• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

30

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Menurut Hidayat (2003), paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis terhadap konsep socially meaningful action melalui pengamatan langsung atau mendalam mengenai bagaimana pelaku sosial menciptakan dan memelihara, atau mengelola dunia sosial mereka (dalam Umanailo, 2019)

Sederhananya, berbeda dengan cara pandang paradigma positivis, realitas sosial yang diamati tidak dapat selalu digeneralisasikan pada satu pemahaman yang sama. Dalam paradigma konstruktivis, setiap individu memiliki pengalaman yang unik dan berarti. Menurut Patton (2002), cara setiap individu dalam memandang dunia adalah valid, dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut (dalam Umanailo, 2019).

Posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan terjadi proses untuk memahami dan mengkonstruksi sesuatu pemahaman subjek yang diteliti. Dengan menggunakan paradigma konstruktivitis, kerangka kerja penelitian dapat disusun dengan lebih fleksibel. Paradigma ini membantu peneliti untuk memahami dan menginterpretasi kejadian, bukan sebab akibat.

(2)

31 Dengan demikian, paradigma penelitian ini mampu mengakomodasi peneliti untuk memahami pemanfaatan algoritma personalisasi Youtube yang digunakan oleh Narasi.tv. Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan Social Construction of Technology (SCoT) sebagai alat analisis, sekaligus mengembangkan konsep tersebut. Konsep SCoT memiliki konsep dasar yang menganggap bahwa kemajuan atau inovasi teknologi merupakan sebuah proses pemaknaan terbuka dari berbagai interpretasi dalam kelompok sosial tertentu. Menurut Klein dan Kleinman (2002), kelompok sosial tersebut diyakini memiliki maksud dan tujuan beragam dalam berkembangnya suatu teknologi, dalam hal ini algoritma personalisasi Youtube (dalam Mustika, 2018).

3.2 Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif. Kriyantono (2006) menekankan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dan kejadian melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Menurut Creswell (dalam Ardian, 2014, p. 249) peneliti yang ingin menggunakan pendekatan kualitatif harus membuat satu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terperinci dari pandangan objek yang diteliti dan melakukan studi pada situasi yang dialami.

Penelitian kualitatif bersifat induktif, peneliti membiarkan permasalahan-permasalah muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk

(3)

32 interpretasi. Data dihimpun dengan pengamatan, deskripsi detail, catatan mendalam serta analisis dokumen (dalam Bachri, 2010, p. 50). Hal ini dilakukan karena penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Ardial (2014, p. 249) juga menjelaskan kalau penelitian kualitatif merupakan realitas jamak, sehingga tidak perlu menggunakan sample dari populasi.

Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas (Kriyantono, 2006, p. 56).

Penelitian ini juga bersifat deskriptif, yang merupakan suatu cara untuk memaparakan suatu hasil penelitian, namun tidak digunakan untuk membuat kesimpulan (Sugiyono, 2005, p. 21). Menurut peneliti, jenis dan sifat penelitian ini dapat menjawab permasalahan penelitian. Penelitian ini akan menelusuri, menyingkap, dan berusaha menggambarkan secara terperinci bagaimana kerja sistem personalisasi Youtube yang dimakna jurnalis. Penelitian ini juga akan mencari pengetahuan tentang bagaimana algoritma personalisasi Youtube dapat membantu kerja jurnalis di media digital.

3.3 Metode Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode studi kasus. Penelitian studi kasus melibatkan studi tentang suatu masalah yang dieksplorasi melalu satu atau lebih kasus dalam sistem terbatas, seperti pegaturan, konteks, dan lain- lain (Creswell, 2007). Menurut

(4)

33 Hodgetts & Stolte (2012), studi kasus memungkinkan peneliti untuk menyelidiki suatu peristiwa, situasi, atau kondisi sosial dan memberikan wawasan dalam proses yang menjelaskan bagaimana peristiwa atau situasi tertentu terjadi (dalam Prihatsanti, U., dkk., 2018).

Penelitian memakai pendekatan studi kasus Robert E Stake, yang secara epistimologi penelitian menggunakan pendekatan konstruktivis. Pendekatan konstruktivis bertujuan untuk memaparkan, sesuai dengan penelitian yang akan dijalani yaitu bagaimana Narasi.tv mengkonstruksikan dan memahami teknologi algoritma personalisasi Youtube sebagai saluran distribusinya. Stake mengusul desain studi kasus ini yang lebih fleksibel, dimana peneliti dapat membuat perubahan meskipun setelah terjadi proses penelitian. Peneliti berfokus pada sebuah fenomena atau masalah, lalu memilih satu jenis kasus yang dapat mengillustrasi masalah tersebut (dalam Creswell, 2007, p.74).

