Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
15Jurnal Kesehatan Pertiwi
Politeknik Kesehatan Bhakti Pertiwi Husada Volume 2 Nomor B Tahun 2020
Efektivitas Pemberian Rebusan Jahe dan Rebusan Daun Mint terhadap Penurunan Mual Muntah Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Pabuaran
Kabupaten Cirebon Maria Ulfah, Endang Sugiati
Politeknik Kesehatan Bhakti Pertiwi Husada Kota Cirebon Email : [email protected]
Abstrak Pendahuluan : Kehamilan mempengaruhi tubuh ibu secara keseluruhan dengan menimbulkan perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi di seluruh sistem organ, sebagian besar perubahan pada tubuh ibu kebanyakan disebabkan oleh kerja hormonal. Beberapa keluhan yang membuat ibu merasa tidak nyaman di antaranya adalah mual dan muntah3. Wanita hamil sebanyak 50% mengalami Emesis Gravidarum yang dikenal dengan istilah Morning Sickness (rasa mual di pagi hari) menjadi bagian yang ‘tidak enak’ dalam kehamilan.
Emesis gravidarum ini menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga terdapat perubahan keseimbangan elektrolit dengan kalium, kalsium dan natrium yang menyebabkan perubahan metabolisme tubuh. Setiap wanita hamil akan memiliki derajat mual yang berbeda-beda, ada yang tidak terlalu merasakan apa-apa, tetapi ada juga yang merasa mual dan ada yang merasa sangat mual dan ingin muntah setiap saat.
Ekstrak jahe memang terbukti efektif untuk mengurangi keluhan mual muntah, tapi penggunaannya pada ibu hamil masih kontroversi. Beberapa peneliti menganjurkan dosis ekstrak jahe yang aman untuk konsumsi ibu hamil di bawah 1000 mg/hari, sama seperti dosis yang kita dapat dari makanan sehari-hari, beberapa peneliti juga menemukan bahwa ekstrak jahe ternyata lebih efektif bila dikombinasikan dengan Piridoksin.
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa responden melalui wawancara di wilayah kerja Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon, beberapa ibu hamil berkunjung mengeluh mual muntah ringan, dari hasil wawancara 3 dari 5 orang ibu hamil dengan usia kehamilan 0-12 minggu, mengalami atau merasakan mual-mual dengan atau tanpa muntah di pagi hari dengan frekuensi 2-3 x dalam sehari selama 24 jam. Beberapa ibu ada yang menggunakan obat-obatan untuk mengurangi mual muntah dan ada yang di diamkan saja dengan beristirahat.
Kata Kunci Ibu hamil, perubahan fisiologis, mual muntah, ekstrak jahe.
Abstract Introduction: Pregnancy affects the mother's body as a whole by causing physiological changes that occur in all organ systems, most of the changes in the mother's body are mostly caused by hormonal work. Some complaints that make the mother feel uncomfortable include nausea and vomiting 3. As many as 50% of pregnant women experience Emesis Gravidarum, known as Morning Sickness, which is an 'unpleasant' part of pregnancy.
Emesis gravidarum causes a decrease in appetite so that there is a change in the electrolyte balance with potassium, calcium and sodium which causes changes in the body's metabolism. Every pregnant woman will have different degrees of nausea, some don't really feel anything, but some feel nauseous and some feel very nauseous and want to throw up at any time.
Ginger extract has been proven to be effective in reducing complaints of nausea and vomiting, but its use in pregnant women is still controversial. Some researchers recommend a safe dose of ginger extract for consumption by pregnant women below 1000 mg / day, the same as the dose we get from daily food, some researchers also found that ginger extract was more effective when combined with pyridoxine.
A preliminary study conducted by researchers to several respondents through interviews in the work area of the Pabuaran Health Center, Cirebon Regency, several pregnant women visited complaining of mild nausea and vomiting, from the results of interviews 3 out of 5
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
16pregnant women with gestational age 0-12 weeks experienced or felt nausea- nausea with or without vomiting in the morning with a frequency of 2-3 times a day for 24 hours. Some mothers use drugs to reduce nausea and vomiting and some are left alone by resting.
