BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem
Pengertian dan definisi sistem pada berbagai bidang berbeda-beda, tetapi meskipun istilah sistem yang digunakan bervariasi, semua sistem pada bidang – bidang tersebut mempunyai beberapa persyaratan umum, yaitu sistem harus mempunyai elemen, lingkungan, interaksi, antara elemen dengan lingkungannya, dan yang terpenting adalah sistem harus mempunyai tujuan yang akan dicapai.
Menurut Malabay (2008, p305), sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu
“systema” yang mempunyai arti serangkaian dari objek-objek yang digabungkan oleh suatu kerangka interaksi atau saling bergantungan.
Berdasarkan kutipan – kutipan yang diambil dari beberapa pengarang, pada prinsipnya, pengertian dari sistem diatas adalah sesuatu yang terdiri dari berbagai komponen atau elemen yang saling terkait dan mempunyai tujuan atau peranan yang sama.
Suatu sistem memiliki karakteristik agar tidak menyimpang dari tujuan dan fungsinya.
1. Komponen
Sistem terdiri dari sejumlah komponen berupa subsistem atau elemen sistem yang melakukan fungsi tertentu. Komponen – komponen tersebut berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan sistem.
2. Batasan Sistem
6
Sistem dibatasi oleh suatu area untuk membatasinya dengan sistem lainnya. Batasan sistem menunjukan ruang lingkup sistem itu sendiri.
3. Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar sistem meliputi segala sesuatu yang berbeda di luar sistem yang mempengaruhi kerja sistem.
4. Penghubung Sistem
Penghubung sistem adalah suatu media yang menghubungkan antar elemen atau subsistem dalam sistem. Melalui media ini memungkinkan pengiriman masukan dan keluaran dari suatu sistem ke sistem lain.
5. Masukan Sistem
Masukan sistem atau input sistem adalah segala sesuatu yang diperlukan sistem untuk diproses sehingga sistem dapat mencapai hasil yang diharapkan.
6. Pengolahan Sistem 7. Keluaran Sistem 8. Sasaran dan Tujuan
Memberikan laporan kepada pihak manajemen dalam pengambilan keputusan secara efektif dan efisien dan dapat menerima umpan balik dan kontrol dari arus informasi tertentu.
2.1.2 Pengertian Data
Menurut Budi (2008, p214), data adalah objek-objek dalam pengertian yang lebih luas, terstruktur dan tidak terstruktur , grafik, suara dan sebagainya.
Himpunan data memiliki sifat yang unik antara lain : Saling berkaitan ( interrelated )
Data – data tersebut akan saling berkaitan/terintegrasi dan tersimpan secara terorganisir didalam suatu media penyimpanan.
Kebersamaan ( shared )
Data yang terintegrasi tersebut dapat diakses oleh berbagai macam pengguna/orang tetapi hanya satu yang dapat merubahnya yaitu Database Administrator (DBA).
2.1.3 Pengertian Informasi
Menurut Indrajani (2008, p351), Informasi adalah salah satu jenis sumber daya yang tersedia bagi manajer, yang dapat dikelola seperti halnya sumber daya lain.
Informasi adalah data yang sudah diolah sehingga menjadi sesuatu yang dapat membantu dalam pemecahan masalah maupun pengambilan keputusan.
Sumber Daya dari Informasi seperti : Hardware, Software, Spesialis Informasi, Pemakai, Fasilitas, Database, Informasi.
Sasaran yang harus dicapai oleh suatu informasi meliputi : Akurasi, Tepat Waktu, Relevan, Realibilitas, Lengkap.
1. Akurasi adalah informasi harus benar, karena informasi yang tidak akurat akan berakibat fatal kepada pengguna.
2. Tepat waktu adalah informasi yang diterima tidak boleh terlambat karena merupakan landasan dalam mengambilan keputusan.
3. Relevan adalah informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pemakai.
4. Reliabilitas adalah tingkat kehandalan terhadap keakuratan informasi yang disajikan harus dapat dipertanggungjawabkan.
5. Lengkap adalh informasi yang disajikan harus utuh dan terperinci.
2.1.4 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Laudon (2007, p7), sistem informasi adalah sekumpulan komponen yang saling terkait, yang saling bekerja sama mengumpulkan, mengolah, menyimpan dan menyebarkan informasi untuk pengambilan keputusan, koordinat, kontrol, analisa dan visualisasi dalam organisasi.
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, prinsipnya sistem informasi Informasi adalah pengaturan peralatan yang mengumpulkan, memasukkan dan memproses data serta peralatan untuk menyimpan, mengatur, mengontrol, dan melaporkan informasi sehingga organisasi dapat mencapai tujuan dan sasarannya.
Karakteristik yang dimiliki sistem informasi meliputi : Tujuan dan Sasaran, Masukan, Keluaran, Data Tersimpan, Alat Pemproses, Instruksi dan Prosedur, Semapadan, Pemakai, Batasan, Ukuran Keamanan, Antar Muka Informasi, Subsistem.
1. Tujuan dan Sasaran adalah sistem informasi yang dirancang untuk memenuhi atau mencapai satu atau lebih tujuan dan sasaran. Kedua hal ini menjadi latar belakang dan alasan kuat dari pembetukan sistem.
2. Masukkan adalah data dikumpulkan oleh sistem. Data inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam sitem sebagai masukan sistem.
3. Keluaran adalah informasi yang dihasilkan oleh sistem disebut dengan keluaran. Keluaran dari sistem terkadang dimasukkan kembali ke dalam sistem sebagai masukan. Masukan ini disebut dengan umpan balik (Feedback)
4. Data Tersimpan adalah data yang dimasukkan atau diproses oleh sistem seringkali diperlukan oleh pemakai sistem informasi dan menjadi data yang tersimpan di dalam sistem. Data yang tersimpan seharusnya sering diubah (Update) untuk mempertahankan ketepatannya.
5. Alat Pemproses adalah data yang dimasukan ke dalam sistem akan diproses dan dikirimkan ke pemakai sebagai sistem informasi atau di simpan untuk keperluan kemudian. Komputer digunakan sebagai alat pemroses dari data organisasi.
6. Instruksi dan prosedur adalah sistem informasi yang tidak memiliki kecerdasannya sendiri. Sistem tidak dapat memproses data atau menghasilkan informasi tanpa diberitahu hal apa yang harus dilakukannya, oleh karena itu sistem harus menyimpan rincian, instruksi dan prosedur. Perangkat lunak ditulis untuk memberitahukan
computer bagaimana memproses data. Instruksi dan prosedur untuk pemakai biasanya ada pada prosedur manual.
7. Sempadan adalah sistem yang memiliki fisik. Sempadan memisahkan sebuah sistem dari lingkungannya. Lingkungan adalah semua hal yang mengelilingi sistem.
8. Pemakai adalah orang yang berinteraksi dengan sistem dan menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem disebut pengguna (user). Pengguna dapat meliputi orang-orang yang berperan dalam pengolahan transaksi dan data, manajemen sistem dan sistem keamanan serta kontrol.
9. Batasan dalam sistem yaitu batasan tertentu secara internal ataupun eksternal yang membatasi suatu sistem seperti jumlah pemakaian atau metode yang dipakai untuk masukan, proses, penyimpanan atau keluaran.
10. Ukuran Keamanan adalah ukuran keamanan yang dibangun untuk melindungi sistem dari pengakses yang tidak berwenang.
11. Antar Muka Informasi adalah cara yang digunakan dalam mengalirkan informasi antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam sistem.
12. Subsitem adalah suatu bagian dari sistem yang melakukan operasi- operasi tertentu untuk mendukung sistem bagiannya.
2.2 Sistem Informasi Geografis dan Pemetaan 2.2.1 Pengertian Geografi
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari bahaa Yunani yaitu geos (bumi atau permukaan bumi) dan graphien (melukis, mencitrakan, menjelaskan, atau menuliskan), maka berdasarkan asal katanya geografi dapat diartikan sebagai pencitraan atau pelukisan bumi. Geografi juga merupakan nama judul buku bersejarah pada subjek ini, yang terkenal adalah Geographia.
Menurut Richthoffen, geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi sesuai dengan referensinya, atau studi mengenai area – area yang berbeda di permukaan bumi (Prahasta,2005,p12).
2.2.2 Pengertian Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografi (SIG) pada dasarnya merupakan gabungan tiga unsur pokok yaitu sistem, informasi dan geografi. Dengan melihat unsur-unsur pokoknya, maka jelas sistem informasi geografis merupakan salah satu sistem informasi dengan tambahan unsur
“geografis”.
Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi geografi membahas tentang masalah pengumpulan, pengecekan, pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan ( manipulasi ), analisis dan
penayangan informasi atau data mengenai permukaan bumi dari dunia nyata secara otomatis dan akurat melalui komputer untuk tujuan tertentu.
2.2.3 Komponen Sistem Informasi Geografis 1. Perangkat Keras
Berbagai platform perangkat keras SIG mulai dari personal Computer ( PC) , desktop, workstation hingga multi user host yang dapat digunakan dalam suatu jaringan. Adapaun contoh perangkat keras yang sering digunakan, yaitu PC, mouse, digitizer, printer, ploter dan scanner.
2. Perangkat Lunak
Bila dipandang dari sisi lain, SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun secara modular sebagaimana basis data mempunyai peranan dalam pemegang kunci. Setiap subsistem diimplementasikan menggunakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul, jadi tidak mengherankan jika ada perangkat SIG yang mempunyai modul program (.exe) yang masing-masing dapat dieksekusi sendiri.
3. Data Informasi Geografi
SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara meng-importnya dari perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara medigitasi data spasial yang ada dan memasukkan ke tabel-tabel.
2.2.4 Jenis Data Masukan Untuk Sistem Informasi Geografis
Jenis data yang ada didalam SIG dikelompokkan menjadi dua jenis data, yaitu :
1. Data Non Spasial / Data Atribut
Merupakan data yang berhubungan dengan tema atau topik tertentu, seperti tanah, geologi, geomorfologi, penggunaan lahan, populasi, dan transportasi.
2. Data Spasial
Merupakan jenis data yang merepresentasikan aspek-aspek keruangan ( titik koordinat ) dari fenomena atau keadaan yang terdapat di dunia nyata. Terdapat 2 konsep representasi entity spasial, yaitu :
a. Raster ( Model Data Raster )
Menampilkan , menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau pixel – pixel yang membentuk grids. Akurasi model data ini sangat tergantung pada resolusi atau ukuran pixelnya di permukaan bumi.
Entity spasial disimpan dalam layer secara fungsionalitas direalisasikan dengan unsur-unsur petanya.
Contoh sumber entity spasial raster adalah citra satelit, citra radar dan model ketinggian (Prahasta,2005,p146)
Kelebihan format raster adalah :
1. Data dalam bentuk raster lebih mudah.
2. Metode untuk mendapatkan citra raster lebih mudah melalui scanning.
3. Gambar didapat lebih detail dari radar atau satelit.
Kekurangan format raster adalah : 1. Membutuhkan memory yang besar.
2. Akurasi posisinya bergantung pada ukuran pixelnya.
3. Penggunaan sel atau grid yang lebih besar untuk menghemat ruang penyimpanan akan menyebabkan kehilangan informasi dan ketelitian.
Gambar 2.1. Model Data Raster ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
b. Vektor (Model Data Vektor)
Menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis atau kurva atau polygon beserta atribut-atributnya. Bentuk-bentuk dasar representasi data spasial dalam format vektor didefinisikan
oleh sistem koordinat kartesius dan dimensi (Prahasta,2005,p159). Dalam format vektor, garis merupakan sekumpulan titik-titik terurut yang dihubungkan. Sedangkan polygon disimpan sebagai sekumpulan titik-titik tetapi titik awal dan titik akhir polygon memiliki koordinat yang sama.
Format ini memiliki kelebihan :
1. Memerlukan tempat penyimpanan yang sedikit.
2. Memiliki resolusi spasial yang tinggi.
3. Memiliki batas-batas yang teliti, tegas, dan jelas.
Format ini memiliki kekurangan :
1. Memiliki struktur daya yang kompleks.
2. Tidak kompatibel dengan data-data citra satelit penginderaan jauh.
3. Memerlukan perangkat lunak dan perangkat keras yang mahal.
Gambar 2.2. Model Vektor line ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
Gambar 2.3. Model Vektor Point ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
Sistem informasi geografis memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan data dari dua sumber menggunakan overlay map ( map overlay) adalah fungsi kunci dari analisis SIG. SIG memungkinkan dua buah layer peta tematik berbeda dari area yang sama saling di overlay untuk membentuk suatu layer baru. Dengan kemajuan teknologi dalam SIG, maka terdapat perbedaan di dunia raster dan vector.
Dalam sistem yang berbasiskan vector, map overlay lebih banyak menghabiskan waktu, lebih kompleks dan sedikit mahal. Sebaliknya dalam raster dapat dilakukan cepat, langsung, dan efisien.
Sumber informasi geografis selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis), sejalan dengan perubahan gejala alam dan gejala sosial. Dalam geografis, informasi yang diperlukan harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki ilmu lain, yaitu :
1. Merupakan pengetahuan (knowledge) hasil pengalaman.
2. Tersusun secara sistematis, artinya merupakan satu kesatuan yang tersusun secara berurut dan teratur.
3. Logis, artinya masuk akal dan menunjukkan sebab akibat.
4. Objektif, artinya berlaku umum dan mempunyai sasaran yang jelas dan teruji.
Selain memiliki ciri-ciri tersebut di atas, geogafis juga harus menunjukkan ciri spasial (keruangan) dan regional (kewilayahan). Aspek spasial dan regional merupakan ciri khas geografi, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.
2.2.5 Analisis Data Sistem Informasi Geografi
Kemampuan SIG dapat juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis yang dapat dilakukannya (Prahasta ,2005,p73). Secara umum terdapat dua jenis fungsi analisis.
1. Fungsi analisis spasial
Fungsi analisis spasial terdiri dari : a. Klasifikasi
Fungsi ini mengklafikasikan kembali suatu data spasial menjadi data spasial yang baru dengan menggunakan kriteria tertentu.
b. Network
Fungsi ini merupakan data spasial titik-titik (point) atau garis- garis (line) sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan.
c. Overlay
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data spasial yang menjadi suatu input.
d. Buffering
Fungsi ini akan menghasilkan data spasial baru yang berbentuk polygon atau zone dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi input.
e. 3d Analysis
Fungsi ini terdiri dari sub-sub fungsi yang berhubungan dengan presentasi data spasial dalam ruang tiga dimensi.
f. Digital image processing
Fungsi ini dimiliki oleh perangkat SIG yang berbasis raster.
2. Fungsi analisis atribut
Fungsi analisis atribut terdiri dari operasi dasar sistem pengelolaan basis data dan perluasannya.
2.2.6 Subsistem Sistem Informasi Geografi
Untuk membangun atau membuat SIG, ada beberapa subsistem yang menjadi pendukung dan saling berhubungan. Sistem Informasi Geografi dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem (Prahasta, 2005, P56), yaitu :
1. Data Input : Subsistem ini bertugas untuk mengumpukan data dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber dan mengkonversi atau mentransformasikan format-format data-data aslinya ke dalam format yang digunakan oleh SIG.
2. Data Output : Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data dalam bentuk softcopy
maupun dalam bentuk hardcopy seperti table, grafik, peta, dan lain- lain.
3. Data Management : Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di update dan di edit.
4. Data Manipulasi dan Analisis : Subsistem ini menentukan informasi- informasi yang dihasilkan oleh SIG.
Uraian dari subsistem-subsistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.4. Uraian Subsistem-subsistem SIG ( Sumber : Prahasta, 2005 )
Beberapa kemampuan SIG :
1. Dapat mengumpulkan data geografi.
2. Dapat mengintegrasikan data geografi (spasial dan attribute).
3. Dapat memeriksa, mengupdate, data geografi.
4. Dapat menyimpan dan memanggil kembali data geografi.
5. Dapat memanipulasi data geografi.
6. Dapat menganalisa data geografi.
7. Dapat menghasilkan output.
2.2.7 Pengertian Peta
Menurut Prahasta (2005,p12), peta adalah suatu alat peraga untuk menyampaikan suatu ide berupa sebuah gambar mengenai tinggi rendahnya suatu daerah (topografi), penyebaran penduduk, jaringan jalan dan hal lainnya yang berhubungan dengan kedudukan dalam ruang. Peta dilukiskan dengan skala tertentu, dengan tulisan atau symbol sebagai keterangan yang dapat dilihat dari atas. Peta dapat meliputi wilayah yang luas, dapat juga hanya mencakup wilayah yang sempit. Peta dalam bahasa Inggris yang berarti map, dan dalam bahasa Yunani berupa mappa. Ilmu pengetahuan yang mempelajari peta disebut kartografi.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, peta adalah gambaran atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan sebagainya, representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat-sifat seperti batas daerah, sifat permukaan.
a. Jenis Peta
Ada beberapa jenis peta menurut kegunaanya yang terdapat dalam The World Encyclopedia (1991).
1. Geneal Reference Map (Peta Referensi Umum)
Peta ini digunakan untuk mengidentifikasikan dan verifikasi macam-macam bentuk geografis termasuk fitur tanah, badan air, perkotaan,jalan, dan lain sebagainya.
2. Mobility Map
Peta ini bermanfaat dalam membantu masyarakat dalam menentukan jaur dari suatu tempat ke tempat lainnya, digunakan untuk perjalanan di darat, laut, dan udara.
3. Thematic Map
Peta ini menunjukkan penyebaran dari objek tertentu seperti populasi, curah hujam, dan sumber daya alam.
4. Inventory Map
Peta ini menunjukkan lokasi danfitur khusus misalnya : posisi semua gedung sekolah diwilayah Jakarta Barat.
Jenis – jenis petar berdasarkan isi : 1. Peta Umum
Melukiskan semua kenampakkan pada suatu wilayah secara umum, kenampakkan adalah keadaan alam atau daerah dengan berbagi bentuk permukaan
bumi, yaitu gunug, daratan, lembah, sungai, dan sebagainya yang merupakan satu kesatuan. Contoh : Peta Indonesia, Peta Asia, Peta Dunia.
2. Peta Tematik
Melukiskan kenampakan tertentu atau menonjolkan satu macam data saja pada wilayah yang dipetakan. Contoh : Peta Iklim, Peta Perhubungan.
Jenis-jenis peta berdasarkan skala :
1. Peta kadaster / teknik : berskala antara 1 : 100 – 1 : 5000
2. Peta berskala besar : berskala antara 1 : 5000 – 1 : 250.000
3. Peta berskala sedang : berskala antara 1 : 250.000 – 1 : 500.000
4. Peta berskala besar : berskala antara 1 : 500.000 – 1 : 1.000.000
5. Peta berskala besar : berskala antara 1 : 1.000.000
Jenis-jenis peta berdasarkan keadaan objek : 1. Peta Stasioner
Menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan tetap atau stabil.
Contoh : Peta persebaran gunung berapi 2. Peta Dinamis
Menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan mudah berubah.
Contoh : peta urbanisasi, peta arah angina, peta ketinggian aliran sungai
2.2.8 Penggunaan Peta
Pada umumnya peta dapat digunakan untuk memberitahui berbagai kenampakan pada suatu wilayah yang dipetakan, yakni :
1. Memperlihatkan posisi suatu tempat di permukaan bumi berdasarkan skala dan ukuran peta.
2. Mengukur luas dan jarak suatu daerah di permukaan bumi berdasarkan skala dan ukuran peta.
3. Memperlihatkan bentuk suatu daerah yang sesungguhnya dengan skala tertentu.
4. Menghimpun data suatu daerah yang disajikan dalam bentuk peta.
Adapun peta khusus digunakan untuk tujan tertentu yang menonjolkan satu jenis data saja. Misalnya peta iklim, peta curah hujan, peta penyebaran penduduk dan sebagainya.
2.2.9 Syarat – Syarat Peta
Peta yang ideal mempunyai luas, bentuk, arah, dan jarak yang benar. Peta yang baik dan lengkap harus mencantumkan judul peta, tahun
pembuatan, skala petunjuk arah, legenda, dan garis astronomis, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Judul Peta
Judul peta harus memuat jenis peta dan daerah yang dipetakan.
Termasuk jenis peta, misalnya : peta pertambangan, peta iklim, peta perhubungam. Daerah yang akan dipetakan misalnya : peta Indonesia, peta dunia. Contohnya : Peta hasil pertambangan di Indonesia. Judul peta diletakkan di tengah.
2. Tahun Pembuatan
Tahun pembuatan diletakkan di kanan bawah atau kiri bawah.
Pencamtuman tahun pembuatan ini sangat penting karena dapat dipakai untuk memastikan bahwa tersebut masih baik digunakan saat itu.
3. Skala Peta
Skala ialah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya di permukaan bumi. Ada tiga macam skala, yaitu skala angka, skala inci, dan skala garis. Skala angka adalah skala pada peta yang dinyatakan dengan angka numeric. Contohnya : 1:500.000. Artinya 1cm di peta = 500.000 cm di permukaan bumi. Skala inci adalah skala pada peta yang dinyatakan dalam suatu inci (biasa digunakan di luar negeri). Satuan inci = 2,539 cm. Skala garis adalah peta berupa garis yang menunjukkan jarak sesungguhnya pada permukaan bumi.
4. Petunjuk Arah (Orientasi)
Pada setiap pembuatan peta perlu dicantumkan orientasi atau mata angin sebagai petunjuk arah dari daerah atau wilayah yang dipetakan.
5. Legenda
Peta memuat informasi yang padat, namun tidak mungkin semua data diberi keterangan rinci. Oleh karena itu, keterangan dibuat beberapa simbol-simbol. Keterangan tentang simbol-simbol pada suatu peta disebut legenda.
Ada dua macam simbol pada peta yaitu simbol kualitatif dan simbol kuantitatif. Simbol kualitatif digunakan untuk melukiskan bentuk- bentuk di permukaan bumi, simbol kualitatif meliputi simbol titik, simbol garis, dan simbol warna. Simbol kuantitatif digunakan untuk menunjukkan jumlah data yang diwakili, misalnya jumlah penduduk di daerah tertentu.
6. Garis Astronomis
Setiap peta harus mencantumkan garis astronomis, yaitu garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis khayal yang melintangi permukaan bumi. Sedangkan garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan, serta digambarkan membujur. Karena merupakan garis khayal, kedua garis itu sesungguhnya tidak ada dan hanya dalam peta. Garis-garis itu berfungsi memperjelas kita dalam membaca peta.
Ditinjau dari sifat-sifat yang dipertahankan, penggambaran peta ke bidang datar atau proyeksi harus mengikuti hal-hal sebagai berikut :
a. Peta harus conform, artinya bentuk peta yang tergambar meskipun kecil harus sebangun dengan senyatanya, tidak boleh mengubah bangun-bangun kenampakan yang ada.
b. Peta harus ekuidistan, artinya jarak-jarak yang tergambar pada peta harus sesuai dengan keadaan senyatanya.
Contoh : jarak dari kota P ke kota G di peta 10 cm. Skala peta 1 : 100.000 Jarak sesungguhnya adalah 10 x100.000 = 1.000.000 cm atau 10 km.
c. Peta harus ekuivalen, artinya dengan skala yang sudah dicantumkan.
Sistem, informasi dan geografis membentuk suatu hubungan yang disebut dengan SIG. dimana SIG merupakan suatu aplikasi, dalam proses pembuatannya membutuhkan beberapa peta, guna mendukung pembuatan SIG agar lebih optimal.
2.2.10 Format Penyajian Peta 2.2.10.1 Model Data Raster
Model data raster mempunyai struktur data yang tersusun dalam bentuk matriks atau piksel dan membentuk grid.
Setiap piksel memiliki nilai tertentu dan memiliki atribut tersendiri, termasuk nilai koordinat yang unik. Tingkat keakurasian model ini sangat tergantung pada ukuran piksel
atau biasa disebut dengan resolusi. Model data ini biasanya digunakan dalam remote sensing yang berbasiskan citra satelit maupun airborne (pesawat terbang). Selain itu model ini digunakan pula dalam membangun model ketinggian Digital Elevatin Model ( DEM ) dan model permukaan Digital Terrain Model ( DTM ).
Model raster memberikan informasi spasial terhadap permukaan di bumi dalam bentuk gambaran yang di generalisasi. Representasi dunia nyata disajikan sebagai elemen matriks atau piksel yang membentuk grid yang homogen. Pada setiap piksel mewakili setiap obyek yang terekam dan ditandai dengan nilai-nilai tertentu. Secara konseptual, model data raster merupakan model data spasial yang paling sederhana.
Sel/Piksel
Baris
Kolom
Gambar 2.5. Struktur Model Data Raster ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
Karakteristik utama data raster adalah bahwa dalam setiap sel/piksel mempunyai nilai. Nilai sel/piksel merepresentasikan fenomena atau gambaran dari suatu kategori. Nilai sel/piksel dapat memiliki nilai positif atau negatif, integer, dan floating point untuk dapat merepresentasikan nilai cotinuous (lihat Gambar 2). Data raster disimpan dalam suatu urutan nilai sel/piksel. Sebagai contoh, 80, 74, 45, 45, 34, dan seterusnya.
Pemanfaatan model data raster banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, akan tetapi Environmental Systems Research Institute (ESRI), Inc (2006) membagi menjadi empat kategori utama, yaitu :
1. Raster Sebagai Peta Dasar
Data raster biasanya digunakan sebagai tampilan latar belakang (background) untuk suatu layer dari obyek yang lain (vektor). Sebagai contoh foto udara ortho ditampilkan sebagai
latar dari obyek jalan (lihat Gambar 8). Tiga sumber utama dari peta dasar raster adalah foto udara, citra satelit, dan peta hasil scan.
Gambar 2.6. Foto Udara (Raster) ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
2. Raster sebagai peta model permukaan
Data raster sangat cocok untuk merepresentasikan data permukaan bumi. Data dapat menyediakan metode yang efektif dalam menyimpan informasi nilai ketinggian yang diukur dari permukaan bumi. Selain dapat merepresentasikan permukaan bumi, data raster dapat pula merepresentasikan curah hujan, temperatur, konsentrasi, dan kepadatan populasi.
Gambar 9 berikut ini memperlihatkan nilai ketinggian suatu permukaan bumi. Warna hijau memperlihatkan permukaan yang rendah, dan berikutnya merah, pink dan putih menunjukan permukaan yang semakin tinggi.
Gambar 2.7. Data Raster memodelkan Permukaan Bumi
( Sumber : Sunyoto, 2007 )
3. Raster sebagai peta tematik
Data raster yang merpresentasikan peta tematik dapat diturunkan dari hasil analisis data lain. Aplikasi analisis yang sering digunakan adalah dalam melakukan klasifikasi citra satelit untuk menghasilkan kategori tutupan lahan (land cover). Pada dasarnya aktifitas yang dilakukan adalah mengelompokan nilai dari data multispektral kedalam kelas tertentu (seperti tipe vegetasi) dan memberikan nilai terhadap kategori tersebut. Peta tematik juga dapat dihasilkan dari operasi geoprocessing yang dikombinasikan dari berbagai macam sumber, seperti vektor, raster, dan data permukaan.
Sebagai contoh dalam menghasilkan peta kesesuaian lahan dihasilkan melalui operasi dengan menggunakan data raster sebagai masukannya.
Gambar 2.8. Data Raster dalam Data Tutupan Lahan ( Sumber : Sunyoto, 2007 )
4. Raster sebagai attribut dari obyek
Data raster dapat pula digunakan sebagai atribut dari suatu obyek, baik dalam foto digital, dokumen hasil scan atau gambar hasil scan yang mempunyai hubungan dengan obyek geografi atau lokasi. Sebagai contoh dokumen kepemilikan persil dapat ditampilkan sebagai atribut obyek persil.
2.2.10.2 Model Data Vektor
Model data vektor merupakan model data yang paling banyak digunakan, model ini berbasiskan pada titik (points) dengan nilai koordinat (x,y) untuk membangun obyek spasialnya. Obyek yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian lagi yaitu berupa titik (point), garis (line), dan area (polygon).
1. Titik (point)
Titik merupakan representasi grafis yang paling sederhana pada suatu obyek. Titik tidak mempunyai dimensi tetapi
dapat ditampilkan dalam bentuk simbol baik pada peta maupun dalam layar monitor. Contoh : Lokasi Fasilitasi Kesehatan, Lokasi Fasilitas Kesehatan, dll.
2. Garis (line)
Garis merupakan bentuk linear yang menghubungkan dua atau lebih titik dan merepresentasikan obyek dalam satu dimensi. Contoh : Jalan, Sungai, dll.
3. Area (Poligon)
Poligon merupakan representasi obyek dalam dua dimensi.Contoh : Danau, Persil Tanah, dll.
Gambar 2.9. Kategori Model Data Vektor
Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.6 diatas, model data vektor terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya :
1. Topologi, biasa digunakan dalam analisis spasial dalam SIG.
Topologi merupakan model data vektor yang menunjukan hubungan spasial diantara obyek spasial. Salah satu contoh adalah bahwa persimpangan diantara dua garis di pertemukan dalam bentuk titik, dan kedua garis tersebut secara explisit dalam atributnya mempunyai informasi sebelah kiri dan sebelah kanan. Topologi sangat berguna pada saat melakukan deteksi kesalahan pada saat proses digitasi. Selain itu berguna pula dalam melakukan proses analisis spasial yang bersifat kompleks dengan melibatkan data spasial yang cukup besar ukuran filenya. Salah satu contoh analisis spasial yang dapat dilakukan dalam format topologi adalah proses tumpang tindih (overlay) dan analisis jaringan (network analysis) dalam SIG.
2. Non Topologi, merupakan model data yang mempunyai sifat yang lebih cepat dalam menampilkan, dan yang paling penting dapat digunakan secara langsung dalam perangkat lunak (software) SIG yang berbeda-beda. Non-topologi digunakan dalam menampilkan atau memproses data spasial yang sederhana dan tidak terlalu besar ukuran filenya. Pengguna hendaknya dapat mengetahui dengaan jelas dari kedua format ini. Sebagai contoh dalam format produk ESRI, yang dimaksud dengan fomat non-topologi adalah dalam bentuk shapefile, sedangkan format dalam bentuk topologi adalah coverage. Model data vektor dalam topologi lebih jauh lagi dapat dikembangkan dalam dua kategori, yaitu Data
Sederhana (Simple Data) yang merupakan representasi data yang mengandung tiga jenis data (titik, garis, poligon) secara sederhana. Sedangkan Data Tingkat Tinggi (Higher Data Level), dikembangkan lebih jauh dalam melakukan pemodelan secara tiga dimensi (3 Dimensi/3D). Model tersebut adalah dengan menggunakan TIN (Triangulated Irregular Network). Model TIN merupakan suatu set data yang membentuk segitiga dari suatu data set ang tidak saling bertampalan. Pada setiap segitiga dalam TIN terdiri dari titik dan garis yang saling terhubungkan sehingga membentuk segitiga. Model TIN dangta berguna dalam merepresentasikan ruang (spasial) dalam bentuk 3D, sehingga dapat mendekati kenyataan dilapangan. Salah satu diantaranya adalah dalam membangun Model Permukaan Bumi Digital (Digital Terrain Model/DTM).
3. Region, merupakan sekumpulan poligon, dimana masing- masing poligon tersebut dapat atau tidak mempunyai keterkaitan diantaranya akan tetapi saling bertampalan dalam satu data set.
4. Segmentation, adalah model data yang dibangun dengan menggunakan segmen garis dalam rangka membangun model jaringan (network).
2.3 Basis Data
2.3.1 Pengertian Data
Menurut Bambang (2008,p15), kata data berasal dari kata datum yang berasal dari bahasa latin yang artinya fakta.
Bagi manusia dapat berupa segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra manusia, menurut komputer segala sesuatu yang dapat dilambangkan, dikodekan atau digitalisasi ke dalam lambing-lambang atau kode-kode yang dimengerti oleh komputer.
2.3.2 Pengertian Basis Data
Menurut Connoly (2005,p15), basis data adalah penggunaan bersama dari data yang berhubungan secara logis dan deskripsi dari data, yang dirancang untuk keperluan informasi dari suatu perusahaan atau organisasi.
Ada dua tujuan utama konsep database yaitu mengurangi redundancy data dan independent data.
2.3.3 Basis Data Terelasi ( Relational Database )
Konsep basis data dimana tabel-tabel di dalam basis data saling berhubungan satu sama lain.
2.3.4 Entity Relationship
Entity relationship merupakan gambaran dari hubungan antar data berdasarkan persepsi dunia nyata yang terdiri dari sekumpulan objek
dasar yang disebut sebagai entity dan hubungan (relationship) antara objek-objek tersebut.
Entity adalah sebutan dari record dan entities. Entity adalah sebuah objek yang unik yang bisa dibedakan antara satu objek dengan objek lainnya (discrete object).
Menurut Ladjamudin (2005,p152), Relationship adalah suatu ketergantungan atau keterkaitan antara satu entity dengan satu atau lebih entity lainnya.
Jenis-jenis Mapping Cardinalities :
1. One to One : sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan paling banyak satu entity di B dan sebaliknya.
Gambar 2.10. One to One Relationship
2. One to Many : sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di B, namun entity di B hanya bisa diasosiasikan dengan paling banyak satu entity di A.
Gambar 2.11. One to Many Relationship
MsContoh 1 MsContoh 2
MsContoh 1 MsContoh 2
3. Many to One : sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan paling banyak satu entity di B, namun entity di B hanya bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di A.
Gambar 2.12 Many to One Relationship
4. Many to Many : sebuah entity di A bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di B dan sebuah entity di B bisa diasosiasikan dengan nol atau lebihentity di A.
(korth,1991)
Gambar 2.13. Many to Many Relationship
2.3.5 Database Management System
Database Management System (DBMS) adalah program-program tertentu dari komputer yang dipakai oleh program aplikasi untuk mengelola dan menyediakan akses ke koleksi data yang tersimpan dan diatur secara sistematis dalam basis data untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
MsContoh 1 MsContoh 2
MsContoh 1 MsContoh 2
DBMS juga dapat diartikan sebagai sebuah sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan dan merawat basis data serta mengendalikan akses dan interaksi basis data tersebut dengan program aplikasi yang membutuhkannya.
Fasilitas-fasilitas yang biasanya disediakan DBMS meliputi:
a. Data Definition Language (DDL), dimana pengguna dapat membuat tipe data, struktur data spesifik dan batasan-batasan (constraint) terhadap data yang disimpan dalam basis data.
b. Data Manipulation Language (DML), dimana pengguna dapat melakukan pemasukan, pembaharuan, penghapusan, dan pemanggilan kembali terhadap data di dalam basis data.
c. Pengendalian akses yang dapat dibatasi terhadap basis data.
2.3.6 Database Life Cycle
Meunrut Connolly dan Begg (2005, p279), sistem database merupakan komponen dasar dari organisasi besar dengan sistem informasi yang luas. Hal penting yang perlu di perhatikan dalam database application lifecycle adalah bahwa tingkatannya tidak sepenuhnya berurutan (sequential). Dimana ada beberapa tingkatan tidak sepenuhnya dengan alur-balik (feedback loop), misalnya, masalah ditemukan pada tingkatan perancangan database (database design) yang membutuhkan tambahan kumpulan kebutuhan dan analisis (requirement collection and analysis). Untuk aplikasi database yang kecil dengan pengguna yang
sedikit maka lifecycle-nya akan tidak terlalu kompleks. Sebaliknya, ketika merancang database yang menengah sampai ke database yang besar dengan puluhan ribu pengguna, menggunakan ratusan query dan program aplikasi maka lifecycle akan menjadi sangat kompleks.
Gambar 2.14. Tingkatan dari Database Application Lifecycle (Connolly dan Begg, 2005, p272)
2.3.7 System Development Life Cycle ( SDLC )
Dalam pengembangan piranti lunak dibutuhkan tahapan-tahapan pengembangan yang sesuai. Sistem yang ada pada umunya digunakan adalah SDLC. Dalam definisi lain, System Development life cycle (SDLC) adalah sekumpulan kegiatan yang dibutuhkan dalam membangun suatu solusi sistem informasi yang dapat member jawaban bagi permasalahan maupun kesempatan bisnis (Turban, 2003, p461).
Pembuatan solusi yang tepat harus melibatkan pihak pengembang perangkat lunak terkait agar didapatkan suatu solusi yang tepat. Pada saat ini telah dikenal bebarapa model pengembangan sistem, yaitu antara lain:
waterfall, prototyping, spiral, incremental, fourth generation techniques.
Model waterfall merupakan salah satu model pengembangan sistem yang paling baik dan efektif. Pembuatan solusi yang tepat harus melibatkan pihak pengembang perangkat lunak terkait agar didapatkan suatu solusi yang tepat. Pada saat ini telah dikenal bebarapa model pengembangan sistem, yaitu antara lain: waterfall, prototyping, spiral, incremental, fourth generation techniques. Model waterfall merupakan salah satu model pengembangan sistem yang paling baik dan efektif.
2.3.8 Waterfall
Metodologi Perancangan Aplikasi Sistem Informasi Geografi, memakai metode SDLC / Waterfall :
Gambar 2.15. Metode Waterfall
( Sumber : http://www.budihermawan.net/?tag=waterfall-model )
1. Analisa Kebutuhan 2. Desain Sistem
3. Penulisan Kode Program 4. Pengujian Program 5. Penerapan Program
2.3.9 Diagram Hubungan Entitas ( ERD ) .
Entitas Relationship Diagram (ERD) adalah pendekatan top-down untuk mendesain basis data yang dimulai dengan mengidentifikasikan data yang penting, yang disebut sebagai entitas dan hubungan antara data harus digambarkan (Connolly, 2005, p330).
2.3.10 Flowchart
Flowchart adalah penggambaran secara grafik dan langkah- langkah dan urutan dari suatu program. Flowchart menolong analisis dan programmer untuk memecahkan masalah kedalam segmen-segmen yang lebih kecil dan menolong dalam menganalisis alternatif-alternatif lain dalam pengoperasian.
Flowchart sistem merupakan bagan yang menunjukkan alur kerja atau apa yang sedang dikerjakan di dalam sistem secara keseluruhan dan menjelaskan urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem.
Dengan kata lain, flowchart ini merupakan deskripsi secara grafik dari urutan prosedur-prosedur yang terkombinasi yang membentuk suatu sistem. Flowchart sistem terdiri dari data yang mengalir melalui suatu sistem dan proses yang mentranformasikan data itu.
2.3.11 Data Flow Diagram (DFD)
Data Flow Diagram merupakan teknik grafik yang digunakan untuk menjelaskan aliran informasi mulai dari proses pemasukan hingga mendapatkan suatu output dari pengolahan informasi tersebut. DFD digunakan untuk merepresentasikan suatu sistem yang otomatis maupun manual melalui gambaran yang berbentuk jaringan grafik. Dengan menggunakan DFD, sistem analisis dapat memahami aliran data dalam sebuah sistem.
Tingkat dalam DFD, yaitu : 1. Context Diagram
Aadalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem.
2. Diagram Nol
Diagram yang menggambarkan proses dari dataflow diagram.
Diagram nol memberikan pandangan secara menyeluruh mengenai sistem yang ditangani, menunjukan tentang fungsi-fungsi utama atau proses yang ada dan external entity.
3. Diagram Rinci
Diagram yang menguraikan proses apa yang ada di diagram nol atau diagram level di atasnya.
Simbol – simbol yang digunakan dalam DFD terdiri dari 4 yaitu process, data flow, data store dan external entity. Berikut uraian mengenai 4 simbol tersebut.
1. Process adalah simbol yang menguah suatu data dari suatu bentuk menjadi bentuk yang lain. Dengan kata lain, proses menerima masukan data dan mengeluarkan keluaran data lain yang telah diproses. Simbol process dapat dilihat pada gambar 2.16.
Gambar 2.16. Simbol Process
2. Data Flow atau aliran data adalah aliran yang menunjukkan perpindahan data dari satu bagian ke bagian lain dalam suatu sistem.
Data flow dalam DFD digambarkan dengan tanda panah dan diberi keterangan di sampingnya yang menunjukkan data yang mengalir.
Simbol dapat dilihat pada gambar 2.17.
Data Flow 1
Prcs_1
Gambar 2.17. Simbol Data Flow
3. Data Store adalah tempat penyimpanan data dalam suatu sistem, baik secara manual maupun secara elektronik. Simpanan data digunakan jika suatu proses perlu menggunakan lagi data tersebut. Simbol dapat dilihat pada gambar 2.18.
Data Store
Gambar 2.18. Simbol Data Store
4. Data Source adalah sumber data yang menunjukkan suatu organisasi atau perseorangan yang memasukkan data ke sistem. Sedangkan tujuan data menunjukkan suatu organisasi atau perseorangan yang menerima data yang dihasilkan oleh sistem. Sumber dan tujuan data mempunyai satu simbol yang sama. Dalam DFD, data source disimbolkan dalam gambar 2.19.
Data Source
Gambar 2.19. Simbol Data Source
2.3.12 State Transition Diagram ( STD )
Menurut Whitten (2004, p636), state transition diagram adalah alat yang digunakan untuk menggambarkan urutan dan variasi layar yang dapat muncul ketika pengguna sistem menjalankan sistem.
STD digunakan untuk menggambarkan diagram dari kebiasaan sistem dan beberapa jenis pesan dengan proses yang kompleks dan singkronisasi kebutuhan. STD memiliki komponen-komponen utama, yaitu state dan arrow yang mewakili sebuah perubahan state. Setiap persegi panjang mewakili sebuah state, tempat sistem tersebut berada.
Sebuah state didefinisikan sebagai suatu atribut atau keadaan suatu sistem pada saat tertentu.
Gambar 2.20. State pada diagram transisi
Gambar 2.21. Penanda perubahan pada diagram transisi
Aksi Kondisi
Gambar 2.22. Diagram transisi yang dilengkapi dengan aksi dan kondisi
2.4 IMK ( Interaksi Manusia dan Komputer )
Menurut Santoso (2009, p5), IMK adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perancangan, implementasi, dan evaluasi sistem komputasi interaktif dan berbagai aspek terkait. Fokus IMK adalah pada interaksi, khususnya interaksi antara satu atau lebih manusia ( sebagai pengguna komputer ) dengan salah satu atau lebih mesin komputasi ( komputer ). Situasi klasik yang sering dijumpai adalah penggunaan program berbasis grafik yang interaktif.
Dengan memperluas pengertian tentang interaksi manusia dan mesin akan membawa kepada topik yang lebih luas, yang tidak mungkin dipisahkan dari IMK, antara lain topik tentang peranti masukan/keluaran, dan lingkungan kerja.
Berikut merupakan elemen utama dari IMK : a. Manusia
b. Komputer c. Interaksi d. Aktivitas
e. Lingkungan Kerja
Untuk meningkatkan penggunaan aplikasi, sangat penting untuk memiliki rancangan interface yang baik. Menurut Shneiderman dan Plaisant ( 2010, p88 ) ada 8 (delapan) aturan yang dapat digunakan sebagai petunjuk dasar yang baik untuk merancang suatu user interface.
Delapan aturan ini disebut dengan Eight Golden Rules of Interface Design, yaitu:
1. Konsistensi
Konsistensi dilakukan pada urutan tindakan, perintah, dan istilah yang digunakan pada prompt, menu, serta layar bantuan.
2. Memungkinkan pengguna untuk menggunakan shortcut.
Ada kebutuhan dari pengguna yang sudah ahli untuk meningkatkan kecepatan interaksi, sehingga diperlukan singkatan, tombol fungsi, perintah tersembunyi, dan fasilitas makro.
3. Memberikan umpan balik yang informatif.
Untuk setiap tindakan operator, sebaiknya disertakan suatu sistem umpan balik. Untuk tindakan yang sering dilakukan dan tidak terlalu penting, dapat diberikan umpan balik yang sederhana. Tetapi ketika tindakan merupakan hal yang penting, maka umpan balik sebaiknya lebih substansial. Misalnya muncul suatu suara ketika salah menekan tombol pada waktu input data atau muncul pesan kesalahannya.
4. Merancang dialog untuk menghasilkan suatu penutupan.
Urutan tindakan sebaiknya diorganisir dalam suatu kelompok dengan bagian awal, tengah, dan akhir. Umpan balik yang informatif akan meberikan indikasi bahwa cara yang dilakukan sudah benar dan
dapat mempersiapkan kelompok tindakan berikutnya.
5. Memberikan penanganan kesalahan yang sederhana.
Sedapat mungkin sistem dirancang sehingga pengguna tidak dapat melakukan kesalahan fatal. Jika kesalahan terjadi, sistem dapat mendeteksi kesalahan dengan cepat dan memberikan mekanisme yang sedehana dan mudah dipahami untuk penanganan kesalahan.
6. Mudah kembali ketindakan sebelumnya.
Hal ini dapat mengurangi kekuatiran pengguna karena pengguna mengetahui kesalahan yang dilakukan dapat dibatalkan; sehingga pengguna tidak takut untuk mengekplorasi pilihan-pilihan lain yang belum biasa digunakan.
7. Mendukung tempat pengendali internal.
Pengguna ingin menjadi pengontrol sistem dan sistem akan merespon tindakan yang dilakukan pengguna daripada pengguna merasa bahwa sistem mengontrol pengguna. Sebaiknya sistem dirancang sedemikan rupa sehingga pengguna menjadi inisiator daripada responden.
8. Mengurangi beban ingatan jangka pendek.
Keterbatasan ingatan manusia membutuhkan tampilan yang sederhana atau banyak tampilan halaman yang sebaiknya disatukan, serta diberikan cukup waktu pelatihan untuk kode, mnemonic, dan urutan tindakan.
2.5 Teori Khusus
2.5.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
Untuk dapat dicapainya tujuan pendidikan nasional perlu disusun suatu strategi yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.
2.5.2 Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Jenjang pendidikan ini meliputi pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
2.5.2.1 Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan
usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
2.5.2.2 Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar terbagi atas Sekolah Dasar ( SD ) dan Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) dan Madrasah Tsanawiyah ( MTs ), atau bentuk lain yang sederajat.
2.5.2.3 Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah ( MA ), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
2.5.2.4 Pendidikan Tinggi
Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan vokasi.
2.5.3 Kebijakan Pemerintah Tentang Pendidikan
Untuk mencapai tujuan nasional pendidikan pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dijadikan dasar serta acuan dalam pengembangan pendidikan, kebijakan tersebut antara lain :
2.5.3.1 Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2008 tentang wajib belajar disebutkan bahwa wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah daerah.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun non-formal,
sehingga seluruh anak usia sekolah ( 7-15 tahun ) dapat memperoleh pendidikan.
2.5.3.2 Program Pendidikan Menengah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan terjangkau bagi penduduk bermutu dan terjangkau bagi penduduk yang mencakup SMA, SMK, MA, MAK, dan Paket C. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi :
a. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan termasuk pembangunan USB, RKB, laboratorium terpadu.
b. Rehabilitasi fisik gedung.
c. Penataan bidang keahlian pada pendidikan menengah kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja.
d. Penyediaan materi pendidikan, media pengajaran dan teknologi pendidikan termasuk peralatan peraga pendidikan, buku pelajaran, buku bacaan, dan buku ilmu pengetahuan dan teknologi serta materi pelajaran yang berbasis teknologi informasi.
e. Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan menengah baik formal maupun non formal.
f. Pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik dengan memberi perhatian pada anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
g. Penerapan Manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang memberi wewenang dan tanggung jawab pada satuan pendidikan.
h. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan pendidikan menengah.
i. Penyiapan pelaksanaan Program Pendidikan 12 Tahun.
j. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan monitoring, evaluasi dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan menengah.
2.5.4 Teori Rencana Penentuan Lokasi Sekolah
Lokasi merupakan tempat yang dapat dikenali dan dibatasi dimana suatu kegiatan berlangsung atau dapat juga merupakan suatu tempat dimana suatu obyek terletak. Salah satu contoh lokasi adalah lokasi gedung sekolah, gedung sekolah ini merupakan tempat yang cukup vital karena merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
Perencanaan pembangunan lokasi sekolah baik rehab maupun baru harus dilakukan dengan sangat berhati-hati karena menurut ketentuan dari Depdiknas jarak tempuh maksimum menuju sekolah yang
sesuai adalah lebih kurang 3 km. Jika jarak tempuh ini dilakukan dengan cara berjalan kaki maka jarak ini relatif jauh diperlukan alat transportasi untuk mencapainya dan memiliki akses jalan yang baik. Sebaiknya lokasi sekolah berada pada kawasan yang dekat dengan perumahan, akses jalan, fasilitas umum seperti rumah sakit, dan bangunan pemerintahan.
2.5.5 Faktor Penentu Rencana Lokasi Sekolah
Dalam membangun fasilitas pendidikan khususnya mendirikan gedung sekolah baru harus memperhatikan lingkungan sekitar seperti memperhatikan populasi siswa, kondisi fisik tanah, jauh dari gangguan lingkungan dan gangguan bencana alam. Untuk membangun suatu fasilitas pendidikan khususnya dalam rencana pembangunan gedung sekolah yang baru atau pun sekolah yang direhab sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sekolah itu sendiri karenanya dalam perencanaan pembangunan ini harus memperhatikan faktor-faktor penentu lokasi sekolah.
2.5.5.1 Faktor Peta Pendidikan
Faktor – faktor peta pendidikan dalam menentukan lokasi sekolah baru dan sekolah rehab terdiri dari :
1. Jumlah Penduduk Usia Sekolah
Penentuan rencana pembangunan sekolah baru maupun sekolah rehab dapat dilakukan melalui pengumpulan data
penduduk menurut kelompok usia. Ketentuan yang dapat dipedomani dengan proporsi sekolah adalah jumlah penduduk lebih kurang 7.000 orang memerlukan 1 unit Sekolah Dasar ( SD ) dan lebih kurang 25.000 orang memerlukan 1 unit Sekolah Menengah Lanjutan Pertama Tingkat ( SLTP ).
2. Daya Tampung Sekolah
Kemampuan daya tampung sekolah sangat mempengaruhi kesempatan bersekolah masyarakat. Upaya-upaya sistematis dalam pemerataan dan perluasan pendidikan salah satunya dengan memperbanyak daya tampung sekolah. Dengan adanya penambahan ruang kelas pada sekolah-sekolah akan dapat mengatasi penduduk usia sekolah yang tidak dapat bersekolah.
3. Kebutuhan Unit Gedung Baru
Dalam perhitungan kebutuhan sekolah baru ditetapkan standar baku tipe sekolah, diantaranya :
a. SLTP tipe A yaitu 27 kelas, idealny 1080 siswa, lahan minimal ( 2 lantai ) 9.000 m2 dan berlokasi di Kota/Kotif.
b. SLTP tipe B yaitu 18 kelas, idealny 360 siswa, lahan minimal 6.000 m2 dan berlokasi di Kota/Kabupaten.
c. SLTP tipe C yaitu 9 kelas, idealny 360 siswa, lahan minimal 6.000 m2 berlokasi di Kecamatan/Kelurahan d. SLTP tipe D yaitu 6 kelas, idealny 180 siswa, lahan
minimal 4.000 m2 berlokasi di Desa/Daerah Terpencil.
e. SLTP tipe E yaitu 3 kelas, idealny 60 siswa, lahan minimal 3.000 m2 berlokasi di Daerah Terpencil.
2.5.5.2 Faktor Fisik
Penentuan Lokasi Sekolah untuk pembangunan unit gedung baru berdasarkan faktor fisik harus sesuai dengan kriteria kondisi fisik lahan dan aman dari bencana alam serta gangguan lingkungan. Sedangkan untuk sekolah rehab dilakukan melalui pengumpulan informasi yang menyeluruh mengenai keperluan yang perlu untuk diperbaiki. Faktor – faktorny antara lain :
1. Topologi lahan
a. Permukaan tanah relatif datar.
b. Lahan sekolah tidak berbukit.
c. Kemiringan lahan tidak lebih dari 10 %.
d. Permukaan tanah memungkinkan hidup vegetasi.
2. Kondisi lahan
a. Lahan yang ideal berupa tanah darat.
b. Lahan memiliki saluran drainase yang baik untuk saluran pembuangan air hujan, saluran pembuangan air kotor atau libah berkapasitas cukup.
3. Bencana Alam
a. Lahan terhindar dari gangguan binatang buas.
b. Lahan merupakan daerah yang aman dari banjir.
c. Lahan merupakan daerah yang aman dari longsor.
d. Lahan tidak termasuk dalam radius rwan gempa yang dapat menimbulkan patahan.
4. Gangguan Lingkungan
a. Lokasi jauh dari gangguan sumber bunyi seperti jalan tol, jalan kereta api dan radius minimal 10 km dari lapangan udara.
b. Lokasi jauh ( radius minimal 1 km ) dari gangguan keramaian seperti pusat perbelanjaan, bioskop dan terminal.
c. Lokasi jauh ( radius minimal 0,5 km ) dari gangguan bahaya kesehatan seperti di bawah jaringan listrik tegangan tinggi.
d. Lokasi jauh (radius minimal 1 km) dari gangguan negatif seperti daerah lokalisasi dan diskotik. (Dwi, 2002).
Berdasarkan penjelasan di atas maka khusus untuk perencanaan pembangunan gedung sekolah baru harus melakukan pengumpulan informasi yang lengkap dan menyeluruh terhadap faktor-faktor penentu lokasi sekolah untuk mendapatkan lokasi gedung sekolah yang tepat.
2.5.5.3 Faktor Aksesbilitas
Lokasi tanah yang memenuhi seluruh kriteria merupakan hasil akhir dari semua penilaian dan merupakan lokasi tanah
terpilih dan dapat dibangun gedung SD dan SMP. Mengenai lokasi tanah yang tidak memenuhi kriteria tetapi sekolah harus dibangun pada lokasi tersebut, maka diperlukan rekomendasi dalam upaya perlakuan yang sesuai dengan kondisi lahan dari Dinas PU Kabupaten atau Kotamadya (Dwi, 2002 ).