yang semakin besar untuk mendapatkan makanan pada padat penebaran yang semakin tinggi (Isnansetyo dan Kurniastuti, 1995). Berkurangnya jumlah pakan yang dikonsumsi diperkirakan belum mencukupi kebutuhan sebagai sumber energi untuk metabolisme atau penyusunan protein tubuh sehingga pematangan gonad (reproduksi) terhambat (Widhiyanto, 2006).
Kondisi lingkungan air yang buruk secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kondisi fisik Artemia franciscana. Kondisi fisik yang lemah akan mengganggu proses metabolisme tubuh A. franciscana secara keseluruhan yang pada akhirnya diikuti terganggunya pula proses pematangan gonad. Energi yang ada hanya cukup untuk mendukung kelangsungan hidup dan aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu, pada padat penebaran 200 nauplii/liter memiliki fekunditas lebih rendah daripada padat penebaran 400 nauplii/liter, 600 nauplii/liter dan 800 nauplii/liter. Namun pada padat penebaran 200 nauplii/liter mempunyai kelangsungan hidup yang lebih baik daripada padat tebar lainnya.
Selain itu nutrisi yang terkandung dalam pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan juga berpengaruh (Watanabe, 1998 dalam Soebiantoro, 2001). Akbar dan Kadari (1992) berpendapat bahwa perkembangan gonad (termasuk fekunditas) memerlukan nutrisi berupa protein dalam jumlah yang cukup. Pada padat penebaran nauplii yang tinggi, energi yang dihasilkan dari pakan bungkil kelapa yang mengandung lebih banyak karbohidrat daripada protein diperkirakan lebih banyak digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup A. franciscana itu sendiri dan aktivitasnya daripada untuk meningkatkan fekunditasnya.
Diameter Kista Artemia franciscana
Tabel 3. Rerata diameter kista Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Perlakuan Rerata diameter telur (µm) ± standar deviasi
A ( padat penebaran 200 nauplii/liter) 222,59 ± 2,93a
B ( padat penebaran 400 nauplii/liter) 225,18 ± 2,02a
C ( padat penebaran 600 nauplii/liter) 229,90 ± 1,61a
D ( padat penebaran 800 nauplii/liter) 247,37 ± 5,48b
E ( padat penebaran 1000 nauplii/liter) 252,28 ± 2,95b
Keterangan : Nilai yang diikuti huruf superscript yang berbeda, berbeda nyata pada (P<0,05) dengan uji lanjut Tukey
200 225 250 275 200 400 600 800 1000
Padat Tebar (Nauplii/liter)
Di ameter Tel ur (mikr on )
Gambar 3.Grafik rerata diameter telur Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Beberapa faktor penyebab perbedaan ukuran diameter kista pada penelitian ini selain jumlah padat penebaran nauplii antara lain kondisi lingkungan air pemeliharaan, strain, dan nutrisi pakan. Semakin tinggi padat penebaran nauplii, maka persaingan untuk memperoleh pakan juga semakin besar. Diperkirakan pada padat penebaran yang semakin tinggi, sebagian besar nutrisi yang dikonsumsi lebih banyak digunakan sebagai sumber energi untuk menjaga kelangsungan hidup dan aktivitasnya sehari-hari, selebihnya energi tersebut disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi terhadap kondisi lingkungan air pemeliharaan yang ekstrim daripada sebagai sumber energi untuk proses vitelogenesis, yaitu pembentukan / sintesis kuning telur (yolk) sebagai cadangan makanan bagi embrio (Sulistyowati, 2006).