Keywords Pregnant women, physiological changes, nausea and vomiting, ginger extract,
Pendahuluan
Kehamilan merupakan proses berkesinambungan yang dimulai dari ovulasi, konsepsi, nidasi, implantasi dan perkembangan embrio di dalam uterus hingga aterm. Setiap proses dalam kehamilan merupakan kondisi krisis yang memerlukan adaptasi psikologis dan fisiologis terhadap pengaruh hormon kehamilan dan tekanan mekanis akibat pembesaran uterus dan jaringan lain1.
Kehamilan mempengaruhi tubuh ibu secara keseluruhan dengan menimbulkan perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi di seluruh sistem organ, sebagian besar perubahan pada tubuh ibu kebanyakan disebabkan oleh kerja hormonal. Perubahan ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan hormon progestrogen dan estrogen yakni hormon kewanitaan yang ada di dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses kehamilan2.
Beberapa keluhan yang membuat ibu merasa tidak nyaman di antaranya adalah mual dan muntah3. Wanita hamil sebanyak 50%
mengalami Emesis Gravidarum yang dikenal dengan istilah Morning Sickness (rasa mual di pagi hari) menjadi bagian yang ‘tidak enak’
dalam kehamilan4.
Pada trimester pertama kemungkinan besar wanita akan mengalami mual-mual dengan atau tanpa muntah. Gejala ini di mulai sekitar minggu ke enam kehamilan dan biasanya menurun drastis di akhir trimester pertama (sekitar minggu ke-13). Perubahan saluran cerna dan peningkatan kadar Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dalam darah menimbulkan beberapa keluhan yang membuat ibu merasa tidak nyaman saat kehamilan, diantaranya mual dan muntah.
Emesis gravidarum ini menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga terdapat perubahan keseimbangan elektrolit dengan kalium, kalsium dan natrium yang menyebabkan perubahan metabolisme tubuh6. Emesis gravidarum akan bertambah berat menjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan ibu muntah terus menerus tiap
kali minum atau makan, akibatnya tubuh ibu semakin lemah, pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun drastis sehingga cairan tubuh berkurang dan darah menjadi kental (hemokonsentrasi) sehingga melambatkan peredaran darah yaitu oksigen dan jaringan sehingga dapat menimbulkan kerusakan jaringan yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan perkembangan janin yang dikandungnya6.
Wanita hamil sebanyak 66% pada trimester pertama mengalami mual dan gejala yang sering terjadi pada 60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida, namun sekitar 12 % ibu hamil masih mengalami mual muntah hingga sampai usia kehamilan sembilan bulan7. Menurut Supriyanto (2009), 50-90% wanita hamil mengalami mual pada trimester pertama dan sekitar 25% wanita hamil mengalami masalah mual muntah memerlukan waktu untuk beristirahat dari pekerjaannya 7.
Setiap wanita hamil akan memiliki derajat mual yang berbeda-beda, ada yang tidak terlalu merasakan apa-apa, tetapi ada juga yang merasa mual dan ada yang merasa sangat mual dan ingin muntah setiap saat8. Menurut Rahingtyas (2008) dan Booth (2004), sebanyak 80% wanita hamil yang mengalami mual muntah terjadi pada trimester I kehamilan dan 2% ibu hamil pada trimester 1 mengalami masalah mual dan muntah yang berat sehingga diperlukan tenaga kesehatanan medis9.
Rasa mual pada awal kehamilan dapat dikurangi dengan menggunakan terapi komplementer antara lain dengan tanaman herbal atau tradisional yang bisa dilakukan dan mudah di dapatkan seperti jahe, daun peppermint, lemon, dan lainnya. Selain mengkonsumsi obat-obatan untuk mengatasi mual muntah, para ibu bisa mencoba berbagai ramuan tradisional seperti jahe yang dapat mengatasi mual dan muntah dengan cara diseduh. Ibu hamil saat ini cenderung malas untuk meminum seduhan jahe dengan alasan tidak menyukai aromanya dan malas membuatnya10.
