• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr.Mulyadi Amir, M.pd. Ph.D. Bahan Ajar Manajemen Kurikulum Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Dr.Mulyadi Amir, M.pd. Ph.D. Bahan Ajar Manajemen Kurikulum Pendidikan"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

Dr.Mulyadi Amir, M.pd. Ph.D

Bahan Ajar

Manajemen Kurikulum Pendidikan

(2)

Bahan Ajar

Manajemen Kurikulum Pendidikan

Dr.Mulyadi Amir, M.pd. Ph.D Manajemen Kurikulum Pendidikan

Penulis: Dr. Mulyadi Amir. S.Sos. M.Pd. Ph.D Edisi Pertama

Cetakan Pertama Maret 2021

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagai atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, mereka atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.

Penerbit : Universitas Islam Jakarta,

Jln. Balai Rakyat, Utan Kayu. Jakarta Timur 13120 Telp : (021)- 8566451

Fax : (021)- 8504818

e-mail: [email protected]

Mulyadi Amir

Manajemen Kurikulum Pendidikan

Edisi Pertama, Universitas Islam Jakarta, 2021 XVi = 182 hal, 17 X 21 cm, 1 jilid

ISBN

(3)

Manajemen Kurikulum Pendidikan

Dr. Mulyadi Amir. S.Sos. M.Pd. Ph.D

Cetakan Pertama Maret 2021

Editor

Prof. Dr. Marhamah Syarief. M.Pd

Desain Cover

Dini Hidayati. S.Pd. M.Pd. Ph.D

(4)

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya maka bahan ajar yang berjudul bentuk seperti yang terlihat saat ini.

Bahan ajar ini berisi: Konsep Manajemen Kurikulum, Ruang lingkup manajemen kurikulum lembaga pendidikan, tahapan-tahapan dalam manajemen kurikulum dalam satuan pendidikan, perencanaan dalam manajemen kurikulum dalam satuan pendidikan, efektifitas dalam implementasi manajemen kurikulum pada satuan pendidikan, evaluasi manajemen kurikulum pada satuan pendidikan dalam manajemen kurikulum, inovasi dalam

implementasi manajemen kurikulum. Kompetensi dalam penyusunan jadwal di tingkat satuan pendidikan, model dan organisasi pengembangan kurikulum, yang dimaksud sebagai bahan bacaan mahasiswa pascasarjana.

Edisi ini merupakan cetakan pertama yang ketika dicetak masih banyak terdapat kekurangan, sehingga kurang memenuhi harapan pembacaan untuk secara optimal membantu pembaca dalam meningkatkan kemampuan dalam menulis dan melakukan penelitian. Cetakan pertama ini belum sepenuhnya sempurna oleh karena itu kepada para pembaca diharapkan untuk tidak segan-segan menyampaikan kritik terhadap buku ini, baik dari segi isi maupun format dan penampilannya. Kritik yang konstruktif dari pembaca merupakan sumbangan pikiran yang sangat bermanfaat bagi usaha penyempurnaan buku ini pada cetakan berikutnya.

Sekian dan Terima kasih

Mulyadi Amir

(5)

DAFTAR ISI Kata pengantar ...

Garis-garis besar program Pengajaran ...

Jadwal Perkuliahan ...

Bab 1. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran berbasis Sekolah ...

Bab 2. Konsep manajemen kurikulum lembaga pendidikan ...

Bab 3. Ruang lingkup manajemen kurikulum lembaga pendidikan ...

Bab 4. Masalah-masalah dan kendala dalam implementasi kurikulum ...

Bab 5. Tahapan-tahapan dalam manajemen kurikulum dalam satuan pendidikan ...

Bab 6. Perencanaan dalam manajemen kurikulum ...

Bab 7. Analisis dan identifikasi sumber daya yang dibutuhkan pada tingkat satuan pendidikan ...

Bab 8. Ujian Tengah Semester ...

Bab 9. Implementasi kurikulum ...

Bab 10. Evaluasi manajemen kurikulum pada satuan pendidikan ...

Bab 11. Kinerja Kepala Sekolah, Tugas Peran Kepala Sekolah Dalam Manajemen Kurikulum ...

Bab 12. Pengelolaan dan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ...

Bab 13. Inovasi Kurikulum ...

Bab 14. Model Dan organisasi pengembangan kurikulum ...

Bab 15. Kurikulum online ...

(6)

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

1. IDENTITAS MATA KULIAH:

Nama Mata Kuliah : Manajemen Kurikulum Pendidikan Kode Mata Kuliah : AWU 51225

2. DESKRIPSI ISI:

Dalam perkuliahan ini dibahas tentang wawasan yang komprehensif, sistematis dan terpadu tentang manajemen kurikulum pada satuan pendidikan, lembaga pendidikan (persekolahan) menurut jalur, jenis dan jenjang pendidikan, lembaga pendidikan non formal dan pembahasan konsep-konsep aktual mengenai manajemen kurikulum, ruang lingkup manajemen kurikulum serta analisis dan identifikasi manajemen kurikulum.

3. TUJUAN MATA KULIAH

Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan tentang konsep dan praktik yang komprehensif dan terpadu tentang Manajemen Kurikulum pada satuan pendidikan. Dalam kaitan ini dibahas mengenai konsep-konsep kurikulum, sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih memahami posisi keilmuan manajemen kurikulum secara komprehensif dalam tataran implementasi manajemen kurikulum dengan menganalisis berbagai perubahan dan perkembangan manajemen kurikulum.

4. STANDAR KOPETENSI

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan hal sebagai berikut:

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki moral etika dan

kepribadian yang baik dalam menyelesaikan tugasnya serta mampu bekerja sama dengan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungan

2. Taat (menjunjung tinggi) norma, tata nilai, moral, agama, etika umum dan etika profesi serta beretos kerja dan melaksanakan usaha terbaiknya dalam setiap kegiatan.

3. Mampu bersikap proaktif dalam meningkatkan perubahan kehidupan bermasyarakat dan lingkungan dengan perkembangan Kurikulum:

4. Menyadari masalah pendidikan

5. Mampu mengidentifikasi potensi kurikulum dalam memecahkan masalah pendidikan

6. Mampu memahami dan atau mencerna kebijakan pengembangan Kurikulum untuk berbagai bidang pembangunan pendidikan;

7. Mampu dalam mengaplikasikan IT dalam manajemen kurikulum dan analisis kasus dalam manajemen kurikulum.

(7)

ORGANISASI MATA KULIAH DAN STRATEGI PEMBELAJARAN

Pert Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan

Metode Medis Waktu Daft Pusst 1 Manajemen

Kurikulum dan

Pembelajaran Berbasis sekolah

Tujuan, prinsip, dan manajemen Kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/

infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 2 Konsep Manajemen

kurikulum lembaga pendidikan

Pengertian, tujuan, Prinsip manajemen Kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/

Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 3 Ruang lingkup

manajemen kurikulum lembaga pendidikan

Ruang lingkup manajemen kurikulum dan komponen- komponennya

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust

4 Masalah-masalah dan kendala dalam

implementasi kurikulum

Hambatan solusi dalam

Permasalahan Kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 5 Tahapan-tahapan

dalam manajemen kurikulum dalam satuan pendidikan

Tahapan-Tahapan Pengembangan Manajemen Kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 6 Perencanaan dalam

manajemen kurikulum

Langkah-langkah Perencanaan Kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 7 Analisis kebutuhan

dalam pengembangan kurikulum pendidikan

Langkah-langkah analisis kurikulum

?