Pada penelitian ini A. franciscana lebih aktif membentuk cangkang telur karena kondisi lingkungan air yang ekstrim terutama kandungan oksigen yang rendah di bawah 2 mgl-1 (hipoksia) (Tabel 7) dan dalam salinitas air yang tinggi. Menurut Hickling (1997) dalam Kuntoro (2003), padat penebaran yang tinggi akan berdampak pada rendahnya kandungan oksigen terlarut, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi
kondisi fisik Artemia itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, bahwa kadar oksigen terlarut yang rendah (hipoksia) akan mengganggu respirasi Artemia sehingga merangsang terbentuknya haemoglobin dalam darahnya. Dengan adanya haemoglobin akan membantu pengikatan oksigen untuk proses respirasi sehingga Artemia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Haemoglobin ini juga akan merangsang sel kelenjar cangkang untuk aktif menghasilkan cangkang telur (Terwiliger and Margaret, 2001) yang mengandung haematin (Versichele dan Sorgeloos, 1980 dalam Utomo, 2004). Semakin banyak haematin yang terbentuk, maka semakin tebal cangkang telur yang menyelubungi embrio. Hal ini dilakukan untuk melindungi embrio dari kondisi lingkungan yang buruk. Oleh karena itu, diameter kista pada penelitian ini cenderung semakin besar seiring dengan semakin tinggi padat penebaran.
Menurut Van Haecke and Sorgeloos (1984) dalam Kristanto (2006), diameter kista juga dapat ditentukan oleh strain Artemia. Strain Great Salt Lake yang digunakan dalam penelitian ini pada umumnya memiliki diameter kista sebesar 252,5 µm
Diameter kista A. franciscana yang berukuran relatif besar pada penelitian ini berbanding terbalik dengan fekunditas induk. Uterus Artemia franciscana akan mengalami pemanjangan sebagai bentuk adaptasi awal untuk penyimpanan kista dengan batas-batas tertentu. Setelah sampai batas pemanjangan maksimal, maka ukuran embrio yang terdapat dalam ovisac tidak dapat mencapai ukuran seperti pada induk yang memproduksi sedikit kista. Pada penelitian yang dilakukan Kristanto (2006) menyatakan bahwa nutrisi pakan yang lebih banyak mengandung protein akan menghasilkan lapisan cangkang telur (korion) yang tipis. Sebaliknya pada penelitian ini
pakan yang digunakan adalah bungkil kelapa yang kaya akan karbohidrat namun rendah kandungan proteinnya menyebabkan diameter kista yang diperoleh lebih besar.
Produksi Kista Artemia franciscana
Tabel 5. Rerata total produksi kista Artemia franciscana selama satu siklus reproduksi pada padat penebaran yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Perlakuan Rerata produksi kista (butir per 2,5 liter) ± standar deviasi
A ( padat penebaran 200 nauplii/liter) 656,33 ± 29,57ab
B ( padat penebaran 400 nauplii/liter) 679,00 ± 26,06b
C ( padat penebaran 600 nauplii/liter) 981,33 ± 22,81d
D ( padat penebaran 800 nauplii/liter) 884,67 ± 32,81c
E ( padat penebaran 1000 nauplii/liter) 590,00 ± 26,85a
Keterangan: Nilai yang diikuti huruf superscript yang berbeda , berbeda nyata pada (P<0,05) dengan uji lanjut Tukey
Tabel 5 menunjukkan bahwa rerata total produksi kista A. franciscana yang tertinggi selama pemeliharaan adalah pada padat penebaran 600 nauplii/liter (981,33 butir). 0 200 400 600 800 1000 200 400 600 800 1000
Padat Tebar (Naupli/liter)
Ju mlah kist a ( but ir/2,5 li te r)
Gambar 4. Grafik rerata total produksi kista Artemia franciscana selama satu siklus reproduksi pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Untuk mendapatkan produksi kista secara maksimal diperlukan kondisi air dengan salinitas 140 gl-1 (Soni dkk., 2004) dan kadar oksigen terlarut yang rendah (± 2 mgl-1). Pada kondisi hipoksia tersebut akan mengganggu proses respirasi A. franciscana, sehingga akan merangsang pembentukan haemoglobin di dalam darahnya
yang aktif mengikat oksigen (El Gamal and Spicer, 1999). Hemoglobin ini akan merangsang sel kelenjar cangkang untuk menghasilkan cangkang (Terwilliger and Margaret, 2001) yang mengandung haematin untuk melindungi embrio dari keadaan buruk akibat kondisi air yang ekstrim tersebut.
