• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KEPENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL KEPENDIDIKAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

228 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 DOI: https://doi.org/10.24090/jk.v7i2.3043 e-ISSN 2598-4845; p-ISSN 2355-018X

JK 7 (2) (2019) 228-239

JURNAL KEPENDIDIKAN

http://jurnalkependidikan.iainpurwokerto.ac.id

Jurnal Kependidikan is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International Lisence

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

Siti Khusnul Bariyah

Institut Agama Islam Negeri Purwokerto [email protected]

Abstract

Education is an obligation for all people. The education process starts from the cradle to the grave. Ki Hajar Dewantoro's theory of the educational center is very appropriate to develop, which is what happens in families, communities and schools. Family education is very important, especially when the child is still in the womb until pre-school age.

Family education uses more exemplary methods. What the family member does, will be imitated by the child. Not only an example, but also direction, appeal and prohibition.

The community is also the center of education. After a child is born into the world, he not only interacts with his family, but also the surrounding environment, one of which is the community. Customary habits in the community will affect the growth and development of children. In addition, when the child has started playing outside, he will interact a lot with the community. That's where children learn about life outside the family. Likewise, schools as a means of developing human potential to be able to carry out their duties and position themselves in the community.

Keywords tripusat education, personality, children

Abstrak

Pendidikan merupakan kewajiban bagi seluruh umat. Proses pendidikan dimulai dari buaian hingga ke liang lahat. Teori Ki Hajar Dewantoro tentang tripusat pendidikan sangat tepat dikembangkan yakni yang terjadi dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.

Pendidikan keluarga sangat penting, apalagi ketika anak masih dalam kandungan hingga usia pra sekolah. Pendidikan keluarga lebih banyak menggunakan metode tauladan. Apa yang dilakukan anggota keluarga, akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya teladan, namun juga arahan, himbauan dan larangan. Masyarakat juga menjadi pusat pendidikan. Setelah seorang anak lahir ke dunia, dia tidak hanya berinteraksi dengan keluarganya, tetapi juga lingkungan sekitar yang salah satunya adalah masyarakat. Adat kebiasaan di masyarakat akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Selain itu, ketika anak sudah mulai bermain di luar, dia akan banyak berinteraksi dengan masyarakat. Di situlah anak belajar tentang kehidupan di luar keluarga. Demikian juga dengan sekolah sebagai sarana pengembangan potensi manusia agar mampu menjalankan tugasnya dan memposisikan diri di masyarakat.

Kata Kunci tripusat pendidikan, kepribadian, anak

(2)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 229 A. Pendahuluan

Tripusat pendidikan pertama dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan (Tim, 2003:13). Yang dimaksud dengan tripusat pendidikan adalah semua manusia akan selalu berada dalam perkembangan tiga lembaga pendidikan, yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga lembaga pendidikan ini saling terpadu, dalam mengembangkan masyarakat. Dengan adanya tripusat pendidikan ini, menjelaskan bahwa proses pendidikan berlangsung seumur hidup, tidak ada berhentinya.

Tata kehidupan manusia secara menyeluruh dijadikan dasar untuk dapat memahami tata kehidupan pendidikan. Secara sederhana, dapat kita lihat dalam reallitas kehidupan bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan keluarga, keluarga sebagai kelompok terkecil masyarakat sangat dipengaruhi oleh tingkah laku masyarakat. Hubungan timbal balik antara keluarga dan masyarakat sebagai sarana terjadinya proses pendidikan.

Lembaga pendidikan keluarga dan lembaga pendidikan masyarakat berlangsung alamiah dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan kebudayaan manusia. Dalam kebudayaan masyarakat, terdapat struktur kelembagaan yang lebih komplek, seperti pembagian peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan lembaga, tugas, dan tanggungjawab sendiri dalam kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya kelembagaan yang mengatur tentang pendidikan secara intensif. Dalam masyarakat modern, lembaga pendidikan itu disebut sengan seolah.

Maka, dalam kehidupan manusia ada tiga lembaga pendidikan, yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah.

