• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDAHULUAN. Latar Belakang"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Koperasi merupakan usaha bersama dari sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan (Undang-Undang Nomer 25 Tahun 1992 Tentang Koperasi). Sedangkan menurut Prof. R.S. Soeriaatmadja Koperasi adalah suatu badan usaha yang secara sukarela dimiliki dan dikendalikan oleh anggota yang juga pelanggannya dan dioperasikan oleh mereka dan untuk mereka atas dasar nirlaba atau dasar biaya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai badan penyusun standar akuntansi di Indonesia pada 17 Juli 2009 telah meluncurkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Jenis entitas bisnis yang disasarkan dapat menggunakan SAK ETAP ini adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan yakni perusahaan yang tidak terdaftar dalam bursa efek dan bukan perusahaan bank, bukan perusahaan asuransi, bukan perusahaan pialang atau pedagang efek, bukan perusahaan dana pensiun, bukan perusahaan reksa dana, bukan perusahaan investasi.1 Akan tetapi dalam tulisan IAI 2009, menyebutkan bahwa yang termaasuk dalam SAK ETAP adalah badan usaha seperti UMKM dan koperasi.2

Penyajian laporan keuangan koperasi sesuai SAK ETAP berdasarkan Peraturan Menteri Tentang Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Negara Republik Indonesia Nomor 04/Per/M.KUKM/VII/2012 mengatur perhitungan sisa hasil usaha dan pembagiannya, rincian sumber modal koperasi dalam neraca, pemisahan beban koperasi ke dalam beban operasional, beban perkoperasian dan beban operasional lainnya dalam laporan sisa hasil usaha (pasal 5 peraturan menteri tentang koperasi dan usaha kecil dan menengah mengulas tentang pedoman umum akuntansi

1www.wibowopajak.com/2012/06/entitas-tanpa-akuntabiitas-publik.html?m=1 diakses pada tanggal 16 juli pukul 01.00 WIB.

2http://www.iaiglobal.or.id/ diakses pada tanggal 16 juli pukul 01.00 WIB.

(2)

2

koperasi sektor riil.3 SAK ETAP tersebut berlaku efektif per 1 Januari 2011 namun penerapan sebelum tanggal efektif diperbolehkan.

Dalam penyusunan laporan keuangan, koperasi simpan pinjam masih menggunakan PSAK umum dalam menyusun laporan keuangannya tanpa mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh SAK ETAP. Hal ini dapat dilihat pada beberapa koperasi yang ada. Salah satunya terdapat di Koperasi Tirta Raharja. Dalam penyusunan laporan keuangan pada koperasi Tirta Raharja PDAM kota Magelang masih menggunakan PSAK No 27 dalam menuyusun laporang keuangannya, sedangkan semenjak tanggal 23 Oktober 2010 IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) telah mencabut PSAK No 27 dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2012. Diduga hal tersebut karena keterbatasan sumber daya manusia dalam penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Sehingga, untuk menerapkan laporan keuangan sesuai SAK ETAP koperasi Tirta Raharja harus menyiapkan sumber daya manusia yang memadai.

Penelitian tentang SAK ETAP yang digunakan pada pelaporan keuangan di koperasi sudah pernah dilakukan oleh berbagai peneliti diantaranya oleh Ariantini, Zukhri, dan Meitriana (2014) yang meneliti tentang Penerapan SAK ETAP dalam Penyusunan Laporan Keuangan pada Koperasi Simpan Pinjam Lembing Sejahtera Mandiri menyatakan bahwa Penerapan SAK ETAP dalam penyusunan laporan keuangan KSP Lembing Sejahtera Mandiri berimplikasi pada penurunan sisa hasil usaha KSP Lembing Sejahtera Mandiri tahun 2013 sebesar Rp 34.960.000,00.

Penurunan ini diakibatkan adanya biaya-biaya yang tidak tercatat pada laporan sisa hasil usaha yang dihasilkan oleh KSP Lembing Sejahtera Mandiri seperti, biaya honor pengurus, biaya pelatihan, biaya sosial, dan biaya pembangunan daerah kerja.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kusmana (2014) yang meneliti tentang penerapan Standar Akuntansi Keuangan Tanpa Akuntanbilitas Publik (SAK ETAP) di KPRI serba usaha migas cepu menyatakan bahwa KPRI Serba Usaha Migas Cepu belum menyajikan laporan keuangan sesuai yang diatur dalam Standar Akuntansi Tanpa

3http://smecda.com/). diakses pada tanggal 16 juli pukul 01.00 WIB.

(3)

3

Akuntanbilitas Publik. Laporan hasil usaha yang dibuat oleh KPRI “Serba Usaha” Cepu tidak diatur dalam SAK ETAP tetapi pelaporan perhitungan hasil usaha diatur dalam UU no 17 tahun 2012 tentang perkoperasian pasal 37 ayat 1 (c) dimana laporan pertanggungjawaban tahunan koperasi berisi laporan keuangan yang sekurang-kurangnya terdiri dari neraca akhir dan perhitungan hasil usaha tahun buku.

