PENGARUH PRODUCT QUALITY DAN RETAIL SERVICE QUALITY TERHADAP REPURCHASE INTENTION
PRODUCT MINISO
(Studi Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)
Indah Purnama Sari1, Onan Marakali Siregar2
, Feby Aulia Safrin
3Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Email: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh product quality dan retail service quality terhadap repurchase intention product miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara). Bentuk penelitian ini digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dan menggunakan 100 responden sebagai sampel. Metode analisis data yang digunakan adalah uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara signifikan pada poduct quality (X1) terhadap repurchase intention. Sementara itu retail service quality (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap repurchase intention. Namun, product quality dan retail service quality secara bersama- bersama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap Repurchase Intention (Y). Nilai pada adjusted R square sebesar 0,116 yang berarti 11,6% Repurchase Intention product miniso (Y) pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dipengaruhi oleh variabel Product Quality (X1) dan Retail Sevice Quality (X2).
Sedangkan 87,6% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Kata Kunci: Product Quality, Retail Service Quality, Repurchase Intention, Miniso
Abstract: The form of research that was used is a quantitative research with an associative approach. The samples used on this research were taken with a purposive sampling technique and used a total of 100 respondents. The methods of data analysis that were used are validity test, reliability test, classic assumptions test, multiple linear regression analysis, as well as hypothesis test. The results of this research shows that there is no impact on product quality (X1). Meanwhile it can be concluded that retail service quality (X2) has a significant effect on repurchase intention. However, both product quality and retail service quality variables simultaneously affect the repurchase intention (Y). The value of adjusted R square is 0.116 which means 11.6% of Miniso’s products Repurchase Intention (Y) on University of Sumatera Utara students is influenced by the Product Quality variable (X1) as well as the Retail Service Quality variable (X2). Whereas the other 87,6% is influenced by other variables not included in this research.
Keywords: Product Quality, Retail Service Quality, Repurchase Intention, Miniso
PENDAHULUAN
Kemajuan ekonomi di beberapa negara di seluruh dunia, memberikan dampak pada berkembangnya dunia bisnis secara global.
Perkembangan bisnis tersebut membuat munculnya beberapa perusahaan baru, salah satunya perusahaan yang bergerak pada industri ritel. Pada umumnya perusahaan ritel yang berkembang pada saat sekarang ini
adalah jenis perusahaan ritel modern. Salah satu alasan mengapa banyaknya muncul perusahaan ritel modern adalah karena adanya perubahan perilaku belanja konsumen di dunia, termasuk Indonesia.
Pada saat sekarang ini, motivasi belanja konsumen tidak hanya didorong oleh motif belanja yang bersifat rasional seperti manfaat
dan kebutuhan konsumen akan produk tersebut, namun juga didorong oleh motif lainnya yaitu motif emosional. Perubahan perilaku belanja konsumen yang juga didorong oleh motif emosional tesebut, menjadikan industri ritel modern, menjadi tempat yang tepat bagi konsumen untuk berbelanja saat ini.
Perkembangan teknologi dunia menjadi tantangan terbesar bagi para pengusaha ritel, bagaimana cara untuk tetap bertahan ditengahtengah kaum milenial yang yang berpaling ke e-commerce. Salah satu cara untuk mempertahankan dan terus melaju mengembangkan bisnis seperti toko ritel adalah dengan memperbaiki kualitas barang yang diproduksi atau dijual dan juga memperbaharui kualitas pelayanan toko sehingga konsumen merasa aman dan nyaman saat berbelanja di toko tersebut.
Memperhatikan apa yang konsumen inginkan dan butuhkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Bisnis ritel di Indonesia masih menjanjikan bagi produsen lokal maupun asing. Dapat diketahui berdasarkan data Global Retail Development Index 2017, nilai penjualan ritel Indonesia mencapai US$ 350 miliar atau sekitar Rp 4,6 kuadriliun Angka ini jauh di atas nilai penjualan ritel negara-negara di kawasan negara ASEAN lainya.