B. Tripusat Pendidikan

Suparlan menuliskan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang seutuhnya, Ki Hadjar Dewantara mengajukan konsep tri pusat pendidikan, yaitu: Pertama, pendidikan keluarga(Suparlan, 2014: 1). Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa dalam sistem Taman Siswa, keluarga mendapat tempat yang luhur dan istimewa karena keluarga merupakan lingkungan yang kecil, tetapi keluarga merupakan tempat yang suci dan murni dalam dasar-dasar sosialnya, oleh sebab itu keluarga merupakan satu pusat pendidikan yang mulia. Dalam lingkungan keluarga, seseorang dapat menerima segala tradisi mengenai hidup kemasyarakatan, keagamaan, kesenian, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Ki H adjar Dewantara mengatakan bahwa hak mendidik anak, dalam sifat, bentuk, isi, dan alirannya, pada dasarnya ada pada orang tua bukan pada pihak lain. Pandangannya itu dasari oleh pandangan bahwa dalam diri orang tua tergabung berbagai golongan baik itu golongan kebangsaan, kerakyatan atau keagamaan dan golongan itulah yang memiliki hak untuk menetapkan sifat, bentuk, isi, dan aliran pendidikan untuk kepentingan anak-anak (Ki Hadjar, 1957:37).

Kedua, pendidikan dalam alam perguruan. Ki Hadjar Dewantara menola k pandangan bahwa pendidikan sosial merupakan tugas sekolah. Bagi Ki Hadjar Dewantara, selama sistem sekolah masih bertujuan untuk pencarian dan pemberian

(3)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

230 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 ilmu pengetahuan dan kecerdasan pikiran maka pengaruhnya tidak akan terlalu banyak. Pendidikan dalam alam perguruan berkewajiban untuk mengusahakan kecerdasan pikiran dan pemberian ilmu pengetahuan. Apabila sekolah dan keluarga berpisah maka pendidikan yang dihasilkan dalam ruang keluarga akan selalu sia -sia, sebab pengaruh sekolah yang mengasah intelektual yang sangat kuat. Ki Hadjar Dewantara mencontohkan pada waktu itu, anak-anak harus mengasah inteleknya setiap hari kurang lebih selama 8 jam. Oleh sebab itu sekolah tidak dapat berpisah dengan kehidupan keluarga. Sekolah dan keluarga dapat saling mengis i dan melengkapi agar dapat mencapai tujuan pendidikan.

Ketiga, pendidikan dalam alam pemuda. Konsep ini muncul dilatarbelakangi karena pergerakan pemuda pada waktu itu yang sebagian meniru perikalu barat. Pada masa pergerakan kemerdekaan, pergerakan pemuda tampak memisahkan antara anak-anak dan keluarganya. Ki Hadjar Dewantara melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang berbahaya, misalnya tidak selesainya pendidikan budi pekerti atau kurang berhasilnya pendidikan budi pekerti, oleh sebab itu Ki Hadjar Dewan tara memasukkan pergerakan pemuda sebagai pusat pendidikan. Pergerakan pemuda merupakan dukungan yang besar bagi pendidikan, baik yang menuju pada kecerdasan jiwa maupun budi pekerti, serta yang menuju pada perilaku sosial, maka dipandang perlu untuk menjadikan pergerakan pemuda sebagai pusat pendidikan dan memasukkannya dalam rencana pendidikan. Pendidikan dalam alam pemuda sama halnya pada dasar kemerdekaan yang memberikan kemerdekaan dalam batasan tertentu. Mungkin konsep ini bila diterapkan pada masa kini dapat menolong dalam menghadapai berbagai masalah kehidupan moral generasi muda bangsa Indonesia (I Putu, 2016).

1. Keluarga

a. Pendidikan dalam Keluarga

Keluarga dapat diartikan sebagai sebuah kelompok untuk dua orang atau lebih yang bertempat tinggal bersama dimana terjadi hubungan darah, perkawinan atau adopsi (Vembriarto, 1990: 36). Ada juga pengertian lain yang dikutip oleh Vembriarto yaitu keluarga merupakan kelompok yang dijadikan interaksi orang-orang yang saling menerima satu dengan yang lain satu den gan yang lain berdasarkan asal usul perkawinan atau adopsi. Khairudin sebagaimana dikutip oleh Nurul Hidayati menjelaskan bahwa keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yaitu ayah, ibu, anak dimana hubungan sosial antar keluarga bersifat tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan atau adopsi yang dijiwai kasih sayang dan tanggung jawab (Nurul, 2016: 214).

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling utama karena dalam keluarga itu manusia dilahirkan, dibesarkan, dididik agar mampu menyerap norma-norma yang dijunjung tinggi keluarga, serta dilindungi dengan penuh kasih sayang. Dalam hubungan keluarga ini, orang tua berperan merawat, memelihara, dan melindungi anak dalam rangka sosialisasi agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Keluarga merupakan wadah yang sangat penting di antara individu dan grup, yang mana merupakan kelompok sosial

(4)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 231 pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya. Ibu, ayah dan saudaranya merupakan orang pertama dimana anak-anak mengalami kontak langsung dan mengajari sebagaimana dia hidup dengan orang lain. Hingga anak -anak memasuki sekolah, sebagian hidup mereka dengan keluarga, kebersamaannya ditaksir mencapai setengah waktunya dihabiskan bersama keluarga (Abu, 1991:

108).

Pendidikan dalam keluarga adalah proses pembelajaran yang terjadi yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Orang tua yang bersikap logis harus menampakkan mana perbuatan yang benar dan salah atau baik, buruk. Sikap ini ditampilkan oleh orang tua agar seorang anak mampu membedakan tingkahlaku mereka dalam melakukan hubungan sosial, baik dengan teman-temannya yang seumuran atau dikala dewasa nanti. Selain itu, bersikap etis sangat penting dalam menjelaskan dasar dari setiap perbuatan.

Dengan kata lain, orang tua harus bersikap yang didasarkan pada patokan tertentu, sehingga tidak asal didalam bertindak dan memberi arahan. Orang tua harus menciptakan suasana menyenangkan bagi seorang anak (Machful, 2015:

45).

b. Fungsi Keluarga dalam Pendidikan

Menurut Oqbum fungsi keluarga meliputi fungsi kasih sayang, ekonomi, pendidikan, perlindungan atau penjagaan, rekreasi, status keluarga dan agama (Abu, 1991: 108). fungsi keluarga membuat interaksi antar anggota keluarga selalu eksis. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan, keluarga tidak lepas dari pengaruh- pengaruh tersebut, hingga apa yang terjadi di masyarakat, berpengaruh juga di keluarga. Proses industrialisasi, urbanisasi serta sekurelisasi telah merubah sebagian fungsi keluarga. Diantara fungsi yang berubah adalah (M. Padil, 2007: 117):

1) Fungsi pendidikan. Pada awalnya, keluarga merupakan satu -satunya institusi pendidikan. Secara informal, keluarga tetap penting, namun secara formal, fungsi pendidikan beralih ke sekolah. Pendidikan di sekolah menjadi sangat penting, tidak hanya pada pendidikan intelektual, melainkan juga pada pendidikan pribadi anak.

2) Fungsi rekreasi. Dulu, keluarga sebagai tempat rekreasi paling menarik, namun sekarang sudah dialihkan ke tempat lain di luar lingkungan keluarga. Gedung bioskop, kebun binatang, wisata alam, pusat perbelanjaan dan sebagainya merupakan tempat rekreasi keluarga.

Keluarga hanya sebagai tempat berkumpul untuk istirahat selepas aktiifitas sehari-hari.

3) Fungsi keagamaan. Sebagai pengendali nilai-nilai religius, keluarga bukan pengendali utama setelah sekurelisasi. Segala bentuk ajaran agama telah diambil oleh institusi keagamaan sehingga yang disebut sekolah individual tidak lagi diakui di masyarakat. Masyarakat lebih melihat sekolah sosial sebagai tolak ukurnya. Agama bersifat simbolik universal dengan maraknya kegiatan agama sakralitas.

(5)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

232 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 4) Fungsi perlindungan. Dahulu, keluarga merupakan tempat yang nyaman

untuk melindung anggota keluarganya, baik fisik maupun sosial.

Namun sekarang, institusi sosial telah mengambil posisi tersebut.

Seperti perawatan anak cacat tubuh dan mental, yatim piatu, panti jompo, anak nakal, asuransi jiwa dan sebagainya.

Dari fungsi keluarga yang dapat berubah diatas, ada pula fungsi keluarga yang tidak dapat terpengaruh oleh industrialisasi, urbanisasi, dan sekulerisasi, yaitu:

1) Fungsi Biologis. keluarga adalah institusi lahirnya generasi manusia.

Anak yang lahir diluar keluarga, seperti anak yang lahir tanpa bapak, anak hasil zina, bayi tabung dipandang tidak sah oleh masyarakat.

Namun dari sisi lain, fungsi biologis mengalami pergeseran dari sisi jumlahnya. Kecenderungan keluarga modern hanya menghendaki anak sedikit.

2) Fungsi sosialisasi. Melalui interaksi dalam keluarga, anak mempelajari tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadian.

3) Fungsi afeksi. Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Afeksi muncul sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan. Hubungan cinta kasih mengakibatkan terjadinya hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, dan persamaan pandangan tentang nilai-nilai kehidupan.

c. Peran Keluarga dalam Pendidikan

Keluarga selain memiliki fungsi, juga memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal-hal yang dianggap penting bahwa keluarga mempunyai peranan kunci adalah :

1) Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota-anggotanya berinteraksi face to face secara tetap. Dalam kelompok yang demikian, perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.

2) Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan buah cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dengan anak.

Hasil penelitian membuktikan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif daripada hubungan intelektual dalam proses pendidikan.

3) Karena hubungan keluarga bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses pendidikan anak (Triyo, 2007: 121).

2. Masyarakat

a. Pendidikan dalam Masyarakat

Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu bentuk dengan tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri. Maksudnya adalah masyarakat merupakan wadah dan wahana pendidikan. Dalam arti terperinci, masyarakat

(6)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 233 adalah sekelompok manusia yang menempati daerah tertentu menunjukkan integrasi berdasarkan pengalaman bersama berupa kebudayaan memiliki sejumlah lembaga yang memiliki kepentingan bersama mempunyai kesadaran dan kesatuan tempat tinggal dan dapat bertindak bersama.

Ada dua hal yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia, yaitu sistem nilai dan struktur kekuasaan. Nilai sosial apabila sudah disepakati oleh orang banyak maka nilai-nilai tersebut akan dipandang sebagai hal yang menyangkut kesejahteraan bersama. Nilai sosial selalu berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia. Nilai akan selalu melekat pada etika dan moral masyarakat, sehingga apa yang menjadi kebutuhan atau cita -cita yang dianggap baik oleh masyarakat luas, menjadi pedoman dalam hidup bersama di masyarakat. Struktur kekuasaan sangat dibutuhkn oleh manusia, di masyarakat terdapat tokoh atau kelompok yang berusaha mengambil keputusan dan melaksanakan berdasarkan otoritas yang ada padanya. Kekuasaan dapa digunakan baik untuk kepentingan umum atau kepentingan pribadi ma upun kelompok. Kekuasaan sebagai alat untuk menciptakan struktur dan sistem soaial yang lebih baik (Triyo, 2007: 193).

Dalam pengelompokan sering dibedakan menjadi kelompok primer dan kelompok sekunder. Kelompok primer adalah kelompok pertama dimana ia mula-mula berinteraksi dengan orang lain, yakni keluarga, kelompok sepermainan, dan lingkungan tetangga. Dalam kelompok primer terdapat hubungan tatap muka langsung dalam suasana akrab. Dalam kelompok ini ia mempelajari kebiasaan yang fundamental seperti bahasa, soal baik buruk, kemampuan untuk mengurus diri sendiri, kerja sama dan bersaing, disiplin dan sebagainya. Kelompok sekunder dibentuk dengan sengaja atas pertimbangan tertentu berdasarkan kebutuhan tertentu seperti perkumpulan profesi, organisasi agama, partai politik. Anggotanya mungkin tak pernah saling bertemu.

Kelompok sekunder ini dapat hidup lama melampaui suatu generasi (Nasution, 2014: 60).

b. Fungsi Lembaga Masyarakat

Masyarakat salah satu lembaga pendidikan dimaksudkan adalah terbinanya anggota masyarakat menjadi warga yang baik dan berdasarkan nilai, norma, etika, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam masyarakat. Terbentuknya manusia ideal, sempurna dan sukses tidak terlepas dari peranan dan fungsi masyarakat. Melalui lembaga msyarakat terjadi proses pendidikan yang dapat membentuk kepribadian manusia. Lembaga masyarakat memberikan pelayanan secara maksimal berdasarkan fungsinya. Fungsi lembaga masyarakat adalah:

1) Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah- masalah dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan.

2) Menjaga keutuhan masyarakat.