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 8 Ulangan tengah

semester (UTS) 9 Implementasi

manajemen kurikulum

Konsep dan pendekatan dan model

implementasi kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust

10 Evaluasi manajemen kurikulum pada satuan pendidikan

Pengertian evaluasi pentingnya evaluasi dan prinsip-prinsip evaluasi kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust

11 Tugas pokok dan fungsi manajer dan personal satuan

Tugas dan peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust

(8)

pendidikan dalam manajemen kurikulum 12 Pengelolaan dan

penyusunan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Tujuan Pedoman penyusunan dan pengelolaan kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 13 Inovasi Kurikulum

pada satuan pendidikan

Maksud inovasi dalam manajemen kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 14 Model dan organisasi

pengembangan kurikulum

Pengertian model pengembangan kurikulum

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 15 Kurikulum online Langkah-langkah

dalam kurikulum online

Presentasi Diskusi LCD/ Infocus

150 menit

Lihat Daft Pust 16 UAS

(9)

KONTRAK PERKULIAHAN 1. IDENTITAS MATA KULIAH

Nama Mata Kuliah : Manajemen Kurikulum Pendidikan Kode Mata Kuliah : AWU 51225

Jumlah SKS :2 (dua) SKS Semester : 2 (dua)

Program Studi/Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Dosen : Dr. Mulyadi Amir, M.Pd. Ph.D 2. DESKRIPSI ISI:

Dalam perkuliahan ini dibahas tentang wawasan yang komprehensif, sistematis dan terpadu tentang manajemen kurikulum pada satuan pendidikan (persekolahan) menurut jalur, jenis dan jenjang pendidikan, lembaga pendidikan non formal dan lembaga diklat formal dan non formal dengan mengacu pada pembahasan konsep- konsep aktual mengenai manajemen kurikulum, ruang lingkup manajemen kurikulum, masalah dan kendala dalam implementasi manajemen kurikulum, tahapan-tahapan dalam manajemen kurikulum serta analisis dan identifikasi manajemen kurikulum.

3. TUJUAN MATA KULIAH

Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan keterampilan tentang konsep dan praktik yang komprehensif dan terpadu tentang Manajemen Kurikulum pada satuan pendidikan. Dalam kaitkan ini dibahas mengenai konsep-konsep kurikulum, sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih memahami posisi keilmuan manajemen kurikulum secara komprehensif dalam tataran implementasi manajemen kurikulum dengan menganalisis berbagai perubahan dan perkembangan manajemen kurikulum.

4. PENDEKATAN PEMBELAJARAN:

Metode : Ceramah, Tanya jawab, diskusi dan Pemecahan masalah Tugas : Membuat Makalah, penyajian kelompok dan diskusi Media : OHP, dan LCD Proyektor dan White Board

5. KOMPONEN EVALUASI 1. Kehadiran siswa minimal 80%

2. Tugas individu 3. Tugas terstuktur 4. Penyajian makalah

5. Ujian Tengah Semester (UTS) 6. Ujian Akhir Semester (UAS) 6. PENILAIAN

NILAI MUTU

80%-100% A

70%-79% B

60%-69% C

(10)

KURANG TL DARI 60%

JADWAL PERKULIAHAN RINCIAN MATERI PERKULIAHAN TIAP PERTEMUAN

PERTEMUAN POKOK BAHASAN (TOPIK DAN RINCIAN)

BAHAN 1 Manajemen kurikulum dan pembelajaran

Berbasis sekolah

Lihat GBPP dan SAP

2 Konsep Manajemen Kurikulum Lihat GBPP dan SAP

3 Ruang lingkup manajemen kurikulum lembaga pendidikan

Lihat GBPP dan SAP 4 Masalah-masalah dan kendala dalam

implementasi kurikulum

Lihat GBPP dan SAP 5 Tahapan-tahapan dalam manajemen kurikulum

dalam satuan pendidikan

Lihat GBPP dan SAP

6 Perencanaan dalam manajemen Lihat GBPP dan SAP

7 Analisis kebutuhan dalam pengembangan kurikulum

Lihat GBPP dan SAP 8 Ujian Tengah Semester (UTS)

9 Implementasi kurikulum Lihat GBPP dan SAP

10 Evaluasi manajemen kurikulum pada satuan pendidikan

Lihat GBPP dan SAP 11 Tugas pokok dan fungsi manajer dan personal

satuan pendidikan dalam manajemen kurikulum

Lihat GBPP dan SAP 12 Pengelolaan dan Penyusunan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan

Lihat GBPP dan SAP

13 Inovasi Kurikulum Lihat GBPP dan SAP

14 Model dan organisasi Lihat GBPP dan SAP

15 Kurikulum online Lihat GBPP dan SAP

16 Ujian Akhir Semester

(11)

DAFTAR BUKU

Blake, et.al. (1980), The Academic Administrator. Grid, Jossey Bas Publisher: San Fransisco Centra, A John, (1982). Determinin Faculty Effectiveness. Jossey Bas Publisher: San

Fransisco

Depdiknes, (2000). Panduan Manajemen Sekolah Dirjen Dikdasmen: Jakarta

Duke, L. Daniel dan Candy Lynn Robert. (1991). School Policy. Mc Graw-Hill Inc: New York

Evans, et. Al. (1998). Student Development in College. Jossey Bass Publisher: San Fransisco Pratt, David, (1980). Curriculum, Design, and Development. Harcourt Brace Jovanovic Inc:

New York

Saylor, et, at. (1981). Curriculum Planning for Batter Teaching and Learning (Fourth Edition). Holt

Richard and Winson: New York

Turney, C. Et, al. (1992). The School Manager, Educational Management Roles and Task.

Allen and

Urwim: North Sydney.

(12)

BAB 1

MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BERBASIS SEKOLAH

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan akan mampu:

1. Mengetahui mengenai manajemen kurikulum dan pembelajaran sehingga dapat digunakan sebagai landasan teori dalam perancangan dan pengembangan kurikulum 2. Mampu memahami pengertian, tujuan, prinsip, dan ruang lingkup manajemen

kurikulum dan pembelajaran.

3. Mempunyai aktivitas dalam pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan 4. Mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tingkat satuan pendidikan masing-

masing dengan baik.

A. Pengertian Manajemen Kurikulum Dan Pembelajaran

Secara etimologis, istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan Curere yang berarti berlari (to run). Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dar garis star sampai dengan finish untuk memperoleh mendali atau penghargaan. 11 (1) Menurut UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.

Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk

memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar.

Manajemen kurikulum sebagai suatu sistem kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.

Dalam pelaksanaan manajemen kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Oleh karena itu, otomatis yang diberikan pada lembaga pendidikan dalam mengelola kurikulum secara mendidik dengan memprioritaskan kebutuhan dan ketercapaian sasaran dalam visi dan misi lembaga pendidikan tidak mengabaikan kebijaksanaan nasional yang telah ditetapkan, bentuk desentralisasi yang di berikan kepada sekolah mengenai pengembangan kurikulumnya yang sesuai kebutuhan sekolah masing-masing dapat berupa kultur, adat dan industry yang ada pada daerah tersebut. 13 (3)

(13)

11[1] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya; 2011), hal :2

Manajemen pendidikan adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efesien.

Manajemen program pembelajaran sering disebut dengan sebagai aktivitas profesional dalam menggunakan dan memelihara kurikulum (satuan program pengajaran) yang dilaksanakan. Secara organisasional pembelajaran atau kegiatan aktivitas pengajaran guru dituntut memiliki kesiapan mengajar dan murid disiapkan untuk belajar. Dalam menjalankan fungsi manajemen pembelajaran guru harus memanfaatkan sumber daya pengajaran (learning resources) yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas.