Tabel 1.1 Nilai Penjualan Ritel di Beberapa Negara Asing No. Negara Jumlah 1. Tiongkok Rp 3,128,000,000,000 2. India Rp 1,071,000,000,000
3. Indonesia Rp 350,000,000,000 4. Filipina Rp 137,000,000,000 5. Thailand Rp 119,000,000,000 6. Malaysia Rp 92,000,000,000 7. Vietnam Rp 90,000,000,000 Sumber: databooks.katadata.co.id (2017) Pada 2017, pasar ritel di Indonesia berada di posisi 3 sebagai pasar ritel yang paling aktif dari 30 negara berkembang di seluruh dunia dalam Global Retail Development Index (GRDI) 2017 yang dirilis oleh lembaga konsultan A.T Kearney.
Berdasarkan data tersebut, Indonesia memperoleh skor sebesar 55,9 dari skor tertinggi 100 dan berada pada urutan ke-3.
Jika dibandingkan dengan
pertumbuhan penjualan ritel terbaru, Indonesia dilaporkan mengalami penurunan 10.1% pada Agustus 2020. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu sebesar -12.3%
pada bulan Juli 2020. Data Pertumbuhan Penjualan Ritel Indonesia diperbarui bulanan, dengan rata-rata 8.7% dari Januari 2011 sampai Agustus 2020, dengan 116 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 28.2% pada Desember 2013 lalu dan rekor terendah sebesar -20.6 % pada bulan Mei 2020.
Berdasarkan Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat lebih memilih belanja secara online melalui e-commerce.
Gambar 1.1 Pertumbuhan Penjualan Ritel Indonesia
Sumber: Ceicdata.com (2020) Hal tersebut diketahui tidak berpengaruh pada toko ritel asal Jepang, Miniso. Miniso didirikan di Tokyo pada tahun 2011 oleh Miyake Junya seorang desainer asal Jepang dan Ye Guofu seorang entrepreneur dari China. Miniso mulai beroperasi di China pada September tahun 2013 dan telah berkembang ke seluruh dunia. Miniso dioperasikan oleh Miniso Indutries Co Ltd, sejak 2013 dan diperkenalkan di China pada tahun yang sama. Dalam kurun waktu tiga tahun, Miniso telah membuka lebih dari 1,000 toko dan di tahun 2015 pendapatan Miniso mencapai 5 Milliar RMB. Saat ini, rata-rata Miniso membuka 80 - 100 toko disetiap bulan-nya dan diharapkan pada tahun 2020 telah ada 6,000 toko di seluruh dunia.
Untuk kawasan Medan, Miniso pertama kali membuka ritelnya di Sun Plaza Medan dan Center Point Mall. Dengan bertambahnya minat konsumen, Miniso kembali membuka cabang demi kepuasan dan kenyaman dalam memilih produk yang mereka inginkan.
Hingga saat ini, jumlah ritel Miniso di Medan mencapai 6 toko yang tersebar di seluruh mall kota Medan, yaitu di Manhattan Square, Center Point Mall Medan, Sun Plaza
Medan, Plaza Medan Fair, Medan Mall, dan Deli Park.
Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Sumatera Utara 2018
No. Nama Daerah Jumlah
1. Medan 2.264.145
2. Deli Serdang 2.155.625
3. Langkat 1.035.411
4. Simalungun 863.693
5. Asahan 724.379
6. Serdang Bedagai 614.618 7. Labuhanbatu 486.480 8. Mandailing Natal 443.490
9. Batu Bara 412.992
10. Karo 409.675
11. Tapanuli Tengah 370.171 12. Labuhanbatu Utara 360.926 13. Labuhanbatu
Selatan 332.922
14. Nias Selatan 317.207 15. Tapanuli Utara 299.881
16. Dairi 283.203
17. Tapanuli Selatan 280.283 18. Padang Lawas 275.515
19. Binjai 273.892
20. Padang Lawas 267.771 21. Pematangsiantar 253.500 22. Padangsidimpuan 218.892
23. Humbang 188.480
24. Toba Samosir 182.673 25. Tanjungbalai 173.302 26. Tebing Tinggi 162.581
27. Nias 142.840
28. Gunungsitoli 140.927 29. Nias Utara 137.002
30. Samosir 125.816
31. Sibolga 87.317
32. Nias Barat 81.663 33. Pakpak Bharat 48.119
Sumber: katadata.com (2019)
Jumlah penduduk kota Medan pada tahun
2018 mencapai 14,42 juta jiwa yang
terdiri atas 7,19 juta jiwa laki-laki dan 7,22 juta jiwa perempuan. Sebanyak 7,21 jiwa penduduk di provinsi dengan ibu kota Medan ini tinggal di perkotaan dan sisanya tinggal di pedesaan.