3) Memberikan pegangan pengendalian sosial, intinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggota masyarakatnya (Triyo, 2007: 196).

(7)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

234 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 c. Peran Masyarakat dalam Pendidikan

Masyarakat merupakan satu faktor pokok yang mempengaruhi pendidikan.

Dari masyarakat proses pendidikan mengambil peranan penting. Masyarakat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir dan bertindak yang relatif sama dan menyadari diri sebagai satu kesatuan.

Masyarakat berasal dari kelompok-kelompok keluarga terkecil yang semakin besar menjadi (RT) dari beberapa rukun tetangga meluas akhirnya menjadi lingkungan rukun warga (RW) dan dari beberapa rukun warga (RW) meluas menjadi dusun, kemudian desa atau masyarakat demikian seterusnya. Di dalam lingkungan masyarakat terdapat pranata sosial yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat. Seperti aturan perkawinan, pertunangan, pergaulan, dan seterusnya. Semua norma tersebut harus dipatuhi oleh seluruh anggotanya, dan bila dilanggar maka akan dikucilkan atau ditolak oleh masyarakat eksistensinya.

Masyarakat dalam kiprahnya sangat mempengaruhi pendidikan baik tujuan pendidikan maupun prakteknya. Apa yang diajarkan dan dibudayakan tentang nilai-nilai dalam pendidikan tidak boleh bertentangan dengan nilai -nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat. Apa yang dianggap luhur dalam suatu masyarakat juga akan diajarkan dan dibudayakan dalam pendidikan. Sebagai contoh di daerah tertentu yang selalu melakukan kegiatan keagamaan jamiyyah yasinan, tahlilan, barzanjian, manaqiban, dan seterusnya maka di sekolah juga akan diajarkan tentang yasinan, tahlilah, barzanjian, dan manaqiban serta menanamkan budaya yasinan, tahlilan, barzanjian, manaqiban dan seterusnya melalui kegiatan ekstra kurikuler atau dalam rangka memperingati hari -hari besar Islam dan sebagainya.

Masyarakat yang peradabannya maju, pendidikannya tinggi maka akan mempengaruhi pendidikannya juga maju. Sebaliknya masyarakat yang pendidikannya rendah maka pendidikan yang berkembang di masyarakat tersebut juga kurang baik (Nurul, 2016: 221).

3. Sekolah

a. Pendidikan dalam Sekolah

Sekolah adalah satuan pendidikan yang merupakan kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan (Sisdiknas, 2003: 12).

Pendidikan formal kita kenal sebagai pendidikan sekolah yaitu pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (Nurul, 2016: 219).

Pendidikan dalam sekolah adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sekolah mempunyai tujuan untuk membimbing, mengarahkan dan mendidik sehingga lembaga tersebut menghendaki kehadiran kelompokkelompok umur tertentu dalam ruangruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum bertingkat. Bertolak dari konsep tersebut

(8)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 235 pendidikan sekolah dalam mengantarkan dan mengarahkan anak untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, tidak terlepas dari usaha dan upaya guru yang telah menerima limpahan tanggung jawab dari orang tua atau keluarga. Sebab berdasarkan kenyatan orang tua tidak cukup mampu dan tidak memiliki waktu untuk mendidik, mengarahkan anak secara baik dan sempurna. Hal itu disebabkan karena keterbatasan dan kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anaknya setiap saat Maka dari itu tugas guru disamping memberikan ilmu-ilmu pengetahuan, keterampilan keterampilan juga mendidik anak beragama dan berbudi pekerti luhur (Machful, 2015: 45).

Di sekolah, anak berinteraksi dengan guru-guru beserta bahan-bahan pendidikan dan pengajaran, teman peserta didik lainnya, serta pegawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal di sekolah berupa pembentukan nilai - nilai pengetahuan, ketrampilan dan sikap terhadap bidang studi mata pelajaran.

Akibat bersosialisasi dengan pendidikan formal, terbentuklah kepribadiannya untuk tekun dan rajin belajar disertai keinginan untuk meraih cita-cita akademis yang setinggi-tingginya. Sebaliknya, akibat berinteraksi dengan teman -teman sekolahnya yang kurang tertib sekolahnya, pembolos, malas belajar dan kurang dapat mengendalikan diri untuk mengatasi sikap-sikap yang tidak akademis.

Maka, terpengaruhlah kepribadiannya menjadi kurang atau tidak produktif dalam belajar. Akibatnya, prestasi akademisnya pun merosot, s ampai tidak tamat atu putus sekolah (Muhammad, 2014: 91).

b. Fungsi Sekolah dalam Pendidikan

Menurut David Popenoe fungsi sekolah ada empat, yaitu : 1) Transmisi kebudayaan masyarakat

2) Menolong individu memilih dan melakukan peranan sosialnya 3) Menjamin integrasi sosial, sebagai sumber inovasi sosial.

Menurut S. Nasution fungsi pendidikan sekolah meliputi:

1) Sekolah memberikan ketrampilan dasar

2) Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib 3) Sekolah mempersiapkan anak-anak suatu pekerjaan 4) Sekolah menyediakan tenaga pembangunan

5) Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial 6) Sekolah mentransmisi kebudayaan

7) Sekolah membentuk manusia yang sosial

8) Sekolah merupakan alat transformasi kebudayaan (Triono, 2007: 149).

c. Peran Sekolah dalam Pendidikan

Driyarkara sebagaimana dikutip Nurul hidayati mengatakan bahwa pengajaran dan pendidikan di sekolah menyiapkan manusia muda menjadi warga masyarakat yang cakap, susila, sempurna, dan bernilai. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan utama yang kedua setelah lingkungan keluarga.

Peran sekolah adalah meneruskan pendidikan dari keluarga untuk menyiapkan peserta didik dapat menjadi warga masyarakat, bangsa dan negara secara baik, bermoral, dan beranggung jawab serta diharapka akan mampu

(9)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

236 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 meningkatkan dan mengisis pembangunan di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Proses pendidikan adalah tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan.

Proses transmisi meliputi proses imitasi, identifikasi, dan sosialisasi. Imitasi adalah peniruan tingkah laku dengan lingkungan sekitar, sedang unsur imitasi itu tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya model atau figur yang harus ditiru oleh karena itu dibutuhkan proses identifikasi. Proses identifikasi berjalan sepanjang hayat sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda terhadap identifikasi budaya semua itu tergantung pada pengetahuan, pengalaman, pendidikan, latar belakang keluarga, dan seterusnya.

Kemudian nilai-nilai atau unsur budaya tersebut harus disosialisasikan artinya harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata dalam lingkungan yang lebih luas. Nilai-nilai yang dibudayakan di sekolah tersebut harus nilai-nilai yang diakui dan dijunjung tinggi oleh masyarakat (Nurul, 2016: 220).

4. Pengaruh Hubungan Tripusat Pendidikan terhadap Perkembangan Masyarakat

Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sebenarnya dipengaruhi oleh faktor heriditas, lingkungan proses tumbuhkembang, dan fitrah. Pertumbuhan selalu diikuti dengan perkembangan. William Crain dalam buku Theo ries of Development, Concepts and Aplications sebagaimana dikutip oleh Nurul Hidayati menjelaskan tentang prinsip-prinsip perkembangan manusia bahwa, pertumbuhan atau perkembangan manusia dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor anak sebagai produk lingkungannya dan kedua perkembangan anak berasal dari dalam yaitu dari aksi gen-gen tubuhnya.

Pertumbuhan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, karena pertumbuhan yang baik akan berpengaruh pada kematangan yang baik pula.

Sedang kematangan tidak mungkin akan tercapai bilamana pertumbuhan mengalami hambatan. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan seperti belum bisa berjalan pada usia perkembangannya maka anak dikatakan mengalami kegagalan dalam pertumbuhan, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan anak berikutnya misalnya anak berjalan dan sebagainya. Hal ini akan berdampak beriktnya anak menjadi minder kurang percaya diri dan seterusnya. Secara psikologis perkembangan manusia memiliki tahapan-tahapan tertentu sebagaimana dijelaskan oleh Piaget mengemukakan ada empat periode perkembangan manusia yaitu (Nurul, 2016:1) :

a. Tahap sensori-motor (dari lahir-2 tahun) bayi mengorganisasikan skema tindakan fisik mereka seperti menghisap, menggenggam dan memukul untuk menghadapi dunia yang muncul di hadapannya. Hal ini terjadi pada awal perkembangan manusia maka anak akan selalu mengandalkan gerakan tangan dan kakinya sebagai usaha untuk mendapatkan yang diinginkan;

b. Tahap pra-operasional (2-7 tahun) anak-anak belajar berpikir menggunakan simbul-simbul dan pencitraan batiniah namun pikiran mereka masih tidak