Kemudian, Arsani dan Putra (2012) meneliti tentang perlakuan akuntansi pendapatan dan beban berbasis SAK ETAP dan implikasinya pada laporan keuangan KSP Duta Sejahtera menyatakan bahwa perlakuan beban sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik yaitu beban diakui dengan basis akrual. Sedangkan perlakuan terhadap pendapatan belum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik sehingga berdampak pada laporan selisih hasil usaha menurut KSP Duta Sejahtera dan laporan selisih hasil usaha menurut SAK ETAP. Jumlah pendapatan bunga menurut SAK ETAP lebih besar daripada jumlah menurut KSP, dikarenakan dicatatannya pendapatan yang masih harus diterima. Akibat dari pencatatan pendapatan yang akan diterima maka akan berpengaruh terhadap jumlah selisih hasil usaha sebelum pajak. Jumlah selisih hasil usaha yang berubah nantinya juga akan berdampak pada beban pajak. Atas pencatatan pendapatan bunga yang masih harus diterima akan dicatat pada akun pendapatan yang akan diterima sebesar jumlah pendapatan yang akan diterima yang memang sudah harus diakui sebagai pendapatan pada periode akuntansi tahun berjalan. Disamping itu akibat perubahan jumlah selisih hasil usaha pada laporan SHU, akan mengakibatkan perubahan pada jumlah selisih hasil usaha yang belum dibagai pada neraca yang merupakan bagian dari pos pasiva. Hal tersebut akan mengakibatkan perbedaan jumlah aktiva dan pasiva menurut KSP dan SAK ETAP.

Dari ketiga penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa koperasi belum menggunakan pelaporan keuangan yang ditetapkan SAK ETAP yang berdampak pada laporan sisa hasil usaha. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan PSAK dalam laporan keuangannya. Oleh karena itu, penelitian akan menjawab dari penelitian sebelumnya yang kurang jelas mengenai tingkat keuntungan atau SHU dalam pemberlakuan

(4)

4

PSAK No 27 dan pemberlakuan SAK ETAP. Penelitian ini merupakan pengulangan atau perluasan terhadap penelitan yang dilakukan sebelumnya. Hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk mengkomunikasikan atau mengembangkan temuan-temuan sebelumnya.

Persoalan Penelitian

Agar penelitian ini sesuai dengan masalah yang ada di lapangan maka peneliti merumuskannya ke dalam satu bentuk persoalan penelitian yaitu : 1) Adakah perbedaan tingkat keuntungan pencatatan akuntansi menggunakan PSAK No. 27 dengan pencatatan akuntansi menggunakan SAK ETAP ? 2) Unsur atau elemen apakah yang menjadi faktor penentu perbedaan ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan persoalan penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui perbedaan tingkat keuntungan pencatatan akuntansi menggunakan PSAK No. 27 dengan pencatatan akuntansi menggunakan SAK ETAP. 2) Untuk mengetahui unsur atau elemen yang menjadi faktor penentu yang mempengaruhi SHU.

Manfaat Penelitian

Secara praktis, manfaat yang diperoleh sebagai berikut :1) Bagi koperasi Tirta raharja PDAM Kota Magelang, selain dapat mengetahui tingkat keuntungan SHU sebelum dan sesudah diberlakukan SAK ETAP, koperasi juga dapat menyusun laporan keuangan sendiri dan dapat diaudit serta mendapat opini audit yang nantinya akan digunakan untuk memperoleh pinjaman dana dari pihak eksternal (bank), SAK-ETAP lebih sederhana dalam implementasinya dibanding PSAK-IFRS (SAK-UMUM), dan meskipun lebih sederhana, namum SAK-ETAP ini tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan. Selain itu juga jumlah pendapatan bunga menurut SAK ETAP lebih besar dari pada jumlah perhitungan menggunakan PSAK No. 27, dikarenakan dicatatannya pendapatan yang masih harus diterima. Akibat dari pencatatan pendapatan yang akan diterima maka akan berpengaruh terhadap jumlah selisih hasil usaha sebelum pajak, seperti yang terdapat

(5)

5

pada KPRI (Koperasi Pegawai Republik Indonesia)dan koperasi Duta Sejahtera. 2) Bagi pemerintah, dengan adanya koperasi yang sehat, perekonomian yang berbasis kerakyatan dapat terwujud dan dapat berjalan secara efektif dengan adanya SAK ETAP. 3) Bagi pihak lain, sebagai informasi untuk peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut tentang SAK ETAP.

TINJAUAN PUSTAKA Koperasi

Menurut Rudianto (2006:1) Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka, melalui pembentukan sebuah badan usaha yang dikelola secara demokratis. Sedangkan menurut Hatta Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong- menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan “seorang buat semua dan semua buat seorang”. Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah sekumpulan orang yang ingin membantu masyarakat untuk mensejahterakan dan meningkatkan perkonomian. Seperti yang sudah penulis kemukakan diatas bahwa koperasi merupakan bagian dalam SAK ETAP yakni jenis entitas bisnis yang disasarkan dapat menggunakan SAK ETAP ini adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan yakni perusahaan yang tidak terdaftar dalam bursa efek dan bukan perusahaan bank, bukan perusahaan asuransi, bukan perusahaan pialang atau pedagang efek, bukan perusahaan dana pensiun, bukan perusahaan reksa dana, bukan perusahaan investasi.4 Akan tetapi dalam tulisan IAI 2009, menyebutkan bahwa yang termaasuk dalam SAK ETAP adalan badan usaha seperti UMKM dan koperasi.5

4www.wibowopajak.com/2012/06/entitas-tanpa-akuntabiitas-publik.html?m=1 diakses pada tanggal 16 juli pukul 01.00 WIB.

5http://www.iaiglobal.or.id/ diakses pada tanggal 16 juli pukul 01.00 WIB.

(6)

6 PSAK. No.27

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Perkoperasian adalah salah satu dari prinsip, prosedur, metode dan teknik akuntansi yang terdapat dalam PSAK. Pernyataan ini mengatur akuntansi bagi badan usaha koperasi atas transaksi yang timbul dari hubungan koperasi bagi anggotanya. Yaitu, meliputi transaksi setoran anggota koperasi dan transaksi usaha koperasi dengan anggotanya dan transaksi yang spesifik pada badan usaha koperasi, diantaranya cadangan, modal penyertaan, modal sumbangan, beban perkoperasian serta penyajian dalam pengungkapannya dalam laporan keuangan.

Dalam PSAK No.27 laporan keuangan koperasi terdiri dari neraca, laporan perhitungan hasil usaha, laporan arus kas, laporan promosi ekonomi anggota, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan disajikan secara komparatif berurutan untuk dua periode akuntansi terakhir. Neraca disusun untuk menggambarkan posisi keuangan koperasi pada waktu tertentu yang terdiri dari unsur aktiva, kewajiban dan ekuitas.

Laporan perhitungan hasil usaha harus memuat hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan non-anggota. Laporan hasil usaha disajikan dengan memisahkan pos penghasilan dan beban yang berasal dari kegiatan yang diselenggarakan untuk anggota dan bukan anggota. Pos penghasilan dan beban yang berasal dari kegiatan penunjang lainnya serta laba rugi yang timbul dari transaksi yang bersifat luar biasa. Laporan arus kas disusun dengan tujuan memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas atau setara kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Laporan arus kas ini akan membantu para investor, kreditur, dan pemakai lainnya untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memasukkan kas di masa yang akan datang, untuk memenuhi kewajibannya membayar deviden dan keperluan dana untuk kegiatan ekstern. Laporan promosi ekonomi anggota adalah laporan yang memperlihatkan manfaat ekonomi yang diperoleh anggota koperasi selama satu tahun tertentu. Laporan promosi ekonomi anggota mencakup empat unsur yaitu manfaat ekonomi dari pembelian barang atau pengadaan jasa bersama, manfaat ekonomi dari pemasaran dan

(7)

7

pengelolaan bersama, manfaat ekonomi dan simpan pinjam lewat koperasi, manfaat ekonomi dalam bentuk pembagian sisa hasil usaha.

Catatan atas laporan keuangan disusun dengan maksud untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan akuntansi yang penting digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan, rincian dan penjelasan masing-masing pos laporan keuangan serta informasi tambahan lainnya yang diperlukan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut atas pos laporan keuangan tertentu.

SAK ETAP

Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik(SAK ETAP) adalah standar akuntansi yang disusun sebagai acuan dan dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Standar ETAP ini disusun cukup sederhana sehingga tidak akan menyulitkan bagi penggunanya yang merupakan entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP) yang mayoritas adalah perusahaan yang tergolong usaha kecil dan menengah. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal(IAI 2009).

Menurut Arsani dan Putra (2012) terdapat perbandingan laporan selisih hasil usaha menurut KSP Duta Sejahtera dan laporan selisih hasil usaha menurut SAK ETAP. Jumlah pendapatan bunga menurut SAK ETAP lebih besar daripada jumlah menurut KSP, dikarenakan dicatatannya pendapatan yang masih harus diterima. Akibat dari pencatatan pendapatan yang akan diterima maka akan berpengaruh terhadap jumlah selisih hasil usaha sebelum pajak. Jumlah selisih hasil usaha yang berubah nantinya juga akan berdampak pada beban pajak. Atas pencatatan pendapatan bunga yang masih harus diterima akan dicatat pada akun pendapatan yang akan diterima sebesar jumlah pendapatan yang akan diterima yang memang sudah harus diakui sebagai pendapatan pada periode akuntansi tahun berjalan. Disamping itu akibat perubahan jumlah

(8)

8

selisih hasil usaha pada laporan SHU, akan mengakibatkan perubahan pada jumlah selisih hasil usaha yang belum dibagai pada neraca yang merupakan bagian dari pos pasiva. Hal tersebut akan mengakibatkan perbedaan jumlah aktiva dan pasiva menurut KSP dan SAK ETAP.

Sisa Hasil Usaha

Menurut Kusnadi dan Hendar (1999) menyatakan bahwa : “Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku (Januari s/d Desember) dikurangi dengan biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan. Pada hakekatnya sisa hasil usaha koperasi sama dengan laba untuk perusahaan lain”. Sedangkan definisi SHU menurut Samyono dalam bukunya “Perkoperasian” adalah SHU yang diperoleh dari kegiatan utama perusahaan yang merupakan selisih dari pendapatan bersih dengan harga pokok penjualan dan beban usaha (1999:98).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa SHU adalah selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total dalam satu tahun.

Besaran SHU secara empiris tergantung pada dua aspek pokok yaitu tingkat pendapatan dan biaya dalam satu periode. Pengakuan pendapatan dan biaya tentunya harus berpedoman pada pedoman akuntansi yang berlaku. Terjadinya koreksi hasil audit, mencerminkan tidak konsistensnya pelaksana dalam menyusun laporan keuangan walaupun terkadang manjemen mempunyai motif tertentu seperti adanya perataan laba. Namun demikian masalah krusial adalah perlunya konsistensi pengakuan pendapatan dan biaya sesuai dengan pedoman akuntansi yang berlaku.

Perubahan sisem akuntansi dari KSP ke SAK ETAP, tentunya terjadi perubahan pengakuan pendapatan dan biaya, walaupun tidak secara keseluruhan. Perubahan pengakuan pendapatan dan biaya, tentunya akan menyebabkan perbedaan perolehan SHU.

(9)

9 Pendapatan

Menurut Zaki Baridwan (1992), Pendapatan adalah kenaikan aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utang selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa atau dari kerugian lain yang merupakan kegiatan utama suatu badan usaha.

Sedangkan Theodurus M.Tuanakotta dalam buku “Teori Akuntansi”

menyatakan bahwa :“Pendapatan (Revenue) dapat didefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan. Pendapatan adalah darah kehidupan dari suatu perusahaan. Mengingat pentingnya sangat sulit mendefinisikan pendapatan sebagai unsur akuntansi pada dirinya sendiri.

Pada dasarnya pendapatan adalah kenaikan laba. Seperti laba pendapatan adalah proses arus penciptaan barang atau jasa oleh suatu perusahaan selama suatu kurun waktu tertentu. Umumnya, pendapatan dinyatakan dalam satuan moneter (uang)”(2000;152). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan adalah sesuatu yang diperoleh dari usaha seseorang yang mempunyai usaha dan memiliki nilai tambah.

Pendapatan tanpa SAK ETAP akan berdampak pada laporan sisa hasil usaha. Di dalam laporan tersebut, menurut koperasi lebih rendah dibandingkan dengan laporan yang menerapkan SAK ETAP, seperti penelitian yang dilakukan oleh Arsani dan Putra (2012) dari hasil penelitiannya perlakuan pendapatan tersebut akan berdampak terhadap laporan keuangan yang dihasilkan yaitu selisih hasil usaha menurut koperasi lebih rendah daripada selisih hasil usaha menurut perhitungan sesuai SAK ETAP.Entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima (SAK ETAP).

Biaya

Menurut Nafarin (2004 : 379) biaya (Cost) adalah nilai sesuatu yang dikorbankan yang diukur dalam satuan uang untuk memperoleh aktiva yang diimbangi dengan pengurangan aktiva atau penambahan utang atau modal. Sedangkan Mulyadi (2001;8) biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

(10)

10

Menurut penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh sesuatu.

Menurut Ariantini, Zukhri, dan Meitriana (2014) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa penerapan SAK ETAP berimplikasi pada penurunan sisa hasil usaha KSP Lembing Sejahtera Mandiri tahun 2013 sebesar Rp 34.960.000,00 karena adanya biaya yang tidak tercatat seperti biaya honor pengurus, biaya pelatihan, biaya sosial, dan biaya pembangunan daerah kerja.Koperasi yang tidak menerapkan SAK ETAP dalam pengakuan biayanya lebih tinggi karena semua biaya yang ada di koperasi dicatat. Sedangkan, pada koperasi yang menerapkan SAK ETAP biaya yang terdapat pada laporan keuangan lebih rendah karena tidak semua biaya dicatat dalam laporan keuangan. Berdasarkan SAK ETAP seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan atau entitas harus diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi.

METODEPENELITIAN Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian (McMillan & Schumacher, 2003).

Jenis dan Sumber Data

Peneliti menggunakan data primer dan sekunder. Menurut Umar (2003:56) data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Dalam penelitian ini, data yang dimaksud berupa data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan pihak koperasi.Sedangkan data sekunder menurut Sugiyono (2012:141) adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan.Dalam penelitian ini, data

(11)

11

sekunder yang dimaksud adalah laporan sisa hasil usaha yang ada di koperasi.

Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang. Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara pada karyawan koperasi. Selain itu, peneliti menggunakan laporan keuangan untuk memperoleh data yang digunakan dalam menjawab penelitian ini.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yang bersifat deskriptif komparatif, yaitu dengan cara membandingkan tingkat keuntungan dalam pemberlakuan PSAK No 27 dan pemberlakuan SAK ETAP di Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang.

Konsep dasar dalam analisis ini adalah membandingkan besaran SHU dalam kurun waktu penelitian. Hal ini dikarenakan adanya pengakuan pendapatan dan biaya yang berbeda antara KSP dengan SAK ETAP.

PEMBAHASAN

Sejarah Singkat PDAM Tirta Raharja Kota Magelang

Setelah dinyatakan berlaku pada tanggal 1 April 1906. Mengingat air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seluruh warga masyarakat Gamentee Magelang umumnya dan warga negara Belanda yang ada di Gementee Magelang khususnya, maka pemerintah saat itu mendirikan proyek air minum di Kota Magelang.

Berdasarkan peraturan pemerintah daerah yang dikenal sebagai

“Verordening Voorde Gementelijke Drinkwater Leideng” Magelang tanggal 9 Oktober 1923/13 Desember 1923 yang diundangkan dalam Javsche Courant tanggal 11 Januari 1924 nomor 4, maka pengolahan air minum Gementee Magelang merupakan bagian dari program pemerintah

(12)

12

setempat. Dengan beralihnya hak pemerintah Belanda ke Indonesia, maka badanMenara-Tua pengelola ini berganti nama menjadi Dinas Air Minum.

Jadi kedinasan Air Minum Magelang merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan pada Zaman Hindia Belanda. Selanjutnya dengan adanya perkembangan-perkembangan pengelolaan Air Minum di Kota Magelang.

Maka berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 270 tahun 1978 dan diperbaharui dengan Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 1989, kedinasan Air Minum Kota Magelang berubah statusnya menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang.

Sebagai Perusahaan Milik Daerah, maka Perusahaan Daerah Air Minum Daerah Tingkat II Magelang diberi wewenang untuk mengelola dan mengusahakan sumber-sumber air minum yang ada, dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna dan daya kerja perusahaan daerah yang bergerak dibidang penyediaan air minum sebagai satu unit kegiatan ekonomi yang berfungsi untuk menyelenggarakan kemanfaatan umum (public utility). Seiring berjalannya waktu maka PDAM kota magelang mendirikan koperasi yang berjalan dalam bidang simpan pinjam dan warung serba ada (WASERDA) yang bernama Koperasi “Tirta Raharja”

Perusahaan Daerah Air Minum. Koperasi Tirta raharja sendiri didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan karyawan PDAM dan juga menyejahterakan karyawan PDAM Kota Magelang dalam kata lain hanya melayani karyawan PDAM Kota Magelang saja, seperti yang sudah kita ketahui dan kita pahami mengenai fungsi koperasi, koperasi Tirta Raharja kota magelang sendiri tidak jauh berbeda dalam proses pelaksanaannya dengan koperasi-koperasi pada umumnya.

Laporan keuangan yang disajiakan oleh Koperasi “Tirta Raharja”

Perusahaan Daerah Air Minum, masih menggunakan Pedoman Akuntasi Indonesia atau akuntansi umum PSAK No 27 . Sementara itu, sebenarnya Koperasi “Tirta Raharja” Perusahaan Daerah Air Minum dalam menyusun laporan keuangan sudah harus menggunakan SAK-ETAP. Perbedaan utama dalam penyusunan laporan keuangan yaitu terletak pada pengakuan bunga pinjaman, dimana selama ini masih menggunakan bunga setiap bulannya yang menjadi pendapatan. Sementara itu dalam SAK-ETAP bunga harus diakui pada awal pemberian pinjaman. Sedangkan masalah

(13)

13

pendapatan dari penjualan barang, Koperasi “Tirta Raharja” Perusahaan Daerah Air Mimum pengakuan pendapatan sesuai dengan penjualan yang terjadi. Dengan perbedaan perlakuan bunga pinjaman, tentunya akan dapat berpengaruh terhadap sisa hasil usaha setiap bulannya.

SAK ETAP mewajibkan entitas agar mengakui biaya perolehan aset tetap sebagai aset tetap jika ada manfaat ekonomi masa depan dan nilainya dapat diukur dengan handal. SAK ETAP juga mewajibkan entitas untuk mengukur aset tetap setelah pengakuan awal pada biaya perolehan dikurang akumulasi penyusutan. Informasi mengenai aset tetap yang terdiri dari dasar pengukuran, metode penyusutan, umur manfaat, dan akumulasi penyusutan harus diungkapkan oleh entitas.

Unsur Atau Elemen Yang Menjadi Faktor Perbedaan Sisa Hasil Usaha Berikut adalah tabel perbedaan pengakuan biaya dan pendapatan menurut PSAK No 27 dan SAK ETAP :

Tabel 1

Perbedaan Pengakuan Biaya dan Pendapatan

Biaya PSAK 27 SAK ETAP

Pemberian Bunga

Untuk hutang jangka pendek:

Biaya bunga dicatat ketika hutang akan dibayar oleh koperasi seperti hutang pada anggota (tabungan manasuka yang dibagikan pada hari raya idul fitri maupun natal. Untuk bunga simpanan khusus: bunga dicatat ketika akan mengambil tabungan khusus

Untuk hutang jangka pendek:

bunga dicatat setiap bulannya, sehingga terlihat laba yang riil setiap bulannya.

Untuk simpanan khusus: bunga dicatat setiap bulannya, sehingga terlihat laba yang riil setiap bulannya

Honor Karyawan

Honor karyawan dicatat setiap bulan sekali akan tetapi bulan berikutnya sehingga laba bulan lalu tidak riil

Honor karyawan dicatat pada awal bulan karena honor dibayarkan pada awal bulan sehingga tidak membebani biaya bulan beikutnya

Aplikasi Komputer

Biaya penyusunan dicatat setiap akhir tahun sehingga setiap bulannya tidak terlihat biaya penyusutan atas asset yang dimiliki

Biaya penyusunan dicatat setiap bulan sehingga setiap bulannya terlihat biaya penyusutan atas asset yang dimiliki Pakaian

Dinas

Biaya pakaian dinas dicatat ketika pakaian dinas sudah diterimakan

Biaya pakaian dinas seharusnya dicatat awal bulan ketika koperasi mengadakan pemesnan pakaian dinas Pemberian

Bunga Pinjaman

Pemberian bunga pinjaman dilakukan ketika koperasi akan membayar pokok dan bunga atas pinjaman yang ada

Bunga pinjaman seharusnya dicatat setiap awal bulan karena kewajiban bunga menjadi beban bagi koperasi yang harus dibayar setiap

(14)

14

bulannya sehingga laba mencerminkan laba yang riil

Biaya Peralatan Kantor

Biaya peralatan dicatat ketika koperasi membeli peralatan kantor secara langsung

Biaya peralatan kantor seharusnya dicatat setiap pengadaan peralatan kantor sehingga laba setiap bulannya riil

Premi Idaman

Premi idaman hanya dicatat setiap akan memberikan premi idaman yang disertakan dalam honor pengurus. Honor pengurus dibayarkan setiap 3 bulan sekali sehingga premi idaman juga dicatat setiap 3 bulan sekali

Premi idaman seharusnya dicatat setiap bulannya walaupun pembayarannya setiap 3 bulan sekali. Hal ini tentunya dapat menjaga cash flow koperasi

Kesra atau Pendidikan

Biaya kesra/pendidikan dicatat setiap kali koperasi akan memberikan dana pendidikan dan/atau kesejahteraan

bagi anggota

Biaya kesra/pendidikan seharusnya dicatat setiap bulan sehingga mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya

Biaya tak terduga

Biaya tak terduga dicatat untuk tahun akuntansi berikutnya

Biaya tak terduga seharusnya dicatat pada waktu terjadi biaya yang tidak terduga

Tabel 1 (Lanjutan)

Perbedaan Pengakuan Biaya dan Pendapatan

Pendapatan PSAK 27 SAK ETAP

Pendapatan bunga bank

Pendapatan bunga bank dicatat ketika bunga bank akan diberikan

Pendapatan bunga bank seharusnya dicatat ketika awal pembukuan dimana dimulainya pembayaran pokok tabungan di bank Bunga

piutang jangka panjang

Bunga piutang jangka panjang dicatat untuk tahun akuntansi berikutnya

Bunga piutang jangka panjang seharusnya dicatat ketika piutang jangka panjang mulai di keluarkan

Pendapatan bea

administrasi

Pendapatan bea

administrasi dilakukan diakhir tahun pembukuan

Pendapatan bea administrasi seharusnya dicatat ketika bea administrasi mulai dibayarkan

Bunga piutang jangka pendek

Bunga piutang jangka pendek dicatat di akhir pembukuan

Seharusnya pendapatan bunga piutang jangka pendek dicatatkan ketika dimulainya piutang jangka pendek

(15)

15

Dari tabel diatas bisa di lihat pada dasarnya pengakuan antara perhitungan KSP dan SAK ETAP mempunyai perbedaan dalam pencatatan pengakuan jika dalam perhitungan KSP pencatatan pendapatan dan biaya dicatat ketika pendapatan dan biaya akan mulai dibayarkan atau dikeluarkan, sedangkan jika dalam perhitungan SAK ETAP pencatatannya dilakukan di awal ketika pendapatan dan biaya akan dimulai.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Koperasi

“Tirta Raharja” Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang, masih menggunakan penyusunan laporan keuangan dengan akuntasi umum atau belum menerapkan SAK-ETAP. Kondisi ini tentunya akan menyebabkan perbedaan sisa hasil usaha.

Seperti pada unit WASERDA pada tahun 2013 dan 2014 memang tidak terdapat SHU dikarenakan pendapatan yang diperoleh koperasi mengalami kerugian sedangkan ditahun 2015 koperasi mendapatkan SHU namun setelah diterapkannya SAK ETAP, SHU yang terdapat dalam tahun 2015 lebih besar dibandingkan sebelum SAK ETAP. Sedangkan pada unit simpan pinjam terdapat perbedaan pendapatan SHU setelah di terapkannya SAK ETAP.

Perbedaan Sisa Hasil Usaha Selama Tahun 2013 sampai Tahun 2015 Tabel 2

Perbedaan Sisa Hasil Usaha Tahun 2013 Tahun 2014

Bulan PSAK 27 SAK ETAP SELISIH

Januari (2.027.624) 1.409.876 3.437.500 Februari 661.376 5.973.876 5.312.500 Maret (2.527.624) 3.847.376 6.375.000 April (2.437.624) 3.937.376 6.375.000 Mei (10.272.624) (3.897.624) 6.375.000 Juni (52.972.624) (46.597.624) 6.375.000 Juli (3.327.624) 7.297.376 10.625.000 Agustus (3.327.624) 5.172.376 8.500.000 September (2.677.624) 3.697.376 6.375.000 Oktober (5.641.624) 1.545.876 7.187.500 November (4.325.624) 2.861.876 7.187.500 Desember (78.375.624) (69.750.624) 8.625.000 Jumlah (167.252.486) (84.502.486) 82.750.000

(16)

16

Sisa hasil usaha tahun 2013 menurut akuntansi umum (PAI) Koperasi “Tirta Raharja” PDAM Kota Magelang mengalami kerugian sebesar Rp. 93.259.408, sedangkan penyusunan laporan keuangan dengan menggunakan SAK ETAP, koperasi “Tirta Raharja” kerugian hanya sebesar Rp. 571.908. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar tingkat kerugian koperasi pada tahun buku 2013.

Tabel 3

Perbedaan Sisa Hasil Usaha Tahun 2014

Sedangkan sisa hasil usaha tahun 2014 menurut akuntansi umum (PAI) Koperasi “Tirta Raharja” PDAM Kota Magelang mengalami kerugian sebesar Rp. 162.252.486, sedangkan penyusunan laporan keuangan dengan menggunakan SAK ETAP, koperasi “Tirta Raharja”

kerugian hanya sebesar Rp. 84.502.486. Dengan demikian dapat diketahui bahwa selama tahun 2014, kondisi riil yang dialami oleh koperasi “Tirta Raharja” hampir sama dengan tahun 2013, dimana kerugian yang dialami koperasi lebih sedikit apabila koperasi menggunakan SAK-ETAP dalam penyusunan laporan keuangan.

Tahun 2013

Bulan PSAK 27 SAK ETAP SELISIH

Januari 3.592.376 9.967.376 6.375.000 Februari (1.697.624) 5.739.876 7.437.500 Maret 127.376 7.314.876 7.187.500 April (37.624) 4.212.376 4.250.000 Mei 617.376 10.679.876 10.062.500 Juni (1.917.624) 3.394.876 5.312.500 Juli (35.732.624) (30.420.124) 5.312.500 Agustus 7.859.454 16.358.454 8.500.000 Septermber (2.877.624) 5.872.376 8.750.000 Oktober 867.376 9.617.376 8.750.000 November (2.742.624) 3.632.376 6.375.000 Desember (61.376.624) (46.942.624) 14.375.000 Jumlah (93.259.408) (571.908) 92.687.500

(17)

17 Tabel 4

Perbedaan Sisa Hasil Usaha Tahun 2015

* PSAK 27 = Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 27.

*SAK ETAP = Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.

Sedangkan sisa hasil usaha tahun 2015 menurut akuntansi umum (PAI) Koperasi “Tirta Raharja” PDAM Kota Magelang memperoleh keuntungan sebesar Rp. 46.193.976, sedangkan penyusunan laporan keuangan dengan menggunakan SAK ETAP, koperasi “Tirta Raharja”

koperasi memperoleh sisa hasil usaha sebesar Rp. 143.318.976. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dengan menggunakan SAK-ETAP kondisi laporan keuangan lebih empiris dan adanya perbedaan yang nyata.

Untuk mendapatkan hasil laba rugi pada bulan Januari 2013 dilakukan dua perhitungan yaitu sistem akuntansi umum dan SAK ETAP.

Perhitungan menurut sistem akuntansi umum adalah sebagai berikut : langkah pertama adalah menghitung jumlah pendapatan dan total biaya.

Selanjutnya penyusutan diperoleh dari total penyusutan satu tahun dibagi dua belas bulan. Setelah jumlah pendapatan, total biaya dan total penyusutan diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan laba rugi. Laba rugi diperoleh dari jumlah pendapatan dikurang jumlah biaya dikurang jumlah penyusutan. Pada bagian akhir didapat SHU unit simpan pinjam dan unit waserda dengan cara laba setelah penyusutan unit simpan pinjam

Tahun 2015

Bulan PSAK 27 SAK ETAP SELISIH

Januari 15.178.376 23.803.376 8.625.000 Februari 15.752.376 22.939.876 7.187.500 Maret 5.222.376 12.409.876 7.187.500 April 4.487.376 13.112.376 8.625.000 Mei 2.796.376 9.983.876 7.187.500 Juni (34.101.624) (22.601.624) 11.500.000 Juli (2.807.624) 8.692.376 11.500.000 Agustus 22.341.376 28.091.376 5.750.000 September 26.807.376 32.557.376 5.750.000 Oktober 21.289.156 27.851.656 6.562.500 November 22.867.376 30.054.876 7.187.500 Desember (53.638.942) (43.576.442) 10.062.500 Jumlah 46.193.976 143.318.976 97.125.000

(18)

18

dikurang laba rugi unit waserda. Sebagai contoh pada bulan Januari jumlah pendapatan 3.750.000, total biaya 7.280.000, penyusutan 127.624 . Laba rugi adalah 3.750.000 – 7.280.000 – 127.624 , sehingga diperoleh 3.657.624 . Sedangkan untuk SHU unit simpan pinjam dan unit waserda adalah 7.250.000 – 3.657.624 , diperoleh hasil 3.592.376

Perhitungan menurut SAK ETAP adalah sebagai berikut : langkah pertama adalah menghitung jumlah pendapatan dan total biaya.

Selanjutnya penyusutan diperoleh dari total penyusutan satu tahun dibagi dua belas bulan. Setelah jumlah pendapatan, total biaya dan total penyusutan diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan laba rugi. Laba rugi diperoleh dari jumlah pendapatan dikurang jumlah biaya dikurang jumlah penyusutan. Pada bagian akhir didapat SHU unit simpan pinjam dan unit waserda dengan cara laba setelah penyusutan unit simpan pinjam dikurang laba rugi unit waserda. Sebagai contoh pada bulan Januari jumlah pendapatan 3.750.000, total biaya 7.280.000, penyusutan 127.624 . Laba rugi adalah 3.750.000 – 7.280.000 – 127.624 , sehingga diperoleh 3.657.624 . Sedangkan untuk SHU unit simpan pinjam dan unit waserda adalah 13.625.000 – 3.657.624, diperoleh hasil 9.967.376

Pada perhitungan diatas kita bisa mengetahui bahwa perhitungan yang dilakukan dengan metode SAK-ETAP mendapatkan hasil SHU yang lebih besar dari perhitungan yang dilakukan dengan PSAK No 27, dengan demikian hasil yang didapatkan dari SHU tersebut diatas akan berdampak pada jumlah pajak penghasilan dan juga pada pendapatan bulanan maupun yang akan di akumulasikan dalam tahunan. Selain perbedaan tingkat keuntungan dalam perhitungan SHU pada Koperasi Tirta Raharja PDAM kota Magelang ada pun elemen yang mempengaruhi perhitungan SHU ini, yang mana menjadikan perbedaan yang sangat signifikan dalam keseluruhan pendapatan Koperasi Tirta Raharja PDAM kota Magelang.

(19)

19 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Sesuai dengan dasar-dasar akuntansi maka berdasarkan pembahasan yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa pendapatan yang terdapat dalam perhitungan SHU Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang dalam menggunakan SAK ETAP baik dalam unit WASERDA (warung serba ada) maupun unit Simpan Pinjam mengalami perbedaan dibandingkan dengan perhitungan yang dilakukan oleh koperasi sendiri. Tidak hanya itu namun jika kita melihat kembali tabel-tabel yang telah penulis teliti dan analisis maka baik pada unit WASERDA (warung serba ada) atupun unit Simpan Pinjam dari mulai tahun 2013 -2015 maka setiap pehitungan SHU yang menggunakan SAK ETAP akan lebih besar SHUnya di bandingkan dengan perhitungan akuntani umum yang selama ini menjadi patokan perhitungan SHU oleh Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang.

Perbedaan tersebut terjadi karena pengakuan pada pencatatan biaya dan pendapatan yang mana menentukan perhitungan laba rugi SHU koperasi Tirta Raharja, pencatatatan pendapatan dan juga biaya pada dasarnya sama dengan pencatatan sebelum menggunakan SAK ETAP namun pengakuan pada pencatatan tersebut yang menjadi elemen pembeda antara PSAK No 27 dengan SAK ETAP sehingga pencatatan menggunakan SAK ETAP memungkinkan koperasi Tirta Raharja mendapatkan SHU yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan PSAK No 27.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berikut ada saran yang diberikan oleh penulis. Berhasil dan tidaknya suatu koperasi sangat berpengaruh terhadap anggotanya, sehingga Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin mengelolanya, khususnya dalam penyusunan laporan keuangan. Melalui laporan keuangan tersebut, dapat diketahui sejauh mana potensi, prestasi, dan kondisi keuangan yang dimiliki dalam tiap periode.

(20)

20

Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang sebaiknya menerapkan SAK ETAP dalam perhitungan SHU-nya agar pendapatan SHU dalam setiap periode bisa meningkat, dan juga penggunaan SAK ETAP pada dasarnya tidaklah sesulit dengan perhitungan lain dalam menghitung SHU, hal ini dikarenakan selain perbandingan SHU yang signifikan ada juga kemudahan-kemudahan yang akan didapatkan dalam menggunakan SAK ETAP untuk menghitung SHU.

Penyederhanaan PSAK yang dilakukan oleh SAK ETAP sangatlah memudahkan Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang untuk membangun penyusunan laporan keuangan, laporan keuangan ini dapat digunakan oleh Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang untuk menentukan sikap sebelum mengajukan pinjaman, Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang akan dengan mudah menyusun laporan keuangan sendiri yang dapat diaudit sekaligus mendapat opini audit. Hal ini akan memudahkan Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang untuk mendapatkan pinjaman dari pihak eksternal seperti bank atau perusahaan finansial lainnya, dan juga SAK ETAP didesain secara dinamis dengan mengikuti perkembangan zaman saat ini.

Hal tersebut akan membuat standar keuangan bisa digunakan hingga beberapa tahun kemudian sehingga Koperasi Tirta Raharja PDAM Kota Magelang tak perlu lagi bingung mencari standar pelaporan

keuangan yang mudah dan efisien.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini ingin membuktikan hasil penelitian yang dilakukan Shaub dan Lawrence (1996) apakah masih sama untuk lingkungan saat ini dan ingin menguji kembali apakah

Pada dasarnya kinerja guru dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri guru itu sendiri yaitu bagaimana guru bersikap dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai pendidik

При про- ектировании магнитного редуктора следует учи- тывать, что передаточное число редуктора не СРАВНИТЕЛЬНЫЙ АНАЛИЗ ДВУХ ГЕНЕРАТОРОВ С

Berdasarkan hasil uji t (uji parsial) dapat dilihat bahwa sales kit berpengaruh signifikan secara parsial terhadap minat beli sebesar 10,729 dan dinilai berada

Untuk mengetahui apakah variabel variasi jenis elektroda dan kuat arus mempunyai pengaruh terhadap kekuatan tarik terhadap baja ST 41 setelah dilakukan analisa variasi

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat kecenderungan yang berbeda dari penyajian berita kebijakan kantong plastik berbayar di Kota Surakarta pada Harian SOLOPOS dan

Dalam penelitian kali ini akan digunakan metode untuk menentukan kebijakan perbaikan komponen roda lokomotif yaitu Power Law Process, yang menghasilkan keputusan