Berdasarkan skala studinya, metode studi kasus Stake (1995) memiliki tiga jenis variasi atau kajian berbeda yaitu single instrumental case study, collective case study, dan instrinsic case study.

1. Studi Kasus Instrumental (instrumental case study)

Jenis pertama adalah studi kasus instrumental. Jenis ini digunakan saat meneliti kasus untuk mendapatkan pandangan, kedalaman isu, atau perbaikan teori dan fenomena. Kasus tidak dilihat sebagai objek utama

(5)

34 penelitian, melainkan sebagai pendukung yang mempermudah peneliti memahami suatu fenomena. Kasus dicermati secara mendalam, dikaji secara menyeluruh, serta diamati secara terperinci untuk mengungkap motif eksternalnya.

Penelitian ini masuk kedalam kategori studi kasus instrumental, dimana peneliti mengamati penggunaan Youtube oleh Narasi.tv sebagai alat. Fokus peneliti untuk mempelajari dan memahami artefak teknologi berdasarkan kerangka konsep SCoT.

2. Studi Kasus Kolektif (collective case study)

Jenis kedua adalah studi kasus olektif, dimana peneliti menggunakan informasi dari studi-studi yang berbeda untuk merumuskan kasus untuk studi baru.

Kumpulan studi ini dapat saling melengkapi penelitian, tanpa perlu menghabiskan lebih banyak waktu atau uang untuk studi tambahan.

3. Studi Kasus Intrinsik (instrinsic case study)

Jenis terakhir adalah studi kasus intrinsik, yang digunakan peneliti untuk memahami satu kasus tertentu.

Studi ini memandang kasus dimana subjek itu sendiri adalah

(6)

35 minat utamanya. Tujuannya bukan untuk mengerti konstruk atau fenomena tertentu, melainkan minat intrinsik pada subjek.

Berbeda dengan studi kasus intrinsik yang mencari satu kasus unik, studi kasus instrumental bertujuan mencari pemahaman mendalam mengenai proses yang digeneralisasikan. Dengan menggunakan studi ini, teknologi personalisasi dapat lebih diteliti dan diperdalam pemahamannya. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana konstruksi dan pemahaman jurnalis Narasi.tv dalam menggunakan teknologi algoritma personalisasi Youtube, serta memperkaya konsep Social Construction of Technology (SCoT) lewat pemanfaatan teknologi tersebut.

3.4 Key Informant dan Informan

Key informant atau narasumber kunci adalah seseorang atau subjek sebagai kunci utama bagi peneliti dalam mengungkap informasi serta untuk terlibat langsung dalam penelitian. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti tidak memerlukan penggunaan sampel atau populasi sebagai unit analisis. Dalam studi kualitatif Stake (2005) menekankan, khususnya yang bersifat instrumental, kasus akan dipilih secara purposive (dalam Mustika, 2018).

(7)

36 Pemilihan informan menggunakan metode purposive sampling, dimana mereka dipilih sesuai dengan kriteria khusus yang akan dikaji.

Pemilihan informan berfokus pada orang-orang yang memiliki informasi dan data yang dibutuhkan peneliti. Selain itu, keterbukaan dan aksesbilitas informan terhadap teknologi yang ingin diteliti dalam kehidupan sehari-harinya menjadi faktor penting bagi peneliti.

Dalam penelitian tentang pemanfaatan algoritma personalisasi Youtube, dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut:

1. Informan merupakan orang yang terlibat atau memahami situasi yang diteliti, yakni informan yang bekerja di Narasi.tv.

2. Informan diharapkan memiliki posisi sebagai pengambil keputusan, seperti pemimpin redaksi, redaksi pelaksana, manajer pemberitaan, dan masih banyak lagi. Hal ini agar informan dapat memberikan data yang kaya dan beragam tentang penggunaan teknologi di media tersebut.

3. Informan terlibat langsung atau tidak langsung dalam produksi konten, distribusi berita, atau pengembangan media lewat Youtube Narasi.tv.

Maka dari itu, key informant dalam penelitian ini adalah Amanda Valani Nurvadila, selaku Head of Content Manager Narasi.tv atau Manajer Produksi Konten Narasi.tv, yang telah bekerja di Narasi.tv

(8)

37 selama lebih dari tiga tahun lamanya. Amanda dipilih menjadi penelitian ini karena terlibat langsung dalam penggunaan Youtube Narasi.tv. Ia juga merupakan kepala dari produksi konten-konten edutainment di Narasi.tv sehingga merupakan salah satu pengambil keputusan tertinggi di Narasi.tv.

Selain Amanda, peneliti juga mewawancarai Rezky Amelia dari Growth and Data Department Narasi.tv. Divisi ini bertanggungjawab

untuk menganalisa strategi algoritma dan insight di tiap platform media sosial yang digunakan Narasi.tv. Data-data serta analisa yang dikumpulkan oleh Growth and Data Department ini nantinya akan dipelajari dan diaplikasikan oleh redaksi Narasi.tv. Amel menjabat sebagai Lead Data di Narasi.tv. Meski baru bekerja di Narasi.tv, Amel telah menekuni profesi Data Engineer di berbagai media online di Indonesia sejak tahun 2019.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian studi kasus, berbagai cara pengumpulan data dapat dilakukan, antara lain data wawancara, observasi, dokumen, dan studi artefak (Creswell, 2007, p.79). Maka dari itu, peneliti akan mengumpulkan data dengan cara wawancara mendalam (indepth interview) dan observasi. Wawancara adalah percakapan antara periset dan informan (Berger dalam Kriyantono, 2005, p. 100). Menurut

(9)

38 Kriyantono (2005, p. 102), wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung tatap muka dengan informan, agar mendapat data yang lengkap dan mendalam.

Ada beberapa jelas wawancara yang terdapat dalam kegiatan riset (Kriyantono, 2005, p. 100) yaitu, Pertama, wawancara pendahuluan yang tidak mempunyai sistematik tertentu, tidak terkontrol, terjadi begitu saja, tidak terorganisasi atau terarah. Biasanya terjadi pada pengenalan pewawancara dengan orang yang akan diriset untuk membangun kepercayaan. Kedua, wawancara terstruktur yaitu ketika pewawancara menggunakan pedoman wawancara yang merupakan instruksi arahan jalannya wawancara. Ketiga, wawancara semistruktur yang biasanya pewawancara mempunyai daftar pertanyaan tertulis, tetapi memungkinkan untuk menanyakan pertanyaan secara bebas. Dan keempat adalah wawancara mendalam.

Dalam wawancara mendalam, pewawancara relatif tidak mempunyai kontrol atas respon dan jawaban informan (Kriyantono, 2005, p. 102). Maka, tugas pewawancara menjadi berat, agar informasi yang diberikan oleh informan bisa berupa jawaban-jawaban yang lengkap, mendalam, tanpa ada yang disembunyikan. Dalam pelaksanaanya, wawancara mendalam umumnya membutuhkan waktu yang lama agar informasi yang diperoleh mendalam. Lewat wawancara

(10)

39 mendalam, akan timbul pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang mampu memperkaya penelitian.

Tahap wawancara ini akan digunakan untuk menggali pengetahuan informan mengenai pemahaman dan konstruksinya terhadap algoritma personalisasi Youtube. Adapun, tahapan untuk mengisi data adalah dari data umum, fleksibilitas interpretasi penggunaan algoritma Youtube, kelompok sosial relevan, penutup dan stabilisasi artefak, konteks lebih luas dalam penggunaan Youtube, serta hal-hal dari observasi penulis. Pertanyaan lengkap saat wawancara mendalam Amanda Valani dan Rezky Amelia akan dilampirkan.

3.6 Keabsahan Data

Berbeda dengan studi kuantitatif yang membutuhkan uji realibilitas dan validitas, studi kualitatif membutuhkan tahap pemeriksaan data yang berbeda. Dalam paradigma konstruktivis, penyampaian interpretasi dari informan juga dapat berbeda. Stake (1995) menyatakan bahwa studi kasus memerlukan verifikasi yang ekstensif melalui triangulasi (dalam Kusmarni, 2012, p. 10). Stake menyarankan triangulasi informasi yaitu mencari pemusatan informasi yang berhubungan secara langsung pada “kondisi data” dalam mengembangkan suatu studi kasus. Menurut Stake (1995, p. 112), data yang perlu ditriangulasi adalah data deskripsi yang inkonsisten,

(11)

40 deskripsi yang menimbulkan keraguan dan penentangan, data penting untuk penegasan, interpretasi utama, dan persuasi penulis.

Tidak hanya itu, peneliti juga melakukan triagulasi atau pengecekan ulang yang beragam. Menurut Moleong (2001, p. 178), triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan dengan cara memanfaatkan hal-hal (data) lain untuk pengecekan atau membandingkan data. Hal-hal lain yang dipakai untuk pengecekan data itu antara lain sumber, metode, peneliti, serta teori.

Adapun jenis-jenis triagulasi data dalam penelitian kualitatif yaitu triangulasi sumber (data triangulation), triangulasi peneliti (investigator triangulation), triangulasi metodologis (methodological triangulation), dan triangulasi teoretis (theoritical triangulation).

3.7 Teknik Analisis Data

Pada penelitian kualitatif, analisis harus dilakukan terus menerus. Setelah melalui proses triagulasi data dari observasi, wawancara mendalam, hingga studi pustaka, penelitian akan melewati tahap analisis. Untuk mempermudah peneliti, ada tiga tahapan analisis dari coding yaitu open coding, axial coding dan selective coding.

Menurut Cordin dan Strauss (2015, p. 61), open coding merupakan proses perincian, pengujian, perbandingan, serta proses membuat konsep dan mengkategorisasi data. Di tahap ini, penelitian menyusun

(12)

41 label dan kategori, lalu mengembangkan kategori sesuai ciri dari data yang didapat (dalam Mustika, 2018).

Selanjutnya Cordin dan Strauss (2015) juga menjelaskan proses selanjutnya, yaitu axial coding, dimana data akan disatukan kembali setelah pengodean terbuka, dengan memberi hubugan antar kategori- kategori. Proses axial coding bertujuan untuk memperinci kategori menjadi sesuatu yang lebih spesifik, seperti tindakan atau strategi interaksi yang dilakukan dan dikendalikan, dan konsekuensi dari strategi-strategi tersebut (dalam Mustika, 2018).

Tahap terakhir dalam analisis data kualitatif adalah dengan proses selective coding. Intinya, peneliti akan menemukan inti kategori, hubungan-hubungannya, menganalisis hubungan tersebut, dan mengisi kategori yang butuh pengembangan lebih lanjut. Pada akhirnya, data tersebut kemudian akan melewati proses analisis sesuai metode studi kasus Stake.

Stake (1995) menyarankan empat cara analisis data dan interpretasi dalam studi kasus (dalam Creswell, 2007, p.163), dua diantaranya adalah categorical aggregation (pengumpulan kategori) dan direct interpretation (interpretasi secara langsung). Dalam pengumpulan kategori, peneliti mencari kumpulan data yang relevan dengan harapan muncul makna. Setelah muncul makna, peneliti akan menginterpretasi langsung, menarik, dan menggali temuan dengan

(13)

42 mengumpulkan fakta hingga bisa menarik kesimpulan dari kasus yang diteliti.

Selanjutnya, peneliti akan menarasikan data hasil penelitian secara deskriptif. Para peneliti studi kasus akan membangun generalisasi secara natural dari data yang diteliti, generalisasi yang dapat dipelajari dalam kasus yang sama atau dapat diterapkan dalam sebagai besar kasus (Creswell, 2007, p.163)

Referensi

Dokumen terkait

rumah tangga di daerah perkotaan telah memiliki akses terhadap telepon kabel, sedangkan di perdesaan hanya 1,7%. MEMILIKI TELEPON KABEL 4,5% 95,5% TIDAK MEMILIKI TELEPON

Oleh karena itu, penempatan SDM yang tepat dalam struktur organisasi yang sudah di- bentuk perlu dilakukan dan akan menjadi kunci dalam keberhasilan melaksanakan tugas kerja

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu adanya sebuah kajian yang lebih mendalam mengenai novel Bidadari Terakhir karya Agnes Davonar yang diterbitkan oleh

Permohonan Visa tinggal terbatas tidak dalam rangka bekerja bagi anak hasil perkawinan yang sah antara Orang Asing dengan warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22

Dalam rezimnya, Jenderal Ne Win hanya mengakui satu partai politik yaitu Burmese Socialist Program Party (BSPP) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Partai

Seperti yang telah dilakukan oleh Gapoktan Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi yakni membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Rukun Tani. Lembaga keuangan mikro

3.10.3 Pembahas yang tidak menjawab atau tidak menerima izin laluan daripada pihak lawan juga akan kehilangan markah strategi.. 3.10.4 Izin laluan dalam tempoh yang

yang dimaksud dengan asas kemitraan adalah bahwa Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern terjadi hubungan kemitraan dengan pelaku usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi