BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Abadi No. 40 Dusun Kuwut Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Jawa Timur, pada bulan Juni sampai Juli 2017.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sabit, hand sprayer, gembor air, cangkul, jangka sorong, timbangan analitik, plastic polybag, label, alat tulis dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih sengon, air, tanah, pasir, abu vulkanik, dan pupuk kandang (sapi, kambing dan ayam).
3.3 Metode Percobaan
Rancangan penelitian yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial, yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah komposisi media tanam berupa campuran pasir, tanah dan abu vulkanik (M), dan faktor kedua adalah jenis pupuk kandang (P).
Faktor I : Media tanam (M) terdiri 3 level M1 : 1 (abu) : 2 (pasir) : 3 (tanah) M2 : 2 (abu) : 3 (pasir) : 1 (tanah)
Faktor II : Jenis Pupuk Kandang (P) terdiri 3 level P1 : Pupuk kandang sapi
P2 : Pupuk kandang kambing P3 : Pupuk kandang ayam
Dari dua faktor tersebut didapat 9 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 10 tanaman dan diulang sebanyak 3 kali ulangan, sehingga didapat 9 x 10 x 3 ulangan sama dengan 270 yang diteliti.
Adapun kombinasi perlakuan tiap-tiap taraf dari kedua faktor tersebut terdiri kombinasi antara lain :
M1P1 : 1 (abu) : 2 (pasir) : 3 (tanah) + pupuk kandang sapi MIP2 : 1 (abu) : 2 (pasir) : 3 (tanah) + pupuk kandang kambing M1P3 : 1 (abu) : 2 (pasir) : 3 (tanah) + pupuk kandang ayam M2P1 : 2 (abu) : 3 (pasir) : 1 (tanah) + pupuk kandang sapi M2P2 : 2 (abu) : 3 (pasir) : 1 (tanah) + pupuk kandang kambing M2P3 : 2 (abu) : 3 (pasir) : 1 (tanah) + pupuk kandang ayam M3P1 : 3 (abu) : 1 (pasir) : 2 (tanah) + pupuk kandang sapi M3P2 : 3 (abu) : 1 (pasir) : 2 (tanah) + pupuk kandang kambing M3P3 : 3 (abu) : 1 (pasir) : 2 (tanah) + pupuk kandang ayam
3.3.1 Denah Percobaan di Lapang
Adapun denah di lapang disajikan di bawah ini :
U
3.3.2 Denah Pengambilan Sampel
Adapun denah pengambilan sampel pengamatan di lapang yaitu :
I II II
MIPI
M2PI
M2P2
M3P2
M1P2
M2P3
M3P1
M3P3
M1P3
M3P2
M2P3
MIPI
M3P1
M3P3
M2PI
M1P2
M1P3
M2P2
M2P2
M3P3
M2PI
M1P2
M3P2
M1P3
MIPI
M2P3
M3P1
0 # 0 # 0
Gambar 1 : denah penelitian
Ket :
I : Kelompok I II : Kelompok II III : Kelompok III
: Jarak antar ulangan 30 cm : Jarak antar plot
20 cm
3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Persiapan Benih
Benih yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih sengon laut yang diambil dari Universitas Gadjah Mada. Benih berasal dari pohon induk sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama dan penyakit. Benih diseleksi dengan cara memilih biji yang memiliki kulit bersih, berwarna coklat tua, ukuran benih maksimum, tenggelam dalam air ketika benih direndam dan bentuk benih masih utuh.
3.4.2 Persiapan Media Tanam
Penyiapan abu vulkanik dilakukan dengan mengambil abu vulkanik sisa letusan gunung kelud tahun 2014 di ketinggian 1251 mdpl. Pasir yang digunakan juga disterilkan dengan cara penjemuran pada terik matahari selama dua hari.
Pasir yang digunakan sebagai komposisi media tanam adalah pasir yang halus.
Mula-mula pasir dicuci untuk menghilangkan tanahnya, lalu diayak untuk mendapatkan butiran pasir yang homogen. Tanah yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari tanah hutan rakyat sengon yang berada dilereng gunung kelud dengan ketinggian 708 mdpl, yang telah dibersihkan dari kotoran-kotoran.
Sedangkan pupuk kandang diambil dari kandang-kandang (sapi, kambing, dan ayam) yang telah mengalami dekomposisi. Komposisi yang digunakan antara tanah, pasir dan abu vulkanik adalah dengan perbandingan 1:2:3, 2:3:1, 3:1:2, hal tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan dosis ketiga media tersebut. Kemudian media dicampur sesuai komposisi dan dimasukkan ke polibag yang berjumlah 270 dengan perlakuan yang sudah ditentukan.