(10)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 237 sistematis dan tidak logis. Pikiran dititik ini sangat berbeda dengan pikiran orang dewasa.

c. Tahap Operasional kongkrit (7-11 tahun) anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir sistematis namun hanya ketika mereka dapat mengacu kepada objek-objek dan aktivitas-aktivitas kongkret.

d. Tahap operasional formal (11 tahun-dewasa) orang muda mengembangkan kemampuannya untuk berpikir sistematis menurut rancangan yang murni abstrak dan hipotesis.

Dilihat dari tahap-tahap perkembangan manusia diatas dapat dianalisis beberapa kecenderungan yang muncul pada setiap fasenya dengan berbagai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berdasarkan tahapan perkembangan di atas maka berkaitan dengan pendidikan adalah bagaimana mengefektifkan pembentukan karakter dan kepribadian anak sesuai dengan fase perkembangan yang tepat sehingga pendidikan itu sendiri akan lebih efektif.

Dalam perkembangan anak dikenal dengan masa emas perkembangan manusia yaitu tahapan perkembangan dimana anak memiliki potensi besar untuk berhasil dibentuk dan ditanamkan nilai-nilai. Pada masa emas perkembangan ini dimulai pada fase pra operasional sampai operasional kongkrit yaitu diusia 5 -11 tahun. Anak pada masa ini akan berpotensi besar untuk dibentuk dan diarahkan menjadi baik karena pada masa ini anak sangat peka dan baik untuk ditanamkan nilai-nilai yang baik. Oleh karena itu maka lingkungan pendidikan sangat berperan besar dalam pembentukan anak agar menjadi baik.

Tripusat pendidikan akan berhasil manakala mampu memanfaatkan masa ini dengan berbagai pembinaan dan pendidikan yang efektif. Ketiga poros kegiatan utama pendidikan (mengajar, membimbing, dan melatih) peranan ketiganya bervariasi. Kaitan antara tripusat pendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk mewujudkan jati diri yang mantap, penguasaan pengetahuan, dan kemahiran keterampilan (Umar, 2000: 183).

Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan yakni:

a. Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.

b. Pengajaran dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan.

c. Pelatihan dalam rangka pemahiran keterampilan.

Kontribusi itu akan berada bukan hanya antar individu, tetapi juga faktor pusat pendidikan itu sendiri yang bervariasi di seluruhnya. Peningkatan kontribusi setiap pusat pendidikan diharapkan saling memberikan dukungan yang serasi dan seimbang. Lingkungan keluarga akan mendukung adanya kesuksesan pendidikan di sekolah, sedang pendidikan sekolah secar a langsung maupun tidak langsung membantu mengembangkan pengetahuannya sehingga akan berguna dalam memperluas pengetahuan anak untuk dapat memahami peran dan tanggung jawab anak di sekolah, memahami peran pentingnya orang

(11)

Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak

238 | J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 tua, pentingnya mengikuti perintah dan larangan orang tua, tentang segala sesuatu yang terjadi dalam pendidikan dalam keluarga.

Pendidikan dalam keluarga dan sekolah secara langsung akan membawa kontribusi terhadap polarisasi pendidikan dalam masyarakat. Apa yang diajarkan dalam masyarakat mengenai aturan norma-norma yang dijunjung tinggi masyarakat akan dipatuhi dan ditaati oleh warganya karena anak sudah dibiasakan dalam pendidikan keluarga dan sekolah. Karena apa yang dibudayakan dalam sekolah sebenarnya adalah nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat.

Pribadi anak sebagai jati diri berkembang melalui bimbingan dan asuhan dalam keluarga oleh kedua orang tuanya dan dilanjutkan bimbingan dari guru di sekolah hubungan antara siswa dan guru di sekolah juga akan mengembangkan kepribadian anak sebagai lanjutan dari kepribadian yang sudah dibentuk oleh orangtuanya dalam keluarga.

Sekolah menjalankan tugas mengajar, mendidik dan membimbing serta melatih melalui guru yang memiliki fungsi yang berbeda-beda namun secara makro akan membentuk anak yang cerdas, terampil, berbudi pekerti yang baik dan berkepribadian yang sehat. Melalui pengajaran akan meningkatkan pengetahuan anak agar potensi kecerdasannya berkembang baik melalui stimulus-stimulus ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. Sedang mendidik dan membimbing lebih menanamkan nilai-nilai yang baik yang harus dimiliki anak, nilai-nilai ini akan membentuk sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah sehingga dengan nilai tersebut akan membentuk pribadi yang sopan dan berbudi pekerti yang luhur. Selain membekali anak dengan kecerdasan, kepintaran, dan budi pekerti, sekolah sebagai lembaga pendidikan yang formal juga membekali keterampilan – keterampilan yang berguna dalam kehidupan anak dikemudian hari agar anak dapat hidup di masyarakat dengan keterampilan yang dimilikinya itu oleh sebab itu sekolah melatih bakat-bakat khusus yang dimiliki anak yang dengan bakat tersebut berguna dalam hidupnya (Nurul, 2016: 211).

C. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan memainkan peranan yang teramat penting dalam kaitannya dengan kemajuan pembangunan sebuah tatanan masyarakat. Pendidikan memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial yang mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolahan dan lingkungan kemasyarakatan. Tripusat pendidikan diatas merupakan sebuah bangunan ikatan kokoh hubungan antar elemen satu dengan elemen lain yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Apabila mengalami penurunan atau lemah pada posisi keluarga akan memicu dampak baru pada tahap sekolah dan berjalan sampai pada masyarakat. Sebaliknya apabila tipusat pendidikan ini memiliki bangunan yang kokoh satu dengan yang lainnya, pembangunan dan kemajuan suatu peradaban masyarakat akan terwujud.

(12)

Siti Khusnul Bariyah

J u r n a l K e p e n d i d i k a n , V o l . 7 N o . 2 N o v e m b e r 2 0 1 9 | 239 Daftar Pustaka

Ahmadi,Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Darmawan,I Putu Ayub. 2016. Pandangan dan Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantoro. Prosiding Seminar nasional dan Bedah Buku. FKIP UKSW Salatiga.

Dewantara, Ki Hadjar. 1957.Masalah Kebudajaan. Jogjakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Hidayati,Nurul. Konsep Integrasi Tripusat Pendidikan Terhadap Kemajuan Masyarakat. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. Vol. 11, No. 1, Februari 2016.

Kurniawan,Machful Indra. Tri Pusat Pendidikan Sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah Dasa., JOURNAL PEDAGOGIA ISSN 2089 -3833 Volume. 4, No. 1, Februari 2015.

Nasution,S. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Padil, Moh dan Triyo Suprayitno. 2007. Sosiologi Pendidikan. Malang: UIN- Maliki Press.

Rifa’i, Muhammad. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Suparlan, Henricus. 2014. “Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan

Sumbangannya Bagi Pendidikan Indonesia”.Jurnal Filsafat. Vol. 25, Nomor 1, (April 2014):1-19

Tim Dosen IKIP Malang. 2003. Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya:

Usaha Nasional.

Tirtaraharja, Umar dan Lasula. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Vembriarto, ST. 1990. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan tradisi ini, pada akhirnya para ulama/ kiyai pesantren mampu mencetak kaum muslimin di wilayah Kabupaten Pasuruan menjadi masyarakat berbasis pesantren,

Inilah yang membedakan protocol frame relay dengan protocol pendahulunya (contoh : X.25, SNA, dll), bahwa mekanisme penecekan pada level frame data tidak terjadi, di level frame

Evaluasi atas pelaksanaan rencana Bank terkait Aktivitas Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri dapat dituangkan dalam risalah rapat Dewan Komisaris atau laporan pengawasan

• asien dengan /ekerasan dalam Rumah angga adalah pasien yang 66..setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

Bagr mereka ini, sahabdt sahabar yang befrenrangan ito nerupake ohng orang Fng dapat djperayaj dd tidah kelE danjalar yalg beft Oleh karena itu, nereka dda(

Bermain kelompok adalah sebagai tingkah laku karena memberikan motivasi intrinsik yang dipilih secara bebas, berorientasi pada proses dan disenangi untuk melatih

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara learning approach terhadap hasil

Beberapa bentuk kekhususan lainnya dari pemeriksaan pelanggaran lalu lintas dengan acara cepat adalah proses pelimpahan perkara tidak dilakukan melalui aparat penuntut umum,