Seiring bertambahnya pertumbuhan penduduk Kota Medan maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga meningkat sehingga berdampak pada perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat. Tidak heran bahwa ritel hampir seluruh ritel Miniso disetiap mall selalu di penuhi konsumen atau pelanggan yang ingin membeli barang yang mereka butuhkan dan inginkan.
Sebagai peritel yang juga mengusung konsep
lifestyle,Miniso juga menargetkan generasi milenial atau generasi muda di Indonesia yang berumur 17 sampai 35 tahun sebagai pasar sasaran mereka. Generasi milenial mempunyai perilaku belanja lebih berorientasi kepada rekreasi atau leisure, dimana mereka berbelanja bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi juga merupakan bagian dari gaya hidup, yang mana ketika berbelanja mereka juga bisa sambil berekreasi di dalam ritel modern seperti menikmati hiburan yang ada di dalam ritel modern. Disinilah maka perlu dilakukan penelitian mengenai apa yang
membuat toko ritel Miniso di kota Medan selalu penuh dikunjungi masyarakat.
Peneliti sendiri yang sudah berulang kali membeli produk dari Miniso dan merasa sangat puas karena produknya yang terjangkau, awet, nyaman, dan sesuai dengan fungsinya itu sendiri.
Berdasarkan uraian diatas Miniso merupakan toko ritel terbanyak di Indonesia saat ini apa sebabnya Miniso bisa bertahan bahkan setiap tahun menambah unit toko ritelnya di beberapa tempat di Indonesia dengan jumlah konsumen yang meningkat, dan peneliti menganggap hal tersebut perlu diteliti lebih dalam khususnya di kota Medan.
Bagaimana masyarakat kota Medan terus melakukan pembelian ulang secara signifikan. Maka judul penelitian yang diangkat oleh peneliti adalah “Pengaruh
Product Quality dan Retail Service Quality Terhadap Repurcase Intention Product Miniso (Studi Pada MahasiswaUniversitas Sumatera Utara)”.
KERANGKA TEORI
Pengertian Product QualityKotler dan Armstrong (2018:249) menyatakan bahwa “Product Quality the characteristic of a product or service that bear on its ability to satisfy stated of implied custumer needs”. Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi
kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan operasi, perbaikan produk, serta atribut bernilai lainnya (Kotler dan Amstrong, 2018:249).
Indikator Product Quality
Tingkat kualitas akan mendukung penentuan posisi produk. Kualitas produk berarti kemampuan produk untuk menjalankan fungsinya (Kotler dan Armstrong 2018:249), yang terbagi atas beberapa bagian:
1.
Keistimewaan (Performance), berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.2.
Kelebihan (Feature, berguna untuk menambahkan fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.3.
Kehandalan (Reability), berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode tertentu.4.
Kesesuaian (Conformance), berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan.5.
Daya tahan (Durability), daya tahan atau masa pakai barang yang bisa juga diartikan sebagai ukuran kemungkinan usia operasi produk yang diharapkan dalam kondisi normal.6.
Daya guna (Serviceability), berkaitan dengan kecepatan, kompetisi,kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan perbaikan barang.
7.
Keindahan (Aesthetic), bersifat subjektif mengenai nilai-nilai estetika berkaitan dengan pertimbangan pribadi atau refleksi dan preferensi individual.8.
Respon (Fit and Finish), bersifat subjektif perbaikan dengan perasaan pelanggan mengenai keberadaan produk tersebut sebagai berkualitas.Retail Service Quality
Kualitas pelayanan, yakni upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen (Tjiptono, 2014).
Indikator Retail Service Quality (RSQ)
Untuk mengukur kualitas pelayanan, digunakan RSQ Scale, yakni
1.
Physical Aspect, aspek fisik dari retail yang meliputi berbagai peralatan dan fasilitas yang bersifat tangible.Umumnya mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
2.
Realibilitay, konsistensi retail dalam memberikan layanan terlebih dengan janji yang diberikan.3.
Personal Interaction, kemampuan menjalin hubungan yang harmonis dengan konsumen.4.
Problem Solving, kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah konsumen. Bagian dari evaluasi kualitas pelayanan yang didsarkan padakemampuan untuk bisa perduli dan mampu menyelesaikan masalah.
5.
Policy, berbagai kebiijakan yang diterapkan untuk memberi kenyamanan dan kemudahan bagi konsumen.Repurchase Intention
Priansa (2017:160) menyatakan bahwa minat pembelian ulang konsumen muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Ketika konsumen memperoleh respon positif atas tindakan masa lalu, dari situ akan terjadi penguatan,
Indikator Repurchase Intention
Repurchase Intention dipengaruhi oleh prilaku pelanggan atas kualitas dan fungsi suatu barang atau jasa (Dewi dan Ekawati, 2019). Repurchase intentions dapat dibagi dalam 3 dimensi dasar yaitu:
1)
Resistance against better alternatives2)
Willingness to pay premium price3)
Intention of word of mouth.METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitaif dengan pendekatan asosiatif untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh product quality dan retail service quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Peneliti memutuskan untuk menyebarkan kuesioner
pada bulan April hingga Mei 2020
mengingat pelaksanaan yang dilakukan ditengah pandemic covid-19.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang jumlahnya belum dapat diketahui. Sampel penelitian adalah mahasiswa yang pernah membeli produk Miniso minimal 2 kali sehingga dapat dianggap sebagai pelanggan tetap Miniso. Oleh sebab itu, Sujarweni (2015:155) menyatakan jika ukuran jumlah tidak diketahui, maka rumus yang dibutuhkan untuk mengetahui jumlah sampel dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
n: Jumlah sampel
z: Tingkat distribusi normal taraf signifikan 5% = 1.96
Moe: Margin of Error Max, yaitu tingkat keseluruhan pengambilan sampel yang masih dapat di tolerir sebesar 10%
Berdasarkan rumus diatas, maka jumlah sampel yang digunakan sebanyak 96 responden, namun peneliti memutuskan untuk membulatkan menjadi 100 responden untuk memudahkan perhitungan.
Hipotesisi penelitian
1.
Ha1: adanya pengaruh product quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera utara .2.
H01: tidak terdapat pengaruh antara pengaruh product quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera utara.3.
Ha2: adanya pengaruh retail service quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera utara.4.
H02: tidak adanya pengaruh retail service quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswaUniversitas Sumatera utara.
5.
Ha3: adanya pengaruh product quality dan retail service quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera utara.6.
H03: tidak terdapat pengaruh product quality dan retail service quality terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera utara.HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Parsial (Uji T)
Tabel 1.3 Uji Parsial (Uji T)
Coefficientsa
Standardi
Model
Unstandardized Coefficients
zed Coefficie
nts
T Sig.
B Std.
Error Beta
1
(Consta
nt) 7,302 4,395
1,661 0,1
Product 0,059 0,086 0,075 0,688 0,493 Retail 0,292 0,098 0,324 2,986 0,004 a. Dependent Variable: Repurchase
Sumber: Hasil Pengolahan Data (2020)
Berdasarkan tabel 1.3 diketahui pengaruh setiap variabel secara parsial:
1. Product Quality (X1)
Berdasarkan tabel 1.3 dapat dilihat bahwa product quality (X1) memiliki nilai thitung < ttabel (0,688 < 1,984) dan nilai signifikansi > 0,05 yaitu (0,493 >0,05) maka dari hasil tersebut ha1 ditolak dan ho1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa product quality tidak berpengaruh secara parsial terhadap repurchase intention.
