• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAMBU LAMINASI (LAMINATED BAMBOO : THE FUTURE WOOD)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAMBU LAMINASI (LAMINATED BAMBOO : THE FUTURE WOOD)"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

BAMBU LAMINASI

(LAMINATED BAMBOO : THE FUTURE WOOD)

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M B A D A N P E N E L I T I A N D A N P E N G E M B A N G A N

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

BALAI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERUMAHAN TRADISIONAL DENPASAR Kompleks PU Werdhapura, Jl. Danau Tamblingan No. 49 Sanur Denpasar, Bali Telp (0361) 288526-287791 & Fax (0361) 288526; E-mail:[email protected]

DENPASAR EXPERIMENTAL STATION FOR HUMAN SETTLEMENTS TECHNOLOGY

CERTIFICATE NO. QMS / 171

SOSIALISASI HASIL PENELITIAN BIDANG KECIPTAKARYAAN TAHUN Rabu, 30 September 2015

(2)

C

I Wayan Avend Mahawan Sumawa, ST

Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar Pusat Litbang Permukiman

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Email : [email protected]

[email protected] Cp : 081236250002/081936120002

(0361) 288526

Alamat : Jl. Cenigan Sari No. 33 Sesetan-Denpasar Selatan

Jl. Danau Tamblingan No 49, Sanur-Denpasar Selatan

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Kontribusi Ekonomi

PDB

Penciptaan lapangan kerja

Ekspor Iklim Bisnis

Penciptaan lapangan Usaha

Dampak bagi sektor lain

Pemasaran

Dampak Sosial

Peningkatan Kualitas Hidup Peningkatan Toleransi Sosial

Inovasi &

Kreativitas

Ide & Gagasan Penciptaan Nilai

Sumber Daya Terbarukan

Berbasis Pengetahuan

Kreativitas Green Community

Citra &

Identitas Bangsa

Warisan Budaya &

Nilai Lokal Ikon Nasional Membangun Budaya

Turisme

EKONOMI KREATIF

Green Material

Bahan Bangunan menggunakan bahan ORGANIK (Kayu, Bambu, Alang-alang, dll), yang bersifat RENEW-ABLE (dapat

diperbaharui) dan berasal dari SUMBER DAYA LOKAL dengan pendayagunaan secara

BERKELANJUTAN tanpa

eksploitasi melebihi daya dukung.

Pro-GROWTH Pro-JOB

Pro-POOR

Pro-ENVIRONMENT

.... berbasis Kearifan dan Kegeniusan Lokal (local wisdom & local genius)

(8)

Untuk menghasilkan/memperoleh BAMBU yang ber-KUALITAS.

Untuk menghasilkan/memperoleh BAMBU yang AWET.

Untuk menghasilkan/memperoleh BAMBU LAMINASI yang KUAT.

Untuk menghasilkan/memperoleh BAMBU LAMINASI yang SESUAI KEBUTUHAN.

(9)

KELEMAHAN STRUKTURAL :

BENTUK BAMBU BULAT, BERONGGA DAN BERBUKU

PEMANFAATAN PADA KONSTRUKSI TERBATAS

KELEMAHAN TERHADAP SERANGAN ORGANISME PERUSAK : PENGAWETAN BAMBU

LAMINASI BAMBU

(10)

Tujuan

1. Menghasilkan batang bambu yang berkualitas tinggi.

2. Memenuhi kebutuhan bambu secara kontinu sebagai bahan baku produksi bambu laminasi.

3. Membantu dan memudahkan masyarakat dalam mengelola kebun bambu dari cara penanaman hingga pemanenan.

4. Menghindari penyusutan dan pengerusakan hutan bambu.

Teknik memperbanyak bambu Teknik menanam bambu Teknik perawatan rumpun bambu Teknik pemanenan

Ruang Lingkup

Tata Cara Budidaya Bambu

(11)

Tata Cara Budidaya Bambu

Bambu : bambu petung/bambu yang berdinding tebal (> 10

mm).

(12)

Teknik Memperbanyak Bambu Dengan Batang

Tata Cara Budidaya Bambu

1. Pilihlah batang bambu yang berumur sekitar 2-3 tahundan memiliki banyak cabang.

2. Potonglah sedekatmungkin dengan tanah, dan kemudian potong-potonglah batangnya sepanjang 1,5 sampai 2 meteratau memiliki 3 sampai 4 ruas. Jangan menggunakan bagian ujung 1/3 bagian dari batang karena tingkat keberhasilannya kecil.

3. Bersihkan cabang-cabang dan daunnya setelah buku pertama pada tiap potongan, tapi sisakan 2 atau 3 cabang pada satu sisinya.

4. Lubangi buku di bagian atas kemudian isi dengan air.

5. Galilah parit dan kuburlah batang bambu secara mendatar/horisontal sedalam kira-kira 15 cm. Setelah penanaman, potonglah cabang-cabang yang tersisa pada 2 buku di atas tanah. Ini akan membantu Anda mengetahui di mana bambu itu ditanam.

6. Sirami setiap hari selama satu minggu pertama. Setelah itu, sirami dua kali seminggu selama satu bulan.

Ketika batang bambu itu sudah mulai bertunas, batang itu sudah siap untuk digali, dipotong, dan ditanam kembali ke tempat yang Anda inginkan.

(13)

1. Tanam bambu berbaris dengan jarak antar rumpun disesuaikan ukuran bambu. Bervariasi antara 4x6 m, 7.5x7.5 m.

2. Beri pupuk setiap 3-6 bulan.

3. Beri lapisan mulsa setebal 30 cm.

4. Pada umur 2 tahun taburkan semen titis-tipis di sekitar rumpun.

Tata Cara Budidaya Bambu

Teknik Menanam Bambu

(14)

B. Teknik Perawatan Rumpun Bambu Dengan Penjarangan

Jarak ideal antar bambu 1.5 x diameternya

Bentuk rumpun yang ideal yaitu horse shoe / sepatu kuda

Tata Cara Budidaya Bambu

(15)

D. Teknik Perawatan Rumpun Bambu Dengan Seleksi dan Tandai Tunas

Potong tunas yang tumbuh berdekatan. Tandai tunas sebelum memiliki daun. Gores pada ketinggian yang sama (± 1 m)

Tandai Sesuai tanggal lahirnya.

Tata Cara Budidaya Bambu

(16)

Teknik pemanenan yang pengaruhi kualitas bambu:

1. Usia Bambu, bervariasi 3.5 -5 tahun

2. Jumlah bambu yang dipanen tidak lebih 30%

dalam satu rumpun/tahun

3. Waktu panen: musim kemarau; bulan mati; dan sebelum terjadi fotosistesis

4. Bersihkan rumpun agar cahaya masuk

5. Setelah dipanen sebaiknya segera diawetkan

Tata Cara Budidaya Bambu

(17)

Tujuan

Peningkatan keawetan bambu guna memperpanjang masa pakai/layan.

Mengurangi biaya pemeliharaan bangunan.

Meningkatkan kualitas bangunan.

Serangan Bubuk

1. Perendaman Air Mengalir

2. Boucherie 3. Perendaman 4. Difusi

5. Vaccum Pressure

6. Boucherie Modifikasi :

Gravitasi / Tekanan

(18)

Bahan

Bilah

Zephyr / Pelupuh

Proses

Kempa Dingin

Kempa Panas

BAHAN BAKU PROSES

BAMBU BILAH

-Bambu PETUNG (Bambu Yang Mempunyai Bilah Tebal) BAMBU ZEPHYR/PELUPUH

- Bambu Tali PEREKAT :

a. Urea Formaldehida Interior, Kempa panas/dingin

b. Melamine Formaldehida Interior, Kempa panas

c. Phenol Formaldehida Exterior, Kempa panas

d. Phenol Resorcinol Exterior, Kempa dingin

e. PVAC Interior, Kempa dingin

f. Poly Urethan (Isocyanate) Exterior, Kempa dingin

(19)
(20)
(21)

• Pembersihan Bilah-bilah

Tonjolan buku-buku bagian atas dan bawah bilah dibersihkan/diratakan untuk permudah proses penyerutan.

• Pengawetan - Perendaman - Pengasapan

- Buchery modifikasi

(22)

Buchery modifikasi

(23)

• Pengeringan

Bambu dikeringkan dengan

memanfaatkan sinar matahari atau menggunakan oven pengeringan sampai diperoleh kadar air < 15 %.

• Penyerutan bilah

Bilah bambu diserut sampai

diperoleh permukaan bambu

rata.

(24)
(25)
(26)

• Pengempaan

Bambu lapis dikempa 2 MPa

• Pengeringan

Bambu lapis keringkan selama 2 jam

(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)

• Perataan Sisi Bambu lapis diratakan kedua sisinya

• Penggabungan Papan menjadi Balok

Pembentukan

balok bambu

lapis

(33)

• Pengempaan

Bambu lapis dikempa 2 MPa

• Pengeringan

Bambu lapis keringkan di bawah

sinar matahari selama 2 jam

(34)

• Perataan Sisi

Bambu lapis diratakan kedua sisinya

• Penggabungan Papan menjadi Balok

Pembentukan balok bambu lapis

(35)

Ketersediaan bahan alami pada saat ini tidak diimbangi dengan usaha reboisasi atau peremajaan. Saat ini dunia konstruksi sudah mengalami kesulitan menemukan bahan bangunan, terutama kayu dengan kualitas baik dan dimensi sesuai Kebutuhan. Salah satu bahan bangunan alternatif pengganti kayu yang mudah diperoleh dan dibudidayakan adalah BAMBU. Pemakaian bambu pada bahan bangunan terkendala bentuk apabila hendak diaplikasikan sebagai balok, kolom atau papan sebagaimana kayu. Kendala tersebut dapat diatasi setelah bambu mengalami prosesLAMINASI.