B. Tujuan Manajemen Kurikulum Dan Pembelajaran

Tujuan manajemen berhubungan dengan arah atau hasil yang ingin diharapkan.

Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut oleh masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan dapat menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Misalnya, filsafat atau sistem nilai yang dianut

masyarakat Indonesia ialah Pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah membentuk masyarakat yang panacilaris, meskipun pada saat ini kurikulum yang dianut adalah KTSP kurikulum tingkat satuan pendidikan sehingga kurikulum dikembang oleh tingkat satuan masing-masing tahu tingkat sekolah masing- masing, sehingga kurikulum tersebut sesuai dengan pengembangan masyarakat di sekitar sekolah, dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran.

Manajemen kurikulum dan pembelajaran bertujuan untuk:

1. Pencapaian pengajaran dengan menitik beratkan pada peningkatan kualitas interaksi belajar mengajar.

2. Mengembangkan sumber daya manusia dengan mengacu pada pendayagunaan seoptimal mungkin.

3. Pencapaian visi dan misi pendidikan nasional

4. Meningkatkan kualitas belajar mengajar di suatu pendidikan tertentu

C. Prinsip-prinsip Management Kurikulum Dan Pembelajaran

Terdapat lima prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum yaitu:

1. Produktifitas 2. Demokratisasi 3. Kooperatif

4. Efektfitas dan efisiensi

(14)

5. Mengarahkan visi, misi dan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum, proses manajemen kurikulum harus dapat memperkuat dan mengarahkan visi, misi dan tujuan kurikulum.

Selain prinsip-prinsip tersebut juga perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun departemen pendidikan, seperti USPN No. 20 tahun 2003, kurikulum pola nasional, pedoman penyelenggaraan program, kebijaksanaan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah, kebijaksanaan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/ jenis sekolah yang bersangkutan.

Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum agar perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum berjalan dengan efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun komponen kurikulum.

Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum di antaranya sebagai berikut:

1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.

2. Meningkatkan keadilan (equality) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan

kokurikuler yang di dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.

3. Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.

4. Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran pengelolaan kurikulum yang profesional, efektif dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.

5. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu di pantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah

direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Di samping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.

6. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu pengembangan kurikulum, kurikulum yang di kelola secara profesional akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dengan kebutuhan pembangunan daerah setempat.

D. Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum Dan Pembelajaran

Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi

(15)

kurikulum. Pada tingkat satuan pendidikan kegiatan kurikulum lebih mengutamakan untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional (standar

kompetensi/ kompetensi dasar) dengan kebutuhan daerah dan kondisi sekolah yang bersangkutan, sehingga kurikulum tersebut merupakan kurikulum yang integritas dengan peserta didik maupun dengan lingkungan dimana sekolah itu berada.

Dalam perencanaan kurikulum terdapat empat model perencanaan kurikulum berdasarkan pada asumsi rasionalitas, yaitu asumsi tentang proses informasi secara cermat yang berkaitan dengan mata pelajaran, peserta didik, lingkungan dan hasil belajar.

Berikut model-model perencanaan kurikulum:

Oemar H Malik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Cet, IV; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2010), hal 150.

1. Model perencanaan rasional deduktif atau rasional tyler. Model ini di titik beratkan perencanaan program kurikulum dan bertitik tolak dari speksifikasi tujuan. Model ini dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan keputusan dan tempat pada

pendidikan sentralistik.

2. Model interaktif rasional model ini menitik beratkan pada perencanaan dengan planing dari pada perencanaan bagi. Perencanaan ini bersifat situsional atau fleksibel serta tepat bagi lembaga Pendidikan yang mengembangkan kurikulum berbasis sekolah.

3. The disciplines model, model ini menitik beratkan guru sebagai model yang merencanakan kurikulum bagi siswa. Model ini di kembangkan sesuai dengan berdasarkan sistematik dengan relevansi antara pengetahuan filosofi, sosiologis, dan psikologis.

4. Model tanpa perencanaan. Model ini di kembangkan berdasarkan inisiatif guru di dalam ruang kelas sebagai pengambil keputusan dalam menentukan strategi pembelajaran pemilihan media pembelajaran dan sebagainya.

Pelaksanaan kurikulum merupakan interaksi belajar mengajar yang setidaknya melalui tiga tahap yaitu:

1. Tahap persiapan pembelajaran, adalah kegiatan yang dilakukan guru sebelum melakukan proses pembelajaran

2. Tahap pelaksanaan pembelajaran, adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan murid mengenai pokok bahasan yang harus di sampaikan. Dalam tahap ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pendahuluan, pelajaran inti, dan evaluasi.

3. Tahapan penutup, adalah kegiatan yang dilakukan setelah penyampaian materi.

Evakuasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dar tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. 18[18]

(16)

KESIMPULAN

Kurikulum merupakan program pengajaran untuk dicapai oleh murid-murid yang telah disusun menurut standar yang berlaku di mana pun di seluruh Indonesia. Ketika pengajaran dilaksanakan oleh guru, ternyata ada berbagai variasi yang di pengaruhi oleh perbedaan keterampilan dan falsafat guru. Manajemen kurikulum menguraikan cara guru

mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran di dalam kelas. Sehingga

kurikulum harus direncanakan dan dilaksanakan oleh guru, termasuk semua langkah-langkah pelaksanaannya.

Agar kurikulum yang dirancang dapat berjalan sesuai dengan perencanaan maka dalam perencanaan kurikulum dan pembelajaran harus dilandasi dengan prinsip produktifitas, demokratisasi, kooperatif, efesien, dan mengarakan misi-misi, dan tujuan dari sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

https://syamsuddincoy.blogspot.co.id/2012/02/manajemen-kurikulum.html di ambil pada tanggal” 31/10.2015

https//sumberbelajarangga.wpedpress.com/2012/12/10/makalah-manajemen-kurikulum-dan- pembelajaran. Diambil pada tanggal 30/10/2015.

Malik, Oemar H. 2010. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

www.rokhim.net/2011/11/manajemen-kurikulum.html diambil pada tanggal 30/10/2015.

(17)

BAB 2

KONSEP MANAJEMEN KURIKULUM LEMBAGA PENDIDIKAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan akan mampu:

• Mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan

• Mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan

• Melakukan suatu tindakan apabila terjadi hal yang berbeda dengan rencana semula

• Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah atau melaksanakan

• tugas dengan kondisi yang berbeda.

A. PENGERTIAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar. Sedangkan kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai berikut. Sebenarnya terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu:

• Kurikulum terpisah (Sparated Subject Curriculum) di mana bahan pelajaran disajikan secara terpisah-pisah seolah-olah ada batas antara bidang studi dan antara bidang studi yang sama di kelas yang berbeda.

• Kurikulum Berhubungan (Correlated Curriculum) yaitu kurikulum yang menunjukkan adanya hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Seperti IPS (gabungan dari mata pelajaran Sejarah Geografi, Ekonomi, Sosiologi), IPA ( gabungan dari Fisika, Biologi, Kimia).

• Kurikulum terpadu (Integrated Curriculum) yaitu kurikulum yang meniadakan batas- batas antara berbagai bidang dan di dalam mata pelajaran tersebut terdapat

keterpaduan mata pelajaran serta menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unik.

(18)

Sedangkan memanajemen pembelajaran adalah proses penggunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumber daya pengajaran) untuk mencapai visi dan misi

pengajaran. Kedua manfaat manajemen pengajaran adalah sebagai aktivitas profesional dalam menggunakan dan memelihara kurikulum (satuan program pengajaran) yang dilaksanakan. Ketiga, secara organisasional pembelajaran atau kegiatan aktivitas

pengajaran guru dituntut memiliki kesiapan mengajar dan murid disiapkan untuk belajar.

Keempat, dalam menjalankan fungsi manajemen pembelajaran guru harus memanfaatkan sumber daya pengajaran (learning resources) yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas. Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik.

Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar-mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan

spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu kepada kreasi sumber-sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar mengajar.

TUJUAN

Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang ingin dicapai. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu yang dicita-citakan masyarakat. Misalkan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah Pancasila maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah membentuk masyarakat yang Pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran.

Manajemen kurikulum dan pembelajaran bertujuan untuk:

1. Pencapaian pengajaran dengan menitik beratkan pada peningkatan kualitas interaksi belajar mengajar.

2. Mengembangkan sumber daya manusia dengan mengacu pada pendayagunaan optimalkan mungkin

3. Pencapaian visi dan misi pendidikan nasional

4. Meningkatkan kualitas belajar mengajar di suatu pendidikan tertentu B. PRINSIP-PERINSIP

1. Produktivitas

Hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen kurikulum. Pertimbangan bagaimana agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam manajemen kurikulum.

2. Demokratisasi

Pelaksanaan manajemen kurikulum harus berdasarkan pada demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksanaan dan subjek didik pada posisi yang

(19)

seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai tujuan kurikulum.

3. Kooperatif

Untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai pihak yang terlibat.

4. Efektifitas dan efisiensi

Rangkaian kegiatan manajemen kurikulum harus mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi untuk mencapai tujuan kurikulum, sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut memberikan hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relative singkat.

5. Mengarahkan visi, misi, dan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Proses manajemen kurikulum harus dapat memperkuat dan mengarahkan visi, misi dan tujuan kurikulum. Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum untuk memberikan hasil kurikulum yang lebih efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber daya maupun komponen kurikulum.

a. Menetapkan Visi

Rumusan visi merupakan penjabaran visi institusi (Universitas ke fakultas, jurusan/ bagian/ program studi. Perumusan visi didasarkan atas pertimbangan societal needs, professional needs, dan academic needs.

b. Menuliskan Misi

Mendeskripsikan tentang apa yang hendak dicapai dan untuk siapa

c. Profil lulusan Deskripsi singkat tentang peran yang dapat dilakukan seorang lulusan, dan bukan gambaran singkat tentang data lulusan

d. Analisis tugas

Menjabarkan nomor c dengan membuat indikatornya (dokter, pendidikan, hukum, ekonomi, dan

sebagainya) e. Perumusan

Kompetensi

Lulusan seperti apa yang akan dibentuk melalui program pendidikan ini

f. Kajian Elemen Kompetensi

- Bahan kajian tentang disiplin ilmu secara

komprehensip dan sistemik untuk membentuk sebuah kompetensi.

- Untuk membentuk sebuah kompetensi diperlukan beberapa bahan kajian.

- Bahan kajian nantinya akan diturunkan menjadi mata kuliah

(20)

g. Menetapkan elemen kompetensi

Elemen kompetensi meliputi: landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan berkarya, sikap perilaku dalam berkarya, dan pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat.

h. Identifikasi nama mata kuliah

Penamaan mata kuliah berdasarkan rumpun topik kajian dari kolom (f)

i. Identifikasi pengalaman belajar

Perekayasaan kegiatan belajar agar mahasiswa dapat melakukan sendiri sehingga kompetensi dapat tercapai/terbentuk

j. Sumber- sumber belajar

Menunjukkan berbagai sumber belajar yang dapat diakses guna mendukung baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran (paper, person, maupun place)

k. Penentuan bobot SKS

Disesuaikan dengan urgensi dan status materi l. Alokasi

waktu

Ditetapkan berdasarkan pengelaman belajar, luas bahan, tingkat kesulitan, dsb.

RUANG LINGKUP

Kurikulum sendiri dapat dipahami dengan arti sempit sekali, sempit, dan luas. Pengertian kurikulum dalam arti sempit sekali adalah jadwal pelajaran. Kemudian pengertian kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik teori maupun praktik yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Kurikulum dalam pengertian ini teratas pada pemberian bekal pengetahuan dan keterampilan kepada siswa untuk kepentingan mereka melanjutkan pekerjaan maupun terjun ke dunia kerja.

Dengan melihat pada kurikulum sebagai suatu lembaga pendidikan maka dapat dilihat apakah lulusannya mempunyai keahlian dalam level apa. Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan- tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan

pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi:

1. Perencanaan

Perencanaan kurikulum di bedakan menjadi dua yakni tingkat pusat dan yang dilaksanakan oleh sekolah.

• Perencanaan tingkat pusat, meliputi tujuan pendidikan, bahan pelajaran. Dalam tujuan pendidikan terdapat ITU dan TIK

• Bahan pembelajaran, dari pusat kemudian diserahkan kepada sekolah dalam bentuk garis-garis besar program pengajaran (GBPP). Perencanaan yang harus dilakukan disekolah.

• Pelaksanaan.

(21)

Pelaksanaan kurikulum merupakan interaksi belajar mengajar yang setidaknya melalui tiga tahap yaitu:

• Tahapan persiapan pembelajaran, adalah kegiatan yang dilakukan guru sebelum melakukan proses pembelajaran.

• Tahapan pelaksanaan pembelajaran, adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan murid mengenai pokok bahasan yang harus di dahului, pelajaran inti, dan evaluasi.

• Tahap penutupan, adalah kegiatan yang dilakukan setelah penyampaian materi

• Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi,

pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.

KESIMPULAN

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar

pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan arti yang sempit dan arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai berikut.

Sebenarnya terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu: Kurikulum Terpisah (Sparated Subject Curriculum), kurikulum berhubungan (Correlated Curriculum), dan kurikulum terpadu (Integrated Curriculum)

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi,

pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tahap evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.

(22)

BAB 3

RUANG LINGKUP MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan akan mampu:

1. Mengetahui ruang lingkup manajemen kurikulum

2. Mengetahui bagaimana mengelola kurikulum dari komponen-komponennya.

A. RUANG LINGKUP MANAJEMEN KURIKULUM

Manajemen kurikulum adalah bagian dari studi kurikulum. Para ahli pendidikan pada umumnya telah mengenal bahwa kurikulum adalah suatu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang mempunyai ruang lingkup sangat luas. Studi ini tidak hanya membahas tentang dasar-dasar, tetapi juga mempelajari kurikulum secara keseluruhan yang

dilaksanakan dalam pendidikan.

Ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Manajemen perencanaan kurikulum 2. Manajemen pelaksanaan kurikulum 3. Supervisi pelaksanaan kurikulum 4. Pemantauan dan penilaian kurikulum 5. Perbaikan kurikulum

6. Desentralisasi dan sentralisasi pengembangan kurikulum.

Sebuah kurikulum terdiri dari beberapa unsur komponen yang terangkai pada suatu sistem. Sistem kurikulum bergerak dalam siklus yang secara bertahap, bergilir, dan

berkesinambungan. Oleh sebab itu, manajemen kurikulum juga harus memakai pendekatan sistem. Sistem kurikulum adalah suatu kesatuan yang di dalamnya memuat beberapa unsur yang saling berhubungan dan bergantung dalam mengembang tugas untuk mencapai suatu tujuan.

B. MANAJEMEN PERENCANAAN KURIKULUM

Perencanaan Kurikulum merupakan perencanaan kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan telah terjadi pada diri siswa.

Dalam setiap perencanaan kurikulum perencanaan harus memperhatikan dan menganalisis kondisi yang perlu diperhatikan sebagai fakor yang berpengaruh dalam perencanaan kurikulum. Terdapat kondisi yang perlu di perhatikan antara lain:

a. Kebijakan Pendidikan Nasional b. Kondisi SosialKultural

c. Kondisi Fasilitas Sarana dan Prasarana d. Kondisi Sumber Daya Manusia

(23)

Fungsi Perencanaan Kurikulum.

• Sebagai pedoman atau alat manajemen dalam pelaksanaan proses pembelajaran, yang berisi petunjuk tentang jenis, sumber peserta, media, tindakan yang di perlukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, sistem kontrol, evaluasi dan lain-lain untuk mencapai tujuan manajemen organisasi

• Sebagai penggerak roda atau pencipta perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi.

• Sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik.

C. Model Perencanaan Kurikulum

• Rasional Tyler/ Rasional Deduktif

Menitik berantakan logika dalam merancang program kurikulum dan bertitik tolak dari spesifik tujuan tetapi cenderung mengabaikan problematika dalam lingkungan tugas. Model ini cocok untuk sistem pendidikan sentralistik yang menitik beratkan pada sistem perencanaan pusat.

• Interaktif Rasional.

Model ini memandang rasionalitas sebagai tuntutan kesepakatan antara pendapat yang berbeda, model ini dinamakan model situasional yang menekankan pada respon fleksibel kurikulum yang tidak memuaskan dan intensif pada tingkat sekolah dan local. Hal ini dimungkinkan karena suatu keyakinan ideology masyarakat demokrasi atau pengembangan kurikulum berbasis sekolah.

• The disciplines Model

Perencanaan ini menitik beratkan pada guru. Dimana guru sendiri yang merencanakan kurikulum berdasarkan pertimbangan pengetahuan filosofis sosiologi, psikologi.

• No Planning

Merupakan suatu model berdasarkan pertimbangan intuitif guru di dalam ruangan kelas sebagai bentuk pembuatan keputusan, hanya sedikit upaya kecuali merumuskan tujuan khusus, formalitas pendapat dan analisis intelektual.

Keempat model tersebut merupakan model idel dan bukan model perencanaan yang actual. Umumnya perencanaan kurikulum mengandung empat model tersebut.

Prinsip Perencanaan

• Perencanaan yang dibuat harus memberikan kemudahan dan mampu memicu

pemilihan dan pengembangan pengalaman belajar yang potensial sesuai dengan hasil (tujuan) yang diharapkan sekolah.

• Perencanaan hendaknya dikembangkan oleh guru sebagai pihak yang langsung bekerja sama dengan siswa.

• Perencanaan harus memungkinkan para guru menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih dan memajukan kegiatan-kegiatan belajar di sekolah

• Perencanaan harus memungkinkan para guru menyesuaikan pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan-kebutuhan pengembangan, kesanggupan, dan taraf kematangan siswa (level of puplis).

(24)

• Perencanaan harus menggiatkan para guru untuk mempertimbangkan pengalaman belajar sehingga anak-anak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di dalam dan di luar sekolah

• Perencanaan harus merupakan penyelenggaraan suatu pengalaman belajar yang kontinu sehingga kegiatan-kegiatan belajar siswa dari sejak awal sungguh maupun memberikan pengalaman.

• Kurikulum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu membantu

pembentukan karakter, kepribadian, dan perlengkapan pengetahuan dasar siswa yang bernilai demokratis dan yang sesuai dengan karakter kebudayaan bangsa Indonesia.

• Perencanaan harus realistis, feasible (dapat dikerjakan) dan accptable (dapat diterima dengan baik)

C. Sifat Perencanaan

• Bersifat strategis Karena merupakan instrumen yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

• Bersifat komprehensif yang mencakup keseluruhan aspek-aspek kehidupan masyarakat.

• Bersifat integrative yang menintregasikan rencana yang luas, mencakup pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas.

• Bersifat realistis berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan masyarakat

• Bersifat humanistic menitik beratkan pada pengembangan sumber daya manusia, baik kuantitatif maupun kuantitatif

• Bersifat Futuralistik mengacu jauh ke depan dalam merencanakan masyarakat yang maju

• Bagian Integral yang mendukung manajemen pendidikan secara sistematik

• Mengacu pada Pengembangan Kompetensi

• Berdiversifikasi untuk melayani keseragaman peserta didik

• Bersifat desentralistik , karena dikembangkan oleh daerah sesuai dengan kondisi dan potensi daerah.

D. Azas Perencanaan Kurikulum

• Objektivitas, Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik berdasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.

• Keterpaduan, Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal serta keterpaduan dalam proses penyampaian.

• Manfaat, Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk mengambil keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategi dalam penyelenggaraan pendidikan

• Efisiensi dan Efektivitas, perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.

(25)

• Kesesuaian, perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan IPTEK dan perubahan/ Perkembangan masyarakat.

• Keseimbangan, Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang akan dilaksanakan.

• Kemudahan, perencanaan Kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.

• Berkesinambungan, Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahap, jenis dan jenjang satuan pendidikan

• Pembakuan, Perencanaan kurikulum dibekukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.

• Mutu, Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas lulusan secara keseluruhan,

E. MANAJEMEN PELAKSANAAN KURIKULUM

Manajemen pelaksanaan kurikulum berkenaan dengan semua tindakan yang berhubungan dengan perincian dan pembagian semua tugas yang memungkinkan terlaksana. Manajemen pelaksanaan kurikulum bertujuan supaya kurikulum dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal ini manajemen bertugas menyediakan fasilitas material, personal dan kondisi-kondisi supaya kurikulum dapat terlaksana

Pelaksanaan Kurikulum dibagi menjadi dua:

• Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah, yang dalam hal ini langsung ditangan oleh kepala sekolah. Selain bertanggung jawab supaya kurikulum dapat terlaksanakan di sekolah, dia juga berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan yakin menyusun kalender akademik yang akan berlangsung disekolah dalam satu tahun, menyusun jadwal pelajaran dalam satu minggu, pengaturan tugas dan kewajiban guru, dan lain- lain yang berkaitan tentang usaha untuk pencapaian tujuan kurikulum.

• Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, yang dalam hal ini dibagi dan ditugaskan langsung kepada para guru. Pembagian tugas ini meliputi: (1) kegiatan dalam bidang proses belajar mengajar, (2) Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler yang berada diluar ketentuan kurikulum sebagai penunjang tujuan sekolah, (3) kegiatan bimbingan belajar yang bertujuan untuk mengembangkan potensi yang berada dalam dari siswa dan membantu siswa dalam memecahkan masalah.

F. SUPERVISI PELAKSANAAN KURIKULUM

Supervisi atau pemantauan kurikulum adalah pengumpulan informasi

berdasarkan data yang tepat, akurat, dan lengkap tentang pelaksanaan kurikulum dalam jangka waktu tertentu oleh pemantau ahli untuk mengatasi permasalahan dalam kurikulum. Pelaksanaan kurikulum di dalam pendidikan harus dipantau

(26)

untuk meningkatkan efektifitasnya. Pemantauan ini dilakukan supaya kurikulum tidak keluar dari jalur. Oleh sebab itu seorang yang ahli menyusun kurikulum harus memantau pelaksanaan kurikulum mulai dari perencanaan sampai mengevaluasinya.

Secara garis besar pemantauan kurikulum bertujuan untuk mengumpulkan seluru informasi yang diperlakukan untuk pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah. Dalam tataran praktis, pemantauan kurikulum memuat beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

• peserta didik, dengan mengidentifikasi pada cara belajar, prestasi belajar, motivasi belajar, keaktifan, kreativitas. Hambatan dan kesulitan yang dihadapi

• tenaga pengajar, dengan memantau pada pelaksanaan tanggung jawab, kemampuan kepribadian, kemampuan kemasyarakatan, kemampuan profesional, dan loyalitas terhadap atasan.

• Media pengajaran, dengan melihat pada jenis media yang digunakan, cara penggunaan media, pengadaan media, pemeliharaan dan

perawatan media.

• Prosedur penilaian: instrumen yang dihadapi siswa, pelaksanaan, penilaian, pelaporan hasil penilaian.

• Jumlah lulusan: Kategori, jenjang, jenis kelamin, kelompok usia, dan kualitas kemampuan lulusan.

G. PENILAIAN KURIKULUM

Penilaian kurikulum atau evaluasi kurikulum merupakan bagian dari sistem manajemen. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau di ganti.

Menurut R. Ibrahim (2004) model evaluasi kurikulum secara garis besar digolongkan ke dalam empat rumpun model, yaitu.

• Measurement , evaluasi pada dasarnya adalah pengukur siswa untuk mengungkapkan perbedaan individual maupun kelompok.

• Congruence, evaluasi pada dasarnya merupakan pemeriksaan kesesuaian atau congruence antara tujuan pendidikan dan hasil belajar yang dicapai, untuk melihat sejauh mana perubahan hasil pendidikan telah terjadi.

• Illumination, evaluasi pada dasarnya merupakan studi mengenai pelaksanaan program karena pengaruh faktor lingkungan, kebaikan- kebaikan dan kelemahan program, serta pengaruh program terhadap- terhadap perkembangan hasil belajar

• Educational System Evaluation, evaluasi ada dasarnya adalah

perbandingan antara performance setiap dimensi program dan kriteria, yang akan berakhir dengan suara deskripsi dan judgement

(27)

H. PERBAIKAN KURIKULUM

Kurikulum tidak bisa bersifat selalu statis, akan tetapi senantiasa berubah dan bersifat dinamis. Hal ini dikarenakan kurikulum itu sangat dipengaruhi supaya dapat memenuhi permintaan. Permintaan itu baik dikarenakan adanya kebutuhan dari siswa dan kebutuhan masyarakat yang selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan terus menerus.

Perbaikan kurikulum intinya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat disoroti dari dua aspek, proses dan produk. Kriteria proses

menitikberatkan pada efisiensi pelaksanaan kurikulum dan sistem intruksional, sedangkan kualitas produksi melihat pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai dan output (kelulusan siswa)

Berkaitan dengan prosedur perbaikan, seluruh komponen sumber daya mahasiswa, seperti: administrator, pemilik sekolah, kepala sekolah, guru-guru siswa, serta masyarakat sangat berperan besar. Tanggung jawab masing-masing harus dirumuskan secara jelas. Selain itu aspek evaluasi juga harus dikaji sejak awal perencanaan program perbaikan kurikulum. Dengan evaluasi yang tepat dan data informasi yang akurat akan sangat diperlukan dalam membuat keputusan kurikulum dan intruksional.

Chamberlain telah merumuskan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam perbaikan, yaitu:

a. Mengidentifikasi masalah sebenarnya sebagai tuntutan untuk mengetahui tujuan.

b. Mengumpulkan fakta atau informasi tambahan

c. Mengajukan kemungkinan pemecahan dengan keputusan yang optimal dan diharapkan.

d. Memilih pemecahan sebagai percobaan.

e. Merencanakan tindakan yang dikehendaki untuk melaksanakan penyesuaian

f. Melakukan solusi percobaan g. Evaluasi

I. SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI KURIKULUM

Menurut ekonomi manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan sistem sentralisasi adalah di mana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintahan pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.

Dalam era reformasi dewasa ini, diperlakukan kebijakan otonomi yang seluas-luasnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Otomatis daerah merupakan distribusi kekuasaan secara vertikal. Distribusi kekuasaan itu dari pemerintah pusat ke

daerah, termasuk kekuasaan dalam bidang pendidikan. Dalam pelaksanaan otonomi daerah di

(28)

bidang pendidikan tampak masih menghadapi berbagai masalah. Masalah itu di antaranya tampak pada kebijakan pendidikan yang tidak sejalan dengan prinsip otonomi daerah dan masalah kurang adanya koordinasi dan sinkronisasi.

(1) Kekuatan dan Kelemahan Sentralisasi Pendidikan

Indonesia sebagai negara berkembang dengan berbagai kesamaan ciri sosial budayanya, juga mengikuti sistem sentralistik yang telah lama dikembangkan pada negara berkembang. Konsekuensinya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia serba seragam, serba keputusan dari atas, seperti kurikulum yang seragam tanpa melihat tingkat relevansinya baik kehidupan anak dan lingkungan.

Dengan adanya sentralisasi pendidikan telah melahirkan berbagai fenomena yang memprihatinkan seperti:

1. Totaliterisme penyelenggaraan Pendidikan

2. Keseragaman manajemen, sejak dalam aspek perencanaan, pengelolaan, evaluasi, hingga model pengembangan sekolah dan pembelajaran.

3. Keseragaman pola pembudayaan masyarakat 4. Melemahnya kebudayaan daerah

5. Kualitas manusia yang robotic, tanpa inisiatif dan kreatifitas.

Dengan demikian sebagai dampak sistem pendidikan sentralistik, maka upaya mewujudkan pendidikan yang dapat melahirkan sosok manusia yang memiliki kebebasan berpikir, maupun memecahkan masalah secara mandiri, bekerja dan hidup dalam kelompok kreatif penuh inisiatif dan impati, memiliki keterampilan

interpersonal yang memadai sebagai bekal masyarakat , menjadi sangat sulit untuk di wujudkan.

Beberapa alasan yang mendasari perlunya desentralisasi:

1. Mendorong terjadinya partisipasi dari bahwa secara lebih luas 2. Mengakomodasi terwujudnya prinsip demokrasi

3. Mengurangi biaya akibat alur birokrasi yang panjang sehingga dapat meningkatkan efisiensi.

4. Memberi peluang untuk memanfaatkan potensi daerah secara optimal.

5. Mengakomodasi kepentingan poloitik

6. Mendorong peningkatan kualitas produk yang lebih kompetitif.

J. Kekuatan dan Kelemahan Desentralisasi Pendidikan.

Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan kepada orang-orang pada level bahwa (daerah). Kelebihan sistem ini adalah

sebagai keputusan dan kebijakan yang ada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa campur tangan pemerintah pusat. Namun kekurangan dari sistem ini adalah pada daerah khusus, euforia yang berlebihan dimana wewenang itu hanya menguntungkan para oknum atau pribadi.

Sistem pendidikan yang sentratistik yang mematikan kemampuan berinovasi tentunya tidak sesuai dengan pengembangan suatu masyarakat demokrasi terbuka. Oleh sebab itu, desntralisasi pendidikan berarti lebih mendekatkan proses pendidikan kepada rakyat sebagai pemilik pendidikan itu sendiri. Rakyat harus berpartisipasi di dalam pembentukan social

(29)

pemilik pendidikan itu sendiri. Rakyat harus berpartisipasi di dalam pembentukan social capital tersebut. Ikut sertanya rakyat di dalam penyelenggaraan pendidikan dalam satuan masyarakat demokrasi berarti pula rakyat ikut membina lahirnya social capital dari suatu bahasa.