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
17 Penelitian yang dilakukan olehSaswita (2006) tentang efektifitas minuman jahe dalam mengurangi emesis gravidarum pada ibu hamil trimester pertama, hasil penelitian didapatkan bahwa pemberian minuman jahe sangat efektif dalam mengatasi mual muntah ibu hamil trimester pertama setelah pemberian intervensi minuman jahe pada kelompok intervensi dan pada kelompok eksperimen terdapat penurunan mual muntah dan banyak dialami oleh ibu yang multigravida11.
Hasil penelitian Rimontha, F.G., dkk (2007) tentang perbandingan efektivitas kombinasi ekstrak jahe dan piridoksin dengan piridoksin saja dalam mengurangi mual muntah pada wanita hamil. Hasil analisis dari penelitian ini adalah konsumsi ekstrak jahe sebesar 700 mg per hari sudah cukup baik untuk mengurangi keluhan mual muntah pada ibu hamil dan dengan kombinasi piridoksin, kadar ekstrak jahe dapat diperkecil sehingga mengurangi risiko terhadap kehamilan12.
Ekstrak jahe memang terbukti efektif untuk mengurangi keluhan mual muntah, tapi penggunaannya pada ibu hamil masih kontroversi. Beberapa peneliti menganjurkan dosis ekstrak jahe yang aman untuk konsumsi ibu hamil di bawah 1000 mg/hari, sama seperti dosis yang kita dapat dari makanan sehari-hari, beberapa peneliti juga menemukan bahwa ekstrak jahe ternyata lebih efektif bila dikombinasikan dengan Piridoksin. Kandungan di dalam jahe terdapat minyak Atsiri Zingiberena (zingirona), zingiberol, bisabilena, kurkumen, gingerol, flandrena, vitamin A dan resin pahit yang dapat memblok serotinin yaitu suatu neurotransmitter yang di sintesiskan pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-sel enterokromafin dalam saluran pencernaan sehingga dipercaya dapat sebagai pemberi perasaan nyaman dalam perut sehingga di percaya sebagai pemberi perasaan nyaman dalam perut sehingga dapat mengatasi mual muntah 13.
Jika ibu tidak menyukai seduhan jahe, maka ibu bisa meminum seduhan daun peppermint (Mint) sebagai penggantinya.
Peppermint (daun mint) juga di ketahui bisa menjadi obat yang aman dan efektif untuk mengobati mual dan muntah pada ibu hamil.
Peppermint bisa dimakan seperti permen mint, minum teh peppermint atau menggunakan minyak peppermint. Sebuah studi dari Wheeling Jesuit University, US,
menyimpulkan bahwa orang yang mengkonsumsi peppermint secara rutin cenderung sama dengan makan 2.800 kalori lebih sedikit setiap minggu dibandingkan mereka yang tidak. Daun mint juga mengandung menthol yang dapat mempercepat sirkulasi, meringankan kembung, mual dan kram. Daun mint mengandung minyak atsiri yaitu menthol yang berpotensi memperlancar sistem pencernaan dan meringankan kejang perut atau kram karena memiliki efek anastesi ringan serta mengandung efek karminatif dan antispasmodik yang bekerja di usus halus pada saluran gastrointestinal sehingga mampu mengatasi atau menghilangkan mual muntah14. Mual dan muntah terjadi sekitar 60- 80% pada ibu primigravida dan 40% pada multigravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini bisa menjadi lebih berat.
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menyatakan bahwa keluhan mual muntah selama kehamilan sebanyak 3%.
Walaupun hanya 3%, tetapi keluhan ini dapat mengakibatkan komplikasi kehamilan yang berisiko pada kematian dan kesakitan pada ibu dan bayi15.
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa responden melalui wawancara di wilayah kerja Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon, beberapa ibu hamil berkunjung mengeluh mual muntah ringan, dari hasil wawancara 3 dari 5 orang ibu hamil dengan usia kehamilan 0-12 minggu, mengalami atau merasakan mual-mual dengan atau tanpa muntah di pagi hari dengan frekuensi 2-3 x dalam sehari selama 24 jam. Beberapa ibu ada yang menggunakan obat-obatan untuk mengurangi mual muntah dan ada yang di diamkan saja dengan beristirahat.
Mual dan muntah pada ibu trimester pertama di masyarakat masih terjadi dan cara penanggulangannya sebagian besar masih menggunakan terapi farmakologis atau di diamkan saja dan akan lebih baik jika masyarakat khususnya ibu hamil mampu mengatasi masalah mual pada awal kehamilan dengan menggunakan terapi pelengkap non farmakologis terlebih dahulu.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan “Efektivitas Pemberian Rebusan Jahe dan Rebusan Daun Mint Terhadap Penurunan Mual Muntah Pada Ibu Hamil di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon”.
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
18 Metode PenelitianMetode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu quasi eksperimen dengan pendekatan pretest and postest with design two eksperiment. Membandingkan kelompok yang diberikan intervensi air rebusan jahe dengan kelompok yang diberikan intervensi daun mint.
Hasil Penelitian
Distribusi intensitas Mual Muntah Sebelum Diberikan Rebusan Jahe dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon
Tabel 4.1 Distibusi Derajat Mual Muntah Sebelum dan Sesudah Diberikan Rebusan Jahe
Dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon
Kelompok N Pretest
Median Min Maks
Jahe 15 3.00 3 4
Daun mint 15 2.00 2 4
Berdasarkan tabel 4.1 nilai median pada kelompok jahe pada titik 3.00 sedangkan nilai mediun kelompok daun mint pada titik 2.00.
Efektifitas Sesudah Diberikan Rebusan Jahe Dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon
Tabel 4.2 Efektifitas Sesudah Diberikan Rebusan Jahe Dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon Kelompok N Pretest Posttest Mean
rank P- Value Mean SD Mean SD
Jahe 15 18.33 0.862 12.17 0.828 6.66 0.028
Daun
Mint 15 20.33 0.632 18.83 0.516 9.76 0.001
Berdasarkan tabel 4.2, memperlihatkan rata-rata intensitas derajat mual muntah pada ibu hamil sesudah diberikan pada kelompok rebusan jahe p-value (0,028) >
α (0,05) dengan kesimpulan tidak ada perbedaan yang signifikan sesudah pemberian rebusan jahe. Sedangkan pada kelompok rebusan daun mint adalah 18,83 dengan standar deviasi 0,516 dan 12,17 nilai rata-rata intensitas mual muntah sesudah diberikan rebusan jahe dengan standar deviasi 0,828. Hasil analisa diperoleh pada kelompok pemberian rebusan daun mint diperoleh p- value (0,001) < α (0,05)
dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan setelah pemberian rebusan daun mint, Hasil Mean rank pretest dan posttest untuk kedua kelompok eksperimen, didapatkan hasil rebusan daun mint lebih efektif terhadap mual muntah (9,76) dibandingkan dengan kelompok rebusan jahe (6,66), sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian rebusan daun mint lebih efektif dibandingkan jahe.
Pembahasan
Derajat Mual Muntah Sebelum dan Sesudah Diberikan Rebusan Jahe dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon
Tabel 4.1 menunjukkan nilai median pada kelompok jahe pada titik 3.00 sedangkan nilai mediun kelompok daun mint pada titik 2.00.
Berdasarkan pada tabel tersebut bahwa, sebelum diberikan intervensi berupa kedua terapi rebusan jahe dan terapi daun mint, responden memiliki derajat mual dan muntah sedang (4-6), kemudian diberikan terapi selama satu bulan pada kedua grup responden ini yaitu grup satu diberikan terapi rebusan jahe dan grup ke dua diberikan rebusan daun mint. Hasilnya terjadi penurunan pada derajat mual sedang menjadi derajat mual muntah ringan (1-3). Jika dilihat mana yang lebih efektif untuk mengatasi mual dan muntah dari hasil pengambilan data, didapatkan grup responden yang diberikan terapi rebusan daun mint lebih banyak yang mengalami penurunan derajat mual muntah ringan, dibandingkan dengan grup responden yang diberikan terapi rebusan jahe.