Bahan Baku : BAMBU

Bahan Pengawet : Borac-Boric / Boron

Bahan Perekat : Polymer Isocyanate (Eksterior)

Teknologi Ramah Lingkungan dan Peluang Usaha (Padat Karya)

Komponen : Kolom

Balok

Partisi

Parquet

Furniture

(36)

Jenis Pengujian Sifat Mekanika (Mpa)

Tekan // serat 50.22

Tekan tegak lurus serat 19.81

Tarik // serat 135.43

Tarik tegak lurus serat 1.01

MOE 46672

Kode Modulus Kuat Kuat Tarik Kuat Tekan Kuat Kuat Tekan

mutu Elastisitas Lentur Sejajar Sejajar Geser Tegak Lurus

Lentur Eb Fb Serat Ft Serat Fc Fv Serat Fc

SNI Balam SNI Balam SNI Balam SNI Balam SNI Balam SNI Balam

E26 25000 46672 66 60 135.4 46 50.22 6.6 6.89 24

E25 24000 62 64.18 58 45 6.5 23

E24 23000 59 56 45 6.4 22

E23 22000 56 53 43 6.2 21

E22 21000 54 50 41 6.1 20 19.81

E21 20000 56 47 40 5.9 19

E11 10000 20 19 25 4.5 10

E10 9000 18 17 24 4.3 9

Perbandingan bambu laminasi dengan nilai kuat acuan mekanis kayu struktural

(37)
(38)

Arsitektur tradisional memiliki kekhasan dan daya tarik merupakan kekayaan (aset) nasional dan kebanggaan bangsa Indonesia. Seiring perkembangan zaman, peradaban dan kemajuan teknologi, maka terjadilah pergeseran-pergeseran yang berakibat hilangnya keasliannya. Salah satu faktor pendorong hilangnya artefak tersebut adalah SEMAKIN LANGKANYA BAHAN BANGUNAN, karena kualitas yang rendah atau nilai estetika yang tidak lagi sesuai.

Salah satu bahan bangunan alternatif pengganti kayu yang mudah diperoleh dan dibudidayakan adalah BAMBU. Pemakaian bambu pada bahan bangunan terkendala bentuk apabila hendak diaplikasikan sebagai balok, kolom atau papan sebagaimana kayu.

Kendala tersebut dapat diatasi setelah bambu mengalami proses LAMINASI.

(39)

Aplikasi Teknologi Bambu Laminasi pada Model Bangunan Tradisional Bali, pada hampir seluruh komponen bangunan, kecuali bahan penutup atap.

Lokasi : Desa Undisan

Lokasi : Desa Undisan

(40)

Aplikasi Teknologi Bambu Laminasi pada Model Bangunan Tradisional Sasak berupa Berugak dan Lumbung, pada hampir seluruh komponen bangunan, kecuali bahan penutup atap.

Lokasi : Kantor Dinas PU Propinsi NTB Lokasi : Kantor Dinas PU Propinsi NTB

(41)

Aplikasi Teknologi Bambu Laminasi pada Model Bangunan Tradisional MBOJO berupa UMA LENGGE, pada hampir seluruh komponen bangunan, kecuali bahan penutup atap.

Lokasi : Desa Maria, Wawo-Bima

Lokasi : Desa Sambori-Bima Lokasi : Desa Padende-Bima

(42)

Aplikasi Teknologi Bambu Laminasi pada Model Bangunan Tradisional Ngada, pada hampir seluruh komponen bangunan, kecuali bahan penutup atap.

Lokasi : Kampung Bena

Lokasi : Kampung Wogo

(43)

Aplikasi BAMBU LAMINASI sebagai pengganti kayu konstruksi telah dilakukan oleh Balai PTPT Denpasar pada Gedung Kantor Balai PTPT Denpasar pada 2008.

(44)

Salah satu bahan bangunan alternatif pengganti kayu yang mudah diperoleh dan dibudidayakan adalah BAMBU.

Pemakaian bambu pada komponen penunjang bangunan terkendala bentuk apabila hendak diaplikasikan sebagai

TANGGA, LEMARI, MEJA, KURSI

dan furniture lainnya.

Kendala tersebut dapat diatasi setelah bambu mengalami

proses LAMINASI.

(45)

Pemasangan pintu Air bamboo laminasi di

Saluran Irigasi Rengas Dengklok Purwakarta

(46)

Penerapan :

Telah digunakan pada Pelatihan di Kabupaten Bangli (Bali) dan di Kabupaten Ngada (NTT) serta di Propinsi NTB dan Jawa Barat.

Modul ini merupakan modul Pelatihan/Alih

Teknologi Pengolahan Bambu menjadi Bambu Laminasi

yang sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja (SKK).

Modul ini mencakup tentang :

1. Tata cara Budidaya Bambu secara Berkelanjutan 2. Tata cara Persiapan Bahan dan Alat

3. Tata cara Pengawetan 4. Tata cara Laminasi

5. Tata cara Penyelesaian Akhir

(47)

Konsep :

menampilkan informasi proses produksi BAMBU LAMINASI, yang terdiri dari PERSIAPAN, PENGAWETAN, LAMINASI dan PENYELESAIAN AKHIR.

DVD ini merupakan publikasi mengenai

Teknologi Pengolahan Bambu menjadi Bambu Laminasi.

Salah satu bahan bangunan alternatif pengganti kayu yang

mudah diperoleh dan dibudidayakan adalah

BAMBU,

yang

diaplikasikan sebagai balok, kolom atau papan sebagaimana kayu

melalui proses

LAMINASI.

(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)

Identifikasi Potensi

Potensi Bambu

Pembinaan Usaha/Industri Penetapan Model Usaha

Penetapan

Komunitas/Kelompok

Alih Teknologi

SDM

Penyediaan Modal Fasilitasi Modal

Fasilitasi Alat

(54)

PENUTUP

Bambu lapis / Bambu Laminasi sebagai alternatif pengganti kayu yang mempunyai prospek cukup baik, mengingat bambu sebagai bahan baku dapat tumbuh hampir merata di seluruh wilayah

Indonesia.

Bambu setelah melalui proses laminasi dapat meningkatkan nilai

kekuatan mekanis yang cukup tinggi, sehingga dapat menghilangkan kelemahan-kelemahan bambu utuh.

Teknologi yang diaplikasikan dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan ketersediaan peralatan, tenaga kerja dan energi listrik.

Produksi bambu laminasi sebagai upaya pemanfaatan bahan

bangunan lokal diharapkan dilakukan di daerah potensial bambu

dengan tetap menjaga kelestarian tanaman bambu dalam tata kelola budidayanya.

Alih teknologi dilakukan secara intensif untuk mendorong usaha-

usaha kecil, sehingga dapat mengembangkan usaha kecil menengah

(UKM) dengan tujuan menggerakkan ekonomi masyarakat.

(55)

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M B A D A N P E N E L I T I A N D A N P E NG E M B A N G A N P U S A T P E N E L I T I A N D A N P E N G E M B A N G A N P E R M U K I M A N BALAI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERUMAHAN TRADISIONAL DENPASAR

Kompleks PU Werdhapura, Jl. Danau Tamblingan No. 49 Sanur Denpasar, Bali

Telp (0361) 288526-287791 & Fax (0361) 288526; E-mail:[email protected]

DENPASAR EXPERIMENTAL STATION FOR TRADITIONAL HOUSING TECHNOLOGY DEVELOPMENT

...Teknologi untuk Negeri : Technology for Infrastructure (TechnoStructure)

Referensi

Dokumen terkait

Panel zephyr bambu adalah suatu papan atau lembaran tiga lapis dari zephyr bambu atau serat bambu dengan arah serat bersilangan yang direkat dengan menggunakan

Dapat memberikan gambaran serta data masukan untuk merancang alat penguapan kayu (steam wood) yang berguna untuk membuat gading kapal berbahan laminasi bambu.. Dapat digunakan

Dari tabel di atas dapat diketahui nilai kuat lentur rata-rata balok laminasi bambu yaitu sebesar 778,83 Kgf/cm 2 , serta tergolong pada kayu kelas II berdasarkan pada

Dalam bidang konstruksi, dikarenakan memiliki karakter yang lentur namun kuat serta mudah dibudidayakan, bambu dipandang sebagai material alternatif yang tepat

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan terciptanya ekonomi yang kreatif dan inovativ dengan memanfaatkan bambu dengan proses laminasi sebagai alternatif

Pernyataan tersebut adalah bahwa kayu adalah bahan wajib yang digunakan dalam setiap bangunan, responden Bali tidak setuju dengan pernyataan ini, artinya bahan bangunan kayu

Pada pelapis bambu, papan komposit dengan strip log core (kotak maupun bulat) dan bambu andong memiliki nilai delaminasi yang relatif sama dengan bambu tali, dan lebih baik dari

Nilai MOR balok laminasi dari kayu mangium yang digunakan dalam penelitian ini masih dapat ditingkatkan dengan cara mereduksi cacat terutama mata kayu dan