Dari beberapa pengalaman di negara lain, kegagalan disentralisasi di akibatkan oleh beberapa hal:

1. Masa transisi dari sistem sentralisasi ke desintralisasi ke memungkinkan terjadinya perubahan secara gradual dan tidak memadai serta jadwal pelaksanaan yang tergesa- gesa.

2. Kurang jelasnya pembatasan rinci kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan daerah.

3. Kemampuan keuangan daerah yang terbatas.

4. Sumber daya manusia yang belum memadai

5. Kapasitas manajemen daerah yang belum memadai.

6. Restrukturisasi kelembagaan daerah yang belum matang.

7. Pemerintah pusat secara psikologi kurang siap untuk kehilangan otoritasnya.

Berdasarkan pengalaman, pelaksanaan disentralisasi yang tidak matang juga melahirkan berbagai persoalan baru, di antaranya:

1. Meningkatnya kesenjangan anggaran pendidikan antara daerah, antara sekolah antara individu warga masyarakat.

2. Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan masyarakat (orang tua) menjadikan jumlah anggara belanja sekolah akan menurun dari waktu sebelumnya, sehingga akan menurunkan motivasi dan kretifitas tenaga kependidikan di sekolah untuk melakukan pembaruan.

3. Biaya administrasi di sekolah meningkat karena prioritas anggaran di alokasikan untuk menutup biaya administrasi, dan sisanya baru di distribusikan ke sekolah.

4. Kebijakan pemerintah daerah yang tidak memperioritaskan pendidikan, secara kumulatif berpotensi akan menurunkan pendidikan.

5. Penggunaan otoritas masyarakat yang belum tentu memahami sepenuhnya permasalahan dan pengelola pendidikan yang pada akhirnya akan menurunkan mutu pendidikan.

6. Kesengajaan sumber daya pendidikan yang tajam di karena kan perbedaan potensi daerah yang berbeda-beda. Mengakibatkan kesenjangan mutu pendidikan serta melahirkan kecemburuan sosial.

7. Terjadi pemindahan borok-borok pengelolaan pendidikan dari pusat ke daerah.

Selain dampak negatif tentu saja desentralisasi pendidikan juga telah membuktikan keberhasilan antara lain:

1. Mampu memenuhi tujuan politis, yaitu melaksanakan demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan

2. Mampu membangun partisifasi masyarakat sehingga melahirkan pendidikan yang relevan, karena pendidikan benar-benar dari oleh dan untuk masyarakat.

(30)

3. Mampu menyelenggarakan pendidikan secara menfasilitasi proses belajar

mengajar yang kondusif, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas belajar siswa.

KESIMPULAN

Ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Manajemen perencanaan

2. Manajemen pelaksanaan kurikulum 3. Supervisi pelaksanaan kurikulum 4. Pemantauan dan penilaian kurikulum 5. Perbaikan kurikulum

6. Desentralisasi dan sentralisasi pengembangan kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA

McNeil, John D., 2006. Contemporary Curriculum In Thought and Action. Hoboken: John Wiley &

Sons, Inc.

Rusman, ... Manajemen kurikulum ...

http://antonilamini.wordpress.com/2008/05/18sentralisasi-dan-desentralisasi-pendidikan

(31)

BAB 4

MASALAH-MASALAH DAN KENDALA DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan akan mampu:

1. Mengetahui Pengertian Kurikulum Pendidikan 2. Memahami Pengertian Manajemen Kurikulum 3. Memahami Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum

4. Mengetahui Prinsip dan Pentingnya Manajemen Kurikulum 5. Menjelaskan hambatan-hambatan Pengembangan Kurikulum 6. Mendiskusikan solusi dalam Permasalahan Kurikulum.

7. Mengidentifikasi Program-Program Pendidikan.

A. Pendahuluam

Dalam banyak literatur, kurikulum diartikan sebagai: suatu dokumen atau rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Pengertian ini mengandung arti bahwa kurikulum harus tertuang dalam satu atau beberapa dokumen atau rencana tertulis. Kurikulum sebagai rencana belajar atau sebagai hasil belajar yang telah di niati, tentunya harus menjawab persoalan-persoalan berikut:

Kemana rencana tersebut akan diarahkan ?

Apa yang harus dipelajari dalam rencana tersebut?

Bagaimana rencana itu harus direncanakan

Bagaimana mengetahui bahwa rencana tersebut telah mencapai arah yang telah ditetapkan?

Kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Isi kurikulum adalah pengetahuan ilmiah, kegiatan dan pengalaman belajar yang disusun secara dengan taraf perkembangan siswa. Kurikulum adalah niat dan rencana, sedangkan pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar. Di dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat, yakni guru dan siswa. Siswa adalah subjek yang membina.

Sedangkan pendidikan adalah aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya yaitu rohani dan jasmani.

Pendidikan berarti lembaga yang bertanggung jawab untuk menetapkan cita-cita (tujuan) isi sistem, dan organisasi di dalam pendidikan. Lembaga-lembaga ini meliputi: keluarga, sekolah, dan masyarakat (Negara). Pendidikan merupakan hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga pendidikan dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti terakhir ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan.

(32)

Dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, peran kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah sangatlah strategis, bahkan kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, serta kurikulum merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri, karena peran kurikulum sangat penting, maka menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan.

Dalam pengertian kurikulum yang dikemukakan tersebut harus diakui ada kesan bahwa kurikulum seolah-olah hanya dimiliki lembaga pendidikan modern dan yang telah memiliki rencana tertulis. Sedangkan lembaga pendidikan yang tidak memiliki rencana tertulis dianggap tidak memiliki kurikulum. Pengertian tersebut memang pengertian yang diberlakukan untuk semua unit pendidikan dan secara administratif kurikulum harus terekam secara tertulis.

Dalam pengertian ‘intrinsic’ kependidikan maka kurikulum adalah jantung pendidikan artinya, semua gerak kehidupan kependidikan yang dilakukan sekolah didasarkan pada apa yang direncanakan kurikulum. Kehidupan di sekolah adalah kehidupan yang dirancang berdasarkan apa yang diinginkan kurikulum. Pengembangan potensi peserta didik menjadi kualitas yang diharapkan adalah didasarkan pada kurikulum proses belajar yang dialami peserta didik dikelas, sekolah dan diluar sekolah dikembangkan berdasarkan apa yang direncanakan kurikulum. kegiatan evaluasi untuk menentukan apakah kualitas yang diharapkan sudah dimiliki oleh peserta didik dilakukan berdasarkan rencana yang dicantumkan dalam kurikulum. Oleh karena itu kurikulum adalah dasar dan sekaligus pengontrol terhadap aktivitas pendidikan. Tanpa kurikulum yang jelas apalagi jika tidak ada kurikulum sama sekali maka kehidupan pendidikan di suatu lembaga menjadi tanpa arah dan tidak efektif dalam mengembangkan potensi peserta didik menjadi kualitas pribadi yang maksimal.