Tiran (2009) mengemukakan bahwa mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu aktivitas sehari-hari karena keadaan umum pasien yang buruk akibat dehidrasi. Mual muntah berlebihan pada kehamilan atau dinamakan dengan Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi, karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, maka terjadilah ketosis dengan tertimbunya asam aseton asetik, asam hidroksi butirik, dan aseton dalam darah.
Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan akibat muntah akan menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstra vaskuler dan plasma akan berkurang. Natrium
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
19 dan khlorida darah turun, demikian juga denganklorida urine. Selain itu, dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehigga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang dan tertimbunya zat metabolik dan toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, meningkatkan frekuensi muntah yang lebih banyak, merusak hati, sehingga memperberat keadaan penderita 19.
Beberapa upaya untuk mengatasi keadaan seperti ini selama kehamilan trimester satu dengan menggunakan terapi farmakologi menggunakan obat obatan anti mual. Tetapi tidak memungkinkan banyak terjadinya efek samping karena penggunaan obat-obatan tersebut. Sehingga ada beberapa alternatif yang dapat dijadikan sebagai terapi komplementer dengan menggunakan terapi nonfarmakologi, yaitu penggunaan air rebusan jahe dan rebusan daun mint.
Jahe merupakan salah satu jenis tanaman obat yang biasanya digunakan sebagai bumbu dapur karena dapat menambah cita rasa yang khas pada masakan. Beberapa hasil penelitian membuktikan khasiat rimpang jahe, diantaranya adalah memiliki aktivitas antidiare, antimikrobia, antioksidan, antihepatotoksik dan antipiretik.
Sebagian besar ahli mengatakan bahwa dosis aman jahe untuk mengatasi mual dan muntah adalah sekitar 1.000–1.500 mg per hari. Tetapi, dosis lebih dari itu justru dinilai tidak efektif dan berisiko menimbulkan efek samping. Jahe juga diduga memiliki efek samping pada kehamilan, seperti kejadian berat badan lahir rendah, cacat lahir atau keguguran pernah dilaporkan pada beberapa ibu hamil yang mengonsumsi jahe, mempengaruhi hormon seks bayi dan meningkatkan risiko terjadinya bayi meninggal di dalam kandungan. Walaupun begitu, risiko terjadinya hal ini masih dianggap rendah.
Menurut pakar herbal dr.
Abrijanto, jahe yang diseduh dengan air panas yang suhunya mendekati mendidih (100 derajat celcius) akan kehilangan senyawa aktif di dalamnya. Beberapa ahli juga mengatakan adanya peningkatan risiko perdarahan dengan konsumsi jahe. Oleh karena itu, jahe tidak disarankan untuk ibu hamil yang sudah mendekati persalinan atau yang mengonsumsi obat antikoagulan. Jahe memang terbukti efektif untuk mengurangi mual pada
ibu hamil. Namun, penggunaannya harus tetap melalui pertimbangan antara manfaat dan risiko.
Sedangkan daun mint (Mentha piperita L.) merupakan salah satu tanaman herbal aromatik penghasil minyak atsiri yang disebut minyak permen (peppermint oil).
Apabila minyak permen (peppermint oil) diproses lebih lanjut akan diperoleh kandungan menthol. Menthol berkhasiat sebagai obat karminatif (penenang), antispasmodic (antibatuk) dan diaforetik (menghangatkan dan menginduksi keringat).
Minyak Mentha piperita L. mempunyai sifat mudah menguap, tidak berwarna, berbau tajam dan menimbulkan rasa hangat diikuti rasa dingin menyegarkan.
Minyak ini diperoleh dengan cara menyuling ternanya (batang dan daun), sehingga minyak yang sudah diisolasi mentholnya disebut dementholized oil (DMO).
Pada keadaan ibu hamil trimester satu yang mengalami mual dan muntah, penggunaan rebusan daun mint ini dapat memberikan kehangatan dan diikuti rasa dingin yang menyegarkan, sehingga efektif untuk meminimalisir keluhan mual dan muntah pada ibu hamil tersebut, efek samping pada ibu hamil belum ditemukan pada kasus kehamilan trimester satu yang rutin mengkonsumsi air rebusan daun mint ini. Sehingga jika kita lihat hasil pengumpulan data diantara kedua grup, grup yang signifikan mengalami penurunan derajat mual dan muntah ringan adalah kelompok atau grup yang rutin mengkonsumsi air rebusan daun mint dibandingkan dengan kelompok yang rutin mengkonsumsi air rebusan jahe.
Efektifitas Sesudah Diberikan Rebusan Jahe Dan Rebusan Daun Mint di Puskesmas Pabuaran Kabupaten Cirebon
Berdasarkan tabel 4.2, memperlihatkan rata-rata intensitas derajat mual muntah pada ibu hamil sesudah diberikan pada kelompok rebusan jahe p-value (0,028) >
α (0,05) dengan kesimpulan tidak ada perbedaan yang signifikan sesudah pemberian rebusan jahe. Sedangkan pada kelompok rebusan daun mint adalah 18,83 dengan standar deviasi 0,516 dan 12,17 nilai rata-rata intensitas mual muntah sesudah diberikan rebusan jahe dengan standar deviasi 0,828.
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
20 Hasil analisa diperoleh padakelompok pemberian rebusan daun mint diperoleh p- value (0,001) < α (0,05) dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan setelah pemberian rebusan daun mint, Hasil Mean rank pretest dan posttest untuk kedua kelompok eksperimen, didapatkan hasil rebusan daun mint lebih efektif terhadap mual muntah (9,76) dibandingkan dengan kelompok rebusan jahe (6,66), sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian rebusan daun mint lebih efektif dibandingkan jahe.
Iriati (2014) menjelaskan bahwa,
kehamilan merupakan proses
berkesinambungan yang dimulai dari ovulasi, konsepsi, nidasi, implantasi dan perkembangan embrio di dalam uterus hingga aterm. Setiap proses dalam kehamilan merupakan kondisi krisis yang memerlukan adaptasi psikologis dan fisiologis terhadap pengaruh hormon kehamilan dan tekanan mekanis akibat pembesaran uterus dan jaringan lain.
Kehamilan mempengaruhi tubuh ibu secara keseluruhan dengan menimbulkan perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi di seluruh sistem organ, sebagian besar perubahan pada tubuh ibu kebanyakan disebabkan oleh kerja hormonal. Perubahan ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan hormon progestrogen dan estrogen yakni hormon kewanitaan yang ada di dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses kehamilan. Beberapa keluhan yang membuat ibu merasa tidak nyaman di antaranya adalah mual dan muntah19.
Wanita hamil sebanyak 50%
mengalami Emesis Gravidarum yang dikenal dengan istilah Morning Sickness (rasa mual di pagi hari) menjadi bagian yang ‘tidak enak’
dalam kehamilan. Menurut Marlina (2016) pada trimester pertama kemungkinan besar wanita akan mengalami mual-mual dengan atau tanpa muntah. Gejala ini di mulai sekitar minggu ke enam kehamilan dan biasanya menurun drastis di akhir trimester pertama (sekitar minggu ke-13). Perubahan saluran cerna dan peningkatan kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dalam darah menimbulkan beberapa keluhan yang membuat ibu merasa tidak nyaman saat kehamilan, diantaranya mual dan muntah.
Emesis gravidarum ini menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga terdapat perubahan keseimbangan elektrolit dengan kalium, kalsium dan natrium yang menyebabkan perubahan metabolisme tubuh.
Emesis gravidarum akan bertambah berat menjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan ibu muntah terus menerus tiap kali minum atau makan, akibatnya tubuh ibu semakin lemah, pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun drastis sehingga cairan tubuh berkurang dan darah menjadi kental (hemokonsentrasi) sehingga melambatkan peredaran darah yaitu oksigen dan jaringan sehingga dapat menimbulkan kerusakan jaringan yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan perkembangan janin yang dikandungnya21.
Berdasarkan hasil dengan menggunakan uji mann-withney diperoleh p- value (0,001) < α (0,05) dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan setelah pemberian daun mint, sedangkan nilai p-value (0,028) > α (0,05) dengan kesimpulan tidak ada perbedaan yang signifikan sesudah pemberian rebusan jahe. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Najaran (2001) tentang perbandingan kombinasi jahe dengan plasebo dan hanya menggunakan plasebo saja untuk mual muntah pada ibu hamil, dengan hasil daun mint bekerja efektif untuk mengatasi gejala mual dan muntah yang timbul selama masa kehamilan bahkan hiperemesis gravidarum, karena daun mint berkhasiat mengendurkan dan melemahkan otot-otot pada saluran pencernaan sehingga mengurangi mual muntah pada ibu hamil. Hasil penelitian ini justru berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Saswita (2006) tentang efektifitas minuman jahe dalam mengurangi mual muntah pada ibu hamil trimester I dengan hasil pemberian minuman jahe 4x sehari selama 4 hari terjadi penurunan mual muntah. Sesuai dengan hasil penelitian ini, pemberian rebusan daun mint lebih efektif dibanding jahe, walaupun jahe mempunyai kandungan minyak atsiri yang dapat memblok serotinin dalam saluran pencernaan sehingga memberikan rasa nyaman dalam perut dan mengatasi mual muntah, tetapi jika pemberian nya tidak sesuai justru akan berakibat efek samping pada ibu hamil.
Kesimpulan
1. Kelompok yang diberikan terapi rebusan daun mint lebih banyak yang mengalami penurunan derajat mual muntah ringan, dibandingkan dengan grup responden yang diberikan terapi rebusan jahe.
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
21 2. Pemberian rebusan daun mint lebih efektifdibandingkan air rebusan jahe pada ibu hamil trimester satu.
Saran
1. Sebagai bahan referensi bagi pemberi pelayanan kesehatan dalam memberikan konseling bagi ibu hamil yang mengalami keluhan mual dan muntah sebagai terapi nonfarmakologis.
2. Memberikan alternatif nonfarmakologis dan variasi jenis minuman selama kehamilan pada ibu hamil trimester satu.
3. Sebagai bahan referensi untuk membandingkan efektifitas beberapa terapi nonfarmakologis bagi penelitian selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Gunanegara, R. F. et al. 2009. Perbandingan Efektivitas Kombinasi Ekstrak Jahe dan Piridoksin dengan Piridoksin Saja dalam Mengurangi Keluhan Mual Muntah pada Wanita Hamil. J.
Kedokt. Maranatha 9, 24–33.
Amelia, R. & Isna, S. 2017. Effectiveness of Dark Chocolate and Ginger on Pain Reduction Scale in Adolescent Dysmenorhea. J. Kebidanan 6, 73–
81
Hidayati, R. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Kehamilan Fisiologis dan Patologis. Jakarta: Salemba Medika Suwarni. 2007. Hubungan Karakteristik Ibu
Hamil Trimester I dengan Morning Sickness di Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan Badan Pelayanan Kesehatahan RSU DR Zainoel Abidin Banda Aceh. J. N Keperawatan1, 50–59.
Maulana, M. 2008. Penyakit Kehamilan dan Pengobatannya. Jakarta: kata Hati Smith, dkk. 2009. Efektivitas Konsumsi
Ekstrak Jahe dengan Frekuensi Mual Muntah pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran.
Supriyanto. W. 2009. Sehat dan Bugar Saat Hamil dan Melahirkan, Yogyakarta:
Media Ilmu
Tiran D. 2009. Pendekatan pada kehamilan.
Didalam: Mual dan muntah kehamilan. Jakarta: EGC
Booth, N.K. 1983. Basic Elements of Landscape Architectural Design.
New York: Ohio State University.
Putri, A. D., Andiani, D. 2017. Kesehatan, F.
I., Parepare, U. M. & Selatan, S.
Efektifitas pemberian jahe hangat dalam mengurangi frekuensi mual muntah pada ibu hamil trimester I.
Saswita. 2011. Efektifitas Minuman Jahe Dalam Mengurangi Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I.Pekanbaru: Jumal Ners Indonesia, Vol. 1, No. 2, Maret Rimonta F. Gunanegara, Syafriani Tanjung,
Aloysius Suryawan. Perbandingan Efektivitas Kombinasi Ekstrak Jahe dan Piridoksin dengan Piridoksin Saja dalam Mengurangi Keluhan Mual Muntah pada Wanita Hamil.
Bandung: JKM. Vol.9 No.1 Juli 2009: 24-33
Basirat, Z. et al. 2009. The effect of ginger biscuit on nausea vomiting in early pregnancy. Acta Medica Iranica.
Jennifer R. Niebyl, M.D. Nausea and Vomiting in Pregnancy. N Engl J Med 2010;
363:1544- 1550 DOI:
10.1056/NEJMcp1003896
Chatur Dhian Parwitasari1, Sri Utami, Siti Rahmali. 2016. Perbandingan Efektivitas Pemberian Rebusan Jahe Dan Daun Mint Terhadap Mual Muntah Pada Ibu Hamil
Sri Banun Titi Istiqomah, Dian Puspita Yani, Suyati. 2016. Pengaruh Efektifitas Pemberian Seduhan Daun Peppermint Pada Ibu Hamil Terhadap Penurunan Frekuensi Emesis Gravidarum
Asikin, M.D. and Nuralamsyah, M., 2017.
Keperawatan Medikal Bedah Sistem Kardiovaskular.
Detty Afriyanti S. 2017. Efektivitas Wedang Jahe Dan Daun Mint Untuk Mengurangi Mual Muntah Pada Ibu Hamil di PMB YF Kota Bukittinggi.
e-ISSN:2528-66510;Volume 2;No.3 Tahun 2017 Jurnal Human Care.
Diakses tanggal 20 maret 2020 Iriati, B., et al., et al. 2014. Asuhan Kehamilan
Berbasis Bukti. Jakarta: Agung Seto.
Tiran, Denise. 2009. Mual MuntahKehamilan.
Jakarta: Buku Kedeokteran ECG.
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol. 2 No. B Tahun 2020
22 Prawirohardjo, Sarwono. 2005. IlmuKebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Widiastuti, R and Susilo, Z K. 2002. Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan.
Yogyakarta : Ford Foundation.
Runiari, Nengah. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis Gravidarum. Jakarta : Salemba Medika, 2010.
Ramadhan, Ahmad. 2013. Aneka Manfaat Ampuh Rimpang Jahe untuk Pengobatan. Yogyakarta : Diandra Pustaka Indonesia.
Hernani and Winarti, Christina. 2013.
Kandungan Bahan Aktif Jahe dan Pemanfaatannya dalam Bidang Kesehatan. Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Wiraharja, Regina Setya, et al., et al. 2010.
Kegunaan Jahe Untuk Mengatasi Gejala Mual dalam Kehamilan. 3, Jakarta : Jurnal of Medicine, 2011, Vol. 1, pp. 161- 170.
Marlina, H. 2016. Manfaat Permen Jahe dan Permen Mint Dalam Mengatasi Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Pekanbaru. Skripsi.
Program Studi (S1) Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Hang Tuah Pekanbaru
Najaran, T. Z., Talasaz-Firoozi, E., Nasiri, R., Jalali, N., & Hassanzadeh, M. K.
2013. Antiemetic activity of volatile oil from Mentha spicata and Mentha
× piperita in chemotherapy-induced
nausea and vomiting.
Ecancermedicalscience.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sastroasmoro S. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Sagung Seto