• Tidak ada hasil yang ditemukan

ERA REFORMASI; TITIK BALIK PENDIDIKAN INDONESIA. Khaeruddin 1, Rahmania 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ERA REFORMASI; TITIK BALIK PENDIDIKAN INDONESIA. Khaeruddin 1, Rahmania 2"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ERA REFORMASI;

TITIK BALIK PENDIDIKAN INDONESIA Khaeruddin1, Rahmania2

1,2 Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Makassar, Indonesia E-mail: [email protected]

Artikel Info Abstrak

Received: 16 April 2022 Revised: 9 Mei 2022 Accepted: 20 Mei 2022 Published: 30 Mei 2022

Era reformasi merupakan suatu masa di mana pendidikan Indonesia memiliki ruang yang begitu besar bagi perumusan kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan refolusioner. Pendidikan yang merupakan bagian dari kebudayaan, di sisi lain juga merupakan bentuk proses pembudayaan (enculturation) yang bersifat spesifik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dalam bentuk kualitatif deskriftif dan studi pustaka. Sehingga dapatlah ditarik kesimpulan bahwa era reformasi merupakan era dimana pendidikan di Indonesia mulai berkembang dengan cukup baik dikarenakan mulai adanya perubahan dalam berbagai bidang pendidikan yang tentunya dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat bersaing.

Kata Kunci: pendidikan, reformasi, kurikulum

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional merupakan bagian dari pembangunan nasional. Melalui UU NO. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan nasional telah mempunyai dasar legalitasnya. Namun demikian, pendidikan nasional sebagai suatu sistem bukanlah merupakan suatu hal yang beku melainkan suatu proses yang terus-menerus mencari dan menyempurnakan bentuknya (Tilaar H.A.R, 1998).

Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, pendidikan merupakan usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secarah aktif mengembangkan potensi dirinya dalam rangka pemenuhan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukannya. Adapun pengertian pendidikan dalam arti luas ialah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan dalam hidup, pendidikan dalam arti luas ini artinya segala kegiatan, pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan pengaruh, perubahan, dan pertumbuhan bagi kehidupan (Hamid, 2019).

(2)

Sebagai suatu sistim yang dinamis, pendidikan nasional terus-menerus di soroti oleh masyarakat, pemerintah, dan para ostake holders. Silang pendapat mengenai sistem pendidikan nasional merupakan hal yang biasa karena proses pendidikan itu sendiri akan terus menerus ditantang oleh perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya, maupun perubahan-perubahan konsep pendidikan karena peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah-masalah pendidikan semakin kompleks sesuai dengan meningkatnya kecerdasan rakyat Indonesia serta kemampuan sumber daya manusia Indonesia yang semakin ditingkatkan.

Dengan demikian apabila pendidikan nasioanl merupakan suatu proses pengembangan sumber daya manusia, maka tujuan pendidikan nasional tidak lain dari pada membangun manusia Indonesia unggul yang dapat survive menghadapi berbagai krisis. Tujuan pendidikan nasional khususnya didalam menapaki abad 21 yang penuh dengan persaingan pada berbagai bidang kehidupan, ialah membangun manusia Indonesia unggul agar mampu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam berbagai kehidupan tersebut, bukan hanya di dalam skala nasional tetapi juga di dalam skala international.

Manusia Indonesia yang unggul adalah manusia Indonesia yang dapat mengembangkan berbagai potensinya sesuai dengan kemampuannya sehingga dengan potensi yang telah berkembang itu dapat bersaing dengan bangsa-bangsa dalam ruang lingkup ASEAN, APEC, dan dunia Internasional. Pendidikan nasional mempunyai peranan penting dalam proses tersebut dengan adanya pendidikan nasional yang efektif dan efisien dapat dibangun suatu bangsa yang inteligen. Dengan tingkat pendidikan yang baik dan bermutu, maka berbagai program reformasi untuk membangun suatu masyarakat yang sejahtera, masyarakat yang cerdas, yang dapat hidup dalam “knowledge society” seperti yang dicita-citakan dalam pembukaan Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia (Tilaar H.A.R, 1998).

Pada satu sisi pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan, namun di sisi lain juga merupakan bentuk proses pembudayaan (enculturation) yang sifatnya spesifik yakni berbeda antara satu masyarakat dengan yang lainnya. Apapun bentuk pendidikan seperti yang di maksud Collins (1997) “Pendidikan keterampilan praktis, pendidikan untuk keanggotaan kelompok status, dan pendidikan birokrasi” satu hal yang selalu perlu ditonjolkan dalam memaknai sejarah perkembangan pendidikan, pernyataan tersebut mengajak kepada kita untuk mengedepankan kekuatan pendidikan, di samping untuk melibatkan akademisi sejarah pendidikan yang lebih berbasis pada disiplin ilmu (disciplined-based field). Terutama untuk

(3)

lebih mengokohkan kaitan sejarah pendidikan progresif dengan sejarah sosial dan intelektual.

Sebagai mana di jelaskan oleh Apple dalam bukunya Education and Power yang menyatakan bahwa pendidikan itu tidak sekedar memiliki kekuasaan (power) intelektual transmitif, tetapi juga kekuasaan intelektual transformatife.

Sebagai kekuasaan Intelektual transmitif, mengacu pada upaya-upaya enkulturasi dan reproduksi kultural yakni melestarikan nilai-nilai yang tetap perlu dikembangkan, sedangkan sebagai kekuasaan intelektual transformatif yaitu intelektual yang menganggap belajar dan mengajar sebagai aktifitas politik, yang mengunggah kesadaran anak didik mampu menyikapi penindasan dan ketimpangan yang asimetris antara berbagai kelompok dalam mewujudkan sistim dekorasi yang partisipatoris (Dadang, 2008). Sejarah pendidikan di Indonesia dari zaman ke zaman menunjukkan berbagai hal yang sampai saat ini berpengaruh kepada dunia pendidikan, dimana sejarah pendidikan di Indonesia pada umunnya di mulai sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Pada zaman ini terbagi menjadi tiga periode yakni periode VOC pada abad ke 17, kemudian periode pemerintah Hindia Belanda pada abad ke 19, dan priode Politik Etis pada awal abad ke 20. Pada zaman VOC kurikulum sekolah berhubungan dengan gereja, dimana sekolah menyajikan pengajaran tetang agama, juga membaca menulis, dan menyanyi.

Setelah ambruknya pemerintahan VOC pada 1816 dan digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda, pada saat itu kurikulum sekolah mengalami perubahan radikal hal ini di karenakan tujuan pendidikan bukan lagi menumpuk pada rasa takut akan Tuhan melainkan pendidikan pada masa itu ditujukan pengembangan kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional, sosial, dan usaha untuk mencapai tujuan-tujuan sekuler lainnya. Kemudian pada tahun 1899 terbit sebuah artikel oleh Van Deventer yang berjudul Hutang Kehormatan dalam majalah De Gids. Dari situ ia mengemukakan bahwa keuntungan yang di peroleh dari Indonesia selama ini hendaknya di bayar kembali dari perbendaharaan negara. Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya politik etis atau politik balas budi. Tujuan dari politik etis ini ialah sebagai usaha mencapai kesejahteraan melalui irigasi, transmigrasi, reformasi, pendewasaan, perwakilan, dan dalam semua hal tersebut pendidikan memainkan peran penting (Nasution, 1983).

Zaman yang kedua yakni zaman pendudukan Jepang, masuknya Jepang di Indonesia ikut mempengaruhi sistim pendidikan di masa kolonial, dimana kebijakan menyederhanakan sistim pendidikan Belanda menjadi sistem pendidikan yang lebih influksif pada masa

(4)

kependudukan Jepang merupakan salah satu propaganda untuk meraih simpati masyarakat Indonesia (Soekarwo, 2019). Zaman yang selanjutnya ialah pendidikan Indonesia awal kemerdekaan, praktek pendidikan zaman Indonesia merdeka boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh sistim pendidikan Belanda. Hal ini diharapkan untuk mengembangkan kemampuan penduduk pribumi secepat-cepatnya melalui pendidikan barat (Hamid, 2019).

Kemudian zaman yang selanjutnya ialah zaman Demokrasi Terpimpin (Orde lama) dan zaman Orde Baru pada ke dua zaman ini keadaan pendidikan di Indonesia mulai mengalami kemajuan yang cukup berarti dapat dilihat dari perubahan-perubahan kurikulum yang menandakan peningkatan dalam bidang pendidikan.

Pada tahun 1997 Indonesia mengalami sebuah krisis yang bermula dari krisis ekonomi dan berlanjut dengan krisis kepercayaan. Hal inilah yang melatar belakangi lahirnya era baru di Indonesia yakni Era Reformasi yang ditandai dengan berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada awal era ini masyarakat menuntut suatu perbaikan dalam seluruh bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara salah satunya ialah bidang pendidikan, dimana pada saat itu pendidikan nasional perlu di reformasi agar dapat mendukung seluruh usaha pengembangan sumber daya manusia yang unggul dalam rangka untuk mempersiapkan masyarakat dan bangsa kita menghadapi milenium ketiga sebagai era yang kompertitif.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitiatif, merupakn suatu jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya dan bertujuan mengungkapkan gejala secarah holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Adapun data dalam penelitian ini ialah data deskriptif yang pada umumnya merupakan kata-kata, gambar-gambar, atau rekaman. Kriteria data dalam penelitian kualitatif ialah data yang pasti dan benar-benar terjadi sebagaimana adanya (Sugiarto, 2015).

Studi pustaka merupakan studi mengenai sumber-sumber tertulis berupa makalah, buku, serta jurnal yang di terbitkan untuk memudahkan pencarian data menggunakan katalog.

Berikutnya yaitu dengan menggunakan buku yang menjadi referensi, selain itu peneliti juga bisa mengetahui dari melihat catatan kaki (Madjid dkk, 2018). Dengan demikian dapat di katakana bahwa metode penelitian yang gunakan ialah metode penelitian dengan menggunakan data deskriftif dan juga studi pustaka, dimana dalam semua kegiatan penelitian

(5)

studi pustaka dapat digunakan untuk mencari referensi yang lebih banyak lagi dalam penulisan suatu hasil penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perkembangan Pendidikan Pada Era Reformasi

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia memang dapat dikatakan memiliki perubahan yang cukup pesat seiring dengan perkembangan zaman. Era reformasi dimulai pada tahun 1998 sejak tumbangnya presiden Soeharto dan digantikan oleh BJ Habibie sehingga dapat dikatakana bahwa era Reformasi di mulai sejak masa pemerintahan BJ Habibie. Era reformasi menuntut kembali kedaulatan rakyat yang hilang pada masa Orde Baru. Dengan sendirinya pula pendidikan nasional haruslah dikembalikan fungsinya.

Era reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan- kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Bentuk kurikulum menjadi berbasis kompetesi begitu pula bentuk pelaksanaan pendidikan berubah dari sentralistik (orde lama menjadi desentralistik). Pada saat itu pemerintah menjalankan amanat UUD 1945 dengan memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan belanja negara. Berdasar pada UU No. 20 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, yang kemudian diperkuat dengan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, maka pendidikan digiring pada pengembangan lokalitas dimana keberagaman sangat diperhatikan, masyarakat dapat berperan aktif dalam pelaksanaan satuan pendidikan (Mamonto, 2107).

Pendidikan di awal era Reformasi 1999 mengubah wajah sistim pendidikan Indonesia melalui UU No. 22 tahun 1999, dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang kemudian di desentralisasikan. Pemerintah memperkenalkan model “Manajemen Berbasis Sekolah”. Sementara untuk mengimbangi kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibuatlah sistem “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Memasuki tahun 2003 pemerintah membuat UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menggantikan UU No. 2 tahun 1989, sejak saat itu pendidikan dipahami sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secarah aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

(6)

Pendidikan di masa reformasi belum sepenuhnya dikatakan berhasil karena pemerintah belum memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mendesain pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan lokal, misalnya penentuan kelulusan siswa masih diatur dan ditentukan oleh pemerintah. Walaupun telah ada aturan yang mengatur posisi siswa yang setara dengan guru, namun dalam pengaplikasiannya guru masih menjadi pihak yang dominan dan mendominasi siswanya, sehingga dapat dikatakana bahwa pelaksanaan proses pendidikan Indonesia masih jauh dari kata memperjuangkan hak siswa-siswa. Ada beberapa kesalahan dalam pengelolaan pendidikan awal pada masa ini yakni:

1. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global 2. Birokrasi yang lamban, korup, dan tidak kreatif.

3. Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis 4. Sember daya alam rusak parah

5. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan

6. Merajalelahnya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.

Kemudian pada Era Reformasi ini telah terjadi beberapa kali kebijakan perubahan kurikulum dimana tujuan dari perubahan kurikulum sendiri ialah untuk menciptakan sumber daya manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang cukup pesat.

Pada awal Era Reformasi masih menggunakan kurikulum 1997, dimana pelaksanaan kurikulum ini masih cenderung kepada pelaskasanaan penguasaan materi (content oriented), kurikulum ini merupakan penyempurna dari kurikulum 1994, yang dimana pada pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yakni tahap penyempurnaan jangka panjang, dan tahap penyempurnaan jangka pendek.

Pada masa pemerintahan Megawati yakni tahun 2004 disusunlah suatu kurikulum baru yang berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum ini merupakan penyempurna dari kurikulum 1997. Kemudian tak lama setelah diterapkannya KBK, yakni pada tahun 2006 yang pada saat itu yang menjabat sebagai presiden ialah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono muncullah kurikulum baru yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dianggap lebih mampu menjawab tantangan yang lebih jelas dan memberikan muatan lokal kepada daerah atau lembaga pendidikan. Sebagaimana yang diuraikan di atas, jelas sekali bahwa kurikulum sebelumnya berorientasi pada pecapaian tujuan (1975-1999) berinflikasi pada penguasaan kongnitif lebih dominan manun kurang dalam penguasaan keterampilan (skill). Kemudian setelah kurikulum KTSP, pada tahun 2013 dengan presiden yang sama muncullah kurikulum

(7)

baru yakni Kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada tiga aspek yakni kongnitif (pengetahuan), sikap, dan keterampilan (skill).

B. Penegakan Kurikulum 2013 Sebagai Penyempurna dari Kurikulum Sebelumnya Kurikulum merupakan suatu proses program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar yang direncanakan dan dirancang secarah sistimatis atas dasar norma-norma yang berlaku dam kemudian dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga pendidikan maupun siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengembangan kurikulum 2013 adalah program lanjutan dari pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP pada tahun 2006 yang mecakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secarah terpadu. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir, berdasarkan peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No. 69 tahun 2013, pola pikir kurikulum:

1. Pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang di pelajari untuk memiliki kompetensi yang sama.

2. Pola pembelajaran satu arah (interaksi siswa-guru) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-siswa-masyarakat lingkungan alam, sumber media dan lainnya.

3. Pola pembelajaran taerisolasi menjadi pembelajaran secarah jejaring (siswa dapat menimbah ilmu dari siapa saja, dimana saja dan juga dapat melalui internet).

4. Pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin di perkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains).

5. Pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia.

6. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap siswa.

7. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidiscipline),

8. Pola pembelajaran pasif menjadi kritis. (Gayatri, 2019)

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa Kurikulum 2013 pada dasarnya merupakan penyempurna dari kurikulum sebelumnya karena hal-hal yang dianggap perlu untuk diubah pada kurikulum sebelumnya telah dimasukkan ke dalam tujuan dari kurikulum 2013. Inti dari kurikulum 2013 dapat dilihat pada uapaya penyederhanaan, dan tematik integratif. Kurikulum

(8)

2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam meghadapi masa depan, karena hal tersebutlah sehingga kurikulum disusun dalam rangka untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya bertujuan untuk mendorong siswa, mampu lebih baik dalam melakukan obsevasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikanatau dengan kata lain mempresentasikan, apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun objek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.

Melalui pendekatan itu di harapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nanntinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan yang di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik (Novialdi, 2015).

Walaupun dikatakan sebagai penyempurna dari kurikulum sebelumnya namun pada kenyataanya kurikulum 2013 ini juga memiliki kekurangan dan kelebihan, adapun kekurangan dari kurikulum ini ialah:

a. Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dengan kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.

b. Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan.

Berdasarkan Kemendikbud No. 65 tentang standar proses, model pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi kurikulum ialah:

a. Model Inquiry Learning, model pembelajaran ini melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu dengan cara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya.

b. Model Dicovery Learning, merupakan metode belajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu melaui cara mencari tahu.

c. Model Based Learning, merupakan metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para siswa belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan.

(9)

d. Moedel Project Based Learning, merupakan model pembelajaran yang berbasis pada proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik (Wiwin, 2017).

SIMPULAN

Era Reformasi merupakan suatu masa di mana rakyat Indonesia melengserkan kekuasaan presiden Soekarno untuk mendapatkan keadilan entah itu dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan lainnya. Kemudian keadaan pendidikan pada masa itu juga mulai berkembang walaupun masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan dalam penerapannya, namun demikian pendidikan pada era ini dapatlah dikatakana lebih baik dari pada kurikulum- kurikulum sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan kurikulum dimulai dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada tahun 2004, kemudian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006, dan kurikulum yang masih bertahan sampai saat ini yakni Kurikulum 2013, dimana perubahan kurikulum ini tentu sesuai dengan tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Darmadi Hamid. (2019). Pengantar pendidikan Era Globalisasi. An1mage.

Gayatri. (2019). Peningkatan Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran Kurikulum 2013 Melalui Supervisi Akademik Metode Kelompok Bagi Guru Matapelajaran Ekonomi. Jurnal Pendidikan, 10 (1).

Madjid, S dkk. (2018). Pengantar Ilmu Sejarah. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Nasution. (1983). Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Nindi Safitri Mamonto. (2017). Perkembangan Pendidikan Zaman Reformasi.

Academia.Edu. Diunduh dari

https://www.academia.edu/35583551/perkembangan_pendidikan_zaman_reformasi Putra Novialdi. (2015). Penilaian Autentik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi

Pekerti. Jurnal Al-Fikrah, 3(2), 210.

Soekarwo. (2019). Dual Track Strategy: Pendidikan Vokasional dan Pelatihaan. Jakarta:

Gramedia.

Sugiarto, E. (2015). Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif: Skripsi dan Tesis. Suaka Media.

Supardan Dadang. (2008). Menyikapi Perkembangan Pendidikan Sejak Masa Kolonial Hingga Sekarang: Generasi Kampus. Jurnal Unimed, 1(2), 96–106.

(10)

Tilaar H.A.R. (1998). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Tera Indonesia.

Yusuf Fachruddin Wiwin. (2017). Implementasi Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran di Sekolah. Jurnal Pendidikan, 3(2), 271.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Efektivitas Implementasi Sistem Informasi Manajemen Akademik di SDIT Fithrah Insani .... Pembahasan Hasil Penelitian

Azizah, Skripsi “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) Terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita

Implementasi penggunaan e-learning pada saaat ini sangat bervariasi. Hal tersebut didasarkan pada prinsip atau konsep bahwa e- learning sebagai upaya

Selanjutnya dilakukan uji penerimaan panelis atau uji organoleptik, dan uji karakteistik tehadap sari atau susu kacang hijau dari hasil percobaan perlakuan pengaruh variasi

Walaupun dari hasil penelitian ada juga yang menilai anak laki- laki tidak berperan di dalam keluarga Lampung hal ini dikarenakan mereka menganggap bahwa zaman sudah

Dalam penelitian ini, untuk mengukur efektivitas transmisi kebijakan moneter, berdasarkan eksekusi model ECM pada jalur suku bunga, nilai tukar dan kredit, diperoleh

Hambatan-hambatan yang dialami oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk menangani produsen makanan yang terbukti melanggar Pasal 8 ayat

Hasil penelitian sejalan pada penelitian Helly Conny(2010) yang menyatakan ada hubungan antara tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan kejadian demam