3.4.3 Pelaksanaan dan Pemberian Perlakuan
Sebelum dilakukannya penanaman, benih direndam dengan menggunakan air panas dengan suhu 80o C selama 15-30 menit, setelah itu benih direndam kembali dalam air dingin selama 24 jam, hal tersebut dilakukan untuk memecah dormansi benih. Penanaman benih dilakukan sore hari. Pada awal penanaman, benih per polibag diisi sebanyak 5 benih untuk kemudian nantinya setelah berkecambah dan tumbuh daun dengan sempurna baru disisakan satu benih yang tumbuh untuk dilakukan pengamatan pertumbuhannya. Serta pada saat itulah baru diberikan pupuk kandang (sapi, kambing dan ayam) dengan dosis 100 gr.
3.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi penyiraman, penyiangan, dan pengendalian hama. Untuk penyiraman dilakukan pada pagi hari dan sore hari menggunakan hand spayer hingga tanaman berumur 20 hari, selanjutnya penyiraman menggunakan gembor. Dan penyiangan terhadap gulma dilakukan ketika disekitar bibit mulai tumbuh gulma pada setiap pengamatan dengan mencabutnya dan bila perlu dibantu dengan alat pencungkil, namun dilakukan hati-hati agar jangan sampai akar bibit sengon terganggu. Sedangkan untuk pengendalian hama dilakukan pada saat tanaman terserang hama.
3.6 Parameter Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada saat penanaman benih dan sampai
ketika tanaman sudah muncul daun secara sempurna sampai akhir pengamatan yang telah ditentukan.
Pada penelitian ini parameter yang diamati antara lain :
1. Persentase perkecambahan : daya perkecambahan diperoleh dari hasil perbandingan jumlah benih yang berkecambah dengan jumlah benih yang ditanam dikalikan 100 %.
Jumlah benih yang berkecambah
PK = 100 %
Jumlah benih yang ditanam
Menurut Sutopo (2002), benih dapat disebut berkecambah ditandai dengan munculnya radikula dari permukaan kulit biji. Berikut adalah kriteria kecambah normal dan abnormal :
Kecambah Normal :
System perakaran yang baik terutama akar primer dan seminal minimal berjumlah dua
Memiliki satu kotiledon untuk monokotil dan dua kotiledon untuk dikotil
Pertumbuhan plumula yang baik dan daun berwarna hijau
Kecambah Abnormal:
Tanpa kotiledon
Embrio yang pecah
Akar primer yang pendek
Kecambah yang bentuknya cacat, perkembangan lemah atau kurang seimbang
Kecambah yang kerdil 2. Laju Perkecambahan
Laju perkecambahan menurut Sutopo (1984), dapat diketahui dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya plumula.
Nˡ Tˡ + N² T² + … + N˟ T˟
LK =
Total benih yang berkecambah Keterangan:
N : Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu
T : Jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dari interval tertentu suatu pengamatan.
3. Diameter batang : diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong dengan cara menjepit pada bagian batang (1 cm di atas pangkal batang). Pengukuran dimulai pada saat tanaman sudah tumbuh daus dengan sempurna dan sudah diberi pupuk organic dengan interval pengamatan 1 minggu sekali sampai akhir pengamatan yang telah ditentukan.
4. Jumlah daun : pengamatan dilakukan saat daun sudah tumbuh dengan sempurna, pengamatan ini dilakukan dengan interval 1 minggu sekali sampai akhir pengamatan yang telah ditentukan.
5. Tinggi tanaman : tinggi tanaman diukur dengan menggunakan penggaris, diukur mulai dari leher akar yaitu batas antara batang dengan akar di atas
6. Berat basah : dilakukan pada saat akhir pengamatan dengan menggunakan beberapa sampel tanaman. Pengukuran dilakukan dengan cara memisahkan tanaman dari media tanam, kemudian akar dibersihkan dari kotoran atau tanah yang menempel. Selanjutnya semua organ ditimbang berat segarnya.
Penimbangan menggunakan timbangan analitik.
7. Berat kering : dilakukan pada saat akhir pengamatan dengan menggunakan beberapa sampel tanaman. Pengukuran dilakukan dengan cara menimbang semua organ tanaman setelah dikeringkan dalam oven dengan suhu 105 0C selama 24 jam. Penimbangan menggunakan timbangan analitik.
3.7 Analisis Data
Data hasil pengamatan kemudian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (Anova) Rancangan Acak Kelompok (RAK). Dan apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat signifikasi 5% sesuai petunjuk Gomez dan Gomez (1995).