Produksi kista juga dipengaruhi oleh jumlah pasangan yang melakukan riding pair. Pada penelitian ini, induk yang paling banyak melakukan riding pair adalah pada padat penebaran 600 nauplii/liter. Karena produksi kista hanya akan dihasilkan apabila terjadi proses perkawinan antara induk jantan dan betina yang ditandai dengan perilaku
riding pair.
Menurut Susanto dkk. (2000), jumlah Artemia betina dalam media pemeliharaan juga akan mempengaruhi jumlah kista yang diproduksi. Hal ini juga dapat dilihat dari
sex ratio (betina/jantan) yang tertinggi pada padat penebaran 600 nauplii/liter, dimana jumlah A. franciscana betina lebih banyak daripada jumlah A. franciscana jantan .
Menurut Sargeloos et al. (1980), kualitas dan jumlah pakan juga akan mempengaruhi pertumbuhan, pematangan telur, dan kelangsungan hidup Artemia. Protein merupakan zat esensial untuk kehidupan karena merupakan unsur yang aktif dalam semua sel hidup (Sumeru dan Kontara, 1987), yang berfungsi antara lain untuk membangun jaringan sel dalam tubuh udang, sumber energi untuk kelangsungan hidup, dan pembentukan kualitas telur yang baik pada organ reproduksinya. Oleh karena itu, kekurangan protein dalam pakan akan dapat menimbulkan kelainan-kelainan yang dapat menghambat pertumbuhan dan pematangan gonad dalam budidaya Artemia yang dikultur.
Kelangsungan hidup A. franciscana pada penelitian ini yang tergolong rendah (<30%) juga akan mempengaruhi jumlah kista yang diproduksi. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya produksi kista pada penelitian ini dibanding dengan penelitian lain (Romadoni, 2006; Widhiyanto, 2006; Kristanto, 2006; dan Sulistyowati, 2006) yang menggunakan pakan yang mengandung protein tinggi.
Persentase Penetasan dan Kecepatan Penetasan
Tabel 6. Rerata persentase penetasan kista Artemia franciscana setelah 12 jam, 18 jam, 24 jam, dan 36 jam perendaman pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Persentase penetasan (%) ± standar deviasi Perlakuan
12 jam 18 jam 24 jam 36 jam
A ( padat penebaran 200 nauplii/liter) 0 0 6,67 ± 1,15ab 18,00 ± 2,00b
B ( padat penebaran 400 nauplii/liter) 0 0 8,00 ± 1,73ab 20,67 ± 1,53b
C ( padat penebaran 600 nauplii/liter) 0 0 9,33 ± 1,53b 25,33 ± 1,53c
D ( padat penebaran 800 nauplii/liter) 0 0 5,67 ± 1,53ab 12,00 ± 2,00a
E ( padat penebaran 1000 nauplii/liter) 0 0 4,33 ± 1,15a 9,33 ± 1,53a Keterangan: Nilai yang diikuti huruf superscript yang berbeda, berbeda nyata pada (P<0,05) dengan uji lanjut Tukey 0 5 10 15 20 25 30 200 400 600 800 1000
Padat Tebar (Nauplii/Liter)
Per sent ase Penetasan (% ) 36 jam 24 jam 18 jam 12 jam
Gambar 5. Grafik persentase penetasan kista Artemia franciscana setelah 12 jam, 18 jam, 24 jam, dan 36 jam perendaman pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Pada padat penebaran 800 N/liter dan 1000 N/liter memiliki persentase penetasan relatif rendah yaitu 12% dan 9,33% dalam waktu 36 jam setelah perendaman. Hal ini terjadi diperkirakan karena kondisi lingkungan media pemeliharaan sangat
ekstrim kandungan oksigen yang rendah dengan padat penebaran tinggi / hipoksia yang dapat mempengaruhi proses pembentukan yolk (vitelogenesis), padahal penetasan sangat dipengaruhi oleh kandungan yolk yaitu lipovitelin yang dapat diubah menjadi gliserol, glikogen, dan enzim penetasan. Proses penetasan terjadi jika terdapat perbedaan tekanan osmotik antara bagian luar yaitu lingkungan media penetasan dan bagian dalam kista. Peningkatan tekanan di dalam kista disebabkan oleh adanya gliserol. Gliserol dapat disintesis dari lemak maupun trehalosa yang terkandung dalam yolk ( Drinkwater and Crowe, 1991 dalam Sulistyowati, 2006). Enzim penetasan (trehalose) berperan dalam merangsang pecahnya cangkang dan lapisan tipis pada saat
umbrella stage. Faktor lain yang dibutuhkan embrio untuk menetas adalah glikogen, yang digunakan sebagai energi untuk memecah cangkang supaya embrio dapat keluar dari cangkang tanpa kehabisan energi. Sintesis glikogen terjadi dari perombakan protein, karbohidrat, dan lemak.
Proses pembentukan yolk dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pemeliharaan, padat penebaran, serta nutrisi yang disuplai oleh induk. Semakin tinggi padat penebaran dengan kandungan oksigen yang rendah (hipoksia) dan salinitas yang tinggi akan mempengaruhi kondisi fisik induk A. franciscana, yang menyebabkan berkurangnya asupan pakan dan nutrisi yang disuplai oleh induk. Hal inilah yang mengakibatkan proses sintesis gliserol dan glikogen yang merupakan sumber energi untuk penetasan yang terdapat pada yolk terhambat. Oleh karena itu, persentase penetasan kista setelah 36 jam perendaman pada padat penebaran tinggi akan semakin rendah dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Rendahnya persentase penetasan setelah perendaman selama 36 jam ini juga diikuti dengan rendahnya kecepatan penetasan kista pada 24 jam setelah perendaman sebesar D (5,67%) dan E (4,33%). Pada 12 jam dan 18 jam setelah perendaman, belum menunjukkan adanya penetasan kista (Tabel 6), karena diperkirakan sintesis gliserol dan glikogen sebagai sumber energi bagi embrio belum berlangsung dengan baik.
0 5 10 15 20 25 30 12 18 24 36 Waktu (jam) Perse nta se Pe ne tas an (%) Tebar A Tebar B Tebar C Tebar D Tebar E
Ket: A : Padat penebaran 200 N/liter C : Padat penebaran 600 N/liter E : Padat penebaran 1000 N/liter B : Padat penabaran 400 N/liter D : Padat penebaran 800 N/liter
Gambar 6. Grafik persentase penetasan dan kecepatan penetasan kista Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Pada padat penebaran 600 nauplii/liter memiliki persentase penetasan dalam 36 jam tertinggi (25,33%) di antara padat penebaran lainnya, begitu juga dengan kecepatan penetasan 24 jam setelah perendaman sebesar 9,33%. Diperkirakan proses sintesis gliserol dan glikogen yang terkandung dalam yolk lebih cepat berlangsung. Oleh karena itu, yolk sangat menentukan perkembangan embrio dan persentase penetasannya. Dengan adanya yolk, embrio sudah memiliki energi yang cukup untuk proses penetasan dan aktivitas kehidupan selanjutnya. Pada padat penebaran 200 nauplii/liter dan 400 nauplii/liter memiliki persentase penetasan lebih rendah daripada padat penebaran 600 nauplii/liter baik dalam waktu 24 jam dan 36 jam setelah perendaman. Hal ini
diperkirakan akibat pengaruh kondisi lingkungan yang ekstrim pada media pemeliharaan. Kondisi fisik yang lemah mengakibatkan induk A. franciscana tidak memanfaatkan asupan pakan secara maksimal, sehingga energi yang ada tidak mampu untuk merangsang perkembangan gonad dan pembentukan yolk.
Kualitas Air
Kualitas air merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan juga untuk meningkatkan produksi dalam budidaya perikanan. Kualitas air dapat mempengaruhi perkembangan gonad dan produksi kista A. fanciscana.
Tabel 7. Kualitas air medium pemeliharan Artemia franciscana pada padat penebaran nauplii yang berbeda dengan pemberian pakan bungkil kelapa.
Kisaran kualitas air pada kelompok perlakuan Parameter 200 N/l 400 N/l 600 N/l 800 N/l 1000 N/l Kelayakan DO (mgl-1 ) 1,77-5,40 2,00-5,38 2,10-5,44 1,90-5,42 1,88-5,43 2-7 ( Harefa, 2003) Ph 7,00-8,47 7,10-8,49 7,10-8,48 6,90-8,49 6,90-8,46 7-8,5 (Mudjiman,1988) Suhu (˚C) 27,5-30,2 26,8-30,3 26,7-30,1 26,7-30,0 26,8-30,2 25-35 (Harefa,2003) Amonia (mgl-1) 0-0,030 0-0,084 0-0,098 0-0,078 0-0,086 < 10 (Schuman, 1998 dalam Utomo, 2004)
Pada awal pemeliharaan, salinitas yang diberikan 80 gl-1 dan ditingkatkan secara bertahap sebesar 10 gl-1 tiap 2 hari hingga mencapai salinitas 140 gl-1 pada hari ke-14 untuk menghasilkan kista yang berkualitas baik (Soni dkk., 2004). Peningkatan bertahap ini dilakukan untuk menghindari kondisi stress pada A. franciscana selama pemeliharaan, agar tidak banyak yang mati.
Kadar oksigen terlarut yang diberikan antara 4-5 mgl-1 pada awal pemeliharaan untuk merangsang pertumbuhan A. franciscana secara maksimal (Utomo dkk., 2002 dan Darsuci, 1987). Tetapi ketika A. franciscana mulai menghasilkan kista, kadar oksigen terlarut rata-rata 2 mgl-1 seiring dengan peningkatan salinitas. Dengan kondisi demikian,
proses respirasi dengan baik. Haemoglobin ini akan merangsang kelenjar cangkang untuk menghasilkan cangkang yang banyak mengandung haematin (Mudjiman, 1983).
Pengukuran Ph pada penelitian ini dilakukan pada hari ke-0, hari ke-18, dan hari ke-35 pemeliharaan A. franciscana dengan nilai rata-rata 7,86-7,91. Hal ini telah memenuhi persyaratan untuk media pemeliharaan A. franciscana, karena derajat keasaman yang baik untuk pemeliharaan Artemia menurut Mudjiman (1983) harus di atas 7. Artemia mempunyai kisaran hidup pada suhu optimal 25-30ºC (Darsuci, 1987). Pada penelitian ini, suhu air media pemeliharaan berkisar 28,53-28,58ºC.
Pengukuran ammonia dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-35 pemeliharaan. Pada awal pemeliharaan, kandungan ammonia belum bisa terdeteksi (0 mgl-1). Hal ini terjadi karena A. franciscana belum mengeluarkan sisa metabolisme dan belum ada aktivitas pendegradasian sisa pakan. Sedangkan pada akhir penelitian, kadar ammonia yang diperoleh pada tiap perlakuan antara 0,030-0,098 mgl-1. Hal ini berarti kandungan ammonia masih bisa ditoleransi oleh A. franciscana sebagai media hidupnya. Menurut Schuman (1998) dalam Utomo (2004) menyatakan bahwa syarat sebagai media budidaya perikanan, kadar ammonia sebaiknya <10 mgl-1.
KESIMPULAN
Padat penebaran nauplii yang berbeda dengan peberian pakan bungkil kelapa dapat mempengaruhi kualitas dan produktivitas kista A. franciscana. Padat penebaran 600 nauplii/liter memberikan produktivitas kista terbanyak (981,33 butir) dan kualitas kista yang meliputi persentase penetasan tertinggi (25,33 %). Padat penebaran 200 nauplii/liter memberikan persentase kelangsungan hidup tertinggi (27,07 %). Padat penebaran 1000 nauplii/liter memberikan diameter telur terbesar (252,28 µm).
DAFTAR PUSTAKA Adisukresno, S. 1983. Mengenal Artemia. BBPBAP. Jepara.
Akbar, S. dan M. Kadari. 1992. “ Protein dan Kebutuhannya untuk Pembuatan Pakan Ikan Laut.” Buletin Budidaya Laut. 5: 31-37.
Anonim. 2002. Tentang Budidaya Perikanan. Deputi Menegristek. Jakarta ---.2004. Produksi Bungkil Kelapa.
http://www.bi.go.id/sipuk/sipuk04/lm/Ind/minyak_kelapa/produksi.htm. 12/05/2006. ---. 2005. http://www.manglayang.blogsome.com/2005/11/25/ampas-kelapa-dan-sapi-bagian1/#comment-19.12/05/2006. ---. 2006. http://www.manglayang.blogsome.com/2006/04/21/terminologi-bahan-pakan-dari-hasil-ikutan-industri-pangan.12/05/2006.
Ardi, I. dan T.H. Prihadi. 2005. “Studi Pengembangan Budidaya Artemia secara Terintegrasi di Lahan Tambak Garam”. Infomai. 4 (1) : 23.
Baert, P., T. Bosteels., and P. Sargeloos. 1986. Pond Production. Laboratory of Aquaculture and Artemia Reference Center. University of Genth. Belgium. Darsuci, C. A. 1987. Kualitas Penetasan dan Dekapsulasi Cyst Artemia di Balai
Budidaya Air Payau Jepara. Karya Tulis Diklat Ahli Usaha Perikanan. Jakarta. Hal:1-12.
Daulay, T. dan Cholik. 1985. Artemia salina (Kegunaan, Biologi, dan Kulturnya).
Direktorat Jenderal Perikanan. INFIS.12:1-11.
Daulay, T. dan H.H. Suharto. 1982. “ Penelitian Pendahuluan Kultur Artemia salina
Secara Terkontrol dan Intensif.” Buletin Penelitian Perikanan. 2(1): 51-58. Effendie, I.1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. Hal:39-4 El Gamal, M.M. and J.L. Spicer. 1999. “Hypoxia Accelerates The Development of
Respiratory Regulation in Brine Shrimp But at a Cost”. Journal of Experimental
Biology. 202 (24): 3637-3646.
Http://mbe.oxfordjournals.org/cgi/content/full/02/07/2007
Folch, J., M. Less, and G.M. Sloune-Stanley. 1957. “A Simple Method for The Isolation and Purification of Total Lipids from Animal Tissue”. BioChem. 226: 497-509 Greco, F.M., M.P. Fitzpatrick, W.S. Graffam, E.S. Derenfeld, D.A. Thoney. 2001.
Preliminary Evaluation of Selected Nutrien Composition of Two Life Stage of
Artemia salina Before and After Feeding An Enriched Torula Yeast Product.
http://www.frankgreco.com/Artemia.htm. (Penterjemahan : A.F. M. Soni).
Harefa, F. 2003. Pembudidayaan Artemia untuk Pakan Udang dan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal:1-22.
Hersapto, Yunus, dan I. Setyadi. 1997. “Penelitian Pemanfaatan Bungkil Kelapa dalam Budidaya Artemia salina di Tambak”. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.
3(1): 29-35.
Isnansetyo, A. 1992. “Nilai Nutrisi Artemia yang Diperkaya dengan Asam Lemak Omega-3 (W3)”. Buletin Budidaya Laut. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan. Lampung. 5: 26-30.
Isnansetyo, A. dan Kurniastuti. 1995. Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Kristanto, W.D. 2006. “Variasi Tingkat Ketebalan Chorion Artemia franciscana setelah Pemberian Berbagai Konsentrasi Silase Ikan”. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Kuntoro, D. 2003. “Pengaruh Padat Penebaran terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Benih Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) pada Tahap Pendederan”. Skripsi. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Kusumaningtyas, I. 2004. Pengkayaan Pakan Nauplius Artemia dengan Korteks Otak Sapi untuk Meningkatkan Kelangsungan Hidup Pertumbuhan dan Daya Tahan Tubuh Udang Windu (Penaeus monodon. Fao) Stadium PL5-PL8. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Lehninger, L. A. 1994. “Dasar-dasar Biokimia. Jilid 1”. Erlangga. Jakarta.
Moria, S.B., R. Arfah, dan K. Sugama. 1996. Pengaruh Padat Penebaran terhadap Perkembangan dan Sintasan Larva Teripang Pasir (Holothuria scabra). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 2 (1): 24-29.
Mudjiman, A. 1983. Laporan Hasil Latihan Budidaya Artemia. Dinas Perikanan. Surabaya. Hal: 18-59.
---. 1988. Udang Renik Air Asin (Artemia salina). Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta. Hal: 1-100.
Omari, M. 1984. Methods in Marine Zooplankton Ecology. Interscience Publication. New York.
Purwakusuma, W. 2002. Artemia salina (Brine Shrimp).
http://www.o-fish.com/pakanIkan1/Artemia.htm.21/03/2006.
Romadoni, F. 2006. “Peningkatan Keberhasilan Reproduksi Artemia franciscana Betina dengan Pemberian Pakan Silase Ikan pada Medium Bersalinitas 80 ppt”.
Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Sanoesi, E., S. Andayani, dan M. Fajar. 2002. “Introduksi Pemanfaatan Silase Ikan Rucah sebagai Bahan Pakan terhadap Pertumbuhan dan Kelulusan Hidup Ikan Kerapu Macan (Ephynephelus fuscoguttatus)”. Jurnal Ilmu-ilmu Hayati. 14 (1): 84-93.
Sargeloos, P., P. Persoone, O. Roels, and E. Jaspers. 1980. The Brine Shrimp Artemia. Universa Press. Wetteren Belgium. (2):12-23.
Sargeloos, P. dan S. Kulasekarapandian. 1987. Teknik Budidaya Artemia. (Penterjemahan: E.K. Kontara, dkk.). Dirjen Perikanan. Jakarta.
Soebiantoro, B. 2001. Panduan Praktikum Pakan Ikan. Jurusan Perikanan. Fakultas Perikanan. UGM. Yogyakarta.
Soni, A.F.M., M.S. Latief, dan D.J. Sulistyono. 2004. Diseminasi Budidaya Artemia salina di Tambak Garam Desa Surodadi. BBPBAP. Jepara.
Soni, A.F.M. dan D.J. Sulistyono.2005. Penambahan Karbohidrat untuk Mereduksi Amonia pada Sistem Produksi Biomass Artemia. Media Budidaya Air Payau. (6): 71-77.
Soni, A.F.M. 2004 a. Pengembangan Budidaya Terintegrasi Artemia (Artemia salina)
dan Garam di Tambak. BBPBAP. Jepara.
---. 2004 b. Usaha Diversifikasi Budidaya Artemia dan Garam di Tambak.
BBPBAP. Jepara.
Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Sulistyowati, E.B. 2006. “Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Kista Artemia franciscana dengan Pemberian Pakan Silase Ikan”. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Sumeru, S.U. dan E. K. Kontara. Teknik Pembuatan Pakan Udang. INFIS Manual. (50) : 3-7.
Susanto, B., Wardoyo, S. Ismi, K. Sugama, dan K. Wahyuadi. 2000. “Evaluasi Keragaman dan Kualitas Artemia Produksi Lokal dan Impor”. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 6 (1): 1-7.
Susilowati, E.U. 2007. “Pemanfaatan Berbagai Jenis Silase Ikan terhadap Produksi dan Kualitas Kista Artemia franciscana”. Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.
Terwillger, N.B. and R. Margaret. 2001. “Ontogeny of Crustacean Respiratory Proteins”. Oxford Journals. University of Oregon. Oregon. 41(5): 1057.
Http://icb.oxfordjournals.org/cgi/reprint/02/07/2007.
Utomo, B.S.B., S. Amini, dan T. Wikanta. 2002. “Pengawetan Kista Artemia dan Uji Pertumbuhan Biomassanya”. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 8 (6) : 65-70.
Utomo, I. K. 2004. “Pengaruh Padat Penebaran Nauplii Artemia terhadap Perkembangan Gonad, Produksi Kista, Daya Tetas Kista, dan Kelulushidupan
Artemia sp yang Dikultur di Laboratorium”. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP. Semarang.
Wardoyo, T. Ahmad, T. Aslianti, dan Hersapto. 1994. “Penelitian Substitusi Bungkil Kelapa untuk Meningkatkan Kualitas Kista Artemia”. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai. 10 (1) : 57-64.
Widhiyanto, D.N. 2006. Pengaruh Pakan Silase Ikan Petek (Leiognathus sp) terhadap Produksi dan Daya Tetas Kista Artemia sp. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP. Semarang.