2. Retail Service Quality (X2) Berdasarkan tabel 1.3 dapat dilihat bahwa variabel retail service quality (X2) memiliki nilai thitung > ttabel (2,986 > 1,984) dan nilai signifikansi < 0,05 yaitu (0,04<0,05) maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima dan Ho2 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa retail service quality berpengaruh secara parsial terhadap repurchase intention product Miniso pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
Uji Simultan (Uji F)
Tabel 1.4 Uji Simultan (Uji F)
ANOVAa
Model
SquaresSum of Df
Mean
Square F Sig.
1
Regressio
n 149,109 2 74,555 7,5 ,001b
Residual 964,201 97 9,94
Total 1113,31 99
a. Dependent Variable: Repurchase b. Predictors: (Constant), Retail, Product
Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer (2020)
Berdasarkan pada tabel 1.4 dapat dilihat bahwa nilai Fhitung adalah sebesar 7,500, dimana nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel yaitu 7,500 > 3,09 dan nilai signifikansi 0,001
<0,05. Hal ini menunjukan bahwa variabel bebas yang terdiri dari variabel Product Quality (X1) dan Retail Service Quality (X2) berpengaruh secara bersama-bersama (simultan) terhadap variabel terikat yaitu Repurchase Intention (Y).
Uji R
2(Koefisien Determinasi)
Tabel 1.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summary
Model R R SquareAdjusted R Square
Std.
Error of the Estimate
1 ,366a 0,134 0,116 3,153
a. Predictors: (Constant), Retail, Product Sumber: Hasil Pengolahan Data (2020) Berdasarkan pada tabel 1.5 hasil koefesien determinasi dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Dalam penelitian ini dapat diperoleh nilai R sebesar 0,366 menunjukkan hubungan antara Product Quality (X1) dan Retail Service Quality (X2) terhadap Repurchase Intention (Y) adalah sebesar 0,366.2.
Nilai R square (R2) sebesar 0,116 yang berarti 11,6% Repurchase Intention (Y) pada konsumen Miniso di Kota Medan dipengaruhi oleh variebel Product Quality (X1) dan Retail Sevice Quality (X2). Sedangkan 87,6% lainyadipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini seperti brand equity, kepuasan konsumen, brand trust, dll.
H1. Pengaruh Product Quality Terhadap Repurchase Intention Product Miniso Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap variabel product quality sebagian besar responden memberikan respon positif dan setuju dengan 14 pernyataan yang diberikan di kuesioner. Pernyataan tersebut merupakan penjabaran dari 7 indikator variabel product quality yaitu keistimewaan, kelebihan, kesesuaian, daya tahan, daya guna, keindahan dan respon.
Item variabel product quality pada yang paling besar menarik responden untuk menyatakan setuju, namun hal tersebut tidak berpengaruh secara parsial dan simultan.
Peneltian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Nida Ul Farida (2017) bahwa product quality berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
Kualitas produk dianggap bisa mengukur seberapa besar manfaat yang didapat konsumen dalam suatu produk yang akan dibeli. Perusahaan akan berlomba-lomba menciptakan atau memberikan kualitas produk yang baik di mata konsumennya sehingga konsumen dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan. Hal ini menunjukan bahwa hasil penelitian dengan variabel product quality terhadap repurchase product Miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara) tidak
berpengaruh secara signifikan. Dikarenakan responden dalam hal ini lebih dominan mahasiswa yang tergolong masih muda dan cenderung lebih mengutamakan trends dibandingkan dengan kualitas, dan juga dalam hal ini miniso adalah brand yang sudah di akui kualitas produknya sehingga pola pikir konsumen sudah tidak mengenai kulitas produk melainkan trends ataupun pelayanan retail.
Kotler dan Armstrong (2018:249) menyatakan bahwa “Product Quality the characteristic of a product or service that bear on its ability to satisfy stated of implied custumer needs”. Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan operasi, perbaikan produk, serta atribut bernilai lainya (Kotler dan Amstrong, 2018:249). Sebenarnya faktor yang sangat penting dan berpengaruh pada repurchase intention adalah product quality, hal tersebut dibuktikan pada penelitian-penelitian sebelumnya yang sudah dibahas diatas.
Namun pada penelitian ini, variabel pengaruh product quality terhadap repurchase intention product Miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara) menyatakan tidak adanya pengaruh secara siginifikan dikarenakan perubahan gaya hidup milenial yang tertutup dan lebih mengutamakan kenyamanan dan trends sehingga mereka lebih menerima kenyamanan atau faktor lain untuk melakukan repurchase intention.
Berdasarkan hasil uji parsial (uji t) menjelaskan bahwa variabel product quality tidak memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap repurchase intention product Miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara). Dimana nilai thitung < ttabel
(0,688 > 1,984) dan nilai signifikansi > 0,05 yaitu (0,493>0,05) maka dari hasil tersebut ha1 ditolak dan ho1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa product quality tidak berpengaruh secara parsial terhadap repurchase intention.
H2. Pengaruh Retail Service Quality Terhadap Repurchase Intetion Product Miniso
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap variabel retail service quality, peneliti melihat seluruh responden hampir seluruh responden memberikan respon positif dan setuju dengan 10 pernyataan yang telah diberikan pada kuesioner. Hal ini dapat dilihat dengan dominasinya jawaban setuju di seluruh pernyataan sehingga dapat dibuktikan bahwa retail service quality memiliki pengaruh terhadap variabel repurchase intention. Pernyataan tersebut merupakan penjabaran dari 5 indikator variabel retail service quality yaitu Physical Aspect, Reliability, Personal Interaction, Problem Solving, Policy.
Item variabel retail service quality yang memiliki pengaruh paling besar adalah pysical aspect atau aspek fisik dari toko Miniso tersebut. Dapat diketahui bahwa rata- rata responden adalah mahasiswa sehingga
mereka dapat dikatakan kaum milenial yang gemar berbelanja dan jalan-jalan ke tempat yang memiliki kriteria modern dan asik seperti Miniso. Penampilan toko di anggap hal yang utama untuK berbenja atau hanya untuk memenuhi hasrat berkunjung atau berfoto konsumen. Selain physical aspect hal yang memiliki pengaruh besar kedua adalah policy atau keamanan. Keamanan menjadi salah satu faktor penting dalam berbenja baik itu keaamanan saat berlangsungnya berbelanja ataupun keamanan dalam membayar sehingga menimbulkan efek kepuasan konsumen saat berbelanja.
Menurut Kotler dan Keller (2013:131), kualitas adalah totalitas fitur dari suatu produk atau layanan yang memiliki kemampuan untuk memuaskan yang dinyatakan atau yang tersirat kita dapat mengatakan penjual telah memberikan kualitas produk atau layanan memenuhi atau melapaui harapan pelanggan. Sehingga dapat diketahui bahwa repurchase intention dapat dipengaruhi oleh retail service quality.
Meskipun sebagian besar responden memberikan penilaian positif terhadap variabel retail service quality, namun ada juga beberapa responden yang memberikan nilai negatif. Akan tetapi jika dilihat dari keseluruhan jawaban responden, variabel retail service quality sudah termasuk dalam kategori baik dalam mempengaruhi repurchase intention.
Berdasarkan uji parsial (uji t) dilihat bahwa variabel retail service quality (X2) memiliki nilai thitung > ttabel (2,986 > 1,984) dan nilai
signifikansi < 0,05 yaitu (0,04<0,05) maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima dan Ho2 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa retail service quality berpengaruh secara parsial terhadap repurchase intention. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa pengaruh retail service quality mempengaruhi repurchase intention.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Santhi Devie (2017) dengan judul pengaruh product quality dan retail service quality terhadap repurchase intention pada store Zara di Surabaya. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa retail service quality berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
H3. Pengaruh Product Quality dan Retail Service Quality Terhadap Repurchase Intention Product Miniso
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap variabel repurchase intention hampir seluruh responden memberikan respon yang positif dan setuju dengan pernyataan yang telah diberikan.
Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan penjabaran dari 5 indikator variabel repurchase intention yaitu Resistance agains better alternatives, Willingness to pay premium price, Intention of word of mouth.
Item variabel repurchase intention yang memiliki pengaruh paling besar adalah Intention of word of mouth diartikan sebagai konsistensi dari para pelanggan suatu produk
atau jasa untuk tetap menyimpan ketidakpuasan terhadap suatu produk atau jasa ketika mengalami suatu kekecewaan dan memberitahukan kepada pihak manajemen suatu perusahaan penyedia produk atau jasa ketika mengalami ketidakpuasan dalam suatu produk atau jasa tersebut.
Priansa (2017:160) menyatakan bahwa minat pembelian ulang konsumen prilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Ketika seseorang konsumen memperoleh respon yang positif atas tindakan masa lalu, dari situ akan terjadi penguatan, dengan dimilikinya pemikiran positif atas apa yang diterimanya memungkinkan untuk individu melakukan pembelian secara berulang-ulang.
Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (uji f) yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan kedua variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hasil uji simultan menunjukan nilai yang diperoleh sebesar 0,366 menunjukkan hubungan antara Product Quality (X1) dan Retail Servce Quality (X2) terhadap Repurchase Intention (Y) adalah sebesar 36,6%. Nilai Adjusted R square sebesar 0,116 yang berarti 11,6%
Repurchase Intention product miniso (Y) pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara dipengaruhi oleh variabel Product Quality (X1) dan Retail Sevice Quality (X2).
Sedangkan 87,6% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
PENUTUP Kesimpulan
1.
Variabel product quality tidak berpengaruh secara signifikan terhadap repurchase intention product Miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara).2.
Variabel retail service quality memiliki pengaruh yang signifikan terhadap repurchase intention (studi pada konsumen Miniso di Universitas Sumatera Utara).3.
Berdasarkan uji simultan (uji F), variabel product quality dan retail service quality secara bersamasama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap repurchase intention product Miniso (studi pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara).Saran
1.
Berhubung hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel product quality tidak berpengaruh terhadap variabel repurchase intention. Melainkan variabel retail service quality yang memiliki pengaruh terhadap repuchase intention product miniso, namun secara bersama-sama secara simultan hasil penelitian menunjukan bahwa kedua variabel yaitu product quality dan retail service quality berpengaruh sebesar 11,6% terhadap repurchase intenton product miniso. Hal ini perlu diperhatikan oleh Miniso, karena ketikakonsumen melakukan repurchase intention, konsumen tidak terlalu terpengaruh oleh kualitas tetapi mereka terpengaruh oleh variabel retail service quality dalam penelitian ini.
2.
Bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dan juga memperbanyak jumlah sampel sehingga didapatkan hasil yang baik dan menyeluruh. Disarankan untuk meneliti dengan variabel yang lain yang dapat mempengaruhi repurchase intention.REFERENCES
Berman, B., & Evans, J. (2013). Retail Management: a Strategic Approach (12th Edition ed.). England:
Pearson.
Devi, S. (2017). Pengaruh Product Quality dan Retail Service Quality Terhadap Repurchase Intention dengan Customer Familiarity Sebagai Variabel Intervening Pada Store Zara di Surabaya. Jurnal Strategi Pemasaran, 1-8.
Japarianto, E. (2019). Pengaruh Retail Service Quality terhadap Minat Berkunjung Mall di Surabaya.
Jurnal Manajemen Pemasaran, 13(1), 17-26.
Juliandi, Azuar, Irfan, & Manurung. (2015).
Metode Penelitian Bisnis Konsep dan Aplikasinya. Medan: Umsu Press.
Kotler, P., & Amstrong, G. (2018).
Principles of Marketing. United Kingdom: Pearson Education Limited.
Manaf, A. (2016). Revolusi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Mowen, John, & Minor. (2002). Perilaku Konsumen. Jakarta: Erlangga.
Priansa, D. (2017). Perilaku Konsumen dalam Persaingan Bisnis Kontemporer. Bandung: Alfabeta.
Pribadi, D. (2014). Pengaruh Quality Product, Service Quality, Image terhadap Loyality Melalui Satisfication pada Restoran Sunda di Jakarta. Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa, 177-197.
Situmorang, & Helmi, S. (2011). Analisis Data untuk Riset Manajemen dan Bisnis. Jakarta: USU Press.
Sumarwan, U. (2004). Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor: Galia Indonesia.
Tjiptono, F., & Diana, A. (2016).
Pemasaran: Esensi & Aplikasi.
Yogyakarta: Andi Offset.