Menurut undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 ayat (3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan

Pendidikan Indonesia dengan memperhatikan: peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja,

pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agama, dimiliki perkembangan global, dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan, agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi, dan tantangan kehidupan global. Artinya,

kurikulum haruslah mempermasalahkan permasalahan ini dengan menyesuaikan dari pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan (pasal 36 ayat 2)

B. pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum adalah sebuah proses atau sistem pengelolaan kurikulum secara kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik untuk mengacu ketercapaian tujuan kurikulum yang sudah dirumuskan. Dalam proses manajemen kurikulum tidak lepas dari

(33)

kerjasama sosial antara dua orang atau lebih secara formal dengan bantuan sumber daya yang mendukungnya. Pelaksanaannya dilakukan dengan metode kerja tertentu yang efektif dan efesien dari segi tenaga dan biaya, serta mengacu pada tujuan kurikulum yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam pelaksanaan, pengembangan kurikulum harus berdasarkan dan disesuaikan dengan manajemen berbasis sekolah (MBS), dan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan pengertian, bahwa manajemen kurikulum itu memang atas dasar konteks desentralisasi pendidikan dan otomatis daerah. Suatu institusi pendidikan diberi kebebasan untuk menentukan kebijakan dalam merancang dan mengelola kurikulum menurut kebutuhan peserta didik dan masyarakat pemerintah hanya menetapkan standar nasional dan untuk pengembangannya diserahkan sepenuhnya kepada lembaga sekolah dan madrasah terkait.

E.Mulyasa mengatakan bahwa desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah diberlakukan untuk memberikan keluasan pada sekolah dan perlibatan masyarakat untuk mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikan sesuai prioritas kebutuhan dengan seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. Tidak hanya itu dengan pemberdayaan sekolah lewat pemberian otomatis adalah bentuk tanggap dari pemerintah terhadap tuntutan masyarakat dan pemerataan pendidikan.

C. RUANG LINGKUP MANAJEMEN KURIKULUM

Manajemen kurikulum adalah bagian dari studi kurikulum. Para ahli pendidikan pada umumnya telah mengenal bahwa kurikulum suatu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang mempunyai ruang lingkup sangat luas. Studi ini tidak hanya membahas tentang dasar-

dasarnya, tetapi juga mempelajari kurikulum secara keseluruhan yang dilaksanakan dalam pendidikan.

Secara sederhana dan lebih mudah dipelajari secara mendalam, maka ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Manajemen Perencanaan

2. Manajemen Pelaksanaan Kurikulum 3. Supervisi Pelaksanaan Kurikulum 4. Pemantauan dan Penilaian Kurikulum 5. Perbaikan Kurikulum

6. Desentralisasi dan Sentralisasi Pengembangan Kurikulum.

Dari keterangan ini tampak sangat jelas bahwa ruang lingkup manajemen kurikulum adalah prinsip dari proses manajemen itu sendiri. Hal ini manajemen. Bahkan kalau dilihat dari cakupannya yang begitu luas, manajemen kurikulum merupakan salah satu disiplin ilmu yang bercabang pada kurikulum.

Dalam sebuah kurikulum terdiri dari beberapa unsur komponen yang bertangkai pada suatu sistem. Sistem kurikulum bergerak dalam siklus yang secara bertahap, bergilir, dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, sebagai akibat dari yang dianutnya, maka manajemen kurikulum juga harus memakai pendekatan sistem. Sistem kurikulum adalah suatu kesatuan yang di dalamnya memuat beberapa unsur yang saling berhubungan dan bergantung dalam mengembangkan tugas untuk mencapai suatu tujuan

(34)

E. PRINSIP DAN PENTINGNYA MANAJEMEN KURIKULUM

Prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam pelaksanaan Kurikulum harus sangat diperhatikan. Output (peserta didik) harus menjadi pertimbangan agar sesuai dengan rumusan tujuan manajemen kurikulum.

2. Demokratisasi, proses manajemen kurikulum harus berdasarkan asas demokrasi yang menempatkan pengelolaan, pelaksanaan dan subjek didik pada posisi yang

seharusnya agar dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

3. Kooperaif, agar tujuan dari pelaksanaan kurikulum dapat tercapai dengan maksimal, maka perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai pihak yang terkait.

4. Efektifitas dan efesiensi, rangkaian kegiatan kurikulum harus dapat mencapai tujuan dengan pertimbangan efektif dan efisien agar kegiatan manajemen kurikulum dapat memberikan manfaat dengan meminimalkan sumber daya tenaga, biaya dan waktu.

5. Mengarahkan pada pencapaian visi, misi dan tujuan yang sudah ditetapkan.

6. Adapun fungsi-fungsi dari manajemen adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, karena pemberdayaan sumber dan komponen kurikulum dapat dilakukan dengan pengelola yang terencana.

b. Meningkatkan keadilan dan kesempatan bagi peserta di untukkan mencapai hasil yang maksimal melalui rangkaian kegiatan pendidikan yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan.

c. Meningkatkan motivasi pada kinerja guru dan aktifitas siswa karena adanya dukungan posesif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.

d. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu pengembangkan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara profesional akan melibatkan masyarakat dalam memberi masukan supaya dalam sumber belajar disesuaikan dengan kebutuhan setempat

F. HAMBATAN-HAMBATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM:

a. Pada guru: guru kurang berpartisipasi dengan pengembangan kurikulum disebabkan beberapa hal yaitu kurang waktu, kekurangan sesuaian pendapat, baik dengan sesama guru maupun kepala sekolah & administrator karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.

b. Dari masyarakat: untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan ataupun kurikulum yang sedang berjalan.

Masyarakat adalah sumber input dari sekolah.

c. Masalah biaya: untuk pengembangan kurikulum apalagi untuk kegiatan eksperimen baik metode isi atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.

(35)

d. Kepada sekolah: dalam hal ini seharusnya kepada sekolah mempunyai latar belakang mendalam tentang teori dan praktek kurikulum. Kepala sekolah merupakan peranan yang penting dalam pengembangan kurikulum.

e. Birokrasi: terdiri dari pada inspeksi di Kanwil dan juga orang tua maupun tokoh-tokoh masyarakat. Kepala sekolah dan stafnya tidak dapat bekerja dalam kerangka patokan yang ditetapkan oleh depsiknas.

Usaha perbaikan kurikulum disekolah harus memenuhi langkah berikut ini: yaitu perlunya mengadakan penilaian umum di sekolah (kualitas dan mutu), mengetahui kebutuhan siswa dan guru, mengidentifikasi masalah yang timbul berdasarkan studi, menyiapkan desain perencanaan (tujuan, cara mengevaluasi, metode penyampaian, penilaian) menerapkan cara mengevaluasi/apalah direncanakan itu dapat

direalisasikan.

G. SOLUSI DALAM PERMASALAHAN KURIKULUM

Suatu kurikulum bisa mencapai sasaran yang sesuai dengan pendidikan, hendaknya diperhatikan beberapa hal, yaitu:

1. Langkah Pokok Kurikulum

Tujuan umum dalam pendidikan harus menjadi landasan pokok. Adanya tujuan pendidikan yang jelas dapat memudahkan dalam menetapkan isi pendidikan. Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam menentukan isi pendidikan, di antaranya:

a. Misi Nasional

b. Aspek Sosial Budaya c. Aspek Pembangunan

d. Modernisasi, yang meliputi pembinaan rasionalitas, efisiensi, produktifitas dan pembinaan ilmu pengetahuan serta teknologi.

2. Kebijakan Pendidikan

Landasan kebijakan pendidikan perlu adanya identifikasi terlebih dahulu. Sekurang- kurangnya ada 3 kebijaksanaan dalam pendidikan, yaitu:

i. Kebijaksanaan umum yang meliputi kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan kewajiban belajar, membimbing masyarakat, mencerdaskan masyarakat dan memajukan kebudayaan nasional.

ii. Kebijaksanaan dalam pendidikan sekolah yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

• Sekolah harus berorientasi pada pembangunan

• Sekolah harus merupakan bagian integral dari masyarakat

• Peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan

iii. Kebijaksanaan pendidikan di luar sekolah. Dalam hal ini penting diperhatikan

• Memupuk inisiatif dan usaha masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

• Pemerintah menertibkan dan membina usaha masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait